• Tidak ada hasil yang ditemukan

Langkah-langkah Strategis Pemerintah dalam Menghadapi AEC

Dalam dokumen Kebijakan dan Pengembangan Industri Nasi (Halaman 31-36)

Masalah utama yang saat ini masih sulit diatasi dalam mendorong daya saing sektor industri nasional adalah persoalan infrastruktur yang masih jauh dari memadai yang berdampak pada beban biaya logistik tinggi. Akibatnya, industri nasional kurang efisien. Saat ini biaya logistik rata-rata sebesar 16% dari total biaya produksi. Idealnya biaya logistik berkisar pada 9% hingga10% dari biaya produksi. Hal lain yang perlu dicermati suku

bunga kredit perbankan di Indonesia lebih tinggi di atas 5% dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya.

Secara garis besar, langkah strategis yang harus dilakukan antara lain adalah dengan melakukan pembenahan terhadap sektor-sektor potensial yang startegis dan terkait dengan mekanisme yang telah ditentukan ASEAN dalam rangka menciptakan pasar bebas dan basis produksi internasional. Langkah strategis tersebut diantaranya:24 (1) Peningkatan Daya Saing Ekonomi; (2) Peningkatan Laju Ekspor; (3) Reformasi Regulasi; (4) Perbaikan Infrastruktur; (5) Reformasi Iklim Investasi; (6) Reformasi Kelembagaan dan Pemerintah; (7) Pemberdayaan UMKM; (8) Pengembangan Pusat UMKM Berbasis Website; (9) Penguatan Ketahanan Ekonomi; (10) Peningkatan Partisipasi Semua Unsur Negara.

Sejauh ini, langkah-langkah yang telah dilakukan oleh Indonesia berdasarkan rencana strategis pemerintah untuk menghadapi AEC, antara lain:

1. Penguatan Daya Saing Ekonomi.

Pada tanggal 27 Mei 2011 Pemerintah meluncurkan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). MP3EI merupakan perwujudan transformasi ekonomi nasional dengan orientasi yang berbasis pada pertumbuhan ekonomi yang kuat, inklusif, berkualitas, dan berkelanjutan.

Hasilnya, Perekonomian Indonesia pada tahun 2011 tumbuh 6,5%, lebih tinggi dari tahun sebelumnya (6,2%) dengan investasi dan industri pengolahan sebagai penggeraknya. Neraca pembayaran mencatat surplus baik pada neraca transaksi berjalan maupun neraca modal dan finansial. Cadangan devisa meningkat menjadi USD 110,1 miliar. Stabilitas ekonomi tahun 2011 tetap terjaga. Nilai tukar

24 Sholeh, Persiapan Indonesia Menghadapi AEC (ASEAN Economic

Community) 2012, eJournal Ilmu Hubungan Internasional, 2013, 1 (2): 509-522, hal. 6-9.

rupiah kembali menguat dan kembali stabil setelah melemah oleh kekuatiran terhadap imbas krisis utang Eropa pada bulan September dan Oktober 2011. Laju inflasi tahun 2011 terkendali sebesar 3,8%. 25

2. Program ACI (Aku Cinta Indonesia)

Menggunakan produk-produk dalam negeri, antara lain adalah: ACI (Aku Cinta Indonesia). Program ini merupakan salah satu gerakan Nation Branding yang merupakan bagian dari pengembangan ekonomi kreatif yang termasuk dalam Inpres No.6 Tahun 2009 yang berisikan Program Ekonomi Kreatif bagi 27 Kementrian Negara dan Pemda. Gerakan ini sendiri masih berjalan sampai sekarang dalam bentuk kampanye nasional yang terus berjalan dalam berbagai produk dalam negeri seperti busana, aksesoris, entertainment, pariwisata dan lain sebagainya.26

3. Penguatan Sektor UMKM

Dalam rangka meningkatkan pertumbuhan UMKM di Indonesia, pihak Kadin telah mengadakan beberapa program untuk memajukan UMKM Indonesia. Dari segi pendanaan sendiri, pemerintah telah mensosialisasikan dan menjalankan program KUR (Kredit Usaha Rakyat). Tingkat pengembalian KUR cukup baik dengan kredit macet hanya sebesar 2,1%. Volume penyaluran KUR tersebut dapat dicapai dengan dukungan dana penjaminan kredit secara penuh pada tahun 2011. 27

4. Perbaikan Infrastruktur

Dalam rangka mendukung peningkatan daya saing sektor riil, selama tahun 2010 telah berhasil dicapai peningkatan kapasitas dan kualitas infrastruktur seperti prasarana jalan, perkeretaapian, transportasi darat, transportasi laut,

25 KPPN/Bappenas.2012.”Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2013”.Buku

I.hal. 27

26 Kementrian Perdagangan Republik Indonesia, “Menuju ASEAN Economic

Community 2015”, Jakarta,2009, hal. 17.

27 KPPN/Bappenas..”Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2013”.Buku II, Jakarta, 2012, hal. 32.

transportasi udara, komunikasi dan informatika, serta ketenagalistrikan.28

5. Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM)

Salah satu jalan untuk meningkatkan kualitas SDM adalah melalui jalur pendidikan. Guna mendukung penuntasan Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun, Pemerintah menaikkan satuan biaya program BOS pada jenjang SD/MI/Salafiyah Ula dari Rp 397 ribu (kabupaten) dan Rp 400 ribu (kota) pada periode 2009-2011 menjadi Rp 580 ribu/siswa/tahun pada tahun 2012, yang mencakup 31,32 juta siswa. Adapun pada jenjang SMP/MTs/Salafiyah Wustha satuan biaya dinaikkan dari Rp 570 ribu (kabupaten) dan Rp 575 ribu (kota) menjadi Rp 710 ribu/siswa/tahun, yang mencakup 13,38 juta siswa. Selain itu, dalam rangka memberikan layanan pendidikan yang bermutu, pemerintah telah membangun sarana dan prasarana pendidikan secara memadai, termasuk rehabilitasi ruang kelas rusak berat. Data Kemdikbud tahun 2011 menunjukkan bahwa masih terdapat sekitar 173.344 ruang kelas jenjang SD dan SMP dalam kondisi rusak berat. 29

6. Reformasi Kelembagaan dan Pemerintahan

Dalam rangka mendorong Percepatan Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi, telah ditetapkan strategi nasional pencegahan dan pemberantasan korupsi jangka panjang 2012-2025 dan menengah 2012-2014 sebagai acuan bagi seluruh pemangku kepentingan untuk pelaksanaan aksi setiap tahunnya. Upaya penindakan terhadap Tindak Pidana Korupsi (TPK) ditingkatkan melalui koordinasi dan supervisi yang dilakukan oleh KPK kepada Kejaksaan dan Kepolisian. Selama tahun 2011, KPK telah melakukan strategi peningkatan koordinasi dalam penyelidikan, penyidikan dan penuntutan TPK dengan instansi terkait, melakukan 447

28 KPPN/Bappenas.2012.”Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2013”.Buku

I.hal. 4-7.

kegiatan supervisi terhadap perkara TPK yang ditangani oleh Kejaksaan dan Kepolisian melalui pelaksanaan gelar perkara, analisis perkara dan pelimpahan perkara ke Kepolisian dan Kejaksaan serta meminta informasi tentang perkembangan penanganan perkara TPK kepada Kepolisian dan Kejaksaan melalui permintaan Surat Perintah Dimulainya Penyidikan (SPDP).30

V. Penutup

Sektor industri memegang peranan penting dalam pertumbuhan ekonomi negara ditengah kemanjuan teknologi dan meningkatnya kebutuhan hidup masyarakat dunia yang modern. Dengan integrasi ekonomi ASEAN melalui AEC, tidak hanya liberalisasi perdagangan yang terjadi tetapi juga bebasnya arus modal, investasi dan tenaga kerja. Semua ini berdampak pada sektor industri.

Bila bicara mengenai sektor industri tidak dapat dilepaskan dengan kegiatan ekspor dan impor. Dengan diimplementasikannya AEC, maka kebijakan proteksi terhadap produk dalam negeri tidak dapat dilakukan lagi. Sehingga untuk mampu bersaing, sektor industri perlu meningkatkan efektifitas dan efisiensinya serta meningkatkan kualitas maupun kuantitas produknya. Industri Indonesia masih menghadapi masalah-masalah klasik baik dari segi struktural maupun organisasi.

Kondisi sektor perindustiran masih jauh tertinggal dibanding dengan negara-negara ASEAN lain yaitu Singapura, Malaysia dan Thailand. Hal ini dikarenakan daya saing yang masih rendah karena kurangnya dukungan dari pemerintah. Hal utama yang menjadi penyebab dari rendahnya daya saing tersebut adalah Pemerintah perlu memberikan dorongan baik melalui aturan dan kebijakan maupun fasilitas fisik dan infrastruktur yang memadai. Sampai saat ini belum terlihat upaya nyata dari 30 Ibid, hal. 21.

pemerintah baik dari segi kebijakan maupun pembangunan fasilitas fisik dan sumberdaya manusia untuk menghadapi implementasi AEC yang semakin dekat.

DAFTAR PUSTAKA

Dalam dokumen Kebijakan dan Pengembangan Industri Nasi (Halaman 31-36)

Dokumen terkait