• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kebijakan dan Pengembangan Industri Nasi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Kebijakan dan Pengembangan Industri Nasi"

Copied!
38
0
0

Teks penuh

(1)

KESIAPAN INDUSTRI MANUFAKTUR INDONESIA DALAM MENYONGSONG TERBENTUKNYA ASEAN ECONOMIC

COMMUNITY (AEC) 2015

Venti Eka Satya*) I. PENDAHULUAN

Visi pembangunan Industri Nasional Indonesia adalah menjadi Negara Industri Tangguh pada tahun 2025, dengan visi antara pada tahun 2020 sebagai Negara Industri Maju Baru.1

Perkembangan sektor industri Indonesia tidak dapat dilepaskan dari pengaruh ekonomi regional atau kawasan. Sebagai bagian dari ASEAN, perkembangan industri Indonesia haruslah mampu menyesuaikan diri dan menjawab tantangan regional. Secara eksternal, ASEAN menghadapi lingkungan luar yang juga bergerak cepat dengan munculnya kekuatan-kekuatan baru di Asia Pasifik seperti China dan India yang memerlukan ASEAN yang lebih solid dan kohesif. Pertumbuhan ekonomi yang cepat dari negara-negara di kawasan Asia Timur juga menawarkan peluang-peluang yang besar di bidang perdagangan, investasi, turisme dan kesempatan kerja. Peluang itu hanya akan dapat diraih bila ASEAN memiliki daya saing yang tinggi.

Faktor eksternal lainnya yang mendorong transformasi ASEAN adalah globalisasi, yang secara kontradiktif memaksa negara-negara untuk melakukan bargaining secara kolektif dan tidak sendiri-sendiri. Bahkan posisi tawar kolektif 10 negara itu pun belum cukup. Disinilah makna peran penting ASEAN sebagai interlocutor dalam mendorong proses integrasi regional yang lebih luas, khususnya di Asia Timur.2

1Penulis adalah Peneliti Ekonomi dan Kebijakan Publik pada Pusat

Pengkajian Pelayanan Data dan Informasi Sekretariat Jenderal DPR RI.

http://www.kemenperin.go.id/artikel/19/Kebijakan-Industri-Nasional, diunduh tanggal 15 April 2014.

2Yanyan Mochamad Yani, “Sosialisasi ASEAN Socio-Cultural Community

(2)

Saat ini negara-negara anggota ASEAN sadar bahwa proses integrasi ASEAN sangat dibutuhkan guna mencapai stabilitas dan daya saing yang kuat dengan lingkungan eksternalnya yaitu dengan cara membuka akses bersama terhadap keamanan, ekonomi, maupun sosial budaya. Komunitas Ekonomi ASEAN atau ASEAN Economic Community (AEC) adalah salah satu dari tiga pilar ASEAN Community. Indonesia telah ditetapkan sebagai koordinator sektor otomotif, salah satu dari 12 sektor prioritas dalam AEC. Peran ini merupakan peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan daya saingnya secara regional, sekaligus merupakan tantangan untuk menetapkan langkah-langkah strategis menuju pembentukan AEC pada 2015. Kurang dari 12 bulan lagi, Asean Economic Community (AEC) akan diimplementasikan. Untuk menjawab tantangan tersebut Indonesia harus memiliki strategi industri yang mampu mengantarkan Indonesia pada visi pembangunan industri nasional serta meningkatkan daya saing produk-produk ASEAN dalam persaingan regional maupun global.

(3)

sudah berjalan. Hal ini dikarenakan tiap negara ASEAN memiliki kesamaan kebudayaan yang dapat merekatkan negara anggota ASEAN.3

Pembentukan ASEAN Community tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh anggota ASEAN sehingga mampu menghadapi persaingan pada lingkup regional dan global. Hal ini merupakan suatu kemajuan yang sangat signifikan sebagai respons terhadap care of human security yang mencakup keamanan ekonomi, keamanan pangan, keamanan kesehatan, keamanan lingkungan, keamanan individu, keamanan komunitas, dan keamanan politik. Salah satu keputusan menuju ASEAN Community adalah ditandatanganinya CAFTA (China ASEAN Free Trade Area) pada tahun 2009 dan mulai diimplemetasikan pada Januari 2010. Hal ini dilatar belakangi oleh kebangkitan dan pergerakan ekonomi China yang melejit satu dekade terakhir, sehingga menjadi peluang untuk meningkatkan jenis dan volume kemitraan kedua belah pihak. Banyak faktor yang menyebabkan CAFTA diproyeksi berjalan secara akseleratif, diantaranya kebudayaan cenderung sama (bangsa timur) sehingga kebutuhan (pasar) relatif tak berbeda dan letak geografis yang memungkinkan proses mobilisasi suplai dan demand berlangsung efisien.4

Ketika AEC diimplementasikan ASEAN akan menjadi pasar tunggal dan basis produksi tunggal di mana arus barang, jasa, keuangan, investasi, tenaga kerja terampil, dan arus modal intrakawasan akan bergerak semakin bebas tanpa hambatan. Oleh karena itu, saat ini semua anggota Asean yang berjumlah 10 negara, sedang sibuk mempersiapkan diri menghadapi implementasi AEC pada 2015. Tiap negara berupaya meningkatkan daya saing agar dapat menikmati manfaat dari

3http://disnakertransduk.jatimprov.go.id/pdf/berita-aec.pdf, diunduh 16

Juni 2014.

(4)

penyatuan ekonomi kawasan yang memiliki populasi penduduk sekitar 600 juta jiwa ini.5

Jumlah penduduk Indonesia merupakan yang terbesar dia Asia Tenggara hal ini merupakan pangsa pasar yang sangat potensial, terutama untuk produk-produk industri. Hal ini bisa menjadi potensi dan bisa pula ancaman bagi Indonesia. Akan menjadi potensi bila produk-produk industri dalam negeri mampu menguasi pasar. Akan tetapi jika produk Indonesai tidak mampu bersaing baik dari segi kualitas, kuantitas maupun harga, maka kita harus siap untuk hanya menjadi penonton di negara sendiri. Untuk itu Indonesia harus mempersiapkan diri untuk menghadapi era integrasi ASEAN yang hanya tinggal hitungan bulan ini. Tidak hanya dalam hal perdagangan barang, pasar tenaga kerja Indonesia juga akan mengalami tantangan yang cukup berat dengan masuknya tenaga kerja dari negara-negara ASEAN. Investor-investor asing juga tidak dapat dibendung lagi untuk memasuki dunia usaha di Indonesia. Semua ini bisa jadi peluang dan tantangan tergantung dari bagaimana Indonesia mempersiapkan diri menyambut implementasi integrasi regional ini.

ASEAN dapat dikatakan sebagai Greater Indonesia, kekuatan dari ASEAN Community sebenarnya tergantung pada Indonesia sebagai negara terbesar di ASEAN. Proporsi luas wilayah Indonesia mencapai 43% dari seluruh wilayah ASEAN. Populasi Indonesia juga yang terbesar yaitu sebesar 40% dari populasi seluruh penduduk ASEAN. Jika dibandingkan dengan seluruh anggota ASEAN, proporsi GDP Indonesia adalah 38%. Dari sisi fundamental ekonomi, Indonesia juga merupakan negara yang paling stabil dan kedepannya diproyeksikan akan terus tumbuh. Bahkan Mckinsey Global Institute memproyeksikan perekonomian Indonesia berada pada peringkat ke-7 dunia pada tahun 2030.6

5Mengingatkan Kesiapan Menghadapi AEC 2015, Bisnis Indonesia, 19

Maret 2014

6Abdul Rachman, Peluang dan Tantangan Indonesia Dalam Mendorong

(5)

AEC bertujuan untuk memperkecil kesenjangan antara negara-negara ASEAN dalam hal pertumbuhan perekonomian. Konsekuensi dari integrasi regional ini adalah berkurangnya kedaulatan negara, terutama bagi Indonesia sebagai negara terbesar dengan kawasan terluas di ASEAN, tentunya harus siap untuk melepaskan sebagian dari kedaulatannya untuk kepentingan ASEAN.

Mengingat pentingnya persiapan menuju AEC dan sektor industri merupakan salah satu sektor yang memegang peranan penting dalam perekonomian negara, maka penulis tertarik untuk menganalisa mengenai kesiapan Indonesia dalam menyambut diterapkannya AEC. Indonesia dengan jumlah penduduk yang besar merupakan pasar yang sangat potensial bagi produk-produk industri. Sumber daya alam yang dimiliki juga sangat memadai untuk mendukung berkembangnya sektor industri dengan baik. Akan tetapi semua kekayaan yang dimiliki tersebut tidak akan memberikan hasil yang optimal bila tidak dikelola dengan baik.

Sampai saat ini belum terlihat adanya perubahan yang signifikan baik pada fasilitas fisik maupun kebijakan yang ada dalam menyongsong implementasi ASEAN Community yang sudah semakin dekat. Sehingga menarik untuk menganalisa mengenai bagaimana kondisi perindustrian Indonesia saat ini dan persiapan-persiapan yang dilakukan menuju AEC. Serta bagaimana daya saing sektor industri ini jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya.

Yang dimaksud dengan industri dalam tulisan ini adalah industri manufaktur yang merupakan suatu kegiatan pengolahan bahan mentah atau barang setengah jadi menjadi barang jadi yang memiliki nilai tambah untuk mendapatkan keuntungan. Dalam artikel ini penulis melakukan studi pustaka yang berkenaan dengan ASEAN Community dan perindustrian di Indonesia dari berbagai buku, artikel, serta jurnal-jurnal ilmiah yang membahas mengenai topik yang berkaitan dengan industri

(6)

maupun ASEAN Community. Selain itu juga dikumpulkan data-data sekunder yang berkaitan dengan AEC serta sektor industridi Indonesia. Data-data dan informasi tersebut selanjutnya dipaparkan dan dianalisa. Pada bab II dipaparkan tentang AEC dan apa saja peluang dan tantangan yang akan dihadapi Indonesia dengan diimplementasikannya AEC. Selanjutkanya dijelaskan mengenai kondisi industry Indonesia saat ini. Dari sumber data dan informasi tersebut dianalisa sejauh mana kesiapan industri Indonesia dalam menyambut masuknya produk-produk asing ke Indonesia maupun untuk mampu menembus pasar di negara-negara ASEAN. Pada bagian terakhir dijelaskan mengenai apa saja langkah-langkas yang telah dibuat pemerintah dalam menyambut implementasi AEC ini. Dengan demikian dapat disimpulkan apakah Indonesia telah memiliki persiapan yang memadai dalam menyongsong AEC 2015.

II. ASEAN ECONOMIC COMMUNITY SEBAGAI SALAH SATU DARI TIGA PILAR ASEAN COMMUNITY

Dinamika kawasan Asia Tenggara tidak dapat dilepaskan dari eksistensi ASEAN. Saat ini tampaknya realitas di Asia Tenggara membutuhkan sesuatu yang lebih dari ASEAN. Perubahan situasi keamanan internasional–pergeseran dari paradigma ancaman tradisional (perang antar negara, dsb) menjadi non-tradisional (terorisme, konflik internal, kerusakan lingkungan, dll)–memberikan dampak riil terhadap situasi di kawasan Asia Tenggara. Situasi-situasi terakhir menunjukkan tantangan-tantangan yang menuntut suatu mekanisme regional yang lebih efektif dan demokratis.7

Di dalam naskah Deklarasi ASEAN tercantum maksud dan tujuan asosiasi, yang meliputi kerja sama di bidang ekonomi, sosial, budaya, teknis, pendidikan dan bidang lainnya, dan upaya mempromosikan perdamaian dan stabilitas kawasan 7Yanyan Mochamad Yani, Disampaikan pada acara Semina r Nasional

(7)

dengan menghormati rasa keadilan dan aturan hukum serta kepatuhan terhadap prinsip-prinsip Piagam PBB. Dengan visi bersama ASEAN sebagai gabungan bangsa-bangsa. Asia Tenggara yang berpandangan terbuka, hidup dalam perdamaian, stabilitas dan kemakmuran, terikat bersama dalam kemitraan dalam pembangunan yang dinamis dan dalam komunitas masyarakat yang peduli, Pada Tahun 2003, para pemimpin ASEAN memutuskan bahwa sebuah “masyarakat ASEAN” harus terbentuk pada tahun 2020. Para pemimpin menegaskan komitmen kuat mereka pada tahun 2007 untuk mempercepat pembentukan komunitas ASEAN menjadi tahun 2015.8

Percepatan pembentukan ASEAN Community terutama disebabkan oleh kebangkitan China dan India (The Rising of Chindia) yang bisa menyaingi kekuatan AS, khususnya dibidang ekonomi. Pembentukan komunitas regional ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing negara-negara ASEAN baik secara regional maupun global mengingat kedekatan geografis ASEAN dengan China dan India. Komunitas ASEAN terdiri dari tiga pilar, yaitu Masyarakat Politik Keamanan ASEAN, Masyarakat Ekonomi ASEAN dan Masyarakat Sosial Budaya ASEAN, yang diharapkan dapat bekerja secara bersamaan untuk membentuk Masyarakat ASEAN.

A. ASEAN Economic Community (AEC)

Cetak Biru Masyarakat Ekonomi ASEAN disusun dan disahkan pada tahun 2007. Cetak Biru AEC berfungsi sebagai rencana induk yang koheren yang mengarahkan pembentukan AEC. Cetak Biru mengidentifikasikan karakteristik dan elemen AEC dengan target dan batas waktu yang jelas untuk pelaksanaan berbagai tindakan serta fleksibilitas yang

8Direktorat Jenderal Kerja Sama Perdagangan Internasional, Kementerian

(8)

disepakati untuk mengakomodasi kepentingan seluruh negara anggota ASEAN. Dengan mempertimbangkan pentingnya perdagangan eksternal bagi ASEAN dan kebutuhan Masyarakat ASEAN secara keseluruhan untuk tetap berpandangan terbuka. AEC memiliki 4 karakteristik utama, yaitu: (a) pasar tunggal dan basis produksi; (b) kawasan ekonomi yang berdaya saing tinggi; (c) kawasan pengembangan ekonomi yang merata; dan (d) kawasan yang secara penuh terintegrasi ke dalam perekonomian global.9

Tujuan akhir dari pelaksanaan pilar pertama ASEAN Community 2015 (yakni dimensi ekonomi) adalah semakin bebas dan terbukanya aliran barang, jasa, investasi, tenaga kerja terampil dan aliran modal pada tahun 2015. Hal ini sesuai dengan tujuan akhir integrasi ekonomi seperti yang dicanangkan dalam ASEAN Vision 2020.

Dalam AEC Blueprint, yang merupakan pedoman bagi negara anggota ASEAN dalam mewujudkan AEC 2015, tujuan tersebut akan diwujudkan melalui pelaksanaan empat pilar karakteristik utama. Pertama, Pasar Tunggal dan Berbasis Produksi Regional. Melalui realisasi AEC, diharapkan ASEAN akan menjadi pasar tunggal dan basis produksi. Pembentukan ASEAN sebagai suatu pasar tunggal dan basis produksi akan membuat ASEAN lebih dinamis dan berdaya saing dengan mekanisme dan langkah-langkah baru guna memperkuat pelaksanaan inisiatif-inisiatif ekonomi yang ada, mempercepat integrasi kawasan di sektor-sektor prioritas, memfasilitasi pergerakan para pelaku usaha, tenaga kerja terampil dan berbakat, dan memperkuat mekanisme kelembagaan ASEAN. Pasar tunggal dan basis produksi ASEAN terdiri dari lima elemen inti: (i) arus barang yang bebas; (ii) arus jasa yang bebas; (iii) arus investasi yang bebas; (iv) arus modal yang

9ASEAN Economic Community Blueprint, Jakarta, ASEAN Secretariat,

(9)

lebih bebas; dan (v) arus tenaga kerja terampil yang bebas. Komponen dalam pasar tunggal dan basis produksi adalah termasuk 12 (dua belas) sektor-sektor prioritas integrasi, yakni produk berbasis agro, transportasi udara, otomotif, e-ASEAN, elektronika, perikanan, pelayanan kesehatan, produk berbasis karet, tekstil dan pakaian, pariwisata, produk berbasis kayu dan logistik, ditambah makanan, pertanian dan kehutanan.10

Kedua, Kawasan Berdaya-saing Tinggi. Hal tersebut diwujudkan melalui kebijakan persaingan, perlindungan konsumen, HKI, pembangunan infrastruktur, kerjasama energi, perpajakan, e-Commerce. Negara-negara anggota ASEAN telah berkomitmen untuk memperkenalkan kebijakan dan hukum persaingan usaha secara nasional untuk menjamin tingkat kesetaraan dan menciptakan budaya persaingan usaha yang sehat untuk meningkatkan kinerja ekonomi regional dalam jangka panjang.

Ketiga, Kawasan dengan Pembangunan Ekonomi yang Merata. Terdapat dua inisiatif yang diarahkan untuk menjembatani jurang pembangunan antar negara ASEAN yaitu: pengembangan UKM dan prakarsa bagi integrasi ASEAN-Kamboja, Laos, Myanmar dan Viet Nam (CLMV). agar semua anggota dapat bergerak maju secara serempak dan meningkatkan daya saing ASEAN sebagai kawasan yang memberikan manfaat dari proses integrasi kepada semua anggotanya.

Keempat, Integrasi dengan Perekonomian Dunia. ASEAN bergerak di sebuah lingkungan yang makin terhubung dalam jejaring global yang sangat terkait satu dengan yang lain, dengan pasar yang saling bergantung dan industri yang mendunia. Pendekatan yang dilakukan ASEAN dalam menghadapi proses integrasi global ini adalah: Pendekatan koheren terhadap

10Direktorat Jenderal Kerja Sama Perdagangan Internasional,

(10)

hubungan ekonomi eksternal serta partisipasi yang semakin meningkat dalam jaringan suplai global.

B. Peluang dan Tantangan Indonesia dalam Menghadapi AEC

AEC merupakan suatu bagi negara-negara ASEAN untuk meningkatkan skala ekonomi dan memperluas pasar produk masing-masing negara. Dengan demikian diharapakan pertumbuhan ekonomi kawasan khususnya Indonesia dapat meningkat. Dalam meraih peluang tersebut ada tantangan yang akan dihadapi Indonesia, yakni tantangan untuk meningkatkan daya saing agar mampu bersaing ditengah pasar regional yang semakin kompetitif.

Peluang yang diperoleh Indonesia dalam menghadapi AEC adalah:11

1. Manfaat dari integrasi ekonomi.

Integrasi ekonomi akan membuka dan membentuk pasar yang lebih besar, dorongan peningkatan efisiensi dan daya saing, serta pembukaan peluang penyerapan tenaga kerja di kawasan ASEAN akan meningkatkan kesejahteraan seluruh negara di kawasan. 2. Pasar Potensial Dunia.

AEC akan menjadikan ASEAN sebagai kawasan pasar terbesar ke-3 di dunia yang didukung oleh jumlah penduduk terbesar ketiga setelah China dan India. Jumlah penduduk Indonesia yang terbesar di ASEAN tentu saja merupakan potensi yang sangat besar bagi Indonesia menjadi negara ekonomi yang produktif dan dinamis yang dapat memimpin pasar ASEAN di masa depan. 3. Negara Pengeksport.

Negara-negara ASEAN juga dikenal sebagai negara pengekspor baik produk berbasis sumber daya alam maupun produk elektronik. Konsentrasi perdagangan keluar ASEAN akan dialihkan ke ASEAN. Peluang untuk meningkatkan ekspor ke

intra-11 Departemen Perdagangan Republik Indonesia, “Menuju ASEAN

(11)

ASEAN masih harus ditingkatkan agar laju peningkatan ekspor ke ASEAN berimbang dengan laju peningkatan import dari Intra-ASEAN.

4. Negara Tujuan Investor.

Dengan AEC, maka akan terbuka peluang bagi perbaikan iklim investasi nasional melalui pemanfaatan program kerja sama regional, terutama dalam melancarkan program perbaikan infrastruktur domestic.

5. Daya Saing.

Kondisi pasar bebas ASEAN akan mendorong pihak produsen untuk memproduksi dan mendistribusikan barang yang berkualitas secara efisien agar mampu bersaing dengan produk-produk dari negara lain.

6. Sektor Jasa yang Terbuka.

Di bidang jasa, ASEAN juga memiliki kondisi yang memungkinkan agar pengembangan sektor jasa dapat dibuka seluas-luasnya. 7. Aliran Modal.

AEC membuka peluang bagi Indonesia untuk dapat memanfaatkan aliran modal masuk ke kawasan yang kemudian ditempatkan di aset berdenominasi rupiah. Aliran tersebut tidak saja dalam bentuk porsi portofolio regional, tetapi juga dalam bentuk PMA.

Adapun tantangan yang akan dihadapi Indonesia dengan adanya AEC adalah:

1. Laju Peningkatan Ekspor dan Impor.

Dengan AEC persaingan ekspor-impor Indonesia tidak hanya bersifat internal, tetapi juga persaingan antar negara ASEAN dan negara luar ASEAN yaitu China dan India. Bila Indonesia tidak mempersiapkan hal ini dengan baik maka akan berdampak pada tingkat defisit neraca perdagangan yang semakin tinggi.

(12)

Inflasi Indonesia masih tergolong tinggi dibanding negera ASEAN lainnya. Stabilitas makro ekonomi Indonesia dan populasi yang tinggi memberikan konsekuensi tersendiri terhadap tingkat inflasi. 3. Dampak Negatif Arus Modal yang Lebih Bebas.

Proses liberalisasi arus modal dapat mengakibatkan ketidakstabilan melalui dampak langsung pada kemungkinan pembalikan arus modal yang tiba-tiba maupun dampak tidak langsungnya pada peningkatan permintaan domestic yang akhirnya berujung pada tekanan inflasi.

4. Kesamaan Produk.

Indonesia perlu meningkatkan nilai tambah produknya agar memiliki karakteristik tersendiri dengan produk dari negara-negara ASEAN lainnya.

5. Daya Saing Sektor Prioritas Integrasi. Keunggulan komparatif di sektor prioritas integrasi perlu ditingkatkan.

6. Daya Saing SDM.

Kemampuan daya saing SDM tenaga kerja Indonesia harus ditingkatkan agar mampu memenuhi ketentuan dalam MRA yang telah disetujui.

7. Tingkat Perkembangan Ekonomi.

Tingkat perkembangan ekonomi negara-negara Asian masih beragam. Hal ini menimbulkan kesenjangan yang cukup tinggi. Negara-negara ASEAN perlu memecahakan masalah ini agar tidak menjadi hambatan dalam percepatan menuju AEC.

8. Kepentingan Nasional.

Kepentingan kawasan apabila tidak sejalan dengan kepentingan nasional, maka akan menjadi prioritas kedua. Hal ini akan berdampak pada sulittercapainya pelaksanaan komitmen liberalisasi AEC. Setiap negara harus menyadari perlunya mengedepankan kepentingan bersama demi terwujudnya integrasi kawasan yang dicita-citakan.

9. Kedaulatan Negara.

(13)

negara merupakan biaya atau pengorbanan besar yang diberikan oleh masing-masing negara.

III. KONDISI PERINDUSTRIAN INDONESIA

Secara umum industri di Indonesia dapat diklasifikasikan atas: (a) Industri primer/hulu yaitu mengolah output dari sektor pertambangan (bahan mentah) menjadi bahan baku siap pakai untuk kebutuhan proses produksi pada tahap selanjutnya; (b) Industri sekunder/manufaktur yang mencakup: industri pembuat modal (mesin), barang setengah jadi dan alat produksi, dan industri hilir yang memproduksi produk konsumsi.

Di kawasan Asia, angka pertumbuhan ekonomi Indonesia menempati urutan kedua setelah Cina. Ekonomi di Negeri Tirai Bambu ini melesat hingga 7 persen pada 2012. Indonesia hanya akan disaingi oleh Cina dan India. Pertumbuhan industri pengolahan non-minyak dan gas pada periode Januari-September 2012 secara kumulatif lebih tinggi daripada pertumbuhan ekonomi yang hanya sebesar 6,17 persen. Pertumbuhan industri mencapai 6,5 persen. Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh industri pupuk, kimia, dan barang dari karet, yakni sebesar 8,91 persen. Di posisi kedua, ada industri semen dan barang galian yang tumbuh 8,7 persen. Berikutnya, industri minuman dan tembakau yang naik sebesar 8,22 persen. Sedangkan industri alat angkut mesin dan peralatan naik sekitar 7 persen. Sedangkan dari sisi investasi, penanaman modal dalam negeri di sektor industri mencapai Rp 38,11 triliun atau naik 40,1 persen. Dan investasi berupa penanaman modal asing mencapai US$ 8,59 triliun.

(14)

sebelumnya. Hal ini disebabkan kenaikan tarif listrik pelanggan golongan industri yang cukup besar. Selain itu peralihan pemerintahan lama ke yang baru yang terjadi ditahun ini juga turut menekan laju pertumbuhannya.12

Sebagai negara industri maju baru, sektor industri Indonesia harus mampu memenuhi beberapa kriteria dasar antara lain: 1) Memiliki peranan dan kontribusi tinggi bagi perekonomian Nasional, 2) IKM memiliki kemampuan yang seimbang dengan Industri Besar, 3) Memiliki struktur industri yang kuat (Pohon Industri lengkap dan dalam), 4) Teknologi maju telah menjadi ujung tombak pengembangan dan penciptaan pasar, 5) Telah memiliki jasa industri yang tangguh yang menjadi penunjang daya saing internasional industri, dan 6) Telah memiliki daya saing yang mampu menghadapi liberalisasi penuh dengan negara-negara APEC. Diharapkan tahun 2020 kontribusi industri non-migas terhadap PDB telah mampu mencapai 30%, dimana kontribusi industri kecil (IK) ditambah industri menengah (IM) sama atau mendekati kontribusi industri besar (IB). Selama kurun waktu 2010 s.d 2020 industri harus tumbuh rata-rata 9,43% dengan pertumbuhan IK, IM, dan IB masing-masing minimal sebesar 10,00%, 17,47%, dan 6,34%.13Data pertumbuhan industri

non migas pada tabel 1.berikut menunjukkan pertumbuhan industri tersebut sampai tahun 2012 masih di bawah tingkat pertumbuhan yang ditargetkan. Rata-rata pertumbuhannya juga masih di bawah pertumbuhan PDB kecuali di tahun 2011.

Tabel. 1 Laju Pertumbuhan Industri Pengolahan Non Migas (Kumulatif)

(dalam Persen) No

. Lapangan Usaha 2007 2008 2009 2010 2011

2012 (s.d. TW I)

1 Makanan, Minuman dan Tembakau 5,0508 2,3401 11,2193 2,7805 9,1884 8,1857

12www.kemenperin.go.id, diunduh 22 Juni 2014.

13http://www.kemenperin.go.id/artikel/19/Kebijakan-Industri-Nasional,

(15)

2 Tekstil, Brg. kulit & Alas kaki 3,679 -6

-3,644

0 0,5999 1,7667 7,5181 1,4145 3 Brg. kayu & Hasil hutan

lainnya

-1,742 5

3,450

1 1,3808- 3,4670

-0,3497

-0,857 3

4 Kertas dan Barang cetakan 5,793

5 1,484

-1 6,3398 -1,6695 -1,4958

0,498 7

5 Pupuk, Kimia & Barang dari karet 5,6856 4,4594 1,6444 4,7009 3,9508 9,1917 6 Semen & Brg. Galian bukan

logam

3,396

2 1,494 -5 -0,5115 2,1793 7,1883 6,107 3

7 Logam Dasar Besi & Baja 1,690

0 2,052 -8

-4,2599

2,3838

13,056

7 5,5737

8 Alat Angk., Mesin & Peralatannya 9,7317 9,7925 2,8746- 10,3802 6,9999 6,2255

9 Barang lainnya

-2,821 5

-0,956

4 3,1941 3,0026 1,8244

4,209 9

Pertumbuhan Industri

Pengolahan Non Migas 5,1501 4,0468 2,5614 5,1165 6,8270 6,1265 Pertumbuhan PDB 6,3450 6,0137 4,6289 6,1954 6,4570 6,3077 Sumber: BPS, 2014.

Banyak yang berpendapat bahwa kemampuan industri nasional meningkatkan produksi maupun daya saingnya semakin lemah, dan ini semua disebabkan oleh banyak faktor, termasuk kebijakan industri hingga saat ini yang tidak memadai untuk mendukung pertumbuhan sektor industri. Ketika menjadi menteri perindustrian, Fahmi Idris pernah menyatakan bahwa tantangan utama yang dihadapi oleh industri nasional saat itu adalah kecenderungan penurunan daya saing di pasar internasional. Dan kondisi tersebut masih berlangsung sampai saat ini.

Penyebab dari lemahnya daya saing tersebut diantaranya adalah:14 biaya energi, ekonomi biaya tinggi, penyelundupan

barang-barang yang mana industri Indonesia juga (bisa) memproduksinya, serta belum memadainya layanan birokrasi. Tantangan berikutnya adalah kelemahan struktural sektor industri itu sendiri, seperti masih lemahnya keterkaitan antar industri, baik antara industri hulu dan hilir maupun antara industri besar dengan industri kecil menengah, belum terbangunnya struktur

14Tulus T.H. Tambunan, “Kebijakan Industri Dalam Menyongsong

(16)

klaster (industrial cluster) yang saling mendukung, adanya keterbatasan berproduksi barang setengah jadi dan komponen di dalam negeri, keterbatasan industri berteknologi tinggi, kesenjangan kemampuan ekonomi antar daerah, serta ketergantungan ekspor pada beberapa komoditi tertentu

A. Kebijakan Industri dalam Negeri

Dalam RPJPN 2005—202515 disebutkan bahwa struktur

perekonomian diperkuat dengan mendudukkan sektor industri sebagai motor penggerak yang didukung oleh kegiatan pertanian dalam arti luas, kelautan, dan pertambangan yang menghasilkan produk-produk secara efisien, modern, dan berkelanjutan serta jasa-jasa pelayanan yang efektif yang menerapkan praktik terbaik dan ketatakelolaan yang baik agar terwujud ketahanan ekonomi yang tangguh.

Pembangunan industri diarahkan untuk mewujudkan industri yang berdaya saing dengan struktur industri yang sehat dan berkeadilan, yaitu sebagai berikut:

1. Fokus Prioritas Penumbuhan Populasi Usaha Industri dengan hasil peningkatan jumlah populasi usaha industri dengan postur yang lebih sehat yang didukung oleh kegiatan prioritas sebagai berikut:

 Revitalisasi industri, khususnya industri pupuk, industri gula, dan revitalisasi berbagai gugus (cluster) industri prioritas sesuai dengan Kebijakan Industri Nasional.

 Penumbuhan gugus (cluster) industri berbasis minyak sawit (oleochemical) serta gugus (cluster) industri berbasis kondensat minyak dan gas bumi.

 Pengembangan kawasan industri khususnya yang berada dalam kawasan ekonomi khusus (KEK).

2. Fokus prioritas Penguatan Struktur Industri dengan hasil yang diharapkan adalah semakin terintegrasinya IKM dalam gugus 15Presiden Republik Indonesia, Lampiran Peraturan Presiden Republik

(17)

(cluster) industri, tumbuh dan berkembangnya gugus (cluster) industri demi penguatan daya saing di pasar global. Yang didukung oleh kegiatan prioritas sebagai berikut:

 Pembinaan industri agar semakin mampu bersaing menjadi pemasok bagi industri yang lebih besar dan/atau industri hilirnya;

 Pengembangan standardisasi industri dan manajemen guna mempermudah transaksi antarusaha industri.

3. Fokus prioritas Peningkatan Produktivitas Usaha Industri dengan hasil yang diharapkan dari pelaksanaan fokus ini adalah meningkatnya nilai tambah produk melalui penerapan iptek. Yang didukung oleh kegiatan prioritas, kegiatan yang tercakup dalam program penumbuhan industri unggulan berbasis iptek, terutama untuk industri alat angkut, elektronika, dan telematika.

Industri manufaktur masa depan adalah industri-industri yang mempunyai daya saing tinggi, yang didasarkan tidak hanya kepada besarnya potensi Indonesia (comparative advantage), seperti luas bentang wilayah, besarnya jumlah penduduk serta ketersediaan sumber daya alam, tetapi juga berdasarkan kemampuan atau daya kreasi dan keterampilan serta profesionalisme sumber daya manusia Indonesia (competitive advantage).

B.Permasalahan dalam Industri manufaktur

(18)

Pengembangan jaringan produksi telah difasilitasi oleh FTAs (free trade agreement) yang mendorong masuknya FDI (Foreign Direct Investment) dari perusahaan-perusahaan multinasional. Faktor yang mempercepat pertumbuhan jaringan produksi di Asia Timur melingkupi: Pertama, besarnya jurang perbedaan tingkat upah dan produktifitas buruh, akibatnya perbedaan lokasi memberikan perbedaan biaya yang kompetitif untuk tiap-tiap bagian dari rantai nilai. Kedua, negara-negara ASEAN semakin meningkatkan strategi pengembangan yang menjadi tujuan dalam liberalisasi perdagangan dan investasi secara timbal balik maupun regional dibawah FTAs. Ketiga, aliran perdagangan lintas batas difasilitasi oleh perbaikan sistim administrasi serta ketersediaan infrastruktur dan logistik yang efisien yang mengakibatkan biaya produksi dan logistik yang lebih rendah.16

Table 2. East Asia: Share of Production Network Manufacturing Trade, 1992–1993 and 2006–2007 (%)

16 Siow Yue Chia, “The ASEAN Economic Community: Progress,

Challenges, and Prospects”, ADBI Working Paper Series, No. 440, Oktober 2013, hal. 7-8.

Parts & componen ts 1992– Final Assembly 1992– 2006– Total network products 1992– Exports

East Asia Japan

Developing East Asia

PRC

Hong Kong, China Taipei,China Korea, Rep. of ASEAN Indonesia Malaysia Philippines Singapore Thailand Viet Nam

20.2 34.1 23.9 34.4 17.3 34.0 7.4 25.6 15.8 33.3 24.7 44.2 18.1 44.2 22.7 31.6 26.2 44.5 32.6 21.8 24.5 13.7 26.2 18.0 17.8 17.6 21.6 22.2 25.4 34.1 51.8 60.3 68.4 67.0 39.1 58.5 21.1 51.8 33.8 51.1 42.3 65.8 40.3 69.5 56.8 Imports

East Asia Japan

Developing East Asia

PRC

(19)

Sumber: ADB Institute, Working Paper, 2010.

Tabel 2 menunjukkan pertumbuhan pertukaran jaringan produksi bagian-bagian komponen-komponen dan perakitan produk akhir antara tahun 1992-1993 dan 2006-2007, terhitung sebanyak 66,1 persen eksport ASEAN dan 64.0 persen import ASEAN dengan tingkat perbedaan yang tinggi antar negara-negara ASEAN. Terlihat proporsi Indonesia dalam pertukaran ini termasuk yang terkecil dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya. Peningkatan dari tahun 1992-1993 ke tahun 2006-2007 juga sangat kecil. Pada periode 1992-1993, nilai impor Indonesia jauh diatas persentase eksportnya. Pada periode 2006-2007 persentase eksport mampu melampaui import meskipun hanya dengan sedikit perbedaan. Hal ini menunjukkan tingkat daya saing Indonesia masih sangat rendah. Padahal Indonesia memiliki jumlah tenaga kerja yang besar dan wilayah yang cukup luas. Rendahnya daya saing diakibatkan oleh buruknya sistem administrasi, jasa, infrastruktur dan logistik di Indonesia. Dalam hal tenaga kerja juga belum mampu bersaing, meskipun jumlah tenaga kerja di Indonesia besar, akan tetapi dalam hal kemampuan masih kalah bersaing dari negara-negara ASEAN lainnya.

Relatif masih terbelakangnya sektor industri manufaktur di negara-negara berkembang seperti Indonesia disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya adalah keterbatasan teknologi dan rendahnya kualitas sumber daya manusia, dana yang disediakan pemerintah sangat terbatas karena di banyak Negara pemerintahanya selalu menghadapi defisit keuangan yang besar. Sedangkan keterbatasan teknologi dan rendahnya kualitas sumber daya manusia disebut juga karena terbatasnya dana dari sektor swasta.

(20)

Selain itu, di negara berkembang kerjasama antara perusahaan swasta dan universitas atau lembaga pendidikan atau pusat pelatihan serta lembaga R&D yang ada sangat lemah jika dibandingkan di Negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, Jerman dan Inggris.

Dalam kasus Indonesia, UNIDO dalam studinya mengelompokkan masalah-masalah yang dihadapi industri manufaktur nasional dalam dua kategori, yaitu17 : (1)

kelemahan yang bersifat struktural, dan (2) Kelemahan-kelemahan yang bersifat organisasi.

1. Kelemahan-kelemahan yang bersifat struktural Basis ekspor dan pasarnya yang sempit

Walaupun Indonesia memiliki banyak sumber daya alam ( SDA) dan jumlah tenaga kerja yang berlimpah yang merupakan dua faktor utama keunggulan komparatifnya namun produk dan pasar ekspor Indonesia sangat terkonsentrasi pada hal-hal berikut :

a. Empat produk, yakni kayu lapis, pakaian jadi, tekstil dan alas kaki memiliki pangsa pasar 50% dari nilai total ekspor manufaktur.

b. Tiga Negara, yaitu Amerika Serikat, Jepang dan Singapura menyerap sekitar 50% dari nilai total ekspor manufaktur Indonesia, sementara Amerika Serikat sendiri menyerap hampir setengah dari nilai total ekspor tekstil dan pakaian jadi. c. Sepuluh produk menyumbang sekitar 80% dari seluruh hasil ekspor manufaktur. Ekspor manufaktur Indonesia sangat mudah dipengaruhi oeh perubahan permintaan terhadap produk-produk tersebut di pasar yang terbatas.

d. Banyak produk-produk manufaktur yang padat karya yang terpilih sebagai ekspor unggulan Indonesia mengalami penurunan harga di pasar dunia sebagai akibat dari persaingan yang sangat ketat, terutama dari Cina.

Negara-17 Shafiq Dhanani, “Indonesia: Strategy for Manufacturing

(21)

negara produsen lainnya di Asia yang bisa menghasilkan barang yang sama dengan biaya produksi yang rendah, negara Eropa Timur di pasar Eropa Barat, dan Negara-negara Amerika Latin untuk pasar Amerika Utara. Produk-produk ekspor Indonesia juga mengalami inelastic demand di pasar Negara-negara industri maju.

e. Banyak produk manufaktur yang merupakan ekspor tradisional Indonesia mengalami penurunan daya saing yang terutama disebabkan oleh faktor-faktor eksternal bukan faktor-faktor internal, seperti upah tenaga kerja yang naik.

Ketergantungan pada impor yang sangat tinggi

Sejak tahun 1990 Indonesia telah menarik banyak investasi asing (PMA) di industry-industri berteknologi tinggi seperti farmasi, kimia, elektronik, barang-barang konsumsi, alat-alat listrik, dan otomotif. Namun kebanyakan dari industry-industri tersebut bukan merupakan proses manufaktur dalam arti yang sebenarnya, tetapi proses penggabungan, pengepakan, dan assembling dengan hasil sebagai berikut:

a. Pada tahun 1997, nilai impor bahan baku , input perantara, dan komponen berkisar dari 45% di industry-industri kimia, 53% di industry-industri mesin, 56% di industry-industri alat-alat transportasi, hingga 70% di industry-industri barang-barang elektronik.

b. Industri-industri yang padat karya sangat tergantung pada impor bahan baku, input perantara, dan komponen, mulai dari 40%-43% di industry-industri tekstil, pakaian jadi, dan kulit serta 56% di industry-industri alas kaki. Ketergantungan ini disebabkan oleh tidak adanya suplai domestic dan industry-industri pendukung dan lemahnya keterkaitan produksi antarindustri di dalam Negara.

(22)

manjadi sangat tergantung pada suplai bahan baku dan komponen dari luar negeri.

d. Walaupun pertumbuhan PMA di sektor industrimanufaktur sangat pesat dan Indonesia sudah masuk kedalam system manufaktur regional, peralihan teknologi ke Indonesia dalam arti yang luas, termasuk teknikal, manajemen, organisasi, pemasaran, pengembangan produk, dan keterkaitan eksternal sangat terbatas.

e. Ketergantungan pada PMA juga telah membuat proses peningkatan kemampuan perusahaan-perusahaan local dalam proses manufaktur dan kemampuan untuk mengembangkan produk dengan merek sendiri serta membangun jaringan pemasaran sendiri berjalan lambat.

Adanya industri berteknologi menengah

Pola industrialisasi di Indonesia berbeda dengan di Negara-negara lain yang derajat industrialisasinya relative sama.

a. Kontribusi industry-industri berteknologi menengah (termasuk karet dan plastik, semen, logam dasar, dan barang-barang sederhana dari logam) terhadap pembangunan sektor industri manufaktur menurun antara tahun 1985 dan 1997. Pola seperti ini boleh dikatakan unik bagi Indonesia, sejak hampir semua Negara di Asia dan belahan dunia lainnya mempertahankan keberadaan industri dari kategori ini di dalam total output manufaktur mereka.

b. Kontribusi produk-produk yang padat modal (seperti material-material dari plastik, produk-produk dari karet, pupuk, bubuk kertas dan kertas, besi dan baja) terhadap total ekspor juga menurun selama periode yang sama.

c. Di pihak lain, produksi dari industry-industri berteknologi rendah tumbuh dengan pesat, Hal ini disebabkan oleh pertumbuhan yang pesat dari industry-industri padat karya (seperti tekstil, pakaian jadi, dan alas kaki) dan pertumbuhan industry-industri kayu, kertas, dan makanan.

(23)

Industri-industri sekala menengah dan besar sangat terkonsentrasi di Jawa, khususnya di Jabotabek. Walaupun pemerintah telah memberikan berbagai macam insentif,kegiatan produksi manufaktur tetap saja terpusatkan di Jawa. Data BPS menunjukkan bahwa pada tahun 1997 pangsa kesempatan kerja dan nilai tambah industrimanufaktur yang dimiliki Jakarta dan Jawa Barat naik hingga sekitar 50% dari total nasional. Peningkatan ini disebabkan, disamping faktor-faktor lain , oleh adanya industry-industri pendukung dan pemasok, pasar yang relative besar dan berkembang pesat mengikuti pertumbuhan pendapatan riil per kapita dan jumlah populasi, infrastruktur yang fisik yang baik, dan berdekatan dengan kantir-kantor pemerintah. 2. Kelemahan-Kelemahan Yang Bersifat Organisasi

Industri skala kecil dan menengah (IKM) masih underdeveloped Kontribusi industriskala kecil dan menengah terhadap pembentukan nilai tambah manufaktur relatif kecil, sedangkan terhadap kesempatan kerja sangat besar. Hali ini menceminkan rendahnya tingkat produktivitas tenaga kerja di industri skala kecil dan menegah dibanding di industri skala besar (IB).

Pada tahun 1996, industri skala besar (500 pekerja per unit usaha) mengerjakan hanya sekitar 1/3 dari total kesempatan kerja, tetapi menyumbang sekitar 83% terhadap pembentukan nilai tambah. Industri skala kecil dan menegah, termasuk industri rumah tangga dengan jumlah pekerja rata-rata masing-masing 37,8 dan 2 orang per unit usaha, menyumbang masing-masing hanya 5% - 6% dari total nilai tambah dan mengerjakan 2/3 dari total kesempatan kerja.

(24)

subsektor dan supplier linkages antara industriskala kecil dengan menengah dan industriskala besar sangat terbatas.

Konsentrasi Pasar

Tingkat konsentrasi pasar yang tinggi dapat dijumpai dibanyak segmen atau subsektor manufaktur. Pangsa output dari empat perusahaan terbesar (concentration ratio atau CR4) mencapai lebih dari 75% total output dari hampir setengah industrial branches yang ada. Tahun 1997, CR4 mencapai 70%.

Lemahnya Kapasitas untuk Menyerap dan Mengembangkan Teknologi

Transformasi industri selama pemerintahan orde baru terutama disebabkan oleh strategi-startegi bisnis dan hubungan-hubungan internasional dari konglomerat-konglomerat di Indonesia. Tidak ada PMA, konglomerat-konglimerat dan lembaga-lembaga pemerintah yang begitu proaktif memanfaatkan teknologi dan pengetahuan dari luar untuk memperbaiki daya saing dan efisiensi produksi manufaktur di dalam negeri.

Lemahnya Sumber Daya Manusia

(25)

IV. KESIAPAN INDUSTRI INDONESIA DALAM MENYAMBUT AEC

Terkait dengan implementasi AEC Blueprint, pada tahun 2007-2008, Ditjen Kerjasama ASEAN telah melakukan sosialisasi AEC Blueprint bersamaan dengan sosialisasi ASEAN Charter, baik di tingkat pusat, khususnya kepada asosiasi asosiasi bisnis maupun di daerah-daerah di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Irian. Sosialisasi dilakukan dalam bentuk seminar, workshop, lokakarya maupun Kuliah Umum, wawancara di media massa cetak dan elektronik lokal di pusat dan daerah. Salah satu sasaran yang ingin dicapai adalah untuk memicu kesiapan masyarakat serta menimbulkan mengenai public awareness mengenai ASEAN.

Namun ketika penulis melakukan penelitian ke daerah Sulawesi dan Jawa Timur pada tahun 2012, sebagain besar warga di wilayah tersebut belum memperoleh sosialisasi mengenai Asean Community apalagi AEC. Bahkan tidak jarang yang tidak mengetahui sama sekali mengenai hal ini. Disini terlihat usaha pemerintah untuk mensosialisasikan apalagi memersiapkan datangnya AEC belum memadai.

A. Kesiapan Industri Manufaktur Nasional dan Dukungan dari Pemerintah

(26)

perlu memperketat standar impor seperti halnya Prancis yang sudah memproteksi industri dalam negerinya. Hampir seluruh negara di dunia sudah mulai proteksi besar-besaran. Indonesia juga harus memberlakukan sertifikasi standar impor sehingga industri domestik bisa diperkuat dan penetrasi asing bisa dibendung.18

Bila hal ini terus berlangsung, sektor industri Indonesia tidak segera berbenah dan meningkatkan produksinya baik dari segi kualitas maupun kuantitas, maka ketika AEC diimplementasikan, dapat dipastikan produk-produk industri negara-negara ASEAN lain akan mendominasi pasar domestik Indonesia. Hal ini akan berdampak pada semakin terpuruknya industri nasional karena tidak mampu bersaing. Pemerintah perlu memberikan dorongan baik melalui aturan dan kebijakan maupun fasilitas fisik dan infrastruktur yang memadai.

Berdasarkan hasil penilaian CPI (Competitive Industrial Index) yang dilakukan oleh UNIDO (United Nations Industrial Development Organization) terhadap 133 negara di dunia pada tahun 2010, rangking lima besar dunia berdasarkan CPI Index diduduki oleh Jepang, Jerman, Amerika Serikat, korea dan Taiwan. CPI index Indonesia berada pada urutan ke 38. Di antara negara-neraga ASEAN, Indonesia menduduki urutan ke empat jauh tertinggal di bawah Thailand (urutan ke 23), Malaysia (urutan 21) dan Singapore (urutan ke 6). CPI index merupakan tool yang digunakan oleh UNIDO untuk mengukur tingkat kompetitivitas kinerja industri negara-negara di dunia. CPI indeks terdiri dari empat sub-indikator yang dikelompokkan ke dalam 3 dimensi. Dimensi pertama, yang berhubungan dengan kapasitas suatu negara untuk memproduksi dan mengeksport hasil industry. Yang diukur dengan Manufacturing Value Added per capita (MVApc) dan Manufatured Exports per capita (MXpc) negara tersebut. Dimensi

18 Pertumbuhan Industri Mendekati 7 Persen, Koran Tempo, 13

(27)

kedua, mencakup level kedalaman dan peningkatan mutu teknologi. Proxy untuk dimensi yang kompleks ini adalah intensitas industrialisasi (terdiri dari 2 indikator yaitu MHVAsh dan MVAsh) dan kualitas eksport (terdiri dari 2 indikator yaitu MHXsh dan MXsh). Dimensi ketiga, adalah sejauhmana dampak suatu negara terhadap dunia industri, yang diukur dari share-nya dalam World Manufacturing Value Added (ImWMVA) dan World Manufactures Trade (ImWMT). 19

Pada Table 3 terlihat bahwa negara-negara anggota ASEAN memiliki tingkat keragaman yang sangat tinggi. Baik itu dari segi luas, jumlah populasi, tingkat pembangunan ekonomi, pendapatan per capital serta tingkat keterbukaan terhadap perdagangan internasional dan investasi. Perbedaan ini akan menimbulkan persepsi yang berbeda terhadap cost and benefit dari suatu integrasi ekonomi. Negara-negara yang lebih besar secara ekonomi (terutama Indonesia) tidak terlalu merasakan manfaat skala ekonomi dari perdagangan terbuka. Sebaliknya negara yang secara skala ekonomi lebih kecil (terutama Singapura) akan diuntungkan dengan adanya suatu pasar regional yang terintegrasi.20

Tabel 3: ASEAN—Perbedaan Ukuran, Tingkat Pembangunan, Perdagangan serta Ketergantungan

terhadap FDI, 2011

19 United nations indUstrial development organization, “The Industrial

Competitiveness of Nations Looking back, forging ahead”, Competitive Industrial Performance Report 2012/2013,Vienna, 2013, hal. vii-xii.

20 Siow Yue Chia, The ASEAN Economic Community: Progress,

(28)

Population (million) Land area (thous. sq km) GDP ($ billion) GDP per capita ($) GDP per capita (PPP- adjusted) Merchandise trade ($ billion) Trade/GDP ratio (%) Inward FDI stock ($ billion) Inward FDI stock/GDP ratio (%) Brunei Darussalam 0.4 5.8 16.3 38702 52059 14.8 90.8 12.5 76.2 Indonesia 237.7 1860.4 846.8 3563 4736 380.9 45.0 173.1 20.5 Malaysia 29.0 330.3 287.9 9941 15955 415.7 144.4 114.6 41.1 Philippines 95.8 300.0 224.3 2341 4289 111.8 49.8 27.6 12.3 Singapore 5.2 0.7 259.9 50130 60744 775.2 298.3 518.6 203.8 Thailand 67.6 513.1 345.8 5116 8907 458.9 132.7 139.7 40.4 Cambodia 14.5 181.0 12.8 879 2287 12.8 100.0 6.9 53.4 Lao PDR 6.4 236.8 8.2 1279 2825 4.0 48.8 2.5 32.2 Myanmar 60.4 676.6 52.8 875 1393 14.9 28.2 9.1 16.9 Viet Nam 87.8 331.1 123.3 1403 3440 199. 6 161.9 72.8 60.3 * FDI = foreign direct investment; GDP = gross domestic product; PPP = purchasing power parity.

Sumber: ADB Institut

Semua anggota Asean yang berjumlah 10 negara, telah mempersiapkan diri menghadapi implementasi AEC pada 2015. Vietnam, misalnya, telah cukup lama memasukkan Bahasa Indonesia sebagai mata pelajaran di sekolah. Tujuannya jelas, Vietnam mengincar pasar ketenagakerjaan di Indonesia. Begitu pula Filipina gencar memberikan pelatihan kepada para tenaga medis terkait dengan aspek kehidupan sosial-budaya di Indonesia dan Malaysia. Niatnya jelas, Filipina berharap dapat sebanyak mungkin menempatkan para pekerja bidang medis di Indonesia dan Malaysia saat AEC diimplementasikan nanti. Sementara itu, Thailand, Malaysia, dan Singapura terus meningkatkan daya saing iklim investasi, termasuk membenahi infrastruktur dan menyiapkan berbagai insentif untuk menarik penanaman modal asing.

(29)

kementerian dan instansi pemerintah justru saling tuding, saling lempar tangung jawab, dan saling mempersalahkan atas ketidaksiapan industri dalam negeri menghadapi ACFTA. Ketika itu, industri di dalam negeri semakin terdesak di pasar domestiK karena tak mampu bersaing dengan barang impor, sementara itu meningkatkan ekspor ke China ternyata bukanlah perkara mudah. Akibatnya, Indonesia mengalami defisit perdagangan terhadap China yang kian melebar dari tahun ke tahun.21

Dapat dibayangkan kondisi perekonomian Indonesia apabila hal yang sama terjadi saat pengimplementasian AEC. Karena AEC tidak hanya menyangkut perdagangan, akan tetapi juga investasi, barang dan jasa, modal dan arus tenaga kerja. Bila Indonesia tidak siap untuk mengahadapinya iklim investasi Indonesia yang buruk akan membuat ekonomi semakin terpuruk dengan dibanjirinya pasar domestik Indonesia oleh produk (barang dan jasa) dan tenaga kerja dari negara-negara ASEAN yang lain. Tidak hanya inflasi yang akan melonjak tetapi angka pengangguran juga akan semakin besar. Indonesia sebagai negara dengan jumlah populasi terbesar di ASEAN merupakan sasaran empuk bagi pemasaran produk-produk industri negara lain.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia meragukan kesiapan Indonesia dalam menghadapi AEC pada akhir 2015. Hingga saat ini, pemerintah maupun dunia usaha belum terlihat berupaya mengintegrasikan program untuk persiapan ke arah AEC. Untuk menghadapi AEC, Kadin berharap adanya keterlibatan integratif dalam pembuatan kebijakan pemerintah Indonesia seperti yang sudah dilakukan negara-negara Asean lain, di antaranya Singapura, Malaysia, dan Thailand. Dalam hal ini, Indonesia masih harus berbenah karena sektor swasta masih jauh berada di luar lingkaran pengambilan keputusan oleh negara. Indonesia perlu serius mempersiapkan

21 Tajuk Bisnis: Mengingatkan Kesiapan Menghadapi AEC 2015, Bisnis

(30)

diri. Apalagi, berdasarkan data World Economy Forum (WEF), daya saing Indonesia berada di urutan 55 dunia pada 2008 dan kemudian menjadi peringkat 50 dunia tahun 2012.22

Masalah lain yang masih mengganjal bagi pengimplementasian AEC ini adalah masih ada kekurangsesuaian antara peraturan nasional dengan komitmen ASEAN. Meskipun pemerintah telah menyatakan bahwa persiapan Indonesia dalam menyambut AEC sudah mencapai 82 persen, namun angka tersebut hanya berasal dari keberhasilan Indonesia menjalankan kesepakatan-kesepakatan dalam AEC, bukan dalam bentuk strategi atau langkah nyata.

Ada empat isu penting yang perlu kerja keras untuk segera diantisipasi oleh pemerintah.23 Pertama, implementasi AEC

berpotensi menjadikan Indonesia sekedar pemasok energi dan bahan baku bagi industrilasasi di kawasan ASEAN, sehingga manfaat yang diperoleh dari kekayaan sumber daya alam mininal, tetapi defisit neraca perdagangan barang Indonesia yang saat ini paling besar di antara negara-negara ASEAN semakin bertambah. Salah satu yang harus dilakukan oleh Indonesia adalah menyusun strategi industri, perdagangan dan investasi secara terintegrasi, paling tidak dalam konteks kerja sama AEC.

Kedua, implementasi AEC akan semakin melebarkan defisit perdagangan jasa seiring peningkatan perdagangan barang. Dalam hal ini pemerintah perlu segera mengimplementasikan rencana untuk membangun dan mendukung indusri transportasi yang menjadi sumber defisit terbesar. Langkah lainnya, lanjutnya, adalah menetapkan sektor pariwisata sebagai prioritas dengan

22 Kadin Ragukan Kesiapan RI Sambut AEC 2015,

http://www.kemenperin.go.id/artikel/6317/Kadin-Ragukan-Kesiapan-RI-Sambut-AEC-2015, diunduh 5 April 2014.

23 Empat Hal yang Harus Diantisipasi dalam AEC 2015 Banyak kebijakan

yang minim implementasi,

(31)

menyusun strategi dan kebijakan baru, karena selama ini pariwisata telah menjadi penyumbang surplus dalam neraca perdagangan jasa.

Selanjutnya, ketiga, implementasi AEC juga akan membebaskan aliran tenaga kerja sehingga Indonesia harus mengantisipasi dengan menyiapkan strategi karena potensi membanjirnya Tenaga Kerja Asing (TKA) akan berdampak pada naiknya remitansi TKA yang saat ini pertumbuhannya lebih tinggi daripada remitansi TKI. Akibatnya, ada beban tambahan bagi Indonesia dalam menjaga neraca transaksi berjalan dan mengatasi masalah pengangguran.

Keempat, implementasi AEC akan mendorong masuknya investasi ke Indonesia dari dalam dan luar ASEAN. Indonesia harus bergegas menyiapkan strategi dan kebijakan yang dapat memberi insentif bagi mitra ekonominya untuk ikut membangun industri hulu pengolah sumber daya alam. Sehingga, manfaat ekonomi dari investasi lebih besar, baik dari sisi nilai tambah, penciptaan lapangan kerja maupun terbangunnya industri hulu.

Selain itu untuk mendorong kesiapan negara menyongsong AEC, daerah juga perlu dipersiapkan. Karena daerah bisa menjadi korban akibat diterapkannya AEC produk-produk unggulan daerah bisa saja digantikan oleh produk-produk dari negara ASEAN lainnya. Setiap daerah harus diberdayakan sesuai dengan competitive advantage-nya.

B. Langkah-langkah Strategis Pemerintah dalam Menghadapi AEC.

(32)

bunga kredit perbankan di Indonesia lebih tinggi di atas 5% dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya.

Secara garis besar, langkah strategis yang harus dilakukan antara lain adalah dengan melakukan pembenahan terhadap sektor-sektor potensial yang startegis dan terkait dengan mekanisme yang telah ditentukan ASEAN dalam rangka menciptakan pasar bebas dan basis produksi internasional. Langkah strategis tersebut diantaranya:24 (1) Peningkatan Daya

Saing Ekonomi; (2) Peningkatan Laju Ekspor; (3) Reformasi Regulasi; (4) Perbaikan Infrastruktur; (5) Reformasi Iklim Investasi; (6) Reformasi Kelembagaan dan Pemerintah; (7) Pemberdayaan UMKM; (8) Pengembangan Pusat UMKM Berbasis Website; (9) Penguatan Ketahanan Ekonomi; (10) Peningkatan Partisipasi Semua Unsur Negara.

Sejauh ini, langkah-langkah yang telah dilakukan oleh Indonesia berdasarkan rencana strategis pemerintah untuk menghadapi AEC, antara lain:

1. Penguatan Daya Saing Ekonomi.

Pada tanggal 27 Mei 2011 Pemerintah meluncurkan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). MP3EI merupakan perwujudan transformasi ekonomi nasional dengan orientasi yang berbasis pada pertumbuhan ekonomi yang kuat, inklusif, berkualitas, dan berkelanjutan.

Hasilnya, Perekonomian Indonesia pada tahun 2011 tumbuh 6,5%, lebih tinggi dari tahun sebelumnya (6,2%) dengan investasi dan industri pengolahan sebagai penggeraknya. Neraca pembayaran mencatat surplus baik pada neraca transaksi berjalan maupun neraca modal dan finansial. Cadangan devisa meningkat menjadi USD 110,1 miliar. Stabilitas ekonomi tahun 2011 tetap terjaga. Nilai tukar

24 Sholeh, Persiapan Indonesia Menghadapi AEC (ASEAN Economic

(33)

rupiah kembali menguat dan kembali stabil setelah melemah oleh kekuatiran terhadap imbas krisis utang Eropa pada bulan September dan Oktober 2011. Laju inflasi tahun 2011 terkendali sebesar 3,8%. 25

2. Program ACI (Aku Cinta Indonesia)

Menggunakan produk-produk dalam negeri, antara lain adalah: ACI (Aku Cinta Indonesia). Program ini merupakan salah satu gerakan Nation Branding yang merupakan bagian dari pengembangan ekonomi kreatif yang termasuk dalam Inpres No.6 Tahun 2009 yang berisikan Program Ekonomi Kreatif bagi 27 Kementrian Negara dan Pemda. Gerakan ini sendiri masih berjalan sampai sekarang dalam bentuk kampanye nasional yang terus berjalan dalam berbagai produk dalam negeri seperti busana, aksesoris, entertainment, pariwisata dan lain sebagainya.26

3. Penguatan Sektor UMKM

Dalam rangka meningkatkan pertumbuhan UMKM di Indonesia, pihak Kadin telah mengadakan beberapa program untuk memajukan UMKM Indonesia. Dari segi pendanaan sendiri, pemerintah telah mensosialisasikan dan menjalankan program KUR (Kredit Usaha Rakyat). Tingkat pengembalian KUR cukup baik dengan kredit macet hanya sebesar 2,1%. Volume penyaluran KUR tersebut dapat dicapai dengan dukungan dana penjaminan kredit secara penuh pada tahun 2011. 27

4. Perbaikan Infrastruktur

Dalam rangka mendukung peningkatan daya saing sektor riil, selama tahun 2010 telah berhasil dicapai peningkatan kapasitas dan kualitas infrastruktur seperti prasarana jalan, perkeretaapian, transportasi darat, transportasi laut,

25 KPPN/Bappenas.2012.”Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2013”.Buku

I.hal. 27

26 Kementrian Perdagangan Republik Indonesia, “Menuju ASEAN

Economic

Community 2015”, Jakarta,2009, hal. 17.

27 KPPN/Bappenas..”Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2013”.Buku II,

(34)

transportasi udara, komunikasi dan informatika, serta ketenagalistrikan.28

5. Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM)

Salah satu jalan untuk meningkatkan kualitas SDM adalah melalui jalur pendidikan. Guna mendukung penuntasan Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun, Pemerintah menaikkan satuan biaya program BOS pada jenjang SD/MI/Salafiyah Ula dari Rp 397 ribu (kabupaten) dan Rp 400 ribu (kota) pada periode 2009-2011 menjadi Rp 580 ribu/siswa/tahun pada tahun 2012, yang mencakup 31,32 juta siswa. Adapun pada jenjang SMP/MTs/Salafiyah Wustha satuan biaya dinaikkan dari Rp 570 ribu (kabupaten) dan Rp 575 ribu (kota) menjadi Rp 710 ribu/siswa/tahun, yang mencakup 13,38 juta siswa. Selain itu, dalam rangka memberikan layanan pendidikan yang bermutu, pemerintah telah membangun sarana dan prasarana pendidikan secara memadai, termasuk rehabilitasi ruang kelas rusak berat. Data Kemdikbud tahun 2011 menunjukkan bahwa masih terdapat sekitar 173.344 ruang kelas jenjang SD dan SMP dalam kondisi rusak berat. 29

6. Reformasi Kelembagaan dan Pemerintahan

Dalam rangka mendorong Percepatan Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi, telah ditetapkan strategi nasional pencegahan dan pemberantasan korupsi jangka panjang 2012-2025 dan menengah 2012-2014 sebagai acuan bagi seluruh pemangku kepentingan untuk pelaksanaan aksi setiap tahunnya. Upaya penindakan terhadap Tindak Pidana Korupsi (TPK) ditingkatkan melalui koordinasi dan supervisi yang dilakukan oleh KPK kepada Kejaksaan dan Kepolisian. Selama tahun 2011, KPK telah melakukan strategi peningkatan koordinasi dalam penyelidikan, penyidikan dan penuntutan TPK dengan instansi terkait, melakukan 447

28 KPPN/Bappenas.2012.”Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2013”.Buku

I.hal. 4-7.

(35)

kegiatan supervisi terhadap perkara TPK yang ditangani oleh Kejaksaan dan Kepolisian melalui pelaksanaan gelar perkara, analisis perkara dan pelimpahan perkara ke Kepolisian dan Kejaksaan serta meminta informasi tentang perkembangan penanganan perkara TPK kepada Kepolisian dan Kejaksaan melalui permintaan Surat Perintah Dimulainya Penyidikan (SPDP).30

V. Penutup

Sektor industri memegang peranan penting dalam pertumbuhan ekonomi negara ditengah kemanjuan teknologi dan meningkatnya kebutuhan hidup masyarakat dunia yang modern. Dengan integrasi ekonomi ASEAN melalui AEC, tidak hanya liberalisasi perdagangan yang terjadi tetapi juga bebasnya arus modal, investasi dan tenaga kerja. Semua ini berdampak pada sektor industri.

Bila bicara mengenai sektor industri tidak dapat dilepaskan dengan kegiatan ekspor dan impor. Dengan diimplementasikannya AEC, maka kebijakan proteksi terhadap produk dalam negeri tidak dapat dilakukan lagi. Sehingga untuk mampu bersaing, sektor industri perlu meningkatkan efektifitas dan efisiensinya serta meningkatkan kualitas maupun kuantitas produknya. Industri Indonesia masih menghadapi masalah-masalah klasik baik dari segi struktural maupun organisasi.

Kondisi sektor perindustiran masih jauh tertinggal dibanding dengan negara-negara ASEAN lain yaitu Singapura, Malaysia dan Thailand. Hal ini dikarenakan daya saing yang masih rendah karena kurangnya dukungan dari pemerintah. Hal utama yang menjadi penyebab dari rendahnya daya saing tersebut adalah Pemerintah perlu memberikan dorongan baik melalui aturan dan kebijakan maupun fasilitas fisik dan infrastruktur yang memadai. Sampai saat ini belum terlihat upaya nyata dari

(36)

pemerintah baik dari segi kebijakan maupun pembangunan fasilitas fisik dan sumberdaya manusia untuk menghadapi implementasi AEC yang semakin dekat.

DAFTAR PUSTAKA Jurnal

Chia, Siow Yue, The ASEAN Economic Community: Progress, Challenges, and Prospects, ADBI Working Paper Series, No. 440, Oktober 2013.

Rachman, Abdul, Peluang dan Tantangan Indonesia Dalam Mendorong ASEAN Sebagai Kekuatan Ekonomi Baru Asia, Disampaikan dalam acara PATA Hub City Forum, Yogyakarta, 11 Oktober 2013.

Sholeh, Persiapan Indonesia Menghadapi AEC (ASEAN Economic Community) 2012, eJournal Ilmu Hubungan Internasional, 2013, 1 (2): 509-522.

Tambunan, Tulus T.H., Kebijakan Industri Dalam Menyongsong ME-ASEAN 2015, KADIN Indonesia, Policy Paper No. 16 April 2013.

United nations indUstrial development organization, The Industrial Competitiveness of Nations Looking back, forging ahead, Competitive Industrial Performance Report 2012/2013,Vienna, 2013.

Yani, Y. M, Sosialisasi ASEAN Socio-Cultural Community (ASCC) Blueprint , Departemen Luar Negeri Republik Indonesia, Disampaikan pada acara Seminar Nasional Bandung, 20 Nopember 2008.

Dokumen Negara

ASEAN Secretariat, ASEAN Economic Community Blueprint, Jakarta, January 2008.

(37)

Direktorat Jenderal Kerja Sama Perdagangan Internasional, Kementerian Perdagangan, Informasi Umum: Masyarakat Ekonomi ASEAN, ASEAN Community in a Global Community of Nations, Jakarta 2011.

Kementrian Perdagangan Republik Indonesia, Menuju ASEAN Economic Community 2015, Jakarta, 2009.

KPPN/Bappenas, Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2013, Buku I, Jakarta, 2012.

KPPN/Bappenas, Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2013, Buku II, Jakarta,

Presiden Republik Indonesia, Lampiran Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2010-2014, Buku II, Jakarta, 2010.

Koran

Mengingatkan Kesiapan Menghadapi AEC 2015, Bisnis Indonesia, 19 Maret 2014

Pertumbuhan Industri Mendekati 7 Persen, Koran Tempo, 13 November 2013.

Tajuk Bisnis: Mengingatkan Kesiapan Menghadapi AEC 2015, Bisnis Indonesia, 19 Maret 2014.

Internet

Empat Hal yang Harus Diantisipasi dalam AEC 2015 Banyak kebijakan yang minim implementasi,

http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt526e4f67b3b6e/e

mpat-hal-yang-harus-diantisipasi-dalam-aec-2015, diunduh 5

Mei 2014.

http://disnakertransduk.jatimprov.go.id/pdf/berita-aec.pdf,

diunduh 16 Juni 2014.

http://www.kemenperin.go.id/artikel/19/Kebijakan-Industri-Nasional, diunduh tanggal 15 April 2014.

http://www.kemenperin.go.id/artikel/19/Kebijakan-Industri-Nasional, diunduh tanggal 19 Juni 2014.

Kadin Ragukan Kesiapan RI Sambut AEC 2015,

(38)

Gambar

Tabel. 1 Laju Pertumbuhan Industri Pengolahan Non Migas(Kumulatif)
Table 2. East Asia: Share of Production NetworkManufacturing Trade, 1992–1993 and 2006–2007 (%)

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan media gambar sketsa memberikan pengaruh terhadap keterampilan menulis karangan deskripsi siswa

Disebut boiler paket sebab sudah tersedia sebagai paket yang lengkap. Pada saat dikirim ke pabrik, hanya memerlukan pipa steam, pipa air, suplai bahan bakar dan

Jatuhnya kota Baghdad pada tahun 1258 M ke tangan bangsa Mongol bukan saja mengakhiri Khilafah Abbasiyah di sana, tetapi juga merupakan awal dari masa kemunduran

Semua ini memerlukan suatu kegiatan prakiraan yang ter - program untuk setiap tahun pada setiap Kecamatan dan Ka bupaten dalam rangka memperlancar proses pengadaan. Kedua,

Kemudian dalam upayanya meningkatkan mutu pendidikan di SD Islam Al Azhar 29 Semarang juga sudah cukup baik, Pengelolaan Komite Sekolah dalam meningkatkan mutu

sedangkan variabel yang dinilai tidak memuasakan pasien sekaligus menjadi isu mutu pelayanan meliputi dimensi fisik (kelengkapan peralatan medis, kemenarikan tatanan

menghargai hak milik orang lain, cara menghargai makhluk yang hidup di alam lain, pengetahuan pranata dan adat-istiadat, cara meningkatkan kesejahteraaan keluarga,

Menurut Mulyadi (2008;11), ditinjau dari sudut profesi akuntan publik, auditing adalah pemeriksaan (Examination) secara objektif atas laporan keuangan suatu perusahaan