• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pada umumnya penyelesaiaan kredit macet atau kredit bermasalah antara debitur dan pihak bank (dalam hal ini PT.Bank Mandiri sebagai kreditur) ada beberapa jenis antara lain:

1. Novasi, yaitu penggantiaan debitur oleh pihak ketiga yang selanjutnya menjadi debitur baru (novator) atas persetujuan Bank.

2. Subrogasi, yaitu penggantiaan hak-hak kreditur oleh pihak ketiga karena adanya pembayaran hutang oleh pihak ketiga tersebut.

3. Likuidasi agunan, yaitu pencairan agunan fasilitas kredit debitur dalam rangka menurunkan atau melunasi kewajiban kredit debitur kepada bank yang terdiri dari:

a. Penjualan agunan kredit dibawah tangan (tampa melalui lelang) yang dilakukan oleh debitur yang bersangkutan sebagai pemilik agunan, atau pemilik agunan dengan persetujuan debitur terhadap barang yang sudah dijadikan jaminan dalam diikat sesuai dengan ketentuaan yang berlaku.

b. Penjualan dengan cara lelang yaitu penjualan agunan melalui suatu lelang umum dengan harga minimal sebesar harga limit yang sudah ditetapkan dan bertujuan untuk membayar kewajiban kredit debitur, antara lain:

- Lelang sukarela, yaitu penjualan agunan melalui lelang terhadap agunan yang belum/tidak diikat sesuai ketentuan yang berlaku untuk menurunkan atau melunasi kewajiban kredit debitur kepada bank berdasarkan permintaan debitur

sebagai pemilik agunan atau atas permintaan pemilik agunan dengan persetujuan debitur.

- Lelang eksekusi, yaitu penjualan agunan melalui lelang terhadap agunan yang sudah diikat sesuai ketentuan yang berlaku untuk menurunkan atau melunasi kewajiban kredit debitur kepada bank yang dilakukan olehn bank selaku kreditur.

c. Penebusan agunan kredit adalah pencairan/penarikan agunan dari bank oleh pemilik agunan atau ahli warisnya dalam rangka penyelesaiaan kredit dengan menyetorkan sejumlah uang yang besarnya ditetapkan oleh bank dengan ketentuan sebagai berikut:

- Agunan

- yang sudah diikat penebusannya minimal sebesar nilai Hak Tanggunggan apabila nilai Hak Tanggungan lebih kecil dari nilai pasar, dan minimal sebesar nilai pasar apabila nilai pasar lebih kecil dari Hak Tanggungan.

- Agunan yang belum diikat, penebusannya minimal sebesar nilai pasar.

Adapun praktek penyelesaian kredit bermasalah/ macet biasanya dilakukan melalui tiga jalur yaitu:

1. Melalui Badan Urusan Piutang dan Lelang Negara (BUPLN).

Cara ini adalah untuk kredit macet di bank milik negara. Biasanya kredit yang telah macet (dan telah diupayakan penagihannya/penyelesaiaannya) melalui BUPLN untuk selanjutnya akan dilakukan pelelangan/penjualan

benda jaminan. Namun tidak selamanya pelelangan/penjualan itu dilakukan dengan bantuan BUPLN, sebab apabila bank telah memperoleh kuasa menjual maka ia berhak menjual harta jaminan tersebut dibawah tangan. Untuk memperoleh pengembaliaan kredit dari hasil pelelangan bukanlah hal yang mudah dan cepat. Pengalaman menunjukkan bahwa untuk menjual agunan melalui prosedur lelang sangat sulit untuk memperoleh pembeliaan harga yang memadai. Kadang-kadang bank justru memperoleh pengembaliaan yang sangat rendah. Agar tidak terlalu merugikan pihak bank, maka hukum perbankan yang baru memberikan kesempatan kepada bank untuk turut serta dalam pelelangan (sebagai pembeli lelang), sebab jika bank dapat menguasai agunan itu dari pelanggan maka nantinya bank dapat menjual agunan itu secara perlahan-lahan menurut harga yang berlaku di pasaran.

2. Proses Ligitasi di Pengadilan

Apabila suatu kredit macet/bermasalah (dari bank swasta), maka penyelesaiaanya dapat dilakukan melalui pengadilan . proses ligitasi merupakan langkah terpaksa yang dilakukan bank apabila debitur menunjukkan itikad tidak baik yang sengaja menyembunyikan harta bendanya yang masih cukup banyak untuk melunasi kreditnya.

Adapun penyelesaiaan kredit macet/bermasalan melalui Pengadilan Negeri, dengan cara melakukan:

a. Somasi.

b. Eksekusi Hak Tanggungan, Sertifikat Hipotik, Jaminan Fidusia, Credit Verband (parate eksekusi).

c. Gugatan

d. Eksekusi Grossee akta pengakuaan utang

e. Sedangkan pnyelesaian kredit macet melalui Pengadilan Niaga adalah dengan melakukan pailit.

3. Melalui arbitrase atau Perwasitan

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa penyelesaian kredit macet melalui BUPLN maupun melalui pengadilan dipandang kurang menguntungkan, karena waktu yang diperlukan relatif lama dan jumlah uang yang bisa ditarik juga kecil. Oleh karena itu perbankan mencoba menawarkan penggunaan lembaga arbitrase untuk penyelesaian kredit macet. Lembaga arrbitrase dapat berupa badan institusional yang telah lama terbentuk seperti Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) yang dibentuk oleh KADIN tahun 1977. Adapun keuntungan dari penggunaan lembaga arbitrase dalam penyelesaiaan kredit macet menurut Sutan Syahyedi adalah sebagai berikut:

a. Penyelesaiaan sengkete melalui arbitrase jauh lebih cepat bila dibandingkan dengan penyelesaiaan melalui pengadilan.

b. Putusan arbitrase tidak bisa diperjanjikan dalam Klausa Arbitrase sebagai putusan tingkat pertama dan terakhir.

c. Putusan arbitrase tidak dapat diminta Kasasi maupun peninjuan kembali.

d. Bila sengketa pengkreditan diperjanjikan untuk diselesaikan oleh BANI, maka dimungkinkan para pihak untuk menunjuk salah seorang arbiter itu dari pihaknya.

4. Penghapusan Kredit (Dihapusbukakan)

Yang dimaksud dengan penghapusbukuaan adalah menghapus dari pembukuaan sebagiaan atau seluruh pinjaman kredit macet sesuai dengan kriteria pinjaman yang layak untuk dihapusbukukan yakni pinjaman yang sudah 6 bulan setelah jatuh tempo pelunasan tidak pernah membayar angsuran pinjamanya. Penghapusan bukuan tidak berarti hapus tagih.

Pinjaman yang telah dihapus buku masih harus ditagih sampai dengan seluruh pinjaman dapat tertagih.

A. Kesimpulan

Dari pemaparan diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kredit macet atau problem loan adalah kredit yang mengalami kesulitan pelunasan akibat adanya faktor-faktor atau unsur kesengajaan atau karena kondisi debitur di luar kemampuan debitur.

Faktor-faktor penyebab dari kredit macet itu sendiri dapat disebabkan oleh pihak kreditur (bank) ataupun debitur (nasabah). Kesalahan dari pihak kreditur seperti keteledoran bank mematuhi peraturan pemberiaan kredit yang telah digariskan, terlalu mudah memberikan kredit. Sedangkan faktor yang disebabkan oleh debitur adalah menurunnya kondisi usaha bisnis perusahaan, yang disebabkan merosotnya kondisi ekonomi umum dan bidang usaha dimana mereka beroperasi.

B. Saran

Setelah mempelajari permasalahan-permasalahan yang menjadi permasalahan dalam tugas akhir ini, maka penulis mencoba unttuk memberikan beberapa saran sebagai berikut:

1. Dengan adanya pengalaman perbankan dalam masalah kredit macet, PT.

Bank Mandiri sebaiknya lebih hati-hati dan selektif dalam pemberiaan kredit kepada nasabah,

2. Adanya pengawasan dari pihak PT Bank mandiri terhadap usaha yang dilakukan debitur setiap waktu tertentu agar dapat membantu pencegahan kredit macet dan penyalahgunaan kredit.

A. BUKU-BUKU

Hariani, Iswi. 2013. Restrukturisasi dan Penghapusan Kredit Macet. Elex Media Komputindo.

Republik Indonesia, 2005 Undang-undang RI No.10/1998 tentang Perubahan Undang Undang No.7/1992 tentang Perbankan, Jakarta: PT. Jakarta Banking Institut

Rivai,Arief. 2006. Penanganan Kredit Bermasalah, Kantor Bank Indonesia.

Sinungan, Muchdarsyah. 2009. Dasar-Dasar Kredit dan Manajemen Kredit.

Jakarta: Bhineka Aksara.

Untung, Budi. 2010. Kredit Perbankan di Indonesia. Yogyakarta: ANDI.

B. JURNAL

Syahyunan. 2003. Analisis Kualitas Aktiva Produktif Sebagai Salah satu Alat ukur Kesehatan Bank.

Dokumen terkait