• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PENELITIAN

2.1. Hasil-Hasil Terdahulu

2.2.5. Lapangan Usaha dan Permodalan Koperasi

6. Berusaha untuk mewujudkan dan mengembangkan perekonomian nasional yang merupakan usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan dan demokrasi ekonomi.

2.2.4.2. Prinsip Koperasi Indonesia.

Prinsip koperasi menurut Undang-undang No.25 tahun 1992 bab III bagian 2 pasal 5 adalah:

1. Sifat keanggotaannya sukarela dan terbuka. 2. Pengelolaan dilakukan secara demokratis.

3. Pembagian SHU dilakukan secara adil sebanding dengan besarnya jasa usaha masing-masing anggota.

4. Pemberian belas jasa yang terbatas terhadap modal. 5. Kemandirian.

Dalam mengembangkan koperasi, maka koperasi melaksanakan pula prinsip koperasi sebagai berikut:

1. Pendidikan perkoperasian. 2. Kerjasama antar koperasi.

2.2.5. Lapangan Usaha dan Permodalan Koperasi.

2.2.5.1. Lapangan Usaha Koperasi.

Lapangan usaha koperasi menurut Undang-undang No.25 tahun 1992 bab VIII pasal 43 adalah:

 

1. Usaha koperasi adalah usaha yang berkaitan langsung dengan kepentingan anggota untuk meningkatkan usaha dan kesejahteraan anggota.

2. Kelebihan kemampuan pelayanan koperasi dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang bukan anggota koperasi. 3. Koperasi menjalankan kegiatan usaha dan berperan utama disegala

bidang kehidupan ekonomi rakyat.

4. Koperasi dapat menghimpun dana dan menyalurkan melalui kegiatan usaha simpan pinjam dari dan untuk :

4. Anggota koperasi yang bersangkutan. 5. Koperasi lain dari atau anggotanya.

5. Kegiatan usaha simpan pinjam dapat dilaksanakan sebagai salah satu atau satu-satunya kegiatan usaha koperasi. Pelaksanaan kegiatan usaha simpan pinjam oleh koperasi diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

2.2.5.2. Permodalan Koperasi.

Dalam Penyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 27 disebutkan bahwa modal koperasi terdiri dari:

a. Modal anggota. 1. Simpanan pokok. 2. Simpanan wajib.

 

3. Simpanan lain yang memiliki karakteristik yang sama dengan simpanan pokok atau simpanan wajib

b. Modal penyertaan. c. Modal sumbangan.

2.2.6. Kredit.

2.2.6.2. Pengertian Kredit.

Kata kredit berasal dari kata credere yang artinya kepercayaan. Maksud percaya bagi si pemberi kredit adalah ia percaya kepada si penerima kredit bahwa kredit yang disalurkannya pasti akan dikembalikan sesuai dengan perjanjian. Sedangkan bagi si penerima kredit merupakan penerimaan kepercayaan sehingga mempunyai kewajiban untuk membayar sesuai dengan jangka waktu (Kasmir, 2003: 93).

Menurut Undang-undang perbankan nomor 10 tahun 1998 kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat disamakan dengan itu, berdasarkan pesetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga. Berikut ini adalah beberapa pendapat tokoh mengenai pengertian kredit Harijanto (1999: 89):

1. Menurut Muliono adalah kemampuan untuk melaksanakan suatu pembelian atau mengadakan suatu pinjaman dengan suatu janji

 

pembayarannya akan dilakukan pada suatu jangka waktu yang telah disepakati.

2. Menurut Sinungan pengertian kredit adalah suatu pemberian prestasi oleh suatu pihak pada pihak lain dan prestasi itu akan dikembalikan lagi pada suatu masa tertentu yang akan datang disertai dengan suatu kontra prestasi berupa bunga.

Menurut Harijanto (1999: 86) pada dasarnya kredit mempunyai nilai dan untuk menentukan nilai tersebut pihak kreditor mempunyai prinsip yang banyaknya 5 C yaitu:

1. Character : Artinya adalah watak, kelakuan, atau tabiat dari debitur ada itikat baik serta kemauan untuk membayar kredit yang diambil/ diterima.

2. Capacity : Artinya adalah kemampuan dari debitur untuk membayar atas kredit yang ia terima.

3. Capital : Artinya adalah permodalan dari debitur yang biasanya dapat dilihat dari neraca.

4. Collateral : Artinya adalah jaminan.

5. Conditions : Kondisi mengenai perekonomian secara umum serta kondisi dari debitur mengenai keadaan usahanya di masa kini dan masa mendatang.

 

2.2.6.3. Tujuan Kredit.

Pemberian suatu fasilitas kredit mempunyai tujuan tertentu dimana tujuan pemberian kredit tersebut tidak dapat terlepas dari misi koperasi tersebut didirikan. Tujuan utama dari pemberian suatu kredit adalah (Kasmir, 2003: 95):

a. Mencari keuntungan.

Yaitu bertujuan untuk memperoleh hasil dari pemberian kredit tersebut.

b. Membantu usaha nasabah.

Yaitu bertujuan untuk membantu usaha nasabah yang memerkukan dana investasi maupun dana untuk modal kerja.

c. Membantu pemerintah.

Yaitu bertujuan membantu pemerintah, karena bagi pemerintah semakin banyak kredit yang disalurkan maka semakin baik karena pembangunan di berbagai sektor akan mengalami peningkatan.

2.2.6.4. Fungsi Kredit.

Menurut Harijanto (1999: 90) fungsi kredit dalam kegiatan perekonomian adalah sebagai berikut:

1. Kredit dapat meningkatkan manfaat dari sumber dana atau modal. Kredit yang diberikan oleh bank akan dapat digunakan oleh pihak debitur untuk mengeloleh barang yang tidak berguna menjadi berguna atau bermanfaat.

 

2. Kredit dapat meningkatkan peredaran uang.

Uang yang diberikan atau disalurkan akan beredar dari satu wilayah ke wilayah lainnya sehingga suatu daerah yang kekurangan dengan memperoleh kredit maka daerah tersebut akan memperoleh tambahan uang dari daerah yang lainnya.

3. Kredit merupakan sarana didalam stabilitasi ekonomi.

Dengan memberikan kredit dapat dikatakan sebagai stabilitas ekonomi karena dengan adanya kredit yang diberikan akan menambah jumlah barang yang diperlukan oleh masyarakat selain itu kredit juga membantu mengekspor barang dari dalam negeri ke luar negeri sehingga meningkatkan devisa negara.

4. Kredit sebagai alat hubungan ekonomi internasional.

Kredit dalam hal pinjaman internasional akan dapat meningkatkan saling membutuhkan antara pihak penerima kredit dengan pihak pemberi kredit. Pemberian kredit oleh negara lain akan meningkatkan kerjasama dibidang yang lainnya.

2.2.6.5. Unsur-unsur Kredit.

Dari pengertian di atas dapat dikatakan bahwa dalam suatu kredit terdapat unsur-unsur kredit (Faud dan Rustan, 2005: 132) sebagai berikut:

 

a. Kepercayaan.

Pihak pemberi kredit percaya bahwa kredit yang diberikan akan diterima kembali dalam jangka waktu tertentu di masa yang akan datang.

b. Waktu.

Terdapat jangka waktu antara saat pemberian kredit dengan saat pengembalian kredit.

c. Degree of risk.

Suatu tingkat resiko yang akan diadapi sebagai akibat dari adanya jangka waktu yang memisahkan pemberian kredit dengan kontra prestasi yang akan diterima dimasa yang akan datang.

d. Prestasi.

Objek kredit yang diberikan dalam bentuk uang atau barang. e. Balas jasa.

Pendapatan atas pemberian kredit namk dapat berupa bunga provisi dan biaya administrasi kredit. Hal tersebut merupakan balas jasa yang diterima dari adanya kredit.

Untuk mengatasi kerumitan serta dalam upaya agar kegiatan perkreditan tersebut dapat berjalan dengan lancar, maka diperlukan suatu rangkaian peraturan-peraturan yang ditetapkan terlebih dahulu baik secara tertulis maupun tidak tertulis sebelum pelaksanaan perkreditan itu sendiri berlangsung. Rangkaian peraturan ini disebut sebagai kebijaksanaan kredit (credit policy).

 

2.2.6.6. Aspek-Aspek Dalam Penilaian Kredit.

Penilaian suatu kredit layak atau tidak untuk diberikan dapat dilakukan dengan menilai seluruh aspek yang ada. Menurut Kasmir (2003: 107) aspek-aspek yang dinilai antara lain:

1. Aspek yuridis / hukum.

Yang dinilai dalam aspek ini adalah masalah legalitas badan usaha serta izin-izin yang dimiliki perusahaan yang mengajukan kredit. Penilaian dimulai dengan akte pendirian perusahaan, sehingga dapat diketahui siapa-siapa pemilik dan besarnya modal masing-masing pemilik.kemudian juga diteliti keabsahannya.

2. Aspek pemasaran.

Yang dinilai dalam aspek ini adalah permintaan terhadap produk yang dihasilkan sekarang ini dan dimasa yang akan datang prospeknya bagaimana.

3. Aspek keuangan.

Yang dinilai dalam aspek ini adalah sumber-sumber dana yang dimiliki untuk membiayai usahanya dan bagaimana penggunaan dana tersebut.

4. Aspek teknis / operasi.

Yang dinilai dalam aspek ini adalah yang berkaitan dengan produksi seperti kapasitas mesin yang digunakan, masalah lokasi, layout ruangan dan mesin-mesin.

 

5. Aspek menejemen.

Yang dinilai dalam aspek ini adalah struktur organisasi perusahaan, sumber daya manusia yang dimiliki dan latar belakang pengalaman sumber daya manusianya.

6. Aspek sosial ekonomi.

Yang dinilai dalam aspek ini adalah dampaknya terhadap perekonomian dan masyarakat umum. Seperti:

a. Meningkatkan ekspor barang. b. Mengurangi pengangguran.

c. Meningkatkan pendapatan masyarakat. d. Tersedianya sarana dan parsarana. e. Membuka isolasi daerah tertentu. 7. Aspek amdal.

Yang dinilai dalam aspek ini menyangkut analisis terhadap lingkungan baik darat, air atau udara jika proyek atau usaha tersebut dijalankan.

Dokumen terkait