BAB 1. PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL
4. Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan
Kinerja LU Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Triwulan II 2019
LU pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh melambat dibanding triwulan sebelumnya. Pada triwulan II 2019, LU ini tumbuh sebesar 3,31% (yoy), lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 3,53% (yoy). Melambatnya pertumbuhan ini ditengarai oleh kurang optimalnya produksi ikan segar, dan kayu olahan seiring pertumbuhan ekspor yang kontraksi. Sementara, ekspor udang dan mutiara tercatat cukup solid sehingga mampu menahan melambatnya pertumbuhan.
Mutiara merupakan komoditas utama ekspor non migas Papua Barat dengan nilai tertinggi setelah semen. Pertumbuhan ekspor mutiara pada triwulan ini tercatat 27,52% (yoy), lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya. Ekspor mutiara sangat tergantung dari kondisi pasar atau permintaan global khususnya Hongkong sehingga ekspor dilakukan dalam periode yang tidak rutin.
Sumber: DJBC, diolah
Grafik 1.29. Ekspor Mutiara Sumber: DJBC, diolah
Grafik 1.30. Ekspor Udang Segar/Beku
Sementara itu, kinerja komoditas udang segar/beku mampu menopang LU ini untuk tetap dapat tumbuh positif. Pada triwulan II 2019, ekspor udang segar/beku tumbuh sebesar 50,95% (yoy), terakselerasi dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 9,98%
(yoy). Udang beku pada jenis ini didominasi oleh udang hasil tangkapan laut.
Sementara, ekspor ikan tercatat menunjukkan pertumbuhan negatif sebesar -34,31%(yoy), lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya yang tercatat tumbuh tinggi sebesar 41,41%
(yoy). Kurangnya ekspor ikan ditengarai akibat hasil tangkapan ikan yang kurang maksimal.
-100
2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
JUTA (USD)
Mutiara growth Mutiara (%, yoy) - Sb. Kanan
-100
2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
JUTA (USD)
Mutiara growth Mutiara (%, yoy) - Sb. Kanan
Laporan Perekonomian Provinsi Papua Barat - Agustus 2019 26 Kondisi cuaca dengan gelombang tinggi menyebabkan hasil tangkapan nelayan menjadi kurang optimal. Sejalan dengan ekspor ikan yang terkontraksi, pertumbuhan kredit sektor perikanan juga tercatat kontraksi sebesar -9,09% (yoy), lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya yang tercatat 7,52% (yoy).
Sumber: DJBC, diolah
Grafik 1.31. Ekspor Ikan Sumber: Laporan Bank Umum, diolah Grafik 1.32. Kredit Perikanan
Sumber: DJBC, diolah
Grafik 1.33. Ekspor Kayu Olahan Sumber: Laporan Bank Umum, diolah Grafik 1.34. Kredit Pertanian
Selanjutnya, pertumbuhan ekspor kayu olahan tercatat kontraksi -4,64% (yoy) dan mendorong perlambatan sektor kinerja LU ini. Kontraksinya ekpor kayu olahan disebabkan juga oleh base effect ekspor yang cukup tinggi pada triwulan II 2018. Meskipun demikian, jika dibandingkan dengan ekspor secara nominal dengan triwulan I 2019, ekspor triwulan II 2019 menunjukkan nilai yang lebih tinggi.
Di sisi lain, subusaha pertanian memiliki risiko yang tinggi terhadap kondisi cuaca. Curah hujan yang tinggi dapat menyebabkan produksi tanaman khususnya hortikultura memiliki risiko gagal panen yang cukup tinggi. Pada triwulan II 2019, kondisi curah hujan terpantau pada situasi menengah hingga tinggi. Dari sisi perbankan, penyaluran kredit pertanian pada triwulan ini tumbuh sebesar 24,86% (yoy), melambat dibanding triwulan I 2019 yang tercatat tumbuh sebesar 37,35% (yoy).
2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
JUTA (USD)
Ikan Segar growth Ikan (%, yoy) - Sb. Kanan
-20
2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
MILIAR (RP)
2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
JUTA (USD)
Kayu Olahan growth Kayu Olahan (%, yoy) - Sb. Kanan
-40
2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
MILIAR (RP)
Kredit pertanian gKredit pertanian (Sb. Kanan)
Laporan Perekonomian Provinsi Papua Barat - Agustus 2019 27 Tracking Kinerja LU Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Triwulan III 2019
Memasuki triwulan III 2019, kinerja LU pertanian, kehutanan, dan perikanan diperkirakan meningkat dibanding triwulan sebelumnya. Semakin baiknya struktur pertanian di Papua Barat mendorong kinerja subsektor pertanian menjadi lebih baik lagi. Dari sisi perikanan, semakin kuatnya produksi mutiara, udang segar, dan ikan segar berpotensi meningkatkan kinerja subusaha perikanan. Namun, dengan kondisi curah hujan yang sedikit lebih tinggi pada bulan Agustus dan September 2019 dibanding daerah lain di Indonesia berpotensi menghambat kinerja sub usaha perikanan. Subusaha perikanan memiliki pangsa mencapai 50% sehingga cukup dominan pada sektor LU ini. Kemudian, beberapa perkebunan kelapa sawit milik perusahaan nasional telah memulai panen perdananya pada akhir semester I tahun ini, hal ini tentu saja menjadi potensi pendorong pertumbuhan sub sektor perkebunan.
Sumber: BMKG
Gambar 1.1. Prakiraan Curah Hujan Agustus 2019
Sumber: BMKG
Gambar 1.2. Prakiraan Curah Hujan September 2019
Laporan Perekonomian Provinsi Papua Barat - Agustus 2019 28 Halaman Ini Sengaja Dikosongkan
Laporan Perekonomian Provinsi Papua Barat Agustus 2019 29
KEUANGAN PEMERINTAH
belanja APBD Provinsi Papua Barat pada Triwulan II 2019 tercatat lebih tinggi dibandingkan triwulan II tahun sebelumnya, begitu juga dengan realisasi pendapatan daerah yang optimal dan lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pendapatan daerah pemerintah provinsi telah direalisasikan 42,27% yang merupakan realisasi triwulan kedua tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Hal ini sejalan dengan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Pendapatan Transfer yang juga meningkat signifikan dari pendapatan pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Belanja daerah Provinsi Papua Barat hingga triwulan II 2019 masih belum optimal dengan realisasi sebesar 23,37%. Belanja Tidak Langsung terealisasi sebesar 26,05%
dan Belanja Langsung terealisasi sebesar 18,35% yang merupakan realisasi belanja langsung tirwulan II tertinggi dalam dua tahun terakhir.
Sementara itu, realisasi belanja Pemerintah Pusat di Provinsi Papua Barat pada triwulan II 2019 tercatat sebesar 34,26% tercatat lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
2.1. Keuangan Pemerintah Pusat di Daerah
Pagu Belanja APBN di Papua Barat pada tahun 2019 telah ditetapkan lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, yang sejalan dengan peningkatan APBN secara nasional. Pada tahun 2019, pagu APBN Provinsi Papua Barat ditargetkan sebesar Rp221 miliar untuk pendapatan negara dan sebesar Rp10.817 miliar untuk belanja negara. Namun, pada Triwulan II 2019 telah dilakukan revisi DIPA sehingga anggaran Pendapatan Negara menjadi Rp222 miliar. Untuk Belanja Pemerintah Pusat kembali dilakukan revisi DIPA menjadi sebesar Rp7.613 miliar. Berdasarkan peruntukkannya, komponen belanja pegawai dan belanja modal mengalami penyesuaian sebesar masing-masing 2,03% dan 1,35%
sedangkan belanja barang terkoreksi sebesar -0,13%.
BAB - 2
Laporan Perekonomian Provinsi Papua Barat Agustus 2019 30
Tabel 2.1. Realisasi Belanja APBN Propinsi Papua Barat (Rp Milliar)
Sumber : Kanwil DJPBN Propinsi Papua Barat (diolah)
Pemerintah Pusat telah merealisasikan Belanja APBN di Papua Barat sampai dengan triwulan II 2019 sebesar 34,26% atau senilai Rp2.584 miliar. Realisasi tersebut lebih tinggi dibandingkan realisasi belanja negara pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Secara alokasi belanja, realisasi belanja pegawai tercatat paling tinggi sebesar 50,34%
hingga triwulan II 2019 yang meningkat dibandingkan triwulan II tahun lalu. Hal yang sama diikuti oleh belanja barang sebesar 41,11% dan belanja sosial yang mencapai 27,99%
hingga triwulan II 2019. Namun untuk belanja modal mencatatkan realisasi yang lebih rendah dibandingkan triwulan II 2018 sebesar 19,92%.
2.2. Realisasi APBD Provinsi Papua Barat Triwulan II 2019
Pemerintah Provinsi Papua Barat pada triwulan II 2019 telah merealisasikan pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Realisasi pendapatan tercatat sebesar 42,27%, yang merupakan capaian tertinggi pada periode yang sama selama tiga tahun terakhir. Untuk realisasi belanja daerah tercatat sebesar 4,74% yang juga lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pos pendapatan daerah khususnya pendapatan asli daerah telah mencapai targetnya di quarter kedua tahun ini, sedangkan tingkat realisasi belanja masih belum optimal walaupun lebih baik dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya.
Tabel 2.2. Realisasi APBD Propinsi Papua Barat
Sumber : BPKAD Provinsi Papua Barat, diolah
2017 2018 2019 II - 2017 II - 2018 II-2019 II - 2017 II - 2018 II- 2019 Pagu Belanja Bantuan Sosial 20 25 13 7 6 4 26,86% 23,88% 27,99%
Pagu Belanja Barang 2.465 2.901 2.789 668 806 1.146 23,04% 27,78% 41,11%
Pagu Belanja Lain-lain 14 14 16 0 2 2 0,71% 16,80% 15,60%
Pagu Belanja Modal 2.951 2.705 3.113 846 678 620 31,28% 25,06% 19,92%
Pagu Belanja Pegawai 1.347 1.499 1.611 584 667 811 38,95% 44,52% 50,34%
Total Pagu 6.797 7.143 7.542 2.105 2.159 2.584 29,47% 30,23% 34,26%
Uraian Pagu (dlm miliar) % Realisasi s.d. Triwulan
2017 2018 2019 II - 2017 II - 2018 II-2019 II - 2017 II - 2018 II - 2019 PENDAPATAN DAERAH (Miliar Rp) 7.298 7.240 8.479 2.519 2.522 3.584 34,79% 34,83% 42,27%
Pendapatan Asli Daerah 524 438 442 139 274 323 31,70% 62,64% 73,05%
Dana Perimbangan 3.499 2.793 4.090 1.388 1.045 2.077 49,69% 37,42% 50,80%
Lain-lain Pendapatan Yang Sah 3.274 4.009 3.948 992 1.203 1.184 24,75% 30,00% 30,00%
BELANJA DAERAH (Miliar Rp) 8.000 7.978 8.629 2.058 1.640 2.017 25,80% 20,56% 23,37%
Belanja Tidak Langsung 4.002 3.442 3.873 1.564 1.077 1.009 45,45% 31,28% 26,05%
Belanja Langsung 3.160 3.573 3.527 268 288 647 7,50% 8,05% 18,35%
Belanja Pegawai 838 963 1.229 226 276 361 23,44% 28,66% 29,33%
Surplus (Defisit) (702) (738) (150) 461 882 1.568
Uraian APBD Realisasi s.d. Triwulan % Realisasi s.d. Triwulan
Laporan Perekonomian Provinsi Papua Barat Agustus 2019 31
2.2.1. Penyerapan Pendapatan Triwulan II 2019
Pada tahun 2019, pendapatan daerah Provinsi Papua Barat telah ditargetkan sebesar Rp8.479 miliar pada tahun 2019, lebih tinggi dibandingkan anggaran tahun 2018 yang tercatat sebesar Rp7.240 miliar. Dilihat dari komposisinya, pendapatan transfer masih mendominasi dengan pangsa hingga 94,8%. Komponen utama pendapatan transfer di Provinsi Papua Barat adalah Dana Perimbangan sebesar Rp4.090 miliar dan Lain-lain Pendapatan Yang Sah yang berbentuk Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus sebesar Rp3.948 miliar. Sedangkan pendapatan asli daerah yang merupakan indikator kemandirian suatu daerah masih ditargetkan sebesar Rp442 miliar atau dengan pangsa sekitar 5,2%.
Provinsi Papua Barat telah merealisasikan 42,47% anggaran pendapatannya hingga Triwulan II 2019 yang tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi tahun sebelumnya sebesar 34,83%.
Komponen Pendapatan Asli Daerah mencapai tingkat realisasi yang optimal sebesar 73,05%, di atas periode yang sama sebelumnya yang tercatat sebesar 62,64%. Sedangkan komponen Dana Perimbangan mencatat realisasi sebesar 50,80%, jauh lebih tinggi dibandingkan realisasi pada triwulan II 2018. Realisasi terendah dicatatkan oleh komponen Lain-lain Pendapatan Yang Sah sebesar 30,00% sama dengan realisasi pada triwulan yang sama tahun sebelumnya.
Realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Provinsi Papua Barat pada Triwulan II 2019 sebesar 73,05% didorong oleh realisasi Pajak Daerah dan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan yang optimal.
Pajak Daerah sebagai komponen terbesar dengan pangsa 75,2% dari total PAD telah direalisasikan sebesar Rp266miliar atau 80,16 %. Begitu juga dengan komponen Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan yang sudah terealisasi hingga 198,9%
walaupun masih memberikan kontribusi yang relatif kecil. Sedangkan komponen Retribusi Daerah dan Lain-lain PAD yang Sah terealisasi masing-masing sebesar Rp1 miliar (48,22%) dan Rp38 miliar (38,74%). Dengan tingkat realisasi PAD yang telah dicapai hingga Triwulan II tahun ini menunjukkan efektivitas keuangan daerah1 di Provinsi Papua Barat sudah optimal.
1Efektivitas Keuangan Daerah (Efektifitas PAD) merupakan rasio realisasi pendapatan asli daerah terhadap rencana pendapatan asli daerah yang dianggarkan. Indikator ini menunjukkan sejauh mana efektivitas pemerintah daerah dalam merealisasikan target pendapatan asli daerahnya.
Laporan Perekonomian Provinsi Papua Barat Agustus 2019 32
Tabel 2.3. Realisasi Pendapatan APBD Propinsi Papua Barat
Sumber : BPKAD Provinsi Papua Barat, diolah
Selanjutnya, Dana Perimbangan Provinsi Papua Barat dengan pagu sebesar Rp4.090 miliar telah terealisasi sebesar 50,80%, yang didorong oleh peningkatan tingkat realisasi dari semua komponen, baik secara persentase maupun nilai nominal. Realisasi Bagi Hasil Pajak/Bukan Pajak tercatat sebesar 50,15% yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi pada periode yang sama tahun lalu. Selain itu, transfer Dana Alokasi Umum juga telah terealisasi sesuai jadwal dengan realisasi sebesar 58,33% dan didukung oleh Dana Alokasi Khusus yang telah direalisasikan sebesar 33,06%.
Meskipun realisasi Pendapatan Asli Daerah meningkat, namun di sisi lain Pendapatan Transfer juga mengalami peningkatan realisasi yang jauh lebih besar menyebabkan derajat desentralisasi2 Provinsi Papua Barat tercatat mengalami sedikit penurunan dari 10,87% pada periode yang sama pada tahun sebelumnya menjadi 9,00% pada periode laporan (grafik 2.1). Di sisi lain, Rasio Kemandirian Keuangan Daerah3 menunjukkan hal yang berbeda. Rasio kemandirian keuangan daerah Provinsi Papua Barat pada triwulan laporan tercatat sebesar 9,89%, (grafik 2.2) lebih tinggi dibandingkan triwulan periode yang sama tahun lalu yang sebesar 7,79%. Namun, dengan nilai rasio kedua indikator otonomi fiskaltersebut masih di bawah 50% merupakan indikasi bahwa Provinsi Papua Barat masih memiliki ketergantungan keuangan yang cukup tinggi terhadap pusat.
2Derajat Desentralisasi merupakan perbandingan Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap Total Pendapatan Daerah (TPD), semakin tinggi rasio yang dimiliki maka semakin besar kemampuan daerah untuk membiayai belanja pemerintah.
3Rasio Kemandirian Keuangan Daerah merupakan rasio realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap realisasi Pendapatan Transfer pada periode yang sama. Indikator ini menunjukkan sejauh mana kemandirian pemerintah daerah dalam membiayai sendiri kegiatan belanja daerahnya.
2017 2018 2019 II - 2017 II - 2018 II-2019 II - 2017 II - 2018 II-2019 PENDAPATAN ASLI DAERAH (Miliar Rp) 524 438 442 139 274 323 26,47% 62,64% 73,05%
Pajak Daerah 263 308 332 119 101 266 45,20% 32,79% 80,16%
Retribusi Daerah 2 1 2 1 0 1 34,66% 0,97% 48,22%
Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang
Dipisahkan 34 8 9 - - 17 0,00% 0,00% 198,89%
Lain-lain Pendapatan Asli Daerah Yang Sah 226 121 99 19 173 38 8,52% 143,14% 38,74%
PENDAPATAN TRANSFER (Miliar Rp) 6.774 6.802 8.038 2.380 2.248 3.262 35,14% 33,04% 40,58%
Dana Perimbangan 3.499 2.793 4.090 1.388 1.045 2.077 39,66% 37,42% 50,80%
Bagi Hasil Pajak/bagi Hasil Bukan Pajak 1.666 904 2.090 395 202 1.048 23,69% 22,31% 50,15%
Dana Alokasi Umum 1.412 1.431 1.457 804 716 850 56,96% 50,00% 58,33%
Dana Alokasi Khusus 422 458 543 189 128 179 44,82% 27,89% 33,06%
Lain-lain Pendapatan Yang Sah 3.274 4.009 3.948 992 1.203 1.184 30,30% 30,00% 30,00%
Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus 3.266 4.009 3.948 985 1.203 1.184 30,14% 30,00% 30,00%
Pendapatan Lainnya 0 - 0,22 - 0,04 0,00% 0,00% 17,59%
Dana Insentif Daerah 8 - - 8 - - 100,00% 0,00% 0,00%
PENDAPATAN DAERAH (Miliar Rp) 7.298 7.240 8.479 2.519 2.522 3.584 34,51% 34,83% 42,27%
% Realisasi s.d. Triwulan
Uraian APBD Realisasi s.d. Triwulan
Laporan Perekonomian Provinsi Papua Barat Agustus 2019 33
Sumber : BPKAD Provinsi Papua Barat, diolah Grafik 2.1. Derajat Desentralisasi
Sumber : BPKAD Provinsi Papua Barat, diolah Grafik 2.2. Rasio Kemandirian Keuangan Daerah
2.2.2. Realisasi Belanja Triwulan II 2019
Realisasi belanja Pemerintah Provinsi Papua Barat pada triwulan II 2019 masih belum optimal. Realisasi belanja daerah tercatat sebesar 23,37% yang sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi tahun sebelumnya baik dari sisi tingkat realisasi maupun nominal realisasi (grafik 2.3). Provinsi Papua Barat pada triwulan II 2019 telah merealisasikan belanja daerah sebesar Rp2.017 miliar dengan komponen belanja terbesar adalah Belanja Tidak Langsung dengan pangsa 50,02%, berikutnya adalah komponen Belanja Langsung sebesar 32,09%, dan Belanja Pegawai sebesar 17,88% (grafik 2.4).
Sumber : BPKAD Provinsi Papua Barat, diolah Grafik 2.3. Rasio Realisasi Belanja Daerah
Sumber : BPKAD Provinsi Papua Barat, diolah Grafik 2.4. Pangsa Realisasi Belanja
Di antara ketiga komponen tersebut, Belanja Pegawai mencatat realisasi paling tinggi yaitu sebesar 29,33% yang sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan II 2018. Sedangkan Belanja Tidak Langsung mencatat realisasi sebesar 26,05% yang lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Di sisi lain, realisasi Belanja Langsung yang sebesar 18,35% tercatat jauh lebih tinggi di bandingkan dengan realisasi pada triwulan II 2018 yang hanya sebesar 8,05%.
Realisasi Belanja Tidak Langsung paling besar dialokasikan untuk Belanja Bantuan Keuangan dan Belanja Hibah masing-masing sebesar Rp594miliar dan Rp284 miliar.
0%
Laporan Perekonomian Provinsi Papua Barat Agustus 2019 34 Belanja Bantuan Sosial mencatat realisasi tertinggi pada belanja daerah secara total yaitu sebesar 55,40% walau dengan nominal yang relatif kecil yaitu hanya Rp27 miliar. Tingkat realisasi terbesar berikutnya yaitu alokasi Belanja Hibah yang mencapai 36,56% dan Belanja Bantuan Keuangan yang mencapai 29,67%.
Tabel 2.4. Realisasi Belanja APBD Propinsi Papua Barat
Sumber : BPKAD Provinsi Papua Barat, diolah
Sedangkan komponen Belanja Langsung baru direalisasikan sebesar Rp647 miliar atau 18,35%. Peningkatan realisasi kedua komponen utama yaitu Belanja Barang dan Jasa yang tercatat sebesar 25,02% dan Belanja Modal sebesar 11,25% mendorong realisasi Belanja Langsung relatif lebih optimal dibandingkan dengan triwulan II 2018. Di sisi lain, komponen Belanja Pegawai telah direalisasikan sebesar Rp361 miliar atau sebesar 29,33% relatif sama dengan pencapaian pada triwulan II 2018.
2017 2018 2019 II - 2017 II - 2018 II-2019 II - 2017 II - 2018 II-2019 BELANJA TIDAK LANGSUNG (Tidak Termasuk
Belanja Pegawai) 4.002 3.442 3.873 1.564 1.077 1.009 39,09% 31,28% 26,05%
Belanja Hibah 813 834 778 600 412 284 73,77% 49,35% 36,56%
Belanja Bunga 2 - - - - 0,00% 0,00% 0,00%
Belanja Bantuan Sosial 51 93 48 28 28 27 54,81% 29,82% 55,40%
Belanja Bagi Hasil Kepada
Provinsi/Kabupaten/Kota dan Pemerintah Desa 1.393 574 1.034 371 59 104 26,67% 10,29% 10,02%
Belanja Bantuan Keuangan Kepada
Provinsi/kabupaten/Kota dan Pemerintah Desa 1.734 1.937 2.003 566 578 594 32,61% 29,86% 29,67%
Belanja Tidak Terduga 10 4 10 - - - 0,00% 0,00% 0,00%
BELANJA LANGSUNG (Tidak Termasuk Belanja
Pegawai) 3.160 3.573 3.527 268 288 647 8,48% 8,05% 18,35%
Belanja Barang dan Jasa 2.081 1.810 1.819 250 243 455 12,01% 13,42% 25,02%
Belanja Modal 1.079 1.763 1.708 18 45 192 1,66% 2,54% 11,25%
Belanja Pegawai (Miliar Rp) 838 963 1.229 226 276 361 26,95% 28,66% 29,33%
BELANJA DAERAH (Miliar Rp) 8.000 7.978 8.629 2.058 1.640 2.017 25,73% 20,56% 23,37%
Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Anggaran
Sebelumnya (SILPA) 782 788 250 788 -PEMBIAYAAN DAERAH 80 50 100 - -Surplus (Defisit) - - - 461 1.670 1.568
% Realisasi s.d. Triwulan
Uraian APBD Realisasi s.d. Triwulan
Laporan Perekonomian Provinsi Papua Barat Agustus 2019 35 Halaman Ini Sengaja Dikosongkan
Laporan Perekonomian Provinsi Papua Barat Agustus 2019 36
PERKEMBANGAN INFLASI DAERAH
Inflasi tahunan Provinsi Papua Barat pada triwulan II 2019 menurun jika dibandingkan dengan triwulan I 2019.
Berdasarkan kelompoknya, penurunan inflasi tahunan terutama disebabkan oleh kelompok bahan makanan. Namun demikian, tingginya inflasi pada kelompok transportasi masih menjadi pendorong inflasi pada periode ini.
Pada triwulan III 2019, inflasi kelompok angkutan udara diperkirakan masih menjadi penyumbang andil inflasi yang dominan.
3.1. Inflasi Secara Umum
Inflasi Papua Barat tercatat terjaga pada triwulan II 2019. Pada periode ini inflasi tercatat sebesar 2,75% (yoy), menurun bila dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 3,48% (yoy). Secara historis, inflasi tahunan Papua Barat pada periode ini tercatat paling rendah dalam 5 tahun terakhir. Secara bulanan, tekanan inflasi menunjukkan pola yang beragam selama triwulan II 2019. Pada Bulan April tercatat deflasi -0,04% (mtm), yang seakan melanjutkan tren deflasi di bulan Februari dan Maret. Namun, pada bulan Mei terjadi inflasi yang cukup tinggi karena pengaruh momen HBKN yang tercatat sebesar 1,59% (mtm).
Selanjutnya, permintaan yang masih tinggi juga mendorong inflasi di bulan Juni sebesar 0,25%(mtm). Sementara, secara triwulanan inflasi Papua Barat pada periode laporan tercatat 1,81% (qtq), lebih tinggi bila dibanding triwulan I 2019 sebesar -0,61% (qtq) namun lebih rendah bila dibanding periode triwulan II 2018 sebesar 2,54% (qtq).
Sumber : BPS Propinsi Papua Barat (diolah)
Grafik 3.1. Inflasi Bulanan Prov. Papua Barat Sumber : BPS Propinsi Papua Barat (diolah)
Grafik 3.2. Inflasi Tahunan Prov. Papua Barat
-1.50 -1.00 -0.50 0.00 0.50 1.00 1.50 2.00 2.50
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
%, mtm
2019 Max 5 tahun Min 5 tahun
BAB - 3
Laporan Perekonomian Provinsi Papua Barat Agustus 2019 37 Inflasi di Papua Barat saat ini masih berada pada sasaran inflasi nasional 3,5%±1%. Jika dibandingkan dengan inflasi nasional maupun inflasi di Kawasan Timur Indonesia (KTI) yang mencakup Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua, Inflasi di Papua Barat terpantau lebih rendah. Inflasi nasional secara tahunan tercatat sebesar 3,28% (yoy) dan inflasi KTI secara tahunan tercatat sebesar 3,07% (yoy). Jika dibandingkan dengan provinsi lain di KTI, Provinsi Papua Barat memiliki nilai inflasi yang relatif berada di rata-rata sebaran laju inflasi di KTI. Inflasi tertinggi di KTI dicatatkan oleh Sulawesi Tengah (5,24%,yoy) dan Sulawesi Utara (5,10%,yoy). Sementara itu, Sulawesi Barat mencatat inflasi terendah sebesar 0,54% (yoy).
Sumber : BPS Propinsi Papua Barat (diolah) Grafik 3.3 Inflasi Tahunan Papua Barat, KTI dan
Nasional
Sumber : Bank Indonesia
Grafik 3.4. Perkembangan Kurs Rupiah (JISDOR) terhadap USD
Berdasarkan kelompok pengeluaran, penurunan laju inflasi tahunan triwulan II 2019 berasal dari kelompok bahan makanan. Sementara, inflasi pada kelompok transportasi,komunikasi, & jasa keuangan terutama sub kelompok transportasi tercatat tinggi. Kelompok bahan makanan mencatat deflasi yang disumbang oleh terkoreksinya komoditas daging ayam ras, ikan segar (ikan teri, ikan cakalang/sisik, ikan kawalina, ikan kembung, ikan mumar). Secara umum, harga daging ayam ras mengalami koreksi harga secara nasional seiring pasokan yang berlimpah terutama pasokan bibit ayam (Day Old Chicks/DOC). Disamping itu, pasokan ikan segar ditengarai relatif lebih baik dibanding tahun lalu sehingga harga ikan segar tidak semahal harga pada tahun lalu. Sementara itu, ditengah penurunan inflasi bahan makanan, inflasi kelompok transportasi tercatat tinggi yang didorong oleh tarif angkutan udara. Tarif angkutan udara yang mengalami peningkatan sejak November tahun 2018 hingga akhir triwulan II 2019 ini belum mengalami penurunan harga secara signifikan. Tekanan pada angkutan udara juga dipengaruhi oleh tingginya permintaan masyarakat akan transportasi udara seiring dengan peringatan Hari Raya Idul Fitri dan Libur Lebaran yang terjadi selama triwulan II 2019.
14244
14141
8500 9500 10500 11500 12500 13500 14500
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II
2014 2015 2016 2017 2018 2019
IDR
Laporan Perekonomian Provinsi Papua Barat Agustus 2019 38 Secara spasial, inflasi tahunan di Kabupaten Manokwari dan Kota Sorong tercatat menurun. Inflasi tahunan di Kabupaten Manokwari mengalami penurunan dari 7,11% (yoy) pada triwulan I 2019 menjadi 7,07% (yoy) pada periode ini. Sedangkan, Kota Sorong sebagai kota dengan bobot terbesar hingga 75%, mencatat laju inflasi yang cukup rendah yaitu sebesar 1,37% (yoy), menurun bila dibandingkan dengan triwulan I 2019 yang sebesar 2,33% (yoy).
Perkembangan harga komoditas global menunjukkan penurunan harga secara umum untuk komoditas pangan dan peningkatan signifikan untuk komoditas emas. Harga komoditas global pangan yaitu beras, kedelai, dan gandum mengalami koreksi harga bila dibandingkan harga tahun lalu. Komoditas beras mengalami koreksi sebesar -8,26% (yoy), kedelai terkoreksi sebesar -14,67% (yoy), dan gandum terkoreksi -14,40%(yoy). Penurunan ketiga harga pangan berimbas pada turunnya harga makanan yang berasal dari ketiga bahan pangan tersebut. Penurunan harga gandum akan berimbas dari menurunnya harga olahan gandum seperti roti. Sementara, harga jagung masih mencatat kenaikan masing sebesar 5,21% (yoy). Kenaikan harga jagung akan berdampak pada harga pakan ternak. Kelima komoditas tersebut untuk saat ini masih diimpor dari luar negeri sehingga dampak kenaikan secara global dapat berimbas ke pasar domestik. Sementara itu, komoditas minyak dunia berdasarkan harga minyak Minas dan WTI mencatat penurunan masingmasing sebesar -8,44% (yoy) dan -11,89% (yoy). Penurunan ini belum berdampak pada penurunan inflasi di kelompok angkutan udara. Di samping itu, komoditas minyak kelapa sawit yang menjadi salah satu pendorong utama ekspor di Kawasan Timur Indonesia masih terkoreksi dengan penurunan harga -20,68% (yoy). Harga emas mengalami peningkatan sebesar 0,19%(yoy).
Sumber : Bloomberg
Minyak Minas Minyak WTI Minyak Kelapa Sawit Emas
Laporan Perekonomian Provinsi Papua Barat Agustus 2019 39
3.2. Inflasi Berdasarkan Kelompok
Bila dibandingkan triwulan I 2019, secara umum inflasi tahunan pada triwulan II 2019 menurun di seluruh kelompok kecuali Kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas & Bahan Bakar, Kelompok Sandang, dan Kelompok Kesehatan. Berdasarkan pangsa penyumbang inflasi, kelompok bahan makanan mempunyai pangsa tertinggi sebesar 32,32%, selanjutnya diikuti oleh kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar (22,18%), kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan (15,89%), kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau (15,80%), kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga (4,95%), kelompok sandang (4,46%), dan kelompok kesehatan (4,46%). Hal ini mengindikasikan bahwa kelompok bahan makanan menjadi kelompok yang paling mempengaruhi inflasi di Papua Barat.
Pada periode ini, tekanan inflasi cukup rendah terjadi pada inflasi bahan makanan bahkan deflasi sebesar -0,23% (yoy). Deflasi ini disebabkan oleh terkoreksinya beberapa harga bahan pangan seperti daging ayam ras, ikan segar seiring bertambahnya pasokan karena peningkatan produksi yang terjadi di daerah hasil, serta didukung oleh kondisi cuaca yang cukup baik. Sementara, inflasi pada kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan tercatat menurun dari 10,83% (yoy) menjadi 6,11% (yoy). Meski menurun, namun tekanan ini masih relatif tinggi terutama dipengaruhi oleh kenaikan tarif angkutan udara.
Tarif angkutan udara mengalami peningkatan sejak akhir tahun 2018 yang hingga saat ini belum turun secara signifikan dan selanjutnya juga didorong oleh peak season yang terjadi
Tarif angkutan udara mengalami peningkatan sejak akhir tahun 2018 yang hingga saat ini belum turun secara signifikan dan selanjutnya juga didorong oleh peak season yang terjadi