BAB 4. STABILITAS KEUANGAN DAERAH, PENGEMBANGAN AKSES KEUANGAN
4.3. Asesmen Perbankan
4.3.1. Perkembangan Volume Usaha
Secara tahunan, aset perbankan di Provinsi Papua Barat pada triwulan II 2019 tumbuh meyakinkan 15,56% (yoy) dan membawa nilai aset perbankan di Provinsi Papua Barat meningkat dari Rp 16,11 triliun menjadi Rp 18,62 triliun. Peningkatan ini melanjutkan tren pertumbuhan aset pada triwulan I 2019 yang juga berhasil mencapai pertumbuhan lebih dari 10% serta membuat nilai aset perbankan mencapai nilai tertingginya selama ini.
Pertumbuhan aset perbankan didorong oleh tumbuhnya aset kelompok bank umum.
Berdasarkan laporan, kelompok bank pemerintah tumbuh 16,59% (yoy). Sementara aset kelompok bank swasta tumbuh 16,64% (yoy). Di sisi lain, aset BPR mengalami penurunan sebesar -5,88% (yoy).
Kelompok Bank Pemerintah masih memiliki andil terbesar di Papua Barat. Berdasarkan proporsinya, aset Bank Pemerintah mencakup 89,99% dari keseluruhan total aset perbankan di Papua Barat. Diikuti oleh kelompok bank swasta nasional dengan proporsi 6,27% serta BPR dengan 3,74%. Pangsa aset perbankan pada triwulan II 2019 relatif tidak mengalami perubahan signifikan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.
Sumber : Laporan Bank, diolah Sumber : Laporan Bank, diolah Grafik 4.12. Perkembangan Aset Perbankan
Provinsi Papua Barat
Grafik 4.13. Pangsa Aset Perbankan Provinsi Papua Barat
I II III IV I II III IV I II III IV I II
Aset (Rp Miliar) 13,368 14,403 14,643 14,977 14,205 15,304 15,505 16,576 15,330 16,118 16,482 17,926 17,089 18,626
(YoY) -3.27% -3.17% -8.82% 8.02% 6.26% 6.25% 5.89% 10.68% 7.92% 5.32% 6.30% 8.14% 11.48% 15.56%
(QtQ) -3.58% 7.74% 1.67% 2.28% -5.15% 7.73% 1.32% 6.91% -7.52% 5.14% 2.26% 8.76% -4.67% 8.99%
DPK (Rp Miliar) 12,243 13,143 13,198 13,019 12,788 13,918 13,649 14,309 13,104 14,096 14,219 15,386 14,724 16,373
(YoY) -4.35% -4.83% -11.96% 2.36% 4.45% 5.90% 3.41% 9.91% 2.47% 1.28% 4.18% 7.53% 12.36% 16.15%
(QtQ) -3.75% 7.35% 0.42% -1.36% -1.78% 8.84% -1.94% 4.84% -8.42% 7.57% 0.87% 8.21% -4.30% 11.20%
Kredit (Rp Miliar) 8,675 9,341 9,723 10,222 10,136 10,537 10,782 11,336 10,970 11,352 11,800 12,562 12,553 12,962
(YoY) 9.85% 11.75% 14.53% 20.82% 16.85% 12.79% 10.89% 10.90% 8.23% 7.74% 9.44% 10.82% 14.42% 14.18%
(QtQ) 2.53% 7.69% 4.09% 5.13% -0.84% 3.95% 2.33% 5.13% -3.23% 3.48% 3.95% 6.45% -0.08% 3.26%
LDR (Lokasi Bank) 70.86% 71.08% 73.67% 78.52% 79.26% 75.70% 79.00% 79.22% 83.72% 80.53% 82.99% 81.64% 85.25% 79.17%
NPL (Lokasi Bank) (Rp Miliar) 491 490 551 423 619 586 596 561 364 543 459 393 456 613
NPL Ratio (Lokasi Bank) 5.66% 5.25% 5.67% 4.13% 6.10% 5.56% 5.53% 4.95% 3.32% 4.78% 3.89% 3.13% 3.63% 4.73%
2019
Bank Pemerintah Bank Swasta BPR gTotal Aset
89.99%
Laporan Perekonomian Provinsi Papua Barat Agustus 2019 62 4.3.2. Penghimpunan Dana Masyarakat
Kinerja perbankan Provinsi Papua Barat dalam penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada triwulan II 2019 masih tumbuh cukup signifikan. DPK perbankan di Provinsi Papua Barat pada periode laporan tumbuh 16,15% (yoy) dari Rp 14,09 triliun menjadi Rp 16,37 triliun. Penguatan DPK terjadi pada ketiga jenis produk simpanan baik giro, tabungan, maupun deposito.
Tingkat pertumbuhan DPK beragam di semua produk. Produk giro yang tumbuh 3,88%
pada triwulan II 2018 berhasil mencapai pertumbuhan 23,20% pada periode triwulan II 2019. Berikutnya, produk deposito juga tercatat tumbuh cukup tinggi mencapai 21,77%
meningkat dibanding triwulan triwulan II 2018 yang tumbuh negatif -5,18%. Produk tabungan juga meningkat yang sebelumnya hanya tumbuh 2,60%(yoy) pada periode triwulan II 2018, pada periode laporan tercatat mengalami peningkatan laju pertumbuhan menjadi 7,14% (yoy).
Ditinjau dari komposisinya, DPK dari produk giro dan tabungan tabungan merupakan yang tertinggi dengan pangsa masing-masing sebesar 38,83% dan 38,77%. Pangsa produk giro pada periode ini berhasil sedikit mengalahkan pangsa produk tabungan disebabkan tingginya penempatan dana giro di bank milik pemerintah. Nilai total produk giro pada perbankan di Provinsi Papua Barat adalah senilai Rp 6,36 triliun. Sementara produk tabungan memiliki nilai total Rp 6,35 triliun. Pangsa terkecil DPK dipegang oleh produk deposito yang memiliki pangsa 22,40% senilai total Rp 3,67 triliun.
Sumber : Laporan Bank, diolah
Sumber : Laporan Bank, diolah Grafik 4.14. Perkembangan DPK Bank Umum Prov.
Papua Barat Menurut Kelompok Bank Grafik 4.15. Perkembangan DPK Bank Umum
4.3.3. Penyaluran Kredit
Sejalan dengan indikator kinerja lainnya, kondisi penyaluran kredit perbankan di Provinsi Papua Barat pada triwulan II 2019 juga meningkat dibandingkan triwulan I
Bank Pemerintah Bank Swasta BPR % Total DPK (rhs)
-50%
Laporan Perekonomian Provinsi Papua Barat Agustus 2019 63 2019. Kredit yang disalurkan oleh perbankan di Papua Barat menurut lokasi bank pada triwulan laporan mencapai Rp 12,96 triliun atau tumbuh 14,18% (yoy). Pertumbuhan ini relatif stabil dibandingkan dengan triwulan I 2019 yang tumbuh sebesar 14,42% (yoy) serta jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan triwulan II 2018 yang hanya sebesar 7,74%
(yoy).
Dilihat dari jenis penggunaannya, kredit konsumsi masih menjadi produk kredit yang paling banyak disalurkan kepada masyarakat dengan pangsa 57% senilai Rp 7,34 triliun. Produk selanjutnya yang menjadi penyumbang kredit terbesar adalah kredit modal kerja dengan pangsa 32% senilai Rp 4,16 triliun. Terakhir adalah produk kredit investasi dengan pangsa 11% senilai Rp 1,45 triliun. Pada periode laporan, ketiga jenis kredit tersebut tumbuh beragam. Kredit investasi tumbuh tertinggi dengan pertumbuhan 22,18% (yoy). Selanjutnya, kredit konsumsi mencatatkan pertumbuhan yang kurang lebih sama dengan periode sebelumnya dengan pertumbuhan sebesar 15,37. Terakhir, kredit modal kerja juga tumbuh positif dengan pertumbuhan 9,67%.
Sumber : Laporan Bank, diolah
Sumber : Laporan Bank, diolah Grafik 4.16. Pertumbuhan Kredit Perbankan Grafik 4.17. Komposisi Kredit
Sumber : Laporan Bank, diolah
Grafik 4.18. Pertumbuhan Kredit Menurut Jenis Penggunaan
-40%
% Modal Kerja % Investasi % Kredit Konsumsi 7.74%
Kredit Penggunaan (Rp miliar) Pertumbuhan Kredit (rhs)
Modal
Laporan Perekonomian Provinsi Papua Barat Agustus 2019 64 Dilihat dari sektor ekonominya, kredit terbesar masih didominasi oleh sektor rumah tangga & bukan lapangan usaha lainnya dengan pangsa pemberian kredit sebesar 60,92% meningkat dibanding periode sebelumnya yang sebesar 59,36%. Kredit terbesar kedua diberikan kepada sektor perdagangan besar dengan pangsa sebesar 22,01%.
Besarnya porsi pemberian kredit kepada sektor rumah tangga mengindikasikan sektor rumah tangga berperan sangat penting dalam pertumbuhan kredit perbankan di Papua Barat.
Dari sisi pertumbuhan, sektor rumah tangga dan bukan lapangan usaha lainnya tumbuh positif dari 11,77% di triwulan I 2019 menjadi 13,37% pada triwulan II 2019. Sementara sektor perdagangan yang pada triwulan sebelumnya tumbuh 4,05% (yoy) tumbuh sedikit melambat menjadi 0,28% pada triwulan II 2019.
Tabel 4.3. Perkembangan Kredit Perbankan Menurut Sektor Ekonomi
Sumber : Laporan Bank, diolah
Suku bunga tertimbang DPK yang diberikan perbankan Papua Barat kepada nasabahnya pada triwulan laporan tercatat sebesar 2,47%, turun dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 2,61%. Di sisi lain, rata-rata suku bunga tertimbang kredit yang dikenakan oleh perbankan Papua Barat kepada krediturnya tercatat sebesar 10,90%, sedikit dibawah rata-rata suku bunga tertimbang pada bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 10,93%. Spread suku bunga DPK dengan suku bunga kredit terlihat semakin berkurang di setiap periodenya. Hal ini mengindikasikan efisiensi biaya intermediasi semakin membaik serta menunjukkan iklim perbankan yang semakin kompetitif.
I II III IV I II III IV I II III IV I II
Pertanian 127 135 137 145 157 176 182 184 139 145 130 132 142 155 Pertambangan 58 48 47 42 41 38 35 32 30 29 28 32 31 32 Industri Pengolahan 108 115 110 101 78 106 111 98 115 102 86 109 108 122 Listrik,Gas dan Air 4 8 10 13 11 14 13 10 6 12 13 13 11 28 Bangunan 546 683 799 773 635 641 691 596 462 618 704 790 679 762 Perdagangan 2,580 2,778 2,818 2,817 2,884 2,836 2,847 2,881 2,561 2,755 2,747 2,660 2,665 2,762 Akomodasi, Pengangkutan,
Komunikasi 322 315 318 313 316 362 362 383 292 448 467 462 458 467 Keuangan, Persewaan & Jasa
Perusahaan, Pemerintahan 241 259 284 296 287 288 272 381 366 171 207 753 652 633 Jasa-jasa 360 369 372 396 365 353 335 331 333 327 294 332 357 354 RT, Bukan Lapangan Usaha
lainnya, lain-lain 4,328 4,631 4,828 5,325 5,362 5,723 5,936 6,439 6,666 6,746 7,123 7,279 7,451 7,647 Total 8,675 9,341 9,723 10,222 10,136 10,537 10,782 11,336 10,970 11,352 11,800 12,562 12,553 12,962
2016 2017
Sektor (Rp. Miliar) 2018 2019
Laporan Perekonomian Provinsi Papua Barat Agustus 2019 65
Sumber : Laporan Bank, diolah
Grafik 4.19. Perkembangan Suku Bunga Bank Umum
4.3.4. Risiko Likuiditas dan Risiko Kredit
Pada triwulan II 2019, risiko likuiditas di Papua Barat masih cukup terjaga. Loan-to-Deposit Ratio (LDR) yang merupakan perbandingan antara DPK dan penyaluran kredit oleh perbankan menunjukkan nilai persentase sebesar 79,17%. Nilai LDR pada periode ini turun dibanding triwulan sebelumnya yang memiliki nilai LDR sebesar 81,64%. Penurunan LDR sebenarnya dapat dilihat sebagai penurunan risiko likuiditas yang mungkin dihadapi oleh perbankan. Namun demikian, hal ini justru tidak begitu baik mengingat tujuan bank sebagai lembaga intermediasi antara pihak yang kelebihan dana dan pihak yang membutuhkan dana menjadi tidak berjalan secara maksimal. Banyak dana masyarakat yang seharusnya bisa disalurkan kepada pihak yang membutuhkan namun tidak tersalur dan menjadi idle bagi perbankan.
Sumber: Laporan Bank, diolah
Grafik 4.20. Perkembangan LDR dan NPL Bank Umum
Pada triwulan laporan, Rasio Non Performing Loans (NPL) perbankan di Papua Barat tercatat meningkat dari 3,63% menjadi 4,73%. Peningkatan nilai NPL terjadi pada semua jenis penggunaan kredit. Rasio NPL kredit modal kerja naik dari 4,15% pada triwulan I 2019 menjadi 6,49% pada triwulan laporan. Kredit investasi juga mengalami peningkatan rasio
2.61 2.47 10.93 10.9
2.00 4.00 6.00 8.00 10.00 12.00 14.00
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II
2015 2016 2017 2018 2019
Suku Bunga Tertimbang (DPK) Suku Bunga Tertimbang (Kredit)
3.63% 4.73%
85.25%
79.17%
0%
10%
20%
30%
40%
50%
60%
70%
80%
90%
I II III IV I II III IV I II III IV I II
2016 2017 2018 2019
NPL Ratio Loan to Deposit Ratio
Laporan Perekonomian Provinsi Papua Barat Agustus 2019 66 NPL dari 2,01% menjadi 2,03%. Sementara, rasio NPL kredit konsumsi juga naik dari 3,67%
pada triwulan sebelumnya menjadi 4,26% pada triwulan laporan.
Ditinjau lebih lanjut, dari sisi sektor ekonominya, peningkatan rasio NPL Papua Barat terutama terjadi pada 2 (dua) sektor, yakni sektor konstruksi dan sektor lain-lain. Sektor konstruksi mengalami peningkatan rasio NPL terbesar dengan nilai 6,21, meningkat jauh dibanding rasio NPL pada periode sebelumnya yang sebesar 2,76%. Sementara sektor lain-lain turut menyumbang peningkatan NPL dengan persentase NPL sebesar 5,79%. Nilai NPL sektor lain-lain meningkat dari sebelumnya 4,37%. Di sisi lain penurunan NPL juga terjadi pada beberapa sektor. Sektor pertanian, pertambangan dan sektor pengolahan yang merupakan penggerak perekonomian di Papua Barat mengalami penurunan NPL. NPL sektor pertanian turun dari 4,27% menjadi 3,90% pada periode laporan. Sementara sektor pertambangan juga mengalami penurunan NPL, dari 3,88% menjadi 2,81% pada periode laporan. Secara umum, walau terdapat peningkatan risiko NPL, namun rasio NPL di Papua Barat masih berada dalam level aman. Perlu dicatat bahwa rasio NPL yang tinggi menyebabkan perbankan rentan terhadap risiko kredit atau risiko gagal bayar.
Tabel 4.4. Perkembangan NPL Bank Umum Papua Barat
Sumber : Laporan Bank, diolah
4.4. Pengembangan Akses Keuangan dan UMKM
4.4.1. Akses Keuangan Kepada UMKM
Penyaluran kredit kepada UMKM di Provinsi Papua Barat pada periode laporan turun -2,39% (yoy) dibanding triwulan II 2018. Pada periode ini, tercatat pemberian kredit UMKM senilai Rp 3,93 triliun. Penurunan nilai kredit pada UMKM turut berdampak pada pangsa kredit UMKM yang juga mengalami penurunan dari 20,84% pada triwulan I 2019 menjadi 20,79% di bulan laporan.
I II III IV I II III IV I II III IV I II
Nominal NPL 491 490 551 423 619 586 596 561 379 543 459 393 456 613
NPL % 5.66% 5.25% 5.67% 4.13% 6.10% 5.56% 5.53% 4.95% 3.46% 4.78% 3.89% 3.13% 3.63% 4.73%
NPL per jenis penggunaan
Modal Kerja 11.00% 10.19% 6.83% 4.35% 8.23% 7.54% 7.54% 6.88% 5.79% 6.64% 4.22% 3.11% 4.15% 6.49%
Investasi 2.03% 1.84% 16.63% 14.77% 17.40% 15.35% 15.51% 14.32% 2.54% 2.98% 2.09% 1.80% 2.01% 2.03%
Konsumsi 1.75% 1.55% 1.53% 1.05% 1.51% 1.72% 1.80% 1.54% 2.24% 4.01% 4.04% 3.38% 3.67% 4.26%
NPL per sektor ekonomi
Pertanian 42.65% 39.99% 40.78% 37.99% 35.70% 31.13% 30.17% 30.00% 4.41% 3.18% 8.33% 3.19% 4.27% 3.90%
Pertambangan 2.02% 2.17% 2.98% 3.03% 8.10% 7.63% 7.86% 7.48% 8.19% 8.34% 7.95% 6.75% 3.88% 2.81%
Industri pengolahan 7.97% 5.76% 6.76% 2.24% 5.11% 3.40% 3.44% 2.97% 2.54% 4.50% 4.70% 3.15% 3.53% 3.38%
Listrik,Gas dan Air 0.00% 0.00% 0.00% 0.00% 0.19% 0.28% 0.68% 0.39% 2.11% 2.28% 0.36% 0.11% 0.13% 0.00%
Konstruksi 2.48% 2.15% 5.81% 1.80% 5.89% 4.71% 3.75% 3.44% 4.51% 4.84% 3.31% 2.30% 2.76% 6.21%
Perdagangan 7.95% 7.50% 7.92% 6.25% 8.83% 7.61% 7.83% 7.24% 4.25% 4.38% 2.65% 2.24% 2.31% 2.71%
Pengangkutan 32.14% 32.87% 35.76% 30.45% 31.73% 27.55% 27.90% 25.96% 2.76% 2.83% 2.45% 1.98% 3.19% 2.33%
Jasa Dunia Usaha 2.06% 2.35% 2.40% 2.11% 4.56% 3.27% 2.11% 1.54% 2.80% 6.80% 5.32% 0.80% 0.96% 1.33%
Jasa Sosial Masyarakat 6.62% 6.03% 6.09% 4.39% 17.58% 17.39% 18.56% 17.58% 18.01% 19.24% 4.74% 4.89% 5.13% 4.90%
Lain-lain 1.76% 1.58% 1.53% 1.04% 1.60% 1.88% 1.97% 1.67% 2.17% 4.35% 4.34% 3.76% 4.37% 5.79%
2019 2018
Perkembangan 2016 2017
Laporan Perekonomian Provinsi Papua Barat Agustus 2019 67 Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia No 17/12/PBI/2015, pangsa pemberian kredit pada UMKM di tahun 2018 minimal sebesar 20%. Dengan realisasi sebesar 20,92%, hal tersebut masih memenuhi ketentuan dari Bank Indonesia. Namun, pangsa tersebut perlu ditingkatkan sebagai salah satu bentuk dukungan terhadap UMKM sehingga dapat lebih berkontribusi terdapat perekonomian riil di Papua Barat.
Sumber : Laporan Bank, diolah
Sumber : Laporan Bank, diolah Grafik 4.21. Pertumbuhan Kredit MKM Grafik 4.22. Komposisi Kredit MM
Berdasarkan skala usahanya, penyaluran kredit UMKM sebagian besar disalurkan kepada usaha kecil yakni sebesar 40%. Pangsa usaha kecil kemudian diikuti kredit usaha menengah 33% dan kredit usaha mikro dengan pangsa 27%. Struktur pangsa kredit UMKM relatif stabil dibandingkan triwulan sebelumnya.
Dilihat dari jenis penggunaannya, kredit UMKM terutama disalurkan dalam bentuk kredit modal kerja dengan pangsa sebesar 71,43%, sedangkan untuk kredit investasi sebesar 28,57%.
Tabel 4.5. Perkembangan Kredit UMKM Menurut Skala Ekonomi
Sumber : Laporan Bank, diolah
Kredit MKM (Rp miliar) Pertumbuhan Kredit MKM
Note : Berdasarkan Lokasi Proyek
I II III IV I II III IV I II III IV I II
Kredit MKM (Rp miliar) 3,668 3,837 3,853 4,527 4,231 4,221 4,340 4,303 3,902 4,034 4,032 3,931 3,836 3,938 Pertumbuhan Kredit MKM -4.46% -7.10% 15.03% 10.91% 15.36% 10.01% 12.65% -4.94% -7.79% -4.44% -7.10% -8.65% -1.69% -2.39%
Modal Kerja 2,596 2,733 2,675 3,051 2,828 2,896 3,021 2,954 2,719 2,852 2,809 2,809 2,703 2,813
NPL MKM Ratio 4.62% 4.50% 4.71% 8.21% 12.73% 11.49% 11.25% 10.68% 5.83% 6.32% 3.80% 2.87% 3.00% 3.21%
2019
Laporan Perekonomian Provinsi Papua Barat Agustus 2019 68 Kualitas kredit UMKM sedikit mengalami penurunan pada periode laporan, ditunjukkan dengan meningkatnya NPL pada triwulan II 2019. Rasio NPL UMKM pada periode laporan tercatat sebesar 3,21% meningkat dari 3,00% pada triwulan sebelumnya.
Laporan Perekonomian Provinsi Papua Barat Agustus 2019 69 Halaman Ini Sengaja Dikosongkan
Lapran Perekonomian Provinsi Papua Barat Agustus 2019 69
PENYELENGGARAAN SISTEM
PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG RUPIAH
Sistem pembayaran yang andal mampu mendukung kegiatan perekonomian di Provinsi Papua Barat
Transaksi nilai besar melalui RTGS tercatat turun -51,09% (qtq) dari Rp 455 miliar pada periode sebelumnya menjadi Rp 195 miliar pada periode laporan. Tren serupa juga terjadi pada transaksi melalui SKNBI yang tercatat turun -4,30% (qtq) menjadi Rp 1,15 triliun.
Tingginya konsumsi menjelang Hari Raya Idul Fitri yang jatuh pada bulan Juni 2019 serta ditunjang adanya insentif tambahan hari raya mendorong permintaan uang keluar (outflow) pada periode ini jauh lebih tinggi dibandingkan inflow. Hal ini menyebabkan Provinsi Papua Barat mengalami net outflow sebesar Rp 255,03 miliar.
5.1. Perkembangan Sistem Pembayaran
5.1.1. Transaksi Real Time Gross Settlement (BI-RTGS)
Nilai transaksi RTGS di Provinsi Papua Barat pada triwulan II 2019 tercatat turun -51,09% (yoy) dibandingkan triwulan II 2018. Penurunan nilai transaksi RTGS terjadi seiring dengan penurunan volume sebesar -65,29% (yoy). Bila dibandingkan dengan triwulan I 2019, nilai transaksi RTGS juga tercatat turun -57,18% (qtq). Penurunan ini sejalan dengan volume transaksi yang terkontraksi sebesar -71,56% (qtq).
Pada triwulan II 2019, nilai transaksi masyarakat melalui BI-RTGS tercatat hanya sebesar Rp195 miliar dari 151 transaksi. Nilai ini lebih rendah dibandingkan transaksi pada triwulan I 2019 yang tercatat senilai Rp 455 miliar dari 531 transaksi. Kondisi yang sama juga terlihat jika dibandingkan secara tahunan dengan triwulan II 2018. Transaksi RTGS pada triwulan tersebut juga jauh lebih tinggi yakni senilai Rp 399 miliar dari 435 transaksi.
BAB - 5
Lapran Perekonomian Provinsi Papua Barat Agustus 2019 70
Tabel 5.1. Perkembangan Transaksi RTGS di Propinsi Papua Barat
5.1.2. Transaksi Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI)
Searah dengan penurunan transaksi melalui RTGS, nilai transaksi melalui SKNBI pada triwulan II 2019 juga tercatat mengalami penurunan. Nilai transaksi melalui SKNBI pada periode ini turun -4,30% (qtq) yang diiringi dengan penurunan volume sebesar -4,45% (qtq).
Pada periode laporan, sebanyak 22.664 lembar warkat diproses melalui SKNBI. Jumlah ini turun dibanding periode sebelumnya yang mencapai 22.673 lembar warkat. Dari sisi nilai, total nilai transaksi melalui SKNBI pada periode laporan juga tercatat turun dari Rp 1,20 triliun menjadi Rp 1,15 triliun dibulan laporan. Walaupun turun jauh dibandingkan triwulan I 2019, namun dibandingakan dengan triwulan II 2018 nilai transaksi melalui BI RTGS tercatat masih relatif stabil, meningkat 1,28% (yoy) dari sisi nilai walaupun terkontraksi -0,72%dari sisi volume.
Dari sisi tolakan cek/bilyet giro, dibandingkan periode sebelumnya, jumlah tolakan cek/bilyet giro kosong pada periode laporan tercatat masih relatif stabil di level 1,18%.
Tabel 5.2. Perputaran Kliring dan CEK/BG Kosong
5.2. Pengelolaan Uang Rupiah
5.2.1. Aliran Uang Kartal Masuk/Keluar (Inflow/Outflow)
Provinsi Papua Barat pada periode ini mengalami net outflow sebesar Rp 255,03 miliar.
Hal ini sejalan dengan pola historis aliran uang di Provinsi Papua Barat yang selalu mengalami outflow pada triwulan II setiap tahunnya. Bila dibandingkan dengan triwulan II 2018, net outflow pada periode ini turun -43,40%. Meningkatnya inflow sebesar 20,27% dan
Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II
Nilai RTGS (Miliar Rp) 453 308 535 768 537 444 486 740 549 399 405 496 455 195
Volume RTGS 232 182 458 593 503 487 485 548 534 435 521 645 531 151 2018
2016 2017 2019
I II III IV I II III IV I II
Perputaran Kliring
- Transaksi 22,095 19,513 21,058 23,440 20,304 21,821 24,711 24,135 22,673 21,664 - Nominal (juta rupiah) 1,125,855 1,001,749 1,038,614 1,265,290 1,061,469 1,140,523 1,287,503 1,353,701 1,206,990 1,155,095 Rata-rata Perputaran Kliring Per Hari
- Transaksi 356 361 340 378 327 420 399 389 378 387 - Nominal (juta rupiah) 18,159 18,551 16,752 20,408 17,120 21,933 20,766 21,834 20,117 20,627 Persentase Rata-rata Penolakan
Cek & Bilyet Giro Kosong
- Lembar (%) 0.70% 0.53% 0.76% 0.57% 0.44% 0.63% 0.63% 1.02% 1.02% 1.18%
- Nominal (%) 2.32% 0.74% 1.12% 0.78% 0.63% 0.72% 0.98% 1.28% 1.09% 1.23%
2017 2018 2019
Uraian
Lapran Perekonomian Provinsi Papua Barat Agustus 2019 71 berkurangnya outflow sebesar -21,81% membuat netoutflow aliran uang pada periode ini tidak sebesar triwulan II 2018.
Aliran uang masuk pada triwulan II 2019 mencapai Rp 277,95 miliar. Jumlah ini meningkat 20,27% (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Di sisi lain nilai outflow pada periode laporan turun -21,81% dari Rp 681,68 miliar menjadi Rp532,98 miliar.
Peningkatan inflow dan turunnya outflow membuat netoutflow aliran uang pada periode ini turun -43,40% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Selanjutnya dibanding periode triwulan I 2019, inflow pada triwulan laporan turun -58,96%
dan inflow meningkat 165,02%. Hal ini yang menyebabkan net aliran uang pada periode laporan berubah arah, dari net inflow Rp 476,18 miliar pada periode sebelumnya menjadi netoutflow Rp 255,03 miliar.
Net outflow terbesar pada triwulan II 2019 terjadi pada bulan Mei 2019. Hal ini wajar mengingat adanya tambahan insentif serta meningkatnya konsumsi masyarakat mempersiapkan datangnya Hari Raya Idul Fitri yang jatuh pada awal bulan Juni. Namun demikian aliran uang pada bulan Juni justru menunjukkan arah sebaliknya. Uang yang telah dikeluarkan untuk konsumsi pada bulan Mei mulai masuk kembali terkonfirmasi dari net inflow sebesar Rp 87,36 miliar.
Grafik 5.1. Perbandingan Inflow dan Outflow Uang Kartal
Dari sisi denominasi uang masuk dan keluar, terlihat bahwa preferensi penggunaan uang pecahan besar Rp 100.000,- dan Rp 50.000,- masih tinggi di Provinsi Papua Barat. Tercatat 74% inflow dan 61% outflow merupakan uang pecahan besar Rp 100.000,- dan Rp 50.000,-.
-2,000 -1,500 -1,000 -500 0 500 1,000
Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II
2015 2016 2017 2018 2019
Inflow Outflow Netflow
NET OUTFLOW Rp 255,03 miliar
Lapran Perekonomian Provinsi Papua Barat Agustus 2019 72
Grafik 5.2. Komposisi denominasi Inflow / Outflow Uang Kartal
5.3.
Penyediaan Uang Layak Edar (ULE)Dalam rangka melaksanakan clean money policy, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua Barat secara rutin melakukan kegiatan penarikan uang lusuh dan uang Tidak Layak Edar (UTLE) melalui kegiatan Kas Keliling baik dalam kota maupun luar kota. Hal tersebut dilakukan untuk menjamin ketersediaan dan kualitas uang layak edar di masyarakat.
Kas keliling dalam kota dilaksanakan 2 (dua) kali seminggu setiap hari Selasa dan Kamis di Pasar Sanggeng/Pasar Wosi dan di Depan Hadi Swalayan. Pada triwulan II 2019, kegiatan kas keliling telah berhasil menyerap uang UTLE senilai Rp 9,7miliar.
Untuk memastikan bahwa uang yang dipegang masyarakat tetap dalam kondisi layak edar, Bank Indonesia juga terus melakukan berbagai upaya, diantaranya: mencabut uang yang sudah habis masa edar, memusnahkan uang tidak layak edar (UTLE), dan mengedarkan uang layak edar (ULE) kepada masyarakat. Selain itu, untuk memenuhi kebutuhan uang kartal bagi perbankan di daerah yang relatif jauh dari Kantor Bank Indonesia Provinsi Papua Barat, saat ini telah beroperasi 4 (empat) lokasi Layanan Kas Titipan Bank Indonesia, di wilayah kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua Barat. Keempat lokasi tersebut yaitu di Kota Sorong, Kabupaten Fakfak, Kabupaten Teluk Bintuni, serta Layanan Kas Titipan di Kabupaten Sorong Selatan. Khusus untuk kas titipan Sorong dan Fak-fak, sampai saat ini pengelolaannya masih dilakukan oleh KPwBI Papua dan KPwBI Ambon, walaupun secara wilayah berada di bawah wewenang KPwBI Papua Barat. Hal ini dikarenakan kas Titipan tersebut sudah beroperasi sebelum KPwBI Papua Barat berdiri.
38%
Lapran Perekonomian Provinsi Papua Barat Agustus 2019 73 Boks - Quick Response Indonesian Standard (QRIS)
Tanggal 17 Agustus merupakan tanggal yang sangat bersejarah bagi Bangsa Indonesia.
Setiap tahunnya, tanggal 17 Agustus diperingati sebagai hari kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), hari ketika Bapak Pendiri Bangsa, Ir Soekarno dan Drs.
Mohammad Hatta, memproklamirkan kemerdekaan republik Indonesia di tahun 1945.
Namun ada yang menarik pada perayaan HUT Ke-74 Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 2019 yang lalu. Pada hari tersebut Gubernur Bank Indonesia, Bapak Perry Warjiyo, menandai tonggak sejarah dalam bidang sistem pembayaran Indonesia, dengan secara resmi meluncurkan Quick Response Indonesian Standard (QRIS) sebagai standar QR Code untuk pembayaran di Indonesia.
QRIS dan Manfaatnya bagi Sistem Pembayaran
Beberapa tahun terakhir, alat pembayaran non tunai semakin jamak digunakan oleh masyarakat. Dimulai dengan penggunaan kartu debit dan kartu kredit, pembayaran non tunai menggunakan uang elektronik belakangan semakin sering digunakan terutama untuk pembayaran produk-produk retail yang memiliki nominal transaksi relatif kecil dengan frekuensi transaksi yang tinggi.
Salah satu hal yang membuat perkembangan uang elektronik semakin pesat adalah dengan munculnya QR (Quick Response) Code sebagai media transaksi. Kode QR merupakan evolusi kode batang yang biasa digunakan untuk menyimpan data dan informasi. Penggunaan kode QR sendiri sudah sangat banyak digunakan dikarenakan kemampuannya yang mampu menyimpan data lebih besar dibanding kode batang. Kode QR juga mampu menyimpan semua jenis data, seperti data numerik, data alphabetis, simbol, dan kode biner dengan sangat baik. Selain itu kode QR juga relatif lebih adaptif, mampu dibaca dari berbagai sudut dan bahkan mampu membaca kode yang rusak hingga tingkat tertentu.
Dalam perkembangannya, penggunaan kode QR yang belum terintegrasi antar penyedia jasa sistem pembayaran membuat kode QR menjadi kurang efisien. Masing-masing penyedia jasa sistem pembayaran menerbitkan kode QR-nya sendiri, sehingga semakin banyak aplikasi yang digunakan oleh pengguna maka semakin banyak pula kode QR yang dimiliki.
Melihat hal tersebut, Bank Indonesia sebagai regulator di bidang sistem pembayaran berinisiatif untuk menginisiasi sebuah standar tunggal kode QR yang dapat digunakan dalam setiap transaksi berbasis kode QR. Pada tanggal 17 Agustus 2019, Bank Indonesia secara resmi memperkenalkan Quick Response Indonesian Standard (QRIS) sebagai standar QR yang digunakan secara universal oleh semua penerbit uang elektronik berbasis server, dompet elektronik, serta mobile banking di Indonesia.
Dalam sambutannya pada acara peluncuran QRIS di Kantor Pusat Bank Indonesia, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menyampaikan bahwa QRIS mengusung semangat UNGGUL yang merupakan singkatan dari UNiversal, GampanG, Untung dan Langsung. Semangat ini sejalan dengan tema HUT ke 74 Kemerdekaan RI yaitu SDM Unggul Indonesia Maju.
Lapran Perekonomian Provinsi Papua Barat Agustus 2019 74 Universal berarti penggunaan QRIS bersifat
inklusif untuk seluruh lapisan masyarakat dan dapat digunakan untuk transaksi pembayaran di domestik dan luar negeri.
GampanG berarti masyarakat dapat bertransaksi dengan mudah dan aman dalam satu genggaman ponsel atau perangkat elektronik lainnya.
Untung berarti transaksi dengan QRIS menguntungkan pembeli dan penjual karena transaksi berlangsung efisien melalui satu kode QR yang dapat digunakan untuk semua aplikasi pembayaran pada ponsel.
Langsung berarti transaksi dengan QRIS langsung terjadi, karena prosesnya cepat dan seketika sehingga mendukung kelancaran sistem pembayaran.
QRIS merupakan produk yang dikeluarkan oleh BI bekerjasama dengan Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI). Peluncuran QRIS merupakan salah satu implementasi dari Visi
QRIS merupakan produk yang dikeluarkan oleh BI bekerjasama dengan Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI). Peluncuran QRIS merupakan salah satu implementasi dari Visi