KESEHATAN DAN GIZI
5.2. Lapangan Usaha dan Status Pekerjaan
Tabel 5.3 menunjukkan sebaran penduduk yang bekerja menurut sektor/lapangan usaha, yaitu sektor pertanian, industri pengolahan, perdagangan, hotel dan restoran, jasa‐jasa dan sektor/lapangan usaha lainnya. Dalam sudut pandang perekonomian, untuk mengetahui sektor apa yang paling dominan di suatu wilayah biasanya dilihat dari peranan sektor tersebut dalam penyerapan tenaga kerja dan pembentukan nilai tambah (PDRB). Namun tidak selamanya sektor yang dominan menyerap tenaga kerja menjadi sektor yang paling banyak menciptakan nilai tambah. Perbedaan produktifitas tenaga kerja antar sektor dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi penyebab terjadinya hal tersebut.
Tabel 5.3
Komposisi Penduduk Yang Bekerja Menurut LapanganUsaha dan Distribusi PDRB ADH Berlaku, Tahun 2010
Lapangan Usaha
Penyerapan Tenaga
Kerja (%) Distribusi PDRB ADHB Tahun 2010 (%) 2009 2010 (1) (2) (3) (4) 1. Pertanian 46,72 43,94 30,81 2. Industri Pengolahan 7,03 7,65 10,96 3. Perdagangan, HR 25,16 23,25 23,77 4. Jasa‐jasa 9,57 13,01 14,80 5. Lainnya*) 11,52 12,15 19,66 T o t a l 100,00 100,00 100,00
Sumber : Sakernas Tahun 2009‐2010 dan PDRB Kabupaten Pandeglang 2010 *) Lainnya: sektor pertambangan dan penggalian; listrik, gas, air; konstruksi;
angkutan/transportasi; keuangan dan jasa perusahaan
Pada Tahun 2010, sektor ekonomi yang paling banyak menyerap tenaga kerja adalah sektor pertanian, yaitu sebesar 43,94 persen, kemudian diikuti oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 23,25 persen. Sementara kontribusi sektor industri pengolahan dalam hal penyerapan tenaga kerja hanya sebesar 7,65 persen. Jika diperhatikan, maka selama periode 2009‐2010 terjadi transformasi atau pergeseran tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor jasa‐jasa dan industri pengolahan.
Tabel 5.3 menunjukkan bahwa aktifitas perekonomian di Kabupaten Pandeglang masih didominasi oleh sektor pertanian dan sektor perdagangan, hotel dan restoran. Keadaan ini sesuai dengan
kondisi geografis Kabupaten Pandeglang yang memiliki banyak lahan pertanian dan kawasan dengan potensi wisata yang indah dan cukup terkenal seperti Pantai Carita, Tanjung Lesung, Pulau Umang dan lain sebagainya.
Peningkatan penyerapan tenaga kerja pada sektor jasa‐jasa dan perdagangan, hotel dan restoran pada tahun 2010 tidak terlepas dari turunnya aktifitas ekonomi di sektor lainnya akibat perlambatan ekonomi regional. Salah satu dampak yang ditimbulkan dari hal tersebut adalah banyaknya tenaga kerja yang beralih ke sektor perdagangan, hotel dan restoran yang nota bene merupakan sektor informal dan tidak terlalu membutuhkan tenaga kerja dengan skill/keahlian khusus. Sedangkan peningkatan daya serap tenaga kerja pada sektor jasa selain juga tidak membutuhkan keahlian khusus, juga disebabkan oleh banyaknya penerimaan tenaga pengajar/guru oleh pemerintah daerah.
Bila dilihat berdasarkan jenis kelamin, maka struktur penduduk bekerja menurut sektor/lapangan usaha menunjukkan komposisi yang hampir sama antara pekerja laki‐laki dan perempuan. Berdasarkan Tabel 5.4 terlihat bahwa sekitar 47,79 persen pekerja laki‐laki bekerja di sektor pertanian. Hal yang sama terjadi pada pekerja perempuan, dimana 36,36 persen diantaranya bekerja pada sektor pertanian. Sektor berikutnya yang menarik bagi pekerja laki‐laki dan perempuan adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran dengan persentase masing‐masing sebesar 16,76 persen dan 36,01 persen.
Tabel 5.4
Komposisi Penduduk Yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha dan Jenis Kelamin Tahun di Kabupaten Pandeglang Tahun 2010
Sektor/Lapangan Usaha Persentase
Laki‐laki Perempuan
(1) (2) (3) 1. Pertanian 47,79 36,36 2. Industri Pengolahan 6,39 10,12 3. Perdagangan, HR 16,76 36,01 4. Jasa – jasa 11,44 16,11 5. Lainnya*) 17,62 1,4 T o t a l 100,00 100,00 Jumlah 314.511 159.890
Sumber : Sakernas Tahun 2010
*) Lainnya: sektor Pertambangan dan Penggalian, sektor LGA, sektor Konstruksi,
sektor Angkutan/Transportasi serta sektor keuangan dan jasa perusahaan
Sementara itu, sumbangan terbesar dalam pembentukan PDRB Kabupaten Pandeglang adhb tahun 2010 diberikan oleh sektor yang sama dalam hal penyerapan tenaga kerja terbesar, yaitu sektor pertanian dan sektor perdagangan, hotel dan restoran, yaitu dengan kontribusi masing‐masing sebesar 30,81 persen dan 23,77 persen.
Jika diperhatikan lebih lanjut, maka sektor pertanian dengan penyerapan tenaga kerja sebesar 46,72 persen ternyata hanya mampu memberikan kontribusi terhadap pembentukan PDRB adhb sebesar 30,81 persen. Sedangkan sektor lain seperti industri pengolahan yang hanya mampu menyerap tenaga kerja sekitar 7,03 persen, ternyata
kontribusinya terhadap PDRB mencapai 10,96 persen. Berdasarkan hal tersebut maka dapat disimpulkan bahwa produktifitas pekerja pada sektor pertanian jauh lebih rendah dibandingkan sektor industri. Hal ini kiranya perlu menjadi perhatian mengingat produktifitas yang rendah akan berdampak pada kecilnya pendapatan. Dan kecilnya pendapatan akan berdampak pada kemiskinan.
Tabel 5.5
Komposisi Penduduk yang Bekerja Menurut Status Pekerjaan di Kabupaten Pandeglang, Tahun 2008‐2010 (persen)
Status Pekerjaan 2008 2009 2010
(1) (2) (3) (4)
I. Pengusaha 49,43 44,01 45,89
a. Berusaha Sendiri 21,18 23,67 22,17
b. Berusaha dibantu pekerja tak dibayar/tidak tetap 25,82 20,34 21,79
c. Berusaha dibantu buruh tetap 2,43 2,32 1,93
II. Buruh/Karyawan 12,07 14,02 13,43
III. Pekerja Bebas 22,90 25,66 26,46
IV. Pekerja Keluarga/Tak Dibayar 15,60 14,00 14,22
Jumlah 100,00 100,00 100,00
Sumber : Sakernas, Tahun 2008‐2010
Jika dilihat menurut status pekerjaan maka dapat dilihat bahwa sektor informal memiliki peranan yang signifikan dalam hal penyerapan tenaga kerja di Kabupaten Pandeglang. Pada tabel 5.5 terlihat bahwa proporsi pekerja yang bekerja sebagai buruh/karyawan (kategori status
formal) tercatat hanya sebesar 13,43 persen, angka ini mengalami penurunan dibanding tahun 2009 yang mencapai 14,02 persen.
Selanjutnya, mayoritas pekerja di Kabupaten Pandeglang pada tahun 2010 merupakan para pekerja bebas (26,46 persen), kemudian penduduk yang berusaha sendiri (22,17 persen) dan penduduk yang berusaha dengan dibantu pekerja tidak dibayar/tidak tetap (21,79 persen).
Terbatasnya lapangan pekerjaan pada sektor formal seperti buruh/karyawan pabrik dan pegawai negeri menyebabkan sektor informal berkembang dengan sendirinya. Meningkatnya pekerja sektor informal juga dapat mengindikasikan masih besarnya peluang usaha yang bisa dijalankan di Kabupaten Pandeglang, sehingga masyarakat berani untuk mencoba usaha sendiri maupun berusaha dibantu buruh/karyawan tetap maupun tidak tetap dari pada mencari pekerjaan pada orang lain. Hal ini mungkin yang menyebabkan persentase penduduk dengan status pengusaha cukup tinggi di Pandeglang.
Tabel 5.6
Komposisi Penduduk yang Bekerja Menurut Status Pekerjaan dan Jenis Kelamin di Kabupaten Pandeglang, Tahun 2010 (persen)
Status Pekerjaan Laki‐laki Perempuan
(1) (2) (3)
I. Pengusaha
a. Berusaha Sendiri 21,12 24,24
b. Berusaha dibantu pekerja tak dibayar/tidak tetap 27,40 10,76
c. Berusaha dibantu buruh tetap 2,21 1,37
II. Buruh/Karyawan 13,39 13,50
III. Pekerja Bebas 30,83 17,88
IV. Pekerja Keluarga/Tak Dibayar 5,05 32,36
Jumlah 100,00 100,00
Sumber : Sakernas Tahun 2010
Jika dibedakan menurut jenis kelamin, maka terdapat perbedaan yang cukup signifikan dalam status pekerjaan antara pekerja laki‐laki dan perempuan. Pada tahun 2010 pekerja laki‐laki yang berstatus sebagai pengusaha sebesar 50,73 persen, sedangkan pekerja perempuan sebesar 36,37 persen. Pada pekerja laki‐laki, sebagian besar dari pekerja yang berstatus pengusaha tersebut adalah mereka yang bekerja dibantu oleh pekerja tidak dibayar/tidak tetap. Sedangkan pada pekerja perempuan sebagian besar berstatus berusaha sendiri. Dari Tabel 5.6 dapat terlihat bahwa sebagian besar status pekerja perempuan adalah pekerja keluarga/tidak dibayar (32,36 persen).