• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lapisan Antikarat Pada Baja G550

BAB II LANDASAN TEORI

2.6 Baja Ringan G550

2.6.1 Lapisan Antikarat Pada Baja G550

Jenis coating atau lapisan anti karat pada baja ringan memiliki berbagai macam jenis lapisan anti karat dengan kadar anti karat yang berbeda – beda tergantung dari kualitas produk baja yang dipilih. Setiap lapisan memiliki kualitas

yang berbeda – beda serta tebal tipis lapisan pada baja ringan tersebut. Berikut adalah jenis coating atau lapisan antikarat pada baja ringan:

1. Galvalume/Zincalume

Galvalum atau juga disebut Zincalume merupakan baja lapis zinc (galvanis atau seng) dan alumunium dengan komposisi 55% zinc, 43.5%

galvanis dan silicon 1.5%. Baja lapis zincallume memiliki lapisan resin yang jernih yang membuat permukaannya mudah untuk di cat mencegah goresan dan bercak tangan. Dengan lapisan resin ini dan film pasivasi yang jernih membuat baja ini memiliki warna asli seperti keperak – perakan.

Tampilannya yang mengkilap memberikan daya pantul cahaya dan panas yang tinggi. Daya tahan panas mencapai 3150C tanpa mengalami perubahan warna permukaannya. Hal ini menjadikan zincalume selain sebagai bahan atap yang unggul juga ideal untuk pemanggang roti, oven, dan pemanas gas.

Gambar 2.13 Lapisan zincallum pada baja (Albertus, 2008)

2. Galvanis

Galvanis merupakan baja lapis zinc atau seng dengan kadar 98% – 98.5% galvanis/seng dan 1.5%-2% silicon. Untuk baja ringan dengan lapis galvanis ini menurut badan standarisasi di Amerika atau disingkat ASTM, menganjurkan baja lapis menggunakan lapisan galvanis karena memiliki

lapisan anti karat yang lebih tebal yaitu minimal dengan ukuran 220 gr/𝑚2. Baja menggunakan lapis sebaiknya lebih tebal karena lapis galvanis/seng lebih mudah berkarat atau korosi dibanding dengan material alumunium.

3. Seng (Zinc)

Seng ( Zinc ) adalah unsur kimia dengan lambang kimia Zn, nomor atom 30, dan massa atom relatif 65,39. Seng tidak diperoleh dengan bebas di alam, melainkan dalam bentuk terikat. Mineral yang mengandung seng di alam bebas antara lain kalamin, franklinit, smithsonit, willenit dan zinkit.

Dalam industri, zinc mempunyai manfaat antara lain : 1. Melapisi besi atau baja untuk mencegah proses korosi 2. Digunakan untuk bahan batere

3. Sebagai cetakan logam, penyepuhan listrik dan metalurgi bubuk

4. Dalam bentuk oksida digunakan untuk industri kosmetik, plastik, karet, sabun, pigmen dalam cat dan tinta

5. Dalam bentuk sulfida digunakan untuk industri tabung televisi dan lampu pendar

6. Sebagai bahan pengawet kayu dalam bentuk sulfida dan bahan bangunan.

Gambar 2.14 Contoh hasil dari zinc (Albertus, 2008)

4. Aluminium

Aluminium merupakan logam ringan yang mempunyai sifat mekanik, ketahanan korosi dan hantaran listrik yang baik. Logam ini dipergunakan secara luas bukan saja untuk peralatan rumah tangga, tetapi juga dipakai untuk keperluan material pesawat terbang, otomotif, kapal laut, konstruksi dan lain – lain. Untuk mendapatkan peningkatan kekuatan mekanik, biasanya logam aluminium dipadukan dengan unsur Cu, Si Mg, Ni, dan sebagainya.

Aluminium termasuk logam yang lunak dan liat serta mudah ditempa, digiling dan ditarik. Secara dingin maupun secara panas. Dilas dan di solder dalam prakteknya sukar sekali, karena mudah lepas. Juga dengan pengerjaan mesin sedikit sukar, terutama yang menggunakan alat potong biasa.

Aluminium mempunyai afinitas yang besar terhadap oksigen hingga membentuk oksida yang sangat kedap dan melindungi logam dibawahnya.

Aluminium mempunyai daya hantar listrik 60% dari tembaga dan 3,5 kali dari besi. Oleh karena itu sekarang banyak digunakan sebagai kawat listrik dan aplikasi lainya.

36 3.1 Metodologi Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode kehilangan berat dengan menghitung laju korosi. Penelitian dilakukan dengan membeli spesimen yang akan diteliti yaitu baja G550. Baja G550 kemudian dipotong dengan ukuran 30mm x 50mm dengan jumlah 40 buah. Pengujian dilakukan dengan perbandingan 200, 400, 600 dan 800 jam untuk masing – masing 5 spesimen baja G550, sebagai perbandingan perendaman menggunakan Larutan NaCl dan air biasa.

3.2 Prosedur Percobaan

Proses pengujian laju korosi penelitian studi kasus laju korosi pada baja G550 menggunakan pemodelan dengan menggunakan media korosi berupa air laut dan air biasa. Adapun urutan pelaksanaan pengujian laju korosi dilaksanakan secara berturut-turut untuk lima buah sampel, adalah sebagai berikut :

1. Persiapan spesimen penyediaan alat uji baja ringan untuk proses pengujian laju korosi.

2. Potong benda uji dengan ukuran 3mm x 5mm sebanyak 40 buah.

3. Lakukan proses penimbangan awal, sebelum dilakukan proses pengujian korosi.

4. Siapkan media pengujian berupa larutan NaCl dan air biasa ke dalam wadah yang terpisah.

5. Masukan spesimen kedalam larutan NaCl dan air biasa sebagai media korosi.

6. Waktu untuk proses korosi untuk masing-masing media korosi adalah 200, 400, 600 dan 800 jam (32 hari).

7. Lakukan pengangkatan untuk spesimen yang telah memenuhi waktu pengujian korosi, untuk masing-masing media korosi.

8. Setelah mencapai waktu pengujian korosi yang ditentukan, timbang kembali berat masing-masing spesimen. Selanjutnya penghitungan laju korosi pada masing – masing waktu yang ditentukan.

Berikut ini merupakan rangkaian prosedur percobaan.

Gambar 3.1 Rangkaian prosedur percobaan

Larutan Percobaan

Spesimen Uji Direndam

Wadah Percobaan Aquadest NaCl Larutan

Percobaan

Baja Ringan

Persiapan Spesimen

Penimbangan Spesimen

Proses Pengujian Korosi

Media NaCl dan Air Biasa Waktu Pengujian Korosi

200, 400, 600 dan 800 Jam

Penimbangan Spesimen

Analisa & Pembahasan

Literatur 3.3 Diagram Alir Pengerjaan

Urutan penelitian studi kasus laju korosi pada baja ringan, ditunjukan oleh diagram alir (flowchart) sebagai berikut :

Gambar. 3.2 Diagram alir pengerjaan MULAI

SELESAI

3.4 Bahan Pengujian dan Alat Yang Digunakan 3.4.1 Bahan Yang Digunakan

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : a. Baja Ringan (G550)

Baja ringan yang digunakan adalah tipe baja ringan umum yang digunakan pada atap – atap bangunan, yaitu baja G550 bisa diartikan juga jika baja tersebut mempunyai tegangan tarik 550 Mpa (Mega Pascal). Dapat dilihat pada gambar 3.3.

Gambar 3.3 Bahan pengujian baja G550 b. NaCl

NaCl atau Natrium klorida adalah senyawa kimia atau juga dikenal dengan garam dapur. NaCl akan dilarutkan kedalam cairan aquadest 3,5% untuk pengujian baja G550. Dapat dilihat pada gambar 3.4

Gambar 3.4 Serbuk NaCl

c. Aquades

Aquades adalah air hasil destilasi / penyulingan sama dengan air murni yang tidak mengandung mineral. Aquades digunakan untuk perendaman spesimen dengan campuran NaCl. Dapat dilihat pada gambar 3.5

Gambar 3.5 Aquades d. Air Biasa

Air biasa atau air tawar digunakan untuk merendam benda uji selama waktu yang ditentukan. Air diambil dari sumber air keran di laboratorium kampus 2 Akprind Kotabaru, Yogyakarta.

Gambar 3.6. Air biasa/tawar

3.4.2 Alat Yang Digunakan

Pada penelitian yang dilakukan menggunakan alat – alat yang digunakan adalah sebagai berikut :

a. Gerinda Tangan

Gerinda tangan digunakan untuk memotong spesimen benda uji baja G550 dengan ukuran 30mm x 50mm. Gerinda tangan dapat dilihat pada gambar 3.7

Gambar. 3.7 Gerinda tangan b. Aquarium dan Wadah plastik

Aquarium dan wadah plastik digunakan untuk perendaman baja G550 selama waktu yang ditentukan. Dilihat pada gambar 3.8

Gambar. 3.8 Aquarium wadah pengujian

c. Neraca analitik

Neraca analitik digunakan untuk menimbang spesimen sebelum pengujian dan sesudah pengujian untuk mengetahui kehilangan berat pada baja G550. Dapat dilihat pada gambar 3.9

Gambar. 3.9 Neraca analitik

d. Jangka sorong

Jangka sorong digunakan untuk mengukur panjang lebar dan tebal benda uji. Dapat dilihat pada gambar 3.10

Gambar 3.10 Jangka sorong analog

e. Bor listrik Duduk

Bor listrik digunakan untuk melubangi bagian benda uji yang sudah di potong guna untuk mengaitkan tali guna untuk digantungkan. Dapat dilihat pada gambar 3.11

Gambar. 3.11 Bor listrik duduk

f. Senar nilon

Senar nilon digunakan untuk mengaitkan benda uji untuk di rendah kedalam larutan. Dapat dilihat pada gambar 3.12

Gambar. 3.12 Senar nilon

3.5 Persiapan Alat dan Bahan

Semua bahan yang digunakan dikumpulkan untuk proses pengujian dari mulai bahan penguji, yaitu baja ringan, wadah pengujian, senar nilon, gerinda, serta alat penunjang lainya dalam proses pengujian.

3.6 Prosedur Pengujian

Dalam melakukan penelitian skripsi metode yang penulis gunakan adalah metode pengujian korosi kehilangan berat. Adapun prosedur yang akan dilakukan adalah sebagai berikut :

3.6.1 Pembuatan Spesimen

Bahan yang diteliti pada penilitian ini adalah baja G550. Pada tahap awal pengujian yaitu proses pemotongan bahan spesimen menjadi bentuk persegi dengan ukuran 30mm x 50mm. Setiap percobaan yang dilakukan diwakilkan oleh 5 spesimen sebagai sumber data pengujian. Pemilihan 5 spesimen dilakukan agar data yang diperoleh lebih bervariasi dan lebih teruji kevalidannya. Berikut ini merupakan proses pemotongan baja ringan berbentu C menjadi persegi empat.

Gambar. 3.13 Pemotongan baja G550

Setelah dipotong spesimen di beri lubang untuk mengaitkan senar nilon.

Kemudian spesimen yang sudah dipotong diberi nomor agar tidak mengalami kesalahan pengukuran saat pengujian.

3.6.2 Pembuatan Larutan Pecobaan

Larutan percobaan merupakan media penghantar korosi pada spesimen.

Larutan percobaan terdiri dari larutan NaCl dengan aquades dengan komposisi 3.5

% per satu liter aquades. Selain larutan tersebut dipersiapkan juga air tawar sebagai pembanding pengujian tersebut.

Gambar 3.14 Aquades dan NaCl

3.6.3 Pengukuran Dengan Jangka Sorong

Pada proses pengujian setelah penimbangan dan sebelum perhitungan dilakukan pengukuran tebal, panjang, dan lebar untuk dilakukan penghitungan nilai laju korosi pada spesimen yang diujikan. Jangka sorong yang digunakan menggunakan jangka sorong manual yang berada di laboratorium material di kampus 2 IST AKPRIND Yogyakarta

Gambar 3.15 Jangka sorong analog 3.7 Percobaan

3.7.1 Pengukuran Berat Spesimen Sebelum Pengujian

Spesimen yang sudah dipersiapkan masing-masing diberi penomoran sebelum melakukan penimbangan dengan neraca analitik. Tujuan penomoran ini adalah agar tidak tertukarnya berat antara spesimen yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap perhitungan laju korosi. Kemudian spesimen yang sudah diberikan nomor ditimbang dan didata hasil-hasilnya. Hasil dari pengukuran berat tersebut yang akan menjadi data awal untuk menghitung laju korosi.

Penimbangan spesimen menggunakan neraca analitik. Neraca analitik yang digunakan adalah neraca analitik yang berada di laboratorium kimia yang berada di kampus 2 IST AKPRIND Yogyakarta. Sebelum digunakan alat ini harus di kalibrasi terlebih dahulu dengan indikator petunjuk berat sampel bernilai nol. Hal tersebut dengan menekan tombol bagian kanan neraca yang berfungsi untuk mengkalibrasikan berat. Berat maksimal yang dapat ditimbang dengan neraca ini adalah 210 gram.

Gambar 3.16 Penimbangan spesimen dengan neraca analitik

Proses penimbangan spesimen ini juga dilakukan setelah waktu perendaman spesimen pada waktu tertentu guna untuk mengetahui laju korosi pada spesimen setelah penghitungan.

3.7.2 Perendaman Spesimen

Spesimen yang sudah di potong dengan ukuran 30mm x 50mm kemudian direndam di wadah yang sudah disiapkan yang berisi larutan NaCl dan aquades dan juga pada air tawar biasa. Pemilihan senar nilon sebagai pengait dipilih karena nilon tidak ikut bereakasi dengan spesimen dan larutan sehingga tidak menimbulkan reaksi korosi tersendiri bagi pengait tersebut. Diusahakan juga supaya antara spesimen tidak bersentuhan saat perendaman agar tidak terjadi korosi galvanis.

Gambar. 3.17 Perendaman larutan NaCl

3.7.3 Pengukuran Dimensi Spesimen

Dimensi yang dibutuhkan untuk pengukuran laju korosi adalah panjang, lebar, dan tebal spesimen. Panjang dan lebar spesimen diukur dengan

menggunakan jangka sorong dan ketebalan spesimen menggunakan spesimen awal.

Gambar. 3.18 Pengukuran dimensi spesimen

3.7.5 Data Hasil Pengukuran

Setelah proses yang dilakukan dari tahapan awal pemotongan sampai dengan penimbangan dan pengukuran spesimen didapatkan data awal dari pengujian tersebut dilampirkan pada tabel 3.1.

Tabel 3.1 Berat awal baja G550

50 4.1 Hasil Perhitungan Laju Korosi

Pada pembahasan bab ini akan membahas tentang perhitungan dan hasil perhitungan dari pengujian yang dilakukan, pada bab sebelumnya telah dibahas mengenai metode, tata cara pengujian serta rumus perhitungan yang akan dilakukan. Pengujian dilakukan di Laboratorium kampus 2 Institut Sains &

Teknologi Akprind, Yogyakarta. Dari hasil yang di dapatkan dalam bab ini yaitu perhitungan dengan menggunakan persamaan 2.5 dan 2.6 pada bab sebelumnya.

Contoh perhitungan spesimen 1A baja G550 pada perendaman larutan NaCl :

Diketahui:

W1 = 7.726 gram W2 = 7.620 gram K = 3.45 x 106 D = 7.86 g/𝑚𝑚3

As = 2 ( p x l + p x t + l x t )

2 ( 4.901 x 2.974 + 4.901 x 0.75 + 2.974 x 0.75) T = 200 jam

Penyelesaian:

CR (mpy) = (7.726−7.620) x 3.45 x 106

7.86 x 2 ( 4.901 x 2.974 + 4.901 x 0.75 + 2.974 x 0.75)x 200

= 0.1445843 mpy

Perhitungan tersebut adalah contoh dari perhitungan spesimen 1A baja G550 pada perendaman larutan NaCl, digunakan juga untuk menghitung laju korosi pada spesimen lainya baik pada pengujian perendaman NaCl dan pengujian perendaman air biasa.

4.1.1 Perhitungan laju korosi perendaman 200 jam dengan larutan NaCl Tabel 4.1 Laju korosi baja ringan larutan NaCl 200 jam

Kode

Tabel 4.2 Laju Korosi Baja Ringan Air Biasa 200 jam Kode

Tabel 4.3 rata – rata laju korosi perendaman 200 jam

Jenis perendaman Rata – rata laju korosi (mpy)

Larutan NaCl 0.1471211

Air biasa 0.0780207

4.1.2 Perbandingan laju korosi rendaman NaCl dan air biasa perendaman spesimen 200 jam

Grafik 4.1 Perbandingan laju korosi baja G550 perendaman 200 jam larutan NaCl dan air biasa

Gambar di atas merupakan grafik perbandingan laju korosi antara spesimen perendaman larutan NaCl dan air biasa. Perendaman dengan ukuran yang sama selama 200 jam. Nilai laju korosi untuk rendaman NaCl 1A bernilai 0.1445843 mpy, 2A bernilai 0.1537615 mpy, 3A bernilai 0.1350548 mpy, 4A bernilai 0.1538611 mpy dan 5A bernilai 0.1483438 mpy. Sementara untuk perendaman air biasa nilai laju korosi yang diperoleh adalah 1B bernilai 0.1073264 mpy, 2B bernilai 0.0759131 mpy, 3B bernilai 0.0704882 mpy, 4B bernilai 0.0484222 mpy

0

dan 5B bernilai 0.0879537 mpy. Untuk nilai rata – rata laju korosi rendaman larutan NaCl bernilai 0.1471211 mpy dan nilai rata – rata rendaman air biasa bernilai 0.0780207 mpy.

4.1.3 Perhitungan laju korosi perendaman 400 jam dengan larutan NaCl Tabel 4.4 Laju korosi baja ringan larutan NaCl 400 jam

Kode

Tabel 4.5 Laju Korosi Baja Ringan Air Biasa 400 jam

Kode

Tabel 4.6 rata – rata laju korosi perendaman 400 jam

Jenis perendaman Rata – rata laju korosi (mpy)

Larutan NaCl 0.2489913

Air biasa 0.1186895

4.1.4 Perbandingan laju korosi rendaman NaCl dan air biasa perendaman spesimen 400 jam

Grafik 4.2 perbandingan laju korosi baja G550 perendaman 400 jam larutan NaCl dan air biasa

Gambar di atas merupakan grafik perbandingan laju korosi antara spesimen perendaman larutan NaCl dan air biasa. Perendaman dengan ukuran yang sama selama 400 jam. Nilai laju korosi untuk rendaman NaCl 6A bernilai

bernilai 0.1139040 mpy dan 10B bernilai 0.1321169 mpy. Untuk nilai rata – rata laju korosi rendaman larutan NaCl bernilai 0.2489913 mpy dan nilai rata – rata rendaman air biasa bernilai 0.1186895 mpy.

4.1.5 Perhitungan laju korosi perendaman 600 jam dengan larutan NaCl Tabel 4.7 Laju korosi baja ringan larutan NaCl 600 jam

Kode

Tabel 4.8 Laju Korosi Baja Ringan Air Biasa 600 jam Kode

Tabel 4.9 Rata – rata laju korosi perendaman 600 jam

Jenis perendaman Rata – rata laju korosi (mpy)

Larutan NaCl 0.7152150

Air biasa 0.1730031

4.1.6 Perbandingan laju korosi rendaman NaCl dan air biasa perendaman spesimen 600 jam

Grafik 4.3 perbandingan laju korosi baja G550 perendaman 600 jam larutan NaCl dan air biasa

Gambar di atas merupakan grafik perbandingan laju korosi antara spesimen perendaman larutan NaCl dan air biasa. Perendaman dengan ukuran yang sama selama 600 jam. Nilai laju korosi untuk rendaman NaCl 11A bernilai 0.6570395 mpy, 12A bernilai 0.7712971 mpy, 13A bernilai 0.7824487 mpy, 14A bernilai 0.6882832 dan 15A bernilai 0.6770067. sementara untuk perendaman air biasa nilai laju korosi yang diperoleh adalah 11B bernilai 0.1700998 mpy, 12B bernilai 0.1674385 mpy, 13B bernilai 0.1751885 mpy, 14B bernilai 0.1966738 mpy dan 15B bernilai 0.1556151 mpy. Untuk nilai rata – rata laju korosi rendaman larutan

0

11A 12A 13A 14A 15A 11B 12B 13B 14B 15B

Laju korosi(mpy)

Spesimen

Laju Korosi

NaCl bernilai 0.7152150 mpy dan nilai rata – rata rendaman air biasa bernilai 0.1730031 mpy.

4.1.7 Perhitungan laju korosi perendaman 800 jam dengan larutan NaCl Tabel 4.10 Laju korosi baja ringan larutan NaCl 800 jam

Kode

Spesimen Tebal Lebar Panjang

Berat

Tabel 4.11 Laju Korosi Baja Ringan Air Biasa 800 jam Kode

Spesimen Tebal Lebar Panjang

Berat

Tabel 4.12 Rata – rata laju korosi perendaman 800 jam

Jenis perendaman Rata – rata laju korosi (mpy)

Larutan NaCl 1.0729435

Air biasa 0.2168964

4.1.8 Perbandingan laju korosi rendaman NaCl dan air biasa perendaman spesimen 800 jam

Grafik 4.4 perbandingan laju korosi baja G550 perendaman 800 jam larutan NaCl dan air biasa

Gambar di atas merupakan grafik perbandingan laju korosi antara spesimen perendaman larutan NaCl dan air biasa. Perendaman dengan ukuran yang sama selama 600 jam. Nilai laju korosi untuk rendaman NaCl 16A bernilai 1.0216483 mpy, 17A bernilai 1.1197900 mpy, 18A bernilai 1.0925448 mpy, 19A bernilai 1.0390183 mpy dan 20A bernilai 1.0917165 mpy. Sementara untuk perendaman air biasa nilai laju korosi yang diperoleh adalah 16B bernilai 0.2326017 mpy, 17B bernilai 0.2069745 mpy, 18B bernilai 0.2141626 mpy, 19B bernilai 0.2339155 mpy dan 20B bernilai 0.1968280 mpy. Untuk nilai rata – rata laju korosi rendaman

0

16A 17A 18A 19A 20A 16B 17B 18B 19B 20B

Laju korosi(mpy)

Spesimen

Laju Korosi

larutan NaCl bernilai 1.0729435 mpy dan nilai rata – rata rendaman air biasa bernilai 0.2168964 mpy.

4.1.9 Perbandingan korosi baja G550 perendaman NaCl pada setiap pengujian spesimen

Tabel 4.13 Tabel laju korosi baja G550 pada perendaman larutan NaCl

200 jam 400 jam 600 jam 800 jam 0.1445843 0.2817701 0.6570395 1.0216483 0.1537615 0.2690703 0.7712971 1.11979 0.1350548 0.2564636 0.7824487 1.0925448 0.1538611 0.2350024 0.6882832 1.0390183 0.1483438 0.2026504 0.6770067 1.0917165

4.1.10 Perbandingan laju korosi perendaman NaCl pada setiap spesimen

Grafik 4.5 perbandingan laju korosi baja G550 rendaman NaCl setiap spesimen

0

4.1.11 Perbandingan korosi baja G550 Perendaman air biasa pada setiap pengujian spesimen

Tabel 4.14 Tabel laju korosi baja G550 pada perendaman larutan air biasa

200 jam 400 jam 600 jam 800 jam 0.1073264 0.0885981 0.1700998 0.2326017 0.0759131 0.112217 0.1674385 0.2069745 0.0704882 0.1466118 0.1751885 0.2141626 0.0484222 0.113904 0.1966738 0.2339155 0.0879537 0.1321169 0.1556151 0.196828

4.1.12 Perbandingan laju korosi rendaman air biasa pada setiap spesimen

Grafik 4.6 perbandingan laju korosi baja G550 rendaman air biasa setiap spesimen

4.1.13 Perbandingan laju korosi baja G550 perendaman 200 jam, 400 jam, 600 jam, dan 800 jam

Tabel 4.15 Tabel laju korosi baja G550 pada perendaman larutan NaCl

Lama

Tabel 4.16 Tabel laju korosi baja G550 pada perendaman air biasa Lama

Perendaman (jam) Laju Korosi (mpy)

4.1.14 Perbandingan rata – rata hasil pengujian laju korosi perendaman larutan NaCl dan air biasa

Grafik 4.7 Grafik perbandingan rata – rata hasil pengujian laju korosi perendaman larutan NaCl dan air biasa

Grafik 4.7 di atas merupakan grafik perbandingan rata – rata hasil pengujian laju korosi pada baja G550 dengan perendaman larutan NaCl. Pada perendaman 200 jam diperoleh nilai laju korosi 0.1471211 mpy, perendaman 400 jam diperoleh nilai laju korosi 0.2489913 mpy, perendaman 600 jam diperoleh nilai laju korosi 0.7152150 mpy, dan pada perendaman 800 jam diperoleh laju korosi 1.0729435 mpy, serta diperoleh rata – rata laju korosi 0.54606772 mpy.

Grafik 4.7 di atas merupakan grafik perbandingan rata – rata hasil pengujian laju korosi pada baja G550 dengan perendaman air biasa. Pada perendaman 200 jam diperoleh nilai laju korosi 0.0780207, perendaman 400 jam diperoleh nilai laju korosi 0.1186895, perendaman 600 jam diperoleh nilai laju

0

korosi 0.1730031, dan pada perendaman 800 jam diperoleh laju korosi 0.2168964.

serta diperoleh rata – rata laju korosi 0.14665242.

64 5.1 Kesimpulan

Setelah melakukan penelitian melalui proses pengujian dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Proses pengujian yang dilakukan adalah dengan waktu 200 jam, 400 jam, 600 jam dan 800 jam dengan mekanisme pengujian perendaman larutan NaCl dan Air biasa. Laju korosi pada rendaman larutan NaCl lebih tinggi dari pada rendaman air biasa dengan nilai laju korosi.

a. Rata – rata laju korosi 200 jam

Perendaman larutan NaCl : 0.1471211 mpy Perendaman larutan air biasa : 0.0780207 mpy b. Rata – rata laju korosi 400 jam

Perendaman larutan NaCl : 0.2489913 mpy Perendaman larutan air biasa : 0.1186895 mpy c. Rata – rata laju korosi 600 jam

Perendaman larutan NaCl : 0.7152150 mpy Perendaman larutan air biasa : 0.1730031 mpy d. Rata – rata laju korosi 600 jam

Perendaman larutan NaCl : 1.0729435 mpy Perendaman larutan air biasa : 0.2168964 mpy

2. Pada proses pengujian telah di dapatkan hasil yang berbeda pada lama pengujian serta larutan perendaman, maka dapat disimpulkan jika pada

lingkungan yang dekat dengan pinggiran pantai maka lebih cepat terkorosi dibandingkan dengan di lingkungan yang jauh dari pinggiran pantai atau laut.

3. Dari hasil perbandingan pengujian yaitu mendapatkan nilai untuk pengujian perendaman larutan NaCl bernilai 0.54606772 dan untuk nilai perendaman air biasa bernilai 0.14665242.

5.2 Saran

1. Pemotongan pada spesimen sebaiknya menggunakan mesin bor duduk atau sejenisnya agar pemotongan lebih presisi dengan ukuran yang ditentukan

2. Jumlah spesimen untuk percobaan sebaikmya lebih dari 5 agar saat terjadinya kegagalan tidak perlu mengulang proses pengujian.

Fontana, Mars G, 1986, Corrosion Engineering Third Edition, New York : Mc Graw- Hill.

Hutauruk, F. Y. 2017, Analisa Laju Korosi Pada Pipa Baja Karbon dan Pipa Galvanis Dengan Metode Elektrokimia, Teknik Sistem Perkapalan, Fakultas Teknologi Kelautan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya

http://m10mechanicalengineering.blogspot.com/2013/11/laju-korosi.html di searc pada tanggal 31 oktober 2019 pukul. 16.10

https://www.slideshare.net/adimasmc/macammacam-korosi diakses pada 27 oktober 2019 pukul 20.26

https://www.scribd.com/korosi) diakses pada 29 oktober 2019 pukul 20.09

https://www. guru pendidikan.co.id diakses pada 29 oktober 2019 pukul 20.13

https://www.proteksi.katodik54.com diakses pada 20 januari 2020 pukul 22.18

Ispandriatno, A. S. & Krisnaputra, R. 2015, Ketahanan Korosi Baja Ringan di Lingkungan Air Laut, Vol 1 No 1. Jurnal Material Teknologi Proses, Teknik Mesin Sekolah Vokasi Universitas Gajah Mada

Kalangie, D. A. 2009, Laju Korosi Baja Zincallum G550, Jurusan Teknik mesin, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

Perdana, S. D. 2015, Studi Laju Korosi Pada Plat Stainless Steel (Ss) 304 Dan 316 Dengan Variasi Media Korosi, Jurusan Teknik Kelautan, Institut Teknologi Surabaya

Teknik Mesin, Institut Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta

Sidiq, M. F. 2013, Analisa Laju Korosi dan Pengendalianya, Vol 3. No 1. Jurnal Foundry, Akademi Perikanan Baruna Slawi

Siregar, S., Sumirat, S. & Solehudin, A. Pengaruh pH Terhadap Laju Korosi Baja Karbon St-37 Lingkungan Hidrogen Sulfat, Jurusan Pendidikan Teknik Mesin, FPTK – UPI

Surbakti, Y. C. 2017, Analisa Laju Korosi Pada Pipa Baja Karbon Dan Pipa Galvanis Dengan Metode Kehilangan Berat, Teknik Sistem Perkapalan, Fakultas Teknologi Kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya

Trethewey, KR. & Chamberlain, J. 1991, Korosi Untuk Mahasiswa Sains dan Rekayasa, Jakarta

Utomo, B. 2009, Jenis Korosi dan Penanggulanganya, Vol 2 No 6. Teknik Perkapalan, Universitas Diponegoro

Wijaya, J. 2008. Studi Korosi Dan Sifat Mekanis Sambunganlas Busur Rendam Untuk Konstruksi Baja Melalui Perlakuan Panas. Penelitian. Fakultas Teknologi Industri, Institut sains dan teknologi AKPRIND, Yogyakarta

Yanti A. F. D. 2016, Pengaruh pH Air Hujan dan Beban Terhadap Karakteristik Korosi Pada Baja Galvalume, Jurusan Teknik Material dan Metalurgi, Fakultas teknologi Industri, Institut Sepuluh November, Surabaya

Dokumen terkait