BAB I PENDAHULUAN
1.5 Manfaat Penelitian
2. Bagaimana laju korosi yang terjadi dan cara mengetahui nilai laju korosi tersebut?
1.3 Batasan Masalah
Batasan masalah pada studi kasus laju korosi pada baja ringan dengan metode perendaman NaCl dan air tawar, yaitu sebagai berikut:
1. Pengujian laju korosi skala laboratorium untuk mengetahui laju korosi baja ringan.
2. Media korosi berupa Larutan NaCl dan air biasa.
3. Ukuran benda uji 50mm x 30mm
4. Penelitian ini hanya membahas laju korosi metode kehilangan berat 5. Perlakuan yang dilakukan antara lain;
a. Direndam kedalam larutan NaCl b. Direndan kedalam air biasa
1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan studi kasus laju korosi pada baja G550, yaitu sebagai berikut :
1. Mengetahui nilai laju korosi pada baja G550 pada waktu tertentu dengan perendaman kadar NaCl air laut dan air biasa.
2. Mengetahui pengaruh lingkungan terhadap laju korosi baja G550.
3. Mengetahui perbandingan laju korosi pada pengujian spesimen.
1.5 Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat diperoleh dengan melakukan studi kasus laju korosi pada baja G550, yaitu sebagai berikut :
1. Bagi Institut
Menjadi referensi untuk mahasiswa yang akan mengambil penelitian tentang laju korosi pada baja G550
2. Bagi Mahasiswa
a. Memberikan data awal untuk langkah pengendalian korosi pada baja G550 terkait lingkungannya guna menyelesaikan tugas akhir.
b. Meningkatkan pemahaman dan pengetahuan dalam pengendalian laju korosi pada baja G550.
4 BAB II LANDASAN TEORI
2.1 Tinjauan Pustaka
Rusianto T. (2008) penurunan mutu logam tidak hanya melibatkan reaksi kimia namun juga reaksi elektrokimia, yakni antara bahan terjadi perpindahan elektron. Karena elektron adalah partikel yang bermuatan negatif, maka pengangkutanya menimbulkan arus listrik sehingga reaksi demikian dipengaruhi oleh potensial listrik. Sedangkan lingkungan adalah sebutan paling mudah untuk memaksudkan semua unsur disekitar logam terkorosi pada saat reaksi berlangsung.
Surbakti Y. C. (2017) Korosi adalah kerusakan atau degradasi logam akibat reaksi dengan lingkungan yang korosif. Korosi dapat juga diartikan sebagai serangan yang merusak logam karena logam bereaksi secara kimia atau elektrokimia dengan lingkungan. Korosi atau secara awam lebih dikenal dengan istilah pengkaratan merupakan fenomena kimia pada bahan-bahan logam diberbagai macam kondisi lingkungan. Penyelidikan tentang sistim elektrokimia telah banyak membantu menjelaskan mengenai korosi ini, yaitu reaksi kimia antara logam dengan zat-zat yang ada di sekitarnya atau dengan partikel-partikel lain yang ada di dalam matrik logam itu sendiri.
Hutauruk F. Y. (2017) Korosi adalah penurunan kualitas yang disebabkan oleh reaksi kimia bahan logam dengan unsur-unsur lain yang terdapat di alam.
Laju korosi bergantung pada suhu, konsentrasi reaktan, jumlah mula-mula partikel (massa) logam, dan faktor mekanik seperti tegangan. Korosi dapat dianggap sebagai proses balik dari pemurnian logam atau ekstraksi. Pada umumnya logam
yang terdapat di alam berbentuk senyawa, seperti senyawa oksida, sulfida, karbonat, dan silika.
2.2 Teori Dasar Korosi
Korosi (corrosion) adalah serangan yang merusak dan mengakibatkan penurunan mutu logam akibat reaksi kimia dan elektrokimia dengan lingkunganya. Penurunan mutu logam oleh efek fisik seperti erosi (erosion), aus (wear) tidak dapat disebut sebagai korosi. Korosi terjadi apabila penurunan mutu logam oleh efek fisik disertai dengan serangan kimia terhadap logam tersebut.
Dari definisi korosi ataupun karat dapat ditarik kesimpulan bahwa :
1. Korosi berkaitan dengan logam, baik ferro (besi) atau non ferro (alumunium, tembaga, seng, timah hitam, timah putih).
2. Korosi adalah proses yang merugikan dan sangat tidak diinginkan karena berkaitan dengan degradasi kualitas logam.
3. Degradasi kualitas logam bukan hanya diakibatkan oleh reaksi kimia namun melibatkan reaksi elektrokimia.
4. Reaksi kimia dan reaksi elektrokimia terjadi antara logam dengan lingkunganya, lingkungan adalah semua unsur yang berada disekitar logam.
Reaksi elektrokimia yang terjadi pada proses korosi adalah reaksi yang melibatkan perpindahan elektron antara suatu logam dengan berbagai zat dilingkungannya. Biasanya kita dapat mengenali daerah-daerah pada permukaan logam yang terkorosi tempat reaksi-reaksi anoda dan katoda berlangsung, dan daerah daerah ini disebut anoda dan katoda, empat komponen penting dalam sel ini adalah :
1. Anoda, anoda biasanya terkorosi dengan melepaskan elektron-elektron dari atom-atom logam netral untuk membentuk ion-ion bersangkutan.
Reaksi korosi suatu logam biasanya dinyatakan dalam persamaan sederhana.
2. Katoda, katoda biasanya tidak mengalami korosi, menangkap elektron-elektron dari atom-atom logam untuk membentuk ion-ion bersangkutan.
3. Elektrolit, istilah ini diberikan pada larutan, yang dalam hal ini harus bersifat menghantarkan listrik. Air sangat murni biasanya dianggap bukan elektrolit, namun dalam kehidupan sehari-hari lingkungan berair dianggap memiliki konduktivitas yang cukup sebagai elektrolit.
4. Hubungan listrik, antara anoda dan katoda harus terdapat kontak listrik agar arus dalam sel korosi dapat mengalir. Hubungan secara fisik tidak diperlukan bila anoda dan katoda merupakan bagian logam yang sama.
Reaksi korosi dilingkungan air dapat dianggap tidak berbeda dengan sel korosi basah sederhana. Bahkan, meskipun sel itu merupakan bagian dari permukaan logam yang sama, anoda dan katoda biasanya dapat dibedakan.
2.2.1 ATOM
Atom adalah partikel terkecil suatu zat yang tidak dapat dipecah lagi atau dibagi-bagi lagi. Kata atom berasal dari kata Yunani atomos, artinya tidak dapat dibagi-bagi lagi. Teori tentang atom pertama kali dikemukakan oleh ahli filsafat Yunani, Leukippos (Leucippus) dan Demokritus (Democritus) pada abad ke-4 sebelum Masehi (400-370) SM). Pada masa itu terdapat pendapat lain dikemukakan filsuf terkenal, Aristoteles (384-332 SM) bahwa materi dapat dibagi
terus-menerus tanpa batas. Namun kemudian pada abad ke-18 banyak ahli kimia lebih menerima pendapat Leukippos dan Demokritus dari teori Aristoteles.
Berikut adalah teori atom Dalton berpendapat yaitu :
1. Atom merupakan bagian terkecil materi, tidak dapat dibagi-bagi lagi dengan reaksi kimia biasa.
2. Atom digambarkan sebagai bola pejal yang sangat kecil. Suatu unsur memiliki atom-atom yang identik dan berbeda dengan unsur lain.
3. Atom tidak dapat dipecah menjadi partikel yang lebih kecil dengan sifat yang sama.
4. Atom-atom bergabung membentuk senyawa dengan perbandingan bilangan bulat dan sederhana. Misalnya air terdiri atas atom-atom hidrogen dan atom-atom oksigen.
5. Reaksi kimia merupakan pemisahan, penggabungan, atau penyusunan kembali dari atom-atom, sehingga atom tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan.
`Gambar 2.1 Struktur atom (perpusku.com) a. Proton
Pengertian proton adalah partikel subatomik bermuatan positif yang menempel pada inti atom Golstein pada tahun 1886 membuat alat yang mirip tabung crookes. Katoda dibuat berlubang dan diletakkan agak ke
dalam. Tabung diisi gas hidrogen bertekanan rendah. Setelah dialirkan listrik menghasilkan dua macam sinar, yaitu sinar katoda yang bergerak dari katoda ke anoda, dan sinar yang bergerak ke katoda dan sebagian masuk ke dalam lubang sehingga disebut sinar saluran. Sinar saluran ini bermuatan positif, karena itu disebut sinar positif. Sinar positif ini lalu disebut proton. Massa proton 1.67𝑥10−24 g (1.836 x massa elektron).
b. Elektron
Elektron adalah partikel subatomik yang bermuatan negatif dan umumnya ditulis dengan e-. Elektron tidak memiliki elemen dasar atau substruktur apapun yang diketahui, sehingga disebut juga sebagai partikel elementer.
c. Neutron
Pengertian neutron adalah partikel subatomik tidak bermuatan positif maupun negaitf yang menempel pada inti atom.
Selain elektron dan proton ada partikel lain, yaitu neutron. Neutron bermassa 1.6750𝑥10−24 g dan tidak bermuatan alias netral. Neutron ditemukan James Chadwick pada tahun 1932. Chadwick membuktikan melalui percobaan menembak partikel alfa pada lempengan berilium.
d. Inti Atom (Nucleus)
Inti atom adalah bagian dari atom yang mempunyai nilai positif. Inti atom merupakan kumpulan dari dua jenis nucleus (partikel penyusun inti), yaitu proton bermuatan positif serta nutron tidak bermuatan (netral). Sebenarnya inti atom tersusun dari banyak partikel materi, tetapi yang paling berperan adalah proton dan neutron.
2.2.2 ION
Ion merupakan atom atau gabungan beberapa atom yang mempunyai muatan listrik positif atau negatif. Atom atau kumpulan atom yang memiliki muatan listrik positif disebut ion positif atau kation. Sedangkan, yang bermuatan listrik negatif disebut ion negatif atau anion.
a. Anion (−), berasal dari bahasa Yunani, yang berarti "naik" adalah ion dengan jumlah elektron lebih banyak daripada proton, menghasilkan muatan netto negatif (karena elektron bermuatan negatif dan proton bermuatan positif).
b. Kation (+), berasal dari bahasa Yunani, yang berarti "turun", adalah ion dengan jumlah elektron lebih sedikit daripada proton, memberikan muatan positif.
Elektron yang mengelilingi inti atom terus bergerak sambil berputar pada sumbunya. Akan tetapi, elektron dapat meninggalkan atom karena sesuatu hal, seperti pemanasan, medan listrik, dan medan magnet. Elektron yang keluar dari suatu atom dapat masuk ke atom lainnya. Akibatnya, atom yang kehilangan elektron akan menjadi atom yang bermuatan listrik positif karena jumlah proton menjadi lebih besar daripada jumlah elektronnya, sedangkan atom yang kedatangan elektron menjadi atom bermuatan listrik negatif karena jumlah elektronnya melebihi jumlah protonnya.
Peristiwa terurainya suatu zat menjadi ion-ion disebut ionisasi. Hasil ionisasi disebut ion. Elektron yang dapat keluar atau masuk ke suatu atom adalah elektron yang berada di kulit terluar. Ionisasi atom hanya terjadi pada atom-atom yang jumlah elektron paling luarnya tidak sama dengan 8, 18, atau 32. Atom-atom
yang jumlah elektronnya sama dengan bilangan-bilangan tersebut sangat sulit terionisasi sehingga disebut unsur gas mulia.
Kation (ion positif) dan anion (ion negatif) dapat bergabung membentuk senyawa ion yang disebut senyawa ionik. Senyawa ionik dapat menghantarkan listrik. Contoh yang paling sederhana adalah senyawa natrium klorida atau garam dapur yang terdiri dari ion Na+ dan ion Cl-. Ion Na+ dan ion Cl- akan tarik-menarik membentuk suatu senyawa NaCl (garam dapur) karena terdiri dari dua buah muatan listrik yang berlawanan. Untuk menguraikan senyawa NaCl ini menjadi unsur-unsur pembentuknya dapat dilakukan dengan cara mengalirkan arus listrik ke dalam lelehan natrium klorida (NaCl) sehingga NaCl ini akan terurai menjadi ion Na+ dan ion Cl-.
2.2.3 Mekanisme Korosi
Pada umumnya proses korosi pada logam adalah reaksi elektrokimia. Reaksi elektrokimia adalah suatu reaksi yang melibatkan perpindahan. Reaksi ini meliputi reaksi oksidasi dan reaksi reduksi. Aspek elektrokimia yang terjadi selama berlangsungnya korosi terbagi menjadi 2, yaitu :
a) Reaksi anoda (reaksi oksidasi) adalah reaksi yang menghasilkan elektron.
Selain itu reaksi anoda juga menyebabkan terjadinya oksidasi sekaligus penyebab terjadinya korosi. Reaksi anoda pada proses korosi merupakan reaksi oksidasi logam menjadi ion logam. Reaksinya adalah :
M → M
n++ n
e−...(
2.1)
b) Reaksi katoda (reaksi reduksi), adalah reaksi yang mengkonsumsi elektron. Reaksi katoda menyebabkan reaksi reduksi dan pada umumnya tidak mengalami korosi. Reaksinya adalah :
M
n++ n
e−→ M ...(
2.2)
Korosi yang terjadi pada suatu reaksi oksidasi atau reaksi anodik (terjadi penambahan muatan positif), sedangkan pada korosi yang terjadi pada reaksi reduksi atau reaksi katodik (terjadi pengurangan muatan positif). Jadi proses korosi memerlukan sepasang reaksi elektrokimia anodik-katodik.
2.2.4 Reaksi Elektrokimia
Sifat elektrokimia korosi dapat diilustrasikan oleh serangan seng oleh asam klorida. Ketika seng ditempatkan dalam asam klorida encer, reaksi yang kuat terjadi. Seng bereaksi dengan ion hidrogen dari larutan asam untuk membentuk ion seng dan gas hidrogen. Dapat dilihat bahwa selama reaksi, seng dioksidasi menjadi ion seng dan ion hidrogen direduksi menjadi hidrogen.
Oksidasi (reaksi anodik) Zn → Zn2+ + 2e ... (2.3) Reduksi (reaksi katodik) 2H+ + 2e → H2 ... (2.4) Reaksi oksidasi atau anodik ditunjukkan oleh peningkatan valensi atau produksi elektron. Penurunan muatan valensi atau konsumsi elektron menandakan reduksi atau reaksi katodik. Reaksi parsial-keduanya harus terjadi secara bersamaan dan pada tingkat yang sama pada permukaan logam ini mengarah pada salah satu prinsip dasar korosi yang paling penting: selama korosi logam, laju oksidasi sama dengan laju reduksi (dalam hal produksi dan konsumsi elektron). Konsep tersebut diilustrasikan pada Gambar 2.2. Di sini atom seng telah diubah menjadi ion seng dan dua elektron. Elektron-elektron ini, yang tetap berada dalam logam, segera dikonsumsi selama reduksi ion hidrogen. Apakah mereka benar-benar dipisahkan atau terjadi pada titik yang sama di permukaan
tidak mempengaruhi prinsip konservasi muatan. Pada beberapa reaksi korosi, reaksi oksidasi terjadi secara seragam pada permukaan, sedangkan pada kasus lain dilokalisasi dan terjadi pada area tertentu. Korosi seng dalam asam hidrokolorik adalah proses elektrokimia. Yaitu, setiap reaksi yang dapat dibagi menjadi dua (atau lebih) reaksi parsial oksidasi dan reduksi disebut elektrokimia. Membagi korosi atau reaksi elektrokimia lainnya menjadi reaksi parsial membuatnya lebih mudah dipahami. Besi dan aluminium, seperti seng, juga cepat terkorosi dengan asam klorida.
Gambar 2.2 Reaksi elektrokimia 2.2.5 Ikatan Logam
Ikatan logam adalah ikatan yang terjadi akibat interaksi antara elektron valensi yang bebas bergerak dengan inti atau kation-kation logam yang menghasilkan gaya tarik. Unsur logam mempunyai kecenderungan untuk menjadi ion positif karena energi potensial ionisasi yang rendah dan mempunyai elektron valensi kecil. Ketika atom-atom logam yang bermuatan ini saling berdekatan, kemudian elektron valensinya akan terdelokalisasi membentuk ”lautan elektron”
disekitar ion-ion positif. Lautan elektron ini akan bertindak sebagai perekat atom-atom logam. Hal ini mengakibatkan lautan elektron dalam atom-atom-atom-atom logam bebas bergerak dari atom satu ke atom yang lain untuk membentuk suatu ikatan yang disebut ikatan logam. Kenyataan ini dapat menjelaskan alasan logam sebagai
penghantar listrik yang baik. Kekuatan ikatan logam bergantung pada banyaknya elektron valensi yang terdapat pada atom logam tersebut.
Unsur logam memiliki sedikit elektron valensi, sehinggga kulit terluar unsur logam relatif longgar (terdapat banyak ruang kosong). Keadaan seperti itu memungkinkan elektron valensi logam dapat berpindah dari satu atom keatom lain. Mobilitas elektron dalam logam semakin bebas, sehingga elektron valensi logam mengalami delokalisasi, yaitu suatu keadaan dimana elektron valensi tersebut tidak tetap posisinya pada suatu atom, tetapi senantiasa berpindah-pindah dari satu atom keatom lain. Elektron-elektron valensi tersebut berbaur sehingga menyerupai awan atau lautan yang membungkus ion-ion positif logam didalamnya. Jadi, struktur logam dapat dibayangkan sebagai ion-ion positif yang dibungkus oleh awan atau lautan atau elektron valensi. Seperti gambar berikut :
Gambar 2.3 Ikatan logam (guru pendidikan.co.id)
Adapun ciri-ciri ikatan logam adalah sebagai berikut :
a. Atom-atom logam dapat diibaratkan seperti bola pingpong yang terjejal rapat satu sama lain.
b. Atom logam mempunyai sedikit elektron valensi, sehingga sangat mudah untuk dilepaskan dan membentuk ion positif. Maka dari itu kulit terluar atom logam relatif longgar (terdapat banyak tempat kosong) sehingga elektron dapat berpindah dari 1 atom ke atom lain. Mobilitas elektron
dalam logam sedemikian bebas, sehingga elektron valensi logam mengalami delokalisasi yaitu suatu keadaan dimana elektron valensi tersebut tidak tetap posisinya pada 1 atom, tetapi senantiasa berpindah-pindah dari 1 atom ke atom lain.
c. Elektron-elektron valensi tersebut berbaur membentuk awan elektron yang menyelimuti ion-ion positif logam.
2.2.6 Penyebab Korosi
Bahan-bahan korosif (yang dapat menyebabkan korosi) terdiri atas asam, basa, serta garam, baik dalam bentuk senyawa an-organik maupun organik.
Penguapan dan pelepasan bahan-bahan korosif ke udara inilah yang dapat mempercepat proses korosi. Udara dalam ruangan yang terlalu asam atau basa dapat mempercepat proses korosi peralatan elektronik yang ada dalam ruangan tersebut. Faktor yang berpengaruh terhadap korosi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu faktor internal dan eksternal.
a. Faktor internal
Faktor internal yaitu faktor dari bahan itu sendiri. Faktor dari bahan meliputi kemurnian bahan, struktur bahan, bentuk kristal, teknik pencampuran bahan dan sebagainya
b. Faktor eksternal
Faktor eksternal yaitu faktor dari lingkungan yang meliputi tingkat pencemaran udara, suhu, kelembapan, keberadaan zat-zat kimia bersifat korosif dan sebagainya.
2.2.7 Jenis – Jenis Korosi
Berdasarkan bentuk kerusakan yang dihasilkan, penyebab korosi, lingkungan tempat terjadinya korosi, maupun jenis material yang diserang, diantaranya adalah :
1. Korosi Seragam
Korosi Seragam adalah korosi yang terjadi pada permukaan logam akibat reaksi kimia karena pH air yang rendah dan udara yang lembab, sehingga makin lama logam makin menipis. Biasanya ini terjadi pada pelat baja. Kerusakan material yang diakibatkan oleh korosi merata yang ditunjukkan pada Tabel 2. 1
Tabel 2. 1 Kerusakan material oleh korosi merata
(Sumber : tabel fontana (1987: 172))
Ketahanan
Korosi jenis ini bisa dicegah dengan cara :
a. Dilapisi dengan bahan yang mengandung inhibitor seperti gemuk.
b. Untuk jangka pemakaian yang lebih lama disarankan diberi logam berpaduan tembaga 0,4%.
c. Dengan melakukan pelapisan dengan cat atau dengan material yang lebih anodik.
d. Diberi proteksi katodik.
Gambar 2.4 Korosi seragam (adimasmc, 2014)
2. Korosi Erosi
Korosi Erosi adalah proses korosi yang bersamaan dengan erosi/abrasi. Korosi jenis ini biasanya menyerang peralatan yang lingkungannya adalah fluida yang bergerak, seperti aliran dalam pipa ataupun hantaman dan gerusan ombak. Keganasan fluida korosif yang bergerak diperhebat oleh adanya dua fase atau lebih dalam fluida tersebut, misalnya adanya fase liquid dan gas secara bersamaan, adanya fase liquid dan solid secara bersamaan ataupun adanya fase liquid, gas dan solid secara bersamaan. Kavitasi adalah contoh korosi erosi pada peralatan yang berputar di lingkungan fluida yang bergerak, seperti impeller pompa dan sudu-sudu turbin. Erosion / abrassion corrosion juga terjadi di saluran gas-gas hasil pembakaran. Korosi jenis ini dapat dicegah dengan cara :
a. Pilih bahan yang homogen b. Diberi coating dari zat agresif
c. Diberikan inhibitor
d. Hindari aliran fluida yang terlalu keras e. Menghindari partikel abrasive pada fluida
Gambar 2.5 Korosi erosi (adimasmc, 2014) 3. Korosi Galvanis
Korosi Galvanis adalah jenis korosi yang terjadi ketika dua macam logam yang berbeda berkontak secara langsung dalam media korosif.
Logam yang memiliki potensial korosi lebih tinggi akan terkorosi lebih hebat dari pada kalau ia sendirian dan tidak dihubungkan langsung dengan logam yang memiliki potensial korosi yang lebih rendah. Logam yang memiliki potensial korosi yang lebih rendah akan kurang terkorosi dari pada satu jenis dan tidak dihubungkan langsung dengan logam yang memiliki potensial korosi yang lebih tinggi.
Gambar 2.6 Korosi galvanis (adimasmc, 2014)
4. Korosi Retak Tegangan
Korosi retak tegangan adalah proses retak yang memerlukan aksi secara bersamaan dari bahan perusak (karat) dan berkelanjutan dengan tegangan tarik. Proses ini tidak termasuk pengurangan bagian yang terkorosi akibat gagal oleh patahan cepat. Hal ini juga termasuk intercrystalline atau transkristalin korosi, yang dapat menghancurkan paduan tanpa tegangan yang diberikan atau tegangan sisa. Korosi retak tegangan dapat terjadi dalam kombinasi dengan penggetasan hidrogen. Proses ini terjadi akibat adanya hubungan dari 3 faktor komponen, yaitu Bahan rentan terhadap korosi, adanya larutan elektrolit (lingkungan) dan adanya tegangan. Sebagai contoh, tembaga dan paduan rentan terhadap senyawa amonia, baja ringan rentan terhadap larutan alkalin dan baja tahan karat rentan terhadap klorida.
Cara pengendalian korosi tegangan adalah:
a. Turunkan besarnya tegangan b. Turunkan tegangan sisa termal
c. Kurangi beban luar atau perbesar area potongan d. Penggunaan inhibitor.
Gambar 2.7 Korosi tegangan (adimasmc, 2014)
5. Korosi Lelah
Korosi ini terjadi karena logam mendapatkan beban siklus terus berulang sehingga semakin lama logam akan mengalami patah karena terjadi kelelahan logam. Korosi ini biasanya terjadi pada turbin uap, pengeboran minyak dan propeller kapal.
Korosi jenis ini dapat dicegah dengan cara :
a. menggunakan inhibitor.
b. memilih bahan yang tepat atau memilih bahan yang tahan korosi.
Gambar 2.8 Korosi lelah (adimasmc, 2014)
6. Korosi Sumur
Korosi Sumur Adalah korosi yang disebabkan karena komposisi logam yang tidak homogen dimana pada daerah batas timbul korosi yang berbentuk sumur. Korosi jenis ini dapat dicegah dengan cara :
a. Pilih bahan yang homogen b. Diberikan inhibitor
c. Diberikan coating dari zat agresif
Gambar 2.9 Korosi sumur (adimasmc, 2014)
7. Korosi Celah
Korosi celah ialah sel korosi yang diakibatkan oleh perbedaan konsentrasi zat asam. Karat ini terjadi, karena celah sempit terisi dengan elektrolit (air dengan pH rendah) maka terjadilah suatu sel korosi dengan katodanya permukaan sebelah luar celah yang basa dengan air yang lebih banyak mengandung zat asam dari pada bagian sebelah dalam celah yang sedikit mengandung zat asam sehingga bersifat anodic. Korosi celah termasuk jenis korosi lokal. Jenis korosi ini terjadi pada celah-celah konstruksi, seperti kaki-kaki konstruksi, drum maupun tabung gas. Korosi jenis ini juga dapat dilihat pada celah antara tube dari Heat Exchanger dengan tubesheet-nya. Cara pengendalian korosi celah adalah sebagai berikut :
a. Hindari pemakaian sambungan paku keeling atau baut, gunakan sambungan las.
b. Gunakan gasket non absorbing.
c. Usahakan menghindari daerah dengan aliran udara.
d. Dikeringkan bagian yang basah.
e. Dibersihkan kotoran yang ada.
Gambar 2.10 Korosi celah (adimasmc, 2014) 8. Korosi Renggangan
Korosi ini terjadi karena pemberian tarikan atau kompresi yang melebihi batas ketentuannya. Kegagalan ini sering disebut Retak Karat Regangan atau stress corrosion cracking. Sifat jenis retak ini sangat spontan (tiba-tiba terjadinya), regangan biasanya besifat internal yang disebabkan oleh perlakuan yang diterapkan seperti bentukan dingin atau merupakan sisa hasil pengerjaan, seperti pengelingan atau pengepresan dan lai-lain. Untuk material kuningan disebut season cracking, dan pada material low carbon steel disebut caustic embrittlement (kerapuhan basa), karat ini terjadi sangat cepat dalam hitungan menit, yakni jika semua persyaratan untuk terjadinya karat regangan ini telah terpenuhi pada suatu momen tertentu yakni adanya
Korosi ini terjadi karena pemberian tarikan atau kompresi yang melebihi batas ketentuannya. Kegagalan ini sering disebut Retak Karat Regangan atau stress corrosion cracking. Sifat jenis retak ini sangat spontan (tiba-tiba terjadinya), regangan biasanya besifat internal yang disebabkan oleh perlakuan yang diterapkan seperti bentukan dingin atau merupakan sisa hasil pengerjaan, seperti pengelingan atau pengepresan dan lai-lain. Untuk material kuningan disebut season cracking, dan pada material low carbon steel disebut caustic embrittlement (kerapuhan basa), karat ini terjadi sangat cepat dalam hitungan menit, yakni jika semua persyaratan untuk terjadinya karat regangan ini telah terpenuhi pada suatu momen tertentu yakni adanya