BAB III. UPAYA MENDALAMI PENGHAYATAN SPIRITUALITAS
B. Penelitian tentang Upaya Mendalami Penghayatan Spiritualitas
2. Laporan Hasil Penelitian dan Pembahasannya
Sebelum menyampaikan hasil penelitian, penulis hendak menyampaikan tentang teknik penelitian kualitatif. Sugiyono (2017:249) menyatakan, “dalam penelitian kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart, dan sejenisnya.” Miles dan Huberman (1984) dalam Sugiyono (2017:249) menyatakan, ”The most frequent from of display data for qualitative research data in the past has been narrative text.”(yang paling sering digunakan untuk menyajikan data penelitian kualitatif adalah dengan teks yang bersifat naratif). Berdasarkan penjelasan tersebut peneliti hendak melaporkan secara singkat hasil penelitian dalam bentuk narasi.
Wawancara dilaksanakan dengan menggunakan teknik wawancara semi terstruktur terhadap 4 orang informan yang merepresentasikan 4 komunitas suster SJD yang ada di Delegasi Indonesia dan karya pelayanan yang mereka hidupi. Informan yang berhasil diwawancarai secara interaktif penulis lakukan kodefikasi dengan menggunakan inisial, yaitu R1, R2, R3 dan R4.
Wawancara dengan informan berinisial R1 dilaksanakan pada hari Minggu, 1 Maret 2020; informan berinisial R2 dilaksanakan pada hari Rabu, 29
April 2020; informan R3 dilaksanakan pada hari Minggu, 8 Maret 2020 sedangkan informan dengan inisial R4 dilaksanakan pada hari Selasa 17 Maret 2020 dan penulis melakukan cross check pada anggota komunitas yang lain dengan inisial S1 dan S2 pada hari Selasa, 5 Mei 2020
Data yang tidak terungkap melalui wawancara, penulis lengkapi dengan data dari observasi melalui keterlibatan langsung sebagai anggota dalam rentang waktu pada bulan Maret sampai dengan Mei. Untuk memperkuat substansi data hasil wawancara dan observasi, penulis melakukan penelusuran terhadap dokumen dan arsip yang ada. Data hasil penelitian ini dikemukakan menurut fokus pertanyaan penelitian.
a. Seberapa mendalam para Suster SJD sudah menghidupi spiritualitas kongregasi
Dalam rangka menggali informasi mengenai gambaran sejauh mana penghayatan Spiritualitas Kongregasi SJD Delegasi Indonesia, peneliti menyampaikan beberapa pertanyaan sebagai berikut: apa yang dirasakan responden melalui pengalaman dalam upaya mendalami dan menghidupi spiritualitas kongregasi? Apakah upaya tersebut telah membantu responden menyadari tanggung jawabnya sebagai anggota kongregasi? bagaimana sosok biarawati yang diharapkan oleh responden? Dan bagaimana responden memahami acuan penghayatan Spiritualitas kongregasi SJD?
Menurut penuturan RI dan R3 mereka merasa puas dengan berbagai upaya pemahaman terkait penghayatan spiritualitas kongregasi yang sudah
terlaksana. Di lain pihak R2 dan R4 merasa masih perlu peningkatan meskipun kongregasi sudah melaksanakan berbagai kegiatan terkait. Bagi mereka kegiatan terkait masih dalam proses yang harus terus-menerus diupayakan dan dikembangkan. R2 juga mengungkapkan sudah ada kemajuan di zaman sekarang ini. Dari antara mereka ada yang memang sungguh menghidupi dan memperkenalkan spiritualitas kongregasi kepada umat. Alasan memperkenalkan spiritualitas kongregasi kepada umat terutama karena hal tersebut berkaitan dengan kekayaan Gereja yang hidup. Data yang diperoleh tersebut menunjukkan hasil perlunya peningkatan upaya yang ditempuh, sebab sebagian menyatakan sudah puas dan sebagaian informan menyatakan masih perlu peningkatan atas pelaksanaan upaya memahami dan menghidupi spiritualitas kongregasi selain itu juga responden menyadari bawha upaya tersebut merupakan proses yang harus terus-menerus diupayakan dan dikembangkan.
Dalam kaitan dengan upaya tersebut, semua informan menyatakan bahwa pentingnya saling membantu menghidupkan kesadaran untuk memelihara warisan rohani dari pendiri. R2 secara lebih jelas menegaskan perlunya perhatian khusus terhadap upaya-upaya itu. Sebab, realitas perkembangan zaman juga berdampak pada kendurnya penghayatan warisan rohani pendiri terutama di Delegasi Indonesia. Orang zaman sekarang lebih suka dilayani daripada melayani. Hal serupa diungkapkan R3 sebagai anggota muda di masa kini. Dia sadar terhadap tantangan zaman sekarang sangat mempengaruhi pola penghayatan. Karena itu, tugas melestarikan warisan rohani menjadi tanggung jawab bersama. Hasil
wawancara di atas menunjukkan hasil yang positif karena seluruhnya menyatakan terbantu menyadari tanggung jawabnya untuk melestarikan dan menghidupi spiritualitas kongregasi sebagai warisan rohani melalui upaya-upaya yang dilaksanakan kongregasi.
R1 mengungkapkan sosok biarawati yang diharapkan dan yang dicita-citakannya adalah sosok yang mampu memberikan teladan dan menggerakkan umat yang dilayaninya. Harapan ini menekankan pada penghayatan dan pengabdian dalam hidup sehari-hari. Di mana keterbukaan untuk melayani sampai tuntas demi menuntun orang kepada kehidupan. R2 menyatakan bahwa sosok biarawati tidak harus menguasai ilmu pengetahuan. Namun perlu orang yang tulus dan mau menyatu dengan umat yang dilayani, peka terhadap pengakuan martabat manusia khususnya orang yang paling miskin, terbuka dan tahu apa yang harus dilakukan. R3 menyampaikan sosok biarawati yang diharapkan adalah sosok yang bertanggung jawab. Sosok yang mampu membangkitkan iman dan mampu mengungkapkan imannya tersebut dengan peduli pada mereka yang lemah dan miskin. Seorang biarawati yang mampu mempraktekkan hidup sesuai dengan spiritualitas yang dihayatinya. R4 menyatakan sosok biarawati yang diharapkan seorang biarawati yang mampu merespon perkembangan zaman dalam arti terbuka pada realitas zaman sekarang demi kemajuan kongregasi. Data yang diperoleh melalui wawancara menunjukkan hasil positif, sebab masing- masing informan mengungkapkan hal yang paling utama sosok biarawati yang
memungkinkan untuk mewartakan penghayatan spritualitas kongregasi sesuai dengan perkembangan zaman demi kemajuan kongregasi kedepan.
Mengenai pemahaman akan acuan dalam upaya-upaya memahami dan mendalami penghayatan spiritualitas kongregasi SJD, semua responden mengutarakan hal yang sama. Acuan dasarnya adalah Injil sabda Allah dan Pedoman Hidup. R2 menuturkan bahwa kita memiliki spiritualitas yang sangat indah. Spiritualitas inkarnasi Yesus dalam diri orang miskin. Tetapi itu belum sepenuhnya dihayati secara benar. Masalahnya para Suster belum sungguh memahami sampai kepada intinya, ada kesan terkadang masih sebatas pengetahuan dan aturan yang harus dilakukan, belum sungguh dihayati secara mendalam. Maka kharisma dan visi-misi juga menjadi penting. R3 juga mengutarakan hal senada terkait acuan yang tak kalah penting adalah Kharisma dan Visi-Misi Kongregasi yang menjadi motor penggerak secara nyata dalam karya hidup yang dihayati kongregasi perlu diperdalam lagi. Sedangkan R4 menyatakan acuan dasar selain sabda Allah dalam Injil dan pedoman hidup yang menjadi acuan juga ajaran Gereja dan orientasi hasil kapitel. Hasil wawancara ini dapat dikatakan positif karena informan memahami acuan dasar penghayatan hidup mereka dan menyadari akan pentingnya karisma dan visi-misi kongregasi yang menjadi motor penggerak secara nyata dalam karya hidup yang dihayati kongregasi masih perlu diperdalam lagi.
b. Faktor pendukung dan penghambat upaya untuk mendalami dan menghidupi Spiritualitas Kongregasi Suster-suster Jeanne Delanoue di zaman sekarang.
Dalam rangka mendapatkan informasi untuk mengetahui secara mendalam mengenai faktor pendukung dan penghambat upaya untuk memahami dan menghidupi spiritualitas Kongregasi Suster-suster Jeanne Delanoue di zaman sekarang, peneliti mengajukan beberapa pertanyaan kepada informan sebagai berikut: Apa faktor pendukung dan penghambat upaya untuk memahami dan menghidupi spiritualitas kongregasi Suster SJD di Delegasi Indonesia zaman sekarang? Niat apa yang mau dibangun para suster dalam upaya menghidupi spiritualitas kongerasi di delegasi zaman sekarang agar dampaknya semakin menggema dan dirasakan oleh banyak orang?
Menurut R1 yang menjadi faktor pendukung salah satunya adalah adanya kesadaran pentingnya memelihara warisan rohani dari pendiri dan keluarga pemerhati panggilan yang membantu para suster. Pernyataan tersebut senada dengan pernyataan R2 yakni ada kesadaran para suster untuk memelihara spiritualitas sebagai warisan rohani dari pendiri. Selain itu, juga adanya peran Gereja yang memberi tempat bagi para suster untuk mewujudkannya dalam pelayanan yang dihidupi Gereja setempat. Karena tanpa adanya kerjasama dengan Gereja spiritualitas kongregasi SJD tidak hidup di Indonesia. Sedangkan pernyataan R3 senada dengan R4 yang mengungkapkan adanya suster orang Indonesia yang telah masuk dan bergabung menjadi anggota kongregasi SJD di Delegasi Indonesia. Selain faktor-faktor tersebut di atas, dampak langsung yang
dirasakan menjadi pendukung upaya penghayatan spiritualitas kongregasi ini, bukan saja hidup mereka yang sederhana menjadi kesaksian hidup dalam Gereja, melainkan juga membantu mereka lebih dekat dengan orang-orang yang sederhana (miskin dan tersingkir). Dalam hal ini R4 menyampaikan pengalamannya bila kesederhanaan yang dihidupinya telah membantu orang sederhana berani lebih dekat untuk menyampaikan kesulitan maupun kebutuhan pelayanan yang mendesak untuk ditanggapi. R3 menambahkan situasi kemiskinan zaman ini semakin beragam. Hal ini merupakan peluang bagi mereka kalau mau sungguh peka dan terbuka untuk sungguh-sungguh menghidupi spiritualitas pengabdian yang diwarisi dari pendiri.
Sedangkan yang menjadi penghambat upaya untuk memahami dan menghidupi spiritualitas kongregasi adalah pribadi para suster sendiri. Semua informan menyatakan hal yang serupa mengenai hal ini. R1 mengungkapkan masih ada pemahaman yang kurang mendalam sehingga mempengaruhi penghayatan. Pribadi-pribadi yang dianggap sebagai penghambat adalah anggota kongregasi yang lebih mementingkan diri sendiri, pribadi yang mencari keuntungan melalui tanggung jawab kepemimpinannya (struktur kepemimpinan kurang melibatkan partisipasi anggota). Secara lebih rinci R2 menyampaikan bahwa anggota kongregasi di Delegasi Indonesia memiliki berbagai latar belakang yang berbeda. Baik itu latar belakang keluarga, suku, budaya, taraf pendidikan dan terutama kepribadian yang semuanya itu mempengaruhi pemahaman dan penghayatan spiritualitas kongregasi yang mau dihidupi bersama. Oleh karena itu,
harus ada pembaruan untuk membuat para suster sungguh-sungguh menyadari anugerah Allah dalam penghayatan spiritualitas kongregasi.
Adapun niat yang mau dibangun oleh informan adalah sebagai berikut. R1 mau selalu menyadari tugasnya dan menghidupinya sebagai pengabdian kepada Allah. R2 menyampaikan niatnya untuk waktu sekarang menerapkan pemahaman spiritualitas kongregasi pada calon yang dipercayakan kepadanya dan memperdalam penghayatan bersama anggota yang baru dalam praktek hidup sehari-hari. R3 menyampaikan niatnya mau berusaha bersama dengan rahmat Allah untuk menjadi pribadi yang dewasa dan bebas, berdamai dengan diri agar dapat melayani Yesus dengan hati damai dan bebas serta sungguh beriman teguh pada Allah Bapa dengan kerendahan hati. R4 menyatakan niatnya mau menghidupi spiritualitas kongregasi dan ambil bagian mengembangkannya. Untuk memperdalam hasil penelitian di atas, maka sesuai dengan hasil penelitian berdasarkan wawancara yang telah dilaksanakan, di bawah ini akan diuraikan pembahasan sebagai berikut.
Data wawancara dengan responden menunjukkan hasil yang positif karena informan sebagai pelaku berharap menjadi pribadi yang terbuka. Keterbukaan pada tanggungjawab memelihara warisan rohani, mengembangkan agar warisan tersebut bergema di tengah umat dan terbuka untuk menyesuaikan dengan kebutuhan zaman sekarang.
Pada bab sebelumnya telah disinggung tentang gagasan Paus Yohanes Paulus II dalam VC 110, “Sejarah agung yang masih harus diselesaikan!
Pandanglah masa depan, ke mana Roh Kudus mengutus anda untuk melaksanakan karya-karya yang bahkan lebih agung.” Pendapat ini sejalan dengan harapan responden yang mengarahkan diri pada masa depan sebagai generasi penerus kongregasi SJD. Sr Cristian dalam Pedoman Hidup (1968:7) mengungkapkan harapannya yakni “Sejarah panjang kongregasi sejak disahkannya sampai sekarang ini merupakan dasar yang dihidupi abdi-abdi orang miskin yang dirumuskan dalam kharisma sebagai semangat yang kemudian diserahkan untuk terus-menerus dihidupi.” Hasil wawancara menunjukkan hal yang sangat positif, karena responden merasa harus bertanggung jawab melestarikan warisan rohani dari pendiri.
Pendiri kongregasi SJD sebagai penggagas spiritualitas pengabdian kepada Yesus Kristus dalam diri orang-orang miskin, telah ambil bagian dalam mengarahkan generasi penerusnya untuk ambil bagian dalam misi Yesus menyelamatkan dunia. Hal tersebut juga diperkuat dengan hasil wawancara bahwa penghayatan spiritualitas tersebut sejalan dengan pelayanan Gereja. Hal ini senada dengan KHK 783, bahwa anggota-anggota tarekat hidup bakti berkarya secara khusus dengan cara yang khas bagi pelayanan Gereja.
Melalui penelusuran data dan observasi, penulis melihat kebenaran hal tersebut. Namun untuk lebih meyakinkan, penulis melakukan cross check kepada sumber infroman validasi mengenai kebenaran informasi dengan mewawancarai dua suster dari komunitas yang berbeda. Dua suster tersebut penulis kodevikasi
dengan kode (S1) dan (S2) hal ini dikarenakan mereka berkaitan langsung dengan hidup dan karya pelayanan para suster.
Dalam hal ini penulis menanyakan kepada sumber validasi bagaimana tanggapannya mengenai upaya-upaya untuk mendalami penghayatan spiritualitas kongregasi yang diselenggarakan selama ini? Menurut S1 pelaksanaan upaya untuk memahami penghayatan spiritualitas kongregasi memang sudah dilaksanakan dan tetap menjadi PR karena hal itu perlu dihidupi secara terus menerus. Tidak dapat sekali jadi sebab spiritualitas kongregasi menyangkut dasar hidup. Pernyataan S1 tersebut mendukung apa yang diungkapkan oleh R2 dan R3. S2 mengungkapkan pelaksanaan upaya mendalami penghayatan spiritualitas kongregsi sebenarnya selalu digali. Lebih lanjut S2 menambahkan bahwa upaya tersebut tidak selalu berfokus pada waktu khusus namun kegitan-kegiatan sebenarnya sudah mengarahkan pada upaya itu sendiri namun cara menagkap dang menghayatinya itu yang sering berbeda.
Berkaitan dengan upaya tersebut penulis menayakan apakah upaya tersebut sejauh ini sungguh membantu para suster ? Dan bagaimana dampak upaya mendalami perghayatan spiriualitas kongregasi yang dapat dilihat? S1 mengungkapakan bahwa upaya-upaya yang diselenggarakan sungguh terlihat hasilnya membantu para suster menyadari tanggung jawab mereka untuk melestarikan spiritualitas sebagai wariasan rohani dari pendiri, yang paling menonjol ada kedekatan dengan orang sederhana dan terlibat dengan cara hidup mereka yang terus di upayakan. S2 juga mengungkapakan sebagai anggota
komunitas dalam kongregasi SJD tentu sangat terbantu untuk menyadari tugas-tugas berangkat dari semangat kongregasi yakni semangat untuk mengabdi Kristus dalam diri orang sederhana di mana pun diutusan hal ini sesuai dengan apa yang di ungkapkan R3
Berdasarkan tanggapan para informan penulis menanyakan apakah memang sosok biarawati yang diharapkan tersebut menjadi harapan yang dicita-citakan kongregasi? S2 mengatakan bahwa saat ini memang lebih diharapan bagi para suster terutama untuk generasi penerus sosok-sosok yang lebih menjiwai semangat kongregasi baik itu bertanggungjawab, lebih dewasa maupun lebih menghayati pengabdian kongregasi dan lain sebagainya karena berkaitan dengan tantangan situasi orang muda yang datang juga menantang pembentukan. S2 juga membenarkan dan menyatakan bahwa sosok biarawati yang diharapakn tersebut menjadi harapan orang-orang yang mendukung panggilan mereka dan yang mereka layani apa yang diungkapkan sumber validasi ini menguatkan informasi dari para informan.
Terkait pemahaman acuan penghayatan spiritualitas ada tanggapan bahwa sekarang ini belum sepenuhnya dipahami namun secara teori cukup dimengerti terutama oleh generasi muda penulis menayakan bagaimana kenyataan hal tersebut? S1 mengungkapakan “memang benar, belum semua acuan sepenuhnya dipahami secara mendalam terutama generasi muda di Delegasi Indonesia saat ini seperti yang mereka ungkapkan pemahaman mereka lebih secara teori iya itu benar”. Peryataan S1 ini mendukung hasil wawancara dengan
R2, R3 dan R4. Sedangkan S2 mengungkapkan, memang pemahaman belum sepenuhnya. S2 menjelaskan lebih lanjut bahwa genersi sekarang ini secara teoritis mereka lebih mudah menangkap namun untuk pelaksanaan mereka sangat membutuhkan keteladanan maka dalam penerapan yang utama adalah berjalan bersama untuk lebih menghidupinya. Apa yang diungkapakan S2 ini juga sesuai dengan yang diyatakan R2.
Sehubungan dengan kehadiran para suster di delegasi Idonesia zaman sekarang penulis menayakan tentang bagaimana tanggapan umat selama ini ? menurut S1 dan S2 dapat dilihat dari berbagai macam yang diberikan dan diterima oleh para suster baik di tengah umat, Gereja maupun di tengah masyarakat. Terutama di tengah umat banyak dukungan doa dan kesempatan berkolaborasi dalam pelayanan. Yang riil ada dukungan baik materiil maupun spirituil terutama kebutuhan pelayanan bagi mereka yang sangat membutuhkan dan yang mereka jumpai.
Melihat perkembangan hidup kongregasi penulis menanyakan apakah niat-niat yang dibangun para imforman hal tersebut sungguh membantu? S1 menuturkan “memang benar ada niat yang dibangun baik itu secara pribadi maupun bersama karena inilah yang mendorong langkah kongregasi lebih maju”. Hal tersebut diperkuat S2 yang mengungkapkan memang ada niat yang dibagun dan niat-niat itulah yang memacu mereka untuk maju mengupayakan penghayatan spiritualitas yang mendalam. Kareka niat-niat mendorong membuahkan kesaksian untuk dirasakan semua orang yang dilayani dan semakin maju dalam segala segi.
Baik segi pengikut, karya yang sesuai keadaan, serta keterbukaan pada perubahan zaman. Sehingga spiritualitas ini semakin dikenal dan dihidupi banyak orang sebagai kekayaan bersama di dalam Gereja.