BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.2. Kajian Teoritis
2.2.2. Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP)
Laporan keuangan bukanlah semata kewajiban dari instansi-intansi swasta saja, pemerintah juga memiliki kewajiban untuk membuat laporan keuangannya. Hal ini untuk mewujudkan akuntabilitas keuangan negara. Namun laporan keuangan pemerintah memiliki karakteristik tersendiri bila dibandingkan dengan
laporan keuangan yang berlaku untuk umum. Laporan keuangan pemerintah disusun berdasarkan standard yang telah ditetapkan dalam Standar Akuntansi Pemerintah. Menteri Keuangan selaku pengelola fiskal dan Bendahara Umum Negara menyusun laporan pertanggungjawaban berupa laporan keuangan tentang pelaksanaan APBN secara tepat waktu dan memenuhi ketentuan-ketentuan sebagai berikut:
1. Laporan Keuangan Pemerintah Pusat dihasilkan melalui proses akuntansi, yang terdiri dari : Laporan Realisasi Anggaran (LRA), Neraca, dan Laporan Arus Kas (LAK) disertai dengan Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK).
2. Laporan Keuangan Pemerintah Pusat disajikan sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP).
3. Laporan Keuangan Pemerintah Pusat yang dihasilkan melalui Sistem Pengendalian Intern yang memadai.
Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) merupakan laporan konsolidasi dari LKPP tingkat Kuasa BUN dari seluruh KPPN. LKPP disampaikan kepada DPR sebagai bentuk pertanggungjawaban atas pelaksanaan APBN oleh pemerintah. Sebelum disampaikan kepada DPR, LKPP tersebut diaudit terlebih dahulu oleh BPK. Sesuai Pasal 30 UU No. 17/2003, Laporan Keuangan Pemerintah terdiri dari:
1. Laporan Realisasi Anggaran (APBN) 2. Neraca
3. Laporan Arus Kas
4. Catatan atas Laporan Keuangan 1) Laporan Realisasi Anggaran (LRA)
Merupakan Laporan Realisasi Anggaran (LRA) merupakan salah satu komponen laporan keuangan pemerintah yang menyajikan informasi tentang realisasi dan anggaran entitas pelaporan secara tersanding untuk suatu periode tertentu. LRA menyajikan ikhtisar sumber, alokasi dan penggunaan sumber daya ekonomi yang dikelola oleh pemerintah pusat/daerah dalam satu periode pelaporan Laporan realisasi anggaran mengungkapkan kegiatan keuangan pemerintah pusat/daerah yang menunjukkan ketaatan terhadap APBN/APBD. Laporan Realisasi Anggaran menyajikan informasi realisasi disandingkan dgn anggaran dalam 1 (satu) periode, meliputi: a) pendapatan, b) belanja, c) transfer, d) surplus/defisit dan e) pembiayaan
Berikut ini merupakan contoh struktur APBN dan realisasinya:
Tabel 2.1. Struktur APBN Dan Realisasinya
APBN Realisasi APBN
A Pendapatan 900,00 950,00
B Belanja (Termasuk Transfer) 1.000,00 1.100,00 C Surplus/Defisit (A - B) (100,00) (150,00) D Penerimaan Pembiayaan 300,00 350,00 E Pengeluaran Pembiayaan (200,00) (150,00) F Pembiayaan Neto (D - E) 100,00 200,00
G SILPA (F - C) 50,00
Sumber LKPP KPPN Sidikalang per 31 Desember 2011
Neraca menggambarkan posisi keuangan pemerintah mengenai aset, kewajiban, dan ekuitas dana pada tanggal tertentu.
Isi neraca: 1. Aset Lancar
a. Kas dan setara kas b. Investasi Jangka Pendek c. Piutang
d. Persediaan 2. Aset Non Lancar
a. Inverstasi Jangka Panjang b. Aset Tetap
c. Ast lainnya
3. Kewajiban Jangka Pendek 4. Kewajiban Jangka Panjang 5. Ekuitas Dana
a. Ekuitas Dana Lancar b. Ekuitas Dana Investasi 3) Laporan Arus Kas (LAK)
Menyajikan informasi mengenai sumber, penggunaan, perubahan kas dan setara kas pada tanggal pelaporan. Memuat seluruh penerimaan dan pengeluaran kas baik yang dianggarkan/tidak dianggarkan. Hanya disajikan unit yang memiliki fungsi perbendaharaan;
Selain itu Laporan Arus Kas juga memberi informasi tentang:
a) Arus masuk kas (pendapatan, penerimaan pembiayaan, penerimaan PFK); b) Arus keluar kas (belanja, pengeluaran pembiayaan, pengeluaran PFK); c) Saldo awal kas;
Ada beberapa manfaat Laporan Arus Kas yang antara lain: a) Indikator yang akan datang;
b) Alat menilai kecermatan estimasi penerimaan kas; c) Alat pertanggungjawaban;
d) Bahan evaluasi aktiva bersih/ekuitas Struktur Laporan Arus Kas:
Penyajian berdasarkan aktivitas: a) Aktivitas operasi;
b) investasi aset non keuangan; c) pembiayaan;
d) nonanggaran.
4) Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK)
a) CaLK disusun untuk menghindari kesalahpahaman pengguna yang beragam dalam memaknai LRA, Neraca, dan LAK
b) Catatan atas Laporan Keuangan dimaksudkan agar laporan keuangan dapat dipahami oleh pembaca secara luas, tidak terbatas hanya untuk pembaca tertentu ataupun manajemen entitas pelaporan.
c) CaLK tidak terstruktur, tetapi berpotensi menjelaskan LRA, Neraca, dan LAK sehingga dapat dengan mudah dibaca oleh pengguna umum yang awam akuntansi tetapi penyusunan CaLK sangat dipengaruhi subjektivitas tentang seberapa banyak informasi yang dianggap memadai.
a. Manfaat Laporan Keuangan Pemerintah
Laporan keuangan yang disusun oleh pemerintah setiap tahunnya memiliki manfaat yang sangat krusial. Baik bagi pihak-pihak internal pemerintah maupun pihak- pihak eksternal. Dengan adanya laporan keuangan akuntabilitas pemerintah jadi lebih
transparan sehingga jalannya pemerintahan dapat lebih terkontrol oleh masyarakat. Adapun manfaat Laporan keuangan adalah sebagai berikut:
5) Kebutuhan terhada p Laporan Keuangan;
a) Informasi keuangan merupakan suatu kebutuhan bagi para pengguna
(stakeholders);
b) Laporan keuangan disajikan kepada stakeholder untuk membantu mereka dalam mengambil keputusan sosial, politik, dan ekonomi sehingga keputusan yang diambil lebih berkualitas dan tepat sasaran;
c) Laporan keuangan merupakan cermin untuk melihat kondisi keuangan republik tercinta ini;
d) Neraca merupakan cermin utama untuk melihat apa yang ada di republik, terutama menyangkut hal-hal yang salah urus atau hal-hal yang tidak diurus maupun yang belum diurus;
6) Laporan Keuangan untuk Akuntabilitas Publik
a) Laporan keuangan merupakan gambaran adanya akuntabilitas dari para pemangku kekuasaan.
b) Akuntabilitas adalah “amanah” berarti pemangku kekuasaan adalah mereka yang terpercaya dan bertanggung jawab dalam mengelola sumberdaya publik yang diberikan kepadanya;
c) Tidakadanya laporan keuangan menunjukkan lemahnya akuntabilitas;
d) Lemahnya akuntabilitas megindikasikan lemahnya sistem, selanjutnya berimbas pada membudayanya korupsi sistematik;
7) Laporan keuangan untuk transparansi.
a) Era keterbukaan, teknologi informasi & komunikasi sedemikian maju, masyarakat semakin mudah untuk mendapatkan berbagai informasi dengan biaya relatif murah.
b) Setiap rupiah uang publik harus dipertanggung-jawabkan kepada masyarakat yang telah memberikan uangnya untuk membiayai pembangunan dan operasional pemerintahan;
c) Dalam hal pengelolaan uang publik, masyarakat semakin cerdas menuntut adanya transparansi.
d) Transparansi pengelolaan keuangan pemerintah merupakan tuntutan publik yang harus direspon secara positif.
b. Pengguna Laporan Keuangan Pemerintah 1. Masyarakat;
Tujuan penyelenggaraan pemerintah adalah untuk mensejahterakan masyarakat, setiap kegiatan yang dilakukan pemerintah hendaknya bertujuan dan mengutamakan kepentingan masyarakat. Oleh sebab itulah dengan adanya laporan keuangan masyarakat dapat dengan mudah menglihat bagaimana proses pemerintahan yang telah dilakukan oleh pemerintah apakah sudah sesuai dengan kepentingan masyarakat sehingga hal ini juga dapat berdampak politis bagi presiden sebagai kepala pemerintahan.
2. Para wakil rakyat;
Wakil rakyat sebagai pihak legislatif dan pengontrol jalannya pemerintahan tentunya memiliki kepentingan yang besar terhadap laporan keuangan pemerintah. Dari laporan keuangan inilah berbagai informasi mengenai jalannya pemerintahan dapat diperoleh. Sehingga kontrol dari para wakil rakyat menjadi lebih efisien. Laporan keuangan juga sebagai bentuk tanggungjawab
pelaksanaan anggaran negara yang disampaikan kepada anggota dewan wakil rakyat.
3. Lembaga pengawas, dan lembaga pemeriksa;
Agar jalannya pemerintahan dapat berjalan dengan baik maka diperlukan lembaga-lembaga pengawas yang bertugas mengontrol dan mengawasi jalannya pelaksanaan pemerintahan tersebut, terutama dalam hal pelaksanaan anggaran belanja agar tidak terjadi penyimpangan-penyimpangan terhadap peraturan perudang-undangan yang berlaku. Laporan keuangan akan sangat berguna bagi para lembaga pengawas internal maupun eksternal dalam melaksanakan tugasnya. 4. Pemberi atau yang berperan dalam proses donasi, investasi, dan pinjaman
Laporan keuangan pemerintah berisikan ber bagai informasi tentang keadaan keuangan negara pada saat tersebut, sedikit banyak laporan keuangan juga dapat menggambarkan keadaan perekonomian dinegara tersebut sehingga laporan keuangan dapat dijadikan sumber informasi mengenai seberapa baik pengelolaan suatu anggaran disuatau negara. Para donatur dan investor dapat menggunakan laporan keuangan pemerintah sebagai bahan pertimbangan sebelum melakukan niatnya
5. Manajemen pemerintah
Dari laporan keuangan yang dihasilkan setiap tahun dapat dijadikan sebagai informasi manajemen yang penting bagi pemerintah dalam menentukan kebijakan-kebijakan pemerintah selanjutnya. Laporan keuangan dapat dijadikan alat evaluasi kinerja sehingga segala kekurangan dan kelebihan yang telah dicapai dapat teridentifikasi dengan baik.
Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat (SAPP) adalah sistem terpadu yang menggabungkan prosedur manual dengan proses elektronis dalam pengambilan data, pembukuan dan pelaporan semua transaksi keuangan, aset, utang dan ekuitas seluruh entitas Pemerintah Pusat. Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat (SAPP) inilah yang dijadikan sistem atau pedoman dalam penyusunan laporan keuangan pemerintah.
Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat (SAPP) terdiri dari Sistem Akuntansi
Sumber : Presentasi Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat oleh direktorat Akuntansi dan Pelaporan Keuangan
Gambar 2.1 Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat
Bendahara Umum Negara (SA-BUN) yang dilaksanakan oleh Kementerian Keuangan dan Sistem Akuntansi Instansi (SAI) yang dilaksanakan oleh Kementerian Negara/Lembaga.
1) Sistem Akuntansi Bendahara Umum Negara (SA-BUN)
Sistem Akuntansi Bendahara Umum Negara (SA-BUN) dilaksanakan oleh Kementerian Keuangan selaku BUN terdiri dari beberapa sub sistem, yaitu:
1. Sistem Akuntansi Kas Umum Negara (SAKUN) yang menghasilkan LAK, Neraca KUN dan Laporan Penerimaan dan Pengeluaran Kas dan Laporan Perubahan Posisi Kas;
2. Sistem Akuntansi Umum (SAU) yang menghasilkan LRA dan Neraca SAU;
b) Sistem Akuntansi Utang Permerintah dan Hibah (SA-UPH) c) Sistem Akuntansi Penerusan Pinjaman (SA-PP)
d) Sistem Akuntansi Investasi Pemerintah (SA-IP) e) Sistem Akuntansi Transfer ke Daerah (SA-TD)
f) Sistem Akuntansi Belanja Subsidi dan Belanja Lain-lain (SA- BSBL) g) Sistem Akuntansi Transaksi Khusus (SA-TK)
h) Akuntansi Badan Lainnya (SA-BL)
Dalam rangka penyusunan Laporan Keuangan BUN, pengolahan data dilaksanakan oleh Kementerian Keuangan selaku BUN yang terdiri dari :
a) Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara selaku Unit Akuntansi Kuasa Bendahara Umum Negara Daerah (UAKBUN-D KPPN);
b) Kantor Wilayah DJPBN selaku Unit Akuntansi Kuasa Koordinator Bendahara Umum Negara Kantor Wilayah (UAKKBUN-KANWIL); c) Direktorat Pengelolaan Kas Negara selaku Unit Akuntansi Kuasa
Bendahara Umum Negara Pusat (UAKBUN-P);
d) Direktorat Akuntansi dan Pelaporan Keuangan selaku Unit Akuntansi Pembantu Bendahara Umum Negara (UAPBUN) dan Unit Akuntansi Bendahara Umum Negara (UABUN);
e) Direktorat Pengelolaan Penerusan Pinjaman selaku Unit Akuntansi Pembantu Bendahara Umum Negara (UAPBUN);
f) Direktorat Jenderal Kekayaan Negara selaku Unit Akuntansi Pembantu Bendahara Umum Negara (UAPBUN);
g) Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang selaku Unit Akuntansi Pembantu Bendahara Umum Negara (UAPBUN);
h) Direktorat Jenderal Anggaran selaku Unit Akuntansi Pembantu Bendahara Umum Negara (UAPBUN);
i) Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan selaku Unit Akuntansi Pembantu Bendahara Umum Negara (UAPBUN);
j) Badan Lainnya selaku Unit Akuntansi Pembantu Bendahara Umum Negara (UAPBUN).
2) Sistem Akuntansi Instansi (SAI)
Sistem Akuntansi Instansi (SAI) dilaksanakan oleh Kementerian Negara/Lembaga. Kementerian Negara/Lembaga melakukan pemrosesan data untuk menghasilkan Laporan Keuangan. Dalam pelaksanaan SAI, Kementerian Negara/Lembaga membentuk Unit Akuntansi Keuangan dan Unit Akuntansi Barang,
Unit akuntansi keuangan terdiri dari:
a) Unit Akuntansi Pengguna Anggaran (UAPA);
b) Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran - Eselon1 (UAPPA- E1);
c) Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran - Wilayah (UAPPA- W);
d) Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Anggaran (UAKPA). Sedangkan Unit akuntansi barang terdiri dari:
a) Unit Akuntansi Pengguna Barang (UAPB);
b) Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Barang – Eselon1 (UAPPB-E1); c) Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Barang – Wilayah (UAPPB-W); d) Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Barang (UAKPB).
3) Sistem Akuntansi Pemerintahan Pusat (SAPP) bertujuan untuk:
a) Menjaga aset Pemerintah Pusat dan instansi-instansinya melalui pencatatan, pemprosesan dan pelaporan transaksi keuangan yang konsisten sesuai dengan standar dan praktek akuntansi yan diterima secara umum;
b) Menyediakan informasi yang akurat dan tepat waktu tentang anggaran dan kegiatan keuangan Pemerintah Pusat, baik secara nasional maupun instansi
yang berguna sebagai dasar penilaian kinerja, untuk menentukan ketaatan terhadap otorisasi anggaran dan untuk tujuan akuntabilitas; c) Menyediakan informasi yang dapat dipercaya tentang posisi keuangan
suatu instansi dan Pemerintah Pusat secara keseluruhan;
d) Menyediakan informasi keuangan yang berguna untuk perencanaan, pengelolaan dan pengendalian kegiatan dan keuangan pemerintah secara efisien.
4) Ciri-ciri pokok Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat (SAPP) adalah sebagai berikut:
Cash Toward Accrual. Basis akuntansi yang digunakan dalam laporan keuangan pemerintah adalah basis kas untuk pengakuan pendapatan, belanja, dan pembiayaan dalam Laporan Realisasi Anggaran dan basis akrual untuk pengakuan aset, kewajiban, dan ekuitas dalam neraca. b) Sistem Pembukuan Berpasangan
Sistem Pembukuan Berpasangan didasarkan atas persamaan dasar akuntasi yaitu:
Aset = Kewajiban + Ekuitas Dana.
Setiap transaksi dibukukan dengan mendebet sebuah perkiraan dan mengkredit perkiraan yang terkait.
c) Dana Tunggal
Kegiatan akuntansi yang mengacu kepada Undang-undang APBN sebagai landasan operasional. Dana tunggal ini merupakan tempat dimana Pendapatan dan Belanja Pemerintah dipertanggung- jawabkan sebagai kesatuan tunggal.
d) Desentralisasi Pelaksanaan Akuntansi
Kegiatan akuntansi dan pelaporan keuangan di instansi dilaksanakan secara berjenjang oleh unit-unit akuntansi baik di kantor pusat instansi maupun di daerah.
e) Bagan Akun Standar
SAPP menggunakan akun standar yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan yang berlaku untuk tujuan penganggaran maupun akuntansi.
f) Standar akuntansi Pemerintahan (SAP)
SAPP mengacu pada Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) dalam melakukan pengakuan, penilaian, pencatatan, penyajian, dan pengungkapan terhadap transaksi keuangan dalam rangka perencanaan, pelaksanaan anggaran, pertanggungjawaban, akuntansi dan pelaporan keuangan.
g) Kerangka Umum SAPP
Kerangaka umum Sistem Akuntasi Pemerintah Pusat (SAPP) disusun berdasarkan Bagan Akuntansi Standar (BAS).
5) Ruang lingkup Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat (SAPP) a) Lembaga Tinggi Negara
b) Lembaga-Lembaga Eksekutif
c) Pemda yang sumber dananya dari APBN
Yang tidak termasuk Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat (SAPP): a) Pemerintah Daerah
b) Lembaga Keuangan Negara c) BUMN/BUMD
6) Prosedur pemrosesan data akuntansi dimulai dari:
a) KPPN memproses dokumen sumber untuk menghasilkan Laporan Keuangan berupa LAK, Neraca KUN, dan LRA. KPPN melakukan rekonsiliasi LRA dengan seluruh satuan kerja di wilayah kerjanya setiap bulan. KPPN menyusun Laporan Keuangan tingkat KPPN dan menyampaikannya beserta data akuntansi berupa ADK ke Kanwil Ditjen Perbendaharaan. Khusus KPPN yang memproses data pengeluaran Bantuan Luar Negeri (BLN) menyampaikan Laporan
Keuangan beserta ADK-nya ke Direktorat Akuntansi dan Pelaporan Keuangan.
b) Kanwil Ditjen Perbendaharaan melakukan penyusunan Laporan Keuangan berupa LAK, Neraca KUN, dan LRA berdasarkan konsolidasi Laporan Keuangan dari seluruh KPPN di wilayah kerjanya. Kanwil Ditjen Perbendaharaan melakukan rekonsiliasi LRA dengan UAPPA-W di wilayah kerjanya setiap triwulan. Kanwil Ditjen Perbendaharaan mengirimkan Laporan Keuangan tingkat Kanwil beserta ADK-nya ke Direktorat Akuntansi dan Pelaporan Keuangan. c) Direktorat Pengelolaan Kas Negara selaku kuasa Bendahara Umum
Negara (BUN) memproses transaksi penerimaan dan pengeluaran Kas Umum Negara melalui BUN, serta menyampaikan laporan beserta ADK kepada Direktorat Akuntansi dan Pelaporan Keuangan.
d) Direktorat Pengelolaan Dana Investasi memproses transaksi Investasi pemerintah serta menyampaikan laporan dan ADK kepada Direktorat Akuntansi dan Pelaporan Keuangan.
e) Direktorat Pengelolaan Penerusan Pinjaman memproses transaksi piutang jangka pendek maupun piutang jangka panjang yang berasal dari pinjaman yang diteruspinjamkan baik kepada BUMN maupun perusahaan daerah serta menyampaikan laporan dan ADK kepada Direktorat Akuntansi dan Pelaporan Keuangan.
f) Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang memproses transaksi yang berhubungan dengan Utang Negara , Penerimaan dan Pengeluran
Pembiayaan serta hibah selanjutnya menyampaikan laporan beserta ADK kepada Direktorat Akuntansi dan Pelaporan Keuangan.
g) Direktorat Jenderal Kekayaan Negara memproses transaksi Barang Milik Negara, Penyertaan Modal Negara dan Investasi Permanen serta investasi pemerintah lainnya serta menyampaikan laporan dan ADK kepada Direktorat Akuntansi dan Pelaporan Keuangan.
h) Direktorat Jenderal Anggaran memproses transaksi Belanja Subsidi dan Belanja Lain-lain yang dilaksanakan oleh Kementerian Negara/Lembaga serta menyampaikan laporan dan ADK kepada Direktorat Akuntansi dan Pelaporan Keuangan.
i) Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan memproses transaksi Transfer ke Daerah serta menyampaikan laporan dan ADK kepada Direktorat Akuntansi dan Pelaporan Keuangan.
j) Direktorat Akuntansi dan Pelaporan Keuangan melakukan konsolidasi seluruh laporan keuangan yang diterima dari Kanwil, laporan keuangan dari KPPN pengelola transaksi pengeluaran BLN, dan transaksi penerimaan dan pengeluaran melalui BUN.
Sumber : Presentasi Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat oleh Direktorat Akuntansi dan Pelaporan Keuangan
Gambar 2.1 Alur Kegiatan Penyusunan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat