• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

6) Prosedur pemrosesan data akuntansi dimulai dari:

a) KPPN memproses dokumen sumber untuk menghasilkan Laporan Keuangan berupa LAK, Neraca KUN, dan LRA. KPPN melakukan rekonsiliasi LRA dengan seluruh satuan kerja di wilayah kerjanya setiap bulan. KPPN menyusun Laporan Keuangan tingkat KPPN dan menyampaikannya beserta data akuntansi berupa ADK ke Kanwil Ditjen Perbendaharaan. Khusus KPPN yang memproses data pengeluaran Bantuan Luar Negeri (BLN) menyampaikan Laporan

Keuangan beserta ADK-nya ke Direktorat Akuntansi dan Pelaporan Keuangan.

b) Kanwil Ditjen Perbendaharaan melakukan penyusunan Laporan Keuangan berupa LAK, Neraca KUN, dan LRA berdasarkan konsolidasi Laporan Keuangan dari seluruh KPPN di wilayah kerjanya. Kanwil Ditjen Perbendaharaan melakukan rekonsiliasi LRA dengan UAPPA-W di wilayah kerjanya setiap triwulan. Kanwil Ditjen Perbendaharaan mengirimkan Laporan Keuangan tingkat Kanwil beserta ADK-nya ke Direktorat Akuntansi dan Pelaporan Keuangan. c) Direktorat Pengelolaan Kas Negara selaku kuasa Bendahara Umum

Negara (BUN) memproses transaksi penerimaan dan pengeluaran Kas Umum Negara melalui BUN, serta menyampaikan laporan beserta ADK kepada Direktorat Akuntansi dan Pelaporan Keuangan.

d) Direktorat Pengelolaan Dana Investasi memproses transaksi Investasi pemerintah serta menyampaikan laporan dan ADK kepada Direktorat Akuntansi dan Pelaporan Keuangan.

e) Direktorat Pengelolaan Penerusan Pinjaman memproses transaksi piutang jangka pendek maupun piutang jangka panjang yang berasal dari pinjaman yang diteruspinjamkan baik kepada BUMN maupun perusahaan daerah serta menyampaikan laporan dan ADK kepada Direktorat Akuntansi dan Pelaporan Keuangan.

f) Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang memproses transaksi yang berhubungan dengan Utang Negara , Penerimaan dan Pengeluran

Pembiayaan serta hibah selanjutnya menyampaikan laporan beserta ADK kepada Direktorat Akuntansi dan Pelaporan Keuangan.

g) Direktorat Jenderal Kekayaan Negara memproses transaksi Barang Milik Negara, Penyertaan Modal Negara dan Investasi Permanen serta investasi pemerintah lainnya serta menyampaikan laporan dan ADK kepada Direktorat Akuntansi dan Pelaporan Keuangan.

h) Direktorat Jenderal Anggaran memproses transaksi Belanja Subsidi dan Belanja Lain-lain yang dilaksanakan oleh Kementerian Negara/Lembaga serta menyampaikan laporan dan ADK kepada Direktorat Akuntansi dan Pelaporan Keuangan.

i) Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan memproses transaksi Transfer ke Daerah serta menyampaikan laporan dan ADK kepada Direktorat Akuntansi dan Pelaporan Keuangan.

j) Direktorat Akuntansi dan Pelaporan Keuangan melakukan konsolidasi seluruh laporan keuangan yang diterima dari Kanwil, laporan keuangan dari KPPN pengelola transaksi pengeluaran BLN, dan transaksi penerimaan dan pengeluaran melalui BUN.

Sumber : Presentasi Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat oleh Direktorat Akuntansi dan Pelaporan Keuangan

Gambar 2.1 Alur Kegiatan Penyusunan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat

2.2.3. Pendapatan Negara

Berikut ini beberapa pandangan yang menegaskan arti konseptual dari pendapatan, Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) dalam bukunya yang berjudul Standar Akuntansi Keuangan (2002: 23) mendifinisikan pendapatan sebagai berikut:

“Pendapatan adalah arus kas masuk bruto dari manfaat ekonomi yang timbul dari aktivitas normal perusahaan selama suatu periode bila arus masuk ini mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi penanam modal”.

Menurut Baridwan (2004: 29) mengemukakan bahwa: “Pendapatan adalah Aliran masuk atau kenaikan lain aktiva suatu badan usaha atau pelunasan

utangnya (atau kombinasi keduanya) selama suatu periode yang berasal dari penyerahan atau pembuatan barang, penyerahan jasa atau dari kegiatan lain yang merupakan kegiatan utama badan usaha.”.

Sementara itu pengertian pendapatan menurut PP 24 tahun 2005 tentang Standar Akuntasi Pemerintah, pendapatan adalah semua penerimaan Rekening Kas Umum Negara/Daerah yang menambah ekuitas dana lancar dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan yang menjadi hak pemerintah, dan tidak perlu dibayar kembali oleh pemerintah.

Adapun Sumber-sumber pendapatan Negara terdiri dari: 1. Penerimaan dalam negeri

a. Penerimaan Perpajakan

b. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP)

2. Penerimaan hibah A.Penerimaan Pajak

1) Pengertian Pajak

Pajak menurut Pasal 1 UU No.28 Tahun 2007 Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan adalah "kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang Undang, dengan tidak mendapat timbal balik secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar- besarnya kemakmuran rakyat

Selain pendapat diatas ada beberapa pengertian yang telah diberikan oleh para pakar perpajakan dari buku definisi pajak mengenai apa sebenarnya pajak tresebut, berikut beberapa diantaranya :

a) Pengertian pajak menurut Rochmat Soemitro (1990:5) dalam bukunya Dasar-Dasar Hukum Pajak dan Pendapatan mendefenisikan , “Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan Undang-Undang (yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa timbal (kontraprestasi), yang langsung dapat ditunjukan dan yang digunakan untuk membayar pengeluran umum”. Lebih lanjut Rachmat Soemitro menjelaskan bahwa kata “dapat dipaksa” berarti bahwa bila hutang pajak itu tidak dibayar, utang itu dapat ditagih dengan menggunakan kekerasan seperti surat paksa dan sita, dan juga penyanderaan, terhadap pembayaran pajak itu tidak dapat ditunjukan adanya jasa timbal tertentu seperti halnya didalam restribusi.

b) Andriani, yang pernah menjabat Guru Besar Hukum Pajak pada Universitas Amsterdam (Belanda), menyatakan bahwa pajak adalah “ Iuran kepada negara (yang dapat dipaksakan) yang terhutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturan-peraturan, dengan tidak mendapat prestasi kembali, yang langsung dapat ditunjuk, dan yang gunanya adalah untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum berhubung dengan tugas negara untuk menyelenggarakan pemerintahan.” Dari definisi Andriani ini terlihat bahwa pajak dianggap sebagai pengertian yang merupakan bagian dari suatu yang berupa pungutan. Dengan demikian pungutan lingkupnya lebih luas daripada pajak itu sendiri. Didalam definisi tersebut bahwa Andriani menekankan fungsi budgetair (keuangan) dari pajak.

c) Smeets dalam bukunya De Economisch Betekenis Der Belastingen yang telah diterjemahkan mengatakan : “Pajak adalah prestasi kepada pemerintah yang terhutang melalui norma-norma umum, dan yang dapat dipaksakan, tanpa adanya kontraprestasi yang dapat ditunjukan dalam hal yang individual, maksudnya adalah untuk membiayai pengeluaran pemerintah”. Definisi pajak yang

dikemukan Smeet tersebut terlihat menonjolkan adanya fungsi budgeter dari pajak, yakni untuk memaksukan uang sebanyak-banyaknya ke dalam kas negara. d) Soeparman Soemahamidjaja, dalam disertasinya yang berjudul “Pajak

Berdasarkan asas Gotong Royong”, Universitas Padjajaran Bandung, memberikan definisi pajak sebagai berikut : “Pajak adalah iuran wajib, berupa uang atau barang, yang dipungut oleh penguasa berdasarkan norma-norma hukum, guna menutup biaya produksi barang-barang dan jasa-jasa kolektif dalam mencapai kesejahteraan umum”

pajak negara dalam arti luas yang meliputi : a) Pajak penghasilan;

b) Pajak pertambahan nilai barang dan jasa c) Pajak bumi dan bangunan

d) Bea perolehan hak atas tanah dan bangunan e) Cukai

f) Bea masuk g) Bea materai

2) Karakteristik Pajak

Dari berbagai definisi diatas, maka dapat disimpulkan beberapa ciri atau karakteristik dari pajak, adalah sebagai berikut :

a) Pajak dipungut berdasarkan adanya undang-undang ataupun peraturan pelaksanaannya;

b) Terhadap pembayaran pajak tidak ada kontraprestasi yang dapat ditunjukkan secara langsung;

c) Pemungutannya dapat dilakukan baik oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, yang oleh karenanya kemudian muncul istilah pajak pusat dan pajak daerah;

d) Hasil dari uang pajak dipergunakan untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran pemerintah baik pengeluaran-pengeluaran rutin maupun pengeluaran-pengeluaran pembangunan;

e) Disamping mempunyai fungsi sebagai alat untuk memasukkan dana dari rakyat ke dalam kas negara (fungsi budgeter), pajak juga mempunyai fungsi lain, yaitu fungsi mengatur.

Apa yang dikemukakan sebagai karakteristik pajak diatas terutama ditujukan untuk membedakan dengan pungutan-pungutan lain selain pajak. Karena pajak dapat dipandang sebagai sebuah peralihan kekayaan dari satu pihak ke pihak lain, yakni dari rakyat selaku wajib pajak kepada pemerintah, maka dengan sendirinya tentu ada pihak yang melakukan pungutan atau menerima peralihan kekayaan itu, yang dalam hal ini adalah pemerintah. Pemerintah sebagai penyelenggara kepentingan umum, yang sekaligus juga sebagai penguasa, pemerintah pulalah yang melakukan pemungutan.

3) Jenis-Jenis Pajak

Pajak dapat dikelompokkan dalam berbagai jenis, dengan mempergunakan kriteria-kriteria tertentu berdasarkan kewenangan pemungutannya, yaitu sebagai berikut:

h) Jenis Pajak dari Segi Administratif Yuridis

Penggolongan pajak dengan melihat dari sisi administratif yuridis akan menghasilkan apa yang sering dikenal dengan pajak langsung maupun pajak tidak langsung.

i) Jenis pajak berdasarkan titik tolak pemungutannya

Pembedaan pajak berdasarkan titik tolak pungutannya ini menghasilkan dua jenis pajak, yaitu pajak subyektif dan pajak obyektif. Pajak Subyektif adalah

pajak (wajib pajak). Sedangkan pajak obyektif adlah pajak yang pengenaannya berpangkal pada obyek yang dikenai pajak, dan untuk mengenakan pajaknya harus dicari subyeknya.

j) Jenis pajak berdasarkan sifatnya

Pembagian pajak berdasarkan sifatnya akan memunculkan apa yang disebut pajak pribadi dan pajak kebendaan. Pajak pribadi adalah pajak yang dalam penetapannya memperhatikan keadaan diri serta keluarga wajib pajak. Sedangkan pajak kebendaan adalah pajak yang pungutannya tanpa memperhatikan diri dan keadaan wajib pajak, pajak kebendaan ini umumnya merupakan pajak tidak langsung.

k) Jenis pajak berdasarkan kewenangan pemungutannya

Dengan berdasarkan pada kewenangan pemungutannya, pajak dapat digolongkan menjadi dua, yaitu pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat (pajak pusat) dan pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah (pajak daerah).

Berdasarkan Bagan Akuntansi Standart (BA) pengelompokan penerimaan perpajakan adalah sebagai berikut :

Tabel 2.2. Kelompok Penerimaan Perpajakan No. Jenis Pendapatan Pajak Kode

Akun

Keterangan 1 Pendapatan PPh Migas 411111 Pendapatan PPh Minyak Bumi

411112 Pendapatan PPh Gas Alam

411113 Pendapatan PPh Lainnya dari Minyak Bumi

411119 Pendapatan PPh Migas Lainnya 2. Pendapatan PPh Non-Migas 411121 Pendapatan PPh Pasal 21

411122 Pendapatan PPh Pasal 22 411123 Pendapatan PPh Pasal 22 Impor 411124 Pendapatan PPh Pasal 23

411125 Pendapatan PPh Pasal 25/29 Orang Pribadi 411126 Pendapatan PPh Pasal 25/29 Badan 411127 Pendapatan PPh Pasal 26

Negeri

411129 Pendapatan PPh Nonmigas Lainnya 3. Pendapatan PPN 411211 Pendapatan PPN Dalam Negeri

411212 Pendapatan PPN Impor 411219 Pendapatan PPN Lainnya

4. Pendapatan PPnBM 411221 Pendapatan PPnBM dalam Negeri 411222 Pendapatan PPnBM Impor 411229 Pendapatan PPnBM Lainnya 5. Pendapatan Pajak Bumi dan

Bangunan 411311 Pendapatan PBB Pedesaan 411312 Pendapatan PBB Perkotaan 411313 Pendapatan PBB Perkebunan 411314 Pendapatan PBB Kehutanan 411315 Pendapatan PBB Pertambangan 411319 Pendapatan PBB Lainnya 6. Pendapatan BPHTB 411411 Pendapatan BPHTB

7. Pendapatan Cukai 411511 Pendapatan Cukai Hasil Tembakau 411512 Pendapatan Cukai Ethyl Alkohol

411513 Pendapatan Cukai Minuman mengandung Ethyl Alkohol

411514 Pendapatan Denda Administrasi Cukai 411519 Pendapatan Cukai Lainnya

8. Pendapatan Pajak Lainnya 411611 Pendapatan Bea Meterai

411612 Pendapatan dari Penjualan Benda Materai 411619 Pendapatan Pajak Tidak Langsung Lainnya 9. Pendapatan Bunga

Penagihan Pajak

411621 Pendapatan Bunga Penagihan PPh 411622 Pendapatan Bunga Penagihan PPN 411623 Pendapatan Bunga Penagihan PPnBM 411624 Pendapatan Bunga Penagihan PTLL 10. Pendapatan Bea Masuk 412111 Pendapatan Bea Masuk

412112 Pendapatan Bea Masuk ditanggung Pemerintah atas Hibah (SPM Nihil) 412113 Pendapatan Denda Administrasi Pabean 412114 Pendapatan Bea Masuk dalam rangka

Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE) 412119 Pendapatan Pabean Lainnya

11. Pendapatan Pajak/pungutan ekspor

412211 Pendapatan Pajak/pungutan ekspor

Sumber : Tabel Bagan Akuntansi Standar (BAS)

4) Fungsi Pajak

Pada umumnya dikenal dua fungsi utama dari pajak , yaitu: a. Fungsi Anggaran

Pajak mempunyai fungsi sebagai alat atau instrumen yang digunakan memasukkan dana yang sebasar-besarnya ke dalam kas negara.

Dalam hal ini pajak digunakan untuk mengatur dan mengarahkan masyarakat ke arah yang yang dikehendaki pemerintah. Pajak digunakan untuk mendorong dan mengendalikan kegiatan masyarakat agar sejalan dengan rencana dan keinginan pemerintah.

B. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP)

Dokumen terkait