• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II ANALISIS STRUKTUR DALAM NOVEL GEMBLAK:

2.1 Tokoh dan Penokohan

2.1.2 Lastri

Lastri di sini sebagai tokoh tambahan protagonis karena kemunculannya dalam cerita hanya beberapa kali dan dalam porsi penceritaan yang relatif pendek. Di sisi lain, Lastri adalah tokoh yang bisa dianggap sebagai tokoh hero karena perannya terhadap suaminya, Sapto dan upaya menolak praktik penggemblakan. Lastri adalah anak Hardo Wiseso yang menjadi istri Sapto. Secara fisiologis, Lastri dijelaskan pengarang sebagai orang yang cantik, berkulit putih. Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut.

“Tidak! Saya ikut Mas!”

“Jangan!” Sapto berkeras melarangnya. Pelan tangannya mengelus wajah putih itu (Asura, 2008: 104).

Dalam kutipan tersebut, pengarang menggambarkan fisik Lastri dari wajahnya yang putih dan cantik. Di sisi lain, Lastri adalah anak orang kaya, anak seorang warok terkenal. Namun ia adalah perempuan yang sabar dan taat pada suami, meskipun suaminya mantan gemblak ayahnya. Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut.

“Kalau menurut Mas itu baik, saya nunut saja,” jawab Lastri kemudian. Sapto tersenyum bangga atas kesabaran dan sikap nrimo istrinya itu. Padahal, dulu ia dibesarkan dalam kemewahan. Sapto benar-benar merasa bersyukur, mendapat seorang istri yang tidak hanya cantik wajahnya melainkan pula cantik hatinya (Asura, 2008: 205-206).

Lastri dalam novel ini mengalami perubahan status sosial. Ia dulu anak seorang warok yang hidup dalam kemewahan, sekarang menjadi istri Sapto yang hanya sebagai seorang guru dengan ekonomi pas-pasan. Ia adalah anak perempuan Hardo Wiseso yang berani melawan pendapat ayahnya demi membela Sapto, gemblak ayahnya. Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut.

“Kenapa, Bapak?” Lastri begitu saja mendapat kekuatan tambahan ketika ayahnya menyebut-sebut leluhurnya itu. “Tidak layakkah dua orang manusia, lelaki dan wanita bersatu? Kenapa tidak boleh Bapak, kenapa harus dilarang hanya karena beda derajat? Kenapa?” (Asura, 2008: 70).

Keberanian Lastri kepada ayahnya karena ingin membela dan ia sangat mencintai Sapto, kekasihnya. Keberanian tersebut juga ditunjukkan pengarang seperti pada kutipan berikut.

“Saya bukan setan alas, Bapak! Saya manusia juga seperti Bapak, Ibu, dan seperti yang lainnya. Seperti Mas Sapto, ia juga manusia seperti kita. Hanya nasib saja yang menyebabkan dirinya tidak punya apa-apa sehingga bersedia jadi asuhan Bapak, jadi gemblak Bapak (Asura, 2008: 68-69).

Lastri adalah istri Sapto yang penyayang dan pengertian. Hal ini ditunjukkan Lastri ketika melihat suaminya pulang kerja. Sapto terlihat lelah. Lastri kemudian memijit tubuh Sapto supaya pikiran Sapto segar kembali. Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut.

Pijatan Lastri itu enak, selalu bikin merem melek Sapto. Padahal, ia memijit suaminya itu pelan saja, dimulai dari ujung tangan, merambat ke bagian atas, tapi telah berhasil membenamkan bulat-bulat apa yang ada di pikiran dan seluruh perasaan suaminya saat itu (Asura, 2008: 13).

Sebagai seorang istri mantan gemblak, Lastri paham dengan apa yang terjadi pada diri suaminya. Ketika suaminya telah rapuh dalam menghadapi masalah, Lastri

berusaha memberi semangat dan kekuatan baru. Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut.

“Dulu, Mas sendiri yang mengajariku untuk selalu bersabar. Bahwa semua ini hanyalah pertanda sayang Allah pada kita, untuk menguji keimanan kita. Kenapa sekarang Mas justru seperti sangsi dengan keyakinan Mas dulu?” Sapto diam membisu. Tubuhnya bergetar hebat, ia menangis dalam pelukan istrinya.

“Mas harus kuat! Kalau Mas rapuh, bagaimana dengan saya dan Toenggoel?” Lastri mencium rambut suaminya dengan sayang (Asura, 2008: 249).

Lastri yang sedang mengandung anak pertama hasil perkawinannya dengan Sapto merasa galau hatinya saat Sapto menyuruh menemui ayahnya untuk menghentikan praktik penggemblakan. Meskipun sedang galau, Lastri tetap bersabar dan ingin mengajari anaknya yang masih di dalam perut tentang kebenaran dan kesalahan. Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut.

Lastri bangkit dari tidurnya. Diterangi lampu kamar, wajah itu nyata benar diliputi kegalauan. Tapi ia mencoba untuk sabar ngelakoni semua itu sekalipun sinar matanya tidak bisa menyembunyikan lagi. Tangannya kemudian pelan memegang perut buncitnya. Ia seperti ingin bicara dan mengajari tentang kebenaran dan kesalahan pada anaknya yang masih ada di dalam perut (Asura, 2008: 62).

Lastri adalah seorang istri yang sabar dan pasrah pada suaminya, padahal dulu ia hidup dalam kemewahan bersama ayahnya. Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut.

“Kalau menurut Mas itu baik, saya nunut saja,” jawab Lastri kemudian. Sapto tersenyum bangga atas kesabaran dan sikap nrimo istrinya itu. Padahal, dulu ia dibesarkan dalam kemewahan. Sapto benar-benar merasa bersyukur, mendapat seorang istri yang tidak hanya cantik wajahnya melainkan pula cantik hatinya (Asura, 2008: 205-206).

Lastri adalah orang yang taat menjalankan ibadah. Meskipun Lastri dibesarkan oleh keluarga warok yang melakukan praktik penggemblakan, ia selalu taat dalam beribadah. Adapun agama yang dianut Lastri adalah Islam. Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut.

“Sudahlah, Tri! Tak perlu kau sesali kenyataan ini. Mungkin Toenggoel tak ingin cepat-cepat punya adik. Apa tak cukup ia sebagai lambang kasih sayang kita?” hibur Sapto suatu hari ketika mendapati istrinya yang sedang khusyu berdoa agar segera diberi keturunan lagi, sehabis salat malam. Belakangan ini, Lastri demikian senang berlama-lama berdialog dengan penguasa alam, mendekatkan diri pada kekuasaan Allah Swt. Karena sampai hari ini Lastri meyakini tak ada dan tak akan pernah ada penguasa di bumi mana pun yang mengungguli kekuasaan-Nya (Asura, 2008: 209).

Lastri digambarkan pengarang sebagai orang yang tidak berpendidikan tinggi meskipun ia berasal dari keluarga kaya. Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut.

Surat itu sama sekali belum dirobek amplopnya. Lastri memang tak punya keberanian untuk melakukan itu. Seperti juga tak punya keberanian untuk membuka dompet suaminya, sekalipun telah berkali-kali disuruh. Ia memang bukan perempuan berpendidikan tinggi, tapi soal etika selalu dijaga dan dianggap bagian dari keperempuanannya (Asura, 2008: 15).

Lastri adalah orang yang pesimis. Ia pun merasa menyesal sebagai putri seorang warok yang tidak bisa berbuat apa-apa terhadap praktik penggemblakan. Ia hanya bisa menjalani kehidupan ini dengan pasrah. Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut.

“Mas!” Lastri tersengal. “Kita memang menentang praktik penggemblakan. Tapi kita tidak punya apa-apa, kita tidak punya kekuatan untuk menentangnya. Saya paham perasaan Mas ketika tahu Dik Prapto akan dijadikan gemblak, oleh bapakku sendiri. Tapi Mas juga musti paham, siapa tahu itu cuma akal licik bapak, memancing kita agar kembali ke Maguan, karena bapak masih dendam pada kita!” (Asura, 2008: 64).

Lastri merasa di pundaknya dipenuhi dengan beban oleh praktik penggemblakan yang dilakukan ayahnya sehingga ia sering merasa sedih dan menangis. Ia pun menyesali apa yang telah terjadi. Namun Lastri tidak menyesali punya anak cacat, tetapi karena pernah menjadi putri seorang warok. Ia menyesal karena saat menjadi putri seorang warok yang dilakukannya hanya pasrah menjalani. Ia pun membandingkan dirinya yang tidak seperti Kartini dan juga tokoh Srintil dalam Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut.

Sebagai wanita aku tak sekuat Kartini, yang mampu mendobrak sebuah tradisi. Bahkan aku tak lebih baik dari Srintil, yang menerima gelar Ronggeng lengkap dengan atribut cabulnya tanpa protes. Padahal sejak kecil selalu didongengi tentang Srikandi yang lembut tapi kuat. Tapi tokoh wayang itu semakin menjadi abstrak dan tak terjangkau kenyataan (Asura, 2008: 256). Lastri mengalami konflik batin. Ia juga selalu teringat dengan kesalahan masa lalu yang telah kabur dari rumah dan menikah di bawah tangan dengan Sapto. Perbuatan itulah yang membuatnya trauma dan ingin mengulangi pernikahannya dengan menghadirkan bapaknya sebagai wali.

“Sudahlah, Mas! Jangan paksa saya untuk menemui bapak. Kalau Mas memang kasihan sama saya, sama anak kita!” jawab Lastri seolah kehilangan kata-kata lagi. Ia memang tidak mau berdebat untuk masalah itu. Sakit hati karena telah diusir gara-gara menikah dengan bekas gemblak bapaknya, demikian mengkristal dalam batinnya. Bahkan lebih dari itu, sakit hati oleh bapaknya sendiri mengalahkan pergulatan kekhawatiran hukum menikah tanpa kehadiran wali, padahal ia masih ada. Ada menjadi tiada dalam ketiadaan kesadaran, dan mungkin tidak ada akan menjadi seolah-olah ada pada keadaan terpaksa (Asura, 2008: 63).

Pergulatan batin seperti itu yang kemudian membuatnya ingin mengulangi kembali pernikahannya dengan menghadirkan bapaknya sebagai wali. Namun ketika ingat betapa besar kesalahan masa lalu yang telah diperbuatnya, ia

justru semakin tak punya keberanian melakukan koreksi tersebut. Sampai sekarang Lastri tetap mengurungkan niatnya itu (Asura, 2008: 122-123). Lastri merasa trauma dengan kejadian-kejadian yang dialaminya dulu. Ia kembali diingatkan masa lalu ketika ia berani kabur dari rumah. Bila melihat suatu keramaian di malam hari, lebih-lebih bila terdengar suara lecutan, maka ia akan diingatkan oleh masa lalu. Ia ingat bagaimana ayahnya menyiksa dan mencambuk tubuhnya dan Sapto, gemblaknya yang disaksikan para centeng-centeng dan pengikut ayahnya. Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut.

Trauma masa lalu terbayang kembali. Tidak aneh kalau dalam kondisi seperti itu sampai-sampai tak kuat menahan kedua kakinya agar tetap teguh berdiri. Terbayang tubuh Sapto terkapar. Sebelum terlanjur menangis, dalam keremangan malam dalam sisa-sisa kilauan rembulan di atas air ia melihat belasan obor menari-nari (Asura, 2008: 119).

Dari uraian penokohan Lastri di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam novel Gemblak tokoh Lastri berperan sebagai tokoh tambahan protagonis. Lastri dulu hidup dalam kemewahan, anak orang kaya, sebagai putri seorang warok terkenal dari Maguan, Hardo Wiseso. Ia adalah istri Sapto yang cantik, berkulit putih, sabar, penurut, dan nrimo. Lastri adalah seorang istri yang penyayang, pengertian, dan taat beribadah. Adapun agama yang dianutnya ialah Islam. Ia bukan perempuan berpendidikan tinggi.

Lastri pesimis dengan hidup ini. Ia menikah di bawah tangan (tanpa wali orang tuanya). Lastri juga mengalami konflik batin dan trauma terhadap masa lalu. Ia mempunyai anak bernama Toenggoel.

Dokumen terkait