Dalam mengajukan permohonan peninjauan kembali ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu syarat syarat yang memungkinkan beserta ketentuan ketentuan lain agar da pat diterimanya permohonan peninjauan kembali tereebut.
Syarat syarat Permohonan Peninjauan Kembali
a. Putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.
b. Alasan alasan yang menjadi dasar permohonan pe- ninjauan kembali.
ad. a. Putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.
Putusan yang mana ? Ini tidak disebutkan dalam Undang un dang ttahkamah Agung, lain halnya dalam perknra pidana yang
dimaksud ialah putusan yang bukan putusan bebas dan lepas dari tuntutan hukum ( pasal 263 ayat 1 K.IMi.A.-f ).
Dalam perkara perdata ada putusan yang mengabulkan dan menolak gugatan. Ditinjau dari Mamar" atau "diktum", putvean itu dapat dibedakan dalam 3 ( tiga ) macam, yaitu :
a. putusan "condemnatoir*', yaitu yang amarny* ber- bunyi "Menghukum dan seterusnya”.
b. putusan "declaratoir" yaitu yang piarnyn menyata- kan suatu keadaan yang sah menurut hukum dan
c. putusan yang "konstitutif", yaitu yang amarnya menciptakan suatu keadaan baru.
Contoh suatu putusan dari macam sub a adalah putusan yang menghukum tergugat untuk membayar sejumlah uang kepada penggugat, untuk menyerahkan suatu barang atau mengosongkan suatu persil, melarang tergugat berbuat sesuatu, dan lain sebagainya.
Putusan macam sub b adalah misalnya, putusan yang me- nyatakan penggugat seba&ai pemilik sah atas tanah eengketa, atau yang menyatakan penggugat adalah ahli waris dari si - meninggal X, dan sebagainya.
Akhirnya putusan dari macam sub c adalah putusan yang membatalkan suatu perjanjian, memutuskan ikatan perkawinan antara penggugat dan tergugat, Juga suatu putusan yang me nyatakan seorang pailit, tergolong pada macam sub c ini.*^
Jadi ketlga putusan diatas termasuk putusan yang me- ngabulkan gugatan.
Menurut hemat saya putusan yang dapat diminta untuk peninjauan kembali adalah putusan yang mempunyai dampak
atau akibat. Putusan yang menyatakan gugatan tidak dapat di- terima, misalnya tidak merubah status pihak pihak yang ber- perkara. Putusan ini semata mata bersifat prosesuil atau mengenai prosedur, tidak memecahkan pokok persoalan.
Peninjauan kembali sebagai upaya hukum luar biasa baru dapat dipergunakan apabila tidak tersedia lag! upaya hukum biasa, seperti ; perlawanan t, ver^et ) 9 banding dan kasasi. Menurut Kv C pasal 385 sub 1 kv, pasal 382 sub 1 WRv ) putusan itu harus diberikan dalam tingkat terakhir. •Dalam praktek pengadilan negeri syarat dalam tingkat ter akhir itu telah ditinggalkan, ditinggalkannya syarat itu
sudah sewajarnya mengingat Undang undang i>lo. 14 tahun 1985
tentang Mahkamah Agung dalam pasal 67. Demikian pula pada Perraa ho. 1 tahun 1982 pada pasal 2 butir a, Mungkin ter- jadi bahwa pihak lawan melakukan sumpah palsu, dan pihak yang menjadi korban tidak mempergunakan haknya untuk ban ding, kemudian si korban memperoleh data bahwa pihak lawan melakukan sumpah palsu, baik pada Perma ho. 1 tahun 1982 maupun Undang undang ho. 14 tahun 1985 nampaknya sejalan dengan pendirian itu, maka dari itu tidak ada ketentuan yang menyatakan bahwa putusan itu harus diberikan pada
tingkat terakhir.
ad.b. Alasan alasan yang menjadi dasar permohonan penin-
jauan kembali.
Alasan alasan yang menjadi dasar permohonan penin- jauan kembali harus dikemukakan dan diuraikan eejjelas je- lasnya sesuai dengan bunyi pasal 67 Undang undang Ko. 14
tahun 1985 adalah sebagai berikut :
a. fcpabila putusan dldasarkan pada suatu kebohongan atau tipu muslihat pihak lawan yang diketahui se- telah perkaranya diputus atau didasarkan pada bukti bukti yang kemudian oleh hakim pidana di- nyatakan palsu;
b. Apabila setelah perkara diputus, ditemukan surat surat bukti yang bersifat menentukan yang pada waktu perkara diperiksa tidak dapat ditemukan; c. Apabila telah dikabulkan suatu hal yang tidak
dituntut atau lebih daripada yang dituntut; d. Apabila mengenai sesuatu bagian dari tuntutan
belum diputus tanpa dipertimbangkan sebab se- babnya;
e. Apabila antara pihak pihak yang sama mengenai suatu soal yang sama, atas dasar yang sama oleh pengadllan yang sama atau sama tingkatnya telah diberikan putusan yang bertentangan satu dengan yang lain;
£. Apabila dalam suatu putusan terdapat suatu ke khilafan Hakim atau sesuatu kekeliruan yang nyata.
Kalau kita amati Perma Ho. 1 tahun 1982, alasan alasan yang dikemukakan dalam pasal*2, berbunyi sebagai berikut ;
a. Apabila putusan didasarkan pada suatu kebohong- an atau tipu muslihat dari pihak lawan yang di ketahui setelah perkara diputus atau pada suatu keterangan saksi atau surat surat bukti yang ke- mudian oleh Hakim pidana dinyatakan palsu.
b. Apabila setelah perkara perkara diputus, dike- temukan surat surat bukti yang bersifat menentu- kan, yang pada waktu perkara diperiksa tidak da pat diketemukan.
c. Apabila telah dikabulkan suatu hal yang tidak dituntut atau lebih daripada yang dituntut.
d. Apabila mengenai suatu bagian dari tuntutan be- lum diputus tanpa dipertimbangkan sebab sebabnya. e. Apabila antara pihak pihak yang sama mengenai
suatu soal yang sama, atas dasar yang sama, oleh Pengadilan yang sama, atau sama tingkatannya te lah diberikan putusan yang satu dengan yang lain- nya saling bertentangan.
bertentangan satu dengan lainnya.
Adapun Perma &o. 1 tahun 1969 yang tidak pernah ber- laku dan dicabut itu, menyebutkan alasan alasan sebagai da sar peninjauan kembali dengan urutan sebagai berikut :
a, Apabila putusan itu dengan ;jelas memperlihatkan suatu kekhilafan Hakim atau suatu kekeliruan yang raenyolok;
b« iipabila telah dikabulkan sesuatu hal yang tidak dituntut atau lebih daripada yang dituntut;
c. Apabila mengenai sesuatu bagian dari tuntutan belum diputus tanpa dipertimbangkan sebab sebab- nya;
d* Apabila antara pihak pihak yang sama mengenai se suatu soal yang sama, atas dasar yang sama, oleh Pengadilan yang sama, atau sama tingkatnya telah diberikan keputusan yang satu sama lain berten tangan;
e. Apabila suatu putusan terdapat ketentuan ketentu an yang satu sama lain bertentangan;
£. Apabila putusan didasarkan pada suatu kebohongan atau tipu muslihat dari pihak lawan yang diketa- hui setelah perkaranya diputus atau pada suatu keterangan saksi atau surat surat bukti yang ke mudian oleh Hakim pidana dinyatakan palsu;
rat surat bukti yang bersifat menentukan, yang pada waktu perkara diperiksa, tidak dapat dike- temukan.
Alasan alasan peninjauan kembali yang terdapat da lam Keglement op de Hechtsvordering C ) adalah senada
dengan Undang undang Mahkamah Agung dan juga kedua -rerraa
tersebut, namun mempunyai susunan dan urutan yang berlainan. Menurut pasal 385 dari "Keglement" itu untuk request civiel harus ada salah satu dari 8 alasan, yaitu ;
1* apabila putusan .Pengadilan berdasar akan suatu
penipuan oleh salah satu pihak yang berperkara, penipuan mana baru diketahui setelah jatuhnya pu tusan Pengadilan, atau apabila suatu sumpah yang diperintahkan kepada satu pihak berperkara kemu- dian Hakim pidana dinyatakan palsu, kecuali apa bila sumpahnya adalah sumpah decisoir dari pasal
19 2 9 ke 1 Bin*
2. apabila diambil putusan tentang, hal hal yang
tidak dituntut oleh penggugat*
34 apabila yan^ dikabulkan oleh Pengadilan, adalah
melebihi apa yang dituntut oleh penggugat.
4* apabila Pengadilan lalai mengambil putusan ten
tang sebagian dari yang dituntut oleh penggugat.
5. apabila diantara pihak pihak yang berperkara
oleh satu Pengadilan berdasarkan alasan alasan yang sama dijatuhkan beberapa putusan dalam ting- kat terakhir, yang bertentangan satu sama lain.
6. apabila dalam satu putusan Pengadilan ada pene-
tapan yang bertentangan satu sama lain.
7. apabila diputuskan berdasar dokumen dokuaen yang
kemudian diakui atau ditetapkan sebagai dokumen palsu.
ada dokumen dokumen yang dapat menentukan se suatu, tap! disembunyikan oleh pihak lawan da lam perkara,
Jika alasan alaean dalam Undang undang No* 14 tahun
1985 tentang Mahkamah Agung, Perma Ho. 1 tahun 1982, Perraa
Mo. 1 tahun 1969 dan Reglement op de ^echtsyordering ( Rv ) diperbandingkan, maka didapatkan gambaran sebagai berikut :
Undang undang Perma Mo. 1 Perma Mo. 1 Rv
Mo. 14 tahun tahun 1982 tahun 1969
1985 pasal 2 pasal 1 pasal 385
pasal 67 a a f l, 7 b b g 8 c c b 2, 3 d d c 4 e e d 5 - - e 6 f a
Maka nampaklah bahwa alasan alasan huruf f Perma No. 1 tahun 1982, huruf e Perma Mo. 1 tahun 1969 dan angka 6 Rv, yakni apabila dalam suatu putusan terdapat ketentuan keten tuan yang bertentangan satu dengan lainnya, ini tidak di- muat dalam Undang undang Mo. 14 tahun 1985 tentang Mahkamah Agung, tetapi akan diganti apabila dalpm suatu putusan ter dapat suatu kekhilafan Hakim atau sesuatu kekeliruan yang
*^R. Wirjono Prodjodikoro, Hukum Acara Perdata di Indonesia. i>urour Bandung, 1982, h. 141, 142.
nyata, ini sama dengan pasal 1 huruf a Perma No, 1 tahun
1969.
Kalau kita llhat peraturan perundang undangan yang mengatur masalah peninjauan kembali, yakni Undang undang l*o. 19 tahun 1964 tentang ketentuan ketentuan -tokok Kekuasa- an Kehakiman dalam pasal 15, Undang undang No. 13 tahun 1965 tentang Pengadilan dalam Lingkungan Peradilan Umum dan Mah- kamah Agung dalam pasal 31 dan pasal 52 eerta Undang undang No. 14 tahun 1970 tentang ketentuan ketentuan Pokok Kekuasa- an Kehakiman dalam pasal 21 dapat disimpulkan bahwa M&hka- mah Agung yang berwenang memutus permohonan peninjauan kem bali ( paeal 1 Perma No. 1 tahun 1969, pasal 9 Perma No. 1 tahun 1980 >ang disempurnakan oleh Perma No. 1 tahun 1982 ) maka akhirnya secara jelas disebutkan dalam Undang undang No. 14 tahun 1985 pada pasal 34 bahwa fcahkamah Agung meroe- riksa dan memutus permohonan peninjauan kembali pada ting- kat pertama dan terakhir atas putusan Pengadilan yang te lah memperoleh kekuatan hukum tetap.
T£ang berhak mengajukan permohonan peninjauan kem bali menurut pasal 68 Undang undpng No. 14 tahun 1985 ya- itu i
(1) Permohonan peninjauan kembali harus diajukan sendlri oleh para pihak yang berperkara, atau akhli warisnya atau seorang wakilnya yang se cara khusus dikuasakan untuk itu;
(2) Apabila selama proses peninjauan kembali pe~ mohon meninggal dunia, permohonan tersebut dapat dilanjutkan oleh akhli warisnya.
Dari kedua ayat tersebut, eusunan kaliniatnya sama dengan Perma Ho. 1 tahun 1982, pada pasal 68 ayat 1 sama dengan pasal 3 Perma Ho. 1 tahun 1982 dan paeal 68 ayat 2 sama dengan pasal 4 Perma Ho. 1 tahun 1982.
Perlu diingat permohonan peninjauan kembali hanya satu kali dan dapat dicabut irii dalam Cndang undang Ho. 14 tahun 1985 pasal 66 disebutkan :
(1) Permohonan peninjauan kembali dapat dia^ukan ha nya 1 ( satu ) kali;
(2) Permohonan penin^auan kembali tidak menangguh- kan atau menghentikan pelaksanaan putusan penga- dilan;
(3) Permohonan peninjauan kembali dapat dicabut se lama belum diputus, dan dalam hal eudah dicabut permohonan peninjauan kembali itu tidak dapat diajukan lagi.
J^etiga ayat tersebut sama dengan bunyi pasal 6, pa sal 5 dan pasal 7 Perma Ho. 1 tahun 1982.
Permohonan peninjauan kembali diajukan terhadap pi hak lawan dalam perkara yang putusannya dinohonkan untuk diperiksa kembali atau akhli warisnya, sebagairaana berlaku bagi pemohon peninjauan kembali. 1'erlepas dari masalah pe-
ninjauan kembali dalam ketentuan tentang upaya hukum ban ding dan kasasi, juga tidak ada pengaturan tentang terha dap siapa upaya hukum itu ditujukan.
Dalam pasal 69 Undang undang Wo, 14 tahun 1985 di-
sebutkan tenggang waktu pengajuan permohonan peninjauan kembali dldasarkan atas alasan sebagaimana dimakeudkan da lam pasal 67 Undang undang Ho. 14 tahun 1985 adalah 180
( seratus delapan puluh ) hari untuk :
a. yang disebut pada huruf a sejak diketahui ke- bohongan atau tipu muslihat atau sejak putusan Hakim pidana memperoleh kekuatan hukum tetap,
dan telah diberitahukan kepada para pihak yang berperkara;
b. yang disebut pada huruf b sejak diketemukan su rat surat bukti, yang hari Berta tanggal ditemu- kannya h?rus dinyatakan dibavah sumpah dan di- sahkan oleh pejabat yang berwenang;
c. yang disebut pada huruf c, d, f sejak putusan memperoleh kekuatan hukum tetap dan telah di beritahukan kepada para pihak yang berperkara; d. yang tersebut pada huruf e sejak putusan yang
terakhir dan bertentangan itu memperoleh kekuat an hukum tetap dan telah diberitahukan kepada pihak yang berperkara.
2. Jalannya Permohonan Perkara Penln.lauan Kembali
Permohonan peninjauan kembali diajukan oleh pemo- hon secara tertulis dengan menyebutkan aejelas ;JelaBnya alasan yang di;jadikan dasar permohonan itu dan dimasuk- kan di kepaniteraan Pengadilan fiegeri yang memutus perka ra dalam tingkat pertama { pasal 71 Undang undang Ho, 1
tahun 1985 )• Apabila pemohon tidak dapat menuliB, maka
ia menguraikan permohonannya secara lisan dihadapan Ketua Pengadilan Hegeri yang memutus perkara dalam tingkat per tama atau hakim yang ditun^uk oleh Ketua Pengadilan yang akan membuat catatan tentang permohonan tersebut ( pasal 71 ayat 2 Undang undang Ho. 14 tahun 1985 )* Permohonan penin^auan kembali diajukan oleh pemohon kepada Mahkamah Agung melalui Ketua -rengadilan Hegeri yang memutus perka ra dalam tingkat pertama dengan membayar biaya perkara yang diperlukan ( pasal 70 Undang undang Ho. 14 tahun
1985 )• Setelah permohonan peninjauan kembali diterima
oleh Ketua Pengadilan hegeri tersebut, maka Panitera Pe ngadilan Hegeri tersebut berkewajiban memberi atau me- ngirimkan salinan permohonan itu kepada pihak lawan se- lambat lambatnya dalam waktu 14 hari, dengan maksud :
Agar pihak lawan mempunyai kesempatan untuk meng- ajukan jawaban, dalam hal apabila pemohon peninjauan kem bali telah memberikan alasan berdasarkan alasan pasal 67 huruf a atau huruf b dari Undang undang Ho. 14 tahun 1985.
Tenggang waktu yang diberikan oleh Undang undang ini, bagi pihak lawan untuk mengajukan jawabannya adalah 30 ( tiga puluh ) hari setelah tanggal diterimanya Balinan permohon an peninjauan kembali.
Agar dapat diketahui, apabila pemohon peninjauan kembali telah memberikan salah satu alasan dari beberapa alasan yang tersebut pada pasal 67 huruf c eampai huruf f
dari Undang undang Do. 14 tahun 1985 ( pasal 72 ayat 1, 2
Undang undang Ho. 14 tahun 1985 ).
Bila surat jawaban telah dibuat oleh pihak lawan, maka surat jawaban diserahkan atau dikirim kepada Penga dilan Kegeri dan oleh Panitera Pengadilan Hegeri dibubuhi cap, hari serta tanggal diterimanya jawaban tereebut, yang salinannya disampaikan atau dikirimkan kepada pihak pemohon untuk diketahui.
Setelah permohonan yang dimaksud dilengkapi dengan berkas perkara beeerta dengan biayanya, oleh Panitera Pe ngadilan begeri dikirim langsung kepada Mahkamah Agung se- lambat lambatnya dalam jangka waktu 30 ( tiga puluh ) hari. ( nasal 72 ayat 3, 4 Undang undang No. 14 tahun 1985 ).
Untuk permohonan peninjauan kembali tidak diadakan surat menyurat antara pemohon dan atau pihak lain dengan Kahkamah Agung. ( pasal 72 ayat 5 Undang undang No. 14 ta hun 1985 ).
Negeri yang memerlksa perkara dalam Tingkat Pertama atau Pengadilan Tingkat Banding untuk mengadakan pemeriksaan tambahan, atau meminta segala keterangan serta pertimbang- an dari pengadilan yang dimaksud ( pasal 73 ayat 1 ).
Selain itu Mahkamah Agung dapat meminta keterangan
dari Jaksa Agung atau pejabat lain yang diserahi tugae pe- nyidikan apabila diperlukan { pasal 73 ayat 2 Undang undang
No. 14 tahun 1985 ).
Pengadilan Negeri yang memeriksa perkara dalam Ting kat Pertamk atau Pengadilan Tingkat Banding, setelah melak- sanakan perintah dari Mahkamah Agung segera mengirimkan be- rita acarr. pemeriksaan tambahan serta pertimbangannya kepada Mahkamah Agung ( pasal 73 ayat 3 Undang undang No. 14 tahun 1985 ).
Apabila permohonan peninjauan kembali tersebut ber-
alasan, maka Mahkamah Agung mengabulkan permohonan peninjau-
an kembali, serta membatalkan putusan yang dimohonkan pe- ninjauan kembali terse tut dan selanjutnya Mahkamah Agung memeriksa dan memutue sendiri perkara yang telah diajukan oleh pemohon ( pasal 74 ayat 1 Undang undang Bo. 14 tahun 1985 ).
Setelah permohonan peninjauan kembali tersebut di- periksa dan diputus oleh Mahkamah Agung, maka salinan pu tusan tersebut lalu dikirim ke Pengadilan Negeri yang me mutus perkara dalam tingkat pertama dan selanjutnya Pani-
tera Pengadilan Aegeri jang bereangkutan roenyampaikan sa- linan putusan itu kepada pemohon Berta memberitahukan sa- linannya, selambat lambatnya dalam waktu 30 ( tiga puluh ) hari { pasal 75 Undang undang i*o. 14 tahun 1985 ).
PUTUSAN PENIBJAUAH KLHBALI
Mahkamah Agung sebagai Pengadilan Negara tertinggi mendapat tugas untuk mengadili perkara permohonan peninjau an kembali oleh pasal 15 Undang undang Ho. 19 tahun 1964
tentang Ketentuan ketentuan Pokok K-ekuasaan Kehakiman, Un dang undang Ho. 13 tahun 1965 tentang Pengadilan dalam Ling- kungan reradilan Umum dan Mahkamah Agung didalam paeal 31 dan pasal 52, kemudian diatur kembali oleh Undang undang Ho. 14 tahun 1970 tentang Ketentuan ketentuan Pokok Kekuasa- an Kehakiman dalam paeal 21 dan yang terakhir diatur dalam Undang undang Ho. 14 tahun 1985 tentang Mahkamah Agung da- lara pasal 34 dan pasal 66 sampai dengan pasal 77.
fungsi Mahkamah Agung dalam melakukan pemeriksaan dan memutuskan perkara yang dimohon peninjauan kembali ada lah untuk melakukan koreksi terakhir terhadap putusan peng adilan yang telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap.
Dalam memeriksa perkara permohonan peninjauan kem bali pertama tama dilihat masalah dapat diterima atau ti- daknya permohonan sebagai dasar pemeriksaaan. Apabila telah memenuhi persyaratan formal, maka Mahkamah Agung dapat me- masuki materi perkara tersebut.
Dalam kaitannya dengan permohonan peninjauan kembali itu, putusan Mahkamah Agung dapat dibedakan atas :
1. Permohonan Peninjauan Kembali tidak Dapat Diterima. 2. Permohonan Peninjauan Kembali Ditolak,
3. Permohonan Peninjauan Kembali Dikabulkan.
1. Permohonan Penin,1auan_Kemball Sidak Dapat Diterima
Apabila Byarat' syarat formal peninjauan kembali tidak dipenuhi, maka permohonan peninjauan kembali tidak dapat diterima oleh Mahkamah Agung.
Jadi permohonan peninjauan kembali tidak dapat di- terioa apabila :
a. Apabila permohonan peninjauan kembali telah me- lampaui tenggang/jangka waktu yang telah ditentu- kan.
b. Apabila diajukan oleh seorang wakil tanpa surat kuasa khusus.
c. Apabila diajukan terhadap putusan yang belum men- dapat kekuatan hukum tetap.
d. Apabila permohonan diajukan tidak kepada fcahkamah Agung.
e. Apabila diajukan untuk kedua kalinya.
f. Apabila permohonan ditujukan kepada orang yang bukan merupakan pihak dalam perkara,
g. Apabila permohonan tidak didasarkan atae alasan alasan sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 67
Ho. 1 tahun 1982 )•
Contoh putusan Mahkamah Agung mengenai peninjauan kembali yang dinyatakan tidak dapat diterima :
a. Putusan Mahkamah Agung tanggal 26 Maret 1987 No, 275 PK./Pdt/1984, bahwa putusan Mahkamah Agung yang telah memperoleh kekuatan hukum ( tingkat
kasasi ) telah diberitahukan kepada para pihak
pada tanggal 2 Maret 1983, sesuai dengan pemberi- tahuan No. 1448ii./bip/1977 dan permohonan penin- jauan kembali diajukan oleh pemohon pada tanggal 9 Pebruari 1984 dengan demikian permohonan penin- jauan kembali tersebut telah lewat waktu 12 bu- lan sejak putusan Mahkamah Agung memperoleh ke kuatan hukum tetap, jadi penerimaan permohonan peninjauan kembali tersebut telah melampaui teng- gang waktu yang ditentukan dalam pasal 67 Undang undang No, 14 tahun 1985*
b. Putusan Mahkamah Agung tanggal 18 Agustus 1983
No. 221 PK/jrerd/1981, bahwa Achmad Djaenuri
sebagai kuaaa dari pemohon peninjauan kembali, tidak mendapat surat kuasa khusus dari pemohon peninjauan kembali sebagaimana yang diharuskan oleh pasal 3 Perma flo. 1 tahun 1982 ( sekarang pasal 68 (1) Undang undang No, 14 tahun 1985 )* c. Putusan Mahkamah Agung tanggal 14 Desember 1976
Ho. 1 Kb/1974, bahwa berdasarkan pasal 21 Undang undang Mo. 14 tahun 1970 permohonan peninjauan kembali terhadap keputuean yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, harus diajukan langsung ke Mahkamah Agung, maka permohonan rekes sipil se- perti dalam perkara ini, menurut Mahkamah Agung termasuk dalam kerangka peninjauan kembali, peng- ajuannya secara formal ke Mahkamah Agung dapat diterima akan tetapi karena dalam hukum acara atau hal hal atau keadaan keadaan yang ditentu- kan dengan Undang undang, yang member! kemungkin- an ditempuhnya proses peninjauan kembali sebagai yang dimaksudkan oleh paeal 21 Undang undang Mo. 14 tahun 1970 itu, sampai Bekarang belum ada, gu gatan rekes sipil/peninjauan kembali seperti ini harus dinyatakan tidak diterima.^
d. Putusan Mahkamah Agung tanggal 19 Hesember 1975 &o. 156 &/L»ip/1975, bahwa gugatan rekes sipil/ peninjauan kembali seharusnya diajukan langsung ke Mahkamah Agung ( tetapi rekes sipil diajukan
ke Pengadilan Negeri )
^^urlsprudensi Indonesia, diterbitkan oleh Mahka- mah Agung fl.I.f 1976, h. 627-631.
Putusan Mahkamah Agung tanggal 14 ^esember 1985 Ho. 359 PK/Pdt/1984, bahwa yang dimohonkan pe- ninjauan kembali adalah perkara Ho. 112/1970 Perd. B jo Ho. 15/1975/Pdt. PT Bjm. jo Keg. Ho. 196 K/ Sip/1973. Terhadap putusan Mahkamah Agung Ho. 196 K/Sip/1973 telah pernah diajukan rekes sipil (pe- ninjauan kembali) dengan perkara Ho. 19/1974
Perd.B dan tidak diputus oleh pengadilan negeri Banjarmasin.
Kemudian terhadap putusan rekes sipil/peninjauan kembali tersebut dimohonkan banding ke pengadil an tinggi Banjarmasin yang menyatakan pengadilan negeri Banjarmasin tidak berwenang memeriksa gu- gatan rekes sipil/peninjauan kembali (putusan tanggal 26 Maret 1981) dan kemudian mohon kasasi (neg. Ho. 3709 K/bip/1981, atas dasar tersebut diatas ternyata putusan perkara yang bersangkutan sudah pernah dimohonkan peninjauan kembali berda- ear Perma Ho. 1 tahun 1971» sehingga menurut pa sal 6 Perma Ho. 1 tahun 1982 I sekarang pasal 66
(l) Undang Undang Ho. 14 tahun 1985 ), permohonan peninjauan kembali perkara Ho. 359/PK/Pdt/1984 ini dinyatakan tidak dapat diterima.
Putusan Mahkaipah Agung tanggal 5 Hopember 1973 Ho. 343 K/Sip/1973, Hekes sipil yang ditujukan
kepada orang yang tidak merupakan pihak dalam
perkara semula, tidak dapat diterima9 putusan
pengadilan linggi yang dibenarkan oleh Mahkamah Agung.
g. Hitusan Mahkaipah Agung tanggal 31 Januari 1986 Bo, 155 PK/Pdt/1984, bahwa alasan alasan yang di- kemukakan oleh pemohon peninjauan kembali tidak dapat dibenarkan karena tidak sesuai sebagaimana dimaksud pasal 2 Perma tahun 1982 ( sekarang pa
sal 67 Undang undang Mo. 14 tahun 1985 )•
Contoh putusan Mahkamah Agung yang permohonan penin jauan kembali tidak dapat diterima karena telah melampaui tenggang waktu yang ditentukan.