BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Deskripsi Hasil Penelitian
1. Latar Belakang Berdirinya Museum
Museum Dirgantara Mandala masuk ke dalam jenis museum militer. Hal ini
bisa dilihat dari segi koleksi yang hampir seluruhnya merupakan alutsista (alat
utama sistim pertahanan) mulai dari seragam militer, pesawat, rudal dan lain
sebagainya. Dari segi pengunjung Museum Dirgantara Mandala memiliki
pengunjung yang sangat beragam mulai dari pengunjung sebagai pelaku studi,
pengunjung yang memiliki tujuan tertentu, hingga pengunjung yang berwisata ke
museum.
Berdasarkan hasil penelitian dan sumber data yang diperoleh maka, peneliti
dapat menarik kesimpulan bahwa Museum Dirgantara Mandala dibangun atas
dorongan yang pertama, dalam rangka mewariskan nilai juang 45. Kedua,
melestarikan semua kegiatan yang ada di lingkungan TNI AU baik peristiwa
sejarah, jasa pahlawan pendahulu hingga untuk mengabadikan perkembangan TNI
AU dari tahun ke tahun. Museum Angkatan Udara mulai terbentuk pada 21 April
1967. Pada awalnya museum terletak di Jakarta lebih tepatnya di markas komando
wilayah udara V Jalan Tanah Abang Jakarta Pusat. Seiring berjalanya waktu dan
86 Wawancara dengan Ibu Letkol Ninuk Herlina (Pengelola Museum) pada tanggal 21 November 2018
pertimbangan oleh Staf Angkatan Udara pada tanggal 17 April1978 museum
dipindahkan ke Yogyakarta. Di Yogyakarta sendiri pada awalnya ditempatkan di
AAU (Akademi Angkatan Udara). Seiring bertambahnya koleksi yang bertambah
banyak Museum Dirgantara Mandala dan susahnya akses untuk mengunjungi
museum, museum kemudian dipindahkan ke bekas pabrik gula yang sudah
direnovasi sebelumnya. Lokasi tersebut tidak jauh dari AAU yang masih berada di
kompleks Angkatan Udara selain itu akses untuk ke museum lebih mudah.
Museum Dirgantara Mandala diresmikan oleh Kepala Staf TNI AU Sukardi pada
tanggal 29 Juli 1984.
Menurut pengelola museum, tujuan didirikanya Museum Dirgantara
Mandala adalah mendokumentasikan dan mengabadikan peristiwa sejarah di
lingkungan AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia) selain itu juga
mengenang jasa para pahlawan pejuang kemerdekaan dan mempertahankan
kemerdekaan Indonesia. Selain itu dengan didirikanya Museum Dirgantara
Mandala secara tidak langsung mengingatkan kepada masyarakat umum tentang
sejarah perjuangan serta mempertahankan kemerdekaan.
2. Koleksi Museum Dirgantara Mandala
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, koleksi yang ada di
Museum Dirgantara Mandala terdiri dari Alustsita bagian udara seperti pesawat,
helikopter, rudal dan lainya. Hal ini merupakan sebagai ciri khas dan keunikan
dari Museum Dirgantara Mandala. Dalam pengumpulan koleksi yang ada di
kemudian di museumkan. Benda koleksi yang ada di Museum Dirgantara
Mandala terdiri dari barang asli maupun replika.
Di Indonesia terdapat beberapa jenis museum antara lain museum maritim,
museum seni, museum sejarah, museum arkeologi dan museum ilmu
pengetahuan.87 Setiap museum mengkategorikan sendiri koleksinya
masing-masing. Museum Dirgantara Mandala adalah museum yang isinya hampir
sebagain besar merupakan sejarah perjuangan Indonesia pasca kemerdekaan tahun
1945 hingga 1980, jenis Museum Dirgantara Mandala adalah museum militer dan
dari segi koleksinya tidak ada pengkategorian khusus.88 Pembagian koleksi
berdasarkan dari tata letak ruangan sekaligus sebagai alur bagi pengunjung yang
datang. Dengan terbatasnya tempat dan ruang ada juga koleksi yang diletakan
disekitar halaman museum. Pada ruang utama yang berisikan foto dan patung dari
Kepala Staf Angkatan Udara. Masuk lagi ke ruang kronologi yang di dalamnya
menggambarkan sejarah perjuangan dan perkembangan TNI AU mulai dari
Proklamasi kemerdekaan tahun 1945 hingga 1980 koleksi ini menunjang
pembelajaran sejarah wajib dengan kompetensi dasar menganalisis strategi dan
bentuk perjuangan bangsa Indonesia dalam upaya mempertahankan kemerdekaan
dari ancaman Sekutu dan Belanda.89 Masuk ke ruang koleksi disini berisikan
koleksi seragam TNI AU yang pernah dipakai sebagai seragam dinas. Ruang
selanjutnya adalah ruang Kotama memuat benda koleksi berkaitan dengan
87 Direktori online museum di Indonesia, 2018, jenis museum,
(https;//direktorionlinemuseumindonesia.wordpres.com/jenis-museum/) diakses pada 25 april 2019 pada pukul 18.43 WIB
88 Wawancara dengan Bapak Kwaraseto (Pengelola Museum)
89 Silabus mata pelajaran sekolah menengah atas, mata pelajaran sejarah indonesia, kementrian pendidikan dan kebudayaan, jakarta, 2016 hlm 21
Kotama di jajaran TNI AU. Kemudian ada ruang Alutsista I dan II yang berisikan
koleksi senjata bagian udara yang pernah digunakan oleh TNI AU dari tahun 1945
hingga 1980, koleksi ini bisa dipergunakan sebagai sumber belajar pelajaran
sejarah Indonesia sama dengan kompetensi dasar pada ruang kronologi.
Selanjutnya ada ruang diorama I hingga III diorama menceritakan mulai dari
pembentukan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) bagian penerbangan pada 12
November 1945 hingga perlawanan AURI terhadap Agresi Militer Belanda.
koleksi diorama ini cocok dalam materi sejarah Indonesia wajib mengenai
pertahanan kemerdekaan Indonesia. Masuk lagi lebih dalam ada ruang minat yang
berisikan tentanglambang skadron udara TNI AU dan jenis peswat pendukungnya.
Ruangan yang paling akhir sebelum keluar dari gedung utama adala mini theater
di sini akan dipertontonkan film dokumenter mengenai sejarah perkembangan
TNI AU. Selain ruangan yang disebutkan tadi ada juga bunker dan ruang pameran
mesin pesawat.
Koleksi museum merupakan suatu hal sangat penting yang harus ada di
dalam museum. Koleksi yang tersimpan dan berada di Museum Dirgantara
Mandala memiliki chiri khas selain itu juga memiliki nilai historis yang tinggi,
jenis koleksi inilah yang membedakan museum ini dengan museum lainnya.
Koleksi yang berkaitan dengan sejarah juga dapat dijadikan sebagai sumber
pembelajaran sejarah wajib.
Tingginya nilai sejarah yang ada dalam setiap koleksi tentu dapat
dimanfaatkan sebagai tambahan sumber pembelajaran. Adanya label dan kartu
untuk menangkap informasi yang ada.90 Pelajaran sejarah perjuangan dalam
mempertahankan kemerdekaan tentu saja sudah diajarkan di sekolah, namun
dengan berkunjung langsung ke Museum Dirgantara Mandala akan membuat
siswa memiliki gambaran dan berimajinasi serta menabah ilmu pengetahuan
mereka yang selama ini diajarkan disekolah. Selain itu siswa dapat berinteraksi
langsung dengan benda koleksi yang ada di museum. Dengan melihat langsung
benda koleksi yang ada di Museum Dirgantara Mandala siswa dapat memetik
nilai yang dapat mereka teladani dari para pahlawan pendahulu. Hal ini sejalan
dengan pernyataan oleh pihak museum yang menekankan semangat juang kepada
generasi muda atas yang disebut di era sekarang dengan generasi milenial untuk
mengaplikasikan kedalam kehidupan mereka agar terhindaar dari pengruh negatif.
3. Pemanfaatan Museum Dirgantara Mandala Sebagai Sumber Belajar dan Destinasi Wisata
Museum secara etimologis berasal dari bahasa Yunani yaitu mouseion yang
merujuk pada nama kuil untuk sembilan dewi muses yang melambangkan ilmu
dan kesenian.91 Sedangkan menurut ICOM museum adalah suatu lembaga yang
permanen, yang melayani kepentingan masyarakat dan kemajuannya, terbuka
untuk umum dan bukan bertujuan untuk mengambil keuntungan dan untuk tujuan
pendidikan serta rekreasi.92
90 Amir Stuarga, Studi Museologia, Jakarta: Direktorat Jendral Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1991, hlm 35
91 Tjahjopurnoo R, Sejarah Permuseuman Di Indonesia, Jakarta: Direktorat Permuseuman, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala, Kementrian pariwisata dan ekonomi kreatif,2011 hlm 30
92 Schouten, Pengantar dedaktif museum, Jakarta, Proyek Pembinaan Museum Jakarta, 1991, hlm 3
Pemanfaatan Museum Dirgantara Mandala yang pertama adalah sebagai
sumber belajar diperoleh dari kuesioner yang disebarkan oleh peneliti terhadap 30
orang responden yang sedang melakukan studi lapangan maupun sekedar
berkunjung ke Museum Dirgantara Mandala. Kuesioner mengenai pemanfaatan
museum sebagai sumber belajar terdiri dari 8 butir pernyataan yang terdiri dari 6
pernyataan positif dan 2 pernyataan negatif. Pernyataan tersebut berisikan tentang
seberapa besar pemanfaatan museum sebagai sumber belajar. Dari indikator
mengenai sumber belajar peneliti dapat mengetahui tanggapan pengunjung
terhadap pemanfaatan museum sebagai sumber belajar. Berdasarkan hasil
penelitian dapat disimpulkan bahwa pengunjung yang datang ke museum
sebagian besar menggunakan sebagai tambahan sumber belajar. Sebagaian besar
pengunjung yang datang ke Museum Dirgantara Mandala merasa dengan
berkunjung ke museum bisa menambah wawasan mereka terhadap perjuangan
kemerdekaan pasca kemerdekaan Indonesia hal ini ditunjang dengan adanya
keterangan yang ada dalam setiap koleksi sehingga memudahkan para pengunjung
dalam mencari informasi atau ilmu pengetahuan.
Gambar XIV. Ruang Kronologi
Gambar diatas menunjukan Museum Dirgantara Mandala bisa digunakan
sebagai sumber belajar, karena di dalam museum terdapat teks yang diletakan
bersebelahan dengan pesawat asli yang digunakan sebagai misi operasi TNI AU.
Para pengunjung bisa membaca langsung teks yang ada sebagai wawasan
tambahan. Selain teks, adanya gambar berwarna yang membuat menjadi lebih
menarik lagi. Berikut adaalah beberapa gambar yang ada di Museum Dirgantara
Mandala sebagai sumber belajar.
Gambar XV. Ruang Kronologi (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Gambar diatas merupakan cerita sejarah mengenai operasi penumpasan
Permesta. Dari gambar yang ada berisikan tentang foto-foto sejarah dan
dilengkapi dengan cerita operasi Militer. Dari cerita sejarah yang ada di Museum
Dirgantara Mandala, pengunjung bisa membaca dan melihat langsung operasi
Militer yang dilakukan oleh TNI AU.
Gambar XVI. Diorama Perebutan Lapangan Maguwo (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Gambar di atas adalah sebuah diorama yang menceritakan tentang perebutan
pangkalan udara Maguwo pada tanggal 9 Oktober 2019. Para pengunjung yang
datang ke Museum akan berwisata sambil belajar dengan melihat diorama dan
membaca ceritanya. Museum akan mengajak pengunjung untuk berimajinasi
mengenai kejadian yang berkaitan tentang kedirgantaraan Indonesia.
Kegiatan edukasi yang ada di Museum Dirgantara Mandala yang pertama
adalah adanya Tour Guide yang mendampingi serta memberikan penjelasan
terhadap para pengunjung dan memberikan wawasan tambahan.93 Yang kedua ada
kegiatan outbond yang dilakukan oleh pihak Museum Dirgantara Mandala dengan
mengundang perwakilan sekolah yang ada di Yogyakarta untuk melakukan
permainan sekaligus kegiatan edukasi di lingkungan museum.94 Yang ketiga
adalah diadaknya workshop yang dilakukan oleh pihak pengelola museum.
Kegiatan workshop ini biasanya dilakukan dengan mengundang perwakilan
sekolah yang ada di Yogyakarta untuk kegiatan edukasi.95 Pengambilan
wawancara dari para siswa juga menunjukan bahwa Museum Dirgantara Mandala
cocok digunakan sebagai sumber belajar
Kedua adalah sebagai destinasi wisata. Hasil indikator destinasi wisata
diperoleh dari kuesioner yang diseberkan oleh peneliti terhadap 30 responden.
Peneliti memberikan kuesioner dengan 7 pernyataan yang berisikan 6 pernyataan
positif dan 1 pernyataan negatif. Pernyataan tersebut berisikan tentang kemauan
pengunjung untuk berkunjung ke Museum Dirgantara Mandala. Dari indikator
93 Wawancara dengan Ibu Letkol Ninuk Herlina (Pengelola Museum)
94 Wawancara dengan Bapak Kwaraseto (Pengelola Museum)
pemanfaatan sebagai destinasi wisata peneliti dapat mengetahui tanggapan para
pengunjung mengenai pemanfaatan Museum Dirgantara Mandala. Dapat ditarik
kesimpulan bahwa kebanyakan yang datang ke museum untuk melakukan
kegiatan rekreasi karena mereka bosan dengan pelajaran yang diadakan di dalam
kelas sehingga berkunjung ke museum sebagai alternatif berwisata sambil belajar.
Hal ini ditunjang dengan adanya simulator pesawat dan area yang menghadap
langsung ke bandara Adisucipto menjadikan nilai tambah dalam destinasi wisata
karena dianggap unik. Hal ini diperkuat dengan pernyataan bapak Makmur yang
mendampingi murid SMA dari Jakarta beliau beranggapan bahwa dengan
berkunjung ke Museum Dirgantara Mandala membuat siswa menjadi segar
kembali karena bisa berinteraksi langsung dengan koleksi yang ada di museum.96
Pernyataan serupa juga dikemukakan oleh bapak Asep yang beranggapan bahwa
dengan berkunjung ke Museum Dirgantara Mandala membuat siswa menjadi
lebih santai dan menjadikan terobosan baru sebagai destinasi wisata karena
koleksi yang ada di dalam museum.97 Berikut ini adalah gambar Museum
Dirgantara Mandala sebagai alternatif destinasi wisata:
Gambar XVII. Halaman Museum Dirgantara Mandala (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
96 Wawancara dengan Bapak Makmur (Guru)
Pada gambar di atas merupakan latar yang dimiliki Museum Dirgantara
Mandala. Pada halaman tersebut pengunjung akan disuguhkan dengan pesawat
tempur dan rudal milik TNI AU. Halaman ini menjadikan pengunjung lebih
tertarik lagi untuk berwisata ke Museum karena bisa memegang langsung pesawat
asli yang sudah di museumkan.
Gambar XVIII. Ruang Alutsista (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Gambar di atas terletak di dalam museum Dirgantara mandala. Pengunjung
yang datang bisa melihat pesawat Dinas Militer milik TNI AU, selain melihat
secara langsung pengunjung juga bisa menaiki pesawat tersebut.
Gambar XIX. Simulator pesawat Mustang P-51 (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Gambar di atas merupakan simulator peswat Mustang P-51. Simulator
tersebut bisa digunakan pengunjung dengan arahan dari pihak Museum Dirgantara
Mandala sehingga museum bisa digunakan sebagai sumber belajar sekaligus salah
satu alternatif berwisata.
Dari pembahasan yang ada di atas dapat disimpulkan Museum Dirgantara
Mandala dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar dan destinasi wisata. Dalam
ruang kronologi pengunjung bisa menggunakan sebagai sumber belajar sejarah.
ruang diorama juga bisa digunakan sebagai sumber belajar sejarah. kemudian
halaman, ruang alutsista, dan juga simulator pesaat terbang bisa digunakan
sebagai salah satu alternatif dalam berwisata.
Hal tersebut dapat dibuktikan hasil dari penelitian yang peneliti lakukan
hasil dari penelitian tersebut adalah sebagai sumber belajar mencapai angka 63%
dalam klasifikasi cukup tinggi, 30% untuk kategori tinggi, dan 7% untuk kategori
cukup. Berdasarkan data tersebut maka, sebagian besar pengunjung sangat setuju
Museum Dirgantara Mandala dimanfaatkan sebagai sumber belajar. Selain
sebagai sumber belajar Museum Dirgantara Mandala dimanfaatkan juga untuk
destinasi wisata, hasil dari penelitian tersebut adalah dalam kategori sangat tinggi
mencapai 70% dan kategori tinggi mencapai 30% berdasarkan data tersebut maka
pengunjung setuju Museum Dirgantara Mandala dimanfaatkan sebagai destinasi
wisata yang baik.
Dari hasil wawancara yang telah dilakukan menunjukan bahwa sumber
belajar lebih besar dari destinasi wisata. Hal ini didukung oleh hasil wawancara
Azhar Hamidah sebagai siswa sekolah yang mengatakan bahwa dengan
suatu benda tersebut.98 Pendapat ini juga didukung oleh teori kerucut pengalaman
Edgar Dale yang menyatakan bahwa berkunjung ke objek secara langsung dapat
meningkatkan imajinasi pengetahuan seseorang dari abstak ke konkrit pada
tingkat ke dua yang berupa pengamatan atau benda tiruan. Kemudian Ibu ninuk
Herlina selaku pengelola museum juga berpendapat bahwa Museum Dirgantara
Mandala juga digunakan sebagai pembelajaran baik tingkat PAUD hingga tingkat
Mahasiswa dan sebagai pembelajaran umum.99 Hal serupa juga dikatakann oleh
Arlen Putri Pratiwi sebagai siswa sekolah beranggapan bahwa Museum
Dirgantara Mandala bagus digunakan sebagai sumber pembelajaran karena di
museum tersebut terdapat keterangan dan tulisan yang memudahkan para siswa
untuk memahami suatu benda peninggalan pahlawan.100
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dengan datang langsung ke
museum siswa dapat memperdalam ilmu pengetahuan yang mereka dapat dari
sekolah serta mendapatkan pengalaman dan kesan baru yang didapatkan dari luar
sekolah. Hasil ini dikuatkan dengan adanya wawancara yang dilakukan oleh
pengelola museum, guru, siswa dan pengunjung umum. Selain itu kegunaan
terpenting dari Museum Dirgantara Mandala adalah sebagai sumber belajar.
98 Wawancara dengan Azhar Hamidah (Siswa)
99 Wawancara dengan Ibu Ninuk Herlina (Pengelola Museum)
77 BAB V KESIMPULAN A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diperoleh kesimpulan sebagai
berikut:
1. Hal yang mendorong didirikannya Museum Dirgantara Mandala adalah
peristiwa sejarah dalam pertumbuhan TNI AU dan mewariskan nilai juang 45.
Pada awalnya Museum TNI AU diresmikan pada tanggal 4 April 1969 yang
terletak di Markas Kawasan Komando Wilayah Udara V (MAKOWILU) jalan
Tanah Abang Bukit Jakarta Pusat. Karena pertimbangan berdirinya AAU
(Akademi Angkatan Udara) yang ada di Yogyakarta dan besarnya semangat
Maguwo maka Museum dipindahkan ke Yogyakarta dengan SK No.
Kep/11/IV/1987 tanggal 17 april 1978. Museum TNI AU kemudian diberi
nama MUSPURDILA (Museum Pusat Dirgantara Mandala) menggunakan
bangunan bekas pabrik gula yang sudah direhabilitasi. Museum Dirgantara
Mandala diresmikan pada tanggal 29 Juli 1984 oleh Kepala Staf TNI AU
Marsekal TNI Sukardi. Museum Dirgantara Mandala adalah museum yang
berlatar belakang militer, hal ini bisa dilihat dari koleksi yang ada berupa
Alutsista bagian udara. Dengan latar belakang tersebut museum diharapkan
mampu memberikan pengetahuan kepada masyarakat umum khususnya bagi
warga sekitar dan para pengunjung melalui koleksi yang ada, sehingga mereka
mampu mengambil nilai positif dan bangga kepada para pahlawan yang sudah