• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. LANDASAN TEORI DAN DEFINIS

B. Orientasi Seksual dan Perilaku Seksual yang Berbeda

2. Latar Belakang Berkembangnya Orientasi Seksual

Homoseksualitas telah ada dan berkembang dalam kebudayaan masyarakat sejak zaman pra-sejarah jauh sebelum manusia mengenal tulisan. Hal ini dapat dilihat pada perilaku seksualitas mamalia dan juga pada hubungan seksual antara manusia dalam kebudayaan yang berlaku pada masa itu. Perilaku-perilaku homoseksualitas tidak hanya berakhir pada masa itu saja. Homoseksualitas juga ternyata berlangsung pada masa-masa peradaban selanjutnya. Hal ini dibuktikan dengan adanya bukti mitos, manuskrip, candi-candi seperti candi Cetho‟, pura Puseh, candi Sukun, pura Penyungsung, pura Besakih28, Pelinggih Ratu Ayu Pingit29 dan bukti-bukti sejarah lainnya yang ada pada masa peradaban-peradaban kuno Hawaii kuno, Pulau Melanisia, Pulau Mangaia di Polynesia, Suku Trobiander, Sironon, Duson dan orang-orang di dataran Cree30, Yunani kuno, Mesopotamia, Cina, peradaban Mesir pertama dan termasuk juga pada masa peradaban Islam hingga abad millennium dan kebudayaan Nusantara yang masih

27

Collin Spencer, Sejarah Homoseksualitas, h. VI.

28

DR.James Danandjaja, Kebudayaan Petani Desa Trunyan di Bali, (Jakarta: UI-press:1989). H. 202

29

Ibid,h. 367-368.

30

menganut kepercayaan Animisme31 dan Dinamisme ini. Setiap kebudayaan dan seksualitas yang tumbuh berkembang pada masa itu sangat kental sekali dipengaruhi oleh kebudayaan yang menganut Heteronormativitas dan Phallusentris yang Maskulin32.

Segalanya sangat berhubungan dengan kegiatan yang seksis karena pada saat itu mereka sangat memuja kesuburan, setiap kegiatan tersebut juga melibatkan kegiatan-kegiatan yang mengarah pada homoseksualitas, karena homoseksualitas merupakan bagian dari seksualitas yang lahir dari kebudayaan. Maka jelas bahwa homoseksualitas ada dan melekat sampai sekarang ini, tidak hanya homoseksualitas bahkan juga terdapat perbancian (travetisme) termasuk di dalamnya.

Membahas homoseksualitas dapat ditinjau melalui pengaruh dari tradisi, kebudayaan, ekonomi, kekayaan baik yang berupa tanah, etika yang terorganisasi, dan identifikasi sosial. Melalui faktor-faktor tersebut dapat diketahui sampai sejauh mana pengaruhnya pada cara pandang masyarakat dewasa ini. Homoseksualitas telah melekat sangat dalam pada masyarakat sehingga menimbulkan stigma negatif yang mempengaruhi pengungkapan pandangan tentang perilaku menyimpang hingga menimbulkan homophobia.

31

Untuk keterangan dan bacaan lebih jauh lihat Sarah Dening, The Mythology of Sex, USA: macmillan general references, 1996.

32

Phallussentris, Phallus: symbol alat reproduksi laki-laki, centre: pusat. Untuk lebih lanjut dapat lihat Rachmat Hidayat, Ilmu Yang Seksis: Feminism dan Perlawanan Terhadap Teori Sosial Maskulin, (Yogyakarta: Jendela, 2004). h.177.

Selama perjalanannya homoseksual memiliki beberapa periode penting yang terjadi. Kemunculannya dalam beberapa hal inilah yang paling melekat dalam ingatan dunia dan mempengaruhi timbulnya stigma negatif. Diantaranya adalah, peristiwa binasanya kaum Sodom umat Nabi Luth yang dilaknat oleh Allah karena melakukan tindak seksualitas sejenis, mereka telah diperingati oleh Nabi Luth namun tidak menghiraukan. Maka Allah membinasakan mereka dengan cara menghujani mereka dengan hujan batu dari neraka hingga mereka binasa. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur‟an:

ي عْ ا حأ ْ ب ق س شح فْ ا تْأتأ ْ ق ق ْ إ ط

*

فرْس ْ ق ْ ت أ ْ ب ء س ا د ْ ش جر ا تْأت ْ إ

*

ر طتي س أ ْ إ ْ تيْرق جرْخأ ْا ق أ اإ ْ ق ا ج ك

*

يرب غْ ا ْت ك تأرْ ا اإ ْ أ ْيج أف

*

ي رْج ْ ا ق ك ْيك ْرن ف ارط ْي ْرطْ أ

*

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kalian mengerjakan perbuatan fahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun sebelum kalian. Sesungguhnya kalian mendatangi laki-laki untuk melepaskan syahwat, bukan kepada wanita; malah kalian ini kaum yang melampaui batas. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Usirlah mereka dari kotamu ini, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura menyucikan diri. Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu.” (QS Al-A‟raf:80-84).

Peristiwa yang terjadi kemudian adalah peristiwa meletusnya gunung Vesuvius di Italia yang membinasakan kota Pompeii terutama kota Namples. Tempat tersebut merupakan tempat pusat perzinaan dan masyarakatnya banyak yang homoseksual.33

33

Rama Azhari dan Putra Kencana, Membongkar Rahasia Jaringan Cinta Terlarang Kaum Homoseksual (Jakarta: Hujjah Press, 2008), h. 51.

Berlanjut pada tahun 1930-an bangsa Yahudi, serta kaum homoseksual yang dianggap sebagai orang-orang yang berbahaya, ketika itu sekitar 50.000 orang dipenjarakan di camp-camp pengasingan Nazi ketika Nazi berkuasa.34 Sejarah perjalanan kaum homoseksual yang kelam tidak hanya berakhir sampai di sini. Pada tahun 1950-an Inggris mendirikan konselir untuk membantu pemerintahan dalam membuat undang-undang menghadapi homoseksualitas yang belakangan marak terjadi dalam masyarakat dan juga prostitusi. Namun, pembentukan komisi ini tidak mengubah sikap apapun dalam jajaran penegak hukum dalam memberikan pelayanan yang sama dan adil terlebih pihak yang berwenang bersikap sangat mengolok-olok kesengsaraan yang dialami oleh pihak yang dianggap “tidak seimbang itu”35. Pada bulan Juni 1969 di New York, Amerika Serikat. berlangsung huru-hara Stonewall, ketika kaum waria dan gay melawan represi polisi yang khususnya terjadi pada sebuah bar bernama Stonewall Inn. Peristiwa ini dianggap permulaan pergerakan gay yang terbuka dan militan di Barat.36 Berlanjut pada tahun 1970-an berlangsung minggu Gay dan mengalami masalah yang tidak jauh berdeda pada masa sebelumnya tentang bagaimana cara berpakaian dan bertingkah laku. Hal ini sempat membuat homoseksual terpecah namun semangat perjuangan untuk memperjuangkan hak dan keadilan mereka dalam masyarakat tidak surut begitu saja. Kemudian pada

34

Collin Spencer, Sejarah Homoseksualitas, h 420.

35

Collin Spencer, Sejarah Homoseksualitas, h. 441-442.

36

Lihat juga Collin Spencer, Sejarah Homoseksualitas, (Yogyakarta: Kreasi Wanaca, 2004), Untuk keterangan kejadian huru-hara stonewall hal 447- 448.

tahun 1978 International Lesbian and Gay Association (ILGA) berdiri di Dublin, Irlandia. 37.

Pada tahun-tahun selanjutnya perjuangan kaum L.G.B.T. mulai memasuki masa-masa cerah. Kaum homoseksual mulai berani berkumpul keluar di tempat- tempat publik, seperti klub, kafe-kafe, restoran, pusat perbelanjaan, taman dan lainnya. Mereka berkumpul baik untuk saling mengenal, sekedar berbicara, ataupun untuk berdiskusi dari topik pembicaraan yang ringan hingga tema pembicaraan yang berat, seperti membicarakan masalah sosial, ekonomi, politik hingga membicarakan isu-isu terbaru tentang pergerakan L.G.B.T yang terbaru.

Lambat laun homoseksual mulai dilihat sebagai bagian bisnis hiburan yang menjanjikan. Seksualitas di dalam pandangan masyarakat perlahan mulai berubah kini hal tersebut tidak lagi dilihat hanya sebatas sebuah hubungan yang intim yang dapat dilakukan di dalam sebuah ruangan yang tertutup dan intim saja namun sekarang semakin banyak pihak yang berani untuk mengkonsumsi dan mengeksplorasi erotika tidak sebatas prokreasi namun dapat dilihat menjadi suatu pilihan hidup bagi yang lain.

Peristiwa tak kalah penting lainnya adalah pendirian monumen “Homomonument” di Belanda tahun 1987. Monumen ini berbentuk segitiga tiga dimensi yang berlapiskan batu marmer berwarna pink atau merah muda. Didirikan sebagai pusat simbol perjuangan kaum homoseksual dan juga sebagai refleksi gerakan homoseksual di masa datang monument ini dibangun sebanyak

37

tiga buah. Masing-masing diletakkan di tempat yang berbeda-beda dengan bentuk segitiga yang memiliki makna “sebuah peringatan masa lalu, sebuah pengakuan dan perdebatan dimasa sekarang, dan inspirasi di masa datang”.38

Untuk di Indonesia sendiri homoseksual dan seksualitas telah ada sejak zaman dulu dan dibicarakan dalam setiap ritual, bersatu sebagai bagian dari kebudayaan lokal sebagaimana yang telah disebutkan pada penjelasan awal. Homoseksual telah menjadi bagian dalam inisisasi-inisiasi kebudayaan daerah. Contohnya Reog Ponorogo, dalam ritualnya untuk menjadi seorang Warok Gemblak39 hebat, seseorang dilarang untuk bergaul dengan perempuan, karena perempuan dianggap membawa kelemahan pada para pria, dan diyakini jika berdekatan dengan perempuan itu, akan menghilangkan kesaktian mereka. Ketika mereka mengeluarkan sperma ketika terangsang kepada perempuan maka akan menghilangkan kesaktian ilmu yang mereka pelajari dan hal-hal seperti ini sangat diyakini oleh masyarakat budaya dimana kebudayaan sangat berpengaruh dalam kehidupan mereka. Kemudian juga terdapat ukiran tentang seksualitas yang tidak membatasi masalah orientasi pada relief candi-candi yang tersebar di Indonesia sebagai simbol dari kesuburan.40

Sedangkan seksualitas di Indonesia bagian Timur terutama Bali jejak ritual kebudayaan yang tidak tabu pada seksualitas sudah ada seperti candi Sukun

38

Rama Azhari dan Putra Kencana, Membongkar Rahasia Jaringan Cinta Terlarang, h. 47.

39

Arus Pelangi dan Hivos, Outzine! Edisi Juli 2008 (Jakarta: Arus Pelangi,2008 ),h. 13.

40

DebDikBud, Sejarah Kebudayaan Bali: Kajian Perkembangan dan Dampak Pariwisata. (Jakarta:DebDikBud RI:1998), h. 73-76.

dan candi Cetho‟, Pura Penyungsung, Pura Besakih41, kuil utama Trunyan. Relief-relief candi tersebut banyak yang berukiran Lingga (kemaluan perempuan) dan Yoni (kemaluan laki-laki), Serat Centhini juga merupakan hasil dari kebudayaan keraton Surakarta di Nusantara yang merupakan sebuah kitab yang berisikan tata cara dalam berhubungan intim dan seksualitas42. Bukti sejarah tersebut membuktikan bahwa sejak dulu masyarakat Nusantara tidak tabu untuk membicarakan tentang seksualitas, bahkan dianggap sebagai sebuah simbol sakral kesuburan.

Awal abad ke-20 sekitar tahun 1920-1930an pada masa penjajahan sudah terdapat banyak homoseks di berbagai kota di Indonesia namun masih belum dapat terlacak dengan baik, hal ini dibuktikan dengan adanya penemuan naskah autobiografi tentang seorang priayi Jawa yang menuliskan tentang kehidupannya dimasa kolonial Belanda.43 Pada zaman dulu kaum L.G.B.T memang tidak banyak yang terlihat dan memang baru meluas dalam jaman modern, terutama pada abad ke -20. Kemudian pada sekitar akhir tahun 89 hingga awal tahun 90-an banyak berdiri LSM-LSM yang membela hak-hak L.G.B.T seperti Indonesian Gay Society (IGS), GAYa Nusantara.

Meskipun di Indonesia sendiri sebetulnya sudah terdapat lembaga swadaya masyarakat yang menangani masalah L.G.B.T sejak tahun 1982, yaitu

41

DR.James Danandjaja, Kebudayaan Petani Desa Trunyan di Bali, (Jakarta: UI-Press:1989). H. 202.

42

Elizabeth Prasetyo dalam Fulgurous Appearance Of The Mask In Serat Centhini, Mask: The Other Face of Humanity: Various Vsion On The Role Of The Mask In Humansociety,(Filiphine: Rex Book store:2002). h.77

43

Amen Budiman, Gay Pilihan Jalan Hidupku: Pengakuan Seorang Priayi Jawa Zaman Penjajahan Belanda (Semarang: Mimbar, 1990), Kata pengantar paragraf pertama.

Lambda namun pada saat itu memang baru sedikit atau sangat jarang sekali LSM yang memperjuangkan kaum L.G.B.T yang diperjuangkannya. Hanya pada masa era 1969 pada saat Ali Sadikin menjadi gubernur DKI dibentuklah organisasi wadam pertama, Himpunan Wadam Djakarta (Hiwad) berdiri dan difasilitasi oleh badan pemerintahan44.

Kemudian memasuki era millennium dan akhir tahun 90-an memang pergerakan L.G.B.T seperti memasuki masa-masa kemudahannya meski tidak semudah yang dibayangkan karena masih banyak pertentangan yang terjadi. Selain dari sisi luar negeri, di dalam negeri sendiripun mereka mengalami kesulitan karena pada masa era Orde Baru seksualitas manusia pada masa kepemimpinan Soeharto diikat tidak boleh keluar dari ranah pribadi45. Kemudian pada ranah Internasional isu orientasi seksual masuk dalam agenda Konferensi PBB tentang Hak Asasi Manusia di Wina, Austria, tetapi ditentang oleh negara negara konservatif, termasuk Singapura hal tersebut terjadi pada tahun 1993. Kemudian pada tahun yang sama Kongres Lesbian & Gay Indonesia (KLGI) I diselenggarakan di Kaliurang, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Diikuti sekitar 40 peserta dari Jakarta hingga UjungPandang, kongres ini Menghasilkan enam butir ideologi pergerakan gay dan lesbian Indonesia. GAYa NUSANTARA mendapat mandat untuk mengkoordinasi Jaringan Lesbian & Gay Indonesia (JLGI)46.

44

Rama Azhari dan Putra Kencana, Membongkar Rahasia Jaringan Cinta Terlarang, h . 60.

45

Hasil wawancara dengan Soe Tjen Marching, Jakarta 30 September 2010.

46

Selama masa-masa perjuangan, kaum L.G.B.T. mengalami banyak masa pasang surut dan tidak mudah, setelah mendapatkan sedikit kemudahan pada tahun 1993 namun masalah kembali muncul pada November 2000 pada acara Kerlap-Kerlip Warna Kedaton 2000, acara pendidikan HIV/AIDS melalui hiburan di Kaliurang, Yogyakarta, yang diserang oleh serombongan laki-laki yang dinamakan Gerakan Anti-Maksiat (GAM).47 Hingga sekarangpun perjuangan L.G.B.T tidak berhenti hingga mereka mendapatkan perlakuan yang layak meski masih banyak perlakuan tindak diskriminatif yang terjadi dari hal tersebut juga menyebabkan jatuh korban nyawa hingga tahun lalupun masih jatuh korban, yaitu korban seorang transgender yang meninggal tenggelam akibat menghindar dari kejaran SatPol PP48.

Dokumen terkait