BAB III: KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS DAN DEFINISI
DAFTAR GAMBAR
1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Indonesia merupakan negara berkembang yang sedang membangun, menghadapi banyak masalah kesehatan masyarakat. Sebagai negara agraris yang memasuki era industrilisasi membawa Indonesia ke dalam berbagai transisi, yaitu transisi epidemiologi (penyakit), demografi (kependudukan), dan lingkungan. Penyakit-penyakit berbasis lingkungan tersebut masih merupakan penyebab utama kematian. Penyakit berbasis lingkungan yang masih menjadi pola kesakitan dan kematian di Indonesia, mengindikasikan masih rendahnya cakupan dan kualitas intervensi kesehatan lingkungan (Achmadi, 2011).
Salah satu penyakit berbasis lingkungan karena permasalahan lingkungan yaitu Anemia. Anemia merupakan keadaan dimana masa eritrosit dan masa hemoglobin yang beredar tidak memenuhi fungsinya untuk menyediakan oksigen bagi jaringan tubuh, (Handayani et al, 2008). Anemia menyerang lebih dari 2 milyar penduduk dunia. Di negara berkembang, terdapat 370 juta wanita yang menderita anemia dengan prevalensi 51%. Prevalensi Anemia tertinggi terdapat di Asia Selatan 64%, Asia Tenggara 47%, Timur Tengah 27%, Cina 26% dan Amerika Serikat 21% (Gibney, et al, 2005).
Prevalensi Anemia di Indonesia menurut Husaini dkk dalam Handayani et al, (2008) anak prasekolah 30-40 %, anak usia sekolah 25-35%, dewasa tidak hamil 40%, hamil 50-70%, laki-laki dewasa 20-30%, pekerja berpenghasilan rendah
30-2
40%, berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan jumlah tertinggi penderita anemia terdapat pada wanita hamil dan wanita dewasa tidak hamil. Hasil penelitian sebelumnya menunjukan jumlah tertinggi penderita anemia terdapat pada wanita hamil dan wanita usia subur, dengan prevalensi pada wanita hamil 50-63% dan wanita usia subur 40% (Mulansari, 2012).
Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (2007) prevalensi anemia di DKI Jakarta pada wanita dewasa tidak hamil 27,6%, laki-laki 14,6 % dan anak-anak 18,6% dan wanita hamil 59,1%. Berdasarkan data prevalensi anemia di DKI Jakarta, jumlah tertinggi penderita anemia juga terdapat pada wanita hamil dan wanita dewasa tidak hamil, sehingga dapat disimpulkan bahwa wanita merupakan kelompok yang rentan terhadap kejadian anemia (Riskesdas, 2007).
Saat ini pekerja wanita memiliki peran ganda, yaitu sebagai pekerja dan juga sebagai penanggung jawab pertumbuhan serta kualitas anak mereka sebagai generasi penerus. Sesuai kodratnya, pekerja wanita mengalami haid, kehamilan, melahirkan dan menyusui bayi. Kondisi ini memerlukan pemeliharaan dan perlindungan kesehatan yang baik agar generasi penerus terjamin kesehatannya (Depkes, 2013).
Umumnya wanita lebih beresiko terserang anemia dibandingkan pria. Hal ini disebabkan wanita harus mengalami menstruasi setiap bulannya sehingga menyebabkan kekurangan darah. Tidak heran jika penyakit anemia merupakan penyebab tingginya kematian ibu serta penyebab Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di Indonesia. Oleh sebab itu wanita lebih rentan terserang anemia dibandingkan dengan pria (Setiyani, 2011). Depkes (2012) mencatat 1 dari 2 wanita pekerja di Indonesia beresiko anemia. Anemia mengakibatkan pekerja menjadi mudah sakit,
3
mudah terjadi kecelakaan sehingga angka absensi meningkat dan apabila hamil akan mempunyai risiko saat melahirkan serta melahirkan bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) (Depkes, 2013).
Anemia umumnya disebabkan oleh faktor genetik, defisiensi besi, gangguan sumsum tulang, pendarahan, namun juga bisa disebabkan karena pencemaran udara (Gibney et al, 2005). Pencemaran udara di daerah perkotaan merupakan salah satu masalah yang harus dihadapi oleh penduduk kota (Atmakusumah et al, 1996). Pertumbuhan pencemaran udara di kota dan tingkat industrialisasi yang tidak terhindar akan mengarah kepada kebutuhan energi yang lebih besar, pada dasarnya akan menghasilkan pembuangan zat pencemar lebih banyak (Laelasari, 2001).
Salah satu penghasil polusi terbesar menurut Peraturan Pemerintah RI No. 41 (1999) adalah kendaraan bermotor. Kendaraan bermotor merupakan salah satu alat transportasi yang paling banyak kita jumpai di jalan raya. Tidak bisa kita pungkiri bahwa alat tranportasi yang sangat berperan penting dalam kehidupan sehari-hari untuk bekerja, berangkat ke sekolah, dan berbagai kegiatan lainnya. Namun di luar itu semua alat transportasi sedikit banyak memberikan dampak buruk terhadap kesehatan, karena semakin banyak kendaraan berlalu-lalang di jalan semakin besar terjadinya pencemaran udara (Novianthie, 2007).
Menurut perkiraan World Health Organization (WHO) polusi udara diperkirakan memberi kontribusi 800.000 kematian di seluruh dunia setiap tahunnya, salah satunya yaitu disebabkan oleh polutan Pb. Polusi udara juga dapat menimbulkan penurunan kadar Hemoglobin, penyakit terkait respirasi (pernapasan), kardiovaskular, terganggunya aktivitas harian akibat sakit, gejala batuk, sesak, dan
4
infeksi saluran pernapasan, hingga terjadinya perubahan fisiologis seperti fungsi paru dan tekanan darah (WHO, 2012).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, jumlah kendaraan bermotor di Indonesia dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang sangat pesat. Data pada tahun 2008 menunjukkan jumlah 65.273.451 kendaraan bermotor. Pada tahun 2009 menunjukkan jumlah 70.714.569 kendaraan bermotor. Pada tahun 2010 menunjukan jumlah 76.907.127 kendaraan bermotor. Pada tahun 2011 menunjukan jumlah 85.601.351 kendaraan bermotor. Jumlah ini terus mengalami peningkatan yang relatif besar setiap tahunnya (BPS, 2012).
Data jumlah kendaraan bermotor di DKI Jakarta pada tahun 2009 berjumlah (6.1 juta unit), tahun 2010 berjumlah (11.3 Juta unit), tahun 2011 berjumlah (12 Juta Unit) dan tahun 2012 berjumlah (13.3 Juta Unit). Berdasarkan data di atas, jumlah kendaraan bermotor di DKI Jakarta pada 2009-2012 mengalami kenaikan secara signifikan setiap tahunnya. Jika jumlah ini mengalami kenaikan secara terus menerus makan akan menimbulkan dampak yang besar terhadap kesehatan masyarakat di DKI Jakarta (Uswan, 2013).
Salah satu tempat berkumpulnya banyak kendaraan adalah terminal. Termasuk salah satunya Terminal Bus Kampung Rambutan. Tempat ini merupakan salah satu tempat yang bepotensi sebagai sumber pencemaran udara yang berasal dari kendaraan bermotor. Terminal Bus Kampung Rambutan adalah salah satu terminal yang terdapat di wilayah Jakarta Timur. Letaknya cukup strategis karena merupakan perlintasan kendaraan yang cukup padat menuju Selatan atau sebaliknya.
5
Banyaknya kendaraan bermotor yang melintasi Terminal dapat mengeluarkan gas (asap) dan dapat memberikan dampak negatif terhadap lingkungan sekitar. Berdasarkan data Dishub Terminal Kampung Rambutan (2014) jumlah angkutan kendaraan bermotor dalam kota di Terminal Kampung Rambutan berjumlah 757 kendaraan, sedangkan untuk Terminal luar kota berjumlah 503 kendaraan (DISHUB, 2014).
Salah satu pencemaran udara yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor adalah Timbal (Pb). Pb yang banyak dipergunakan terutama pada bahan bakar bensin. Pb ditambahkan ke dalam bensin yang berkualitas rendah untuk meningkatkan nilai oktan guna mencegah letupan pada mesin. Hasil yang diperoleh dari pembakaran bahan tambahan (aditive) Pb pada bahan bakar kendaraan bermotor akan menghasilkan emisi Pb. Logam Pb yang tercampur dengan bahan bakar tersebut akan bercampur dengan oli dan melalui proses di dalam mesin maka Pb akan keluar dari knalpot bersama dengan gas buang lainnya (Riyadina, 1997).
Paparan polusi Pb yang keluar dari knalpot kendaraan bermotor dapat menjadi racun yang merusak sistem pernafasan, sistem syaraf, serta meracuni darah. Paparan Pb yang telah keluar dari knalpot tersebut lalu terhirup melalui saluran pernafasan maka akan masuk kedalam tubuh dan bercampur dengan darah sehingga mengubah sistem hematologi dengan menghambat aktivitas beberapa enzim yang terlibat dalam biosintesis heme. Terutama peka terhadap Amino Levulinic Asam Dehydratase (ALAD). Kadar pencemaran Pb yang tinggi dapat menimbulkan
6
terjadinya penurunan Hemoglobin di dalam tubuh sehingga berpotensi terjadinya Anemia (Sacher, ett all, 2004).
Mengingat terminal merupakan salah satu penyumbang polusi udara, selain penumpang dan awak kendaraan bermotor, pedagang yang berjualan di sekitar terminal merupakan kelompok yang beresiko terhadap pencemaran gas buang kendaraan bermotor. Adapun kelompok yang paling beresiko adalah pedagang, khususnya pedagang wanita. Para pedagang melakukan aktifitasnya disekitar terminal secara terus menerus sehingga lebih lama terpajan pada udara luar di bandingkan dengan penumpang dan awak kendaraan bermotor (Novianthie, 2007). Oleh sebab itu, penulis tertarik untuk melakukan penelitian “Hubungan Kadar Timbal pada Urin dan Karakteristik Individu dengan Kejadian Anemia pada Pedagang Wanita di Terminal Bus Kampung Rambutan Jakarta Timur”.
Beberapa penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian ini telah banyak dilakukan baik penelitian mengenai Pb maupun anemia. Pada penelitian sebelumnya fokus pada Hipertensi dan Anemia (Pasorong, 2007). Penelitian lain tentang konsentrasi pajanan timbal di udara ambient terhadap resiko kejadian anemia hanya fokus pada semua komunitas, akan tetapi belum fokus pada wanita (Wardani, 2013).