• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

DAFTAR TABEL

A. Latar Belakang

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi diikuti dengan meningkatnya pola hidup masyarakat yang semakin maju berupa peningkatan taraf hidup, tingkat pendidikan, serta wawasan ilmu pengetahuan yang luas. Kehidupan baru yang terjadi di daerah perkotaan, ditandai dengan adanya ketegangan dan benturan norma dan nilai yang lebih luas, perubahan sosial yang demikian cepat, mobilitas penduduk yang meningkat, serta adanya penekanan yang lebih besar kepada kepentingan individu dibandingkan kepentingan bersama, dan penghargaan yang lebih tinggi kepada hal-hal yang bersifat materi.

Sehubungan dengan itu masyarakat memerlukan aturan-aturan yang mengatur hubungan antar warganya, dan adanya penyimpangan dari aturan- aturan tersebut dianggap mengacaukan tatanan kehidupan masyarakat. Hal ini terlihat dari perilaku masyarakat berupa penyimpangan sosial yang menyebabkan gangguan terhadap keamanan dan ketertiban masyarakat. Sebagaimana dikemukakan Reksodiputro bahwa penyimpangan sosial merupakan salah satu akibat yang harus diterima oleh masyarakat yang sedang membangun.1 Disatu pihak, masyarakat sedang mengalami transformasi kearah masyarakat modren,

1

Mardjono Reksodiputro, Kriminologi dan Sistem Peradilan Pidana, Kumpulan Karangan Buku Kedua, (Jakarta : Pusat Pelayanan Keadilan dan Pengabdian Hukum, Univeristas Indonesia, 1994), hal. 39.

sedangkan di lain pihak masyarakat tidak mudah menerima perilaku apa yang dianggap sebagai penyimpangan sosial.

Mengenai penyimpangan sosial ini Sadli berpendapat bahwa penyimpangan sosial atau disebut juga sebagai penyimpangan perilaku merupakan salah satu bentuk kejahatan. 2 Kejahatan sebagai salah satu masalah sosial yang menarik perhatian masyarakat, cenderung meningkat baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Dipandang dari sudut formil (menurut hukum) kejahatan adalah suatu perbuatan yang oleh masyarakat (dalam hal ini negara) diberi pidana.3 Di dalam hukum pidana kejahatan merupakan perbuatan pidana yang diatur dalam buku II Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan dalam aturan-aturan lain di luar KUHP. Dalam konteks sosial kejahatan merupakan fenomena sosial yang terjadi pada setiap tempat dan waktu.4 Hal ini menunjukkan bahwa kejahatan merupakan perbuatan yang bertentangan dengan kesusilaan sehingga dapat dianggap mengacaukan tatanan kehidupan masyarakat.

Salah satu aspek dalam upaya merealisasikan pencegahan kejahatan adalah dengan meningkatkan pengetahuan tentang sebab-sebab timbulnya kejahatan. Sehubungan dengan sebab timbulnya kejahatan, Topo Santoso mengemukakan bahwa “kejahatan bukan merupakan warisan biologis, namun disebabkan oleh faktor sosiologis”.5

2

Saparinah Sadli, Persepsi Sosial Mengenai Perilaku Menyimpang, (Jakarta: Bulan Bintang, 1976), hal. 6.

3

W.A. Bonger, Pengantar Tentang Kriminologi, (Jakarta: Pembangunan Ghalia Indonesia, 1981), hal. 21.

4

Andi Matalata, Santunan Bagi Korban, dalam J.E. Sahetapy, Viktimilogi Sebuah Bunga Rampai, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1987), hal. 55.

5

Topo Santoso, Eva Achjani Zulfa, Krimonologi, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001), hal. 12.

Besarnya pengaruh lingkungan sosial terhadap pikiran dan kepribadian individu sangat menentukan, sehingga perilaku manusia merupakan ciptaan dari masyarakat itu sendiri, sebagaimana dikemukakan oleh Sutherland bahwa perilaku jahat dapat dipelajari sebagaimana perilaku lainnya. Beliau juga mengemukakan faktor lingkungan sosial ikut menentukan. dan dengan sendirinya faktor komunikasi memegang peranan.6 Dengan demikian perilaku jahat bisa terwujud apabila tidak terdapat keseimbangan dengan ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku.

Masalah kriminalitas merupakan suatu kenyataan sosial yang tidak berdiri sendiri, tetapi berkaitan dengan masalah sosial, ekonomi, politik, dan budaya, sebagai fenomena yang ada dalam masyarakat dan saling mempengaruhi satu sama lain. Walaupun masyarakat memiliki berbagai macam perilaku yang berbeda, namun di dalamnya terdapat bagian-bagian tertentu yang memiliki pola yang sama. Hal ini disebabkan adanya sistem kaedah dalam masyarakat.

Dalam arti kriminologis kejahatan adalah perilaku yang bersifat tidak susila dan merugikan, menimbulkan banyak ketidak tenangan dalam suatu masyarakat tertentu, sehingga masyarakat itu berhak untuk mencelanya dan menyatakan penolakannya atas kelakuan itu dalam bentuk nestapa dengan sengaja diberikan karena kelakuan tersebut. 7

Salah satu jenis pemidanaan yang banyak diterapkan sebagai sanksi yang dianggap mampu untuk mencegah berbagai jenis kejahatan adalah pidana

6

J.E. Sahetapy, Pisau Analisis Kriminologi, (Bandung : Ctra Aditya Bakti, 2005), hal. 63. 7

Roeslan Saleh, Perbuatan Pidana dan Pertanggungjawabannya, (Jakarta: Aksara Baru, 1983), hal. 17.

penjara. Dibutuhkannya pidana penjara secara nyata dapat dilihat saat bekerjanya hukum pidana di dalam masyarakat. Hukum pidana yang berisi kumpulan aturan yang mengandung larangan dan akan mendapat sanksi pidana atau hukuman apabila dilanggar. Oleh karena itu fungsi hukum pidana dengan sanksinya berupa pidana merupakan sarana dalam menanggulangi kejahatan. Sehubungan dengan itu menurut G. Piter Hofnagels, bahwa upaya penanggulangan kejahatan dalam konsep kebijakan penanggulangan kejahatan secara geris besar dapat dibagi dua, yaitu melalui jalur penal (hukum pidana) dan non penal. Upaya penanggulangan kejahatan melalui sarana “penal” lebih menitikberatkan pada sifat “represif” (penindasan pemberantasan) sesudah kejahatan terjadi, sedangkan jalur “non penal” lebih menitik beratkan pada sifat “prevensi” (pencegahan / pengendalian) sebelum kejahatan terjadi. 8

Dalam setiap kebijakan yang diambil oleh pemerintah harus dilihat dalam tiga hal, yaitu struktur, substansi, dan kultur. Hal ini penting agar pihak yang berwenang sebagai pengambil keputusan jangan sampai terjebak oleh kebijakan yang bersifat pragmatis, berupa suatu kebijakan yang didasarkan pada kebutuhan sesaat (jangka pendek) sehingga tidak dapat bertahan untuk jangka panjang, dan dapat merugikan masyarakat itu sendiri.

Upaya penanggulangan kejahatan pada hakikatnya merupakan bagian integral dari upaya perlindungan masyarakat dan upaya mencapai kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa tujuan akhir atau tujuan

8

Sunarto, D.M., Kebijakan Penanggulangan Penyerobotan Tanah, oleh Masyarakat di Propinsi Lampung, Ringkasan Disertasi, U.I. Fak. Hukum, Program Pascasarjana, 2003, hal. 9.

utama dari politik kriminal adalah perlindungan masyarakat untuk mencapai kesejahteraan masyarakat.

Ada tiga syarat untuk tegaknya hukum dan keadilan di masyarakat : Pertama; adanya peraturan hukum yang sesuai dengan aspirasi masyarakat. Kedua; adanya aparat penegak hukum yang profesional dan bermental tangguh atau memiliki integritas moral terpuji. Ketiga; adanya kesadaran hukum masyarakat yang memungkinkan dilaksanakannya penegakan hukum.9

Untuk merealisasikan tujuan-tujuan hukum tidak bisa dilepaskan dari komponen-komponen yang ada dalam sistem hukum dan faktor-faktor sosial di luar sistem hukum. Adapun komponen-komponen sistem hukum yang berpengaruh terhadap bekerjanya hukum adalah, komponen yang bersifat struktural (kelembagaan), komponen kultural dan komponen substantif. Komponen kultural adalah nilai-nilai dan sikap-sikap yang mengikat sistem itu.

Namun dilihat dari sudut kebijakan hukum pidana, dalam arti kebijakan menggunakan/memfungsikan hukum pidana, masalah sentral atau masalah pokok sebenarnya terletak pada masalah seberapa jauh kewenangan/kekuasaan mengatur dan membatasi tingkah laku manusia (warga masyarakat/pejabat) dengan hukum pidana. Ini berarti masalah dasarnya terletak di luar bidang hukum pidana itu sendiri, yaitu pada masalah hubungan kekuasaan/hak antara negara dan warga masyarakat. Jadi berhubungan dengan konsep nilai (pandangan/idiologi) sosiofilosofis, sosiopolitik dan sosiokultural dari suatu masyarakat, bangsa/negara.

9

Baharudin Lopa, Permasalahan Pembinaan dan Penegakan Hukum di Indonesia, (Jakarta: Bulan Bintang, 1987), hal. 3 - 4.

Kebijakan menggunakan hukum pidana sebagai salah satu sarana penanggulangan kejahatan dilakukan melalui proses sistematik, yaitu melalui apa yang disebut sebagai penegakan hukum pidana dalam arti luas, yaitu penegakan hukum pidana dilihat sebagai suatu proses kebijakan, yang pada hakikatnya merupakan penegakan kebijakan yang melewati beberapa tahapan sebagai berikut:10

a. Tahap formulasi, yaitu tahap penegakan hukum inabstrakto oleh badan pembuat undang-undang, disebut juga sebagai tahap kebijakan legislatif. b. Tahap aplikasi, yaitu tahap penerapan hukum pidana oleh aparat penegak

hukum mulai dari Kepolisian sampai Pengadilan, disebut juga sebagai tahap kebijakan yudikatif.

c. Tahap eksekusi, yaitu tahap pelaksanaan hukuman pidana secara konkrit oleh aparat-aparat pelaksana pidana. Tahap ini dapat disebut tahap kebijakan eksekutif atau administratif.

Tahap formulasi atau kebijakan legislatif merupakan tahap awal yang paling strategis dari keseluruhan perencanaan proses fungsionalisasi atau operasionalisasi hukum pidana. Tahap ini menjadi dasar atau landasan dan pedoman bagi tahap aplikasi dan tahap eksekusi. Pada dasarnya terdapat dua masalah pokok yang perlu diperhatikan dalam kebijakan hukum pidana (penal policy), khususnya dalam tahap formulasi yaitu masalah penentuan perbuatan

10

Muladi, Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana, (Semarang : UNDIP, 1995), hal. 13. Lihat juga Barda Nawawi Arief, Beberapa Aspek Kebijakan Penegakan dan Pengembangan Hukum Pidana, (Bandung : Citra Aditya Bakti, 1998), hal. 115.

apa yang seharusnya dijadikan tindak pidana dan masalah penentuan sanksi apa yang sebaiknya digunakan atau dikenakan kepada si pelanggar.11

Dalam arti yang sempit, maka tahap kebijakan kedua dan ketiga biasanya disebut sebagai kegiatan penegakan hukum (Law Enforcement). Menyangkut pilihan pidana yang digunakan dalam kebijakan formulasi, dari berbagai jenis sanksi pidana yang dikenal dalam hukum pidana, pidana penjara merupakan jenis sanksi pidana yang paling banyak digunakan dalam perumusan hukum pidana di Indonesia selama ini. Untuk itu di dalam menjatuhkan pidana kepada pelaku tindak pidana, dibutuhkan proses panjang dan selektif serta adil, karena harus menjunjung tinggi hak-hak setiap warga negara. Dengan demikian sanksi berupa pidana merupakan sarana penting yang dimiliki oleh masyarakat maupun negara. Akan tetapi dalam perkembangannya banyak kalangan yang mempersoalkan kembali jenis pidana ini. Hal tersebut terutama berkenaan dengan masalah efektifitas serta dampak negatif dari penggunaan pidana penjara itu.12

Sebagai akibat banyaknya penggunaan pidana penjara pada tahap kebijakan formulatif, maka dalam tahap kebijakan aplikatif pidana penjara menjadi jenis pidana yang dominan dalam penerapannya, yang pada tahap berikutnya bermuara pada persoalan pelaksanaan (eksekusi) terpidana penjara.

Penggunaan hukum pidana sebagai sarana penanggulangan kejahatan, dalam implementasinya pada tahap kebijakan aplikatif dan eksekutif, dilaksanakan melalui mekanisme sistem peradilan pidana, yaitu suatu sistem yang melibatkan Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan, dan Lembaga Pemasyarakatan. Tujuan dari sistem ini adalah berupa: 1) resosialisasi (jangka pendek); 2) penanggulangan kejahatan (jangka menengah), dan 3) kesejahteraan

11

Barda Nawawi Arief, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2002), hal. 24.

12

Barda Nawawi Arief, Op. cit, hal. 4, 46. Sehubungan dengan hal tersebut Muladi berpendapat, masalah pidana adalah suatu masalah yang dewasa ini secara universal terus dicari pemecahannya. Masalah tersebut adalah ketidakpuasan masyarakat terhadap pidana perampasan kemerdekaan, yang dalam berbagai penelitian terbukti sangat merugikan baik terhadap individu yang dikenai pidana, maupun terhadap masyarakat. Muladi, “Proyeksi Hukum Pidana Materiil Indonesia di Masa Datang”, Naskah Pidato Pengukuhan Guru Besar FH UNDIP, Semarang, 24 Pebruari 1990.

sosial (jangka panjang). Sistem ini mendapat input berupa kejahatan dari masyarakat, dan nantinya setelah melalui proses peradilan pidana akan dikembalikan lagi pada masyarakat (out put).13 Dengan demikian peran masyarakat menjadi penting di sini. Karena kejahatan itu muncul (diproduksi) oleh masyarakat, maka masyarakat juga harus ikut bertanggung jawab dalam pengembaliannya pada lingkungan masyarakatnya.

Norma hukum sebagai salah satu sistem norma yang bekerja secara berbarengan dengan sistem norma yang lainnya (norma agama, norma kesusilaan, dan norma kesopanan) dalam masyarakat, menempatkan hukum pidana, sekaligus peradilan pidana pada kedudukan yang strategis sebagai sarana ketertiban, dan ketenteraman bagi berlangsungnya interaksi fungsional di antara sistem sosial yang ada. Dalam kerangka sistem ini, bekerjanya sistem peradilan pidana sangat dipengaruhi oleh sistem sosial lainnya, seperti sistem ekonomi, sistem teknologi, sistem pendidikan, sistem politik, dan sebagainya. Mengenai kedudukan sistem peradilan pidana dalam struktur pelapisan sistem-sistem sosial seperti yang dikemukakan oleh La Patra sebagaimana dikutip Reksodiputro14.

13

Muladi, Op cit, hal. 1. 14

Gambar Lapisan-lapisan dalam Sistem Peradilan Pidana

Ekonomi Teknologi Pendidikan Politik

Kepolisian Kejaksaan Pengadilan Pemasyarakatan Lapisan 3 :

Sub sistem SPP Lapisan 2 :

Lapisan 1 : Masyarakat

Gambar di atas memperlihatkan proses kerja sistem peradilan pidana yang selalu dipengaruhi dan tergantung dari lapisan sistem sosial yang lebih luas, yang secara keseluruhan juga merupakan satu kesatuan sistem yang utuh.

Jika diamati dari segi hubungan fungsional antara tiap sub-sistem peradilan pidana dalam menjalankan tugasnya akan terlihat adanya suatu tata aliran kerja sistem yang berawal dari masyarakat dan berakhir pula di dalam masyarakat itu sendiri. Komponen-komponen yang bekerja sama dalam sub sistem ini adalah Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan, dan Lembaga Pemasyarakatan. Keempat komponen ini bekerja sama secara terpadu untuk menanggulangi kejahatan.

Sistem peradilan pidana disebut juga criminal justice system, dapat diartikan sebagai suatu sistem dalam masyarakat untuk menanggulangi kejahatan. Hal ini merupakan salah satu tujuan dari sistem peradilan pidana secara universal, sehingga cakupan tugas sistem peradilan pidana memang demikian

luas. Hal ini dikemukakan oleh Reksodiputro bahwa peradilan pidana sebagai suatu sistem mempunyai tugas yang meliputi: