BAB III GAMBARAN UMUM IDEOLOGI ISIS
B. Latar Belakang dan Kemunculan ISIS di Indonesia
Menurut Irfan, selaku ketua umum Deradikalisasi BNPT, menyatakan bahwa ISIS hanyalah sebuah nama (cover) gerakan militan ekstrem yang secara implisit sudah ada sejak Indonesia merdeka. Hal ini berdasarkan wawancara dengan beliau sebagai berikut:
“Jadi begini, ISIS itu sebuah gerakan militan ekstrem yang menggunakan nama. Tetapi secara batin, secara implisit itu sudah ada sejak Indonesia
merdeka. ISIS itu hanya cover.”62
Sebelum datangnya ISIS ke Indonesia, pada periode 1996-1998, al-Qaeda yang merupakan nenek moyang ISIS menempatkan perwakilan kelompoknya di Kuala Lumpur dengan wilayah operasi Thailand dan Filipina. Karena pada saat itu, kedua negara tersebut merupakan negara yang memiliki warga Muslim minoritas yang harus dibantu. Baru kemudian pada 1999 sampai tahun 2000-an, Indonesia memperoleh perhatian setelah terjadi kerusuhan di berbagai daerah, khususnya di Ambon dan Poso. Situasi kacau merupakan potensi yang dapat dimanfaatkan bagi kepentingan mereka. Al-Qaeda mengirim Ayman al-Zawahiri –teman Abu Bakar al-Baghdadi- dan Mohammad Atief ke Indonesia untuk melihat, mendengar, dan merasakan situasi secara langsung. Mereka melakukan
operasinya di daerah Jakarta, Medan, dan Makassar.63
Operasi mereka juga tidak lepas dari peristiwa Bom Bali I pada tahun 2002, yang merupakan aksi teroris terburuk setelah peristiwa 11 September 2001.
62
Hasil Wawancara dengan Irfan (Ketua Umum Deradikalisasi BNPT) pada Kamis, 19 November 2015, pukul 12.30 WIB di Hotel Boutique – Jakarta Pusat.
63
As‟ad Said Ali, Al-Qaeda: Tinjauan Sosial-Politik, Ideologi dan Sepak Terjangnya (Jakarta: Pustaka LP3ES, 2014), h.243
Korban-korbannya berasal dari 20 negara, termasuk Indonesia. Ini merupakan aksi teroris terburuk sepanjang sejarah Indonesia. Sebuah mobil meledakkan klub malam yang dipenuhi oleh turis asing di Pulau Bali, memercikkan lautan api yang
membunuh 202 orang dan melukai 300 lainnya.64
Kemudian setelah ISIS terbentuk dan memperkuat dirinya di Irak dan Syria, mereka menggantikan aksi terorisme al-Qaeda dan berekspansi ke wilayah-wilayah yang pernah diteliti sebelumnya, termasuk ke Indoneisa. Fenomena ISIS yang mencengangkan dan membuka mata dunia telah menjadikannya sebuah isu paling menggoda di pertengahan tahun 2014. Portal-portal media lokal maupun Internasional kerap memberitakan „keberhasilan‟ ISIS saat menguasai beberapa wilayah di Irak dan Syiria. Di kalangan Islam sendiri, isu ini membuat gempar sebagian pihak yang sudah terlanjur mendukung gerakan radikal dan intoleran sejak awal keberadaannya. Mereka tentunya tidak menyangka akan banyak penolakan dari berbagai pihak atau setidaknya banyak dukungan yang kemudian berbalik menjadi hujatan. Tidak pelak lagi sebagian pendukung ISIS khususnya di tanah air pun ramai-ramai bungkam dan „tiarap‟. Tetapi hal tersebut tidak membuat informasi dukungan mereka terhadap ISIS dapat disembunyikan dari umat Islam, terutama aparat pemerintah Indonesia. Sehingga mereka membuat „fitnah‟ sebagai senjata pamungkas untuk mengelabui dan mencari simpati di
kalangan masyarakat awam di tanah air.65
Munculnya gerakan ISIS di Indonesia dimulai dari salah satu fasilitas umum milik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta pada 6 Juli 2014. Fasilitas umum itu bernama gedung Syahida Inn di lingkungan kampus dua
64 Muhamad Hanif Hassan, Pray to Kill (Jakarta: Grafindo, 2006), h. 3
65
UIN Jakarta. Gedung yang memang disewakan bagi umum untuk keperluan seminar, dan lain-lain itu secara mengejutkan menjadi tempat deklarasi pertama ISIS di Indonesia. Sekelompok orang dari berbagai daerah yang menamai dirinya “penegak syariat Islam”, berkumpul di sana, mengibarkan bendera hitam bertuliskan syahadat milik ISIS, dan bersama-sama meneguhkan dukungannya kepada ISIS dan bai’at-nya pada Khalifah Abu Bakar al-Baghdadi. Rekaman video deklarasi itu pun tersebar di internet, mengejutkan siapa saja yang menontonnya, dan sontak menjadi tema pembicaraan di seluruh pelosok negeri ini.66
Namun Irfan menegaskan bahwa tidak semua orang yang datang saat deklarasi ISIS tersebut dianggap sebagai pendukung ISIS, tetapi kebanyakan dari mereka hanya menjadi penonton, sebagaimana ungkap beliau saat wawancara,
“Belakangan, ada yang memproklamirkan (ISIS) di lapas, ada yang membahas diskusi ISIS di mana-mana, termasuk di Ciputat mungkin, dan semua yang datang itu tidak dianggap sebagai pendukung ISIS, mungkin
lebih banyak menjadi penonton.”67
Tentu saja deklarasi tersebut sontak ditentang oleh seluruh elemen bangsa ini. UIN Jakarta melalui Sudarnoto Abdul Hakim, seorang Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UIN Jakarta langsung mengutuk deklarasi dan organisasi ISIS di Indonesia, serta menegaskan bahwa UIN Jakarta tidak pernah mengetahui sebelumnya bahwa penyewaan Syahida Inn diperuntukkan deklarasi ISIS di Indonesia. Namun tak lama setelah itu, tersebar sebuah video yang berisi ajakan berjihad bersama ISIS untuk orang-orang Indonesia. Video itu menampilkan beberapa lelaki berwajah Indonesia yang berjejer dengan pimpinan bernama Abu
66 Muhammad Haidar Assad, ISIS: Organisasi Teroris Paling Mengerikan Abad Ini, h.169-170
67
Hasil Wawancara dengan Irfan (Ketua Umum Deradikalisasi BNPT) pada Kamis, 19 November 2015, pukul 12.30 WIB di Hotel Boutique – Jakarta Pusat.
Muhammad al-Indonesi mengenakan sorban hitam di kepala yang ternyata bernama asli Bachtum Syah dan tercatat pernah belajar di UIN Jakarta Fakultas Dakwah dan Komunikasi jurusan Komisi Penyiaran Islam, walaupun pria kelahiran 1984 itu tak merampungkan pendidikan tingginya di UIN Jakarta dan hanya sampai di semester tiga. Menurut Kyai Chep Hernawan, sosok yang disebut sebagai pemimpin ISIS regional Indonesia menyatakan bahwa Abu Muhammad
al-Indonesi merupakan penghubung antara dirinya dan Abu Bakar al-Baghdadi.68
Namun menurut Irfan, Chep Hernawan sendiri yang pernah mengaku sebagai presiden ISIS di Indonesia tidak dapat dibawa ke dalam persidangan dengan alasan lemahnya hukum dan bukti-bukti atas keterlibatannya terhadap gerakan terorisme di Indonesia. Orang yang pernah mengaku menjadi pemimpin ISIS di Indonesia menurut Irfan adalah Abu Bakar Ba‟asyir dan Oman Abdurrahman. Hal ini ia sampaikan saat diwawancara dengan mengatakan:
“Chep Hernawan juga pernah memproklamirkan diri di Ciamis, tetapi hukum kita sangat lemah untuk membawa mereka ke persidangan. Pemimpin ISIS saat ini adalah Abu Bakar Ba‟asyir dan Oman Abdurrahman
yang pernah mengaku”69
Dari hal tersebut, dapat dipahami bahwa latar belakang dan kemunculan ISIS di Indonesia merupakan stragtegi ISIS untuk merekrut dan mencari relawan atau anggota untuk mendirikan negara Islam yang telah ada sejak Indonesia merdeka, meskipun keberadaanya banyak terjadi penolakan dan kecaman oleh masyarakat dan pemerintah Indonesia.
68 Muhammad Haidar Assad, ISIS: Organisasi Teroris Paling Mengerikan Abad Ini, h.172-174
69
Hasil Wawancara dengan Irfan (Ketua Umum Deradikalisasi BNPT) pada Kamis, 19 November 2015, pukul 12.30 WIB di Hotel Boutique – Jakarta Pusat.