• Tidak ada hasil yang ditemukan

Latar Belakang dan Proses Fusi Partai Politik

BAB II PENYEDERHANAAN PARTAI POLITIK DAN FUSI PDI

2.1 Latar Belakang dan Proses Fusi Partai Politik

PDI terbentuk sebagai perwujudan dari keinginan mengadakan pembaharuan struktur politik yang timbul sejak awal tumbuhnya pemerintahan Orde Baru tahun 1966. Ketika itu, ada keinginan dari pemerintah dan masyarakat umum bahwa pembaharuan struktur politik harus dilakukan dengan cara menyederhanakan sistem kepartaian. Tuntutan terhadap pembaharuan struktur politik meningkat seiring dengan kritik terhadap partai-partai politik yang dianggap telah memperlihatkan perangai buruk dalam sistem politik yang berlaku sebelumnya.23

Penyederhanaan tersebut dilatarbelakangi oleh terjadinya berbagai gejolak politik pada sistem kepartaian lama, yang mengakibatkan terhambatnya pelaksanaan pembangunan (ekonomi) nasional. Gejolak politik tersebut tercermin dari jatuh-bangunnya kabinet dan terjadinya aksi-aksi protes melalui demonstrasi. Daniel S. Lev, sebagaimana dikutip Arbi Sanit, mencatat bahwa selama periode tahun 1945-1965 tidak kurang dari 25 buah kabinet yang jatuh bangun. Dari jumlah tersebut hanya tujuh kabinet yang berhasil memerintah selama 12 sampai 23 bulan. Terdapat 12 kabinet yang berumur antara 6 sampai 11 bulan, dan 6 buah kabinet hanya dapat bertahan antara 1 sampai 4 bulan. Selain itu terdapat 45 buah Yang dimaksud dengan fusi partai politik adalah pengelompokan organisasi sosial politik yang pada Pemilihan Umum 1971 berjumlah 10 organisasi sosial politik.

23

Manuel Kaisiepo, Dilema Partai Demokrasi Indonesia: Perjuangan Mencari Identitas, Prisma, No. 12 Desember 1981, hlm. 69.

protes melalui demonstrasi, 83 hura-hura dan 615.000 orang tewas yang disebabkan oleh kekerasan politik selama periode 1948-1967.24

Ketidakstabilan politik pada masa Orde Lama disebabkan oleh kelemahan elit untuk bekerja sama satu sama lain dan belum melembaganya struktur dan prosedur politik yang mampu memberi tempat kepada masyarakat luas untuk mengambil bagian dalam proses politik.25 Ketidakstabilan politik melahirkan kondisi ekonomi yang memprihatinkan bagi pembangunan nasional. Keadaan ekonomi nasional merosot, hutang luar negeri semakin bertambah, dan laju inflasi meningkat drastis. Dalam tahun 1966, hutang luar negeri Indonesia sebesar US $ 2.447.000.000 dan laju inflasi naik dengan cepat dari 109 persen pada Desember 1963 menjadi 1.320 persen pada akhir Juni 1966.26

Dengan lahirnya pemerintahan Orde Baru pada tahun 1966, maka generasi muda pendukungnya, terutama sekali dari mahasiswa dan kaum intelektual mengharapkan perubahan-perubahan drastis dalam sistem politik. Nazaruddin Syamsuddin menyatakan bahwa karena generasi muda memahami Orde Baru sebagai lawan dari Orde Lama, maka mereka mengharapkan Orde Baru menjungkirbalikkan situasi politik. Mereka mendambakan suatu keadaan di mana

Sebaliknya perkembangan lembaga-lembaga politik berjalan dengan cepat. Lahirnya partai-partai politik serta lembaga-lembaga politik seperti Front Nasional, KOTI dan lain-lain dalam tahun 1960-an ternyata lebih memberi tempat kepada partisipasi dan mobilisasi massa secara politik. Dengan demikian tidak terjadi keseimbangan antara partisipasi politik dan kemajuan ekonomi.

24

Arbi Sanit, Sistem Politik Indonesia Kestabilan, Peta Kekuatan Politik dan Pembangunan, Jakarta: C.V. Rajawali, 1987, hlm. 1.

25

Ibid.,

26

Orde Baru dapat menghilangkan kontrol politik yang diterapkan rezim demokrasi terpimpin, dan menggantikannya dengan sistem lain berdasarkan demokrasi parlementer.27

Penyederhanaan sistem kepartaian diawali pada tahun 1970 dengan pendekatan pemerintah kepada ke-9 partai politik untuk mengelompokkan partai menjadi dua. Partai yang dianjurkan bergabung dalam kelompok spritual adalah partai-partai politik yang berdasarkan agama, yaitu: Nahdatul Ulama (NU), Partai Muslimin Indonesia (Parmusi), Pergerakan Tarbiyah Islamiyah (Perti), Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), Partai Katolik, dan Partai Kristen Indonesia (Parkindo). Sedangkan ke dalam kelompok nasionalis dianjurkan partai-partai politik yang berhaluan nasionalis, yaitu: Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI), dan Partai Murba.

Hal ini bisa dipahami karena peran pemuda/mahasiswa cukup besar sebagai agen-agen perubahan (agent of change).

Usaha pertama yang dilakukan pemerintah Orde Baru untuk memenuhi harapan masyarakat, khususnya generasi muda adalah menciptakan stabilitas politik sebagai landasan untuk melaksanakan pembangunan ekonomi. Upaya itu dilaksanakan dengan menganjurkan kepada kesembilan partai politik untuk mengelompokkan diri menjadi dua kelompok, yaitu kelompok nasionalis dan kelompok spritual. Pengelompokan tersebut diharapkan terciptanya partai politik yang lebih efektif untuk menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat.

28

Pengelompokan demikian tidak bisa diterima oleh Partai Katolik dan Parkindo. Kedua partai tersebut tidak bersedia bergabung dengan partai-partai

27

Nazaruddin Syamsuddin, Integrasi Politik di Indonesia, Jakarta: PT Gramedia, 1989, hlm. 150.

28

Fachry Ali, Refleksi Paham Kekuasaan Jawa dalam Indonesia Modern, Jakarta: Gramedia, 1966, hlm. 193-194.

yang berlandaskan agama dan lebih setuju bergabung dengan kelompok Nasionalis.

Perdebatan-perdebatan mengenai pengelompokan partai politik menjadi issu yang hangat menjelang pemilihan umum pertama pada masa Orde Baru, yang diselenggarakan pada 1971. Bisa dikatakan bahwa hasil yang nyata mengenai penyederhanaan sistem kepartaian sampai pada pelaksanaan pemilihan umum tersebut belum kelihatan. Satu-satunya hasil yang menunjukkan tanggapan dari partai-partai politik terhadap usul pemerintah adalah munculnya kelompok Nasionalis pada tanggal 9 Maret 1970, yang merupakan wadah kerja sama bagi partai-partai yang beraliran nasionalis.29

Kemenangan Golongan Karya pada Pemilihan Umum 1971 memberikan legitimasi konstitusional sebagai kekuatan politik yang dominan. Kemenangan itu juga memberi pengesahan yang lebih kuat akan kehadiran pemerintah Orde Baru di tengah masyarakat Indonesia. Pengesahan ini menurut Fachry Ali memberikan kekuatan lebih untuk semakin mengkonsentrasikan kekuasaan pemerintah atas realitas sistem politik yang kemudian diwujudkan dalam penyederhanaan jumlah partai politik. Kemenangan mutlak Golongan Karya menjadikannya sebagai aktor tunggal dalam panggung politik nasional sejak tahun 1971.

Sementara itu, usaha pengelompokan partai-partai politik yang berlandaskan agama masih dalam tahap pendekatan antar partai, sehingga sampai Pemilihan Umum 1971, kontestan masih tetap berjumlah sepuluh organisasi, yang terdiri dari sembilan partai politik dan satu Golongan Karya. 30 29 Ibid. 30 Ibid., hlm. 193. Namun, harapan masyarakat khususnya kalangan muda tidak kunjung tiba. Justru pemerintah yang

didukung oleh Golkar dan ABRI telah menyalahgunakan kekuasaan dalam periode berikutnya.

Dengan demikian, tidaklah mengherankan jika pemerintah yang didominasi Golongan Karya berhasil memaksakan jumlah partai politik dalam sistem kepartaian nasional. Untuk tugas ini, pemerintah menunjuk ketua Operasi Khusus (Opsus), Brigjen Ali Murtopo, Asisten Pribadi Presiden, Brigjen Sudjono Hamardani, Kepala Bakin Sutopo Yuwono dan Brigjen Tjokropranolo sebagai penghubung pemerintah dengan partai-partai politik.31

Partai-partai politik yang berfusi dalam PDI memiliki latar belakang, ideologi dan basis massa yang berbeda-beda. Lima partai politik tersebut mewakili lima paham atau ideologi yang berbeda, yaitu: marhaenisme, nasionalisme, sosialisme, Kristen Protestan, dan Kristen Katolik.

Akhirnya, usaha penyederhanaan tersebut berjalan. Pada tahun 1973 fusi partai-partai politik dilaksanakan secara resmi. Kelompok Demokrasi Pembangunan atau Kelompok Nasionalis menjelma secara resmi menjadi Partai Demokrasi Indonesia (PDI) pada tanggal 10 Januari 1973. Demikian juga kelompok-kelompok spritual atau Kelompok Persatuan melebur menjadi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pada tanggal 5 Januari 1973. Kedua partai hasil fusi inilah yang bertarung kembali dengan Golongan Karya pada Pemilihan Umum selanjutnya.

Dokumen terkait