BAB III POSISI INDONESIA DI MATA DUNIA INTERNASIONAL
C. Peran Amnesty Internasional Sebagai NGO yang Bersifat
2. Latar Belakang dan Tujuan Penyusunan Komisi
a. Latar Belakang dan Tujuan Penyusunan
Sebagai akibat putusan Mahkamah Konstitusi yang membatalkan UU No. 27 Tahun 2004 tentang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (Putusan MK No 006/PUU-IV/2006), dipandang perlu untuk tetap mengajukan kembali RUU baru. Dalam putusannya MK merekomendasikan pembentukan UU KKR baru, yang sejalan dengan UUD 1945, dan menjunjung tinggi prisip-prinsip hukum humaniter dan hukum hak asasi manusia internasional. Pembentukan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR), juga dimandatkan oleh UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia, khususnya terkait dengan penyelesaian pelanggaran HAM yang berat, yang terjadi sebelum diundangkannya undang-undang ini. (Pasal 47 UU No. 26/2000). TAP MPR No. VI Tahun 2000 tentang Persatuan dan kesatuan Nasional pada intinya memberikan arah penyelesaian pelanggaran HAM Berat masa lalu yang dapat dilakukan melalui Pengadilan HAM Ad Hoc atau melalui Komisi kebenaran dan Rekonsiliasi.
UU No. 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, yang juga mengamanatkan pembentukan Komisi kebenaran dan Rekonsiliasi di Aceh.Di dalam Pasal 229 ayat (1) UU Pemerintahan
Aceh disebutkan, “Untuk mencari kebenaran dan rekonsiliasi dengan Undang-Undang ini dibentuk Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi di Aceh. UU KKR dibentuk guna menyelesaikan pelanggaran HAM berat yang terjadi pada masa lalu sebelum berlakunya UU No. 26 Tahun 2000 tentangPengadilan HAM, perlu ditelusuri kembali utk mengungkapkan kebenaran serta menegakan keadilan dan membentuk budaya menghargai HAM shg dapat diwujudkan rekonsiliasi guna persatuan nasional. Pengungkapan kebenaran juga demi kepentingan para korban dan/keluarga korban dan juga ahli warisnya untuk mendapatkan kompensasi, restitusi dan rehabilitasi.
b. Sasaran yang ingin Diwujudkan
Terbentuknya UU KKR yang baru sehingga diperoleh keadilan dan kepastian hukum bagi penyelesaian pelanggaran HAM berat masa lalu sebelum berlakunya UU No. 26 Tahun 2000 baik bagi pelaku maupun korban pelanggaran HAM berat masa lalu. Dengan diungkapkannya kebenaran ttg pelanggaran hak asasi manusia yang berat yang terjadi sebelum berlakunya UU Pengadilan HAM melalui komisi kebenaran dan rekonsiliasi diharapkan dapat diwujudkan rekonsiliasi nasional.
c. Jangkauan dan Arah Pengaturan
Rekonsiliasi nasional dengan pengungkapan penyelesaian pelanggaran HAM Berat masa lalu sebelum berlakunya UU No. 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM agar pelaku, korban keluarganya memperoleh keadilan dan kepastian hokum melalui upaya rekonsiliasi seperti kompensasi, restitusi dan rehabilitasi dan amnesti.
Lingkup materi yang diatur dalam UU KKR ini adalah meliputi asas dan tugas pemebntukan komisi, temapat kedudukan, fungsi tugas dan wewenang komisi, alat kelengkapan, tata cara penyelesaian permohonan kompensasi, restitusi, rehabilitasi dan amnesty, keanggotaan komisi, pembiayaan, ketentuan lain-lain, ketentuan penutup36.
3. Tahap dan Kelanjutan dari Pembentukan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi di Aceh
Pembentukan suatu komisi kebenaran bagi Aceh merupakan bagian dari perjanjian damai 2005 antara pemerintah Indonesia dan bekas Gerakan Aceh Merdeka. Perjanjian ini, diawasi oleh Negara-negara anggota ASEAN dan Uni Eropa, Komisi Kebenaran juga berkomitmen untuk membentuk pengadilan HAM bagi kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu yang terjadi di Aceh. Pengesahan qanun
36
tentang komisi kebenaran di provinsi Aceh pada Desember 2013 merupakan sebuah langkah bersejarah menuju upaya penyelesaian impunitas atas pelanggaran HAM masa lalu yang dilakukan selama masa konflik Aceh. Amnesty International menyerukan pemerintah pusat untuk memberikan dukungan penuh bagi pembentukan komisi semacam ini sesuai dengan standar dan hukum internasional untuk memastikan kebenaran, keadilan, dan reparasi bagi para korban konflik dan keluarganya.
Pada 17 April 2013, Komissi A dari DPRA menyelenggarakan dengar pendapat publik untuk menerima masukan dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk para korban, perwakilan mereka, dan masyarakat sipil untuk membentuk suatu komisi di Aceh. Pada hari yang sama Komisi A membentuk kelompok kerja yang mencakup anggota-anggota masyarakat sipil untuk menyediakan masukan terhadap rancangan qanun. Pada pertemuan baru-baru ini dengan anggota-anggota Komisi A, Amnesty International mendesak mereka untuk memastikan bahwa fungsi-fungsi komisi kebenaran sesuai dengan standar-standar dan hukum internasional37. Pada 27 Desember 2013, setelah delapan tahun dikampanyekan oleh kelompok-kelompok HAM dan organisasi-organisasi korban, dan juga upaya besar dari
37
Amnesty International; Pernyataan Publik ; Index: Asa 21/2976/2015 (30 November 2015 Indonesia: Pembentukan Panitia Seleksi Komisi Kebenaran Aceh Merupakan Satu Langkah Lebih Dekat Bagi Kebenaran Dan Reparasi Bagi Para Korban)
parlemen Aceh, qanun Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Aceh disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Aceh.
Qanun ini sudah diajukan kepada pemerintah pusat Kementerian Dalam Negeri untuk persetujuan sebelum diberlakukan38.
38
Amnesty Internationa; Pernyataan Publik Index: Asa 21/001/2014
8 Januari 2014 Indonesia: Parlemen Aceh Mengesahkan Qanun Komisi Kebenaran Untuk Menangani Pelanggaran Ham Masa Lalu
55
BAB ini akan membuktikan bagaimana peranan Organisasi Internasional dalam mengangkat isu-isu pelanggara HAM yang terjadi di Aceh keranah Internasional, dan upaya-upaya yang dilakukan oleh organisasi Internasional tersebut dalam memediasi konflik Pemerintah RI-GAM untuk mewujudkan perdamaian di Aceh melalui Global Channeling.
Konflik antara pemerintah dan gerakan separatis GAM di Aceh yang melibatkan warga sipil menjadi korban, bahkan dicurigai adanya indikasi pelanggaran HAM yang dilakukan oleh pemerintah RI melalui militer yang diturunkan pada Daerah Operasi Militer untuk menekan pergerakan GAM tersebut mengundang simpatisan dari berbagai kalangan. Kecurigaan tersebut diawali dengan dibatasinya akses informasi mengenai perkembangan kejadian-kejadian di Aceh yang dilakukan oleh pemerintah RI. Pemerintah sendiri terkesan menutup-nutupi tindakan semena-mena militer terhadap masyarakat sipil yang kemungkinan tidak terlibat dalam kelompok GAM.
Pemberitaan yang dilakukan oleh media, dan aktivis kemanusiaan selalu berdasarkan tanggapan dan merupakan informasi dari pemerintah saja. Media massa mendapatkan tekanan dari pemerintah atas berita dan informasi yang akan disebarkan baik melalui media cetak maupun televisi. Media massa harus memuat berita dan informasi yang telah disampaikan oleh pemerintah tanpa
memperlihatkan fakta-fakta yang terjadi di Aceh. Hal ini menimbulkan tandatanya besar, dan membuat bebarapa reporter, dan aktivis kemanusiaan “menyusup”
kedaerah yang rawan akan tindakan kekerasan tersebut untuk memperoleh informasi yang sebenarnya.
Amnesty Internasional merupakan salah satu NGO yang para aktivisnya memasuki Aceh dengan “menyusup”.Hal ini dilakukan bukan tanpa alasan,
tindakan pemerintah yang mencurigai berbagai pergerakan dari aktivis kemanusiaan mengakibatkan sangat sulit bagi para aktivis dan NGO tersebut dalam melakukan dan menerapkan program kerjanya guna membantu para masyarakat sipil yang diabaikan hak-hak nya oleh negara. Tindakan ini tidak hanya dilakukan oleh Amnesti Internasional saja. NGO Internasional seperti Henry Dunant Centre (HDC), Human Right Watch (HRW), Crisis Management Initiative (CMI), dan NGO lokal seperti Kontras dan Masyarakat Sipil Nusantara turut mengambil bagian dalam mengupayakan perdamaian dan penyeleaian konflik senjata kedua belah pihak (Pemerintah RI-GAM).
Organisasi Internasional dan Organisasi lokal tersebut melakukan banyak cara untuk menjadi meditor antara Pemerintah RI-GAM, melalui perundingan gencatan senjata, penandatanganan perjanjian, tekanan-tekanan yang dilakukan oleh NGO internasional dengan menduniakan kasus pelanggaran HAM terhadap rakyat sipil yang dilakukan oleh kedua belah pihak yang bertikai, sehingga mendapat kecaman dari masyarakat dunia. Meskipun tampaknya akhir yang diinginkan masih membutuhkan proses yang panjang, NGO-NGO tersebut tetap berupaya terus menerus dalam melaksanakan tugas nya.
A. Upaya NGO’s Internasional dalam Menginternasionalisasikan Kasus Pelanggaran HAM di Aceh
Demi menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiiaan yang diabaikan oleh militer terhadap masyarakat sipil Aceh, dan untuk menegakan hukum internasional yang dilanggar oleh pemerintah RI, Amnesty Internasional dan NGO Internaional lain nya melakukan berbagai upaya agar penegakan hukum internasional dipatuhi dan mengembalikan hak-hak masyarakat Aceh sebagai manusia dan sebagai warga Negara, serta tuntutan kepada Negara untuk memberikan perlindungan pada masyarakat sipil di Aceh atas konflik yang terjadi antara GAM-RI.
Aktivis Amnesty Internasional melakukan penelitian langsung dengan mendatangi Aceh, dan melakukan wawancara dengan penduduk Aceh mengenai keadaan mereka selama konflik GAM-RI dan selama Daerah Operasi Militer diluncurkan.Amnesty Internasional juga mendokumentasikan dan membuat dalam bentuk laporan tertulis segala bentuk pelanggaran HAM yang terjadi di Aceh, yang kemudian mempublikasikan nya pada dunia internasional melalui jurnal, maupun artikel-artikel yang mengkritisi tindakan pemerintah RI.
Laporan-laporan Amnesty Internasional yang di publikasikan pada umum melalui kampenye, dan digunakan sebagai informasi bagi media massa untuk menyebarluaskan segala bentuk pelanggaran HAM di Aceh kepada umum mendapatkan respon positif dari beberapa kelompok dan Negara. Respon positif dari beberapa Negara tersebut kemudian membentuk
kelompok sebagai mediator penyelesaian konflik GAM-RI dengan kesepakatan dan perjanjian-perjanjian yang harus dipenuhi oleh keduabelah pihak. Hal tersebut terbukti dengan masuknya Henry Dunant Centre (HDC) dan Human Right Watch (HRW) sebagai mediator konflik kedua belah pihak yang menghasilkan berbagai macam perundingan damai, dan penandatanganan perjanjian untuk gencatan senjata.
Meskipun kesepakatan perdamaian yang ingin dicapai oleh NGO dan keduabelah pihak dianggap masih jauh dari harapan untuk dicapai, NGO Internasional tetap berupaya secara bertahap agar Pemerintah RI-GAM sampai di meja perundingan dan mencapai kesepakatan bersama untuk menciptakan kedamaian dan mengembalikan hak-hak masyarakat sipil Aceh.
1. Keterlibatan Henry Dunant Centre (HDC) dan Kesepakatan CoHA