1.6. Kerangka Teori
1.6.2. Kebijakan Publik
Menurut Chander dan Plano kebijakan publik adalah pemanfaatan yang strategis terhadap sumber daya – sumber daya yang ada untuk memecahkan masalah-masalah publik atau pemerintah. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kebijakan diartikan sebagai rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan. Dalam kenyataannya kebijakan tersebut telah banyak membantu para pelaksana pada tingkat birokrasi pemerintah maupun para politisi untuk memecahkan masalah-masalah publik.
Selanjutnya dikatakan bahwa kebijakan publik merupakan suatu bentuk intervensi yang dilakukan secara terus menerus oleh pemerintah demi kepentingan kelompok yang kurang beruntung dalam masyarakat agar mereka dapat hidup, dan ikut berpartisipasi dalam pembangunan secara luas.16
Sedangkan menurut Woll kebijakan publik adalah sejumlah aktivitas pemerintah untuk memecahkan masalah di masyarakat, baik secara langsung maupun melalui lembaga yang mempengaruhi kehidupan masyarakat.
pelaksanaan kebijakan publik terdapat tiga tingkat pengaruh sebagai implikasi dari tindakan – tindakan pemerintah yaitu:17
a) Adanya pilihan kebijakan atau keputusan yang dibuat oleh politisi, pegawai pemerintah atau yang lainnya yang bertujuan menggunakan kekuatan publik untuk mempengaruhi kehidupan masyarakat.
b) Adanya output kebijakan, dimana kebijakan yang diterapkan pada level ini menuntut pemerintah untuk melakukan pengaturan, penganggaran,
16 Hesel Nogi Tangkilisan. Implementasi Kebijakan Publik. Offset YPAPI: Yogyakarta. 2003. hal. 3.
17 Said ZainalAbidin. Kebijakan Publik. Salemba Humanika: Jakarta. 2006. hal 2.
pembentukan personil dan membuat regulasi dalam bentuk program yang akan mempengaruhi kehidupan masyarakat.
c) Adanya dampak kebijakan yang merupakan efek pilihan kebijakan yang mempengaruhi kehidupan masyarakat.
Proses pembuatan kebijakan merupakan proses yang kompleks karena melibatkan banyak proses maupun variabel yang harus dikaji. Oleh karena itu beberapa ahli politik yang menaruh minat untuk mengkaji kebijakan publik membagi proses-proses penyusunan kebijakan publik kedalam beberapa tahap.
Tujuan pembagian seperti ini adalah untuk memudahkan kita dalam mengkaji kebijakan publik
Berdasarkan beberapa literatur yang dibaca adapun tahap-tahap kebijakan publik adalah :
Gambar 1
Tahapan Proses Pembuatan Kebijakan Publik
Sumber : Said Zainal Abidin. 2006. Kebijakan Publik.
Penyusunan Agenda
Formulasi Kebijakan
Pembuatan Kebijakan
Implementasi Kebijakan
Evaluasi Kebijakan
Proses pembuatan suatu kebijakan diawali dengan penyusunan agenda yang menempatkan berbagai masalah ke dalam sebuah agenda kebijakan yang selanjutnya akan dibahas oleh para pembuat kebijakan untuk menghasilkan alternatif pemecahan masalah yang akan dibahas pada tahap formulasi kebijakan.
Setelah memperoleh alternatif terbaik, maka alternatif tersebut dirumuskan ke dalam bentuk kebijakan yang selanjutnya akan diimplementasikan oleh para pelaksana kebijakan18. Kebijakan yang telah dilaksanakan tersebut selanjutnya akan dievaluasi untuk melihat sejauh mana kebijakan yang dibuat telah mampu memecahkan masalah.19
1.7. Definisi dan Konsep 1.7.1. Pemberdayaan
Secara etimologis pemberdayaan berasal dari kata dasar “daya” yang berarti kekuatan atau kemampuan. Bertolak dari pengertian tersebut maka pemberdayaan dapat dimaknai sebagai suatu proses menuju berdaya, atau proses untuk memperoleh daya/ kekuatan/ kemampuan, dan atau proses pemberian daya/ kekuatan/ kemampuan dari pihak yang memiliki daya kepada pihak yang kurang atau belum berdaya.20
Pemberdayaan memiliki banyak pengertian yang antara lain menurut Friedman sebagaimana dikutip oleh Suprapto yaitu pemberdayaan tidak hanya sebatas kekuatan ekonomi namun dapat pula aspek politis karena ia merupakan
18 Subarsono. Analisis Kebijakan Publik, Konsep Teori, dan Aplikasi. Pustaka Pelajar: Yogyakarta. 2005. hal.
11.
19 Leo Agustino. Dasar – Dasar Kebijakan Publik. Alfabeta: Bandung. 2008. hal. 13.
20WJS Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia 1985.
hasil interaksi antara konsep “ top down – bottom up” antara growth strategi dengan people centered development.21
Dalam konsep pemberdayaan menampakkan dua kencenderungan sebagaimana menurut Sedarmayanti, yaitu :22
a. Pemberdayaan menekankan kepada proses memberikan atau mengalihkan sebagaian kekuasaan, kekuatan, atau kemampuan, kepada masyarakat, organiasi, atau individu agar menjadi lebih berdaya. Proses ini sering disebut sebagai kencenderungan primer dari makna pemberdayaan.
b. Menekankan pada proses menstimulasi, mondorong, dan memotivasi individu agar mempunyai kemampuan atau keberdayaan untuk menentukan apa yang menjadi pilihan hidupnya. Proses ini sering disebut sebagai kencenderungan sekunder dari makna pemeberdayaan.
1.7.2. Otonomi Daerah dan Otonomi Desa
Otonomi daerah adalah perwujudan dari pelaksanaan urusan pemerintah berdasarkan asas desentralisasi yakni penyerahan urusan pemerintah kepada daerah untuk mengurus rumah tangganya. Menurut UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Pasal 1 ayat 5 “Otonomi daerah adalah hak wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundangundangan.”23
21Suprapto. Pemberdayaan Masyarakat Desa. Pustaka: Jakarta. 2008. Hal 78.
22Sedarmayanti. Restrukturisasi dan Pemberdayaan Organiasi untuk menghadapi Dinamika Perubahan Lingkungan. Mandar maju: Bandung. 2000. Hal 75.
23 Undang – Undang Nomor 32 tahun 2004 hal 4.
Widjaja menyatakan bahwa otonomi desa merupakan otonomi asli, bulat, dan utuh serta bukan merupakan pemberian dari pemerintah.
Sebaliknya pemerintah berkewajiban menghormati otonomi asli yang dimiliki oleh desa tersebut. Sebagai kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai susunan asli berdasarkan hak istimewa, desa dapat melakukan perbuatan hukum baik hukum publik maupun hukum perdata, memiliki kekayaan, harta benda serta dapat dituntut dan menuntut di muka pengadilan. Dengan dimulai dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang kemudian disempurnakan dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang diperbaruhi dengan Undang – undang 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah memberikan landasan kuat bagi desa dalam mewujudkan “Development Community” dimana desa tidak lagi sebagai level administrasi atau bawahan daerah tetapi sebaliknya sebagai
“Independent Community” yaitu desa dan masyarakatnya berhak berbicara atas kepentingan masyarakat sendiri. Desa diberi kewenangan untuk mengatur desanya secara mandiri termasuk bidang sosial, politik dan ekonomi. Dengan adanya kemandirian ini diharapkan akan dapat meningkatkan partisipasi masyarakat desa dalam pembangunan sosial dan politik.24
Bagi desa, otonomi yang dimiliki berbeda dengan otonomi yang dimiliki oleh daerah provinsi maupun daerah kabupaten dan daerah kota. Otonomi yang dimiliki oleh desa adalah berdasarkan asal-usul dan adat istiadatnya, bukan berdasarkan penyerahan wewenang dari Pemerintah. Desa atau nama lainnya, yang selanjutnya disebut desa adalah kesatuan masyarakat hukum
24 Prof.drs. HAW. Widjaja. Otonomi Desa ( merupakan otnomi yang asli, bulat dan utuh ), rajagrafindo persada: Jakarta. 2003. Hal 165.
yang memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal-usul dan adat-istiadat setempat yang diakui dalam sistem Pemerintahan Nasional dan berada di Daerah Kabupaten.
Landasan pemikiran yang perlu dikembangkan saat ini adalah keanekaragaman, partisipasi, otonomi asli, demokrasi, dan pemberdayaan masyarakat.
1.7.3. Desa
Desa secara etimologi berasal dari bahasa Sansakerta, desa yang berarti tanah air, tanah asal, atau tanah kelahiran. Desa adalah sebagai kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai susunan asli berdasarkan hak asal - usul yang bersifat istimewa. Landasan pemikiran dalam mengenai Pemerintahan Desa adalah keanekaragaman, partisipasi, otonomi asli, demokratisasi dan pemberdayaan masyarakat.25
Definisi Menurut UU RI No. 6 Tahun 2014 Tentang Desa, Desa adalah desa dan desa adat atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut Desa, adalah kesatuan masyarakat Hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisinonal yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.26
25 Ibid hal 2.
26 Undang – undang No. 6 Tahun 2014 tentang Desa hal 2.
1.7.4. Pemerintahan Desa
Pemerintahan Desa adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Penyelenggaraan Pemerintahan Desa, pelaksanaan Pembangunan Desa, pembinaan kemasyarakatan Desa, dan pemberdayaan masyarakat Desa berdasarkan Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika.
Pengaturan Desa berasaskan rekognisi ,subsidiaritas, keberagaman, kebersamaan, kegotongroyongan, kekeluargaan, musyawarah, demokrasi, kemandirian, partisipasi, kesetaraan, pemberdayaan dan keberlanjutan.
Di dalam Pasal 4 Undang – undang no 6 Tahun 2014 bahwa Pengaturan Desa bertujuan:27
a) memberikan pengakuan dan penghormatan atas Desa yang sudah ada dengan keberagamannya sebelum dan sesudah terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.
b) memberikan kejelasan status dan kepastian hukum atas Desa dalam sistem ketatanegaraan Republik Indonesia demi mewujudkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.
c) melestarikan dan memajukan adat, tradisi, dan budaya masyarakat Desa.
d) mendorong prakarsa, gerakan, dan partisipasi masyarakat Desa untuk pengembangan potensi dan Aset Desa guna kesejahteraan bersama.
27Ibid hal 5.
e) membentuk Pemerintahan Desa yang profesional, efisien dan efektif, terbuka, serta bertanggung jawab.
f) meningkatkan pelayanan publik bagi warga masyarakat Desa guna mempercepat perwujudan kesejahteraan umum.
g) meningkatkan ketahanan sosial budaya masyarakat Desa guna mewujudkan masyarakat Desa yang mampu memelihara kesatuan sosial sebagai bagian dari ketahanan nasional.
h) memajukan perekonomian masyarakat Desa serta mengatasi kesenjangan pembangunan nasional dan memperkuat masyarakat Desa sebagai subjek pembangunan.
1.7.5. Pemerintah Desa
Pemerintah Desa adalah Kepala Desa atau yang disebut dengan nama lain dibantu perangkat Desa sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Desa.
Bagian Kesatu UU No. 6 tahun 2014 Pasal 25 menyatakan bahwa Pemerintah Desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 diatas adalah Kepala Desa atau yang disebut dengan nama lain dan yang dibantu oleh perangkat Desa atau yang disebut dengan nama lain. Sedangkan padaBagian KeduaPasal 26 menyebutkan bahwa :28
1. Kepala Desa bertugas menyelenggarakan Pemerintahan Desa, melaksanakan Pembangunan Desa, pembinaan kemasyarakatan Desa, dan pemberdayaan masyarakat Desa.
28Ibid hal 14.
2. Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Kepala Desa berwenang:
a) memimpin penyelenggaraan Pemerintahan Desa dan mengangkat dan memberhentikan perangkat Desa.
b) memegang kekuasaan pengelolaan Keuangan dan Aset Desa dan menetapkan Peraturan Desa.
c) menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa dan membina kehidupan masyarakat Desa.
d) membina ketenteraman dan ketertiban masyarakat Desa dan meningkatkan perekonomian Desa serta mengintegrasikannya agar mencapai perekonomian skala produktif untuk sebesar-besarnya kemakmuran masyarakat Desa.
e) mengembangkan sumber pendapatan Desa dan mengusulkan dan menerima pelimpahan sebagian kekayaan negara guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa.
f) mengembangkan kehidupan sosial budaya masyarakat Desa dan memanfaatkan teknologi tepat guna, mengoordinasikan Pembangunan Desa secara partisipatif.
g) mewakili Desa di dalam dan di luar pengadilan atau menunjuk kuasa hokum untuk mewakilinya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan dan melaksanakan wewenang lain yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
3. Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Kepala Desa berhak:
a) mengusulkan struktur organisasi dan tata kerja Pemerintah Desa dan mengajukan rancangan dan menetapkan Peraturan Desa.
b) menerima penghasilan tetap setiap bulan, tunjangan, dan penerimaan lainnya yang sah, serta mendapat jaminan kesehatan.
c) mendapatkan pelindungan hukum atas kebijakan yang dilaksanakan;
dan memberikan mandat pelaksanaan tugas dan kewajiban lainnya kepada perangkat Desa.
1.7.6. Peraturan Desa
Peraturan Desa adalah peraturan perundang - undangan yang ditetapkan oleh Kepala Desa setelah dibahas dan disepakati bersama Badan Permusyawaratan Desa.
Peraturan Desa ditetapkan oleh Kepala Desa setelah dibahas dan disepakati bersama Badan Permusyawaratan Desa merupakan kerangka hukum dan kebijakan dalam penyelenggaraan Pemerintahan Desa dan Pembangunan Desa. Penetapan Peraturan Desa merupakan penjabaran atas berbagai kewenangan yang dimiliki Desa mengacu pada ketentuan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Sebagai sebuah produk hukum, Peraturan Desa tidak boleh bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi dan tidak boleh merugikan kepentingan umum, yaitu:
a) terganggunya kerukunan antar warga masyarakat.
b) terganggunya akses terhadap pelayanan publik.
c) terganggunya ketenteraman dan ketertiban umum.
d) terganggunya kegiatan ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa dan diskriminasi terhadap suku, agama dan kepercayaan, ras, antargolongan, serta gender. Sebagai sebuah produk politik, Peraturan Desa diproses secara demokratis dan partisipatif, yakni proses penyusunannya mengikutsertakan partisipasi masyarakat Desa.
Masyarakat Desa mempunyai hak untuk mengusulkan atau memberikan masukan kepada Kepala Desa dan Badan Permusyawaratan Desa dalam proses penyusunan Peraturan Desa. Peraturan Desa yang mengatur kewenangan Desa berdasarkan hak asal usul dan kewenangan berskala lokal Desa pelaksanaannya diawasi oleh masyarakat Desa dan Badan Permusyawaratan Desa. Hal itu dimaksudkan agar pelaksanaan Peraturan Desa senantiasa dapat diawasi secara berkelanjutan oleh warga masyarakat Desa setempat mengingat Peraturan Desa ditetapkan untuk kepentingan masyarakat Desa.
Apabila terjadi pelanggaran terhadap pelaksanaan Peraturan Desa yang telah ditetapkan, Badan Permusyawaratan Desa berkewajiban mengingatkan dan menindaklanjuti pelanggaran dimaksud sesuai dengan kewenangan yang dimiliki. Itulah salah satu fungsi pengawasan yang dimiliki oleh Badan Permusyawaratan Desa. Selain Badan Permusyawaratan Desa, masyarakat Desa juga mempunyai hak untuk melakukan pengawasan dan evaluasi secara partisipatif terhadap pelaksanaan Peraturan Desa.
Jenis peraturan yang ada di Desa, selain Peraturan Desa adalah Peraturan Kepala Desa dan Peraturan Bersama Kepala Desa. Pada pasal 70 dijelaskan mengenai peraturan bersama kepela desa :29
1. Peraturan bersama Kepala Desa merupakan peraturan yang ditetapkan oleh KepalaDesa dari 2 (dua) Desa atau lebih yang melakukan kerja sama antar-Desa.
2. Peraturan bersama Kepala Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan perpaduan kepentingan Desa masing-masing dalam kerja sama antar-Desa.
1.7.7. Peyusunan Peraturan Desa
Dalam Penyusunan Peraturan Desa Tertuang dalam Peraturan Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 111 Tahun 2014 Tentang Pedoman Teknis Peraturan di Desa Yaitu :30
1. Dalam bagian kesatu pada perencanaan dipasal 5 tertulis Pertama, Perencanaan penyusunan rancangan Peraturan Desa ditetapkan oleh Kepala Desa dan BPD dalam rencana kerja Pemerintah Desa. Dan Lembaga kemasyarakatan. Kedua, lembaga adat dan lembaga desa lainnya di desa dapat memberikan masukan kepada Pemerintah Desa dan atau BPD untuk rencana penyusunan rancangan Peraturan Desa.
2. Dalam bagian kedua pada penyusununan di paragraph satu, Penyusunan Peraturan Desa oleh Kepala Desa di pasal 6 Tertulis. Pertama,
29Ibid hal 39.
30Peraturan Dalam Negeri No. 111 Tahun 2014 tentang pedoman teknis peraturan desa (31 Desenber 2014) diakses dari www.kemendagri.go.id/dmdocumentsPermendagrino.11162014. pada sabtu tgl 19 November 2016 Pukul 17:00 Wib.
Penyusunan rancangan Peraturan Desa diprakarsai oleh Pemerintah Desa.
Kedua, Rancangan Peraturan Desa yang telah disusun, wajib dikonsultasikan kepada masyarakat desa dan dapat dikonsultasikan kepada camat untuk mendapatkan masukan. Ketiga, Rancangan Peraturan Desa yang dikonsultasikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diutamakan kepada masyarakat atau kelompok masyarakat yang terkait langsung dengan substansi materi pengaturan. Keempat, Masukan dari masyarakat desa dan camat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) digunakan Pemerintah Desa untuk tindak lanjut proses penyusunan rancangan Peraturan Desa. Kelima, Rancangan Peraturan Desa yang telah dikonsultasikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) disampaikan Kepala Desa kepada BPD untuk dibahas dan disepakati bersama.
Dalam Paragraf kedua pada Penyusunan Peraturan Desa oleh BPD dipasal tujuh tertulis. Pertama, BPD dapat menyusun dan mengusulkan rancangan Peraturan Desa. Kedua, Rancangan Peraturan Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kecuali untuk rancangan Peraturan Desa tentang rencana pembangunan jangka menengah Desa, rancangan Peraturan Desa tentang rencana kerja Pemerintah Desa, rancangan Peraturan Desa tentang APB Desa dan rancangan Peraturan Desa tentang laporan pertanggungjawaban realisasi pelaksanaan APB Desa. Ketiga, Rancangan Peraturan Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diusulkan oleh anggota BPD kepada pimpinan BPD untuk ditetapkan sebagai rancangan Peraturan Desa usulan BPD.
3. Dalam bagian ketiga pada pembahasan dipasal delapan Tertulis. Pertama,
BPD mengundang Kepala Desa untuk membahas dan menyepakati rancangan Peraturan Desa. Kedua, Dalam hal terdapat rancangan Peraturan Desa prakarsa Pemerintah Desa dan usulan BPD mengenai hal yang sama untuk dibahas dalam waktu pembahasan yang sama, maka didahulukan rancangan Peraturan Desa usulan BPD sedangkan Rancangan Peraturan Desa usulan Kepala Desa digunakan sebagai bahan untuk dipersandingkan. Dalam pasal sembilan tertulis. Pertama, Rancangan Peraturan Desa yang belum dibahas dapat ditarik kembali oleh pengusul.
Kedua, Rancangan Peraturan Desa yang telah dibahas tidak dapat ditarik kembali kecuali atas kesepakatan bersama antara Pemerintah Desa dan BPD. Dalam Pasal sepeluh tertulis. Pertama, Rancangan peraturan Desa yang telah disepakati bersama disampaikan oleh pimpinan Badan Permusyawaratan Desa kepada kepala Desa untuk ditetapkan menjadi peraturan Desa paling lambat 7 (tujuh) Hari terhitung sejak tanggal kesepakatan. Kedua, Rancangan peraturan Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib ditetapkan oleh kepala Desa dengan membubuhkan tanda tangan paling lambat 15 (lima belas) Hari terhitung sejak diterimanya rancangan peraturan Desa dari pimpinan Badan Permusyawaratan Desa.
4. Dalam bagian keempat pada penetapan dipasal sebelas tertulis. Pertama, Rancangan Peraturan Desa yang telah dibubuhi tanda tangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Sekretaris Desa untuk diundangkan. Kedua, Dalam hal Kepala Desa tidak menandatangani Rancangan Peraturan Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
Rancangan Peraturan Desa tersebut wajib diundangkan dalam Lembaran Desa dan sah menjadi Peraturan Desa.
5. Dalam bagian kelima pada Pengundangan dipasal dua belas tertulis.
Pertama, Sekretaris Desa mengundangkan peraturan desa dalam lembaran desa. Kedua, Peraturan Desa dinyatakan mulai berlaku dan mempunyai kekuatan hukum yang mengikat sejak diundangkan.
6. Dalam bagian keenam pada penyebarluasan dipasal tiga belas tertulis.
Pertama, Penyebarluasan dilakukan oleh Pemerintah Desa dan BPD sejak penetapan rencana penyusunan rancangan Peraturan Desa, penyusunan Rancangan Peratuan Desa, pembahasan Rancangan Peraturan Desa, hingga Pengundangan Peraturan Desa. Kedua, Penyebarluasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk memberikan informasi dan/atau memperoleh masukan masyarakat dan para pemangku kepentingan.
1.8. Studi Terdahulu
Penelitian ini Pada dasarnya tidak bisa dilepaskan dari penelitian – penelitian terdahulu yang pernah dilakukan.Penelitian terdahulu menjadi rujukan dan pembanding dalam penelitian ini. Ada beberapa penelitian terdahulu yang dijadikan acuan dalam penelitian ini. Penelitian tersebut di antaranya yaitu : Penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Fadhli yang berjudul Efektivitas Pemerintahan Desa Dalam Pembuatan Peraturan Desa di Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis Provinsi Riau. Penelitian ini menjelaskan Studi tentang Efektifitas Pemerintahan Desa dalam rangka pembuatan peraturan desa
sangatlah penting. Unsur Pemerintahan Desa terdiri dari Pemerintah Desa (Kepala Desa dan Perangkat Desa) dan Badan Permusyawaratan Desa. Setelah dilakukan kajian kedua lembaga desa ini sebagian besar belum melaksanakan tugas, fungsi dan wewenang. Untuk mengetahui efektifitasnya dalam rangka pembuatan peraturan desa bisa dilihat dari Peraturan Desa yang dihasilkan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebab ketidak efektifan yaitu sumber daya aparatur Pemerintahan Desa yang rendah dan kurangnya dukungan dari Pemerintah Daerah yaitu dalam hal bimbingan dan kurangnya insentif untuk anggota BPD dan karena kelalaian perangkat pemerintahan desa dalam pelaksanaan tugasnya.31
1.9. Metodologi Penelitian
Metode penelitian yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Penelitian deskriptif dimaksudkan untuk melakukan pemahaman yang cermat terhadap fenomena sosial berdasarkan gejala – gejalanya. Hadari Nawawi menyebutkan bahwa metode deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan subjek atau objek penelitian seseorang, lembaga, maupun masyarakat pada saat sekarang berdasarkan fakta – fakta yang tampak sebagaimana adanya.32 Penelitian deskriptif kualitatif melakukan analisis dan
31Muhammad, Fadhil. Efektifitas Pemerintahan Desa Dalam Pembuatan Peraturan Desa di Kecamatan Bengkalis Kabupaten Bengkalis Provinsi Riau. 2o11, Di akses dari
www.bengkaliskab.go.id/downlot.php?file=KTI_Efektifitas_%20BPD.pdf pada Senin Tgl 21 November 2016 Pukul 19:00 wib.
32 Hadari Nawawi. Metodologi penelitian bidang sosial. gajah Mada University Press Yogyakarta. 1987 hal 15.
menyajikan data – data serta fakta – fakta secara sistematis sehingga dapat lebih muda dipahami dan disimpulkan.
1.9.1. Jenis Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Metode penelitian kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari orang dan perilaku yang diamati.33 Dengan demikian untuk memperoleh data, peneliti turun ke lapangan untuk melakukan wawancara terhadap aktivitas dari objek yang diteliti serta dari dokumentasi – dokumentasi yang ada sebagai pelengkap data yang dibutuhkan.Penelitian ini dimaksudkan untuk mengungkapkan bagaimana Pemberdayaan Pemerintahan Desa Dalam Perspektif Undang – Undang Nomor 6 tahun 2014 dalam Penyusunan Peraturan Desa.
1.9.2. Lokasi Penelitian
Penelitian ini berlokasi berada pada Desa Bandar Khalipah Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang.
1.9.3. Teknik Pengumpulan Data
Dalam mengumpulkan data dan informasi yang dibutuhkan, maka penulis melakukan teknik pengumpulan data dengan menggunakan teknik pengumpulan data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data yang dilakukan sebagai berikut :
33Lexy J. Moleong. Metode Penelitian Kualitatif. Remaja Rosdakarya: Bandung. 2000. Hal 5.
1. Data Primer
Pengumpulan data primer dalam penelitian ini menggunakan metode wawancara ( interview ). Teknik Pengumpulan data Melalui wawancara ialah dengan bertanya langsung kepada informan yang dianggap sesuai dan terkait serta mengetahui permasalahan yang dijadikan sebagai objek penelitian. Dalam hal ini informan yang dijadikan sumber informasi adalah beberapa informan Penelitian ini Yakni antara lain :
- Suparyo, SH, selaku Kepala Desa di desa Bandar Khalipah Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang.
- Lisma, Aks, selaku Sekretaris Desa di desa Bandar Khalipah Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli serdang.
- Sakino, selaku Ketua BPD di desa Bandar Khalipah kec.
Percut sei Tuan Kab. Deli serdang.
- Sugiarno selaku Kaur Pemerintahan Desa di desa Bandar Khalipah kec Percut Sei Tuan kab. Deli Serdang.
- Harles Harahap, SH selaku Sekretaris Camat Kecamatan
- Harles Harahap, SH selaku Sekretaris Camat Kecamatan