• Tidak ada hasil yang ditemukan

Disusun Oleh : Faiz Albar Nasution

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Disusun Oleh : Faiz Albar Nasution"

Copied!
103
0
0

Teks penuh

(1)

PEMBERDAYAAN PEMERINTAHAN DESA DALAM PERSPEKTIF UNDANG – UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA (Studi Kasus: Tentang Pembuatan Peraturan Desa di Desa Bandar Khalipah

Kecamatan Percut sei Tuan kabupaten deli serdang)

Skripsi

Disusun Untuk Memenuhi Persyaratan Menyelesaikan Pendidikan Sarjana (S-1) Pada Program Studi Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Sumatera Utara

Disusun Oleh : Faiz Albar Nasution

130906039

DEPARTEMEN ILMU POLITIK

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2017

(2)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

Halaman Persetujuan

Hasil skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan oleh:

Nama : Faiz Albar Nasution NIM : 130906039

Departemen : Ilmu Politik

Judul : Pemberdayaan Pemerintahan Desa Dalam Perspektif Undang- Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa (Studi Kasus: Tentang Pembuatan Peraturan Desa di Desa Bandar Khalipah Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang).

Menyetujui:

Ketua Departemen Ilmu Politik Dosen Pembimbing

Warjio M.A P.hD Drs. Zakaria Taher, M.SP

NIP. 197408062006041003 NIP. 195801151986011002

Wakil Dekan 1

Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik

Husni Thamrin,S.Sos,M.SP NIP. 197203082005011001

(3)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

Halaman Pengesahan

Skripsi Ini Telah Dipertahankan Dihadapan Penguji Skripsi Departemen Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara oleh:

Nama : Faiz Albar Nasution

NIM : 130906039

Judul : Pemberdayaan Pemerintahan Desa Dalam Perspektif Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa (Studi Kasus: Tentang Pembuatan Peraturan Desa di Desa Bandar Khalipah Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang).

Dilaksanakanpada :

Hari :

Tanggal :

Pukul :

Tempat :

Majelis Penguji :

Ketua :

Nama :

NIP :

Penguji Utama :

Nama : Drs. ZakariaTaher, M.SP

NIP :

Penguji Tamu :

Nama :

NIP :

(4)

HALAMAN PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini, menyatakan sesungguhnya :

1. Karya tulis ilmiah saya dalam bentuk Skripsi dengan Judul

“Pemberdayaan Pemerintahan Desa Dalam Perspektif Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa (Studi Kasus: Tentang Pembuatan Peraturan Desa di Desa Bandar Khalipah Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang). Adalah asli dan belum pernah diajukan untuk mendapat gelar Akademik, baik di Universitas Sumatera Utara maupun di perguruan tinggi lain.

2. Skripsi ini murni gagasan, rumusan, dan penelitian saya sendiri tanpa bantuan dari pihak lain, kecuali arahan dari tim pembimbing dan penguji.

3. Di dalam Skripsi ini tidak terdapat karya atau pendapat yang telah ditulis atau di publikasikan orang lain, kecuali ditulis dengan cara menyebutkan pengarang dan mencantumkannya pada daftar pustaka.

4. Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya, dan apabila dikemudian hari terdapat penyimpangan dan ketidakbenaran di dalam pernyataan ini, maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan gelar yang telah diperoleh karena skripsi ini, serta sanksi lainnya sesuai dengan norma dan ketentuan hukum yang berlaku.

Medan, 2 April 2017 Yang Menyatakan

Faiz Albar Nasution NIM. 130906039

(5)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU POLITIK

FAIZ ALBAR NASUTION (130906039)

PEMBERDAYAAN PEMERINTAHAN DESA DALAM PERSPEKTIF UU NO 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA (Studi Kasus : Tentang Pembuatan Peraturan Desa di Desa Bandar Khalipah Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang).

Rincian Isi Skripsi Terdiri dari, 88 halaman, 1 tabel, 8gambar, 18 buku, 2 situs internet,5 wawancara.

ABSTRAK

Pemerintahan desa merupakan bagian dari sub pemerintahan terendah didalam negara kesatuan Republik Indonesia. Peraturan desa yang terdapat dalam Undang-Undang No. 6 tahun 2014 memberi peluang kepada pengaturan desa sesuai dengan hak asal usul.Regulasi tersebut menjadi landasan yuridis bagi pemerintahan Desa Bandar Khalipahuntuk mengurus rumah tangganya. Dalam Mewujudkan Kewenangan Desa, Pemerintahan Desa Bandar Khalipah harus dapat menghasilkan peraturan desa yang menjadi landasan maupun pedoman dalam penyelenggara pemerintahan desa Bandar Khalipah.

Penelitian ini mencoba untuk menguraikanfaktor–faktor apa saja yang membuat pemerintahan desa tidak berdaya dalam membuat Peraturan desa, menganalisis mengapa faktor tersebut berpengaruh dalam membuat peraturan desa dan usaha – usaha apa saja yang dilakukan pemerintah tingkat atas dalam memberdayakan pemerintah desa untuk membuat peraturan desa.Metode yang digunakanpadapenelitianini ialah metodedeskriptif dengan menggunakan teknik pengumpulan data yang diperoleh dari sumber primer yaitu wawancara dan sumber sekunder. Analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis kualitatif.

Terdapat temuan penting dalam penelitian ini diantaranya adalah; pertama, faktor yang mempengaruhi Pemrintah desa tidak berdaya dalam membuat peraturan desa yaitu : Satu, SDM, waktu dan dana. Kedua, hal tersebut dikarenakan pemerintah kecamatan tidak melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pemerintahan desa.

Kata Kunci : Desa, Pemerintahan Desa, Peraturan Desa.

(6)

UNIVERSITY OF NORTH SUMATRA

FACULTY OF SOCIAL AND POLITICAL SCIENCES DEPARTMENT OF POLITICAL SCIENCE

FAIZ ALBAR NASUTION(130906039)

EMPOWERMENT of VILLAGE GOVERNMENT in PERSPECTIVE of LAW NO. 6 YEAR 2014 ABOUT village (case study: about the making of the

regulation of the village in the village of Bandar Sub-district Khalipah Percut Sei Tuan Deli Serdang district).

Details of the contents of the Thesis consists of,88page,1tables,8image1of 8books, twointernet sites,5 interviews.

ABSTRACT

The Government of the village is part of the Government's lowest in the unitary State of the Republic of Indonesia. The village rules contained in Act No.

6 by 2014 giving the opportunity to the setting in accordance with the origin of the rights.Such regulations be juridical foundation for the Government ofthe village of Bandar Khalipahto take care of his household.In realizing the authority of the village, the village Government Bandar Khalipah should be able to produce a village that became a cornerstone in the guidelines as well as the organizer of the Government of the village of Bandar Khalipah.

This research tries to decipherfactor–What are the factors that make the village Government was powerless in the village make it a rule, analyze why these factors influential in setting the rules of the villageand effort just about anything the Government does to level up in your empowers the Government to make regulations.The methods used in this research is a method of using descriptive data collection techniques gleaned from primary sources i.e. interviews and secondary sources. Data analysis in this study uses qualitative analysis.

There were important findings in this study are; first,factors affecting Pemrintah of the village of helplessness in making regulations of the village are:

One, human resources, time and funds.Second,that is because the Government does not do sub coaching and supervision against the Government of the village.

Keywords: Village,Governance Village,The Regulation Of The Village.

(7)

Karya ini dipersembahkan untuk Ibunda Tercinta dan Ayahanda Tercinta

(8)

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Segala puji bagi Allah SWT yang memberikan manusia kemampuan berpikir dan hati hingga sebagai hambaNya, kita dapat selalu menuju kebenaran serta merendahkan hati dengan penuh syukur dan ikhlas agar mencapai ketaqwaan sebagai wujud penghambaan yang sesungguhnya. Shalawat dan salam juga kita berikan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah menyampaikan kebenaran agar manusia dapat menjadi insan yang mulia di hadapan Allah SWT.

Alhamdulillah, ucapan syukur yang tiada hentinya saya ucapkan kepada Allah SWT karena berkat rahmatNya saya dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pemberdayaan Pemerintahan Desa Dalam Perspektif Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa (Studi Kasus: Tentang Pembuatan Peraturan Desa di Desa Bandar Khalipah Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang)”. Berkat rahmatNya saya diberikan kemudahan baik dalam proses pencarian ide untuk penulisan, penelitian, penulisan hingga sidang meja hijau sebagai bentuk ujian yang nyata terhadap kompetensi saya sebagai peneliti.

Ucapan terima kasih sedalam-dalamnya kepada kedua orang tua saya ayahanda M. Husni Thamrin Nasution dan Ibunda Nurhajibah Lubis, yang tidak pernah bosan mendoakan dan memberikan dukungan hingga saya dapat menyelesaikan skripsi ini, kepada adik Lydia Nurhasanah Nasution dan Alya Rahma Nasution terima kasih atas doa dan dukungannya selama ini.

Penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Sehingga skripsi ini bermanfaat bagi siapapun yang

(9)

memerlukannya. Karena penulis sadar apa yang telah ditulis ini masih jauh dari kata memuaskan.

Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu S.H, M. Hum selaku Pejabat Rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Dr. Muriyanto Amin. S.Sos, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

3. Bapak Warjio M.A Ph.D selaku Ketua Departemen Ilmu Politik FISIP USU.

4. Bapak Drs. Zakaria Taher MSP selaku Dosen PA dan Pembimbing Skripsi saya selama menempuh studi di Departemen Ilmu Politik FISIP USU

5. Seluruh Dosen dan Staff Pengajar Departemen Ilmu Politik FISIP USU yang telah memberikan ilmu kepada saya hingga saya dapat menyelesaikan studi.

6. Kepada Pemerintahan Kecamatan Percut Sei Tuan dan Pemerintahan Desa Bandar Khalipah yang telah menjadi responden dalam penelitian ini.

7. Keluarga Besar Departemen Ilmu Politik, terkhusus kawan-kawan stambuk 2013.

8. Keluarga besar Serikat Petani Indonesia (SPI) dan SINTESA.

9. Keluarga Besar HMI Komisariat FISIP USU terkhusus untuk kawan- kawan stambuk 2013.

(10)

10. keluarga besar IKANAS (Ikatan Keluarga Besar Nasution) Sumatera Utara.

11. Keluarga besar Sumatran Youth Food Movement (SYFM).

12. Untuk sahabat terdekat, Alwi, Putri Evi, Sofyan Tole, Boan, Alid, Akbar, Una, Hilfani, Imam, Aziz, M. Reza, Reynaldi, Kikin, Indah gen, Nena, Nataya, Shelly, Intan, Jivi, erik, Agung, Tommy, Rudy.

13. Kepada kakanda senioren, Ricki Santoso, Nurul Huda, Rakib Wahyudi, Ardiya acip, Andri Mora, Andry Harahap, Andry Aceh, Ridho Ramadhan, Fandy Blek, Marlan Lase, Javier Jeje, Haris Fadhil, Fahri Riza, Bagus Abimanyu, Arya, Iqbal, Akbar Hadi, Joenanda, Mujahid, Afgan, Amri, Sandy, Randa Sinaga, Aditya Hartomo, Cristian Pasaribu, Ovi Aldino, Ricky Warman,Veni Judo, Mario, Yurial Lubis, Fernanda Putra, Bimbi Hidayat, Fuad Hasan, Walid Sembiring.

14. Kepada adinda, M Yudha, Fikri, Ejik, Fauziah, Midun, Duma, Murni, Heni, Ibay, Rini, Dwiki, Satria, Anhar, Azhar, Agung, Taufik, Dafa, Gezi.

Demikian ucapan syukur dan terimakasih penulis kepada semuanya yang telah berkontribusi dalam penulisan Skripsi ini, penulis sadar masih banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini, tapi penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Medan, 3 April 2017

Faiz Albar Nasution

(11)

DAFTAR ISI

Halaman Persetujuan ... i

Halaman Pengesahan ... ii

Halaman Pernyataan... iii

Abstrak. ... iv

Abstract. ... v

Halaman Persembahan. ... vi

Kata Pengantar. ... vii

Daftar Isi... viii

Daftar Tabel. ... xii

Daftar Gambar. ... xiii

BABI PENDAHULUAN ... 1

1.1.Latar Belakang ... 1

1.2.Perumusan Masalah ... 13

1.3.Pembatasan Masalah ... 14

1.4.Tujuan Penelitian ... 14

1.5.Manfaat Penelitian ... 15

1.6.Kerangka Teori... 16

1.6.1. Good Governance ... 16

1.6.2. Kebijakan Publik ... 18

1.7.Defenisi dan Konsep ... 20

1.7.1. Pemberdayaan ... 20

1.7.2. Otonomi Daerah dan Otonomi Desa ... 21

1.7.3. Desa ... 23

1.7.4. Pemerintahan Desa ... 24

1.7.5. Pemerintah Desa ... 25

1.7.6. Peraturan Desa ... 27

1.7.7. Penyusunan Peraturan Desa ... 29

1.8.Studi Terdahulu ... 32

1.9.Metodologi Penelitian ... 33

1.9.1. Jenis Penelitian ... 34

1.9.2. Lokasi Penelitian ... 34

1.9.3. Teknik Pengumpulan Data ... 34

1.9.4. Teknik Analisa Data ... 36

1.10. Sistematika Penulisan ... 36

BAB II PROFIL DESA BANDAR KHALIPAH ... 38

2.1. Sejarah Desa Bandar Khalipah ... 38

2.2. Monografi Desa Bandar Khalipah ... 39

2.2.1. Geografis Desa Bandar Khalipah ... 39

2.2.2. Demografis Penduduk Desa Bandar Khalipah... 40

2.3. Kondisi Sarana dan Prasarana Desa ... 43

2.4. Kondisi Pemerintahan Desa Bandar Khalipah ... 44

2.4.1. Pembagian Wilayah Desa Bandar Khalipah ... 44

2.4.2. Struktur Organisasi Pemerintahan Desa Bandar Khalipah ... 45

2.4.3. Tugas dan Wewenang Perangkat Desa dan BPD ... 47

(12)

2.4.3.1. Kepala Desa ... 47

2.4.3.2. Sekretaris Desa ... 48

2.4.3.3. Kaur Pemerintahan Desa ... 49

2.4.3.4. BPD (Badan Permusyawaratan Desa) ... 49

2.5. Peraturan Perundang – undangan Desa Bandar Khalipah tahun 2014/2016 ... 50

2.5.1. Peraturan Desa Bandar Khalipah ... 50

BAB III ANALISA DATA ... 52

3.1. Faktor – Faktor Pemerintah Desa Bandar Khalipah Tidak Berdaya Dalam Membuat Peraturan Desa ... 53

3.2. Menganalisis Faktor – faktor Yang Mempengaruhi Pemerintah Desa Bandar Khalipah Tidak Berdaya Dalam Membuat Peraturan Desa ... 68

3.3. Usaha – Usaha yang dilakukan Pemerintah Tingkat Atas Dalam Memberdayakan Pemerintah Desa Bandar Khalipah Untuk Membuat Peraturan Desa ... 75

3.3.1. Pemberdayaan Pemerintahan Desa yang dilakukan Pemerintahan Kecamatan Percut Sei Tuan ... 75

BAB IV PENUTUP ... 81

4.1. Kesimpulan ... 81

4.2. Saran ... 83

DAFTAR PUSTAKA. ... 86 Lampiran

(13)

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Rincian Luas Area Tanah ... 40

Tabel 2. Tingkat Pendidikan. ... 41

Tabel 3. Mata Pencaharian Pokok. ... 42

Tabel 4. Kondisi dan Prasarana Desa. ... 43

(14)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Tahapan Proses Pembuatan Kebijakan Publik ... 19

(15)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Apabila membicarakan “desa” di Indonesia, maka sekurang-kurangnya akan menimbulkan tiga macam penafsiran atau pengertian. Pertama, pengertian secara sosiologis, yang menggambarkan suatu bentuk kesatuan masyarakat atau komunitas penduduk yang tinggal dan menetap dalam suatu lingkungan, dimana antara mereka saling mengenal dengan baik dan corak kehidupan mereka relatif homogen, serta banyak bergantung kepada kebaikan-kebaikan alam. Kedua, pengertian secara ekonomi, desa sebagai suatu lingkungan masyarakat yang berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari dari apa yang disediakan alam di sektiarnya.1 Ketiga, pengertian secara politik, dimana “desa” sebagai suatu organisasi pemerintahan atau organisasi kekuasaan yang secara politis mempunyai wewenang tertentu karena merepukan bagian dari pemerintahan Negara.2

Dari segi istilah, desa sendiri adalah sebutan bagi masyarakat hukum yang ada di Jawa, Bali dan Nusa Tenggara Barat. Sedangkan di daerah-daerah lainnya mempunyai sebutan sendiri-sendiri seperti Gampong dan Meunsah (Aceh), Huta dan Huria (ditapanuli), Nagari Kampung (Sulawesi), Negeri (Malaku) dan lain lain.3

1 Mashuri, Maschab. Politik Pemerintahan Desa di Indonesia. PolGov, Yogyakarta. 2013. Hal 1

2Ibid hal 2

3ibid

(16)

Secara historis desa merupakan cikal bakal terbentuknya masyarakat politik dan pemerintahan di Indonesia jauh sebelum Negara bangsa ini terbentuk.

Struktur sosial sejenis desa, masyakat adat dan lain sebagainya telah menjadi institusi sosial yang mempunyai posisi yang sangat penting. Desa merupakan institusi yang otonom dengan tradisi, adat istiadat dan hukumnya sendiri serta relatif mandiri. Hal ini antara lain ditunjukkan dengan tingkat keragaman yang tinggi membuat desa mungkin merupakan wujud bangsa yang paling kongret.

Sejalan dengan kehadiran Negara modern, kemandirian dan kemampuan masyarakat desa mulai berkurang. Kondisi ini sangat kuat terlihat dalam pemerintahan orde baru yang berdasarkan Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1979 melakukan sentralisasi, birokratisasi dan penyeragaman pemerintahan desa, tanpa menghiraukan kemajemukan masyarakat adat dan pemerintahan asli, Undang – Undang ini melakukan penyeragaman secara nasional. Spirit ini kemudian tercermin dalam hampir semua kebijakan pemerintahan pusat yang terkait dengan desa.

Sejak Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945 sudah banyak dilakukan pembahasan dan pengkajian tentang Desa melalui berbagai macam kegiatan seperti diskusi, penelitian, seminar, simposium, sampai pada pembuatan peraturan perundang – undangan. Hal itu dapat ditelusuri dari berbagai regulasi yang telah dihasilkan oleh anak bangsa ini tentang Desa. Berikut ini di kemukakan regulasi mengenai desa yang pernah dibuat yaitu.

1. UU No. 22 tahun 1948 Tentang penetapan aturan-aturan pokok mengenai pemerintahan sendiri di daerah-daerah yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. Bab 2 pasal 3 angka

(17)

1 UU tersebut menegaskan bahwa daerah yang dapat mengatur rumah tangganya sendiri dapat dibedakan dalam dua jenis, yaitu daerah otonomi biasa dan daerah otonomi istimewa. Daerah-daerah ini dibagi atas tiga tingkatan, yaitu Provinsi Kabupaten/kota besar, Desa/kota kecil. Dalam penjelasan UU ini pengaturan mengenai Desa terdapat pada poin XII mengenai daerah Desa.

2. UU No. 19 Tahun 1965 tentang Desapraja sebagai bentuk peralihan untuk mempercepat terwujudnya daerah tingkat III di seluruh wilayah Republik Indonesia.

3. UU No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah.

Dalam UU ini pengaturan mengenai desa terdapat dalam Bab V yaitu pasal 88.

4. UU No. 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa.

5. UU No. 22 Tahun1999 tentang Pemerintahan Daerah. Dalam UU ini pengaturan mengenai desa terdapat dalam Bab XI yaitu dari pasal 93 – Pasal 111.

6. UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, sebagai pengganti Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Dalam UU ini pengaturan mengenai Desa terdapat dalam Bab XI yaitu dari Pasal 200 – Pasal 216 dan Peraturan Pemerintah No. 72 tahun 2005 Tentang Desa.

7. UU No. 6 tahun 2014 tentang desa dan Peraturan Pemerintah No. 47 tahun 2015 tentang perubahan atas peraturan pemerintah nomor 43 tahun 2014 Tentang Pelaksanaan UU No. 6 Tahun 2014 untuk

(18)

mengatur dan mengelola sumber daya manusia yang ditujukan untuk menjadi desa lebih mandiri dan dapat memberikan kesejahterahaan masyarakatnya. Perubahan regulasi ini juga menyebabkan perubahan struktur dan pola pemerintahan di level desa.

Defenisi Desa menurut UU. No. 6 Tahun 2014 adalah desa dan desa adat atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut Desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.4 Selanjutnya desa seperti yang disebutkan dalam Bab IV Kewenangan Desa daalam pasal 18 mempunyai tugas dan tanggung jawab di bidang Penyelenggara Pemerintahan Desa, Pelaksanaan Pembangunan Desa, Pembinaan Kemasyarakatan Desa, dan Pemberdayaan Masyarakat Desa berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal – usul dan adat istiadat Desa.5

kebijakan pemerintah pusat melalui UU Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa yang telah ditindak lanjuti melalui PP 47 Tahun 2015 Perubahan atas PP 43 Tahun 2014 Tentang Peraturan Pelaksanaanya merupakan kebijakan yang perlu mendapat apresiasi dari masyarakat terutama bagi masyarakat desa, karena dengan UU tersebut akan memperkuat otonomi desa-desa di Indonesia. dalam rangka meningkatkan kapasitas aparat pemerintah desa adalah menjadi kewajiban Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah untuk melakukan pemberdayaan kepada aparat pemerintah desa tersebut dalam berbagai aspek antara lain memberikan

4 Undang-undang No. 6 Tahun 2014 tentang Desa. Hal 2

5 Ibid Hal 12

(19)

pemahaman yang mendalam akan tugas dan fungsi Kepala Desa beserta segenap jajarannya yaitu perangkat-perangkat desa lainya.

Ketika diberlakukannya Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, adalah sebuah konsekwensi logis bagi pemerintah daerah untuk memberdayakan aparat pemerintah desa agar mereka lebih mampu menjalankan tugas dan fungsinya sebagai birokrasi terdepan dalam penyelenggaraan Pemerintahan Desa, pelaksanaan Pembangunan Desa, Pembinaan kemasyarakatan Desa dan pemberdayaan masyarakat Desa. Banyak hal yang perlu diberdayakan terhadap aparat pemerintah desa antara lain : bagaimana aparat pemerintah desa mampu membuat perencanaan pembangunan desanya. Bagaimana mereka membuat peraturan- peraturan desa, bagaimana mereka mengelola dana dan aset desanya, bagaimana mereka mengelola badan usaha milik desanya, dan yang paling penting lagi adalah bagaimana aparat pemerintah desa dapat mengelola keuangan desa yang teralokasi melalui APBD dan APBN yang rencananya akan diterima sebesar Rp. 800 juta - 1,4 Milyard perdesa.6

Oleh karena itu, secara teoritis para pemerhati desa di Indonesia antara lain Suwignyo mengemukakan bahwa agar penyelenggara pemerintah desa dapat menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik maka perlu dilakukan pemberdayaan Aparat Pemerintah Desa antara lain melalui : Bimbingan Latihan Kerja, yaitu pemberian bimbingan kepada aparat pemerintah desa agar dapat menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik, yang berhubungan dengan administrasi desa, bimbingan cara-cara pengisian registrasi desa, penyusunan

6Aparat Pemerintah Desa (17 Desember 2014) diakses dari Situs DPRD Kab. Sumbawa - www.dprd- sumbawakab.go.id diakes pada sabtu tgl 19 November 2016 Pukul 17:00 Wib.

(20)

apbdes, penyusunan perdes, pengelolaan keuangan desa yang akuntabel, dan lain- lain.7

Dalam mewujudkan Otonomi Desa maka Pemerintah Desa wajib Melaksanakan Kewenangan Desa yang mempunyai tugas dan tanggung jawab di bidang Penyelenggara Pemerintahan Desa, Pelaksanaan Pembangunan Desa, Pembinaan Kemasyarakatan Desa, dan Pemberdayaan Masyarakat Desa.

Selanjutnya, untuk mencapai Tugas dan Tanggung jawab Pemerintah desa dengan cara menghasilkan produk hukum yang menjadi landasan maupun pedoman dalam Penyelenggara Pemerintah Desa. Peraturan Desa dapat disebut sebagai kebijakan atau aturan yang menjadi landasan maupun pedoman dalam Pemyelenggara Pemerintahan Desa. Dalam UU No. 6 Tahun 2014 tentag Desa Menyebutkan Peraturan Desa adalah peraturan perundang - undangan yang ditetapkan oleh Kepala Desa setelah dibahas dan disepakati bersama Badan Permusyawaratan Desa.8

Peraturan desa dibentuk dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan desa, dengan demikian maka pemerintahan desa harus membuat Peraturan Desa yang merupakan penjabaran lebih lanjut dari peraturan perundang- undangan yang lebih tinggi dan tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum dan atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi serta harus memperhatikan kondisi sosial budaya masyarakat desa setempat dalam upaya mencapai tujuan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan masyarakat jangka panjang, menengah dan jangka pendek.

7 Ibid hal 4

8 Ibid hal 3

(21)

Pentingnya Peraturan Desa Dalam Penyelenggara Pemerintahan Desa dan masyarakat yaitu :

1. Sebagai pedoman kerja bagi semua pihak dalam penyelenggaraan kegiatan di desa

2. Terciptanya tatanan kehidupan yang serasi, selaras dan seimbang di desa 3. Memudahkan pencapaian tujuan

4. Sebagai acuan dalam rangka pengendalian dan pengawasan 5. Sebagai dasar .pengenaan sanksi atau hukuman

6. Mengurangi kemungkinan terjadinya penyimpangan atau kesalahan

Dalam Pembuatan Peraturan Desa Tertuang dalam Peraturan Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 111 Tahun 2014 Tentang Pedoman Teknis Peraturan di Desa Yaitu :9

1. Perencanaan 2. Penyusununan 3. Pembahasan 4. Penetapan 5. Pengundangan 6. Penyebarluasan

Selama ini permasalahan yang ditemui di beberapa desa di Indonesia seperti yang terjadi di Desa Bengkalis dimana peraturan desa yang dihasilkan oleh Pemerintah Desa (Kepala Desa dan perangkatnya) bersama BPD belum optimal. Sangat jarang ditemui desa mempunyai peraturan lebih dari satu. Hampir semua desa setiap tahunnya hanya menghasilkan satu peraturan yaitu

9Peraturan Dalam Negeri No. 111 Tahun 2014 tentang pedoman teknis peraturan desa (31 Desenber 2014) diakses dari www.kemendagri.go.id/dmdocumentsPermendagrino.11162014. pada sabtu tgl 19 November 2016 Pukul 17:00 Wib.

(22)

peraturan tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa. Peraturan Desa merupakan output dari kinerja lembaga Pemerintahan Desa. Penyebab dari kurang efektifnya lembaga pemerintahan desa dalam hal pembuatan peraturan desa perlu diketahui. Apakah hal ini ditenggarai karena kurangnya kualitas sumber daya manusia, latar belakang pendidikan ataupun kurangnya bimbingan dari Pemerintah Kabupaten termasuk masih minimnya insentif yang diberikan untuk aparat Pemerintahan Desa.10

Sejalan dengan hasil penelitian dari Feisha Paramitha Gara membuktian masalah yang terjadi di desa dalam Proses Pembentukan dan penetapan Peraturan Desa ditinjau dari empat hal yaitu :11

1. Sumber Daya

Manusia Salah satu kendala dalam pemerintah desa dalam pembentukan Peraturan Desa yaitu sumber daya manusia yang rendah, sehingga tidak bisa bertahan lama dalam menjalankan program-program ketika ada hambatan. Pemerintah Desa dan BPD selalu membicarakan segala program atau kepentingan desa untuk sampai kepada pembuatan peratran desa, namun untuk sejauh ini belum dilaksanakan dengan baik.

2. Dana

Sumber dana untuk pembuatan peraturan desa ini belum begitu baik untuk mencukupi segala yang diperlukan

10 Muhammad, Fadhil. Efektifitas Pemerintahan Desa Dalam Pembuatan Peraturan Desa di Kecamatan Bengkalis Kabupaten Bengkalis Provinsi Riau. 2o11. Di akses dari

www.bengkaliskab.go.id/downlot.php?file=KTI_Efektifitas_%20BPD.pdf pada Senin Tgl 21 November 2016 Pukul 19:00 wib.

11Paramitha Feisha, Gara. Efektifitas Fungsi Pemerintahan DEsa Dalam Pembuatan Peraturan di Desa Wori (Studi Kasus di Desa Wori Kecamatan Wori Kabupaten Minahsa Utara). 2015. Di akses dari (Ejurnal Unsrat) pada Senin tgl 21 November 2016 pukul 20:00 Wib.

(23)

3. Sarana-Prasarana

Sarana prasarana berupa peralatan pendukung pembuatan peraturan desa yakni tempat musyawarah, fasilitas penunjang berupa meja, kursi, papan tulis, alat tulis menulis, dan lain sebagainya dapat dikatakan telah disediakan selama perencanaan dan pembuatan peraturan desa. Kendalanya penyiapan sarana dan prasarana tersebut sering terlambat, pada saat pelaksanaan musyawarah kesemuanya belum disiapkan, jadi memaanfaatkan peralatan apa adanya.

4. Waktu

Pembuatan peraturan desa seperti yang direncanakan belum terselenggarakan atau terwujud seperti yang ditargetkan.

Peraturan desa yang dihasilkan tidak memenuhi target peraturan desa yang direncanakan, waktu yang dipakai untuk meghasilkan peraturan desa telah memakan waktu yang lama, nanti beberapa tahun menghasilkan beberapa perdes saja.

Dari hasil pra penelitan yang dilakukan oleh peneliti di Desa Bandar Khalipah, peneliti menemukan masalah yang dialami pemerintahan desa Bandar Khalipah yaitu kurang optimalnya pemerintahan desa dalam membuat peraturan desa. Hal ini dapat dilihat dari Peraturan Desa yang dihasilkan Pemerintah Desa Bandar khalipah Sejak Tahun 2014 - 2016 sebagai Berikut :

1. Peraturan Desa Bandar Khalipah Nomor 01 Tahun 2014 Tentang Anggaran Pendapatan Dan Belanja Desa.

(24)

2. Peraturan Desa Bandar Khalipah Nomor 01 Tahun 2015 Tentang Anggaran Pendapatan Dan Belanja Desa.

3. Peraturan Desa Bandar Khalipah Nomor 02 tahun 2015 Tentang Kampoeng Hijau Dan Deli Serdang Berseri.

4. Peraturan Desa Bandar Khalipah Nomor 01 tahun 2016 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa Tahun 2016 - 2021.

5. Peraturan Desa Bandar Khalipah Nomor 02 tahun 2016 Tentang Rencana Kerja Pembangunan Desa.

6. Peraturan Desa Bandar Khalipah Nomor 03 Tahun 2016 Tentang Anggaran Pendapatan Dan Belanja Desa.

Data ini didapatkan dari hasil diskusi, peneliti dengan Sekretaris Desa Bandar Khalipah. Kedaan ini membuktikan bahwa Pemerintah desa belum berdaya dalam menyusun pembuatan Peraturan Desa. Seharusnya pemerintah desa dapat menghasilkan peraturan desa mengenai BUMDES, Kerja sama antar Desa dan lain – lain. Namun Peraturan desa yang dihasilkan hanya pokok – pokoknya saja, tanpa dibarengi peraturan desa yang bertujuan untuk kemandirian desa sesuai undang – undang no. 6 tahun 2014. Berdasarkan masalah ini peneliti tertarik untuk melakukan penelitian di Desa Bandar Khalipah, Kec. Percut sei Tuan, kab. Deli serdang.

Dalam hal ini peneliti melihat bahwa pemerintah desa Bandar Khalipah tidak berdaya untuk membuat peraturan desa. Hal ini dapat dilihat juga dari kondisi pemerintah desa yang terkesan tidak efektif dalam menjalankan tugas dan fungsinya, Perangkat Desa yang tidak Paham dalam membuat Peraturan Desa, Sumber daya manusia dalam perangkat desa yang tidak memadai, partisipasi

(25)

masyarakat yang minim, tidak berfungsinya Pendamping Desa dalam membuat Peraturan Desa, menjadi faktor penghambat pemerintah desa dalam membuat peraturan desa di desa Bandar khalipah. Dengan keadaan tersebut maka pemerintah desa harus diberdayakan oleh pemerintah tingkat atas. Khususnya dalam membuat peraturan desa sebagai landasan hukum. Apabila hal ini terus jadi maka desa tidak dapat mandiri dalam menjalankan urusan rumah tangganya.

Maka dampak dari tidak adanya peraturan desa, desa akan tertinggal terus – menerus.

Dengan Kondisi Pemerintahan Desa Bandar Khalipah yang belum menjalankan Good local Governance, maka dari itu Pemerintah Desa harus diberdayakan oleh pemerintah kabupaten maupun pemerintah kecamatan. Sebagai Pemerintahan terendah, pemerintahan desa harus mendapat pemberdayaan / pembinaan dari pemerintah tingkat atasnya terutama dalam menjalankan pemerintahannya sendiri ( Otonomi Desa ). Pendapat ini mengacu kepada PP No.

43 Tahun 2014 Tentang Peraturan Pelaksanaan Undang – Undang No. 6 Tahun 2014 yang Menyebutkan pemerintah kecamatan melakukan pembinaan terhadap pemerintah desa. Selanjutnya, pada Bab XI, Pembinaan dan Pengawasan Desa Oleh Camat atau Sebutan lainnya tertuang di pasal 154. Pertama, Camat atau sebutan lain melakukan tugas pembinaan dan pengawasan Desa. Dengan peraturan pemerintah di atas, adalah menjadi tugas dan tanggung jawab pemerintah kecamatan untuk melakukan fasilitasi dan pembinaan dalam bentuk sosisaliasi terhadap pemerintah desa mengenai pelaksanaan penyelenggaran otonomi desa yang salah satu terpenting adalah dalam pembuatan peraturan desa.

(26)

Pentingnya masalah yang akan diteliti bahwa kepala desa Bandar Khalipah dalam masa jabatan 6 tahun untuk Mewujudkan Kewenangan Desa seharusnya dapat Menjalankan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa, dengan melakukan pembangunan desa kearah yang lebih baik. Dalam Penyelenggaraan pemerintah desa sesuai UU No. 6 tahun 2014 bahwa seperti membuat RPJMDES, RKPDES, APBDES, BUMDES, kerjasama antar desa dan lainnya harus memiliki peraturan desa. Dikarenakan Peraturan desa sebagai landasan hukum dalam menjalankan setiap kegiatan yang ada di pemerintahan desa. Maka dapat disimpulkan peraturan desa menjadi hal yang paling mendasar dalam menjalankan pemerintahan desa sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Namun penyebab dari kurang efektifnya lembaga pemerintahan desa dalam hal pembuatan peraturan desa perlu diketahui secara mendalam. Apakah hal ini ditenggarai karena kurangnya kualitas sumber daya manusia, latar belakang pendidikan ataupun kurangnya bimbingan dari Pemerintah Kecamatan. Beberapa hal ini lah yang menjadi permasalahan yang harus dicarikan solusinya.

Sukses tidaknya pemerintahan desa sangat tergantung dengan administrasi desa. Administrasi desa dapat berjalan dengan baik apabila kualitas manusia sebagai sumber daya manusia dapat melaksanakan dengan sebaik mungkin artinya administrasi desa sangat menentukan kedudukan pemerintahan desa. Administrasi desa merupakan tolok ukur keberhasilan pemerintahan desa karena merupakan fondasi dalam memperkuat dan mengembangkan pemerintahan desa. Jadi administrasi desa merupakan prioritas utama yang harus mendapat perhatian serius oleh pemerintah khususnya pemerintah kecamatan.

(27)

Pembentukan peraturan hukum seperti Peraturan Desa yang demokratis hanya akan terjadi apabila didukung oleh pemerintahan desa yang baik, dan sebaliknya pemerintahan yang baik akan diperkuat dengan peraturan hukum yang demokratis. Dengan demikian, terdapat hubungan timbal balik dan saling menunjang antara pemerintahan yang baik dengan peraturan hukum yang demokratis.12

penelitian ini diarahkan atau difokuskan pada Pembahasan mengapa pemerintah Desa di desa Bandar Khalipah tidak berdaya dalam membuat peraturan desa, faktor apa saja yang mempengaruhi pemerintah desa di desa Bandar Khalipah tidak mampu membuat peraturan desa dan bagaimana proses pembuatan peraturan desa di desa Bandar Khalipah kec. Percut Sei Tuan, sesuai amanat Undang – undang No.6 Tahun 2014 Tentang Desa.

1.2.Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas dan permasalahan yang telah dipaparkan, maka permasalahan penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut : Mengapa Pemerintah Desa tidak mampu membuat Peraturan Desa pada setiap kegiatan pemerintahan desa di Desa Bandar Khalipah kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang, sesuai dengan Undang – undang No.6 Tahun 2014 tentang Desa ?

12Marjoko | Iswan Saputra | Hawari Hasibuan. Pemerintahan Desa yang baik, Bitra Indonesia:Medan, 2013.

Hal. 14.

(28)

1.3. Pembatasan Masalah

Pembatasan masalah merupakan salah satu upaya untuk menetapkan fokus pembahasan dalam sebuah penelitian yang bertujuan agar pembahasan tidak melebar dan keluar dari fokus masalah yang diteliti. Pembahasan yang dilakukan terhadap ruang lingkup penelitian berupa lokasi, rentang waktu yang ingin diteliti, dan penggunaan konsep dalam penelitian ini, maka batasan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Penelitian ini dibatasi hanya pada wilayah Desa Bandar Khalipah Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli serdang.

2. Rentang waktu yang akan diteliti adalah kegiatan pemberdayaan Pemerintahan desa dalam pembuatan Peraturan Desa di Desa Bandar Khalipah Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang dari tahun 2014 – 2016.

3. Pembatasan juga dilakukan terhadap konsep yang diteliti yakni terbatas hanya kepada konsep Pemberdayaan Pemerintahan Desa dalam Perskpektif Undang – Undang No. 6 tahun 2014 tentang Pembuatan Peraturan Desa yang dilakukan oleh Pemerintahan Desa Bandar Khalipah Kabupaten Deli serdang.

1.4. Tujuan Penelitian

Adapun yang menjadi tujuan dalam penelitian yang dilakukan oleh peneliti, tentang Pemberdayaan Pemerintahan Desa Dalam Perspektif Undang – Undang No. 6 tahun 2014, Studi Kasus : Tentang Penyusunan Peraturan Desa di

(29)

Desa Bandar Khalipah Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang adalah :

1. Ingin mengetahui faktor faktor apa saja yang membuat pemerintahan desa tidak berdaya dalam membuat Peraturan desa.

2. Ingin menganalisis mengapa faktor tersebut berpengaruh dalam membuat peraturan desa.

3. Ingin mengetahui usaha – usaha apa saja yang dilakukan pemerintah tingkat atas dalam memberdayakan pemerintah desa untuk membuat peraturan desa.

1.5. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain:

1. Bagi akademis, penelitian ini diharapkan mampu menambah khasanah pengetahuan di Departemen Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara tentang Pemberdayaan Pemerintahan Desa dalam Perspektif UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa, studi kasus tentang pembuatan peraturan desa di Desa Bandar Khalipah kecamatan Percut Sei Tuan.

2. Bagi institusi, hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi atau sumbangan bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya dalam hal yang berkaitan dengan Pemberdayaan Pemerintahan Desa dalam Perspektif UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa, studi kasus tentang pembuatan peraturan desa di Desa Bandar Khalipah kecamatan Percut Sei Tuan.

(30)

3. Bagi masyarakat, penelitian ini merupakan kajian ilmu politik yang diharapkan mampu memberikan kontribusi dalam Proses Pembuatan Peraturan Desa di desa Bandar Khalipah Kec. Percut Sei Tuan serta menjadi solusi atas permasalahan ini.

1.6. Kerangka Teori

Teori adalah serangkaian asumsi, konsep, kontruksi, definisi untuk menerangkan suatu fenomena sosial secara sistematis dengan cara merumuskan hubungan antara konsep13. Sebagaimana telah dipaparkan pada landasan pemikiran di atas yang kemudian melahirkan rumusan masalah sebagai upaya menganalisis secara kritis tentang penyusunan Peraturan Desa di desa Bandar Khalipah serta dampaknya terhadap kemandirian pemerintahan desa baik secara ekonomi, sosial maupun politik. Kemudian dibutuhkan teori analisis untuk membedah masalah dan mencari asumsi pokok yang mendasar suatu penelitian atau jawaban dan pemecahan untuk masalah dibutuhkan sebuah teori.

1.6.1. Good Governance

Menurut Kooiman dalam Mindarti,Governance merupakan serangkaian proses interaksi sosial politik antara pemerintah dengan warga masyarakat dalam berbagai bidang yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat dan intervensi pemerintahan atas kepentingan – kepentingan Masyarakat tersebut.Lebih lanjut lagi Sammy Finer dalam Mindarti mendefiniskan Governance sebagai :14

a. Aktivitas atau proses memerintah.

13Masri Singarimbun dan Sofyan Effendi. metode penelitian survey, LP3ES: Jakarta, 1995. hal 37.

14 Lely Indah, Mindarti. Revolusi Administrasi Publik, Aneka Pendekatan danteori Dasar, Bayumedia publishing: Malang. 2007. Hal 177.

(31)

b. Sesuatu kondisi dari aturan yang diajalankan.

c. Orang-orang diberi tugas memerintah atau pemerintah.

d. Cara, metode atau sistem dimana masyarakat tertentu diperintah.

Dengan demikian dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa Governance merupakan suatu usaha, cara atau metode yang dilakukan untuk menjalankan pemerintah. Governance dalam praktiknya yang terbaik dapat disebut dengan Good Governance mengandung dua makna seperti yang diungkapkan Mindarti di bawah ini :15

Pertama mengandung makna orientasi ideal Negara yang diarahkan pada pencapaian tujuan Negara. Berorientasikan pada nilai-nilai yang menjunjung tinggi kehendak rakyat dan nilai-nilai yang dapat meningkatkan kemampuan rakyat dalam mencapai kemandirian, Pembangunan Berkelanjutan, Keadilan social, demokratisasi dalam kehidupan bernegara seperti Legitimasi, akuntabilitas, perlindungan HAM, otonomi, dan devolusi kekuasaan, pemberdayaan masyakat sipil, dan sebagainya.

Kedua mengandung makna tentang aspek-aspek fungsional pemerintahan yang efektif, danefesien dalam upaya pencapaian tujuan nasional, hal ini akan sangat tergantung kepada sejauh mana pemerintahan mempuyai kompetensi serta sejauh mana struktur dan mekanisme politik dan administrasi mampu berfungsi secara efektif dan efesien.

15.Ibid hal. 182.

(32)

1.6.2. Kebijakan Publik

Menurut Chander dan Plano kebijakan publik adalah pemanfaatan yang strategis terhadap sumber daya – sumber daya yang ada untuk memecahkan masalah-masalah publik atau pemerintah. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kebijakan diartikan sebagai rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan. Dalam kenyataannya kebijakan tersebut telah banyak membantu para pelaksana pada tingkat birokrasi pemerintah maupun para politisi untuk memecahkan masalah-masalah publik.

Selanjutnya dikatakan bahwa kebijakan publik merupakan suatu bentuk intervensi yang dilakukan secara terus menerus oleh pemerintah demi kepentingan kelompok yang kurang beruntung dalam masyarakat agar mereka dapat hidup, dan ikut berpartisipasi dalam pembangunan secara luas.16

Sedangkan menurut Woll kebijakan publik adalah sejumlah aktivitas pemerintah untuk memecahkan masalah di masyarakat, baik secara langsung maupun melalui lembaga yang mempengaruhi kehidupan masyarakat.

pelaksanaan kebijakan publik terdapat tiga tingkat pengaruh sebagai implikasi dari tindakan – tindakan pemerintah yaitu:17

a) Adanya pilihan kebijakan atau keputusan yang dibuat oleh politisi, pegawai pemerintah atau yang lainnya yang bertujuan menggunakan kekuatan publik untuk mempengaruhi kehidupan masyarakat.

b) Adanya output kebijakan, dimana kebijakan yang diterapkan pada level ini menuntut pemerintah untuk melakukan pengaturan, penganggaran,

16 Hesel Nogi Tangkilisan. Implementasi Kebijakan Publik. Offset YPAPI: Yogyakarta. 2003. hal. 3.

17 Said ZainalAbidin. Kebijakan Publik. Salemba Humanika: Jakarta. 2006. hal 2.

(33)

pembentukan personil dan membuat regulasi dalam bentuk program yang akan mempengaruhi kehidupan masyarakat.

c) Adanya dampak kebijakan yang merupakan efek pilihan kebijakan yang mempengaruhi kehidupan masyarakat.

Proses pembuatan kebijakan merupakan proses yang kompleks karena melibatkan banyak proses maupun variabel yang harus dikaji. Oleh karena itu beberapa ahli politik yang menaruh minat untuk mengkaji kebijakan publik membagi proses-proses penyusunan kebijakan publik kedalam beberapa tahap.

Tujuan pembagian seperti ini adalah untuk memudahkan kita dalam mengkaji kebijakan publik

Berdasarkan beberapa literatur yang dibaca adapun tahap-tahap kebijakan publik adalah :

Gambar 1

Tahapan Proses Pembuatan Kebijakan Publik

Sumber : Said Zainal Abidin. 2006. Kebijakan Publik.

Penyusunan Agenda

Formulasi Kebijakan

Pembuatan Kebijakan

Implementasi Kebijakan

Evaluasi Kebijakan

(34)

Proses pembuatan suatu kebijakan diawali dengan penyusunan agenda yang menempatkan berbagai masalah ke dalam sebuah agenda kebijakan yang selanjutnya akan dibahas oleh para pembuat kebijakan untuk menghasilkan alternatif pemecahan masalah yang akan dibahas pada tahap formulasi kebijakan.

Setelah memperoleh alternatif terbaik, maka alternatif tersebut dirumuskan ke dalam bentuk kebijakan yang selanjutnya akan diimplementasikan oleh para pelaksana kebijakan18. Kebijakan yang telah dilaksanakan tersebut selanjutnya akan dievaluasi untuk melihat sejauh mana kebijakan yang dibuat telah mampu memecahkan masalah.19

1.7. Definisi dan Konsep 1.7.1. Pemberdayaan

Secara etimologis pemberdayaan berasal dari kata dasar “daya” yang berarti kekuatan atau kemampuan. Bertolak dari pengertian tersebut maka pemberdayaan dapat dimaknai sebagai suatu proses menuju berdaya, atau proses untuk memperoleh daya/ kekuatan/ kemampuan, dan atau proses pemberian daya/ kekuatan/ kemampuan dari pihak yang memiliki daya kepada pihak yang kurang atau belum berdaya.20

Pemberdayaan memiliki banyak pengertian yang antara lain menurut Friedman sebagaimana dikutip oleh Suprapto yaitu pemberdayaan tidak hanya sebatas kekuatan ekonomi namun dapat pula aspek politis karena ia merupakan

18 Subarsono. Analisis Kebijakan Publik, Konsep Teori, dan Aplikasi. Pustaka Pelajar: Yogyakarta. 2005. hal.

11.

19 Leo Agustino. Dasar – Dasar Kebijakan Publik. Alfabeta: Bandung. 2008. hal. 13.

20WJS Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia 1985.

(35)

hasil interaksi antara konsep “ top down – bottom up” antara growth strategi dengan people centered development.21

Dalam konsep pemberdayaan menampakkan dua kencenderungan sebagaimana menurut Sedarmayanti, yaitu :22

a. Pemberdayaan menekankan kepada proses memberikan atau mengalihkan sebagaian kekuasaan, kekuatan, atau kemampuan, kepada masyarakat, organiasi, atau individu agar menjadi lebih berdaya. Proses ini sering disebut sebagai kencenderungan primer dari makna pemberdayaan.

b. Menekankan pada proses menstimulasi, mondorong, dan memotivasi individu agar mempunyai kemampuan atau keberdayaan untuk menentukan apa yang menjadi pilihan hidupnya. Proses ini sering disebut sebagai kencenderungan sekunder dari makna pemeberdayaan.

1.7.2. Otonomi Daerah dan Otonomi Desa

Otonomi daerah adalah perwujudan dari pelaksanaan urusan pemerintah berdasarkan asas desentralisasi yakni penyerahan urusan pemerintah kepada daerah untuk mengurus rumah tangganya. Menurut UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Pasal 1 ayat 5 “Otonomi daerah adalah hak wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundangundangan.”23

21Suprapto. Pemberdayaan Masyarakat Desa. Pustaka: Jakarta. 2008. Hal 78.

22Sedarmayanti. Restrukturisasi dan Pemberdayaan Organiasi untuk menghadapi Dinamika Perubahan Lingkungan. Mandar maju: Bandung. 2000. Hal 75.

23 Undang – Undang Nomor 32 tahun 2004 hal 4.

(36)

Widjaja menyatakan bahwa otonomi desa merupakan otonomi asli, bulat, dan utuh serta bukan merupakan pemberian dari pemerintah.

Sebaliknya pemerintah berkewajiban menghormati otonomi asli yang dimiliki oleh desa tersebut. Sebagai kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai susunan asli berdasarkan hak istimewa, desa dapat melakukan perbuatan hukum baik hukum publik maupun hukum perdata, memiliki kekayaan, harta benda serta dapat dituntut dan menuntut di muka pengadilan. Dengan dimulai dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang kemudian disempurnakan dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang diperbaruhi dengan Undang – undang 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah memberikan landasan kuat bagi desa dalam mewujudkan “Development Community” dimana desa tidak lagi sebagai level administrasi atau bawahan daerah tetapi sebaliknya sebagai

“Independent Community” yaitu desa dan masyarakatnya berhak berbicara atas kepentingan masyarakat sendiri. Desa diberi kewenangan untuk mengatur desanya secara mandiri termasuk bidang sosial, politik dan ekonomi. Dengan adanya kemandirian ini diharapkan akan dapat meningkatkan partisipasi masyarakat desa dalam pembangunan sosial dan politik.24

Bagi desa, otonomi yang dimiliki berbeda dengan otonomi yang dimiliki oleh daerah provinsi maupun daerah kabupaten dan daerah kota. Otonomi yang dimiliki oleh desa adalah berdasarkan asal-usul dan adat istiadatnya, bukan berdasarkan penyerahan wewenang dari Pemerintah. Desa atau nama lainnya, yang selanjutnya disebut desa adalah kesatuan masyarakat hukum

24 Prof.drs. HAW. Widjaja. Otonomi Desa ( merupakan otnomi yang asli, bulat dan utuh ), rajagrafindo persada: Jakarta. 2003. Hal 165.

(37)

yang memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal-usul dan adat-istiadat setempat yang diakui dalam sistem Pemerintahan Nasional dan berada di Daerah Kabupaten.

Landasan pemikiran yang perlu dikembangkan saat ini adalah keanekaragaman, partisipasi, otonomi asli, demokrasi, dan pemberdayaan masyarakat.

1.7.3. Desa

Desa secara etimologi berasal dari bahasa Sansakerta, desa yang berarti tanah air, tanah asal, atau tanah kelahiran. Desa adalah sebagai kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai susunan asli berdasarkan hak asal - usul yang bersifat istimewa. Landasan pemikiran dalam mengenai Pemerintahan Desa adalah keanekaragaman, partisipasi, otonomi asli, demokratisasi dan pemberdayaan masyarakat.25

Definisi Menurut UU RI No. 6 Tahun 2014 Tentang Desa, Desa adalah desa dan desa adat atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut Desa, adalah kesatuan masyarakat Hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisinonal yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.26

25 Ibid hal 2.

26 Undang – undang No. 6 Tahun 2014 tentang Desa hal 2.

(38)

1.7.4. Pemerintahan Desa

Pemerintahan Desa adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Penyelenggaraan Pemerintahan Desa, pelaksanaan Pembangunan Desa, pembinaan kemasyarakatan Desa, dan pemberdayaan masyarakat Desa berdasarkan Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Pengaturan Desa berasaskan rekognisi ,subsidiaritas, keberagaman, kebersamaan, kegotongroyongan, kekeluargaan, musyawarah, demokrasi, kemandirian, partisipasi, kesetaraan, pemberdayaan dan keberlanjutan.

Di dalam Pasal 4 Undang – undang no 6 Tahun 2014 bahwa Pengaturan Desa bertujuan:27

a) memberikan pengakuan dan penghormatan atas Desa yang sudah ada dengan keberagamannya sebelum dan sesudah terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

b) memberikan kejelasan status dan kepastian hukum atas Desa dalam sistem ketatanegaraan Republik Indonesia demi mewujudkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

c) melestarikan dan memajukan adat, tradisi, dan budaya masyarakat Desa.

d) mendorong prakarsa, gerakan, dan partisipasi masyarakat Desa untuk pengembangan potensi dan Aset Desa guna kesejahteraan bersama.

27Ibid hal 5.

(39)

e) membentuk Pemerintahan Desa yang profesional, efisien dan efektif, terbuka, serta bertanggung jawab.

f) meningkatkan pelayanan publik bagi warga masyarakat Desa guna mempercepat perwujudan kesejahteraan umum.

g) meningkatkan ketahanan sosial budaya masyarakat Desa guna mewujudkan masyarakat Desa yang mampu memelihara kesatuan sosial sebagai bagian dari ketahanan nasional.

h) memajukan perekonomian masyarakat Desa serta mengatasi kesenjangan pembangunan nasional dan memperkuat masyarakat Desa sebagai subjek pembangunan.

1.7.5. Pemerintah Desa

Pemerintah Desa adalah Kepala Desa atau yang disebut dengan nama lain dibantu perangkat Desa sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Desa.

Bagian Kesatu UU No. 6 tahun 2014 Pasal 25 menyatakan bahwa Pemerintah Desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 diatas adalah Kepala Desa atau yang disebut dengan nama lain dan yang dibantu oleh perangkat Desa atau yang disebut dengan nama lain. Sedangkan padaBagian KeduaPasal 26 menyebutkan bahwa :28

1. Kepala Desa bertugas menyelenggarakan Pemerintahan Desa, melaksanakan Pembangunan Desa, pembinaan kemasyarakatan Desa, dan pemberdayaan masyarakat Desa.

28Ibid hal 14.

(40)

2. Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Kepala Desa berwenang:

a) memimpin penyelenggaraan Pemerintahan Desa dan mengangkat dan memberhentikan perangkat Desa.

b) memegang kekuasaan pengelolaan Keuangan dan Aset Desa dan menetapkan Peraturan Desa.

c) menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa dan membina kehidupan masyarakat Desa.

d) membina ketenteraman dan ketertiban masyarakat Desa dan meningkatkan perekonomian Desa serta mengintegrasikannya agar mencapai perekonomian skala produktif untuk sebesar-besarnya kemakmuran masyarakat Desa.

e) mengembangkan sumber pendapatan Desa dan mengusulkan dan menerima pelimpahan sebagian kekayaan negara guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa.

f) mengembangkan kehidupan sosial budaya masyarakat Desa dan memanfaatkan teknologi tepat guna, mengoordinasikan Pembangunan Desa secara partisipatif.

g) mewakili Desa di dalam dan di luar pengadilan atau menunjuk kuasa hokum untuk mewakilinya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan dan melaksanakan wewenang lain yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

3. Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Kepala Desa berhak:

(41)

a) mengusulkan struktur organisasi dan tata kerja Pemerintah Desa dan mengajukan rancangan dan menetapkan Peraturan Desa.

b) menerima penghasilan tetap setiap bulan, tunjangan, dan penerimaan lainnya yang sah, serta mendapat jaminan kesehatan.

c) mendapatkan pelindungan hukum atas kebijakan yang dilaksanakan;

dan memberikan mandat pelaksanaan tugas dan kewajiban lainnya kepada perangkat Desa.

1.7.6. Peraturan Desa

Peraturan Desa adalah peraturan perundang - undangan yang ditetapkan oleh Kepala Desa setelah dibahas dan disepakati bersama Badan Permusyawaratan Desa.

Peraturan Desa ditetapkan oleh Kepala Desa setelah dibahas dan disepakati bersama Badan Permusyawaratan Desa merupakan kerangka hukum dan kebijakan dalam penyelenggaraan Pemerintahan Desa dan Pembangunan Desa. Penetapan Peraturan Desa merupakan penjabaran atas berbagai kewenangan yang dimiliki Desa mengacu pada ketentuan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Sebagai sebuah produk hukum, Peraturan Desa tidak boleh bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi dan tidak boleh merugikan kepentingan umum, yaitu:

a) terganggunya kerukunan antar warga masyarakat.

b) terganggunya akses terhadap pelayanan publik.

c) terganggunya ketenteraman dan ketertiban umum.

(42)

d) terganggunya kegiatan ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa dan diskriminasi terhadap suku, agama dan kepercayaan, ras, antargolongan, serta gender. Sebagai sebuah produk politik, Peraturan Desa diproses secara demokratis dan partisipatif, yakni proses penyusunannya mengikutsertakan partisipasi masyarakat Desa.

Masyarakat Desa mempunyai hak untuk mengusulkan atau memberikan masukan kepada Kepala Desa dan Badan Permusyawaratan Desa dalam proses penyusunan Peraturan Desa. Peraturan Desa yang mengatur kewenangan Desa berdasarkan hak asal usul dan kewenangan berskala lokal Desa pelaksanaannya diawasi oleh masyarakat Desa dan Badan Permusyawaratan Desa. Hal itu dimaksudkan agar pelaksanaan Peraturan Desa senantiasa dapat diawasi secara berkelanjutan oleh warga masyarakat Desa setempat mengingat Peraturan Desa ditetapkan untuk kepentingan masyarakat Desa.

Apabila terjadi pelanggaran terhadap pelaksanaan Peraturan Desa yang telah ditetapkan, Badan Permusyawaratan Desa berkewajiban mengingatkan dan menindaklanjuti pelanggaran dimaksud sesuai dengan kewenangan yang dimiliki. Itulah salah satu fungsi pengawasan yang dimiliki oleh Badan Permusyawaratan Desa. Selain Badan Permusyawaratan Desa, masyarakat Desa juga mempunyai hak untuk melakukan pengawasan dan evaluasi secara partisipatif terhadap pelaksanaan Peraturan Desa.

(43)

Jenis peraturan yang ada di Desa, selain Peraturan Desa adalah Peraturan Kepala Desa dan Peraturan Bersama Kepala Desa. Pada pasal 70 dijelaskan mengenai peraturan bersama kepela desa :29

1. Peraturan bersama Kepala Desa merupakan peraturan yang ditetapkan oleh KepalaDesa dari 2 (dua) Desa atau lebih yang melakukan kerja sama antar-Desa.

2. Peraturan bersama Kepala Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan perpaduan kepentingan Desa masing-masing dalam kerja sama antar-Desa.

1.7.7. Peyusunan Peraturan Desa

Dalam Penyusunan Peraturan Desa Tertuang dalam Peraturan Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 111 Tahun 2014 Tentang Pedoman Teknis Peraturan di Desa Yaitu :30

1. Dalam bagian kesatu pada perencanaan dipasal 5 tertulis Pertama, Perencanaan penyusunan rancangan Peraturan Desa ditetapkan oleh Kepala Desa dan BPD dalam rencana kerja Pemerintah Desa. Dan Lembaga kemasyarakatan. Kedua, lembaga adat dan lembaga desa lainnya di desa dapat memberikan masukan kepada Pemerintah Desa dan atau BPD untuk rencana penyusunan rancangan Peraturan Desa.

2. Dalam bagian kedua pada penyusununan di paragraph satu, Penyusunan Peraturan Desa oleh Kepala Desa di pasal 6 Tertulis. Pertama,

29Ibid hal 39.

30Peraturan Dalam Negeri No. 111 Tahun 2014 tentang pedoman teknis peraturan desa (31 Desenber 2014) diakses dari www.kemendagri.go.id/dmdocumentsPermendagrino.11162014. pada sabtu tgl 19 November 2016 Pukul 17:00 Wib.

(44)

Penyusunan rancangan Peraturan Desa diprakarsai oleh Pemerintah Desa.

Kedua, Rancangan Peraturan Desa yang telah disusun, wajib dikonsultasikan kepada masyarakat desa dan dapat dikonsultasikan kepada camat untuk mendapatkan masukan. Ketiga, Rancangan Peraturan Desa yang dikonsultasikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diutamakan kepada masyarakat atau kelompok masyarakat yang terkait langsung dengan substansi materi pengaturan. Keempat, Masukan dari masyarakat desa dan camat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) digunakan Pemerintah Desa untuk tindak lanjut proses penyusunan rancangan Peraturan Desa. Kelima, Rancangan Peraturan Desa yang telah dikonsultasikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) disampaikan Kepala Desa kepada BPD untuk dibahas dan disepakati bersama.

Dalam Paragraf kedua pada Penyusunan Peraturan Desa oleh BPD dipasal tujuh tertulis. Pertama, BPD dapat menyusun dan mengusulkan rancangan Peraturan Desa. Kedua, Rancangan Peraturan Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kecuali untuk rancangan Peraturan Desa tentang rencana pembangunan jangka menengah Desa, rancangan Peraturan Desa tentang rencana kerja Pemerintah Desa, rancangan Peraturan Desa tentang APB Desa dan rancangan Peraturan Desa tentang laporan pertanggungjawaban realisasi pelaksanaan APB Desa. Ketiga, Rancangan Peraturan Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diusulkan oleh anggota BPD kepada pimpinan BPD untuk ditetapkan sebagai rancangan Peraturan Desa usulan BPD.

3. Dalam bagian ketiga pada pembahasan dipasal delapan Tertulis. Pertama,

(45)

BPD mengundang Kepala Desa untuk membahas dan menyepakati rancangan Peraturan Desa. Kedua, Dalam hal terdapat rancangan Peraturan Desa prakarsa Pemerintah Desa dan usulan BPD mengenai hal yang sama untuk dibahas dalam waktu pembahasan yang sama, maka didahulukan rancangan Peraturan Desa usulan BPD sedangkan Rancangan Peraturan Desa usulan Kepala Desa digunakan sebagai bahan untuk dipersandingkan. Dalam pasal sembilan tertulis. Pertama, Rancangan Peraturan Desa yang belum dibahas dapat ditarik kembali oleh pengusul.

Kedua, Rancangan Peraturan Desa yang telah dibahas tidak dapat ditarik kembali kecuali atas kesepakatan bersama antara Pemerintah Desa dan BPD. Dalam Pasal sepeluh tertulis. Pertama, Rancangan peraturan Desa yang telah disepakati bersama disampaikan oleh pimpinan Badan Permusyawaratan Desa kepada kepala Desa untuk ditetapkan menjadi peraturan Desa paling lambat 7 (tujuh) Hari terhitung sejak tanggal kesepakatan. Kedua, Rancangan peraturan Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib ditetapkan oleh kepala Desa dengan membubuhkan tanda tangan paling lambat 15 (lima belas) Hari terhitung sejak diterimanya rancangan peraturan Desa dari pimpinan Badan Permusyawaratan Desa.

4. Dalam bagian keempat pada penetapan dipasal sebelas tertulis. Pertama, Rancangan Peraturan Desa yang telah dibubuhi tanda tangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Sekretaris Desa untuk diundangkan. Kedua, Dalam hal Kepala Desa tidak menandatangani Rancangan Peraturan Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1),

(46)

Rancangan Peraturan Desa tersebut wajib diundangkan dalam Lembaran Desa dan sah menjadi Peraturan Desa.

5. Dalam bagian kelima pada Pengundangan dipasal dua belas tertulis.

Pertama, Sekretaris Desa mengundangkan peraturan desa dalam lembaran desa. Kedua, Peraturan Desa dinyatakan mulai berlaku dan mempunyai kekuatan hukum yang mengikat sejak diundangkan.

6. Dalam bagian keenam pada penyebarluasan dipasal tiga belas tertulis.

Pertama, Penyebarluasan dilakukan oleh Pemerintah Desa dan BPD sejak penetapan rencana penyusunan rancangan Peraturan Desa, penyusunan Rancangan Peratuan Desa, pembahasan Rancangan Peraturan Desa, hingga Pengundangan Peraturan Desa. Kedua, Penyebarluasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk memberikan informasi dan/atau memperoleh masukan masyarakat dan para pemangku kepentingan.

1.8. Studi Terdahulu

Penelitian ini Pada dasarnya tidak bisa dilepaskan dari penelitian – penelitian terdahulu yang pernah dilakukan.Penelitian terdahulu menjadi rujukan dan pembanding dalam penelitian ini. Ada beberapa penelitian terdahulu yang dijadikan acuan dalam penelitian ini. Penelitian tersebut di antaranya yaitu : Penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Fadhli yang berjudul Efektivitas Pemerintahan Desa Dalam Pembuatan Peraturan Desa di Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis Provinsi Riau. Penelitian ini menjelaskan Studi tentang Efektifitas Pemerintahan Desa dalam rangka pembuatan peraturan desa

(47)

sangatlah penting. Unsur Pemerintahan Desa terdiri dari Pemerintah Desa (Kepala Desa dan Perangkat Desa) dan Badan Permusyawaratan Desa. Setelah dilakukan kajian kedua lembaga desa ini sebagian besar belum melaksanakan tugas, fungsi dan wewenang. Untuk mengetahui efektifitasnya dalam rangka pembuatan peraturan desa bisa dilihat dari Peraturan Desa yang dihasilkan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebab ketidak efektifan yaitu sumber daya aparatur Pemerintahan Desa yang rendah dan kurangnya dukungan dari Pemerintah Daerah yaitu dalam hal bimbingan dan kurangnya insentif untuk anggota BPD dan karena kelalaian perangkat pemerintahan desa dalam pelaksanaan tugasnya.31

1.9. Metodologi Penelitian

Metode penelitian yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Penelitian deskriptif dimaksudkan untuk melakukan pemahaman yang cermat terhadap fenomena sosial berdasarkan gejala – gejalanya. Hadari Nawawi menyebutkan bahwa metode deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan subjek atau objek penelitian seseorang, lembaga, maupun masyarakat pada saat sekarang berdasarkan fakta – fakta yang tampak sebagaimana adanya.32 Penelitian deskriptif kualitatif melakukan analisis dan

31Muhammad, Fadhil. Efektifitas Pemerintahan Desa Dalam Pembuatan Peraturan Desa di Kecamatan Bengkalis Kabupaten Bengkalis Provinsi Riau. 2o11, Di akses dari

www.bengkaliskab.go.id/downlot.php?file=KTI_Efektifitas_%20BPD.pdf pada Senin Tgl 21 November 2016 Pukul 19:00 wib.

32 Hadari Nawawi. Metodologi penelitian bidang sosial. gajah Mada University Press Yogyakarta. 1987 hal 15.

Gambar

Tabel 2. Tingkat Pendidikan  A.  Pendidikan
Tabel 3. Mata Pencaharian Pokok  B.  Mata Pencaharian Pokok
Tabel 4. Kondisi dan Prasarana Desa

Referensi

Dokumen terkait

Pemahaman BPD tentang manfaat dan tujuan dari APBD Desa, sebagai lembaga yang melaksanakan fungsi pemerintah sekaligus fungsi pengawasan serta agar tercapainya prinsip

Kurangnya pengetahuan baik secara teoritis maupun praktek mengenai manfaat, fungsi dan cara membuat pupuk organik membuat sebagian besar warga desa Lencoh,

Hubungan pemerintah desa dan Badan Permusyawaratan Desa, terkait dengan fungsi BPD dalam menetapkan Peraturan Desa bersama dengan Kepala Desa yaitu dimulai dari

Dalam pelaksanaan pemungutan retribusi daerah khususnya retribusi parkir ditepi jalan umum maka Pemerintah Kota Bandar Lampung membuat Peraturan Daerah Kota

Keberadaan ekosistem mangrove memberikan fungsi dan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat desa setempat, namun dalam memanfaatkan ekosistem ini sebagian masyarakat

Dalam penulisan ini dimana relasi antara Kepala Desa dengan Camat melihat sejauh mana berhubungan seperti dalam memfasilitasi Desa dalam membuat peraturan Desa, administrasi tata

bahwa berdasarkan ketentuan pasal 63, pasal 64 danpasal 65 Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang desa, bahwa pemerintah desa berkewajiban untuk membuat

Hasil penelitian menunjukan bahwa untuk merancang perencanaan komunikasi pariwisata dalam pemberdayaan masyarakat desa menuju desa wisata harus dirancang dan disesuaikan dengan