IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
1.1. Latar Belakang
Secara fisik, pesisir adalah suatu kawasan yang sempit dan merupakan kawasan peralihan atau pertemuan antara darat dan laut. Ke arah darat, kawasan pesisir merupakan daratan kering maupun terendam air yang dipengaruhi oleh sifat laut seperti efek: intrusi air laut, pasang surut, dan naiknya permukaan laut (sea level rise) karena efek pemanasan global (global warming), sedangkan ke arah laut merupakan kawasan laut yang masih dipengaruhi oleh proses alami yang masih terjadi di darat seperti aliran air tawar dan aktivitas manusia (Rais 1998b). Walaupun kawasan pesisir mencakup hanya 15% dari permukaan bumi, tetapi lebih dari 60% penduduk dunia hidup di kawasan ini (Rais 1997; Rais 1998b).
Wilayah pesisir merupakan suatu wilayah yang lemah atau bersifat rentan oleh faktor lingkungan seperti variabilitas iklim, perubahan iklim dan naiknya permukaan laut, resiko gempa bumi, tsunami dan perisitiwa vulkanik, dan ekosistem-ekosistem rapuh (Pratt et al. 2004).
Mengingat sangat strategis kawasan pesisir sekaligus rentan terhadap perubahan lingkungan dan aktivitas manusia, maka dalam pemanfaatan kawasan pesisir harus dicari keseimbangan optimum antara pemanfaatan dengan pelestariannya. Salah satu teknologi yang saat ini berkembang sangat pesat dan potensial untuk aplikasi inventarisasi sumberdaya alam dan lingkungan adalah teknologi penginderaan jauh. Teknologi penginderaan jauh yang mempunyai keunggulan dibidang resolusi spasial (0,5 m sampai 1,1 km), temporal (dari 15 sampai 30 hari), dan resolusi spektral (dari 1 saluran/band hingga ratusan) sangat relevan untuk deteksi dan identifikasi tingkat kerentanan pantai.
Teknologi Penginderaan Jauh (inderaja) semakin berkembang melalui kehadiran berbagai sistem satelit dengan berbagai misi dan teknologi sensor. Aplikasi satelit penginderaan jauh telah mampu memberikan data/informasi tentang sumberdaya alam daratan dan kelautan secara teratur dan periodik. Ketersediaan data inderaja/citra satelit dalam bentuk digital memungkinkan analisis dengan komputer secara kuantitatif dan konsisten. Selain itu data inderaja dapat digunakan sebagai input yang independen untuk verifikasi lapangan (Rubini
1995). Data tersebut dapat diolah dan dianalisis lebih lanjut sebagai data masukan bagi pengembangan Sistem Informasi Geografi.
Sistem Informasi Geografi adalah suatu informasi yang berbasiskan komputer digunakan untuk memasukkan, menyimpan, mengambil kembali, memanipulasi, menganalisa dan mengeluarkan data yang bereferensi secara geografi (spasial) yang disimpan dalam basis data digunakan untuk mendukung pengambilan keputusan dalam perencanaan dan pengelolaan wilayah pesisir.
Pantai adalah suatu zona yang dinamik karena merupakan zona persinggungan dan interaksi antar tiga fase yang sangat rumit yakni: lautan, daratan, dan udara. Zona pantai senantiasa memiliki proses penyesuaian yang terus menerus menuju keseimbangan alami terhadap dampak dari pengaruh eksternal dan internal baik yang bersifat alami maupun non alami. Faktor alami diantaranya adalah gelombang, arus, aksi angin, input dari sungai, kondisi tumbuhan pantai serta aktifitas tektonik maupun vulkanik. Faktor non alami seperti kegiatan campur tangan manusia/buatan dalam hal ini, adalah pemanfaatan kawasan pantai sebagai suatu kawasan seperti: perikanan, industri, pelabuhan, pariwisata, pertanian/kehutanan, pertambangan dan pemukiman.
Kajian tingkat kerentanan pantai dapat dilakukan dengan menggunakan sistem informasi geografi dan data penginderaan jauh melalui analisis spasial terhadap parameter yang terkait dengan dimensi kerentanan. Tingkat kerentanan pantai dapat dihitung dengan mengembangkan konsep kerentanan pantai yang dikembangkan oleh Fussel dan Klein (2006) maupun Turner et al. (2003) dimana konsep kerentanan merupakan fungsi dari keterpaparan (exposure), kepekaan (sensitivity) dan daya adaptasi (adaptif capacity).
Wilayah pesisir Pantai Utara (Pantura) Jakarta merupakan zona yang rawan terhadap fenomena alam kenaikan muka laut (sea level rise). Wilayah Kotamadya Jakarta Utara sebagian besar terdiri dari tanah daratan hasil dari pengurukan rawa-rawa yang mempunyai ketinggian rata-rata 0 s/d 1 meter diatas permukaan laut terutama disepanjang pantai. Daratan Jakarta Utara membentang dari barat ke timur sepanjang 35 km menjorok ke darat antara 4 - 10 km. Ketinggian dari permukaan laut antara 0 – 2 meter, dan tempat tertentu ada yang di bawah permukaan laut yang sebagian besar terdiri dari rawa-rawa atau empang
air payau. Kondisi wilayah yang merupakan daerah pantai dan tempat bermuaranya 9 (sembilan) sungai dan 2 (dua) banjir kanal menyebabkan wilayah ini merupakan daerah rawan banjir, baik kiriman maupun banjir karena pasang air laut (BPS Jakarta Utara 2007).
Permasalahan di wilayah pesisir sangat sensitif dan rentan terhadap fenomena alam perubahan iklim dan pemanasan global. Dampak yang diterima di wilayah pesisir akibat fenomena ini merupakan hal yang perlu dikaji untuk mengidentifikasi secara spasial tingkat kerentanan pantai dan memproyeksikan perubahan kerentanan pantai dimasa yang akan datang diakibatkan perubahan faktor-faktor yang mempengaruhi kerentanan Pantai Utara Jakarta. Pengaruh eksternal dan internal ini dapat dikaji polanya dengan menggunakan Sistem Informasi Geografi dan data penginderaan jauh.
1.2. Rumusan Masalah
Permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Bagaimana dampak kenaikan muka laut terkait dengan parameter geomorfologi dan biofisik pesisir terhadap tingkat kerentanan Pantai Utara (Pantura) Jakarta dengan menggunakan Sistem Informasi Geografi dan data penginderaan jauh?
b. Bagaimana perubahan tingkat kerentanan pantai dimasa mendatang berdasarkan parameter yang mempengaruhinya di wilayah pesisir Pantai Utara Jakarta?
1.3. Batasan Masalah
Adapun batasan masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Identifikasi tingkat kerentanan fisik pantai dengan menggunakan data citra satelit ALOS dan Sistem Informai Geografi di wilayah Pantai Utara Jakarta. b. Pengembangan konsep kerentanan pantai yang merupakan fungsi dari
keterpaparan/keterbukaan (exposure), kepekaan (sensitivity) dan daya adaptasi (adaptif capacity).
c. Objek penelitian difokuskan pada wilayah pesisir Pantai Utara Jakarta, Propinsi DKI Jakarta.
d. Penelitian hanya mencakup zona pantai ke arah laut dan zona sub-litoral hingga ke sempadan pantai.
1.4. Tujuan Penelitian
Tujuan Penelitian ini adalah
a. Mengidentifikasi tingkat kerentanan pantai dengan menggunakan Sistem Informasi Geografi dan data citra satelit ALOS (Advanced Land Observation Satellite) Pantai Utara Jakarta.
b. Menghitung indeks kerentanan pantai dan memproyeksikan perubahan kerentanan pada masa yang akan datang diakibatkan perubahan faktor-faktor yang mempengaruhi kerentanan Pantai Utara Jakarta.
1.5. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini diharapkan :
a. Memberikan gambaran mengenai dampak perubahan iklim dan pemanasan global terhadap kenaikan muka laut (sea level rise) yang rawan akan bencana di sepanjang wilayah pesisir Pantura Jakarta.
b. Memberikan data/informasi spasial terkait tingkat kerentanan pantai di sepanjang pesisir Pantura Jakarta.
c. Dapat menjadi rujukan bagi pemerintah dan stakeholder terkait dalam pengelolaan dan pelestarian lingkungan wilayah pesisir di Pantura Jakarta khususnya upaya mitigasi dan adaptasi akibat perubahan muka laut.
1.6. Kerangka Pemikiran
Adapun kerangka pemikiran dalam penelitian ini disajikan pada Gambar 1 berikut ini:
Gambar 1 Kerangka pemikiran penelitian kerentanan pantai. X
Pemanasan Global
Lingkungan Pesisir
Cakupan Kerentanan
Data Citra Satelit
SIG Pantai Utara Jakarta
Analisis Spasial
Kategori Kerentanan Overlay ⇔ Klasifikasi
Skala, Skor dan Pembobotan
Adaptasi / Mitigasi bencana akibat SLR
Kondisi Kekinian Kerentanan Pantai
Dimensi Kerentanan Lingkungan Pesisir
Pengolahan Citra
Data Atribut / Raster
IKP (Indeks Kerentanan Pantai) Indeks Exposure Indeks Sensitivity Indeks Adaptif Capacity.
Kepekaan (S) Daya adaptasi (AC)
5 Komponen 7 Komponen
Keterpaparan (E)
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Satelit ALOS
Sejalan dengan perkembangan teknologi penginderaan jauh, saat ini tersedia satelit ALOS yang memiliki 3 sensor utama yaitu: 1) PRISM yang dapat merekam pada julat gelombang tampak dengan resolusi spasial 2,5 meter; 2) AVNIR yang dapat merekam pada julat gelombang sinar tampak hingga inframerah dekat dan memiliki resolusi spasial 10 meter; dan 3) PALSAR yang merupakan sensor perekam radar (ALOS/JAXA 2006). Dengan sensor yang dibawa pada PRISM dan AVNIR, memungkinkan untuk melakukan identifikasi objek dasar perairan dangkal (Prayudha 2008). Spesifikasi citra satelit ALOS dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1 Spesifikasi citra satelit ALOS
Pembedaan objek pada citra satelit dapat dilakukan secara visual melalui teknik interpretasi maupun melalui teknik interpretasi secara digital. Teknik interpretasi secara digital dilakukan dengan jalan menganalisis tiap nilai digital yang ditampilkan pada setiap piksel dari citra satelit. Posisi dari tiap piksel dipresentasikan pada sistem koordinat xy, contohnya pada citra Landsat, koordinat asal berada pada pojok kiri atas citra. Tiap piksel memiliki nilai numerik yang disebut dengan nilai digital yang menunjukkan intensitas energi elektromagnetik yang terukur yang berasal dari pantulan, hamburan, atau pancaran dari obyek yang diindera. Nilai digital memiliki julat dari 0 sampai nilai tertinggi pada tingkat keabuan tertentu. Nilai digital terekam sebagai seri data bits, yang mampu
mengkombinasikan angka 1 dan 0 secara bertingkat. Misalnya, untuk seri data 8 bit akan mampu menampilkan 256 tingkat keabuan pada citra hitam putih (28 = 256 tingkat kecerahan), nilai minimum atau nol akan ditampilkan gelap pada citra dan nilai maksimum atau 256 akan ditampilkan dengan warna putih atau cerah (Sabins 1987).
2.2 Sistem Informasi Geografi
Sistem Informasi Geografi adalah suatu informasi yang berbasiskan komputer digunakan untuk memasukkan, menyimpan, mengambil kembali, memanipulasi, menganalisa dan mengeluarkan data yang bereferensi secara geografi (spasial) yang disimpan dalam basis data digunakan untuk mendukung pengambilan keputusan dalam perencanaan dan pengelolaan wilayah pesisir (Aronoff 1993).
SIG merupakan suatu sistem yang mengorganisir perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software), dan data, serta dapat mendayagunakan sistem penyimpanan, pengolahan, maupun analisis data secara simultan, sehingga dapat diperoleh informasi yang berkaitan dengan aspek keruangan. SIG merupakan manajemen data spasial dan non-spasial yang berbasis komputer dengan tiga karakteristik dasar, yaitu: (i) mempunyai fenomena aktual (variabel data non-lokasi) yang berhubungan dengan topik permasalahan di lokasi bersangkutan; (ii) merupakan suatu kejadian di suatu lokasi; dan (iii) mempunyai dimensi waktu (Purwadhi 2001).
2.3 Pemanasan Global dan Kenaikan Muka Laut
Pemanasan global terjadi karena dipicu oleh meningkatnya emisi CO2 yang diakibatkan oleh aktivitas manusia seperti pemakaian bahan bakar untuk berbagai aktivitas, penggundulan hutan, maupun kejadian alam seperti peristiwa gunung meletus. Berkaitan dengan emisi CO2, IPCC menyebutkan bahwa sebelum revolusi industri, konsentrasi CO2 sekitar 280 ppm dan dari kajian terakhir rata-rata peningkatannya sekitar 1,8 ppm/tahun. Peningkatan konsentrasi CO2 itu telah menyebabkan meningkatnya suhu permukaan sekitar 0,3 oC – 0,6 oC pada 100 (seratus) tahun terakhir (Mimura dan Harasawa 2000).
Perbandingan anomali suhu bulan Juni–Agustus (nilai tengah relatif tahun 1961–1990 dalam °C) beberapa bagian di Eropa yang menunjukkan pengamatan suhu (garis hitam), dan suhu dari simulasi model HadCM3 (garis merah). Pengamatan suhu tahun 2003 ditunjukkan titik panah, kejadian musim panas tahun 2003 hingga 2040 di Eropa. Perbandingan dari hasil observasi dan simulasi ini menunjukkan anomali kenaikan lebih cepat 2,4oC pada titik potong di tahun 2040 (Stott et al. 2004). Perbandingan skenario iklim disajikan dalam Gambar 2.
Gambar 2 Perbandingan skenario iklim (garis merah) dengan temperatur musim panas dari tahun 1900-2100: dan iklim panas (panah hitam) di Eropa tahun 2003.
Berdasarkan kecenderungan peningkatan suhu permukaan laut dan pencairan es di daerah kutub, Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) memperkirakan bahwa pada kurun waktu 100 tahun terhitung mulai tahun 2000 permukaan air laut akan meningkat setinggi 15-90 cm dengan kepastian peningkatan setinggi 48 cm (Mimura dan Harasawa 2000). Hasil proyeki IPCC seperti disajikan pada Gambar 3 kenaikan muka laut terendah mencapai 18 cm di tahun 2100, nilai tengah 44 cm, dan nilai maksimal 90 cm.
Sumber: IPCC 1992.
Gambar 3 Proyeksi kenaikan muka air laut terendah (L), menengah (M) dan tertinggi(H) pada kurun waktu 100 tahun
Kenaikan permukaan air laut ini ditengarai akan memberikan dampak yang sangat besar. Sebagai contoh kenaikan permukaan air laut sebesar 1 meter akan mengakibatkan kehilangan lahan daratan seluas 5-10 ribu mil² di Amerika Serikat dan mempengaruhi kawasan pantai sepanjang 19.000 mil (Kombaitan 2001). Kerugian yang ditimbulkan oleh kehilangan daratan seluas itu tentunya akan lebih jelas terlihat apabila kita melihat aktivitas yang ada dikawasan tersebut. Hal itu disebabkan aktivitas-aktivitas yang ada akan terganggu atau bahkan tidak bisa dilakukan lagi. Perubahan tinggi permukaan air laut dapat dilihat sebagai suatu fenomena alam yang terjadi secara periodik maupun menerus. Perubahan secara periodik dapat dilihat dari fenomena pasang surut air laut, sedangkan kenaikan air laut yang menerus adalah seperti yang teridentifikasikan oleh pemanasan global. Dampak lanjutan dari pengaruh pasang surut dan kemungkinan kenaikan muka laut secara permanen antara lain perubahan kondisi ekosistem pantai, meningkatnya erosi, makin cepatnya kerusakan bangunan dan terganggunya kegiatan penduduk seperti permukiman, perindustrian, pertanian dan kegiatan lainnya (Suprijanto 2003).
Pengamatan pada beberapa lokasi stasiun penelitian di beberapa kawasan pantai di Indonesia menunjukan adanya peningkatan yang bervariasi antara satu tempat dengan tempat lainnya. Kenaikan muka air laut pertahun di Belawan adalah 7,83 mm; Jakarta adalah 4,38 mm; Semarang adalah 9,27 mm; Surabaya adalah 5,47 mm dan di Panjang-Lampung adalah 4,15 mm. Berdasarkan data pada
tahun 1976 – 1992 di pantai Cilacap menunjukan kenaikan rata-rata muka air laut pertahun adalah 1,3 mm. Maka rata-rata kenaikan muka air laut pertahun pada pantai di 6 (enam) kota di pulau Jawa adalah lebih tinggi dari kondisi pantai secara global. Secara sepintas menggambarkan bahwa kawasan pantai di Jawa cenderung berkurang lebih cepat dibandingkan kawasan pantai skala global (Hadikusumah 1993).
2.4 Karakteristik Kawasan Pesisir dan Laut
Adapun karakteristik umum kawasan pesisir/tepi air (Suprijanto 2002), antara lain :
a. Secara topografi, merupakan pertemuan antara darat dan air, dataran landai, serta sering terjadi erosi, abrasi dan sedimentasi yang bisa menyebabkan pendangkalan badan perairan. Topografi tanah dapat dibedakan atas 3 (tiga) kategori, yaitu:
- daerah rawa atau di atas air (laut/sungai/danau)
- daerah relatif datar/kemiringan 0 - 20% (di darat, termasuk daerah pasang surut);
- daerah perbukitan dengan kemiringan dataran 20 - 60% (di darat); b. Secara hidrologi merupakan daerah pasang surut, mempunyai air tanah tinggi,
terdapat tekanan air laut/sungai/danau terhadap air tanah, serta merupakan daerah retensi sehingga run-off air rendah.
c. Secara geologi, sebagian besar mempunyai struktur batuan lepas, tanah lembek, serta rawan bencana tsunami.
d. Secara klimatologi memiliki dinamika iklim, cuaca, angin, suhu dan kelembaban tinggi.
e. Adanya abrasi dan akresi menyebabkan pengikisan dan pengendapan sedimen pada badan air (laut, sungai atau danau) sehingga garis pantai sering berubah, yang berakibat terganggunya aktivitas yang sedang maupun yang akan berlangsung. Pengendapan sedimen yang berakibat pendangkalan badan air menjadikan terganggunya transportasi air.
f. Terdapat berbagai jenis vegetasi spesifik seperti tanaman bakau dapat berfungsi untuk mencegah abrasi, serta menjadi pemandangan alami.
h. Cocok bagi pengembangan perikanan darat (tambak) dan perikanan laut. Pantai merupakan suatu wilayah yang dimulai dari titik terendah air laut waktu surut hingga ke arah daratan sampai batas paling jauh ombak/gelombang menjulur ke daratan. Jadi daerah pantai dapat juga disebut daerah tepian laut. Adapun tempat pertemuan antara air laut dan daratan dinamakan garis pantai (shore line). Garis pantai ini setiap saat berubah-ubah sesuai dengan perubahan pasang surut air laut.
Pesisir adalah suatu wilayah yang lebih luas dari pada pantai. Wilayah pesisir mencakup wilayah daratan sejauh masih mendapat pengaruh laut (pasang surut dan perembasan air laut pada daratan) dan wilayah laut sejauh masih mendapat pengaruh dari darat (aliran air sungai dan sedimen dari darat).
2.5 Kerentanan Pantai
Resiko merupakan suatu hal yang memiliki keterkaitan dengan kerentanan pantai. Resiko menjadi perhatian apabila resiko tersebut cukup signifikan. Signifikansi suatu resiko menurut Tompkins et al. (2005) apabila suatu resiko berasosiasi dengan sejumlah biaya. Sebagai contoh, jika ada gunung meletus di sebuah pulau yang tidak berpenduduk, seringkali hal ini tidak mendapat perhatian sebagai suatu bencana. Namun apabila hal yang sama terjadi pada pulau yang berpenduduk, apalagi jika pulau tersebut berpenduduk padat, maka kejadian tersebut sangat signifikan karena memiliki berbagai konsekuensi terkait dengan penduduk di pulau tersebut.
2.5.1 Konsep Kerentanan Pantai
Kerentanan memiliki banyak pengertian, baik ditinjau dari aspek maupun dari sisi cakupan. Menurut Ford (2002), pengertian kerentanan mengandung dua aspek, yaitu yang terkait dengan sifatnya (relative nature) dan terkait dengan cakupan atau skala. Terkait dengan sifatnya, kerentanan adalah suatu entitas dari suatu sistem yang menggambarkan kondisinya, sedangkan dilihat dari skalanya, kerentanan digunakan dalam berbagai skala yang berbeda, seperti rumah tangga, komunitas, ataupun negara. Pada Tabel 2 disajikan beberapa pengertian kerentanan.
Tabel 2 Beberapa pengertian kerentanan
Nama Tahun Pengertian
Timmerman 1981 Derajat atau tingkat dari suatu sistem pada suatu sistem bertindak terhadap suatu kejadian yang tidak baik. Tingkat dan kualitas dari suatu reaksi yang dikondisikan oleh resiliensi sistem tersebut.
Susman et al. 1983 Derajat atau tingkat pada suatu kelas sosial yang berbeda yang dibedakan dalam hal resiko baik dalam hal
kejadian fisik maupun efek dari sistem sosial. Kates et al. 1985 Kapasitas yang dapat diadaptasi dari sutau gangguan
atau reaksi terhadap kondisi yang kurang baik. UN Departemen of
Humanitarian Affairs
1992 Tingkat kehilangan (0-100%) yang dihasilkan dari suatu potensi dampak fenomena alam.
Cutter 1993 Kecenderungan yang dialami oleh individu atau kelompok yang akan terekspose terhadap suatu bahaya. Watts dan Bohle 1993 Kerentanan didefiniskan sebagai fungsi dari
keterpaparam, kapasitas dan potensial, dimana menurut perspektif dan normatif respon terhadap kerentanan untuk mereduksi keterbukaan dan meningkatkan kemampuan mengatasi, menguatkan potensi pemulihan. Blaikie et al. 1994 Karakteristik dari seseorang atau sekumpulan orang
terkait dengan kemampuannya untuk mengantisipasi, mengatasi, resistensi dan memulihkan dari dampak bencana alam.
Bohle et al. 1994 Suatu ukuran secara agregate kesejahteraan manusia yang terintegrasi antara lingkungan, sosial, ekonomi dan politik dalam mengatasi gangguan.
Dow dan Downing 1995 Perbedaan kepekaan dari keadaaan yang berpengaruh terhadap kondisi rentan, seperti faktor biofisik, demografi, ekonomi, sosial, dan teknologi. Smith 1996 Konsep kerentanan diisyaratkan ukuran resiko
kombinasi dari kemampuan ekonomi dan sosial untuk mengatasi dampak kejadian.
Vogel 1998 Karakteristik dari seseorang atau sekelompok orang terkait dengan kapasitasnya dalam mengantisipasi, mengatasi, bertahan, dan memulihkan diri dari dampak perubahan iklim.
Adger dan Kelly 1999 Kondisi individu atau kelompok masyarakat dalam kaitannya dengan kemampuannya mengatasi dan beradaptasi terhadap berbagai tekanan eksternal yang mengganggu kehidupan mereka.
Liechenko dan O’Brien
2002 Dinamika kerentanan adalah proses-proses ekonomi nasional dan internasional mempengaruhi kapasitas individu dalam mengatasi, merespon dan beradaptasi terhadap gangguan (shocks) alam dan sosial ekonomi. Sumber: disadur dari Ford (2002)
Istilah kerentanan merujuk pada kemudahan mengalami dampak dari faktor eksternal. Kerentanan adalah kecenderungan suatu entitas mengalami kerusakan (SOPAC 2005). Entitas dapat berupa fisik (manusia, ekosistem, garis pantai) atau konsep yang abstrak (seperti komunitas, ekonomi, negara dan sebagainya) yang mengalami kerusakan. Kerentanan dapat bersifat tunggal dan komplek yang disebut overall vulnerability, yaitu suatu hasil dari banyak kerentanan yang bekerja bersama-sama. Bahaya atau resiko (hazard) adalah sesuatu atau proses yang dapat menyebabkan kerusakan, tetapi hanya dapat didefenisikan dalam istilah dari suatu entitas yang dirusak, seperti badai siklon adalah suatu bahaya bagi sebuah pulau kecil. Kerentanan memiliki makna yang beragam (Campbell 2009), sebagaimana disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3 Sinonim dan antonim kata kerentanan
Synonym Antonym English Indonesia English Indonesia
weak powerless insecure passive expose unprotected unstable risk constrained/limited fragile small peripheral marginal dependent lemah sangat lemah tidak terjamin pasif terbuka tidak terlindung tidak stabil beresiko terbatas rapuh sempit tidak memusat terpinggirkan tidak bebas strong powerfull secure active covered protected stable safety free/unlimited robust large central important independent kuat sangat kuat terjamin aktif tertutup terlindung stabil aman tidak terbatas tegap luas terpusat penting bebas Sumber: Campbell (2009).
Perkembangan kajian kerentanan terhadap perubahan iklim telah melalui 4 (empat) tahapan, yaitu; dimulai dengan kajian dampak (impact assessment), kemudian kajian kerentanan generasi pertama (vulnerability assessment first generation), kajian kerentanan generasi kedua (vulnerability assessment second generation), dan kajian adaptasi kebijakan (vulnerability policy assessment) (Fussel dan Klein 2006). Kajian kerentanan generasi pertama dikarakteristikkan oleh adanya evaluasi dampak iklim dalam bentuk relevansinya dengan masyarakat
yang baru mempertimbangkan potensi adaptasi masyarakat di suatu wilayah. Adapun novelty atau kebaharuan dari kajian kerentanan generasi kedua adalah penilaian terhadap kapasitas individu/orang yang sudah bergeser dari sekedar penilaian potensi daya adaptasi pada generasi pertama menjadi sebuah kelayakan adaptasi dari masyarakat terhadap perubahan iklim (Fussel dan Klein 2006). Dengan kata lain, kelayakan adaptasi sudah mampu memperhitungkan daya adaptasi masyarakat terhadap kerentanan. Perbedaan dari karakteristik setiap tahap dari perkembangan kajian kerentanan disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4 Karakteristik 4 tahapan yang berbeda dari perkembangan kajian kerentanan terhadap perubahan iklim
Kajian dampak
Kajian Kerentanan Kajian Kebi- jakan Adaptasi Generasi pertama Generasi kedua
Fokus utama kebijakan
Kebijakan mitigasi
Kebijakan mitigasi Alokasi sumberdaya
Kebijakan adaptasi Pendekatan
analisis
Positif Positif Positif Normatif
Hasil utama Dampak potensi Adaptasi awal (pre-adaptation) Adaptasi akhir (post-adaptation) Rekomendasi strategi adaptasi Waktu Jangka panjang
Jangka panjang Sedang-jangka panjang
Pendek-jangka panjang Skala ruang Nasional ke
global Nasional ke global Lokal ke global Lokal ke nasional Pertimbangan iklim, non-iklim dan adaptasi
Kecil Parsial penuh Penuh
Integrasi antara ilmu sosial dan alam
Rendah Rendah ke sedang Sedang ke tinggi Tinggi
Keterlibatan stakeholder
Rendah Rendah Sedang Tinggi
Sumber : Fussel dan Klein (2006).
Kerentanan adalah tingkatan dari suatu sistem terhadap kemudahan sistem tersebut terkena dampak atau ketidakmampuan mengatasi dampak dari perubahan iklim termasuk iklim yang berubah-ubah dan ekstrim. Kerentanan merupakan fungsi dari karakter, magnitude, laju dari variasi iklim karena terekspose, sensitivitas dan kapasitas adaptasinya (McCarthy et al. 2001). Adapun Kasperson et al. (2003) dan Turner et al. (2003) menyebutkan bahwa kerentanan adalah
tingkat dimana manusia dan sistem alam akan mengalami kerugian karena gangguan atau tekanan dari luar. Sebagai contoh, kerentanan wilayah pesisir terhadap perubahan iklim dan kenaikan muka laut adalah tingkat ketidakmampuan wilayah pesisir untuk mengatasi dampak dari perubahan iklim dan kenaikan muka