IDENTITAS PROYEK PERUBAHAN
A. Latar Belakang
Di Indonesia, transmigrasi bukanlah fenomena baru. Masyarakat dan pemerintah telah melaksanakan transmigrasi dari masa ke masa, dari satu periode ke periode yang lain. Transmigrasi diawali pada tahun 1905 dengan program kolonisasi, masa awal kemerdekaan (1942–1965), masa orde baru dari Pelita I sampai dengan Pelita VI (1968-1998) serta masa reformasi. Jumlah Kepala Keluarga (KK) transmigran yang telah dipindahkan mencapai 2,5 Juta KK atau lebih dari 10 juta jiwa.
Perpindahan penduduk yang melatarbelakangi pembangunan transmigrasi pada awal kemerdekaan sebenarnya merupakan suatu kesadaran bersama untuk memanfatkan, mengolah, dan mengembangkan seluruh potensi sumberdaya bangsa sebagai pengamalan Pancasila. Artinya sejak awal gagasan besar transmigrasi sebenarnya telah diarahkan pada upaya pemanfaatan dua potensi besar yaitu potensi sumberdaya alam dan potensi sumberdaya manusia.
Seperti telah digariskan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2009 sebagai Perubahan atas Undang-Undang Nomor 15 tahun 1997, tentang ketransmigrasian bahwa, tujuan penyelenggaraan transmigrasi adalah meningkatkan kesejahteraan transmigran dan masyarakat sekitarnya, peningkatan dan pemerataan pembangunan daerah serta memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa. Sasarannya adalah terwujudnya peningkatan kemampuan dan produktivitas masyarakat transmigrasi, membangun kemandirian dan mewujudkan integrasi di permukiman transmigrasi, sehingga ekonomi dan sosial budaya mampu tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan. Penyelenggaraan transmigran diarahkan pada penataan persebaran penduduk yang serasi dan seimbang dengan daya dukung alam dan daya tampung lingkungan, peningkatan kualitas sumberdaya manusia, dan perwujudan integrasi masyarakat.
Pembangunan ketransmigrasian yang diawali dengan pembangunan permukiman yang dilengkapi dengan lahan pekarangan, lahan usaha 1, lahan usaha 2, sarana dan prasarana yang berupa fasilitas umum dan fasilitas sosial.
Pengembangan sarana dan prasarana yang meliputi fasilitas umum dan fasilitas sosial di permukiman dan kawasan transmigrasi dapat ditangani selambat-lambatnya 5 (lima) tahun setelah dilakukan penempatan transmigran, seperti tersebut dalam Undang Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2009 tentang ketransmigrasian.
Sesuai dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor: 12/MEN/2010 tanggal: 18 Agustus 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi yang menangani pengembangan sarana dan prasarana kawasan adalah Direktorat Pengembangan Sarana dan Prasarana Kawasan. Sarana dan prasarana permukiman dan kawasan transmigrasi merupakan komponen penunjang utama untuk keberlangsungan kegiatan ekonomi, sosial dan budaya warga masyarakat transmigrasi.
Keberhasilan program transmigrasi tidak lepas dari kondisi sarana dan prasarana. Oleh karenanya, di dalam program transmigrasi ini terdapat Unit Kerja Pengembangan Sarana dan Prasarana Kawasan. Adapun Tugas dan Fungsi Direktorat Pengembangan Sarana dan Prasarana Kawasan, sesuai Peraturan Menteri Nakertrans Nomor 12/MEN/2010, yaitu:
Tugas: Melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan, pelaksanaan
kebijakan, standardisasi serta pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang analisis dan standardisasi sarana dan prasarana, pengembangan sarana, pengembangan prasarana serta evaluasi pengembangan sarana dan prasarana.
Fungsi: (a) Penyiapan perumusan kebijakan di bidang analisis dan
standardisasi sarana dan prasarana, pengembangan sarana, pengembangan prasarana, serta evaluasi pengembangan sarana dan prasarana. (b) Penyiapan pelaksanan kebijakan di bidang analisis dan standardisasi sarana dan prasarana, pengembangan sarana, pengembangan prasarana dan evaluasi pengembangan sarana dan prasarana. (c) Penyiapan perumusan norma, standar, prosedur dan kriteria kebijakan di bidang analisis dan standardisasi sarana dan prasarana, pengembangan sarana, pengembangan prasarana dan evaluasi pengembangan sarana dan prasarana. (d) Penyiapan pemberian bimbingan teknis dan evaluasi kebijakan di bidang analisis dan standardisasi sarana dan prasarana, pengembangan sarana, pengembangan
prasarana dan evaluasi pengembangan sarana dan prasarana; dan (e) Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Direktorat.
Sub Direktorat Pengambangan Sarana merupakan bagian dari Direktorat Pengembangan Sarana dan Prasarana Kawasan mempunyai tugas dan fungsi yaiu: Tugas: Melaksanakan penyiapan bahan perumusan kebijakan, pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria serta pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang pembinaan perencanaan teknis sarana dan pembinaan pelaksanaan sarana. Fungsi: (a) Penyiapan bahan perumusan kebijakan di bidang pembinaan perencanaan teknis sarana dan pembinaan pelaksanaan sarana; (b) Penyiapan pelaksanan kebijakan di bidang pembinaan perencanaan teknis sarana dan pembinaan pelaksanaan sarana; (c) Penyiapan perumusan norma, standar, prosedur dan kriteria kebijakan di bidang pembinaan perencanaan teknis sarana dan pembinaan pelaksanaan sarana; dan (d) Penyiapan pemberian bimbingan teknis dan evaluasi kebijakan di bidang analisis dan standardisasi sarana dan prasarana, pengembangan sarana, pengembangan prasarana dan evaluasi pengembangan sarana dan prasarana.
Indikator Kinerja Kegiatan pengembangan sarana adalah; jumlah permukiman dan kawasan transmigrasi yang kembangkan saranya. Sedangkan Indikator out put dari kegiatan pembangan sarana sebagai mana diuraikan dalam dokumen Rencana Program Jangka Menengah (RPJM), yaitu pengembangan fasilitas umum, sarana air bersih, penerangan dan energi terbarukan serta rumah transmigran.
Permasalahan dalam Pengembangan Sarana, yang dihadapi saat ini antara lain; (1) masih banyaknya kegiatan pengembangan sarana di permukiman dan kawasan transmgrasi yang belum tepat mutu dan waktu; (2) masih perlu penyempurnaan NSPK dengan adanya tuntutan Standar Pelayanan Minimal (SPM); (3) masih terbatasnya sumber daya manusia yang kompeten yang mendukung kegiatan pengembangan sarana baik di pusat maupun daerah; dan masih rendahnya sumber dana yang tersedia untuk mendukung kegiatan pengembangan sarana baik di pusat maupun di daerah.
Salah satu tugas yang dilakukan adalah pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya yang dibangun di Permukiman Transmigrasi. Beberapa permasalahan yang dihadadi dalam pembangunan tersebut yaitu; (1) masih
sering terjadi keterlambatan kegiatan pembangunan dari waktu yang telah ditetapkan; (2) rendahnya kepedulian aparat di daerah terhadap hasil pembangunan yang dibangun oleh Kementerian; (3) lemahnya koordinasi dalam pelaksanaan pembangunan, dan (4) masih terbatasnya pengetahuan aparat pusat dan daerah dalam bidang energi baru terbarukan.
Pengembangan sarana ke depan diharapkan akan berkualitas melalui pengawasan yang partisipatif, yaitu dengan melibatkan lintas unit baik pusat maupun daerah. Kegiatan pembangunan sarana transmigrasi yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi, sebaiknya pemerintah kabupaten ikut mengawasi sehingga dapat menumbuhkan rasa memiliki, demikian juga apabila yang membangun adalah pemerintah kabupaten. Pekerjaan pembangunan yang dilakukan oleh Pemerintah pusat sebaiknya mengikutkan pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten dalam kegiatan pengawasan dan pengendalian pekerjaan.
Permasalahan di unit organisasi yang urgen dan perlu untuk segera diselesaikan adalah masih sering terjadinya keterlambatan penyelesaian pekerjaan pembangunan fisik, sehingga masyarakat transmigrasi belum mendapatkan pelayanan yang optimal untuk mendukung kegiatan usaha ekonomi dan sosial budaya di permukiman dan kawasan transmigrasi. Upaya untuk menyelesaian permasalahan tersebut salah satunya adalah melakukan pengawasan yang efektiv oleh aparat pusat sebagai pengawas dan melibatkan peran aparat pemerintah daerah untuk ikut serta melakukan pengawasan kegiatan, sehingga penyelesaian pekerjaan dapat tepat waktu dan tepat mutu, serta terjadi transformasi pengetahuan dari kontraktor pelaksana, aparat pusat dan aparat daerah.
Untuk itu pada proyek perubahan ini akan mengambil judul “Peningkatan
Efektivitas Pengawasan Kegiatan Pengembangan Sarana Kawasan Transmigrasi melalui Model Pengawasan Partisipatif agar upaya untuk
meningkatkan hasil pengembangan sarana yang tepat mutu dan tepat waktu dapat segera diwujudkan.
B. Tujuan
1. Meningkatan efektivitas pengawasan pekerjaan pengembangan sarana kawasan transmigrasi.
2. Meningkatkan hasil pembangunan sarana, sehingga tepat waktu, tepat kualitas dan tepat kuantitas.
C. Manfaat
Jangka pendek adalah, bahwa pekerjaan tepat waktu, mutu dan kuantitas segingga tidak terjadi permasalahan dikemudian hari. Jangka menengah bahwa, masyarakat transmigrasi dapat memanfaatkan hasil pembangunan sarana untuk mendukung kegiatan usaha ekonomi dan sosial budaya maysarakat, secara baik dan berkelanjutan.