B. Gambaran Informan
2. Latar Belakang Informan
SG merupakan seorang layout editor di sebuah perusahaan media
cetak di Yogyakarta. SG berusia 54 tahun dan tinggal di Minomartani
bersama istri dan dua orang anak laki-laki. Anak pertama SG merupakan
mahasiswa semester 10 di salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta
yang saat ini sedang menyelesaikan skripsinya. Anak kedua SG duduk di
bangku kelas 3 sekolah menengah atas di salah satu sekolah swasta di
Yogyakarta. Istri SG merupakan seorang ibu rumah tangga. Dulunya istri
SG merupakan seorang penjahit dan memiliki 2 orang pegawai, namun pada
saat krismon tahun 1998, usahanya mengalami kebangkrutan.
SG ingin pensiun dini dari pekerjaannya karena SG sudah merasa
bahwa
perusahaannya
tidak
berkembang
karena
kalah
dengan
perkembangan media elektronik yang semakin pesat. Namun istrinya tidak
menyetujui keputusan SG untuk pensiun dini karena mumpung masih ada
pekerjaan yang bisa dikerjakan dan daripada menganggur di rumah. SG
memiliki kegiatan bersama istri yaitu memasak sayuran untuk dijual di
warung makan setiap pagi dan menerima pesanan catering. SG merasa
pemasukan dari usahanya bersama istri akan lebih baik jika dikembangkan
daripada terus mengandalkan pemasukan dari perusahaan.
SG ingin mengembangkan usahanya bersama istri dengan membuka
warung makan namun istri tidak setuju dan masih takut mengambil resiko
untuk mengontrak kios. Dengan modal berpikir yang SG miliki dan
kemampuan istrinya, SG yakin usaha tersebut bisa berkembang dengan
baik. SG sering mendiskusikan hal tersebut bersama istrinya bahwa SG
hanya memiliki waktu setahun-dua tahun lagi untuk bekerja.
Dalam menghadapi masa pensiun, SG merasa siap karena memang
sudah menjadi keinginannya sejak dulu karena merasa perusahaan sudah
tidak berkembang lagi. SG memiliki rencana untuk pensiun pada awal tahun
2017 sehingga SG meminta anak pertamanya untuk menyelesaikan skripsi
di tahun 2016. Namun kenyataannya anaknya tidak selesai dan akhirnya SG
membatalkan niatnya untuk pensiun dini. SG terkadang merasa marah
kepada anaknya karena program yang SG rencanakan tidak bisa berjalan.
SG merasa bahwa hal tersebut menjadi beban untuk dirinya.
Selain karena anaknya belum lulus, SG juga merasa kurang mendapat
dukungan dari istri karena istri menyalahkan SG atas penghasilan SG yang
sedikit. Istri juga meminta SG mencari kerja lagi untuk tambah-tambah. SG
mengatakan kepada istrinya bahwa SG mampunya segini, istri diajak usaha
bersama juga tidak mau dan SG merasa di usia yang sekarang ini tidak akan
ada yang mempekerjakan SG karena kualitas yang dimiliki, namun hanya
karena kasihan. Terkadang SG juga merasa bersalah karena saat menolak
saat diberikan tawaran untuk membantu cabang baru di luar pulau karena
sudah merasa nyaman di Jogja. SG tidak menyangka karirnya akan hancur.
Meski rencananya tidak bisa berjalan, SG tetap bersemangat dalam
bekerja. SG tidak merasa adanya perubahan dalam dirinya. Jika semangat
menurun maka teman-teman juga bisa down karena SG merasa menjadi
panutan bagi teman-teman kerjanya. Jika SG tidak masuk, SG merasa
kasihan dengan teman-temannya karena pekerjaannya akan ditanggung oleh
teman-temannya mengingat media cetak adalah pekerjaan yang dikejar
deadline setiap malam harus selesai untuk disebarkan keesokan harinya.
Dalam dunia pekerjaannya, SG merasa bahwa menjadi wartawan itu
ada dua jalan, jalan yang lurus atau menjadi mafia. Jika menjadi mafia akan
memiliki banyak uang. Namun SG tetap memilih untuk di kantor saja
karena SG merasa kasihan dengan keluarga. Jika keluarganya diberi makan
atas keringat sendiri maka hasilnya akan baik dan tidak macam-macam. Jika
SG memiliki masalah dengan teman kerjanya, SG memilih untuk
menghindar dan tidak mendekati orang yang menyebalkan karena pada
dasarnya SG merupakan orang yang pendiam.
Ketika berada dalam masalah, SG cenderung akan pergi ke gereja
untuk berdoa atau pergi berziarah. SG merasa terbantu dan tenang jika
sudah ke Gereja. SG juga tidak pernah marah sampai meledak-ledak dan
memilih untuk pergi. SG merasa dalam hidup ini tidak perlu muluk-muluk,
yang terpenting masih bisa bekerja dan menghasilkan untuk anak, meskipun
keinginannya tidak dapat terpenuhi. SG juga menekankan kepada anaknya
bahwa tidak bisa memberikan harta, hanya mampu menyekolahkan. Jika
anak-anaknya bisa mendapatkan beasiswa itu merupakan nilai tambah untuk
anaknya. SG selalu mengupayakan supaya anaknya bisa sekolah sebagai
bekal hidup.
b.
Informan II (NR)
NR merupakan seorang karyawan swasta di salah satu lembaga. NR
tinggal di daerah Jombor bersama istri dan dua orang anak perempuannya.
Anak pertama NR duduk di bangku kelas tiga sekolah menengah atas dan
anak kedua NR duduk di bangku kelas 2 sekolah menengah pertama. Istri
NR adalah seorang ibu rumah tangga dan dalam keseharian mengantar
jemput anaknya sekolah. Dalam mendidik anaknya, NR dan istri sangat
mengutamakan pendidikan sehingga NR memberikan semua fasilitas seperti
les dan kursus setiap hari agar anaknya menjadi pintar dan masuk ke
sekolah negeri favorit. Terbukti saat ini anak-anak NR bersekolah di sekolah
negeri favorit di DIY.
Tahun ini merupakan tahun terakhir bagi NR untuk bekerja karena
tahun depan NR sudah pensiun. Kebijakan yang ada di kantor NR adalah
bagi karyawan yang sudah memasuki usia 50 diberikan kesempatan untuk
mulai mencari bisnis atau alternatif kegiatan lain yang bisa dilakukan saat
pensiun nanti. Karyawan bebas untuk izin ketika memang diperlukan atau
kerja 5 hari dalam seminggu.
Selama diberi kesempatan oleh kantor, NR mencoba untuk
memanfaatkannya dengan mencari-cari bisnis yang sesuai di google. Selama
ini NR merasa bisnis itu sulit, namun jika mau berusaha pasti akan
mendapatkan. Kesulitan yang dihadapi NR adalah ketika ditahun pertama
NR berminat di suatu bidang namun ketika digeluti hingga tahun kedua
ternyata berat, sehingga NR sudah kehilangan dua tahun. Menurut
pengalamannya, jika gagal dalam berbisnis memang mendapatkan
pembelajaran baru, namun untuk memulai kembali membutuhkan modal
lagi. Hal tersebut dirasa sulit dan terlalu beresiko tinggi bagi orang tua,
sehingga yang bisa NR lakukan adalah hal yang aman-aman saja, seperti
membuka kos-kosan di sekitar kampus di Yogyakarta.
NR merasa semangat yang dimiliki oleh orang seusianya sudah
menurun. Hal ini mungkin disebabkan karena ada bayangan terpecah antara
pekerjaan di kantor dan otak yang sudah dituntut untuk berpikir bagaimana
kelanjutan hidup saat sudah pensiun nanti. Namun bagi NR, NR tidak terlalu
membingungkan lagi masalah kantor karena tuntutan kantor ringan. NR
merasa bahwa tidak ada kata pensiun bagi pegawai swasta seperti dirinya
karena untuk hidup harus bekerja. Kalau pensiun nanti NR hanya berpindah
dari satu pekerjaan ke pekerjaan yang lain, sehingga NR tidak merasa berat
untuk meninggalkan kantor saat pensiun nanti.
NR merasa tertekan dalam menghadapi masa pensiun. Selama ini NR
sudah memiliki standar hidup dengan penghasilan yang NR miliki selama
ini. Namun besok ketika sudah pensiun, penghasilan dari usaha sampingan
NR belum mencapai standar hidup yang NR miliki selama ini, mengingat
pendidikan anak-anaknya masih panjang. NR juga merasakan bahwa banyak
perubahan dalam hal kebutuhan. Saat anak-anaknya masih kecil, NR masih
memiliki power untuk mengendalikan kebutuhan dan keinginan anggota
keluarga yang belum bervariatif. Namun sekarang anak-anaknya sudah
beranjak remaja sudah mulai memiliki keinginan dan
prestise. Kebutuhan
sekolah tidak hanya sekolah, namun ada kendaraan dan gadget. Hal ini
membuat NR harus bernegosiasi dengan anak-anaknya dan tidak bisa
bersikap agak otoriter seperti dulu. Selama ini kebutuhan yang meningkat
tersebut tidak bisa ter-cover karena dunia sekarang sangat hedonis. Strategi
yang NR lakukan yaitu mengarahkan anak ke sekolah negeri dan
mengarahkan anak ke kegiatan gereja. Selain itu, NR juga membatasi
pergaulan anaknya. Jika ekonomi sedang baik, tidak akan menjadi masalah
jika anak NR bergaul dengan siapa saja, namun jika ekonomi sedang buruk,
jangan banyak bergaul dengan teman-teman yang hedonis. Dalam
pertemanannya pun, NR merupakan sosok yang berteman jika ada
kepentingan, jika tidak ada kepentingan NR merasa malas.
Saat NR mengingat tentang kewajibannya sebagai pencari nafkah
dalam keluarga yang berada dalam masa pensiun dengan anak yang masih
sekolah, NR merasa kok ini menimpa diriku, susah, galau, kelabu, khawatir,
kalut, bingung, dan sepaneng. Ketika merasa tertekan, NR menyadari bahwa
hal itu berpengaruh pada perilakunya sehari-hari, di mana sebenarnya NR
bisa membicarakan hal cukup A saja namun menjadi ABC. Ketika sudah
sunyi, NR bisa berefleksi dan menyadari tindakannya yang di luar kontrol
dan seharusnya tidak seperti itu.
Namun NR juga beruntung diberikan otak yang pelupa oleh Tuhan
sehingga NR tidak sepanjang waktu memikirkan hal ini. Terkadang NR bisa
lupa dan merasa
happy namun ketika teringat kembali, perasaan NR
menjadi tumpang tindih. Ketika merenung, NR menyadari bahwa NR sudah
harus mencari ide, padahal selama ini NR merasa sudah mencari setengah
mati.
NR menganggap bahwa dalam menghadapi permasalahan, orang
Indonesia arahnya ke agama, sehingga NR cenderung melarikan diri kepada
Tuhan, memang bukan tempat yang paling aman namun merupakan tempat
paling nyaman. Bagi NR, rasa takut itu boleh tapi jangan berlebihan dan
dalam ajaran yang dipegangnya bahwa apa yang kamu khawatirkan
biasanya malah tidak terjadi. NR juga meyakini bahwa kekhawatiran itu ada
agar manusia bisa lebih waspada. NR juga memiliki hobi membaca. Saat
muda dulu NR lebih berminat membaca buku-buku politik, ekonomi, namun
sekarang NR lebih banyak membaca buku-buku rohani untuk menguatkan
dan memberikan ketenangan saat NR merasa sulit. Selain berdoa dan
membaca, ketika NR merasa tertekan, NR biasanya akan pergi berjalan-
jalan naik motor.
NR terbiasa menjadikan istrinya sebagai tempat curhat untuk
mengeluarkan tekanan-tekanan besar yang dirasakannya. NR mengatakan
kepada istrinya kalau kebutuhan normal kita cukup, tapi kalau ada sekolah
baru kebutuhan kita kurang. NR juga meminta kepada istrinya agar tidak
dituntut lebih. Untuk menyiasati kekurangannya, NR mengurangi pola
konsumtif. NR tidak akan menuntut istrinya untuk memikirkan ide kegiatan
apa yang bisa dilakukan saat NR sudah pensiun nanti karena NR merasa itu
adalah tugasnya sebagai kepala keluarga, istri sudah terlalu sulit untuk
mengatur keuangan dan NR tidak mau menambah beban istrinya. NR
merasa istrinya memiliki peran yang besar pada kehidupan harian dan
nyatanya segala kesulitan dan kekurangan selalu berhasil NR lewati.
c.
Informan III (BY)
BY merupakan seorang karyawan di perusahaan LPG di Yogyakarta.
BY tinggal di daerah Sleman bersama istri dan seorang anak perempuannya.
Anak BY saat ini duduk di kelas dua sekolah menengah atas dan istri BY
merupakan seorang ibu rumah tangga. Mendekati masa pensiun, BY
membuka bisnis pangkalan LPG di rumahnya dan istrinya yang mengurus.
Bagi BY, pensiun merupakan keadaan di mana seseorang tidak
digunakan lagi oleh perusahaan sehingga sudah harus merencanakan untuk
ke depannya. Perencanaan dan persiapan yang dilakukan BY sudah
dilakukan sejak anaknya baru lahir. BY dan istri mendapatkan anak setelah
17 tahun pernikahan. Hal ini membuat BY menyadari bahwa ketika BY
pensiun nanti anaknya masih sekolah. Ketika anaknya lahir, BY
mendaftarkan anaknya untuk asuransi dan tabungan.
BY berharap semua yang sudah BY persiapkan akan cukup untuk
anaknya hingga lulus kuliah dan bahkan hingga anaknya berumahtangga.
BY memang merasa khawatir namun sejak awal sudah menyadari sehingga
BY membagi kekhawatirannya tersebut ke asuransi. BY sudah berusaha
menjalankan tanggungjawabnya sebagai orang tua. Meski begitu BY tetap
merasa bingung dan khawatir karena ketika pensiun nanti BY tidak lagi
melakukan rutinitas yang selama ini BY lakukan. BY juga merasa lebih
sensitif untuk hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dimasukkan ke hati
namun BY masukkan ke hati. BY juga merasa was-was mengenai
kehidupan setelah pensiun nanti. Ketika perasaan itu muncul, BY akan
jalan-jalan melihat-lihat produksi di pabrik atau jika di rumah BY akan
melihat-lihat kolam di belakang rumahnya.
Menurut BY, wajar jika seorang yang terbiasa kegiatan lalu tidak
memiliki kegiatan akan menjadi down. Saat hari-hari awal pensiun, orang
akan merasa “kluntang-kluntung” karena tidak memiliki kegiatan, namun
hal tidak boleh berlarut-larut karena akan berpengaruh pada kesehatan
sehingga perlu mencari kegiatan untuk mengisi waktu. Ketika BY merasa
khawatir, BY biasanya akan berdoa dan memasrahkan semuanya kepada
Allah. BY juga merasa sudah berusaha untuk memenuhi tugas dan
tanggungjawabnya sebagai orangtua.
BY sudah merasa siap menghadapi masa pensiun karena secara
finansial, BY sudah berusaha mempersiapkan semua kebutuhan. BY merasa
belum ada pengaruh pada kehidupannya karena masih ada support dana. BY
juga menyadari adanya post power syndrome namun BY merasa tidak
mengalaminya karena BY sudah menyiapkan dana, menyiapkan kegiatan
yang akan dilakukan untuk mengisi hari tuanya yaitu bisnis pangkalan LPG,
inventaris rumah, membantu memberikan pinjaman dengan tambahan
pendapatan, serta mencari kegiatan yang positif seperti mengikuti pengajian
dengan berbagai kelompok.
Dalam dokumen
Regulasi emosi dalam menghadapi masa pensiun pada karyawan pria pekerja tunggal dengan anak yang masih sekolah.
(Halaman 52-61)