• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I : PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Penelitian ini mengkaji tentang studi etnografi kawanua atau orang Minahasa yang merantau di kota Medan. Penelitian didasarkan pada ketertarikan peneliti untuk melihat bagaimana keberadaan orang Minahasa di kota Medan dalam beradaptasi dengan kebudayaan di Medan saat ini. Di samping itu penelitian ini juga akan merujuk kepada tumbuhnya gejala etnisitas yang dialami oleh sesama orang Minahasa yang hidup dan menetap di kota Medan saat ini serta bagaimana orang Minahasa sebagai perantau beradaptasi dan membentuk pola – pola interaksi dalam proses sosial mereka di tengah masyarakat kota Medan umumnya .

Sulit rasanya untuk menemukan orang Minahasa di Kota Medan. Orang Minahasa bukanlah suku asli yang secara historis telah ada di kota Medan sejak zaman dahulu. Di kota Medan sendiri persebaran orang Minahasa terpencar dan tidak berkelompok, artinya tidak ada daerah tertentu yang dijadikan tempat tinggal secara berkelompok oleh orang Minahasa. Orang Minahasa tersebar tergantung dimana dia mendapatkan tempat tinggal saat awal mula bermigrasi ke kota Medan. Dari sisi mata pencaharian, orang Minahasa di Kota Medan bekerja pada sektor-sektor formal dan informal sebagaimana masyarakat lainnya. Tidak ada sistem mata pencaharian tertentu yang menurut pandangan masyarakat dikerjakan

oleh orang Minahasa contohnya orang Tionghoa selalu dikaitkan dengan pedagang dan wirausaha. Menurut pengamatan yang beberapa kali telah dilakukan penulis, kebanyakan orang Minahasa yang ada di kota Medan menganut agama Kristen, hal itu disebabkan oleh daerah asal mereka yaitu Sulawesi Utara yang penduduknya di dominasi oleh agama Kristen. Orang Minahasa di Kota Medan pada saat ini mulai membangun suatu kekuatan untuk mempertahankan kebudayaan mereka agar tidak hilang saat berada di daerah perantauan. Mereka membentuk asosiasi serta perkumpulan orang minahasa, hal ini dilakukan agar ke depannya kebudayaan serta tradisi yang mereka miliki tidak hilang dengan adanya hubungan interaktsi yang kuat antara orang Minahasa dengan orang-orang dari suku yang lainnya.

Etnis memiliki arti yang sama dengan suku bangsa, secara defenitif diartikan sebagai himpunan manusia karena kesamaan ras, agama , asal usul bangsa ataupun kombinasi dari kategori tersebut yang terikat pada sistem nilai budaya. Etnis sebagai suatu kelompok atau himpunan manusia terbentuk karena adanya ciri yang ditentukan oleh kelompok itu sendiri, yang kemudian membentuk pola tersendiri dalam hubungan interaksi antara sesamanya ( Barth, 1988:11 ). Secara umum memang hal ini dapat dinilai sebagai suatu kriteria, bagaimana seseorang atau sekumpulan orang yang hidup dalam suatu komunitas suku bangsa dicirikan sebagai anggota suku bangsa tersebut akibat adanya beberapa kesamaan.

Dalam bahasa popular, etnik merupakan kumpulan masyarakat yang mendiami sebuah wilayah yang memiliki identitas dan kebiasaannya tersendiri dan berbeda dengan masyarakat lainnya. (Purna Made I, 2013:9) Artinya ada perbedaan yang ditunjukan oleh setiap kelompok etnis yang hidup dan menetap di suatu daerah.

Etnisitas secara umum lebih kepada penggunaan simbolik dari berbagai aspek kebudayaan untuk membuat perbedaan antara orang minahasa dengan kelompok yang lainnya . Fredrik Barth mengatakan kelompok etnik yang dapat diidentifikasikan sebagai suku bangsa yakni, suatu kelompok etnik yang memiliki ciri dan kebersamaan secara intern dan perbedaan secara ekstern dengan kelompok – kelompok yang lainnya tidak hanya karena memiliki nilai budaya, tetapi juga bahasa yang khas yang menjadi identitas kelompoknya. (Barth dalam Purna Made I, 2013: 11)

Persoalan etnisitas di era ini sering ditemukan di daerah perkotaan, karena kota merupakan tempat bertemunya masyarakat dari berbagai suku bangsa oleh berbagai faktor. Di tengah proses sosial di masyarakat perkotaan, masyarakat dari berbagai suku bangsa tersebut giat sekali mempertahankan kebudayaan yang mereka miliki dengan melakukan interaksi dan adaptasi khusus terhadap orang yang berasal dari suku bangsa yang sama dengan mereka , misalnya dalam proses komunikasi sehari-hari masyarakat dari suku bangsa yang sama menggunakan bahasa adat mereka dalam berkomunikasi. Kota Medan merupakan sebuah daerah

yang memiliki keberagaman suku yang sangat besar, keberagaman tersebut menunjukan bahwa di Kota Medan semua suku bangsa diterima keberadaannya dan mendapatkan perlakuan yang sangat baik dari suku-suku yang lainnya.

Dalam persoalan etnisitas timbul sebuah kesatuan masyarakat atau kumpulan masyarakat yang berasal dari satu kesatuan dengan ciri – ciri yang hampir sama. Suku bangsa diartikan sebagai kesatuan kesatuan manusia atau kolektifitas yang terikat oleh kesadaran akan kesatuan kebudayaan, sedangkan kesadaran itu sering dikuatkan oleh kesatuan bahasa ( Koentjaraningrat ,1990 ). Perlu dipahami maksudnya di sini adalah kesatuan masyarakat yang terbentuk dari suku bangsa ini memang didasarkan pada kesamaan tradisi dan adat istiadat terkait dengan cara mereka untuk mengenang bahwa mereka berasal dari tradisi yang sama dan kebiasaan yang sama, dalam merespon proses proses sosial yang ada di sekeliling mereka, dan itu diekspresikan oleh kesatuan masyarakat tersebut dengan bahasa yang sama dalam interaksi sesama suku bangsa.

Jika kita melihat kelompok etnis dalam sebuah kelompok masyarakat, biasanya dapat kita identifikasikan dengan ciri-ciri tertentu, misalnya dari ciri rasa tau warna kulit, dialeg dalam berbicara, dan ciri-ciri yang lainnya.

Pendapat Narroll (1964) bahwa kelompok etnis dikenal sebagai suatu populasi yang ;

” secara biologis mampu berkembang biak dan bertahan, mempunyai nilai-nilai budaya yang sama dan sadar akan rasa kebersamaan dalam suatu bentuk budaya , membentuk jaringan komunikasi dan interaksi sendiri serta menentukan cirri kelompoknya sendiri yang diterima oleh kelompok lain dan dapat dibedakan dari kelompok populasi lain “. (Barth, 1969:11)

Dalam penelitian ini penulis tidak hanya melihat sisi orang Minahasa di kota Medan melalui pendekatan teori etnisitas saja, melainkan beberapa pendekatan yang di rasa berkesinambungan terhadap proses etnisitas suatu suku bangsa terhadap masyarakat sekitarnya. Misalnya, teori-teori dalam studi Antropologi Perkotaan. Dalam studi Antropologi perkotaan dapat dilihat beberapa kajian terkait dengan gejala migrasi, strategi adaptasi, dan hubungan antar etnis perkotaan yang timbul dalam realitas sehari-hari. penelitian akan diarahkan untuk melihat proses masyarakat-masyarakat tersebut dalam beradaptasi di lingkungan yang baru dan juga melihat orang Minahasa dalam kaitannya dengan gaya hidup mereka di Kota Medan. Dalam konteks Penelitian ini, penulis juga tidak lupa mengamati bagaimana adaptasi yang dilakukan bagi mereka yang menetap cukup lama dan mereka yang masih baru menetap. Secara khusus penekanannya adalah bagaimana orang-orang perantau harus menyesuaikan diri kepada budaya dan masyarakat daerah rantau kepada budaya masyarakat penerim. (Bruener oleh Pelly Usman, 1994)

Dalam penelitian ini penulis juga mencoba mengungkap secara umum apa yang menjadi tujuan bagi orang minahasa bermigrasi ke kota Medan dan faktor faktor yang mendorong mereka sampai ke Medan ,

beserta dengan segala bentuk misi budaya1

Kecenderungan masyarakat luar terhadap kehidupan di daerah perantauan yaitu bagaimana mereka yang tergolong satu etnis berkumpul bersama dan membangun sebuah interaksi dalam wadah perkumpulan tertentu secara perlahan-lahan akan muncul sebuah perasaan bahwa mereka seperti berada di kampung halaman sendiri dengan berkumpul bersama dengan sesama kelompok etnis sendiri, perasaan diharapkan terpacu kepada munculnya proses detribalitas

yang akan mereka sampaikan dalam proses adaptasi mereka sehari-hari dengan masyarakat yang luas dari berbagai elemen suku bangsa.

2

Beberapa pengertian dan pemahaman mengenai suku bangsa dan pola adaptasi yang mereka lakukan dalam proses sosialisasi dengan masyarakat secara umum, akan menjadi hal yang secara serius diteliti oleh penulis terutama orang-orang Minahasa di kota Medan, serta bagaimana mereka beradaptasi dan berkembang menjadi masyarakat yang berbaur dengan golongan masyarakat dari etnis-etnis lainnya, dan juga bagaimana mereka sesama etnis Minahasa menjalin komunikasi dan menjaga

seakan mereka sedang memberikan perasaan klimaks terhadap etnis mereka sendiri serta merasa ingin selalu berkumpul bersama dan kembali seperti keadaan di kampung halaman sebelumnya.

1

Misi budaya adalah seperangkat tujuan yang diharapkan dicapai oleh anggota suatu masyarakat tertentu,

yang didasarkan pada nilai-nilai dominan dari pandangan dunia masyarakat tersebut (Usman Pelly , 2013:11)

2

proses menjadi bersifat kesukuan kembali yang memicu kepada timbulnya rasa idealisme dan individualism bahwa suku bangsanya yang ada disitu satu-satunya menjadi lebih homogen (Isaac , pemujaan terhadap kelompok etnis)

nilai kebudayaan asal yang sebelumnya telah mereka bawa dari daerah asal mereka atau menjalankan misi budaya3

Pada penelitian ini migrasi memiliki kesamaan arti dengan basiar. Dalam konsepsi pemikiran orang minahasa, basiar yang artinya adalah berkunjung atau menyinggahi suatu tempat juga dapat dikatakan sebagai bentuk kesamaan dimana seseorang melakukan kunjungan ke suatu tempat dan menetap dalam tempo waktu tertentu

agar budaya minahasa sendiri tetap lestari dan tidak hilang pada diri mereka.

1 . 2 Tinjauan Pustaka

Dokumen terkait