RENCANA PENGELOLAAN HUTAN JANGKA PANJANG KESATUAN PENGELOLAAN HUTAN LINDUNG
KEPALA UPT KPH BALI TENGAH
1.1. Latar Belakang
Bali merupakan satu kesatuan ekosistem pulau dalam suatu kesatuan wilayah, ekologi, sosial dan budaya, serta ekonomi, sehingga pembentukan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) pada keseluruhan kawasan hutan di Provinsi Bali merupakan langkah penting dan bersifat strategis.
Berdasarkan atas kewenangan Pemerintah Provinsi Bali dengan memperhatikan aspirasi dan mengingat tipologi karakteristik Bali, telah terbit Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor : 2 Tahun 2008, tanggal 8 Juli 2008, tentang Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah Provinsi Bali. Dalam Perda ini telah ditetapkan antara lain pembentukan institusi pengelola hutan pada 4 (empat) wilayah kelola hutan dalam bentuk Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), yaitu:
1. UPT KPH Bali Barat.
2. UPT KPH Bali Tengah.
3. UPT KPH Bali Timur.
4. UPT Tahura Ngurah Rai.
Arah pengelolaan organisasi dari keempat wilayah kelola hutan di atas pada prinsipnya sama, yakni diarahkan menjadi organisasi yang mampu memperoleh pendapatan dan membiayai dirinya sendiri dan mampu meminimumkan anggaran pemerintah melalui pengelolaan potensi sumber daya hutan yang ada dan bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan pengelolaan hutan.
Khusus untuk UPT KPH Bali Tengah kawasan hutannya berupa hutan lindung seluas 14.651,32 ha (100%) yang terbagi ke dalam 5 Register Tanah Kehutanan (RTK) yang luasnya sangat bervariasi, terkecil RTK 3/Gunung Silangjana seluas 415,0 ha dan yang terluas adalah RTK 4 /Gunung Batukaru, seluas 11.899,32 ha. Kelima RTK tersebut kondisinya tersebar di 4 Daerah Aliran Sungai (DAS), yaitu DAS Leh
RENCANA PENGELOLAAN HUTAN_TAHUN 2014 - 2023 – UPT KPH BALI TENGAH BAB I - 2 Balian (650,04 ha), Oten Sungi (5.737,20 ha), Pangi Ayung (1.423,79 ha) dan Sabah Daya (6.840,29 ha).
Ditinjau dari segi pengelolaan kawasan hutannya, di UPT KPH Bali Tengah ada 7 Resort Pengelolaan Hutan (RPH) yang luasnya sangat bervariasi, mulai dari yang terkecil yaitu RPH Petang 1.126,90 Ha dan terluas RPH Penebel seluas 3,124,32 Ha, serta 1 Pos Pemantau Hasil Hutan (PHH) Payangan.
Adanya luasan RPH tidak berimbang menyebabkan beban kerja untuk tiap-tiap RPH menjadi tidak sama. Sejak semula, pembangunan kehutanan menganut asas manfaat dan kelestarian secara seimbang, dan kebijaksanaan ini diarahkan untuk menciptakan kegiatan pengelolaan hutan yang kuat, didukung oleh kehutanan yang tangguh dengan tetap memperhatikan sumberdaya alam beserta lingkungan hidup sekitarnya.
Berdasarkan pengamatan di lapangan dan didukung dengan data laporan dari para Kepala Resort Pengelolaan Hutan (Ka RPH), kawasan hutan di UPT KPH Bali Tengah yang kesemuanya berupa hutan lindung kondisinya masih relatif baik walaupun sebagian kawasan telah dikerjakan oleh masyarakat menjadi kawasan budidaya pertanian lahan kering dan sisanya masih berpotensi untuk dikembangkan menjadi obyek wisata alam bila dilihat dari konfigurasi (landscaping) lahannya yang indah. Untuk itu dengan terbentuknya unit pengelolaan hutan KPH Bali Tengah diharapkan dapat mempercepat terciptanya pengelolaan hutan yang lestari.
Dalam rangka mewujudkannya secara nyata di lapangan, perlu mobilisasi sumber daya pembangunan yang ada, penganggarannya dapat didukung melalui dana APBN, APBD dan sumber lain yang tidak mengikat sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang ada.
Pembentukan KPH di Provinsi Bali yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Bali, yang mencakup beberapa aspek, yaitu perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan pengelolaan, pengendalian dan pengawasan, melelui pengelolaan hutan lestari dengan prinsip efosien dan efektif.
RENCANA PENGELOLAAN HUTAN_TAHUN 2014 - 2023 – UPT KPH BALI TENGAH BAB I - 3 Makna pengelolaan hutan lestari adalah mewujudkan standing stock tegakan hutan yang baik, sedangkan prinsip efisien adalah dengan memperhatikan unsur-unsur penyelenggaraan pengelolaan hutan yang merupakan tugas pokok dan fungsi KPH dalam melakukan 5 (lima) kegiatan, yakni: managemen pengelolaan, tata hutan dan rencana pengelolaan, pemanfaatan dan penggunaan kawasan hutan, rehabilitasi/reklamasi serta perlindungan hutan dan konservasi alam. Selain itu, dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya, KPH berkewajiban pula untuk menjabarkan kebijakan kehutanan, melaksanakan kegiatan pengelolaan hutan secara utuh, melaksanakan pemantauan dan evaluasi serta membuka peluang investasi.
Dalam konteks penyelenggaraan pengelolaan hutan di wilayah UPT KPH Bali Tengah, pada tahap awal perlu dilakukan penyusunan rencana pengelolaan hutan yang di awali dengan penyusunan dan penetapan tata hutan yaitu kegiatan rancang bangun unit pengelolaan hutan sesuai dengan juknis yang telah ditentukan, yang berguna sebagai pedoman pelaksanaan dan standar evaluasi kinerja, sehingga terbangun wujud nyata KPH sesuai target yang ditetapkan dengan kejelasan posisi wilayah pengelolaan, organisasi, hak, tugas pokok dan fungsi, jenis aktivitas pembangunan, struktur implementasi pelimpahan kewenangan pengelolaan, pembinaan dan pengendalian. Untuk menjamin penyusunan rencana pengelolaan hutan KPH Bali Tengah agar penataan hutannya selaras dengan kepentingan pengelolaan dan pemanfaatannya, maka diperlukan pengaturan peruntukan kawasan hutan berupa pembagian ke dalam blok/petak yang diikuti dengan kegiatan-kegiatan pada masing-masing petak serta penetapannya didasarkan pada aspek potensi sumber daya alam, sosial, ekonomi dan budaya masyarakat serta rencana pembangunan wilayah.
Penyusunan rencana pengelolaan hutan KPH Bali Tengah ini, merupakan perwujudan komitmen dari para pihak, sehingga di dalam penyusunannya perlu mempertimbangkan internalisasi rencana pengelolaan yang berwawasan lingkungan ke dalam konteks perencanaan pembangunan dan pengembangan wilayah Pemerintah Provinsi Bali. Hal ini mengandung maksud, bahwa Rencana Pengelolaan Hutan KPH Bali Tengah berfungsi sebagai dasar akuntabilitas kinerja pemerintah
RENCANA PENGELOLAAN HUTAN_TAHUN 2014 - 2023 – UPT KPH BALI TENGAH BAB I - 4 daerah, yang penyusunannya mengacu pada tata ruang wilayah dengan mengakomodasikan berbagai kepentingan, terutama dalam kaitannya dengan upaya pembinaan, pengawasan dan pengendalian .
Rencana Pengelolaan Hutan KPH Bali tengah ini disusun dalam jangka panjang yaitu berjangka waktu 10 tahun sesuai dengan petunjuk teknis yang telah ditetapkan.
1.2. Tujuan
Pada hakekatnya tujuan penyusunan rencana pengelolaan hutan KPH Bali Tengah adalah untuk mewujudkan penyelenggaraan kehutanan dalam wadah UPT KPH Bali Tengah, agar proses pembangunan kehutanan dapat berjalan secara sistematis, terarah melalui pengelolaan hutan lindung (HL) yang telah tersusun, berdasarkan asas kelestarian hutan untuk menciptakan suatu sistem pengelolaan hutan yang optimal berdasarkan fungsi dan manfaatnya. Disamping itu, tujuan pokoknya adalah dalam kerangka menggali potensi kawasan hutan di wilayah UPT KPH Bali Tengah untuk bisa dikembangkan guna mendapatkan ” core bussines”.
(pengembangan potensi untuk mendapatkan nilai tambah)
1.3. Sasaran
Sasaran penyusunan rencana pengelolaan hutan KPH Bali Tengah adalah terwujudnya rencana pengelolaan hutan di seluruh kawasan hutan lindung yang terdapat dalam wilayah UPT KPH Bali Tengah. Pengelolaan pada tiap-tiap kawasan hutan tersebut, berdasarkan tipologi wilayah, ekologi, kondisi sosial ekonomi, budaya masyarakat yang berada di dalam dan di sekitar kawasan hutan. Sasaran ini secara keseluruhan akan dilakukan secara bertahap disesuaikan dengan skala prioritas dalam pemanfaatan setiap ruang atau unit struktur hutan dalam kewenangan pengelolaan hutan KPH Bali Tengah.
RENCANA PENGELOLAAN HUTAN_TAHUN 2014 - 2023 – UPT KPH BALI TENGAH BAB I - 5 1.4. Ruang Lingkup
Ruang lingkup rencana pengelolaan hutan ini mencakup area yang telah ditetapkan sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Bali Tengah Provinsi Bali dengan kawasan hutannya berupa hutan lindung seluas 14.651,32 ha yang terbagi kedalam 5 Register Tanah Kehutanan (RTK) yaitu:
kelompok hutan Puncak Landep (RTK 1), kelompok hutan Gunung Mungsu (RTK 2), kelompok hutan Gunung Silangjana (RTK 3), kelompok hutan Gunung Batukaru (RTK 4) dan kelompok hutan Munduk Pangajaran (RTK 5). Uraian serta analisis dan arahan pengelolaan yang mencakup deskripsi lingkungan biofisik, sosial ekonomi, dan budaya serta potensi pariwisata, identifikasi dan analisis masalah yang sudah ada dan akan timbul, penyusunan strategi dan rencana kegiatan pengelolaan teknis, termasuk analisis SWOT situasi pengelolaan hutan KPH Bali Tengah.