KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan
1.1 Latar Belakang
Sejak awal ’70-an, gerakan Islam ditingkat nasional telah memasuki bidang
ekonomi dengan diperkenalkannya sistem ekonomi Islam, sebagai alternatif
terhadap sistem ekonomi kapitalis dan sosialis. Wacana sistem ekonomi Islam itu
diawali dengan konsep ekonomi dan bisnis nonribawi. Sebenarnya sistem
ekonomi Islam itu mencakup semua aspek ekonomi sebagaimana telah
dirumuskan secara komprehensif oleh Umer Chappra dalam bukunya, The Future
of Economics. Namun dewasa ini terkesan bahwa ekonomi Islam itu identik
dengan konsep tentang sistem keuangan dan perbankan.
Di Mesir atas prakarsa Dr. Ahmad Najjar, dibentuk sebuah lembaga
keuangan pedesaan yang bernaman Bank Mit Ghamr pada awal tahun ’60-an.
Bank Mit Ghamr merupakan bank nonribawi yang menjadi sebuah contoh inisiatif
masyarakat, dari ide seorang cindikiawan, untuk melaksanakan syariat Islam
(Adiwarman Karim, 2007:23). Bank itu memang kemudian ditutup untuk alasan
politik di bawah rezim Jamal Abdul Nasr. Ini juga merupakan contoh dimana
sebuah negara ikut campur tangan dalam pelaksanaan ekonomi Islam, bukan
mendukung tetapi malah membubarkannya.
Salah satu tonggak perkembangan perbankan Islam di Dunia adalah
didirikannya Islamic Development Bank (IDB) pada tahun 1975, yang berpusat di
Jeddah. Islamic Development Bank yang fungsinya menyerupai Bank Dunia (The
dibentuk oleh Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang anggotannya terdiri dari
negara Islam, termasuk Indonesia. IDB menyediakan bantuan finansial untuk
pembangunan negara-negara anggotanya, membantu negara-negara yang menjadi
anggotanya untuk mendirikan bank Islam dinegaranya masing-masing, dan
memainkan peranan penting dalam penelitian ilmu ekonomi, perbankan dan
keuangan Islam.
Perbankan syariah telah mengalami perkembangan yang pesat dan
menyebar dibanyak negara, bahkan di negara-negara barat. The Islamic Bank
International of Denmark tercatat sebagai bank syariah pertama yang beroperasi
di Eropa, yakni pada tahun 1983 di Denmark (Erik Trolle-schultz, 1986:43-52.
Adiwarman karim,2007). Saat ini bank-bank besar dari negara barat, seperti
Citibank, ANZ Bank, Chase Manhattam Bank dan Jardine Fleming telah
membuka Islamic window agar dapat memberikan jasa-jasa perbankan yang
sesuai dengan syariat Islam.
Perkembangan perbankan syariah di Indonesia merupakan suatu perwujudan
dari permintaan masyarakat yang membutuhkan suatu sistem perbankan alternatif
yang selain menyediakan jasa perbankan/keuangan yang sehat, juga memenuhi
prinsip-prinsip syariah. Bank syariah pertama yang berdiri adalah Bank Muamalat
Indonesia (BMI) pada tahun 1992. Walaupun eksistensi perbankan syariah di
Indonesia berjalan lambat, tetapi perbankan syariah di Indonesia akan terus
Tabel 1.1
Eksistensi Bank Syariah di Indonesia dan Sumatera Utara Tahun 2015
No Bank Umum Syariah Indonesia Sumatera
Utara
1 PT Bank Syariah Muamalat Indonesia √ √
2 PT Bank Syariah Mandiri √ √
3 PT Bank Syariah Mega Indonesia √ √
4 PT Bank Syariah BRI √ √
5 PT Bank Syariah Bukopin √ √
6 PT Bank Panin Syariah √ √
7 PT Bank Victoria Syariah √
8 PT Bank BCA Syariah √ √
9 PT Bank Jabar dan Banten Syariah √
10 PT Bank Sumut Syariah √ √
11 PT Bank Syariah BNI √ √
12 PT Maybank Indonesia Syariah √ √
J U M L A H 12 10
Sumber : Statistik Perbankan Syariah, Bank Indonesia
Table 1.1 menunjukkan eksistensi perbankan syariah di Indonesia dan di
Sumatera Utara. Dari 12 perbankan syariah yang ada di Indonesia ternyata
sebanyak 10 bank atau 83 % ada dan beroperasi di Sumatera Utara. Dengan kata
lain, hampir semua perbankan syariah yang ada beroperasi di daerah Sumatera
Utara karena hanya 2 saja (PT Bank Victoria Syariah dan PT Bank Jabar dan
Banten Syariah) yang tidak / belum beroprasi di Sumatera Utara. Kondisi ini lebih
sempurna lagi karena masih ada 13 Unit Usaha Syariah yang juga memberikan
layanan dan fasilitas kepada masyarakat Sumatera Utara termasuk para pengusaha
Syariah bersama puluhan perbankan konvensional di Sumatera Utara diyakini
memberi corak beragam khususnya dalam hal pendanaan dan pembiayaan UKM.
Pematang Siantar atau yang biasa disingkat Siantar merupakan salah satu
kota di Provinsi Sumatera Utara terbesar kedua setelah Kota Medan. Posisi
koordinatnya adalah 2°53′20” - 3°01′00” LU dan 99°1’00” - 99°6′35” BT. Berada
di tengah- tengah Kabupaten Simalungun dengan luas daratan sebesar 79,971 Km²
terletak 400-500 meter diatas permukaan laut (pematangsiantarkota.go.id). Kota
Pematang Siantar yang berjarak 128 km dari Kota Medan dan 50 km dari Parapat
sering menjadi tempat peristirahatan bagi para wisatawan yang ingin menuju ke
Danau Toba.
Kota Pematang Siantar merupakan tempat yang strategis karena berada di
jalur perlintasan Kabupaten Simalungun. Maka dari itu, kota ini potensial menjadi
pintu gerbang kegiatan ekonomi domestik jika dilihat dari tata letak geografisnya,
dengan demikian Kota Pematang Siantar bisa menyaingi Kota Medan yang
merupakan salah satu kota yang menjadi pusat perekonomian di Sumatera Utara.
Kota Pematang Siantar dipimpin oleh seorang walikota. Secara administratif,
Pematang Siantar terdiri atas 8 kecamatan, dengan memiliki jumlah penduduk
sebanyak 259.809 jiwa (2014). Selama tahun 2014 perekonomian Kota Pematang
Siantar tumbuh sebesar 5,16 % (pematangsiantarkota.go.id).
Pertumbuhan ini berkaitan dengan terjadinya arus dana, baik dari
masyarakat maupun dunia usaha. Terutama realisasi kredit usaha rakyat dari pihak
perbankan untuk Kota Pematang Siantar yang terus mengalami peningkatan hal
Dalam pelaksanaan kegiatannya usaha kecil menengah (UKM) erat
kaitannya dengan lembaga keuangan yaitu perbankan, baik untuk menyimpan
hasil usahanya yang berupa uang ataupun mendapatkan kredit modal untuk
memulai suatu usaha serta untuk melakukan ekspansi usaha. Semua pihak harus
berkerjasama dan saling membantu satu sama lain, sehingga sasaran dan tujuan
pengembangan UKM yakni meningkatkan kesejahteraan ekonomi tercapai dengan
efektif.
Sementara di Indonesia terkhususnya Kota Pematang Siantar masih banyak
perbankan yang masih berbasis bunga yang termasuk riba. Dalam agama Islam,
riba termasuk hal yang diharamkan oleh agama Islam, hal ini sejalan dengan
keluarnya fatwa MUI 16 Desember 2003 yang mengharamkan Bunga Bank. Salah
satu alternatif para pelaku usaha Muslim dalam menanggulangi masalah riba
dalam perbankan adalah beralih dari perbankan konvensional kepada perbankan
yang berbasis syariah.
Eksistensi perbankan syariah serta Unit Usaha Syariah di Kota Pematang
Siantar terbilang lambat bila dibandingkan dengan eksistensi bank syariah di
Sumatera Utara. Dari 10 perbankan syariah yang beroperasi di Sumatera Utara,
baru 5 perbankan syariah saja yang beroperasi di Kota Pematang Siantar yang
berarti dari sedemikian banyak perbankan syariah yang ada di Indonesia hanya
41% yang beroperasi di Kota Pematang Siantar. Eksitensi perbankan Syariah yang
Tabel 1.3
Eksistensi Bank Syariah di Sumatera Utara dan di Kota Pematang Siantar Tahun 2015
No Bank Umum Syariah Sumatera Utara Pematang
Siantar
1 PT Bank Syariah Muamalat Indonesia √ √
2 PT Bank Syariah Mandiri √ √
3 PT Bank Syariah Mega Indonesia √ √
4 PT Bank Syariah BRI √ √
5 PT Bank Syariah Bukopin √
6 PT Bank Panin Syariah √
7 PT Bank Victoria Syariah
8 PT Bank BCA Syariah √
9 PT Bank Jabar dan Banten Syariah
10 PT Bank Sumut Syariah √ √
11 PT Bank Syariah BNI √
12 PT Maybank Indonesia Syariah √
J U M L A H 10 5
Sumber : Statistik Perbankan Syariah, Bank Indonesia
Dengan adanya 2 sistem perbankan di Kota Pematang Siantar yaitu sistem
perbankan konvensional dan sistem perbankan syariah diyakini menimbulkan
konsekuensi kepada para pengusaha UKM khususnya pengusaha Muslim yang
sangat di tuntut agar tidak terlibat dengan riba. Pengusaha Muslim dengan
sendirinya diyakini terklasifikasi kepada 4 golongan berdasarkan sumber dana /
kredit / pembiayaan yang mereka gunakan. Empat golongan ini adalah :
1. Pengusaha Muslim yang sama sekali tidak terlibat dengan bank
manapun (Gol. A)
3. Pengusaha Muslim yang menggunakan jasa perbankan syariah saja
(Gol. C)
4. Pengusaha Muslim yang menggunakan jasa perbankan konvensional
dan perbankan syariah (campuran) (Gol. D)
Penyebab timbulnya 4 golongan pengusaha muslim berasal dari dua sisi.
Pertama, unsur keimanan dam ketaatan pada agama menyebabkan pengusaha
berbeda dalam tindakan dan pilihan. Kedua, unsur tarikan dari pihak perbankan
konvensional versus perbankan syariah dalam memperebutkan market share
menyebabkan pengusaha dengan sendirinya terpecah atau terklasifikasi.
Dengan kata lain eksistensi 2 sistem perbankan yang berbeda di tengah
masyarakat Pematang Siantar yang masyarakatnya mayoritas Muslim berjumlah
57,36% dari total penduduknya (http://simalungunkab.go.id), diyakini
menimbulkan konsekuensi yang sangat luas dan beragam sehingga relative
menarik diteliti secara ilmiah. Maka dari itu untuk mengetahui tingkat penerimaan
pengusaha Muslim terhadap perbankan dalam satu daerah yang mayoritas
penduduknya beragama Islam, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian
dengan judul “Analisis Penerimaan Pengusaha UKM Muslim Terhadap Institusi Perbankan di Kota Pematang Siantar”.