• Tidak ada hasil yang ditemukan

Di masa pandemi Covid-19 yang terjadi pada tahun 2020 pemerintah membuat peraturan bahwa segala aktivitas dilakukan dari rumah dimulai dari ibadah, kerja dan juga sekolah yang dilakukan secara daring. Adapun dalam Surat Edaran Nomor 15 pada Tahun 2020 yang berisi tentang diberlakukannya kegiatan belajar mengajar dari rumah dengan tujuan untuk memutus rantai penyebaran Covid-19 di Indonesia, kegiatan belajar mengajar ini dilakukan secara offline untuk semua pelajar baik dari sekolah dasar, sekolah menengah atas sampai dengan perguruan tinggi melakukan sistem pembelajaran seperti ini tentunya dengan tetap mematuhi protokol kesehatan walaupun dilakukan tidak berada di satu tempat yang sama yaitu di rumah masing-masing (https://www.kemdikbud.go.id/main/files/download/27bdb5850ac3939, diakses pada 15 Oktober 2021, pukul 15.30). Kegiatan belajar mengajar ini dinilai cukup efektif untuk memutus penyebaran Covid-19 karena pemerintah mengimbau kepada masyarakat bahwa semua aktivitas yang dilakukan di luar rumah kini harus dilakukan di dalam rumah pasalnya mereka harus tetap melakukan kewajibannya sebagai seorang pelajar. Oleh karena itu masyarakat menjadi sering berada di dalam rumah masing-masing untuk melindungi dirinya dan keluarganya agar tidak terkena virus Covid-19.

Namun dengan pembatasan aktivitas yang dianjurkan oleh pemerintah tersebut membuat masalah kesehatan mental di Indonesia bertambah lebih banyak dari sebelum terjadinya pandemi Covid-19. Hasil survei yang telah dilakukan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) pada tahun 2020 menyatakan bahwa sejumlah 64,3% masyarakat Indonesia khususnya remaja dengan rata-rata usia 14 tahun yang mengalami gangguan pada kesehatan mentalnya di antaranya yaitu depresi dan

gangguan kecemasan, hal tersebut membuktikan bahwa pandemi Covid-19 mengakibatkan terjadinya peningkatan masalah kesehatan mental dikutip dari (https://edukasi.kompas.com/read/2020/10/10/091500171/orangtua-dan-guru-ini-cara- kenali-dan-atasi-gangguan-mental-siswa?page=all diakses pada 15 Oktober 2021 pukul 16.00) Banyaknya remaja yang mengalami gangguan kesehatan mental tidak lain karena pandemi virus Covid-19 yang terjadi di Indonesia yaitu banyaknya orang yang terpapar virus Covid-19 sampai orang yang meninggal akibat virus Covid-19. Dari banyaknya remaja yang mengalami gangguan kesehatan mental tersebut tentunya tidak lepas dari kurangnya bimbingan orang tua dimana orang tua harus mengetahui perubahan yang terjadi pada anak remajanya dan hal tersebut perlu perhatian yang khusus serta kurangnya komunikasi antara orang tua dengan anak remajanya pun termasuk salah satu penyebab angka gangguan kesehatan mental pada remaja di Indonesia mengalami peningkatan.

Hal ini menarik untuk diteliti karena pada saat ini kesehatan mental telah menjadi perbincangan hangat di Indonesia Kesehatan Mental sama halnya dengan kesehatan fisik yaitu sama-sama harus dijaga dan diperhatikan khususnya bagi semua makhluk hidup yaitu baik dari anak-anak, remaja hingga dewasa agar mampu menjalani hidup dengan baik secara normal. Adapun Menurut (Chairunnisa Djayadin, 2020) menyatakan bahwa Mental yang sehat menjadikan seseorang mampu menjalani kehidupannya dengan baik secara normal karena di dalamnya terdapat jiwa yang sehat mampu menghadapi segala sesuatu masalah dengan baik. Mental yang sehat menjadikan jiwa yang sehat karena semua berasal dari pikiran jika pikiran seseorang sedang tidak baik maka akan berdampak juga pada kesehatan fisiknya yang mengakibatkan aktivitas mereka menjadi terganggu dan hal ini yang telah terjadi pada masyarakat Indonesia. Sebagaimana para ahli juga berpendapat bahwa menjaga kesehatan fisik harus sebanding dengan kesehatan mental agar tidak mengalami gangguan pada kesehatan mental seseorang (Setyaningrum, 2020).

Dari pernyataan tersebut sangat penting bagi kita sebagai makhluk hidup untuk selalu menjaga kesehatan mental dan kesehatan fisik agar tetap stabil dan mampu menghadapi

Commented [A3]: Klaim darimana kah? Ada data pendukung? Referensi?

Commented [A4]:

Commented [A5]: APA style? Coba cek ulang, ya?

segala situasi yang terjadi. Hal ini yang menjadi penyebab mengenai kesehatan mental di Indonesia karena masyarakat belum mampu menjaga kesehatan mental dan fisik secara seimbang selain itu juga banyak yang belum paham mengenai masalah psikologi.

Dari berbagai macam jenis gangguan kesehatan mental yang ada yang paling banyak dialami oleh masyarakat Indonesia adalah gangguan kecemasan khususnya remaja. Hal ini dibuktikan oleh (Linda Fitria, 2021) anxiety atau gangguan kecemasan merupakan kondisi psikologis tertinggi yang banyak dialami oleh masyarakat Indonesia.

Kebanyakan dari remaja menyerap banyak informasi melalui internet bahwa Covid-19 merupakan penyakit menular yang mematikan dan hal tersebut yang mengakibatkan cemas berlebihan. Menurut Harlock dalam (Suryaatmaja, 2020) anxiety atau kecemasan menimbulkan perasaan-perasaan yang tidak nyaman seperti perasaan takut, khawatir, gelisah yang terjadi pada diri seseorang yang membuat hal tersebut akan benar-benar terjadi. Munculnya kecemasan yang terjadi pada remaja tersebut berasal dari pikiran yang membuat mereka merasakan cemas dan gelisah karena perasaan takut yang terus menghantui akibat bahaya virus Covid-19 dimana virus ini mudah menular tanpa memandang usia. Remaja merupakan seseorang yang masih perlu bimbingan dan pengetahuan mengenai emosi dari kurangnya pengetahuan serta bimbingan tersebut membuat mereka kurang bijak dalam menanggapi suatu permasalahan (Nafisah, 2021).

Dari sinilah peran orang tua sangat dibutuhkan untuk membimbing serta memberikan edukasi mengenai emosi yang terjadi pada anak remajanya karena remaja merupakan masa peralihan yang membuat mereka masih labil dan lebih mudah terpengaruh. Emosi yang terjadi pun perlu diperhatikan karena emosi merupakan bagian dari perasaan takut, marah sedih, kecewa dan sebagainya yang harus di ekspresikan.

Mengenai kesehatan mental anak khususnya remaja yang sedang terjadi di Indonesia selain peran orang tua juga diperlukan peran komunikasi orang tua dalam keluarga karena pasalnya lingkungan pertama anak yaitu keluarganya yang dimana mereka di bimbing oleh orang tua hingga bisa menemukan jati dirinya. Menurut Yuli,

Commented [A6]: Hal ini dibuktikan oleh Linda Fitria (2021) yang menyatakan bahwa XXXXX

Commented [A7]: Pls check…APA style??

2020 dalam (Chairunnisa Djayadin, 2020) semua yang diberikan baik dari perkataan, sikap, perbuatan yang dilakukan orang tua ke anak akan mempengaruhi kepribadian anak, karena anak memiliki kemampuan untuk mengingat kuat. Oleh karena itu sebagai orang tua harus mencontohkan sikap, perkataan dan perbuatan yang baik agar tertanam pada anak sampai mereka dewasa nanti selain itu orang tua pun harus mampu berkomunikasi dengan baik pada anaknya terutama remaja yang terbilang masih labil. Komunikasi yang dilakukan oleh orang tua dengan anak terutama remaja membuat mereka akan lebih terbuka dan orang tua dapat mengetahui apa yang sedang terjadi dan dialami oleh mereka yang diharapkan kelak akan berdampak baik terhadap kesehatan mental dirinya terutama pada saat sekarang ini di tengah pandemi Covid-19. Tetapi berdasarkan dengan fenomena tersebut tampaknya peran komunikasi orang tua masih kurang sehingga anak mengalami gangguan pada kesehatan mentalnya. Oleh karena itu pentingnya membangun peran komunikasi orang tua pada anak remajanya agar kesehatan mentalnya tetap terjaga dengan baik.

Dari fenomena tersebut bisa dikatakan bahwa peran komunikasi orang tua pada anak remajanya masih belum dilakukan dengan maksimal. Dengan terjalinnya komunikasi orang tua pada anak khususnya remaja perlu dilakukan dengan baik agar psikologis mereka tetap stabil. Adapun penelitian ini dilakukan oleh (Chairunnisa Djayadin, 2020) yang menelaah tentang bagaimana keluarga mengaplikasikan pola komunikasi di tengah pandemi Covid-19 mengenai kesehatan mental anak dan hasil penelitian pun menyatakan bahwa dengan menerapkan pola komunikasi keluarga dinilai cukup efektif dan komunikasi yang dilakukan sudah terbilang baik karena keluarga memahami pentingnya kesehatan mental pada anak. Selain itu juga mengaplikasikan pola komunikasi keluarga dapat menumbuhkan keharmonisan di dalam keluarga sehingga anak pun tidak mudah stress dan tidak mengalami kecemasan berlebih ditengah pandemi Covid-19 karena merasakan keyamanan. Oleh karena itu peran keluarga atau orang tua sangat penting untuk mengaplikasikan pola komunikasi keluarga yang baik bagi

kesehatan psikologis dan fisik pada anak terutama di tengah Covid-19 dimana remaja membutuhkan bimbingan sekaligus terjalinnya komunikasi yang baik dengan anak remajanya agar mereka tidak merasa sendiri.

Berdasarkan pra riset yang dilakukan oleh peneliti khususnya di Karawang hasil yang diperoleh yaitu bahwa peran komunikasi orang tua sangat dibutuhkan karena orang tua perlu mengetahui apa yang sedang dirasakan dan dialami oleh anak remajanya terkait masalah kesehatan mental. Masalah kesehatan mental yang dialami oleh remaja di tengah pandemi Covid-19 salah satunya stress akibat kecemasan, depresi dan sebagainya. Oleh karena itu pentingnya menjalin komunikasi yang lebih baik lagi antara oang tua dan anak remajanya, dengan peran komunikasi orang tua pada anak remajanya bertujuan juga agar remaja dapat saling terbuka dan mereka tidak merasakan sendiri dalam menghadapi situasi yang terjadi mengakibatkan kesehatan mental mereka terganggu sehingga akan berdampak bagi kesehatannya baik fisik mauapun mental.

Pada pra riset yang dilakukan tujuan peneliti melakukan penelitian ini untuk menjelaskan tentang bagaimana peran komunikasi orang tua pada remaja di Karawang terkait dengan keadaan seperti sekarang ini di tengah pandemi Covid-19. Pada penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian kualitatif, dengan pendekatan fenomologi.

Pengambilan data dilakukan dengan melakukan teknik wawancara, observasi serta dokumentasi bersama orang tua dan remajanya. Penelitian ini juga menggunakan purpossive sampling, lokasi penelitian di Karawang dengan judul “Peran Komunikasi Orang Tua Pada Kesehatan Mental Remaja di Tengah Pandemi Covid-19 di Karawang”.

Dokumen terkait