BAB I: PENDAHULUAN :
1.5 Luaran yang diharapkan
Selaras dengan target, luaran penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut.
(1) Laporan lengkap sebagai dokumentasi kinerja program studi linguistik sebagai sumber data untuk menyusun bahan ajar matakuliah Analisis Kesalahan Berbahasa di program studi Pendidikan Bahasa Indonesia (dan Linguistik) atau Error Analysisdi program studi Pendidikan Bahasa Inggris (dan S2 Pendidikan Bahasa Inggris).Laporan yang dimaksud merupakan dokumentasi program studi dalam rangka memersiapkan akreditasi program studi linguistik.
(2) Aartikel ilmiah yang layak terbit di publikasi nasional atau publikasi internasional.
(3) Artikel yang dimaksud merupakan salah satu dokumentasi kinerja program studi dalam Standar 4 dan standar 7 Borang Akreditasi BAN PT.
(4) Dokumen makalah yang dipresentasikan pada seminarprogram studi atau nasional pun internasional.
(5) Sumbangan data atau referensi perkulihan matakuliah penerjmahan di prodi Linguistik.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini memaparkan dua hal pokok menulis sebagai suatu ilmu dan ketrampilan dan penerjemahan sebagai suatu ilmu dan ketrampilan yang lebih banyak dipelajari oleh yang membidangi bahasa di program studi bahasa seperti program studi pembelajaran bahasa dan linguistik di di jenjang S1 danS2.
2.1 Menulis sebagai suatu ilmu
Para pakar berpendapat bahwa menulis merupakan kegiatan menuangkan idegagasan dengan menggunakan bahasa tulis (Tarigan, 1986:15). Sama dengan Tarigan, Sumarno (2009) mengatakan bahwa menulis merupakan kegiatan mengekpresikan gagasan, ide, pendapat, atau pikiran serta perasaan dengan bahasa tulis.
Dengan cara lain, Sumarno (2009) mengatakan bahwa menulis merupakan kegiatan meletakkan simbol grafis yang mewakili bahasa tetapi yang harus mampu dimengerti pembaca. Lalu Semi (2007:14) mengatakan bahwa menulis adalah suatu proses yang kreatif mengalihkan atau mentransfer gagasan ke dalam lambang-lambang huruf. Mirip dengan Semi, Nurgiantoro (1988) berpendapat bahwa menulis merupakan aktivitas aktif dan produktifmenghasilkan bahsa tulis yang mengandung ide.
Banyak lagi pakar lain yang berpendapat kurang lebih sama, dan secara singkat dapat diramu sebagai berikut. Menulis sebagai suatu ilmu merupakan kegiatan sistematis dalam menuangkan ide, pikiran, pendapat, perasaan ke dalam bahasa tulis dengan suatu syarat menggunakan aturan standar bahasa yang dimaksud supaya dapat dipahami atau dimengerti dengan mudah oleh para pembaca. Syarat menguasai dan menggunakan
aturan standar (grammar) adalah mutlak seperti memilih kata, merangkaikan kata, merangkaikan kalimat, merangkaikan paragraf, dan merangkaikan sub-sub bab menjadi karya tulis
Karena syarat yang dimaksudkan itu, Solehan, dkk (2008: 9.4) mengatakan bahwa kemampuan menulis bukanlah kemampuan yang diperoleh secara otomatis. Dengan kata lain,kemampuan menulis seseorang bukan dibawa sejak lahir, melainkan diperoleh melalui tindak pembelajaran. Yang dipelajari adalah tentang bagaimana membangun kalimat yang benar dan efektif, bagaimana mengembangkan ide pokok dengan ide pendukung dalam paragraph, dan bagaimana mengembangkan ide untuk membentuk suatu produk yang disebut esei, makalah, artikel, dan lain-lain.
Kegiatan kreatif ataupun produktif menulis untuk mengembangkan ide itu bukan tanpa tujuan. Beda pakar terkadang bisa beda pendapat tentang hal ini. Semi (2007) mengatakan tujuan menulis adalah untuk menceritakan sesuatu, untuk memberikan petunjuk atau pengarahan, untuk menjelaskan sesuatu, untuk meyakinkan, untuk merangkum, dan lain-lain. Beda dengan Semi, Sumarno, dkk. (2009) mengatakan tujuan menulis adalah menginformasikan, membujuk, mendidik, menghibur, dan lain-lain.
Sesuai dengan apa kata para pakar itu, peneliti berpendapat, dan mudah-mudahan tidak berbeda dengan yang lain, bahwa tujuan menulis sesuai dengan bentuk atau produk yang mau dihasilkan, seperti makalah, artikel, skripsi, tesis, disertasi, buku, autobiografi, dan lain-lain. Dalam skop yang lebih rinci, tujuan menulis dapat dibedakan berdasarkan jenre seperti, narasi untuk menceritakan, prosedur untuk menjelaskan proses, deskripsi untuk memeparkan, eksplanasi untuk menjelaskan, dan argumentasi untuk membuktikan
dan meyakinkan. Baca misalnya building up good paragraph dalam Writing An Introduction oleh Tans (2014).
Dalam suatu karya produktif seperti artikel hasil penelitian, tujuan menulis sangat jelas dalam formulasi tujuan penulisan artikel yang sesuai dengan rumusan masalah.
Tetapi yang perlu dicatat yaitu bahwa tujuan berdasarkan genre dapat terjadi dalam produk tulisan apa saja termasuk artikel hasil penelitian untuk dipublikasi. Tidak ada misalnya suatu karya tulis yang semata-mata menggunakan teknik narasari saja atau deskripsi saja atau argumentatif saja dalam mengembangkan ide suatu karya tulis.
Banyak pakar mengemukakan pendapat yang hampir sama tentang bagaimana menulis yang baik dengan menggunakan bahasa yang baik, seperti Tans (2014), Sofyan, dkk. (2007), Nurhidayah (2006), atau Setiorini (tanpa tahun), dan Faisal (2008). Secara umum dapat disimpulkan bahwa menulis dengan menggunakan bahasa yang baik, termasuk bahasa Indonesia, harus memenuhi kriteria atau syarat-sarat yang berkaitan dengan dua hal sebagai berikut:
(1) Bahasa yang digunakan yang meliputi:
Menulis kalimat yang utuh
Pemakaian bentuk kata yang tidak rancu
Pemakaian keterangan yang lengkap
Urutan kata yang tidak menyalahi aturan berbahasa
Pemakaian kata atau ungkapan penghubung yang tepat
Pemakaian bentuk dan pilihan kata yang cermat
Mmenggunakan ejaan yang benar
Menggunakan tanda baca yang tepat
(2) Ide tulisan yang yang: lugas, jelas, bertolak dari gagasan, formal, obyektif, ringkas dan padat, konsisten, menggunakan paragraf yang benar, merangkaikan paragraf yang benar.
Menutupi sub sesi ini, peneliti mau menggarisbawahi dua hal penting dalam menulis yang efektif yang diterapkan dalam penulisan ilmiah, yaitu penggunaan bahasa untuk tujuan efektif seperti unsur-unsur kohesif penulisan: referensi, substitusi, ellipsis, dan konjungsi, dan pengorganisasian ide dalam paragaf dan ide antara paragraph dan paragraph. Kedua hal ini menjadi indikator utama selain hal-hal teknis yang berkaitan dengan writing mechanics.
2.2 Menulis sebagai suatu ketrampilan
Mengawali sub sesi ini, perlu dicatat dan dicermati bahwa kompetensi atau kemampuan atau ilmu menulis melalui pembelajaran tidak secara otomatis dapat menulis yang readable dan understandable. Dua hal ini hanya dapat diperoleh hanya melalui latihan dan selalu menulis dan menulis. Pendapat ini berkaitan dengan kemapuan menulis yang menggarisbawahi kemampuan menulis yang aktif dan produktif. Dengan kata lain, tulisan yang baik dan memenuhi krieria readable dan understandable adalah yang ditulis oleh orang yang sering menulis. Pertanyaannya yaitu mengapa?
Seperti dikatakan di depan, kemapuan menulis dipelajari bukan dibawa sejak lahir.
Yang dibawa sejak lahir adalah kemampuan berbicara, artinaya tidak ada manusia yang lahir dan kemudian tidak mampu berbicara, kecuali ada hambatan-hambatan fisik atau alamiah. Dari sisi konsep atau pun sisi teori bahasa, seperti kata pakar di depan, bahwa
menulis adalah salah satu dari keempat ketrampilan berbahasa: mendengar, berbicara, membaca, dan menulis. Mendengar dan membaca termasuk ketrampilanreceptive, sedangkan berbicara dan menulis termasuk ketrampilan productive. Kalau menulis termasuk ketrampilan produktif, harus secara aktif dilakukan untuk menghasilkan produk yaitu karya tulis. Dalam menghasilkan produk yang layaksangat membutuhkan ketrampilan. Tentu ini membutuhkan kerja keras fisik dan otak, seperti halnya pemain bola kaki profesional membutuhkan fisik dan otak untuk berlatih kalau mau menjadi pemain terbaik dan mahal.
2.3 Masalah penerjemahan dan solusi
Secara singkat, penerjemahan adalah suatu ilmu terapan linguistik atau kebahasaan. Fokus ilmu penerjemahan adalah terjemahan bahasa sumber ke dalam bahasa target (sasaran) (Munday, 2001). Dia mengatakan “...as changingof an original written textin the original verbal language into a written text in a different verbal language”(peralihan bahasa sumber ke bahasa target). Sama halnya dengan Munday, Larson (1984)mengatakan bahwa penerjemahan adalah pengalihan makna bahasa sumber (source language) ke dalam bahasa sasaran (target language) oleh penerjemah dengan syarat (1) memiliki pengetahuan leksikon, tatabahasa, konteks tutur, dan budaya bahasa sumber, (2) mampu menemukan makna bahasa sumber dengan menganalisis teks bahasa sumber, dan (3) mampu mengungkapkan makna bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran dengan mengunakan kata, tatabahasa, dan budaya bahasa sasaran. Baca juga, misalnyaCatford (1965).
Berdasarkan pendapat-pendapat itu, secara sederhana dapat disimpulkan bahwa penerjemahan adalah ilmu yang berkonsentrasi pada kegiatan terjemahan itu sendiri, yaitu pengalihan makna atau ide atau pikiran atau gagasan bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran yang berdeda dari bahasa sumber tetapi tanpa merubah makna.
Namun terjemahan hanya dapat berjalan mulus bila bahasa sumber memenuhi syarat standar yang diketahui pula oleh penerjemah. Suatu artikel sulit diterjemahkan karena susah menangkap ide bahasa sumber. Untuk memastikan bahasa sumber suatu artikel sulit atau mudah diterjemahkan, penerjemah harus menguasai bahasa sumber dan bahasa target yang dimaksud. Pertanyaannya adalah bagaimana strategi menerjemahkan suatu karya tulis yang bahasnya sulit dimengerti.
Banyak strategi penerjemahan yang disampaikan para pakar penerjemahan.
Yang lazim diterapkan adalah strategi pergeseran atau kesepadananmakna dalam bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran (Mustagim, 2010). Dia menggarisbawahi bahwa tidak ada dua bahasa yang sama oleh karena itu tidak selamanya mudah untuk diterjemahkan ke dalam bahasa sasaran, apalagi kalau suatu tulisan tidak memenuhi syarat standar bahasa sumber. Pergeseran yang dimaksud dapat dibedakan atas:
(1)pergeseran tingkatan atau struktur dan (2) pergeseran kategori. Pergeseran kategori termasuk: pergeseran struktur, pergeseran kelas kata, pergeseran unit, pergeseran sistem intra. Banyak referensi tentang masalah dan solusi trjemahan oleh pakar penerjemahan, misalnya Simatupang (1993).
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Pendekatan
Penelitian ini menerapan pendekatan kualitatif dengan menonjolkan deskripsi data kasus. Tujuannya hanya untuk menemukan data kesalahan berbahasa Indonesia yang digunakan dalam menulis karya ilmiah untuk dipublikasi dijurnal internasional.
3.2 Sumber data
Yang menjadi sumber data adalah lima artikel ilmiah yang ditentukan dan diambil secara acak dari akademisi Undana yang menulis artikel untuk diterjemahkan dan diterbitkan di salah satu jurnal internasional terakreditasi.Secara kebetulan penulis dimintai untuk menerjemahkan artikel-artikel tersebut.Dalam penelitian ini kelima artikel itu diberi kode: AA, AB, AC, AD, dan AE.
3.3 Prosedur memperoleh data
Keenam artikel itu dibaca dengan teliti dan berulangkali. Setelah memperoleh gambaran keseluruhan isi artikel dan kesan bahasa yang digunakan, artikel dibaca kembali sambil memberikan tanda atau highlightdisertai catatan komentar di luar margin kanan. Komentar itu berupa berbagai kesalahan berbahasa tulis bahasa Indonesia,seperti pemilihan kata, bangun kalimat, pengembangan paragraf, dan keruntutan ide antara paragraph.
3.4 Teknik analysis data
Analisis data meliputi empat tahap yaitu: (1) pengumpulan data, (2) reduksi data, (3) penyajian data, dan (4) deskripsi dan kesimpulan.
Pengumpulan data dilakukan dengan cara membaca semua artikel secara cermat dan memberi kode sebelum direkam. Reduksi data dilakukan dengan cara menentukan dan memilih data dari rekaman keseluruhan data yang sesuai dengan kriteria kesalahan menggunakan bahasa Indonesia. Penyajian data dilakukan dengan cara mengelompokkan data menurut jenis-jenis kesalahan menggunakan bahasa Indonesia, deskripsi data dilakukan dengan menjelaskan data berupa kalimata sebelum memberikan perbaikan data. Perbaikan data mengandalkan pengetahuan dan kemampuan penulis yang sudah berpengalaman (kalaupun belum banyak) menulis artikel ilmiah untuk diterbitkan di jurnal internasonal.
BAB IV DATA DAN DISKUSI
Artikel ilmiah yang menjadi sumber data penelitian ini menggunakan sistimatika berbeda karena harus mengikuti sistimatika jurnal yang akan menerbitkan. Hal ini lumrah karena setiap jurnal, baik nasional maupun internasional, menggunakan sistimatika yang disepakati oleh pengelola. Kalaupun sistimatika berbeda, unsur-unsur yang standar adalah, abstrak, kata kunci, pendahuluan (latar belakang), tujuan (dan masalah penelitian), kerangka teori (tinjauan teoretis), metode penelitian, pembahasan (hasil) penelitian, dan kesimpulan (simpulan). Namun penelitian ini mengabaikan sistimatika seperti ini tetapi berkonsentrasi pada bahasa yang digunakan dalam setiap unsusr-unsur sistimatika tersebut.Seperti judulnya, bab ini membicarakan dual hal pokok sesuai rumusan penelitian, yaitu tentang kesalahan-kesalahan bahasa tulis pada tataran paragraf dan kesalahan-kesalahan bahasa tulis pada tataran kalimat.
Banyak cara bagaimana memedakan kesalahan berbahasa sebagai data dalam penelitian penggunaan bahasa. Penelitian ini menggunakan cara peneliti sendiri sesuai langkah-langkah mengidentifikasi data dari tampilan bahasa tulis yang besar ke yang kecil yaitu dari paragraf-paragraf ke kalimat-kalimat(termasukke kata). Dengan demikian peneliti menggunakan caranya sendiri yang mungkin terkesan beda dari peneliti lain.Demikianlah prosedur yang ditempuh, dan ikuti jenis-jenis kesalahan bahasa dalam kelima karya ilmiah untuk diterbitkan dalam publikasi internasional berikut. Kelima judul artikel terseut diberi nama atau kode untuk mudah merujuk, dan kode-kode artikel tersebut adalah sebagai berikut: Artikel pertama diberi kode AA,
artikel kedua diberi kode AB, artikel ketiga diberi kode AC, artikel keempat diberi kode AD dan artikel kelima diberi kode AE.
4.1 Kesalahan menulispada tataran paragraf.
Sub ini secara eksplisit mendeskripsikan seperti apa kesalahan-kesalahan pada tataran membangun paragraf yang mencakup: panjang paragraf, mengembangkan ide paragraf, dan merangkaikan paragraf, yang dibicarakan secara berurutan berikut ini.
4.1.1 Panjang paragraf
Yang dimaksud dengan kesalahan pada tataran paragraf dalam penelitian ini adalah panjang paragraf dan banyaknya kata dalam satu paragraf yang tidak sesuai dengan aturan menulis paragraf. Berdasarkan data, panjang paragraf bergerak dari 36 kata sampai 392 kata, dan rata-rata sembilan kata per baris dengan huruf font 12.
Perhatikan contoh paragrafKode AA, paragrafKode AB, dan paragraf KodeACberikut.
Kode AA:
(1)Perlindungan hukum pohon tuak (Borassus Sundaicus) dalam upaya pelestariannya dan dalam rangka mengatasi kerawanan pangan lokal dan pelestarian budaya di Provinsi NTT merupakan hal penting lebih di Kota Kupangkarena akan memperkokoh nilai-nilai budaya masyarakat adat nusantara. (2) Hal tersbut juga penting bagi mempertahankan beragam pangan lokal telah dihasilkan masyarakat dalam mengantisipasi kerawanan pangan.(3)Interaksi masyarakat lokal dengan pohon tuah telah membentuk budaya (kebiasaan) minum tuak (‘due), memakai topi ti’i langga, rumah-rumah adatpada kelompok etnis Rote, Sabu.(4)Bagian pohon tuak yang sering digunakan: polok,daun, pelepah, buah, batang dan akar tuak) untuk bahan pembuatan rumah, peralatan rumah-tangga (tikar, hiasan rumah, perabot rumanrumah-tangga, tempat siri dan pinang dalam ritual adat).(5)Sebagai sumber bahan makanan (air tuak, gula lempeng, gula cair, sopi, alkohol, dodol lontar, cuka tuak dan kulit ketupat, pembungkus makanan lainnya) serta sebagai bahan baku pembuatan alat musicsasando, topi trasisional (Ti,i langga) yang sudah terkenal didunia internasional.(6) Demikian pula tempurung buah tuak dapat digunakan sebagai bahan arang yang jika dibakar sangat panas dll.(7)Secara ekologis pohon tuak merupakan tanaman pelindung erosi tanah akibat banjir, terpaan angin kencang di Kota Kupang.(8) Pohon tuak juga oleh Pemerintah Kabupaten Kupang telah dijadikan lambang pemerintah daerah. (8 kalimat, 201 kata).
Kode AB
(1) Dari uraian di atas, maka diasumsikan bahwa pembangunan sarana transportasi (jalan raya) menyebabkan terjadinya peningkatan ekonomi yang secara tidak langsung akan mengundang arus pendatang, sehingga terjadi kepadatan penduduk, seiring meningkatnya kepadatan penduduk maka, dibutuhkan lahan untuk membangun sarana dan prasarana pendukung dalam hal ini adalah perumahan, maka kajian dalam penelitian ini akibat dibangunnya sarana transportasi di daerah Kelurahan Sikumana, Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Indonesia, adalah peningkatan jumlah penduduk serta kebutuhan lahan untuk perumahan, sehingga permasalahannya adalah akibat pembangunan jalan raya bagaimana pertumbuhan penduduk yang terjadi di Kelurahan Sikumana, dan berapa luas lahan yang dibutuhkan untuk pembangunan rumah dengan menggunakan model dinamik, serta bagaimana kebutuhan lahan untuk pembangunan rumah dengan membuat skenario pertumbuhan penduduk. (1 kalimat 116 kata).
Kode AC
(1)Salah satu kebijakan pemerintah Provinsi NTT yang menjadi prioritas peningkatan ekonomi kemasyarakatan pada wilayah perbatasan salah satunyaadalah melalui perdagangan (Heyn Peter Ahab, 2011).(2)Sarana dan prasarana perdagangan yang telah dibangun seperti: adanya bangunan pasar tradisionil di perbatasan dengan maksud untuk mengurangi angka penyelundupan barang kedalam kedua negara tersebut.(3)Adapun komoditi yang diekspor dari Indonesia ke RDTL berupa komiditi migas, hasil perkebunan, hasil perikanan, hasil industri dan kerajinan serta barang campuran.(4)Dalam beberapa tahun terakhir, yaitu sejak tahun 2066 sampai dengan tahun 2009 terjadi peningkatan nilai ekspor sebesar tahun Rp 14.866.203,69 (tahun 2006); Rp 14.390.411,67 (tahun 2007); Rp. 41.598.147,02 (tahun 2008); dan Rp. 29.526.503,67 (tahun 2009).(5)Dari data tersebut menggambarkan bahwa aktifitas perdagangan yang terjadi khususnya untuk ekspor dari Indonesia ke Timor Leste setiap tahun menunjukkan perkembangan yang cukup menggairahkan pasar sehingga kehidupan perekonomian masyarakat di kawasan perbatasan dapat meningkat.(6)Selanjutnya, untuk impor dari Timor Leste ke Indonesia dalam beberapa tahun terakhir yakni Rp 38.719,62 (tahun 2006); Rp 149.205,95 (tahun 2007); Rp 921.448,16 (tahun 2008); Rp 124.487,16 (tahun 2009).(7)Adapun komiditi yang diimpor dari Timor Leste ke Indonesia yaitu kacang hijau, kemiri, kopi biji, kopi kulit, kopra, sapi potong dan kulit sapi.(8) Produk-produk utama lainnya dari NTT yang masuk kedalam Timor Leste adalah bahan bangunan, makanan ringan, tekstil, perabot rumah tangga, sabun, alat tulis kantor, barang elektronik, bumbu dapur, kasur, generator, semen, ikan kering, bawang, sayuran, barang campuran dan migas.(8 kalimat, 229 kata)
Ketiga contoh paragraf di atas sangat menarik untuk didiskusikan.ParagrafKode AAterdiri dari delapan kalimat dan 201 kata, sedangkan Paragraf Kode AB terdiri dari satu kalimat sajadan 116 kata, dan ParagrafKode AC delapan kalimat 229 kata. Ketiga paragraf itu tidak memenuhi kriteria paragraf yang baik dan layak dari sisi panjang paragraf. Dari ketiga contoh itu kita bisa memastikan bahwa ketiga penulis sama sekali
Comment [A1]: Kalimat berupa paragraf, pemilihan kata uraian, harusnya kata PENDAPT, salah pemiliha kata MAKA, penggunaan bentuk pasif diasumsikan, dan dibuthkan, penggunaan kata ADALAH
Comment [A2]: Paragraf yg dikembangkan dengan beberapa kalimat yng tidak punya predikat. Pendobelan salah satu. Tdk punya predikat., tanda baca salah. Tdk punya predikat.
tidak memiliki ilmu tentang apa itu paragraf dalam bahasa tulis. Di sampng itu ketiganya dapat diduga jarang menulis walaupun sangat sering membaca karena sudah berstatus akademisi.Ketiga paragraf seperti itu sudah dapat dipastikan tidak layak dipublikasikan dijurnal terakreditasi nasional pun internasional.
Jumlah kata pargraf Kode AA (201) dan AC(229) hanya dapatditerima sebagai suatu paragraf yang baik dengan dua syarat. Pertama paragraf itu minimal terdiri dari satu kalimat topik yang memuat ide pokok, dan kedua, kalimat topik itu diikuti oleh banyakkalimat pendukung yang semuanya mendukung atau menjelaskan ide pokok.
Biasnaya paragraf seperti ini menggunakan kalimat pendukung yang terdiri dari urutan atau rangkaian ide yang mengunakan kata konyungsi seperti:pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya, atau pertama, kedua, setelah itu,danyang terakhir. Kalau tidak, kedua paragraf yang panjang seperti itu, atau lebih dari itu, harus dipenggal menjadi minimal dua paragraf.
Sedangkan jumlah kata paragraf Kode AB hanya terdiri dari satu kalimat.Kalimat seperti itu sangat tidak memenuhi sebagai suatu paragraf pun sebagai suatu kalimat.
Lebih lanjut kalimat seperti itu akan dibicarakan secara khusus pada poin kesalahan membangun pkalimat.
Itulah beberapa contoh yang menarik sebagai data untuk menyertai deskripsi.
Masih banyak contoh-contoh lain yang juga tidak kalah menariknya tentang panjang kalimat yang menurut peneliti tidak layak ditampilkan pada halaman-halaman analisisini. Tentu semuanya akan dicantumkan berupa lampiran.
4.1.2 Mengembangkan ide paragraf
Paragraf yang memenuhi syarat adalah paragraf yang mengandung atau memuat satu ide. Ide yang dimaksudkan itu terdiri atas satu ide pokok (main idea),yang lazim disebut topik dan satu ide penjelas. Keduanya ini termuat dalam satu kalimat yang disebut kalimat topik. Kalimat topik yang dimaksudkan ini mempunyai miimal satu kalimat pendukung (supporting sentences) yang memuat ide pendukung (supporting ideas), yang fungsinya mendukung atau menjelaskan ide pokok. Jadi setiap kalimat harus memiliki ide pokok yang diungkap dengankalimat yang namanya kalimat topik (topic sentence), dan ide-ide pendukung yang diungkap dengan kalimat-kalimat pendukung (supporting sentences).
Banyak para pakar bahasa, khusunya bahasa Indonesia, berpendapat bahwa paragraf dapat dibedakan atas dua macam. Pertama, paragraf yang ide pokonya secara jelas atau nyata (exlplicitly) terungkap dalam paragraf, dan yang lain adalah paragraf yang ide pokoknya tidak dinyatakan secara jelas dalam kalimat (implied paragraph) tetapi dapat dipahami atau dapat disimpulkan oleh pembaca. Seperti dikatakan di atas, ide pokok jenis paragraf yang pertama termuat dalam kalimat topik yang posisinya bisa pada awal paragraf, bisa di tengah paragraf, dan bisa di akhir paragraf. Dari ketiga posisi itu, posisi kalimat topik pada awal paragraf adalah yang paling mudah untuk dikembangkan dan mudah dipahami pembaca.
Kalau cara mengembangkan paragraf seperti yang dipaparkan itu dikaitkan dengan data, peneliti menyimpulkan bahwa sangat banyak paragraf dari kelima artikel sebagai sumber data tidak memenuhi syarat paragraf yang baik dan layak. Ada paragraf yang diawali dengan kalimat topik, tetapi kalimat-kalimat berikutnya tidak menjelaskan ide
kalimat topik itu, sebaliknya mengandung ide-ide lain atau baru yang tidak ada kaitannya sama sekali. Dengan kata lain paragraf merupakan kumpulan dari ide-ide yang berbeda. Untuk hal ini penulis mengambil lagi contoh-contoh di depan yang dapat dipakai sebagi representasi.
Paragraf 1 Artikel Kode AAdi depandapat dipahami lain seperti yang dijelaskan
berikut ini. Paragraf itu diawali dengan kalimat tentang bagaimana pohon Tuak harus dilindungi dengan hukum. Kata-kata perlindungan pohon tuak dan seterusnya, sebagai kalimat topik, sangat jelas berbicara tentang itu. Namun kalimat ke tiga berbicara hal lain yaitu soal interaksi masyarakat lokal, bukan tentang ide-ide bagaimana pohon Tuak itu dilindungi. Selain itu ada lagi ide lain tentang bagian pohon tuak pada kalimat
berikut ini. Paragraf itu diawali dengan kalimat tentang bagaimana pohon Tuak harus dilindungi dengan hukum. Kata-kata perlindungan pohon tuak dan seterusnya, sebagai kalimat topik, sangat jelas berbicara tentang itu. Namun kalimat ke tiga berbicara hal lain yaitu soal interaksi masyarakat lokal, bukan tentang ide-ide bagaimana pohon Tuak itu dilindungi. Selain itu ada lagi ide lain tentang bagian pohon tuak pada kalimat