DAFTAR GAMBAR
A. Latar Belakang Masalah
Nilai-nilai secara definitif diartikan sebagai esensi-esensi kebaikan, kebenaran dan keindahan yang sangat berguna serta dapat menyebabkan seseorang mengambil sikap setuju terhadap esensi-esensi tersebut. Sementara pengertian kepemimpinan kalau diperhatikan mempunyai fungsi yang sinkron dengan pengertian pendidikan Islam.1 Karena kepemimpinan itu sendiri adalah upaya yang dilaksanakan seseorang berupa kegiatan mengelola, mengarahkan, membimbing dan mempengaruhi orang lain untuk melaksanakan suatu kegiatan dalam pencapaian suatu tujuan.
Adapun nilai-nilai dalam Islam secara normatif mengandung dua bagian, yaitu baik dan buruk serta benar dan salah.2 Terdapat bermacam-macam nilai Islam dalam pendidikan Islam dimana nilai tersebut menjadi alat dukung dalam pelaksanaan pendidikan, terlebih menjadi suatu sistem yang terangkai didalamnya. Nilai tersebut akan tertanam pada jiwa seseorang sebagai dasar pengembangan, sehingga dapat memberikan pengaruh yang baik bagi diri sendiri dan masyarakat luas. Adanya penanaman dari nilai-nilai keimanan, ibadah, pendidikan dan akhlak mulia, maka diharapkan setiap kehidupan seseorang akan menjadi lebih terarah di dunia maupun di akhirat.
1 Burhanuddin, Anatisis Adninistrasi dan Kepeminpinar Pendidikan (Jakrta: Bumi aksara) h. 62
Salah satu nilai yang dapat dijadikan barometer dalam kemajuan dunia pendidikan Islam adalah adanya nilai kepemimpinan.
Kepemimpinan terbentuk bersamaan dengan terbentuknya peradaban manusia pula yaitu sejak zaman nabi-nabi dan nenek moyang manusia.3 Mulai saat itulah kerjasama diantara manusia-manusia terjalin, dan unsur kepemimpinan terdapat dalam kerjasama tersebut.
Kepemimpinan merupakan kemampuan untuk memberikan pengaruh terhadap pihak lain. Keberhasilan kepemimpinan yang dijalankan seorang pemimpin terkait kepada kemampuannya untuk mempengaruhi.4 Maka dari itu kepemimpinan dapat dipahami sebagai kemampuan seseorang dalam memberikan pengaruh bagi orang lain dengan maksud untuk menggerakkan orang-orang tersebut melalui suatu komunikasi secara langsung atau tidak langsung dengan penuh pengertian.
Terkait dengan manajemen, kepemimpinan berperan penting, peran itu mencakup5: penetapan keputusan, pengembangan ide-ide, pendelegasian otoritas kepada anggota, pengembangan komitmen bawahan, merencana, dan kontrol pada rencana-rencana, serta pemanfaatan berbagai sumber daya, realisasi rencana, pemberian motivasi dan semangat, kontrol pada pelaksanaan serta tindak lanjutnya, pemberian reward kepada bawahan yang berprestasi, dan pertanggungjawaban semua tindakan. Karenanya, terdapat
3 Kartini Katono, Penimpin dan Kepemimpinan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001), h. 28
4 Pandji Anoraga, Psikologi Kepemimpinan (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2001), Cet. iii, h. 2
5 Siti Patimah, Manajemen Kepemimpinan Islam; Aplikastnya dalam Organisasi
banyak ilmuwan kepemimpinan telah melaksanakan berbagai penelitian yang berhubungan dengan aspek-aspek pada kepemimpinan. Bahwa kepemimpinan yang efektif adalah sangat penting diterapkan dalam kehidupan organisasi, baik organisasi pendidikan, organisasi kenegaraan, organisasi perdagangan, organisasi politik, dan juga organisasi keagamaan.
Kepercayaan, ketulusan serta integritas dan kepedulian merupakan dasar kepemimpinan dalam Islam. Akar dari kepemimpinan dalam Islam terletak pada kepercayaan dan kesediaan dalam berserah diri kepada Allah SWT, bahwa manusia menjalankan apa yang telah dikehendakan Allah SWT. Kepemimpinan Islam telah menjadi fitrah dan juga motivasi bagi setiap manusia. Allah memberikan amanat bagi manusia untuk menjadi khalīfah Allah (wakil Allah) dimuka bumi, dimana manusia itu bertugas menjalankan misi suci, yaitu membawa rahmat bagi semesta alam. Konsep amanah yang diemban oleh manusia sebagai khalīfah di muka bumi memiliki peran sentral dalam menjalankan kepemimpinan Islam. Maka sangat logis jika konsep amanah kekhalīfahan yang diemban oleh manusia mengharuskan dapat terjalin interaksi yang baik antara manusia dengan pemberi amanah, diantaranya dengan melaksanakan semua yang diperintahkan Allah SWT serta meninggalkan semua yang dilarang-Nya, ikhlas menerima segala hukum dan ketentuannya.6 Kepemimpinnan adalah suatu perkara yang begitu fundamental dalam konsep (manhaj) Islam. Pemimpin memiliki posisi tertinggi pada sebuah konstruksi masyarakat Islam. Dalam kehiduan
hari pemimpin bagaikan kepala dari kesemua anggota tubuh. Pemimpin mempunyai tugas dan fungsi yang sangat strategis dalam mengatur suatu pola (minhaj) dan gerakan (harakah). Pemimpin yang cakap akan dapat mengarahkan umatnya kepada tujuan yang akan dicapai, yaitu mendapatkan kesejahteraan dan ketentraman umat serta mendapatkan ridha Allah seperti dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 207:
ََنِمَو
َٱ
َ ِساَّلن
َ
َ ُه َسرفَنَيِ رشَۡيَنَم
ٱ
ََءٓاَغِترب
َ
َ ِتا َضررَم
ٱ
َهِ َّلل
َََو
ٱ
َُ َّلل
َ
َ ُۢ ُفوُءَر
َِبٱ
َِداَبِعرل
َ
٧٠٢
َ
َ
Artinya: “Dan di antara manusia ada orang yang
mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”7
Posisi pemimpin sangat menentukan terhadap bagaimana jalannya umat. Jika suatu jama'ah mempunyai seorang pemimpin yang mumpuni dalam mengembangkan dan membangkitan semangat juang dan kreativitas amaliyah maka perjalanan umatnya akan dapat mencapai kesuksesan. Begitu juga sebaliknya, jika suatu jama'ah memiliki pemimpin yang kurang atau tidak mumpuni, baik dalam bidang manajerial, keilmuan, serta tanggung jawab, dan lebih mementingkan hawa nafsu dalam bertindak dan memutuskan perkara, maka bangunan jama'ah tersebut akan dapat roboh cepat atau lambat. Firman Allah dalam Al Qur’an surat Al Isra’ ayat 16:
7 Departemen Agama RI, Al Qur’an dan Terjemahnya, (Surabaya: Duta Ilmu, 2009), h. 40
َٓاَذوَإِ
َ
َاَهريَلَعَ َّقَحَفَاَهيِفَْاوُقَسَفَفَاَهيِفَ رتُۡمَاَنررَمَأًَةَيررَقَ َكِلرهُّنَنَأَٓاَنردَرَأ
ٱ
َُلروَقرل
َ
َاٗيرِمردَتَاَهَٰ َنررَّمَدَف
٦١َ
َ
Artinya: “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri,
maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”8
Karena itulah, Islam menganggap bahwa kepemimpinan memiliki posisi penting dalam menjadikan masyarakat itu Baldatun Thoyyibatun Wa
Robbun Ghofur,9 maksudnya adalah masyarakat Islami yang mengimplementasikan prinsip yang diajarkan dalam Islam dalam sistem kehidupannya sehingga dapat tercapai tingkat kesejahteraan dan ketenteraman menyeluruh dengan keadilan bagi seluruh masyarakat yang dipimpinnya.
ََرْيَرُهَ ِبَِأَ ْنَع
َْمُهُّلِظُيٌَةَعْبَسَ َلاَقََمَّلَسَوَِهْيَلَعَُ َّللاَ َّلَّ َصَِي ِبَّلناَْنَعََة
َ ِفََِأ َشَنَ ٌّباَشَوَ ُلِداَعْلاَ ُماَمِلْاَ ُهُّلِظَْ لَِإَ َّلِظََّ لََ َمْوَيَ ِهَِ يلِظَ ِفَِ ُ َّللا
ََّباَتََ ِنَ َلَُجَرَوَِدِجاَسَمْلاَ ِفَِ ٌقَّلَعُمَُهُبْلَقَ ٌلُجَرَوَِهِيبَرَِةَداَبِع
َِ َّللاَ ِفَِا
َ ٍب ِصْنَمَ ُتاَذَ ٌةَأَرْماَ ُهْتَبَلَطَ ٌلُجَرَوَ ِهْيَلَعَ اَقَّرَفَتَوَ ِهْيَلَعَ اَعَمَتْجا
ََمَلْعَتَلََ َّتََّحَ َفَْخَ َأَ َقَّد َصَتَ ٌلُجَرَوَ َ َّللاَ ُفاَخَأَ ِينِّإَ َلاَقَفَ ٍلاَ َجََو
َاً ِلِاَخََ َّللاََرَكَذَ ٌلُجَرَوَُهُنيِمَيَ ُقِفْنُتَاَمَُ ُلُاَمِش
َُهاَنْيَعَ ْت َضاَفَف
.
َ
َهاور
يراخلبا
.
Artinya: “Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi saw, beliau
bersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi Allah di dalam naungannya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali
8 Departemen Agama RI, op. cit. h. 386 9 Dijelaskan dalam (Q.S. Saba': l5)
naunganNya. Yaitu imam yang adil, pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Tuhannya, seseorang yang hatinya bergantung di dalam masjid, dua orang saling mencintai yang bertemu dan berpisah karena Allah swt., seorang laki-laki yang diminta (digoda) seorang perempuan yang memiliki pangkat dan berparas cantik namun ia berkata “Sungguh aku takut Allah”, seorang laki-laki yang menshadaqahkan hartanya dengan sembunyi-sembunyi sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang dishadaqahkan oleh tangan kanannya dan seseorang yang menyebut/ingat Allah ketika sendiri hingga kedua matanya menangis.” (HR. Al-Bukhari).10
Dapat dipahami dari hadist tersebut, terdapat tujuh golongan yang dihari kiamat nanti akan mendapatkan naungan dari Allah SWT, adapun salah satu dari golongan tersebut adalah para pemimpin yang adil. Hal ini menjadi tanda bahwa masalah kepemimpinan merupakan masalah yang sangat penting dihadapan Allah SWT. Konsep kepemimpinan Islam telah banyak dijelaskan dalam Al-Quran dan Hadits Nabi Muhammad SAW.
َرذوَإِ
َ
َ ِفَِ ٞلِعاَجَ ِينِّإَِةَكِئََٰٓلَمرلِلَ َكُّبَرَ َلاَق
ٱ
َ ِضرَۡ ر
لۡ
َ
َ ُلَعرتََ َأَْآوُلاَقَٗۖ ٗةَفيِلَخ
َ ُكِف رسَيَوَاَهيِفَُدِسرفُيَنَمَاَهيِف
ٱ
ََءٓاَمِيل
َ
َ ُسِيدَقُنَوََكِدرمَ ِبَِ ُحِيب َسُنَُنر َنََو
َٓ ِينِّإَ َلاَقََٗۖكَل
ََنوُمَلرعَتَلََاَمَُمَلرعَ َأ
٠٠َ
َ
Artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para
Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalīfah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalīfah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui"”. (Al Qur’an
Surat Al Baqarah ayat 30)11
10 Al-Bukhori. Muhammad bin Ismail Abu Abdillah, Al-Jami’ As-Shahih, cet. 3, (Beirut: Dar Ibnu Katsir, 1987), h. 2496.
Ayat di atas dipahami bahwa kata Khalīfah memiliki keterkaitan dengan kata Leader yang bermakna pengganti, pemimpin atau pembimbing. Berangkat dari istilah di atas, hakikagtnya kepemimpinan itu sendiri telah ada ada mulai dari penciptaan manusia masih dalam iradah (kehendak) Allah SWT. Manusia terlahir menjadi Khalīfah fi al-Ardh dan menjadi hamba yang semata-mata karena amanah Allah SWT, yaitu dengan cara memerankan komunikasi dan interaksi dalam perannya sebagai pembawa rahmat bagi semesta alam. Kepemimpinan dalam Islam telah dilaksanakan dan dicontohkan oleh para Nabiyullāh wa Rasulullah. Nabi dan Rasul diutus sebagai pemimpin di muka bumi ini untuk mewujudkan misi suci dengan cara memandu umat menjalankan risalah Allah SWT yang di turunkan kepadanya.12
Salah satu di antara utusan itu adalah Nabi Muhammad SAW, beliau adalah utusan Allah SWT selain itu beliau juga adalah pemimpin umat, perintis, dan sosok kepala Negara yang ideal.13 Sangat jelas, seperti apa Nabi Muhammad SAW memimpin, berkomunikasi, berinteraksi dan mendidik pengikutnya dalam perannya sebagai Nabi berikut kepala Negara.
Aspek kepemimpinan kerap kali memiliki stigma negatif terutama pada lembaga pendidikan yang terkesan “ademokratis dan diktator” maka perlu melakukan perbaikan-perbaikan terhadap sistem organisasi dan
12 Ismail Noor, Manajemen Kepemimpinan Muhammad SAW: Mencontoh Teladan
Kepemimpinan Rasul untuk Kesempurnaan Manajemen Modern, (Bandung: Mizan, 2011), h. 19.
13 Siti Maream, dkk. Sejarah Pendidikan Islam dari Jaman Kelasik Hingga Modern, (Yogyakarta: LESFI, 2003), h. 51.
manajerialnya.14 Semacam: terdapat krisis keteladanan, efektifitas, kesadaran dan kinerja pemimpin yang lemah.15 Penyebab dari krisis-krisis tersebut adalah kepemimpinan yang dijalankan tidak berorientasi terhadap tujuan kepemimpinan pendidikan Islam.
Sampai pada saat ini, negara Indonesia masih manegalami krisis nilai pada generasinya. Hal itu terlihat dari terjadinya korupsi, kolusi dan nepotisme yang hingga saat ini belum juga dapat di hilangkan. Bahkan generasi muda serta anak-anak juga telah mengalami dekadensi nilai, yang di asumsikan merupakan dampak dari moderenisasi dan perkembangan teknologi yang semakin maju.
Fenomena diatas bertujuan untuk menaikkan tingkat kesejahteran dengan segala kemudahan hidup umat manusia di muka bumi, namun beriringan dengan hal tersebut timbul kecenderungan dalam hidup manusia untuk merubah tatanan sosial dan kultural yang dianggapnya menghambat atau menghalangi pemenuhan kebutuhan hidup manusi, dimana kebutuhan tersebut akan semakin meingkat. Sehingga hal tersebut membawa dampak negatif yaitu pandangan, sikap serta orientasi hidup manusia membawa perubahan, cepat atau lambat menuju pola berkehidupan yang semakin menjauh dari nilai-nilai seperti etika, religius, tradisional kultural yang bersifat idealistis.16
14 Baharuddin dan Umiarso, Kepemimpinan Pendidikan Islam; Antara Teori dan praktik, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), h. 15.
15 Thariq Muhammad as-Suwaidan & Faishal Umar Basyarahil, Melahirkan Pemimpin
Masa Depan, terj. M. Habiburrahman, (Jakarta: Gema Insani Press, 2005), h. 14.
16 M. Arifin, Kapita Selekta Pendidikan (Islan dm Umum), (Jakarta: Bumi Aksara, 1993) h. 56-57
Para pemimpin muslim masa kini lebih suka merujuk masalah kepemimpinan kepada tipe dan pola kepemimpinan yang digagas dan ditorehkan oleh para filusuf barat, dan dipraktikkan oleh para penguasa Barat.17 Sesungguhnya beberapa abad yang lalu Islam pernah berjaya sehingga menjadi pedoman umat Islam dalam rangka pengembangan kepemimpinan pendidikan, bukanlah dunia Barat. Memang bukanlah kesalahan merujuk pada dunia barat, namun dalam agama Islam semua bentuk model, konsep dan tipe kepemimpinan tidak diridhai Allah SWT jika tidak berpedoman pada tuntunan risalah. Pemimpin pendidikan Islam masa kini belum mampu menggapai konsep Khalīfah fi al-Ardh yang sebenarnya.
Wacana kepemimpinan dalam Islam, sudah ada dan berkembang tepatnya pasca Rasulullah SAW wafat.18 Wacana tersebut muncul disebabkan setelah Nabi Muhammad SAW wafat, tidak ada lagi rasul ataupun nabi yang diutus. Kepemimpinan dalam islam bukan hanya tentang kekuasaan, jabatan dan kewenangan yang mesti dibanggakan, terlebih menjadi barang dagangan yang dapat diniagakan. Dalam pandangan Islam hakekat kepemimpinan merupakan suatu amanah yang diemban, dijalankan serta dipertanggung jawabkan di dunia maupun di hadapan Allah nanti di akhirat. Allah SWT telah memberikan teladan bagi umat manusia atas kepemimpinan pada diri Rasulullah SAW. Maka dari itu, pemimpin yang ideal adalah pemimpin yang menjalankan kepemimpinan seperti Rasulullah.
17 Achyar Zein, Prophetic Leadership, Kepemimpinan Para Nabi, (Bandung: Madani Perima, 2008), h. vii.
18 Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspek, jilid l (Jakarta: UI-Press, 1985), h. 93.
Teladan kepemimpinan yang terdapat pada diri Rasulullah SAW, beliau adalah pemimpin yang holistic, accepted, dan proven.19 Holistic
diartikan menyeluruh, karena Rasulullah SAW merupakan sosok yang dapat mengembangkan leadership di berbagai aspek diantaranya: self development, harmonis di kehidupan rumah tangga, sistem pendidikan bermoral dan mencerahkan, sistem politik bermartabat, sistem hukum adil, bisnis dan kewirausahaan, tatanan masyarakat yang baik, dan strategi pertahanan jitu, serta Beliau memastikan perlindungan dan keamanan warga Negara. Kepemimpinan Rasulullah SAW accepted yang berarti diterima karena telah mendapat pengakuan oleh manusia hingga lebih dari 1,3 milyar.20 Kepemimpinan Rasulullah SAW proven yang berarti terbukti, karena telah terbukti sejak lebih dari 15 abad yang lalu hingga saat ini masih relevan untuk dilaksanakan. Namun disayangkan kadang kali malas mengambil ibrah dan nilai-nilai dari suri teladan Rasulullah SAW karena anggkuh dan bodohnya diri sendiri.21
Oleh sebab itu, pada tema kepemimpinan yang dicontohkan Rasulullah SAW sangat menarik untuk di jadikan sebagai objek penelitian, Beliau mengemban amanah sebagai khalīfah (pemimpin) yang mampu merubah sistem dan menciptakan peradaban Islam menuju masa keemasan.
19 Muhammad Syafii Antonio, The Super Leader Super Manager, cet. xvii (Jakarta: Tazkia Publising, 2015), h. 104.
20 Muhammad Syafii Antonio, op.cit. h. 8 21 Ibid.
Kepemimpinan yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW disebut sebagai kepemimpinan profetik. Rasulullah SAW menjadi model ideal seorang pemimpin karena keteladanannya, kepemimpinannya didasarkan pada empat sifat dasar kepemimpinan profetik, yaitu: Sidiq (jujur), Amanah (bisa dipercaya), Tablig (menyampaikan yang benar) dan Fathonah (cerdas)22 diintegrasikan pada fungsi kepemimpinan dalam diri Rasulullah SAW yang dikembangkan pada masa moderen yang disebut dengan the 4 roles of
leadership yakni: Perintis (Pathfinding), Penyelaras (Aligning), Pemberdayaan (Empowering), Panutan (Modelling).23
Paradigma diatas menjadi awal mula dari pola pemikiran yang menarik untuk lebih lanjut dikaji secara intensif mengenai kepemimpinan profetik di perguruan tinggi dalam mengatur kinerja beserta faktor-faktor determinasi untuk dapat menyajikan data yang objektif dan akurat sehingga dapat memberikan jawaban atas masalah-masalah ilmiah. Peneliti memilih Kota Metro sebagai lokasi penelitian, karena kota metro disebut-sebut sebagai kota pendidikan. Dan Universitas Muhammadiyah Metro, Institut Agama
22 Achmad Patoni, Konsep Dasar Kepemimpinan Profetik Pendidikan Islam, cet. I (Tulungagung; IAIN Tulungagung 2017) h. 8, A. Busyro Karim, Bukalah Selimutmu (Surabaya: CV Bintang, 2010), h. 101-102., Muhammad Mu'iz Raharjo, Managemen Sumberdaya Manusia
Unggul, Cerdas & Berkarakter Islam (Yogyakarta: Gava Media 2011), h. 67., Al-Mishri,
Muhammad Abdul Hadi, Manhaj dan Aqidah Ahlussunah wal Jamaah, Terj. Yasin As'ad, dkk, (Jakarta: Gema Insani Press, 1994), h. 56., Raja Ali Haji, Karakteristik Pemimpin ldeal, (Bandung: Daik Lingga, 2002), h. 22., Muhammad Syakir Kartajaya dkk. Syariah Marketing, (Bandung: Mizan, 2006), h. 120., Waryono Abdul Ghafur, Tafsir Sosial Mendialogkan Antara Teks Dengan
Konteks, (Yoryakarta: eLSAQ Press, 2005), h. 125
23 Muhammad Syafii Antonio, Muhammad Saw: The Super Leader Super Manager, cet. xvii (Jakarta: Tazkia Publising 2015) h. 32., Imron Fauzi, Manajenen Pendidikan Ala Rasululldh, cet. ii (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2016) h. 233., Stephen Covey, The 8th Habit From
Islam Ma’arif Nahdhatul Ulama dan Institut Agama Islam Agus Salim Metro, sebagai subyek utama dalam penelitian ini.
Sesuai dengan jenis perguruan tinnginya yaitu berbasis Islam, dimana dalam Islam yang menjadi pedoman adalah Al-Qur’an dan Sunnah, maka sudah menjadi keharusan bagi sebuah institusi atau lembaga Islam menerapkan apa yang telah diajarkan dalam pedomannya yaitu Al-Qur’an dan Sunnah. Dan mengamalkan nilai-nilai profetik dalam kepemimpinan adalah bagian dari pelaksanaan Sunnah Rasulullah SAW.
Dari realita yang penulis amati, keberhasilan sebuah institusi pendidikan selalu terkait dengan kepemimpinan yang baik. Universitas Muhammadiyah Metro, Institut Agama Islam Ma’arif Nahdhatul Ulama dan Institut Agama Islam Agus Salim Metro memiliki persamaan yakni sama-sama memiliki latar belakang sebagai perguruan tinggi Islam dan menjadikan sosok Rasulullah SAW sebagai panutan dalam hal kepemimpinan pendidikan. Hal ini dapat diketahui dari hasil wawancara tidak terstruktur pada prasurvey diperguruan tinggi tersebut.
“Itu jelas sekali, universitas kami ini adalah universitas muhammadiyah, yang dalam segala aspek kehidupan kita baik itu mahasiswa, dosen, karyawan, pimpinan menganut apa yang telah di cerminkan oleh Muhammad SAW. Contohnya dalam menjalankan organisasi, kami melaksanakan seperti perintah Muhammad saw.”24
Pernyataan diatas merupakan salah satu data pada lapangan yang menunjukkan bahwa UM Metro merupakan salah satu Perguruan Tinggi di
kota Metro yang melaksanakan model kepemimpinan profetik. Pernyataan sependapat juga disampaikan oleh wakil rektor 1 UM Metro:
“Pemimpin saat ini dari kapasitas akademik, jenjang jabatan akademik adalah yang paling tinggi, kan pak prof itu yang paling tinggi di Indonesia. Bahkan lebih tinggi dari pada Menterinya. Kapasitas akademik juga mumpuni dibidang teknologi pembelajaran. Terus kemudian juga professor, artinya sudah, dari tataran pangkat golongan memang layak. Pengelamannya juga sudah sangat banyak baik yang menyangkut kehidupan formal maupun non, dari pengalaman praktis empirisnya secara rasional sudah oke. Maka dari nilai
fathanah nya beliau oke. Dari sisi tabligh nya beliau juga
seorang pendakwah, jadi masuk. Jujur Amanah nya juga oke, terbukti kan membawa institusi ini ke akreditasi B, dan A dari banyak prodi.” 25
Dari dokumentasi juga ditemukan bahwa pimpinan UMM memiliki strategi jitu untuk mengembangkan perguruan tinggi menuju internasionalisasi dengan mengirim stake holdernya untuk mengikuti pelatihan kepemimpinan dan manajemen perguruan tinggi di australia, dan juga mengirim dosen ke Jepang untuk mengikuti course dalam bidang pengembangan pendidikan. Dari contoh strategi ini pemimpin UMM mempersiapkan perguruan tingginya dalam menghadapi kemajuan teknologi. Maka pemimpin disini memiliki fathanah atau kecerdasan dalam menetapkan sebuah strategi. (dokumen terlampir)
“Kita itu punya yang namanya tag line ya, jadi profetis intelektualis, humanis, untuk perguruan tinggi kita. Jadi ini inti dari visi kita, kan visinya terintegrasinya nilai-nilai islam kedalam keunggulan kompetensi individu dan lembaga menjadi 10 besar PT seindonesia. Nah inti dari integrasinya itu nanti output kelembagaannya, personalnya itu profetik,
intelektualnya juga oke, humanis juga gitu. Jadi profetik itu memang sudah masuk dalam bagian kampus ini.”26
Melihat dari hasil wawancara tersebut, diketahui bahwa nilai profetik sudah menjadi bagian dari visi misi yang dijadikan acuan pada pelaksanaan organisasi perguruan tinggi. Pernyataan tersebut didukung adanya dokumentasi berupa data visi misi UM Metro:
“VISI: “Terintegrasinya Nilai-nilai Islam dalam Kompetensi Individu dan Lembaga Menuju Sepuluh Besar Perguruan Tinggi Muhammadiyah Terbaik pada Tahun 2020”
MISI: “Menyelenggarakan Pendidikan, Penelitian, Pengabdian Kepada Masyarakat, dan Meningkatkan Iman dan Taqwa, Berkepribadian Profesionalitas Utama Berdasarkan Nilai Keislaman dengan Memperhatikan Situasi dan Kondisi Nasional dan Internasional di Dukung Oleh Saran dan Prasarana yang Memadai dalam Upaya:
1. Meningkatkan sumber daya manusia yang menghayati, mengamalkan dan mengembangkan nilai Islam kedalam disain dan aktualisasi kompetensi, sehingga mencerminkan SDM yang profetis (kuat aqidah, ibadah, mu’amalah dan akhlak), intelektualis (menguasai ilmu pengetahuan, teknologi dan seni), humanis (ukhuwah, bertanggung jawab dan empati), dan mempu memelihara dan mengembangkan bidang keahliannya.
2. Menghasilkan lulusan yang Islami dan profesional ...””27 (dokumen terlampir)
Berikut juga hasil wawancara tidak terstruktur di IAIM NU Metro; “Kita ini berada pada perguruan tinggi Islam, dimana Islam itu pedoman utamanya adalah Al-qur’an dan Hadits, maka dalam aspek kepengurusan institusi ini sudah pasti kita menggunakan pedoman tersebut.”28
“Kalau dilihat dari segi profetisnya, sara rasa beliau itu mengamalkan, yang paling beliau cerminkan itu adalah sisi dimana beliau menjadikan dirinya panutan untuk bawahan-bawahannya ini. Beliau bisa duduk sama rata, bisa
26 WRI UMM. Wawancara pra survey pada tanggal 20 januari 2018 27 Visi Misi Universitas Muhammadiyah Metro
berkomunikasi dengan siapa saja dengan tokoh masyarakat, pejabat, dosen karyawannya sampai pada tukang sapu pun beliau bisa berbicara dengan nyamat tanpa pandang status, beliau juga sering duduk di pos satpam berbicara dengan para satpam dengan ramah, disini kita memahami komunikatinya sangat bagus, bisa kita bilang tabligh ya.29
Dari penjelasan diatas diketahui bahwa IAIM NU Metro menjadikan Al-Qur’an dan Hadits sebagai pedoman utama dalam menjalankan kepemimpinan, dimana Hadits disini merupakan segala bentuk perkataan, perbuatan, ketetapan dan persetujuan Rasulullah SAW yang dijadikan landasan dalam agama islam, termasuk didalamnya adalah bagaimana pelaksanaan kepemimpinan. Wawancara tersebut juga didukung oleh data dokumentasi berupa visi IAIM NU sebagai berikut:
“IAIM NU Metro Lampung Sebagai Sentral Pendidikan Islam yang Berkuwalitas dalam keilmuan, berakhlak mulia, kompetitif dan profesional belandaskan Islam Ahlusunnah Waljamaah An-Nahdliyah.”
Pesan yang timbul dari visi tersebut adalah IAIM NU menjadikan Islam Ahlusunnah Waljamaah An-Nahdliyah sebagai landasan dalam menjalankan organisasi perguruan tinggi. Dari sini peneliti mengkaji bahwa Ahlusunnah Waljamaah merupakan orang-orang yang berpegang teguh pada sunnah Nabi beserta sahabat dan orang-orang yang meneladani jalan dan jejaknya dalam perkataan dan perbuatan beserta aqidah, mereka konsisten/istiqomah dalam mengikuti sunnah Nabi Muhammad
ittiba’ dan meninggalkan kemunkaran.30 Sunah nabi salah satu diantaranya adalah menjalan kepemimpinan dengan mengamalkan sifat-sifat keprofetikan, diantaranya adalah siddiq, amanah, fathanah dan tabligh.