• Tidak ada hasil yang ditemukan

Azwar (2000) mengatakan bahwa pengelohan data penelitian yang telah diperoleh, dimaksudkan sebagai suatu cara mengorganisasikan data sedemikian rupa sehingga dapat dibaca dan diinterpretasikan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode analisis statistik deskriptif. Analisis deskriptif merupakan deskripsi mengenai subjek penelitian berdasarkan data dari variabel yang diperoleh dari kelompok subjek dan tidak dimaksudkan untuk menerangkan hubungan maupun menguji hipotesis (Azwar, 2000). Pada penelitian deskriptif dijelaskan dengan mean, median, standar deviasi, maximum dan minimum. Penelitian ini menggunakan skala berdasarkan aspek-aspek yang

niat untuk berselingkuh. Perhitungan skor dilakukan per-aspek intensi berselingkuh dan diukur dengan menggunakan program SPSS version 20 for windows. Skala ini menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai intensi berselingkuh, maka semakin tinggi pula kemungkinan seseorang berselingkuh dan akan dikategorisasikan berdasarkan 3 norma yang dikemukakan oleh Azwar (2012) yaitu tinggi, sedang dan rendah.

BAB IV

ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

A. Analisa Data

Pada bab ini akan diuraikan analisa data dan pembahasan sesuai dengan data yang telah diperoleh. Pembahasan diawali dengan memberikan gambaran umum mengenai responden penelitian kemudian dilanjutkan dengan pembahasan hasil utama penelitian dan hasil tambahan penelitian.

1. Gambaran Umum Responden Penelitian

Penelitian ini melibatkan 208 orang yang mengisi kuisioner melalui Google Form.

Dari 208 responden yang menjalani pacaran jarak jauh diperoleh gambaran responden penelitian berdasarkan jenis kelamin, usia, status pekerjaan, tingkat pendidikan, lamanya menjalani pacaran jarak jauh, lama waktu tidak bertemu, intensitas waktu bertemu dan jarak responden dengan pasangan sebagai berikut :

Jenis Kelamin Responden Penelitian

Tabel 4. 1 Responden Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin Jumlah (N) Persentase (%)

Pria 77 37%

Wanita 131 63%

Total 208 100%

Berdasarkan data pada tabel 4.1, diketahui bahwa responden terbanyak adalah responden dengan jenis kelamin wanita yang berjumlah 131 orang (63%) sedangkan responden berjenis kelamin pria lebih sedikit yaitu 77 orang (37%).

Merujuk pada teori Levinson(Monks, 2002) penyebaran responden penelitian menurut usia dapat digambarkan seperti pada tabel dibawah ini:

Tabel 4. 2 Responden Penelitian Berdasarkan Usia

Usia Jumlah (N) Persentase (%)

Berdasarkan tabel 4.2, dapat dilihat bahwa responden terbanyak adalah responden dengan rentang usia 18-22 tahun sebanyak 110 orang (52,9%) sedangkan yang lebih sedikit adalah responden dari rentang usia 34-40 tahun yaitu 2 orang (1,0%).

Status Pekerjaan Responden Penelitian

Tabel 4. 3 Responden Penelitian Berdasarkan Status Pekerjaan

Status Jumlah (N) Persentase (%)

Mahasiswa 99 47, 6%

Bekerja 89 42, 8%

Belum Bekerja 20 9, 6%

Total 208 100%

Berdasarkan tabel 4.3, sebagian besar responden adalah mahasiswa sebesar 99 orang (47,6%), sedangkan yang paling sedikit adalah responden yang belum bekerja sebanyak 20 orang(9,6%).

Status Pendidikan Responden Penelitian

Tabel 4. 4 Responden Penelitian Berdasarkan Tingkat Pendidikan Terakhir

Pendidikan Terakhir Jumlah (N) Persentase (%)

SMA/SMK 38 18,3%

Diploma 10 4,8%

Sarjana 151 72,6%

Magister 9 4,3%

Total 208 100%

Berdasarkan tabel 4.4, menunjukkan bahwa sebagian besar responden terbanyak dalam status pendidikan terakhir adalah sarjana yaitu 151 orang (72,6%), sedangkan yang paling sedikit yaitu pendidikan magister dengan jumlah 9 orang (4,3%).

Status Lama Menjalani Pacaran Jarak Jauh Responden Penelitian

Tabel 4. 5 Responden Penelitian Berdasarkan Lama Menjalani Pacaran Jarak Jauh

Lama Menjalani LDR Jumlah (N) Persentase (%)

0- 6 bulan 50 24%

Berdasarkan tabel 4.5, terlihat bahwa sebagian besar responden terbanyak dalam menjalani pacaran jarak jauh adalah >1-3 tahun yaitu 82 orang (39,4%), sedangkan responden yang paling sedikit yang menjalani pacaran jarak jauh adalah >7-10 tahun yaitu 3 orang (1,4%).

Intensitas Bertemu Responden Penelitian dalam 1 Tahun

Tabel 4. 6 Responden Penelitian Berdasarkan Intensitas Bertemu Frekuensi Ketemu dalam 1

Berdasarkan tabel 4.6 terlihat bahwa responden terbanyak memiliki intensitas pertemuan sebanyak 0-3 kali per tahun yaitu 136 orang (65,4%), sedangkan yang paling sedikit adalah responden yang memiliki intensitas pertemuan 6-9 kali yaitu 3 orang (1,4%).

Lama Waktu Tidak Bertemu Responden Penelitian

Tabel 4. 7 Responden Penelitian Berdasarkan Lama Waktu Tidak Bertemu

Lama waktu tidak bertemu Jumlah (N) Persentase (%)

0- 6 bulan 141 67,8%

Berdasarkan tabel 4.7, menunjukkan bahwa sebagian besar responden terbanyak tidak bertemu dengan pasangannya adalah 0-6 bulan dengan jumlah 141 orang (67,8%), sedangkan yang paling sedikit adalah responden dengan lama waktu tidak bertemu pasangan 18-23 bulan yaitu 3 orang (1,4%).

Jarak Responden Penelitian dengan Pasangan

Merujuk pada teori (Schwebel et al 1992; Lydon, Pierce dan O’Regan(1997; Knox et al 2002; Carpenter & Knox, 1986; Stafford & Reske, 1990) penyebaran responden penelitian berdasarkan jarak dapat digambarkan seperti pada tabel dibawah ini:

Tabel 4. 8 Responden Penelitian Berdasarkan Jarak

Jarak Jumlah (N) Persentase (%)

Berdasarkan tabel 4.8, menunjukkan sebagian besar responden terbanyak pada kategori jarak adalah 1000-2000km yaitu 56 orang (26,9%), sedangkan yang paling sedikit adalah >4000km yaitu 11 orang (5,3%).

2. Hasil Penelitian

Kemudian peneliti akan melakukan perbandingan nilai hipotetik dan empirik variabel pada individu yang berpacaran jarak jauh untuk melihat apakah responden dalam penelitian ini cenderung memiliki skor tinggi atau rendah pada aspek atau variabel tertentu.

Tabel 4. 9 Perbandingan Nilai Hipotetik dan Empirik Variabel Intensi Berselingkuh

Variabel N

Data Hipotetik Data empirik

Skor Mean SD Skor Mean SD

Min Max Min Max

Intensi Berselingkuh 208 24 120 72 16 29 111 57,97 19,43

Tabel 4. 10 Perbandingan Nilai Hipotetik dan Empirik Per- Aspek

Variabel N

Kemudian responden akan digolongkan kedalam tiga kategori yaitu rendah, sedang dan tinggi. Kategorisasi intensi berselingkuh dalam penelitian ini menggunakan kategorisasi norma yang dirumuskan oleh Azwar.

Tabel 4. 11 Kategorisasi Norma Penelitian

Rentang Nilai Kategori

Berdasarkan kategorisasi norma pada tabel 4.11, skor mean dan standar deviasi yang ada pada tabel 4.9 dan 4.10, maka diperoleh penggolongan kategori skor intensi berselingkuh pada individu yang berpacaran jarak jauh.

Tabel 4. 12 Kategorisasi Intensi Berselingkuh Pada Individu

Variabel Rentang Nilai Kategori Frekuensi (N) Persentase (%) Intensi

Berselingkuh

X ≤ 56 Rendah 126 60,6%

56 ≤ X ≤ 88 Sedang 63 30,3%

88 < X Tinggi 19 9,1%

Tabel 4. 13 Kategorisasi Intensi Berselingkuh Per-Aspek Sikap terhadap

Berdasarkan tabel 4.12, dapat dilihat bahwa responden dengan kategori rendah sebanyak 126 orang (60,6%), kategori sedang sebanyak 63 orang (30,3%), dan kategori tinggi sebanyak 19 orang (9,1%). Berdasarkan tabel 4.13, untuk aspek sikap responden berada pada kategori sedang, dengan kategori rendah sebanyak 117 orang (56,3%), kategori sedang sebanyak 70 orang (33,7%), dan kategori tinggi sebanyak 21 orang (10,1%). Untuk aspek norma responden berada pada kategori sedang, dengan kategori rendah sebanyak 112 orang (53,8%), kategori sedang sebanyak 80 orang (38,5%) dan kategori tinggi sebanyak 16 orang (7,7%). Untuk aspek kontrol berada pada kategori sedang, dengan kategori rendah sebanyak 121 orang (58,2%), kategori sedang sebanyak 68 orang (32,7%), dan kategori tinggi sebanyak 19 orang (9,1%).

Kemudian peneliti akan melakukan perbandingan nilai hipotetik dan empirik variabel pada pria dan wanita yang berpacaran jarak jauh untuk melihat apakah responden dalam penelitian ini cenderung memiliki skor tinggi atau rendah pada intensi berselingkuh.

Tabel 4. 14 Perbandingan Nilai Hipotetik dan Empirik Berdasarkan Jenis Kelamin

Variabel Kategori

Tabel 4. 15 Kategorisasi Norma Penelitian

Rentang Nilai Kategori

X ≤ ( – 1,0σ) Rendah

( – 1,0 σ) ≤ X ≤ ( +1,0σ) Sedang

( + 1σ) < X Tinggi

Berdasarkan kategorisasi norma pada tabel 4.13, skor mean dan standar deviasi yang ada pada tabel 4.12, maka diperoleh penggolongan skor intensi berselingkuh pada pria dan wanita yang dapat dilihat pada tabel 4.14.

Tabel 4. 16 Kategorisasi Hasil Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin

Variabel Rentang Nilai Kategori Frekuensi (N) Persentase (%) Intensi

Berdasarkan data pada tabel 4.14 maka dapat dilihat bahwa responden pria berada pada kategori sedang, sedangkan responden wanita berada pada kategori rendah. Responden pria dengan kategori rendah sebanyak 41 orang (19,7%), kategori sedang 25 orang (12%), dan kategori tinggi sebanyak 11 orang (5,3%). Sedangkan pada responden wanita dengan kategori rendah sebanyak 85 orang (40,9%), kategori sedang 38 orang (18,3%), dan kategori tinggi

3. Perbandingan Nilai Empirik berdasarkan Data Tambahan Responden Data Tambahan Usia

Tabel 4. 17 Perbandingan Nilai Empirik Berdasarkan Usia

Variabel Kategori Min Max Mean Kategori

Pada tabel 4.15, terlihat bahwa hampir sebagian responden memiliki intensi berselingkuh dengan kategori sedang, kecuali pada responden dengan rentang usia 34-40 yaitu berada kategori rendah dengan mean tertinggi dengan rentang usia 29-33 tahun.

Data tambahan status pekerjaan

Tabel 4. 18 Perbandingan Nilai Empirik Berdasarkan Status Pekerjaan

Pada tabel 4.16, terlihat bahwa keseluruhan responden berdasarkan status pekerjaan berada pada kategori sedang, dengan mean tertinggi pada status yang belum bekerja.

Data tambahan tingkat pendidikan

Tabel 4. 19 Perbandingan Nilai Empirik Berdasarkan Tingkat Pendidikan Terakhir

Variabel Kategori Min Max Mean Kategori

Pada tabel 4.17, terlihat bahwa hampir keseluruhan responden berdasarkan tingkat pendidikan terakhir berada pada kategori sedang, dan tidak memiliki perbedaan mean yang

Variabel Kategori Min Max Mean Kategori

Data Tambahan Lama Menjalani Pacaran Jarak Jauh Responden Penelitian

Tabel 4. 20 Perbandingan Nilai Empirik Berdasarkan Lama Menjalani Pacaran Jarak Jauh

Variabel Kategori Min Max Mean Kategori

Pada tabel 4.18, terlihat bahwa sebagian responden memiliki intensi berselingkuh dengan kategori sedang, kecuali pada responden yang menjalani pacaran jarak jauh 1-6 bulan memiliki intensi berselingkuh dengan kategori rendah, dan mean tertinggi dimiliki oleh responden dengan lama menjalani pacaran jarak jauh >5-7 tahun.

Data Tambahan Frekuensi Bertemu Responden Penelitian dalam 1 Tahun

Tabel 4. 21 Perbandingan Nilai Empirik Berdasarkan Frekuensi Bertemu

Variabel Kategori Min Max Mean Kategori

Pada tabel 4.19, terlihat bahwa tingkat intensi berselingkuh sebagian responden berada pada kategori sedang, kecuali pada responden dengan frekuensi bertemu 3-6 kali memiliki tingkat intensi berselingkuh dengan kategori rendah, dengan mean tertinggi berada pada frekuensi bertemu 9-12 kali dalam setahun.

Data Tambahan Lama Waktu Tidak Bertemu Responden Penelitian

Tabel 4. 22 Perbandingan Nilai Empirik Berdasarkan Lama Waktu Tidak Bertemu

Variabel Kategori Min Max Mean Kategori

Berselingkuh 13- 18 bulan 35 101 63,38 Sedang

18- 23 bulan 34 76 60 Sedang

Lebih dari 24 bulan

37 85 59 Sedang

Pada tabel 4.20, terlihat bahwa tingkat intensi berselingkuh sebagian responden berada pada kategori sedang, kecuali pada pada responden dengan lama waktu tidak bertemu 0-6 bulan memiliki tingkat intensi berselingkuh dengan kategori rendah, dengan mean tertinggi pada responden dengan lama waktu tidak bertemu 7-12 bulan.

Data Tambahan Jarak Responden Penelitian Dengan Pasangan

Tabel 4. 23 Perbandingan Nilai Empirik Berdasarkan Jarak

Variabel Kategori Min Max Mean Kategori

Pada tabel 4.21, terlihat bahwa tingkat intensi berselingkuh sebagian responden berada pada kategori sedang, kecuali pada pada responden dengan jarak 160km- 400km dan 400-700km memiliki tingkat intensi berselingkuh dengan kategori rendah, dengan mean tertinggi berada pada jarak >4000km.

B. Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap 208 responden terkait dengan intensi berselingkuh, menunjukkan bahwa secara umum responden memiki intensi berselingkuh dalam rentang sedang hingga rendah (126 responden rendah, 63 responden sedang dan 19 responden tinggi), dengan mean intensi berselingkuhnya adalah 57,97 yang berarti intensi berselingkuh secara keseluruhan berada pada kategori sedang.

Penyebab perselingkuhan pada hubungan jarak jauh dapat disebabkan karena adanya perbedaan cara berkomunikasi (Amato & Preveti, 2003), komunikasi lebih sulit dilakukan karena tidak dapat bersentuhan dan bertatap wajah secara langsung seperti pacaran pada umumnya, namun dengan adanya perkembangan teknologi yang semakin pesat membuat komunikasi dapat dilakukan dengan lebik baik dan memungkinkan melalui berbagai macam aplikasi yang dapat diakses dengan mudah seperti Line, Facebook, Whatsapp, bahkan layanan video call seperti Skype, Zoom dan lain sebagainya, juga alat transportasi yang semakin memadai, yang mendukung dan memudahkan pasangan untuk menjalani hubungan pacaran jarak jauh, sehingga membuat pacaran jarak jauh menjadi sebuah hubungan yang memungkinkan untuk dilakukan.

Hubungan jarak jauh dapat berhasil apabila individu memiliki strategi komunikasi yang tepat, saling menjaga kepercayaan, interaksi yang baik, dan menunjukan kasih sayang (Yudistriana et al, 2010). Seperti penelitian yang dilakukan oleh Nisa & Sedjo (2010) mengatakan bahwa hubungan pacaran jarak jauh dapat berhasil apabila pasangan tetap berpikiran positif, saling percaya, mengalah, menenangkan diri, memikirkan kembali apabila ada kesalahan yang terjadi, mengalahkan egonya dan mengambil jalan tengah yang terbaik untuk keduanya dan bukannya mencari pelampiasan pada lawan jenis lainnya, sehingga membuat intensi berselingkuh pada individu yang berpacaran jarak jauh menjadi tidak tinggi.

Davis & Todd (Hampton, 2001) mendiskripsikan beberapa karakteristik yang dapat mempengaruhi suksesnya sebuah hubungan jarak jauh yaitu rasa saling menghargai, pengertian satu sama lain, saling percaya dan adanya komunikasi yang baik.

Namun walau peran teknologi menjadi peran yang penting pada hubungan pacaran jarak jauh (Day, 2002) serta adanya strategi pasangan untuk menjaga hubungan, ternyata komunikasi yang dilakukan melalui internet dan telefon tidak dapat menggantikan kesan

mendalam seperti pertemuan secara langsung (Seiler & Beall, 2008), serta tidak semua pasangan dapat menjaga kedekatan dan keromantisannya seperti yang telah dijabarkan diatas.

Berdasarkan beberapa hal yang telah dijabarkan diatas, dapat disimpulkan bahwa skor sedang dalam penelitian ini dapat disebabkan karena semakin berkembangnya teknologi serta responden memiliki berbagai cara/ strategi untuk tetap membuat hubungan mereka terjaga dan skor sedang dalam penelitian juga dapat disebabkan karena kurangnya pertemuan tatap muka maupun kontak fisik dan tidak semua individu menghadapi masalah dengan strategi yang baik.

Kemudian penelitian ini dilakukan berdasarkan tiga aspek intensi oleh Ajzen (1991) yaitu sikap terhadap perilaku, norma subjektif dan kontrol tingkah laku yang dipersepsikan.

Aspek tersebut kemudian disesuaikan dengan perilaku berselingkuh sehingga aspek dari intensi berselingkuh adalah sikap yang positif terhadap perilaku berselingkuh, norma subjektif yang mendukung berselingkuh dan kontrol tingkah laku (merasa mudah untuk berselingkuh) Berdasarkan tabel 4.11, menunjukkan bahwa hasil penelitian pada ketiga aspek intensi berselingkuh memiliki skor sedang yang dapat dijelaskan sebagai berikut :

a. Attitude toward the behavior (Sikap terhadap perilaku berselingkuh)

Dalam aspek ini sikap terhadap perilaku mengacu kepada penilaian positif atau negatif (menguntungkan atau tidak menguntungkan) individu pada perselingkuhan. Sehingga apabila semakin tinggi sikap yang dimiliki individu terhadap intensi berselingkuh, maka intensi berselingkuhnya akan semakin tinggi.

b. Subjective Norm (Norma subjektif)

Pada aspek ini norma subjektif meliputi pada apa yang dipersepsikan individu terhadap harapan, keyakinan, tekananan sosial untuk menampilkan perilaku berselingkuh atau tidak, apakah orang lain/ lingkungan akan menerima, mendukung atau membantu

mewujudkan tindakan selingkuh. Sehingga apabila semakin tinggi norma subjektif yang dimiliki individu maka intensi berselingkuhnya akan semakin tinggi.

c. Perceived Behavioral Control (Kontrol tingkah laku yang dipersepsikan)

Aspek ini mengarah pada tingkat kesulitan atau kemudahan yang dipersepsikan untuk melakukan perselingkuhan. Biasanya aspek ini dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu diri sendiri maupun orang lain, informasi, observasi, maupun kesempatan. Sehingga apabila semakin tinggi kontrol tingkah laku terhadap intensi berselingkuh yang dimiliki individu, maka intensi berselingkuhnya akan semakin kuat.

Penelitian yang dilakukan Pursikasari (2010) menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara sikap, norma subjektif dan kontrol tingkah laku yang dipersepsikan secara positif mempengaruhi intensi berselingkuh. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan Jackman (2014) koefisien pada sikap positif terhadap perilaku berselingkuh, norma subjektif, kontrol perilaku yang dipersepsikan, semuanya positif dan signifikan secara statistik pada intensi berselingkuh, yang menunjukkan bahwa niat perselingkuhan cenderung lebih besar jika adanya kesempatan, keterbukaan, juga peran lingkungan, kebiasaan yang sama dalam suatu pertemanan/ pergaulan sehingga individu percaya bahwa jaringan sosial akan mendukung mereka dalam perselingkuhan, dan individu akan mulai percaya bahwa perselingkuhan merupakan hal yang mudah untuk dilakukan sehingga memiliki intensi perselingkuhan yang lebih tinggi.

Berdasarkan penjabaran di atas, skor sedang yang diperoleh berdasarkan aspek sikap terhadap perilaku berselingkuh, norma subjektif yang mendukung berselingkuh, dan kontrol tingkah laku untuk berselingkuh dapat disebabkan bahwa sebagian besar responden memiliki kesempatan, pengalaman yang mendukung untuk melakukan perselingkuhan, kebiasaan, jaringan sosial hingga lingkungan yang mendukung individu untuk memiliki intensi

memiliki pengalaman, informasi, jaringan sosial dan peran lingkungan yang mendukung individu untuk tetap setia hingga merasa perselingkuhan bukanlah jalan terbaik walau adanya konflik dan kesempatan.

Kemudian intensi berselingkuh dapat dilihat berdasarkan jenis kelamin (tabel 4.12) tiap responden, di mana skor mean intensi berselingkuh pria sebesar 62,10 dan skor mean wanita yaitu 55,89 yang menunjukkan pria memiliki nilai mean lebih tinggi daripada wanita sehingga dapat dikatakan bahwa pria lebih memiliki intensi berselingkuh yang tinggi daripada wanita, sejalan dengan Schwebel (Skinner, 2005) mengatakan wanita yang berada dalam hubungan jarak jauh memiliki usaha yang lebih besar untuk mempertahankan hubungannya daripada laki-laki. Penilitian yang dilakukan oleh Jayanti (2013) menunjukkan bahwa ada perbedaan intensi berselingkuh yang siginfikan antara laki-laki dan perempuan, dan menunjukkan bahwa laki-laki lebih tinggi intensi berselingkuhnya dibandingkan dengan wanita. Penelitian yang dilakukan oleh Janus & Janus (1993) mencatat bahwa presentasi pria yang berselingkuh adalah 35% sedangkan presentasi wanita berselingkuh adalah 26%. Hal ini juga didukung oleh penemuan Weiderman (Jayanti,2013) bahwa pria lebih erat kaitannya dengan ketidaksetiaan dibanding wanita. Berbagai literatur menunjukkan bahwa pria memiliki keinginan yang lebih kuat untuk terlibat dalam perselingkuhan (Andrus, Redfering

& Oglesby, 1977; Prins, Buunk & VanYperen, 1993) dan lebih cenderung tidak setia (Allen

& Baucom, 2004; Jacobson, 2001; Weiderman, 1997). Kecendrungan tidak setia yang lebih tinggi pada pria dapat disebabkan karena pria cenderung memandang komitmen dan monogami sebagai pilihan yang kurang menarik (Sheppard, Nelso & Andreoli-Mathie, 1995 dalam Allen & Baucom, 2006) dan memiliki sikap yang lebih permisif terhadap keterlibatan emosi dan seks di luar hubungan utama (Lieberman, 1988; Thompson, 1984).

Pada status usia (tabel 4.15) terlihat bahwa sebagian responden berada pada kategori sedang, sedangkan responden pada rentang usia 34- 40 berada pada kategori rendah, dengan

mean tertinggi berada pada usia 29- 33. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Jackman (2014) yang menunjukkan bahwa usia tidak terkait secara signifikan dengan sikap perselingkuhan. Hal ini juga bertolak belakang dengan penelitian (Burdette et al, 2007;

Maddox Shaw, Rhoades, Allen, Stanley & Markman, 2013) yang tidak menemukan bukti signifikan usia terhadap intensi berselingkuh seseorang.

Pada status pekerjaan (tabel 4.16) terlihat bahwa seluruh responden berada pada kategori sedang dan mean tertinggi berada pada kategori belum bekerja, hal ini tidak sejalan dengan survey yang dilakukan oleh situs Infidelity Statistic di Amerika yang menyatakan bahwa individu yang bekerja dan memiliki kemandirian ekonomi memiliki korelasi kuat dengan perselingkuhan. Hal ini juga tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan (Buunk

& Van Driel, 1989) bahwa status pekerjaan dan pendapatan tidak memiliki korelasi yang signifikan terhadap kecendrungan berselingkuh.

Pada status tingkat pendidikan terakhir (tabel 4.17) terlihat bahwa seluruh responden berada pada kategori sedang dengan perbedaan mean yang tidak terlalu signifikan. Dengan mean tertinggi berada pada kategori SMA/SMK dan mean terendah berada pada kategori magister. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Smith, 1998; Whisman &

Synder, 2007) yang menunjukkan bahwa kecendrungan berselingkuh cenderung lebih umum di kalangan kurang berpendidikan. Namun bertolak belakang dengan survey yang dilakukan oleh Infidelity Statistic di Amerika yang menunjukkan bahwa persentase perselingkuhan antara individu yang di perguruan tinggi dengan yang berpendidikan rendah hampir sama dengan perbedaan hanya 1%. Hal ini juga tidak sejalan dengan penelitian (Traeen, Holmen &

Stigum, 2007) yang mengatakan pendidikan tidak terbukti signifikan dengan intensi berselingkuh.

Pada status lamanya menjalani pacaran jarak jauh (tabel 4.18) terlihat bahwa sebagian

jarak jauh 6 bulan- 1 tahun berada pada kategori rendah. Mean tertinggi berada pada rentang hubungan >5-7 tahun. Hal ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Guldnef (2011) di Amerika yang mengatakan bahwa 70% pasangan gagal dalam pacaran jarak jauh dan hanya mampu bertahan selama 6 bulan pertama. Hal ini juga tidak sejalan dengan survey yang dilakukan oleh Center for the study of long distance relationship (2018) yang menyatakan pacaran jarak jauh lebih mampu bertahan diatas 1 tahun. Hal ini juga tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Gao (2001) bahwa lamanya hubungan tidak berkorelasi dengan rasa puas dan kesetiaan melainkan kualitas hubungan dan bukan panjangnya suatu hubungan romantis berlangsung.

Pada status frekuensi bertemu dalam 1 tahun (tabel 4.19) terlihat bahwa sebagian responden berada pada kategori sedang, sedangkan pada responden yang memiliki frekuensi bertemu 3-6 kali berada pada kategori rendah. Mean tertinggi berada pada responden dengan frekuensi bertemu 9-12 kali .Sejalan dengan penelitian yang dilakukan Seiler & Beall (2005) mengatakan bahwa kontak fisik dan pertemuan tidak selalu menjamin dapat menentukan keberhasilan hubungan dari perselingkuhan, karena kualitas hubungan dianggap lebih penting daripada hanya bertemu atau melakukan kontak fisik. Hal serupa dengan penelitian yang dilakukan oleh Guldner & Swensen (1995) yang mengatakan bahwa keberhasilan suatu hubungan tidak ditentukan oleh terbatasnya intensitas pertemuan, melainkan dari kualitas hubungan yang dimiliki oleh pasangan, yang berarti walau banyaknya pertemuan tidak menjamin tidak adanya intensi berselingkuh.

Pada status lama waktu tidak bertemu (tabel 4.20) terlihat bahwa sebagian responden berada pada kategori sedang, sedangkan pada responden dengan lama waktu tidak bertemu 0-6 bulan berada pada kategori rendah. Mean tertinggi berada pada responden dengan lama waktu tidak bertemu 7- 12 bulan, namun mean pada responden dengan lama waktu tidak bertemu 7- 12 bulan, 13- 18 bulan, 18– 23 bulan tidak memiliki perbedaan mean yang terlalu

signifikan. Sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Amelia (2020) dengan waktu berpisah responden rata-rata diatas 12 bulan menunjukkan bahwa singkat atau lamanya berpisah tidak memiliki dampak yang signifikan terhadap ketidaksetiaan dan perpisahan.

Pada status jarak (tabel 4.21) terlihat bahwa sebagian responden berada pada kategori sedang, sedangkan pada responden dengan rentang jarak 160km- 400km dan 400km-700km berada pada kategori rendah. Mean tertinggi berada pada responden dengan rentang jarak

>4000km. Hal ini sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Rindfuss & Stephen (Khoman, 2008) yang menyatakan bahwa semakin jauh jarak yang memisahkan pasangan, semakin besar hambatan dan tantangan yang dihadapi, khususnya mempersulit pasangan untuk dapat bertemu dan kurangnya pertemuan tatap muka akan menyebabkan ketidakpastian hubungan yang lebih tinggi.

Perbedaan beberapa hasil dalam penelitian ini dengan penelitian terdahulu dapat disebabkan karena terdapat beberapa aspek yang memiliki hasil yang berbeda, Pursikasari

Perbedaan beberapa hasil dalam penelitian ini dengan penelitian terdahulu dapat disebabkan karena terdapat beberapa aspek yang memiliki hasil yang berbeda, Pursikasari

Dokumen terkait