• Tidak ada hasil yang ditemukan

Latar Belakang Masalah

Dalam dokumen SOFT SKILL DAN HARD SKILL (Halaman 55-62)

BAB III    HASIL PENELITIAN A Objek

A.    Latar Belakang Masalah

        Soft Skill adalah bagian keterampilan dari seseorang yang lebih bersifat kepada “kehalusan” atau sensitifitas perasaan seseorang terhadap lingkungan di sekitarnya. Soft skill mengarah kepada keterampilan psikologis, dampak yang diakibatkan lebih tidak kasat mata, namun tetap bisa

dirasakan. Ada beberapa komponen yang termasuk kedalam bagian soft skill. Kecerdasan emosional dan spiritual termasuk bagian dari soft skill.

Dalam rangka pembina kecerdasan emosional terhadap sikap empati dan sikap kejujuran untuk menjadi potensi positif, maka perlu ada upaya atau langkah-langkah yang dilaksanakan sehingga mampu melahirkan sebuah kecerdasan emosional diri seseorang. Menurut wacana Al-Qur’an hal ini lebih dikenal dengan konsep akhlaq al-karimah.[1]

Keberadaan institusi formal seperti sekolah lebih cenderung sebagai media yang paling kondusif untuk mengasah keahlian soft skill seseorang. Hal ini dikarenakan soft skill dipelajari melalui interaksi dengan orang lain dan bagaimana seseorang menghadapi permasalahan dalam kehidupannya.

Para ahli menjelaskan bahwa kesuksesan hidup seseorang tidak hanya dipengaruhi oleh tingginya intelegensi question (IQ). Sebaliknya justru faktor emosional question lebih memegang peran lebih besar dengan perbandingan EQ dan IQ sebesar 80:20.[2]

        Soft skill lebih berada pada ranah afektif (olah rasa). Soft skill dipelajari dalam kehidupan sosial melalui interaksi sosial. Soft skill dipelajari melalui pengamatan atas perilaku orang lain dan juga atas refleksi tindakan sebelumnya. Dengan kata lain, soft skill bisa dipelajari melalui proses pengasahan soft skill baik dari melihat maupun dari melakukan sesuatu.

Jika dikaitkan dengan hasil penelitian diberbagai perusahaan besar tentang keberhasilan seorang profesional sangat ditentukan oleh penguasaan soft skill ketimbang hard skill. Menurut buku Lesson From The Top karya Neff dan Citrin (1999) yang memuat sharing dan wawancara 50 orang tersukses di Amerika: mereka sepakat bahwa yang paling menentukan kesuksesan bukanlah keterampilan teknis melainkan kualitas diri yang termasuk dalam keterampilan lunak (soft skill) atau keterampilan berhubungan dengan orang lain (people skills). [3]

Riset tersebut diperkuat lagi oleh hasil survey Tempo tentang karakter yang harus dimiliki oleh orang yang berhasil mencapai puncak karir, yaitu: [1] mau bekerja keras, [2] kepercayaan diri tinggi, [3] mempunyai visi ke depan, [4] bisa bekerja dalam tim, [5] memiliki kepercayaan matang, [6] mampu berpikir analitis, [7] mudah beradaptasi, [8] mampu bekerja dalam tekanan, [9] cakap berbahasa Inggris, dan [10] mampu mengorganisir pekerjaan. Kalau hasil riset ini dijadikan sebagai acuan untuk melihat kondisi pendidikan, terutama guru, maka bisa disimpulkan bahwa pengembangan guru masih berkutat pada hard skills. Kurangnya perhatian terhadap soft skills guru berakibat pada kualitas peserta didik

kita yang belum maksimal.[4]

Moralitas pendidikan yang baik dapat tampak dari kehidupan dan proses yang terjadi di dalamnya. Tentu saja pendidikan yang menjunjung tinggi nilai-nilai humanisme, perdamaian, persatuan, nasionalisme, dan nilai-nilai moral positif lainnya. Melalui pembangunan moralitas pendidikan nantinya akan terwujud dunia pendidikan yang unggul dan bermutu, tidak hanya secara akademis namun juga bermoral.

Pelaksanaan pendidikan dan pengajaran baik dalam keluarga, lembaga dan masyarakat tidak akan terlepas dari bagaimana cara untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah dirumuskan atau bagaimana cara mengajar agar bisa berjalan dengan baik berdasarkan metode yang akan digunakan. Metode pendidikan adalah suatu tindakan atau situasi yang sengaja diadakan untuk tercapainya suatu tujuan pendidikan tertentu.

Pendidikan adalah merupakan salah satu faktor yang paling penting dalam upaya membimbing, mengayomi dan mendidik anak agar menjadi generasi penerus agama, bangsa dan negara. Anak perlu dididik dan diberi pengetahuan yang baik agar dia mampu menjadi seorang yang memiliki intelektualitas, kecerdasan, moralitas, dan profesionalitas.[5]

Pendidikan sejatinya merupakan proses pembentukan moral masyarakat yang beradab, masyarakat yang tampil dengan penuh rasa kemanusiaan. Dengan kata lain, pendidikan adalah moralisasi masyarakat, terutama peserta didik. Menurut Prof. Schoorl (1982) berpendapat bahwa praktik-praktik pendidikan merupakan wahana terbaik dalam menyiapkan sumber daya manusia dengan derajat moralitas tinggi.[6]

Pada kenyataannya saat ini justru seringkali terjadi praktik penyimpangan moral: seperti kekerasan oleh guru, korupsi dana pendidikan, jual beli ijazah palsu, tawuran antar pelajar dan sebagainya. Seharusnya pendidikan mampu menghasilkan sumber daya manusia yang tidak hanya terampil dan cerdas, namun juga bermoral. Akibat yang bisa dirasakan dari sumber daya manusia yang bermoral adalah perilaku sopan, disiplin, keteguhan hati, kemampuan kerja sama, serta membantu orang lain. Dikarenakan pengembangan soft skill yang dimiliki oleh setiap orang tidak sama.

Berdasarkan data Kementrian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), tahun 2011 peringkat pertama dalam sepuluh besar kelulusan. Nilai UN murni terbaik tingkat SMA/ sederajat diraih oleh salah satu sekolah di kota Banda Aceh dengan nilai rata-ratanya adalah 9.53.[7]

Seperti halnya sebuah sekolah swasta yang berdiri pasca bencana tsunami dan didukung oleh lembaga pemerintah Turki, meluluskan 100 persen siswanya yang ikut UN yaitu sebanyak 67 orang.[8] Soft skill adalah harus dimiliki karena berpengaruh pada keberhasilan siswa. Siswa yang mempuyai soft skill maka kelulusannya akan baik.

Perekrutan siswa dari dua sekolah diatas berdasarkan SK Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Banda Aceh, Nomor: 422.1/ A.3/ 4232.a/ 2012 adalah dengan seleksi. Caranya dengan menyerahkan berkas pendaftaran untuk dilakukan verifikasi oleh panitia pendaftaran, selanjutnya panitia melakukan proses entri data pendaftaran, pilihan sekolah calon peserta didik melalui komputer secara online.[9]

Hipotesa dari penulis mayoritas soft skill yang dimiliki oleh siswa SMA Swasta adalah lemah hal ini karena permasalahan penerimaan siswa di SMA Cut Meutia dengan cara pendaftaran langsung ke sekolah bukan dengan jalur online, kemudian siswa pindahan dari prestasi belajar lebih rendah dari sekolah lain baik dari dalam kota maupun luar kota. Kemudian dari observasi awal, dari input siswa bahwa soft skill yang dimiliki rendah karena SMA Cut Meutia adalah sekolah pilihan kesekian dari sekolah lain yang ada di Banda Aceh.

Dari uraian sebelumnya soft skill sangat mempengaruhi hard skill siswa. Oleh karena soft skill sangat penting, pihak sekolah harus memiliki upaya yang rapi untuk membentuk soft skill siswa. Lebih-lebih di sekolah yang soft skill rendah seperti

di SMA Cut Meutia Banda Aceh, pembahasan lebih akan penulis paparkan pada bab selanjutnya.

Dalam dokumen SOFT SKILL DAN HARD SKILL (Halaman 55-62)

Dokumen terkait