• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaturan Kerja Lembur Bedasarkan Hukum Yang Berlaku

Dalam dokumen i (Halaman 29-0)

Tujuan pokok hukum ketenagakerjaan adalah pelaksanaan keadilan sosial dalam bidang ketenagakerjaan dan pelaksanaan itu diselenggarakan dengan jalan melindungi pekerja terhadap kekuasaan yang tidak terbatas dari pihak majikan.8

Kerja lembur merupakan suatu pelaksanaan hubungan kerja di luar dari waktu kerja normal untuk memenuhi kebutuhan dari pihak perusahaan, kerja lembur terjadi pada hari kerja ataupun hari libur resmi. Terdapat beberapa alasan yang mempengaruhi atau menyebabkan perusahaan meminta atau memerlukan para pekerjanya untuk melakukan kerja lembur, diantaranya sebagai berikut :9

a. Dinamika perekonomian yang semakin maju dan pesat.

b. Mengejar target produksi yang sudah direncanakan oleh perusahaan.

c. Memanfaatkan sebaik-baiknya Sumber daya Manusia dari pekerja ataburuh.

d. Ada kesempatan yang baik dalam pasar yang bisa dimanfaatkan oleh perusahaan.

e. Sudah menjadi kebiasaan atau budaya dala\m internal perusahaan.

8 Iman Soepomo, Pengantar Hukum Perburuhan, (Jakarta :Djambatan, 1992), h.7.

9 Enrico Didie, Perlindungan Hukum Terhadap Pekerja Atas Kerja Lembur, (Surabaya :Skripsi Universitas Airlangga, 2011), h.21.

19

Jadi bedasarkan alasan yang sudah dipaparkan maka disimpulkan pekerjaan lembur itu dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan perusahaan bukan dari keinginan dari pihak pekerja.

Mengenai kerja lembur maka berbicara perpanjangan jam kerja pekerja, hal tersebut menyebabkan waktu untuk istirahat pekerja menjadi berkurang yang berpotensi pekerja akan kehilangan waktu istirahatnya akibat bekerja, untuk menghindari ekspoitasi waktu para pekerja pekerja maka pemerintah mengatur tata cara kerja lembur dalam pasal Pasal 78 Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003, yaitu ;

“(1) Pengusaha yang mempekerjakan pekerja/buruh melebihi waktu kerja harus memenuhi syarat:

a. ada persetujuan pekerja/buruh yang bersangkutan; dan

b. waktu kerja lembur hanya dapat dilakukan paling banyak tiga jam dalam satu hari dan empat belas jam dalam satu minggu.

(2) Pengusaha yang mempekerjakan pekerja/buruh melebihi waktu kerja wajib membayar upah kerja lembur.”

Bedasarkan pasal yang sudah dipaparkan maka peneliti menyimpulkan bahwa, pertama pekerjaan lembur itu harus mendapatkan persetujuan dari pekerja yang ingin dipekerjakan di luar waktu kerja normal, apabila pekerja tersebut tidak bersedia untuk bekerja lembur, maka pihak perusahaan tidak dapat memaksanya. Kesepakatan pekerjaan lembur antara pengusaha dan pekerja harus berbentuk dokumen tertulis yang memuat nama pekerja, lama waktu bekerja lembur, dan tanda tangan pekerja. Kedua waktu kerja lembur itu tidak boleh melebihi tiga jam dalam satu hari dan 14 jam dalam satu minggu.

Ketiga pekerja yang melakukan kerja lembur wajib mendapatkan upah kerja lembur yang sesuai dengan perhitungan dalam Undang-undang apabila ada perhitungan yang tidak sesuai dengan Undang-undang maka pengawas ketenagakerjaan lah yang berwenang menetapkan perhitungan upah kerja lembur yang berlaku.

Dalam hal pelaksaanan kegiatan kerja lembur maka perusahaan memiliki kewajiban terhadap pekerja, hal tersebut di atur dalam Pasal 7 Keputusan

Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi No KEP. 102/MEN/VI/2004 tentang Waktu Kerja Lembur Dan Upah Kerja Lembur, yakni :

“Perusahaan yang mempekerjakan pekerja/buruh selama waktu kerja lembur berkewajiban :

a. membayar upah kerja lembur;

b. memberi kesempatan untuk istirahat secukupnya;

c. memberikan makanan dan minum“

Bedasarkan pasal diatas maka pihak perusahaan yang mempekerjakan pekerja harus memberikan tiga hak pekerja ketika bekerja lembur. Pertama pihak perusahaan harus membayar upah kerja lembur tiap pekerja sesuai dengan waktu lemburnya, dan perhitungan upah kerja lembur harus mengikuti perhitungan dalam Undang-undang. Kedua pihak perusahaan harus memberikan waktu istirahat kepada pekerja sebelum memulai kerja lembur hal tersebut harus dilakukan untuk kesehatan para pekerja. Ketiga perusahaan harus memberikan makan dan minum kepada pekerja apabila waktu kerja lembur mencapai tiga jam atau lebih, dalam hal pemberian makan dan minum pihak perusahaan wajib menyediakan makanan dan minuman setara dengan sekurang-kurangnya 1.400 kalori, kemudian pemberian makan dan minum tidak boleh di ganti dengan uang.

Tujuan pokok hukum ketenagakerjaan adalah pelaksanaan keadilan sosial dalam bidang ketenagakerjaan dan pelaksanaan itu diselenggarakan dengan jalan melindungi pekerja terhadap kekuasaan yang tidak terbatas dari pihak majikan.10 Hal ini selaras dengan tujuan dari pengaturan upah lembur pekerja di Indonesia adalah untuk menyeimbangkan antara keuntungan perusahaan dan kesejahteraan para pekerja akibat dari adanya kerja lembur. Dalam hal ini perusahaan bisa mendapatkan keuntungan dari pekerja dikarenakan perusahaan bisa berproduksi diluar waktu kerja, dan disamping itu pekerja yang kehilangan jam istirahatnya bisa mendapatkan penghasilan sampingan untuk meningkatkan kesejahteraannya diluar gaji pokok.

10 Iman Soepomo, Pengantar Hukum Perburuhan, … h.7.

21

Dimana saat belum adanya aturan khusus mengenai upah kerja lembur, banyak para pengusaha yang mempekerjakan pekerjanya diluar jam kerja normal dengan tujuan keuntungan bagi perusahaan, tapi tidak memperhatikan pekerja. Hal tersebut sangat mencerminkan sistem kerja rodi di zaman penjajahan Hindia Belanda, dimana saat itu para pekerja diwajibkan bekerja tanpa batas dan diberi upah yang tidak setimpa dengan waktu kerja dan pekerjaanya, maka daripada itu dibuatlah pengaturan upah kerja lembur guna memperlakukan pekerja secara adil.

Hal ini juga selaras dengan sila ke-lima dalam Pancasila, yaitu “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”, dengan adanya pengaturan upah kerja lembur menjadikan hubungan kerja antara pengusaha dan pekerja menjadi lebih adil, disatu sisi pengusaha dapat meningkatkan produksi dan mengejar ketertinggal target perusahaannya, di sisi lain pekerja mendapatkan penghasilan tambahan atas pekerjaan tambahan yang dilakukannya.

D. Kerangkan Teori dan Konseptual 1. Kerangka Konseptual

Dalam pembahasan ini, akan diuraikan beberapa konsep-konsep terkait terhadap beberapa istilah yang akan sering digunakan dalam studi ini, yaitu:

a. Pekerja

Pekerja menurut kamus bahasa Indonesia adalah orang yang bekerja untuk orang lain dengan mendapat upah.11 Adapun pengertian lain dari pekerja adalah setiap orang yang bekerja pada suatu tempat, pekerja tersebut harus tunduk kepada perintah dan peraturan kerja yang diadakan oleh pengusaha ,dan memperoleh upah dan atau jaminan hidup lainnya yang layak atas imbalannya.12 Pengertian pekerja dalam Pasal 1 angka 3 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan adalah setiap orang yang bekerja dalam menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain.

11 Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Fustaka, 1995), Cet-7, h. 158.

12 Grace Vina, Perlindungan Pekerja/Buruh Dalam Hal Pemberian Upah Oleh Perusahaan Yang Terkena Putusan Pailit, (Skripsi Universitas Atmajaya: Yogyakarta, 2016), h. 4.

b. Pemberi Kerja

Pemberi kerja mempunyai arti dalam Pasal 1 angka 4 Undang-Undang Ketenagakerjaan Nomor 13 Tahun 2003 adalah perseorangan, pengusaha, badan hukum, atau badan-badan lainnya yang mempekerjakan tenaga kerja dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain.

c. Upah

Upah adalah hak pekerja/buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja kepada pekerja/buruh yang ditetapkan dan dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan, atau peraturan perundangundanga. Bentuk-bentuk pengupahan ialah disamping berupa uang, juga termasuk komponen tunjangan dan jaminan lainnya. Upah bentuk uang terdiri dari upah pokok, ,upah tunjangan keluarga, dan tunjangan jabatan, termasuk jaminan-jaminan lainnya.13

d. Waktu Kerja Lembur

Waktu kerja lembur adalah waktu yang melebihi 7 jam sehari dan 40 jam dalam 1 minggu untuk 6 hari kerja dalam 1 minggu, atau 8 jam dan 40 jam dalam satu minggu untuk 5 hari kerja dalam 1 minggu, atau waktu kerja pada hari istirahat mingguan dan/atau pada hari istirahat resmi yang di tetapkan oleh pemerintah Pasal 1 Kepmenakertrans No.

KEP-102/MEN/VI/2004 tentang Waktu Kerja Lembur dan Upah Kerja Lembur). Sedangkan lembur itu sendiri adalah pekerjaan yang dilakukan oleh karyawan, atas dasar perintah atasan, yang melebihi jam kerja biasa pada hari-hari kerja, atau pekerjaan yang dilakukan pada hari istirahat mingguan karyawan atau hari libur resmi.

e. Pasal 27 butir (2) Undang-Undang Dasar 1945

Dalam pasal ini menjelaskan bahwa tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.

13 Abdullah Sulaiman, Upah Buruh di Indonesia, (Jakarta: Penerbit Universitas Trisakti, 2008), h. 2.

23

f. Pasal 28 D butir (2) Undang-Undang Dasar 1945

Dalam pasal ini menjelaskan bahwa setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja.

g. Pasal 88 Undang-Undang Ketenagakerjaan Nomor 13 Tahun 2003 Dalam pasal ini menjelaskan bahwa pemerintah membuat aturan terkait pengupahan pada beberapa bidang, yaitu pada upah minimum, upah kerja lembur, upah tidak masuk kerja karena berhalangan, upah tidak masuk kerja karena melakukan kegiatan lain di luar pekerjaannya, bentuk dan cara pembayaran upah, denda dan potongan upah, hal-hal yang dapat diperhitungaka dengan upah, struktur dan skala pengupahan yang proporsional, upah untuk pesangon, upah untuk perhitungan pajak penghasilan.

2. Kerangka Teori a. Teori Keadilan

Kata “adil” berasal bahasa Arab “al ‘adl” yang artinya sesuatu yang baik, sikap yang tidak memihak, penjagaan hak-hak seseorang dan cara yang tepat dalam mengambil keputusan. Dalam bahasa Inggris keadilan disebut justice, dan bahasa latin disebut iustitia14. Konsep keadilan sudah mulai dibicarakan oleh filsuf dari zaman Yunani sampai saat sekarang.

Keadilan adalah suatu prediksi atau wacana yang diinginkan oleh hukum.

Pembicaraan keadilan memiliki cakupan yang luas, mulai dari yang bersifat etik, filosofis, hukum, sampai pada keadilan sosial . Teori keadilan selalu berkembang, namun teori klasik yang terkenal selalu menjadi bahan acuan bagi ahli-ahli hukum.

Keadilan menurut John Rawls sebagai ‘fairness’ singkatan dari’

justice as fairness’ artinya keadilan sebagai kesetaraan. Salah satu prinsip keadilan mengenai ketimpangan sosial dan ekonomi mesti diatur sedemikian rupa sehingga dapat diharapkan memberikan keuntungan

14 Sakuntala, Pemikiran Keadilan ( Plato, Aristoteles, dan John Rawls) diakses melalui https://alisafaat.wordpress.com/2008/04/10/pemikiran-keadilan-plato-aristoteles-dan-john-rawls/ tanggal 25 Juni 2016.

semua orang hal tersebut adalah prinsip keadilan dari perbedaan15. Dalam dunia ketenagakerjaan hal terlihat dalam perbedaan sosial dan ekonomi pekerja dengan pengusaha membutuhan pengaturan perlindungan bagi pihak yang lemah sosial ekonomi yaitu pekerja. Pekerja dalam hubungan ketenagakerjaan termasuk pihak yang lemah sosial ekonominya dibandingkan dengan pihak pengusaha yang kuat sosial ekonominya.

Sesuai dengan prinsip keadilan John Rawls tentang perbedaan yang mana perlu pengaturan dalam perundang-undangan bagi pihak yang berbeda sosial ekonomimya.16

Keadilan dalam pengadaan kegiatan kerja lembur sekiranya harus memberikan keuntungan bagi semua pihak. Bagi para pengusaha kegiatan kerja lembur dapat meningkatkan produksi perusahaan yang berimbas pada keuntungan perusahaan, sedangakan bagi para pekerja kegiatan kerja lembur dapat menambah pendapatan pekerja itu sendiri dikarenakan pekerja akan mendapatkan upah kerja lembur setelah melakukan kerja lembur.

Hukum ketenagakerjaan yang mengatur hubungan industial antara pekerja, pengusaha, dan pemerintah itu bertujuan agar mencapai keadilan bagi semua pihak, maka dalam tulisan ini teori keadilan sosial dari John Rawls sangat cocok digunakan dalam sebuah hubungan kerja dan akan menjadi acuan penulis dapat dipakai dalam hal perlindungan hak kerja lembur.

b. Teori Perlindungan Hukum

Menurut Satjipto Rahardjo, Perlindungan hukum adalah memberikan pengayoman atau perlindungan terhadap hak asasi manusia (HAM) yang dirugikan orang atau pihak lain, perlindungan itu diberikan oleh negara kepada masyarakat agar dapat menikmati semua hak-hak yang diberikan oleh hukum.

15 Dominikus, Filsafat Hukum, Mencari, Menemukan, dan Memahami Hukum, (Surabaya :Laks Bang Justisia, 2011), h. 79.

16 Aloysius Uwiyono, Hak Mogok di Indonesia, ( Jakarta, Disertasi Program Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2001), h.19.

25

Hukum Perburuhan dibuat untuk mengatur dan melindungi hak-hak dan kewajiban pekerja pengusaha dalam suatu hubungan kerja.17

Menurut Imam Soepomo Perlindungan hukum terhadap tenaga kerja terbagi menjadi tiga macam, yakni : 18

1. Perlindungan Ekonomis Yaitu perlindungan tenaga kerja dalam bentuk penghasilan yang cukup, termasuk apabila tenaga kerja tersebut tidak mampu bekerja di luar kehendaknya.

2. Perlindungan Sosial Yaitu perlindungan tenaga kerja dalam bentuk jaminan kesehatan kerja, kebebasan berserikat dan perlindungan untuk berorganisasi.

3. Perlindungan Teknis Yaitu perlindungan tenaga kerja dalam bentuk keamanan dan keselamatan kerja.

Perlindungan Ekonomis merupakan perlindungan terhadap pekerja terkait penghasilannya.19 Perlindungan ini meliputi usaha-usaha pekerja yang dilakukan untuk memberikan penghasilan yang cukup bagi kebutuhan hidup bagi pekerja beserta keluarganya. Sehubungan dengan perlindungan terkait penghasilan, maka yang menjadi dasar permasalahannya adalah mengenai imbalan kerja yang didapatkan oleh pekerja yang diistilahkan dengan upah.

Permasalahan upah merupakan persoalan klasik dalam bidang ketenagakerjaan dari masa kemasa. Sebab sulit mempertemukan dua pihak yang masing masing mempunyai kepentingan yang berbeda. Oleh sebab itu dalam kerangka memberikan perlindungan secara ekonomis, maka kebutuhan terhadap aturan tentang pengupahan menjadi mutlak adanya. Dengan demikian yang mungkin terjadi adalah penetapan upah yang didasarkan pada keinginan pemilik perusahaan dengan mengabaikan pemenuhan hak-hak pekerja untuk hidup secara

17 G, Karta Sapoetra dan RG. Widianingsih, Pokok-pokok Hukum Perburuhan, (Bandung:

Penerbit Armico Bandung, 1982), h.2.

18 Abdul Hakim, Pengantar Hukum Ketenagakerjaan Indonesia,(Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2003), h. 61-62.

19 Zaeni Asyhadie, Hukum Kerja, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2007), h. 78.

berkelayakan. Dalam sisi ini pemerintah berkepentingan menyelaraskan bentuk upah yang layak, dalam Pasal 1 butir 30 Undang-Undang Ketenagakerjaan yang menegaskan bahwa upah merupakan hak pekerja.

Dengan demikian pengabaian terhadap hak kerja lembur para pekerja dapat dikategorikan sebagai pelanggaran berat, dikarenakan tidak memberikan hak kerja lembur berarti melakukan pelanggaran Hak Asasi Manusia.

Perlindungan tenaga kerja sebagaimana yang telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan bertujuan untuk menjamin berlangsungnya hubungan kerja yang harmonis antara pekerja dengan pengusaha tanpa disertai adanya tekanan-tekanan dari pihak yang kuat kepada pihak yang lemah. Oleh karena itu pengusaha yang secara sosio-ekonomi memiliki kedudukan yang kuat wajib membantu melaksanakan ketentuan perlindungan kepada pekerja tersebut sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

E. Tinjauan (Review) Kajian Terdahulu

Setelah penulis melakukan peninjauan terhadap kajian terdahulu terdapat beberapa yang berhubungan dengan penelitian ini yaitu ;

1. SKRIPSI

a. PELAKSANAAN PEMBAYARAN UPAH KERJA LEMBUR TENAGA KERJA PT. KENDI ARINDO KOTA BANDAR LAMPUNG.

Skripsi yang ditulis oleh Tristya Jayanti20, berjudul Pelaksanaan Pembayaran Upah Kerja PT. Kendi Arindo Kota Bandar Lampung.

Pada skripsi tersebut membahas tentang tata cara pelaksanaan pembayaran, perhitungan, dan faktor-faktor yang menjadi penghambat mengenai permasalahan upah lembur terhadap para pekerja di PT. Kendi

20 Tristya Jayanti, “ Pelaksanaan Upah Kerja Lembur Tenaga Kerja PT. Kendi Arindo Kota Bandar Lampung”, ( Skripsi S-1 Fakultas Hukum Universitas Negeri Lampung, 2016).

27

Arindo. Adapun persamaan dengan penelitian peneliti yakni, membahas upah lembur pekerja dalam sebuah perseroan terbatas, namun terdapat perbedaan dimana penelitian yang dilakukan peneliti yakni membahas tentang tata cara pelaksanaan waktu dan upah lembur terhadap para pekerja di PT. Cahaya Insani.

b. KONSEP PERJANJIAN KERJA DAN UPAH MENURUT HUKUM ISLAM DAN HUKUM POSITIF.

Skripsi yang ditulis oleh Hasan Aziz21, berjudul Konsep Perjanjian Kerja Dan Upah Menurut Hukum Islam Dan Hukum Positif.

Pada skripsi tersebut membahas tentang kesesuaian perjanjian kerja dan upah kerja pekerja di CV. Cahaya Logam apabila dilihat dari hukum islam dan hukum positif di Indonesia.

Adapun Persamaan dengan penelitian peneliti yakni, membahas upah dan perkanjian kerja dalam sebuah perusahaan, namun terdapat perbedaan dimana penelitian yang dilakukan peneliti yakni objek dari perusahaan yang ingin di bahas.

2. BUKU

a. HUKUM KERJA

Buku yang ditulis oleh Zaeni Asyhadie22, berjudul Hukum Kerja

Pada buku tersebut membahas tentang hukum ketenagakerjaan dalam bidang hubungan kerja antara para pemberi kerja dengan pekerja, kemudian dalam buku ini membahas pula hak-hak dan kewajiban pengusaha dan pekerja dalam hubungan kerja.

Adapun persamaan dengan penelitian peneliti yakni membahas tentang hubungan antar pengusaha atau perusahaan dengan pekerja, namun terdapat perbedaan dimana penelitian yang dilakukan peneliti yakni peneliti hanya terfokus pada pembahasan waktu kerja lembur dan upah kerja lembur di PT. Cahaya Insani.

21 Hasan Aziz, “Konsep Perjanjian Kerja Dan Upah Menurut Hukum Islam Dan Hukum Positif”, (Skripsi S-1 Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2015).

22 Zainal Asyhadie, ”Hukum Kerja”, (Jakarta :PT. Raja Grafindo Persada, 2008).

3. JURNAL

a. WAKTU KERJA LEMBUR DAN UPAH KERJA LEMBUR DI PERUSAHAAN MENURUT HUKUM POSITIF.

Artikel yang ditulis oleh Yulius Kasino23, berjudul Waktu Kerja Lembur Dan Upah Kerja Lembur Di Perusahaan Menurut Hukum Positif.

Pada jurnal tersebut membahas tentang aturan waktu lembur sebuah perusahaan dan upah kerja lembur pekerja pada sebuah perusahaan menurut hukum positif di Indonesia.

Adapun persamaan dengan penelitan peneliti yakni, membahas waktu lembur dan upah kerja lembur pekerja di sebuah perusahaan, namun terdapat perbedaan dimana penelitian yang dilakukan peneliti yakni membahas tentang upah kerja lembur pekerja di PT. Cahaya Insani.

23 Yulius Kasino, Waktu Kerja Lembur dan Upah Kerja Lembur Di Perusahaan Menurut Hukum Positif, (Jurnal Ekonomi dan Kewirausahaan Vol 7, No 01, April 2007).

29 BAB III

PENGATURAN UPAH KERJA LEMBUR DI PT. CAHAYA INSAN

Pembahasan pada bab ini terfokus pada data atau hasil penelelitian yang diambil sebagian besar dari lapangan, dan sisanya dari sumber lain. Pada bab ini terdiri atas delapan subbab, yang mana semua subbab terfokus pada poin-poin permasalahaan penelitian ini.

A. Profil PT. Cahaya Insan 1. Sejarah PT. Cahaya Insan

PT. Cahaya Insan adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa penyediaan dan pengelolaan pekerja, perdagangan Umum, dan jasa konstruksi. didirikan pada tanggal 24 Febuari 2004, dengan Akta Notaris Nomor 9 yang dikeluarkan oleh Notaris Firmansjah, SH pada tahun 2004, dan diperbaharui pada tanggal 7 April 2011 di Kota Depok.

PT Cahaya insan beralamat di Jalan Sentosa Raya no.53, Depok II Tengah, Kota Depok, Jawa Barat, alamat tersebut sudah sesuai dengan Surat Izin Tempat usaha No.503/258/Kpts/SITU-BPPT/IV/2010 dan Surat Keterangan Domisili Usaha No. 503/18-Pemb&Perekonomian yang dimiliki oleh PT. Cahaya Insan.

Pada awalanya kegiatan perusahaan yang dilakukan PT. Cahaya Insan adalah melakukan pekerjaan di bidang jasa sebagai rekanan penyedia tenaga kerja outsourching dari PT. PLN (Persero) APJ Depok yang meliputi pekerjaan di bidang Payment Point (PP) Putus Sambung (Tusbung), Dinas Gangguan (DG), Cleaning Service (CS), Catat Meter (CATER), Sewa Komputer, dan Sewa Kndaraan Dinas Pegawai PT. PLN (Persero) APJ Depok.

Pada tahun 2010 sampai sekarang perusahaan PT.Cahaya Insan telah mengembangkan hubungan kemitraan dengan melakukan hubungan kemitraan tidak hanya ke PT. PLN (Persero) tapi kepada beberapa lembaga pemerintah dan swasta dalam hal pengadaan barang dan jasa. Dalam

memperoleh kesempatan mendapatkan perintah kerja dilakukan melalui proses pengadaan mengikuti kaedah G.C.G (Good Clean Gouvernance) dengan proses e-procurement. Untuk meningkatkan kinerja perusahaan dan memberikan pelayanan yang maksimal terhadap pengguna layanan jasa, PT.

Cahaya Insan telah memperoleh ISO 9001:2015 dalam bidang system Manajemen Mutu pada tahun 2015.

2. Bidang Usaha PT. Cahaya Insan

Bidang usaha PT. Cahaya Insan bergerak pada bidang jasa, penyediaan dan pengelolaan pekerja dan jasa kontruksi. Jenis usaha dan kegiatan terdiri dari dua, yaitu :

Penyediaan dan pengelolaan pekerja terdiri dari : a. Satuan Pengaman

b. Kebersihan (Cleaning Service) c. Supir

d. Biling Manajemen

e. Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik. (P2TL) Bidang usaha pengadaan barang terdiri dari :

a. Alat peralatan kebutuhan pendukung oprasional dan invesasi, b. Fabrikasi panel-panel

c. Mobile trafo d. Metal Works

e. Kendaraan Oprasional.

3. Struktur Organisasi Perusahaan

Struktur Organisasi yang terdapat dalam PT. Cahaya Insan terdiri dari beberapa bagian dari yang tertinggi hingga yang terendah, keputusan tertinggi di perusahaan PT.Cahaya Insan terdapat pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), kemudian susunan pengurus PT Cahaya Insan terdiri bagian yaitu :

a. Komisaris : K.Priyatni b. Direktur : Adjum

31

c. Manajer Pemasaran & Operasional: Hartanto, SE.

d. Manajer SDM & Keuangan : Imam Irmawan, A.Md e. Manajer P2TL : Zakir Hamzah

B. Visi dan Misi PT. Cahaya Insan 1. Visi :

a. Memberikan jasa pelayanan tekhnik dan menyediakan barang peralatan sesuai kebutuhan mitra usaha yang memenuhi harapan konsumen dan pihak-pihak terkait.

b. Meningkatkan proses bisnis yang melalui mekanisme peningkatan berkelanjutan.

c. Mencapai sasaran mutu yang telah ditetapkan di setiap proses bisnis inti dan melakukan evaluasi secara periodik.

2. Misi :

a. Memberikan pelayanan jasa dalam bidang jasa tekhnik dan menyediakan barang peralatan sesuai kebutuhan mitra usaha secara Profesional dan Estetik.

b. Peningkatan Kinerja (Efisiensi & Efektifitas) perusahaan dalam rangka peningkatan benerit dan value bagi konsumen.

C. Status Pekerja di PT. Cahaya Insan

Pekerja yang berkerja di PT. Cahaya Insan terdiri dari berbagai bidang kerja yang nantinya akan di salurkan ke perusahaan yang bermitra dengan PT.

Cahaya Insan, bidang kerja tersebut terdiri dari Jasa Kebersihan (Cleaning Service), Jasa Keamanan (Satpam), Jasa Biling manajemen (pencatat meter dan pemutus sambung aliran listrik), Jasa P2TL (Penertib Pemakaian Tenaga Listrik), Jasa Transportasi (Supir), dan pengurus Organisasi Perusahaan PT.

Cahaya Insan. Namun tujuh tahun terakhir PT. Cahaya Insan lebih terfokus ke arah bidang kerja Biling Manajemen, dikarenakan kebutuhan pasar.

Sebelum menjadi pekerja, PT. Cahaya insan memberikan masa percobaan selama tiga bulan, hal tersebut agar calon pekerja dapat menyesuaikan diri terhadap kondisi lingkungan kerjaan dan memberikan kesempatan kepada perusahaan menilai kinerja calon karyawannya, apabila calon pekerja yang menjalani masa percobaan tidak menunjukkan kinerja sesuai kebutuhan perusahaan, maka perusahaan dapat memutuskan hubungan

Sebelum menjadi pekerja, PT. Cahaya insan memberikan masa percobaan selama tiga bulan, hal tersebut agar calon pekerja dapat menyesuaikan diri terhadap kondisi lingkungan kerjaan dan memberikan kesempatan kepada perusahaan menilai kinerja calon karyawannya, apabila calon pekerja yang menjalani masa percobaan tidak menunjukkan kinerja sesuai kebutuhan perusahaan, maka perusahaan dapat memutuskan hubungan

Dalam dokumen i (Halaman 29-0)

Dokumen terkait