i
v ABSTRAK
MOCHAMAD AZYIMARDI RAYADHI, NIM 11150480000154,
“PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP HAK PEKERJA LEMBUR PT.
CAHAYA INSAN MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN”. Peminatan Hukum Bisnis, Program Studi Ilmu Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 1440H/2020M, 74 halaman.
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan mengenai aturan dan hak pekerja saat melakukan kerja lembur. Permasalahan pada skripsi ini adalah perlindungan hak-hak pekerja ketika sedang bekerja lembur (over time). walaupun aturan mengenai hak dan kewajiban pekerja saat lembur sudah diatur dalam Undang-undang namun dilapangan masih banyak perusahaan yang mempekerjakan pekerjanya tidak mengikuti aturan dan tata cara yang sudah di atur dalam Undang-undang.
Metode penelitian yang digunakan adalah Normatif-Empiris. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi kepustakaan serta wawancara dari pihak perusahaan, perusahaan yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu PT.
Cahaya Insan. Dalam penelititan ini yang menjadi contoh kasus adalah pelaksanaan kerja lembur yang dilakukan PT. Cahaya Insan terhadap.
Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat beberapa kebijakan perusahaan (PT. Cahaya Insan) yang tidak sesuai dengan aturan Undang-undang saat melakukan kegiatan kerja lembur sehingga tata cara dalam kegiatan kerja lembur tidak sesuai dengan yang diatur Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, yang mengakibatkan pekerja yang melakukan lembur tidak mendapatkan hak kerja lembur yang dimana hak kerja lembur sudah dilindungi oleh negara.
Kata Kunci : Upah, Lembur, Pekerja
Pembimbing Skripsi : Prof. Dr. Abdullah Sulaiman, S.H, M.H.
Daftar Pustaka : Tahun 1982 – Tahun 2019
vi
KATA PENGANTAR
ﻢﻴ ِﺣ ﱠﺮﻟﺍ ِﻦَﻤْﺣ ﱠﺮﻟﺍ ِ ﱠO ِﻢْﺴِﺑ
Alhamdulillahirabbil‘alamin segala puji serta syukur dipanjatkan kepada Allah SWT yang telah mengatur seluruh kehidupan dan penguasa seluruh kehendak hati manusia. Shalawat serta salam semoga tetap dilimpahkan selamanya kepada uswah hasanah kita yakni Nabi Muhammad SAW. yang telah mengajarkan kepada umatnya bagaimana memaknai hidup ini sesungguhnya, tak lupa kepada keluarganya, sahabat dan umatnya yang senantiasa kukuh dan istiqomah dalam memegang sunnahnya sampai hari pembalasan.
Selama penyusunan skripsi ini dan selama peneliti belajar Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak, sehingga skripsi ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Oleh karena itu, izinkan peneliti menyampaikan ucapan terimakasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat :
1. Dr. Ahmad Tholabi Kharlie S.H., M.H., M.A. Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Dr. M. Ali Hanafiah Selian, S.H., M.H. dan Drs. Abu Tamrin, S.H., M.Hum.
Ketua Program Studi Ilmu Hukum dan sekertaris Program Studi Ilmu Hukum.
3. Prof. Dr. Abdullah Sulaiman, S.H, M.H. Pembimbing skripsi ditengah kesibukannya telah banyak meluangkan waktu dan memberikan arahan serta ilmunya selama peneliti mengerjakan skripsi ini.
4. Kepala urusan Perpustakaan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Kepala Pusat Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang telah memberikan fasilitas untuk mengadakan studi kepustakaan guna menyelesaikan skripsi ini.
5. Keluarga peneliti yang telah memberikan dukungan dan bantuan selama mengerjakan penulisan.
vii
6. Pihak-pihak yang sudah memberi kontribusi kepada peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini yang selalu mendukung secara penuh.
Peneliti berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi peneliti dan pembaca serta pihak yang memerlukannya.
Jakarta, 20 Januari 2020
Mochamad Azyimardi Rayadhi
viii DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
LEMBAR PERSETUJUAN PANITIA UJIAN SKRIPSI ... iii
LEMBAR PERNYATAAN ... iv
ABSTRAK ... v
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... viii
BAB-I : PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi, Pembatasan, dan Perumusan Masalah ... 6
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 7
D. Metode Penelitian ... 8
E. Sistematika Pembahasan ... 12
BAB-II : TINJAUAN HUKUM KETENAGAKERJAAN MENGENAI HAK LEMBUR PEKERJA ... 14
A. Pengertian Pekerja/Buruh ... 14
B. Tinjauan Umum Upah ... 16
C. Pengaturan Kerja Lembur Bedasarkan Hukum Yang Berlaku ... 19
D. Kerangka Teori dan Konseptual ... 22
E. Tinjauan (Review) Kajian Terdahulu………...27
BAB-III : PENGATURAN UPAH KERJA LEMBUR DI PT. CAHAYA INSAN ... 30
A. Profil PT. Cahaya Insan ... 30
B. Visi dan Misi PT. Cahaya Insan ... 32
C. Status Pekerja di PT. Cahaya Insan ... 33
D. Pengaturan Waktu Kerja dan Upah Kerja Bulanan PT. Cahaya Insan ... 34
E. Perhitungan Upah Kerja Lembur Menurut Hukum Yang Berlaku ... 36
F. Faktor PT. Cahaya Insan Tidak Memberikan Upah Kerja Lembur Kepada Pekerja ... 38
ix
BAB-IV : PENYELESAIAN PERSELISIHAN HAK LEMBUR PEKERJA
DI INDONESIA ... 40
A. Pelaksanaan Kerja Lembur Di PT. Cahaya Insan ... 40
B. Analisis Pelaksanaan Hak Kerja Lembur Pekerja Di PT. Cahaya Insan ... 43
C. Faktor PT. Cahaya Insan Tidak Memberikan Hak Kerja Lembur ... 52
BAB-V : PENUTUP ... 58
A. Kesimpulan ... 58
B. Rekomendasi ... 59
DAFTAR PUSTAKA ... 61
LAMPIRAN ... 63
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Negara Indonesia merupakan sebuah negara yang memiliki tingkat kependudukan yang padat. Hal ini dapat dilihat bahwa Indonesia menduduki peringkat empat dalam urusan negara dengan jumlah kepadatan penduduk terbanyak di dunia. Atas hal itu, Negara Indonesia memiliki sumber daya manusia (SDM) yang berlimpah untuk memajukan ekonominya sendiri.
Negara Indonesia merupakan negara yang sedang berkembang, oleh karena itu perekonomian di negara ini tidak begitu stabil sehingga masih banyak permasalahan-permasalahan yang muncul dari berbagai bidang, salah satu permasalahanya terdapat pada dunia ketenagakerjaan. Untuk mengatasi masalah tersebut, Pemerintah Indonesia melakukan pembangunan dalam segala bidang. Pembangunan tersebut juga meliputi pembangunan di dalam dunia ketenagakerjaan sebagaimana amanat dalam Pasal 27 ayat (2) UUD 1945
“Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.” Dalam pasal tersebut memiliki arti bahwa warga negara berhak mendapatkan sebuah pekerjaan dengan upah yang layak untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Untuk melaksanakan amanat yang ada dalam dalam Pasal 27 ayat (2) UUD 1945, Pemerintah Indonesia melakukan beberapa upaya untuk memperbaiki dunia ketenagakerjaan salah satunya aspek hukum pada dunia ketenagakerjaan. Dimana hukum tersebut mengatur jalannya dunia ketenagakerjaan dan memberi perlindungan kepada hak dan kewajiban para pengusaha dan pekerja, Karena alasan tersebut pemerintah membuat suatu aturan yang mengatur dunia ketenagakerjaan yaitu undang-undang mengenai dunia ketenagakerjaan, dan salah satu produk hukum terbaru adalah Undang- Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan beserta peraturan lain tentang Ketenagakerjaan yang merupakan versi terbaru dan sampai saat ini
2
masih berlaku. Menurut dunia ketenagakerjaan penduduk terbagi menjadi dua, yaitu tenaga kerja dan bukan tenaga kerja, penduduk tergolong tenaga kerja jika penduduk tersebut telah memasuki usia kerja. Batas usia kerja yang berlaku di Indonesia adalah berumur 15 tahun – 64 tahun. Orang yang bekerja merupakan orang yang dianggap memiliki potensi untuk bekerja secara produktif.1. Menurut Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan disebutkan bahwa tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat.
Apabila seseorang sudah menggunakan tenaga dan kemampuannya untuk mendapatkan balasan berupa pendapatan, baik berupa uang maupun bentuk lainya dari pemberi kerja atau pengusaha atau majikan, maka ia sudah termasuk dalam kategori pekerja atau buruh. Dalam KBBI kata buruh atau pekerja mempunyai arti yang sama yaitu orang yang bekerja untuk orang lain dengan mendapat upah. Menurut Undang-Undang 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, dijelaskan bahwa pekerja/buruh adalah “setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain”. Pengertian lebih jelasnya adalah pekerja/buruh berupa orang-orang yang bekerja pada suatu tempat, pekerja tersebut akan memperoleh upah dan atau jaminan hidup lainnya yang layak.
Pengusaha dan pekerja harus tunduk kepada undang-undang, lebih lanjut pekerja harus tunduk terhadap peraturan kerja yang dibuat oleh pengusaha (majikan) dan pekerja, kemudian keduanya turut serta bertanggung jawab atas lingkungan perusahaannya.2 Dikarenakan perjanjian yang mengikatnya merupakan Undang-Undang bagi keduanya.
Seorang yang memberi pekerjaan kepada pekerja dalam dunia ketenagakerjaan disebut sebagai pemberi kerja. Pemberi kerja adalah orang perseorangan, pengusaha, badan hukum, atau badan-badan lainnya yang
1 Adi Oetomo dan Sri Murtiningsih,DasarDasar Demografi, (Salem Empat: Jakarta, 2005), h.3.
2 Grace Vina, Perlindungan Pekerja/Buruh Dalam Hal Pemberian Upah Oleh Perusahaan Yang Terkena Putusan Pailit, (Skripsi Universitas Atmajaya: Yogyakarta, 2016), h. 4.
mempekerjakan tenaga kerja dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain (Pasal 1 angka 4 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan). Pengusaha mempunyai kewajiban yaitu membayar upah pekerjasementara itu kewajiban tambahan adalah memberikan surat keterangan kepada pekerja/buruh yang dengan kemauan sendiri hendak berhenti.3 Pengusaha yang menjalankan suatu perusahaan milik sendiri atau bukan milik sendiri yang berada di Indonesia seharusnya dilarang membayar atau memberi upah kepada para karyawannya lebih rendah dari upah minimum yang telah ditetapkan oleh pemerintah daerah, sebaliknya para pekerja/buruh bekerja menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain dengan syarat melaksanakan pekerjaannya secara profesional sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan senantiasa mematuhi perjanjian kerja yang sudah disepakati, mengenai upah atau imbalan yang dimaksud disini ialah hak pekerja/buruh yang diterima dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja kepada pekerja/buruh yang ditetapkan dan dibayarkan menurut perjanjian kerja, kesepakatan, atau peraturan perundang-undangan.4
Untuk menjalakan sebuah usaha maka harus ada hubungan antara pemberi kerja dan pekerja, dalam hal ini disebut sebagai hubungan kerja.
menurut Pasal 1 angka 15 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 “ Hubungan kerja adalah hubungan antara pengusaha dan pekerja atau buruh berupa perjanjian kerja yang mempunyai unsur pekerjaan, upah, dan perintah”. Lebih lanjut hubungan kerja adalah hubungan antar pengusaha dengan pekerja yang timbul dari perjanjian kerja yang diadakan untuk waktu tertentu maupun untuk waktu yang tidak tertentu.5
Perjanjian kerja yang dibuat dapat berupa perjanjian tertulis maupun perjanjian lisan, namun banyak perusahaan atau pengusaha di Indonesia menggunakan perjanjian kerja secara tulis. Adanya perjanjian kerja maka
3 Zaelani Asyhadie, Hukum Kerja, (Jakarta; Raja Grafindo Persada, 2007), h. 66.
4 Yulius Kasino, Waktu Kerja Lembur dan Upah Kerja Lembur di Perusahaan Menurut Hukum Positif , (Surakarta; Jurnal Hukum Fakultas Hukum Universitas Slamet Riyadi, 2007), h.
90.
5 Husni Lalu, Penghantar Hukum Ketenagakerjaan Indonesia, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000), h. 63.
4
secara tidak langsung timbul suatu ikatan antara pengusaha dengan pekerja/buruh. Sehingga adanya ikatan perjanjian kerja inilah yang akan menimbulkan hubungan kerja.6 Syarat sahnya sebuah perjanjian kerja dapat dilihat dalam Pasal 52 ayat (1) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, yang mana apabila perjanjian tersebut dibuat bertentangan dengan syarat tersebut diatas maka perjanjian tersebut dapat dibatalkan dan batal demi hukum. Terdapat dua subjek dalam perjanjian kerja, yaitu pihak pengusaha dan pihak pekerja dalam suatu perjanjian, dimana pihak pekerja akan mengikatkan dirinya pada pihak pengusaha atau perusahaan, untuk bekerja dan mendapatkan upah penghasilan, dan pengusaha menyatakan kesanggupannya untuk mempekerjakan pekerja dan membayar upahnya.7
Para pekerja berkewajiban bekerja pada saat waktu kerja yang telah disepakati dalam perjanjian kerja. Mengenai waktu kerja sudah diatur dalam Pasal 77 ayat (2) :
“Waktu kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi:
1. 7 (tujuh) jam 1 (satu) hari dan 40 (empat puluh) jam 1 (satu) minggu untuk 6 (enam) hari kerja dalam 1 (satu) minggu; atau
2. 8 (delapan) jam 1 (satu) hari dan 40 (empat puluh) jam 1 (satu) minggu untuk 5 (lima) hari kerja dalam 1 (satu) minggu.”
Dalam kegiatan kerja terkadang para pengusaha mempekerjakan para pekerjanya melebihi waktu kerja normal, hal ini biasanya terjadi karena ada permintaan pasar yang melunjak atau target produksi dari perusahaan yang belum tercapai. kerja di luar waktu kerja normal dinamakan sebagai waktu kerja lembur. Dalam Pasal 1 Kepmenakers Nomor 102 pengertian waktu kerja lembur adalah waktu kerja yang melebihi 7 (tujuh) jam dalam 1 (satu) hari dan 40 (empat puluh) jam 1 (satu) minggu untuk 6 (enam) hari kerja dalam 1 (satu) minggu; atau 8 (delapan) jam dalam 1 (satu) hari dan 40 (empat puluh) jam 1 (satu) minggu untuk 5 (lima) hari kerja dalam 1 (satu) minggu, atau waktu
6 Zainal Asikin, Dasar-Dasar Hukum Perburuhan ( Jakarta : PT Raja Gradindo Persada, 2010), h. 68.
7 Zaelani Asyhadie, Hukum Kerja, … h.66.
kerja hari istirahat mingguan dan atau pada hari libur resmi yang ditetapkan pemerintah.8
Seorang pekerja berhak mendapatkan upah lembur apabila, pengusaha mempekerjakannya melebihi waktu kerja yang di atur. Apabila seorang pekerja melakukan pekerjaan melebihi jam kerja normal, maka pekerja tersebut sedang bekerja pada waktu lembur. Untuk pengusaha yang ingin mempekerjakan pekerjanya di luar waktu kerja maka harus mendapatkan persetujuan dari pekerja yang bersangkutan. dan waktu kerja lembur hanya dapat dilakukan paling banyak 3 (tiga) jam dalam 1 (satu) hari dan 14 (empat belas) jam dalam 1 (satu) minggu.9
Didalam Pasal 7 Keputusan Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi NOMOR KEP. 102/MEN/VI/2004 dijelaskan bahwa perusahaan yang mempekerjakan pekerja/buruh selama waktu kerja lembur berkewajiban : membayar upah kerja lembur, memberi kesempatan untuk istirahat secukupnya, memberikan makanan dan minuman sekurang-kurangnya 1.400 kalori apabila kerja lembur dilakukan selama 3 (tiga) jam atau lebih. Pemberian makan dan minum tidak boleh diganti dengan uang.
Walaupun Pemerintah Indonesia telah membuat aturan mengenai hubungan antara pengusaha dan pekerja agar terciptanya keadilan dalam hubungan kerja, tetapi masih banyak perusahaan-perusahaan yang melanggar ketentuan-ketentuan yang sudah diatur dalam hukum positif di Negara Indonesia, salah satunya mengenai waktu dan upah lembur pekerja atau buruh.
Dimana dalam beberapa kasus banyak pekerja yang bekerja melebihi 8 jam/hari (waktu jam kerja) tetapi tidak mendapatkan hak lembur dari perusahaan, yang dimana dalam Pasal 78 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, mewajibkan untuk seluruh pengusaha membayar upah lembur apabila mempekerjakan para pekerja melebihi waktu jam kerja normal.
8 Abdul Khakim, Aspek Hukum Pengupahan, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti,2006), h.
29.
9 Vega Merpati, Hak dan Kewajiban Perusahaan Terhadap Pekerja yang Bekerja Melebihi Batas Waktu, (Manado: Jurnal Hukum FH Universitas Sam Ratulangi, 2015), h . 79.
6
Seperti contoh kasus permasalahan dalam kerja lembur yang dilansir dari laman harian jawa pos, terdapat sebuah perusahaan bernama PT. Kaisar Laksmi Mas Garment di Jalan Tole Iskandar, Kelurahan Sukamaju, Cilodong diduga memperkerjakan buruh nyaris seharian, atau sekitar 22 jam.10 Hal tersebut jelas tidak bisa dibenarkan dari segi hukum dikarenakan telah melanggar ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan sebagaimana yang diatur Pasal 78 ayat (2), yakni :
“Pengusaha yang mempekerjakan pekerja/buruh melebihi waktu kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib membayar upah kerja lembur.”
Dalam situasi seperti ini posisi pekerja sangat lemah, dikarenakan para pekerja hanya berstatus pegawai kontrak, sehingga apabila tidak melakukan tuntutan pekerjaan dari pengusaha maka bayang-bayang pemutusan kontrak datang. Hal tersebut terjadi dikarenakan kurangnya pengawasan yang dilakukan pemerintah melalui Dinas Tenaga Kerja terhadap permasalahan seperti ini.
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, peneliti mengkaji lebih dalam masalah perlindungan hak pekerja ketika lembur, Maka dari itu, judul penelitian ini adalah “Perlindungan Hukum Terhadap Pekerja Lembur Menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan Di PT.
Cahaya Insan”.
B. Identifikasi, Pembatasan, dan Perumusan Masalah 1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang dijabarkan sebelumnya, maka identifikasi masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Pengusaha tidak sepenuhnya memenuhi hak pekerja yang bekerja pada waktu kerja lembur.
b. Pekerja tidak mendapatkan hak lembur yang sesuai atas pekerjaannya yang melebihi waktu normal.
c. Perjanjian kerja PT Cahaya Insan tidak mengatur mengenai upah lembur.
10https://m.jawapos.com/jpg-today/20/02/2017/pabrik-ini-pekerjakan-buruh-22-jam-uang- lembur/ Akses 05/02/2019, Pukul 13.33 WIB.
d. Perjanjian Kerja PT Cahaya Insan bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.
2. Pembatasan Masalah
Mengingat luasnya objek pembahasan mengenai pengaturan dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003, dan aturan lain yang berkaitan dengan dunia ketenagakerjaan, agar penelitian ini terfokus pada permasalahan yang ada di identifikasi masalah diatas, maka penulis melakukan pembatasan masalah hanya pada pembahasan hak lembur pekerja yang bekerja pada waktu lembur di PT Cahaya Insan. Dan dikarenakan banyaknya bidang kerja di PT. Cahaya Insan maka peneliti hanya berfokus kepada bidang kerja utama PT. Cahaya Insan yaitu bidang kerja Biling Manajemen.
3. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan pembatasan masalah, maka peneliti merumuskan masalah sebagai berikut: apakah perusahan PT. Cahaya Insan memberikan hak kerja lembur kepada pekerja lalu bagaimana pengaturan mengenai hak kerja lembur di Indonesia, kemudian bagaimana cara penyelsaian apabila terjadi persilisahan hak kerja lembur dalam sebuah hubungan kerja. Untuk mempertergas arah pembahasan dari masalah utama yang telah diuraikan di atas maka peneliti menjabarkan penulisan ini melalui rincian perumusan masalah dalam bentuk pertanyaan :
a. Bagaimana ketentuan pengaturan upah lembur di Indonesia ? b. Bagaimana pemberian upah kerja lembur di PT. Cahaya Insan ?
c. Bagaimana penyelesaian perselisihan hak kerja lembur di PT Cahaya Insan ?
C. Tujuan Dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah :
a. Untuk mengetahui pengaturan upah lembur yang berlaku di Indonesia bedasarkan hukum positif.
8
b. Untuk mengetahui tentang pelaksanaan kewajiban PT. Cahaya Insani dalam melindungi hak pekerja saat bekerja lembur.
c. Untuk mengetahui penyelsaian masalah perselisihan hak upah kerja lembur di PT. Cahaya Insan.
2. Manfaat Penelitian
Secara garis besar, manfaat penelitian ini dibagi menjadi dua yaitu : a. Manfaat Teoritis
Penelitian ini untuk memberikan sumbangan pengetahuan bagi perkembangan ilmu hukum khususnya tentang hukum ketenagakerjaan dengan pembahasan hak pekerja saat kerja lembur.
b. Kegunaan Praktis
Kegunaan praktis dari penelitian ini adalah sebagai acuan refrensi bagi pendidikan dan penelitian hukum, sumber bacaan bidang hukum khususnya tentang pelaksanaan hak pekerja saat kerja lembur.
D. Metode Penelitian 1. Pendektan Penelitian
Di dalam penelitian ini menggunakan tipe metode Normatif-Empiris, yaitu penelitian yang mengacu pada norma hukum yang terdapat pada peraturan perundang-undangan dan norma-norma yang berlaku di masyarakat.
Sedangkan pendekatan yang digunakan adalah Pendekatan Perundangan-undangan (statue approach), mengingat peneliti berusaha menganalisis beberapa peraturan perundang-undangan sebagai fokus penelitian. Undang-undang tersebut adalah Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003, Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011, Keputusan Menteri Tenaga kerja dan Transmigrasi RI Nomor : KEP.100/MEN/VI/ 2004.
2. Jenis penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan dalam skripsi ini adalah kualitatif eksploratif, dimana setelah seluruh data yang di peroleh oleh peneliti, data
tersebut lalu dianalisa dengan analisa kualitatif.11 yaitu suatu cara penelitian yang menghasilkan data deskriptif analisis. Adapun metode kualitatif eksploratif menggambarkan secara jelas dan terperinci mengenai suatu keadaan yang terjadi dilapangan secara objektif, sehingga didapatkan fakta- fakta yang diselidiki.
3. Data Penelitian
Data penelitian adalah segala fakta dan angka yang dapat dijadikan bahan untuk menyusun suatu informasi.12 Dikarenakan hal itu maka data yang peneliti gunakan untuk menyusun informasi yang ada dalam penelitian ini ialah sebagai berikut:
1. Bahan hukum primer merupakan bahan hukum yang bersifat autoritatif artinya mempunyai otoritas. Bahan-bahan hukum primer meliputi perundang-undangan, keputusan menteri, dan hasil wawancara.
2. Bahan hukum Sekunder berupa semua publikasi tentang hukum yang bukan merupakan dokumen-dokumen resmi, meliputi, kamus hukum, jurnal hukum, Buku teks, dan komentar-komentar atas norma hukum.
3. Bahan non-hukum adalah bahan diluar bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder yang dipandang perlu. Bahan non-hukum tersebut berupa buku-buku mengenai ilmu Ekonomi, Sosiologi, Filsafat, atau laporan penelitian non–hukum tersebut dimaksud untuk memperkaya dan memperluas wawasan peneliti.
4. Sumber Data
Dalam penelitian ini terdapat beberapa sumber data yang digunakan diantaranya ialah :
a. Data Primer
Dalam hal penelitian ini yang termasuk data primer ialah 1) Undang-Undang :
a) Undang-undang Dasar 1945;
11 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia, 1986), cet. 3, h.13.
12 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Kegiatan Praktek, (PT. Rineka Cipta, 2002), h. 96.
10
b) Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.
2) Peraturan Lain :
a) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 78 tahun 2015 tentang Pengupahan;
b) Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Replubik Indonesia Nomor Kep.102/MEN/BI/2004 Tentang Waktu Kerja Lembur Dan Upah Kerja Lembur;
c) Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Replubik Indonesia Nomor KEP.233/MEN/2003 tentang Jenis dan Sifat Pekerjaan Yang Dijalankan Secara Terus Menerus;
3) Data Wawancara.
b. Data Sekunder
Data sekunder adalah berupa publikasi tentang hukum yang bukan merupakan dokumen-dokumen resmi. Publikasi tentang hukum dalam bidang Hukum Teknologi finansial meliputi buku-buku teks, kamus hukum, jurnal hukum, dan komentar-komentar atas norma hukum dan lain-lain.
Data sekunder diperoleh melalui hasil studi kepustakaan yaitu pengkajian informasi tertulis mengenai hukum yang berasal dari berbagai sumber dan dipublikasikan secara luas serta dibutuhkan dalam penelitian hukum normatif. Studi kepustakaan dilakukan untuk memperoleh data sekunder yaitu melakukan serangkaian kegiatan studi dokumentasi dengan cara membaca dan mengutip literatur-literatur, mengkaji peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan permasalahan yang dibahas.
c. Data Tersier
Data tersier merupakan bahan yang memberikan petunjuk atau penjelasan bermakna terhadap adanya bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, seperti Kamus Hukum, Kamus Besar Bahasa Indonesia, ensiklopedia, dan sumber-sumber sejenis yang diakakses melalui Internet.
5. Metode dan Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik pengumpulan data terutama data primer dan sebagai penunjang adalah data sekunder. Sebagai berikut:
a. Studi Kepustakaan, yaitu bentuk pengumpulan data yang dilakukan dengan membaca buku literatur, mengumpulkan dan membaca dokumen yang berhubungan dengan obyek penelitian, dan mengutip dari data-data sekunder yang meliputi peraturan perundang-undangan, dokumen dan bahan kepustakaan lain dari beberapa buku referensi, artikel-artikel dari beberapa jurnal hukum, arsip, hasil penelitian ilmiah, peraturan perundang-undangan, laporan, teori-teori, media masa seperti koran, internet dan bahan kepustakaan lainnya yang relevan dengan masalah yang akan diteliti.
b. Wawancara, yaitu percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan tersebut dilakukan dengan dua orang pihak, yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai yang memberikan jawaban atas pertanyan itu.Wawancara dilaksanakan dengan Supervisor bagian SDM dan administrasi dan Manajer di PT. Cahaya Insan, serta jalan informan diberi kebebasan untuk menjawab pertanyaan yang ditentukan, hal ini dipilih oleh penerliti dikarenakan wawancara merupakan salah satu alat pengumpulan data untuk memperoleh informasi secara langsung dari sumbernya.13
6. Subjek Penelitian
Target penelitian dalam penelitian ini adalah mereka yang telibat dalam hubungan kerja, dalam hal ini adalah perusahaan PT. Cahaya Insan dan para pekerja di PT. Cahaya Insan.. Dalam hal ini peneliti melakukan penelitian terhadap kegiatan kerja lembur yang berlangsung di luar jam kerja normal di perusahaan PT. Cahaya Insan.
7. Teknik Pengolahan dan Analisis Data
13 Hermawan Warsito, Pengantar Metodologi Penelitian, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1993), h. 70.
12
Metode pengolahan data dilakukan secara komprehensif tentang hak kerja lembur menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan serta peraturan Perundang-undangan yang terkait pengaturan hak lembur, dan peraturan-peraturan di perusahaan PT. Cahaya Insan. dan peneliti menggunakan putusan No. 23/PHI.G/2015/PN.BJM sebagai perbandingan analisis penelitian terhadap fakta lapangan yang terjadi di PT. Cahaya Insan.
Kemudian untuk hasil data interview atau wawancara yang telah peneliti dapatkan menggunakan format audio kemudian akan diubah dari format audio menjadi visual dalam bentuk teks.
Data yang diperoleh dari penulisan kepustakaan maupun dari penelitian lapangan akan diolah berdasarkan analisis normatif dan kualitatif. Analisis normatif karena peneliti bertitik tolak dari peraturan yang ada sebagai norma hukum yang berlaku, sedangkan analisis kualitatif yaitu memaparkan kenyataan kenyataan di lapangan yang didasarkan atas hasil penelitian.
8. Pedoman Penulisan
Pedoman yang digunakan oleh peneliti dalam menyusun skripsi ini berpacu dengan kaidah-kaidah penulisan karya ilmiah dan buku “Pedoman Penulisan Skripsi Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2017”.
E. Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahsan ini merupakan gambaran umum dari penelitian agar memudahkan pembaca dalam mempelajari seluruh isi dari pembahasan dalam skripsi ini. Penelitian ini dibahas dan diuraikan menjadi 5 (lima) bab, adapun bab-bab yang dimaksud adalah sebagai berikut:
BAB I : Bab ini menyajikan pendahuluan yang memuat secara keseluruhan mengenai latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah, pembatasan masalah, tujuan penelitian, metode penelitianmanfaat penelitian, metode penelitian, dan metode penulisan.
BAB II : Bab ini peneliti akan menjelaskan mengenai pengertian umum pekerja, pengertian umum mengenai upah, menjelaskan kerangka konseptual, menjelaskan kerangka teori, pengaturan hak-hak pekerja berdasarkan peraturan yang berlaku, dan menjelaskan tinjauan (review) kajian terdahulu.
BAB III : Bab ini menyajikan data penelitian. Berupa tentang gambaran umum dari PT. Cahaya Insan, visi dan misi perusahaan, struktur organisasi, serta menjelaskan gambaran mengenai pengaturan tentang kerja lembur di PT. Cahaya Insan.
BAB IV : Bab ini berisi analisis pelaksanaan hukum hak-hak pekerja. Bab ini merupakan inti dari penelitian skripsi. Dalam bab ini akan dibahas duduk perkara, pelaksanaan hukum hak-hak kerja lembur para pekerja, dan analisis peneliti terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh pelaku usaha.
BAB V : Bab ini menyajikan penutup, berisikan kesimpulan dan rekomendasi.
13
BAB II
TINJAUAN HUKUM KETENAGAKERJAAN MENGENAI HAK LEMBUR PEKERJA
Untuk dapat memahami permasalahan yang dihadirkan peneliti pada bab lanjutan dari skripsi ini, maka landasan awal berupa pemahaman teoritik akan sangat dibutuhkan oleh pembaca. Pada Bab dua ini, peneliti memaparkan beberapa poin penting terkait pemahaman dasar hukum ketenagakerjaan yang dibagi dalam empat sub bab permasalahan. Sub bab pertama berisi tentang pemahaman awal terkait definisi dan konsep pekerja atau buruh. Sub bab kedua yang memaparkan tentang pemahaman definisi upah. Sub bab ke tiga menjelaskan tentang pengaturan kerja lembur di Indonesia. Sub bab keempat memaparkan kerangka teori dan konseptual. Sub bab kelima memparakan tinjauan kajian terdahulu.
A. Pengertian Pekerja/Buruh
Pada zaman feodal atau zaman penjajahan Belanda dahulu yang dimaksud buruh adalah orang-orang pekerja kasar seperti kuli, mandor, tukang, dan lain-lain. orang-orang ini oleh pemerintah belanda dahulu disebnut dengan blue collar (berkerah biru), sedangkan orang-orang yang mengerjakan pekerjaan “halus” seperti pegawai administrasi yang bisa duduk di meja disebut dengan white collar. Biasanya orang-orang yang termasuk golongan ini adalah para bangsawan yang bekerja di kantor dan juga orang-orang Belanda dan Timur Asing lainnya.1
Menurut kamus bahasa Indonesia definisi dari pekerja adalah orang yang bekerja untuk orang lain dengan mendapat upah. Menurut Pasal 1 Undang- Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan adalah pekerja atau buruh setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain. Adapun ada definsi lain untuk pekerja atau buruh ialah setiap orang yang melakukan suatu pekerjaan, baik dalam sebuah hubungan kerja di
1 Zaeni Asyhadie, Hukum Kerja, (Jakarta :PT Raja Grafindo Persada, 2007), h. 20.
dalam perusahaan ataupun di luar hubungan yang biasanya disebut “buruh bebas”, misalnya, Petani yang menggarap sawahnya sendiri. Buruh bebas ini dapat dinamakan swa pekerja.2
Jadi disimpulkan dari berbagai sumber definisi buruh bukan hanya pekerja kasar pabrik, tapi juga semua orang yang bekerja di bawah perintah kekuasaan orang lain dan menerima upah. Dari kesimpulan tersebut maka pegawai negeri sipil maupun eksekutif pun sebenarnya adalah buruh juga.
Tapi definisi ini sengaja dikaburkan di jaman Orde Baru sebagai upaya pengkotak-kotakan dan pemecah belahan, sehingga definisi terpecah menjadi buruh, pekerja, pegawai, kaum professional, dan sebagainya. Tujuannya dari pemecahan definisi buruh adalah untuk meruntuhkan kekuatan buruh agar tidak bersatu sehingga tidak bisa mempengaruhi kekuasaan politik penguasa saat itu3.
Pekerja terdiri dari berbagai macam, yaitu:
1. Pekerja harian, buruh yang menerima upah berdasarkan hari masuk kerja.
2. Pekerja Kasar, buruh yang menggunakan tenaga fisiknya karena tidak mempunyai keahlian dibidang tertentu.
3. Pekerja musiman, buruh yang bekerja hanya pada musim- musim tertentu.
4. Pekerja pabrik, buruh yang bekerja di pabrik.
5. Pekerja tambang, buruh yang bekerja di pertambangan.
6. Pekerja tani, buruh yang menerima upah dengan bekerja di kebun atau di sawah orang lain.
Pekerja atau buruh memiliki hak yang di lindungi oleh hukum positif di Indonesia, kemudian hak pekerja atau buruh harus di jaga seutuhnya oleh pengusaha atau perusahaan. hal tersebut dikarenakan pengusaha yang mengatur segala urusan pekerja. Abdul Khakim berpendapat bahwa hakikat “hak pekerja/buruh merupakan kewajiban pengusaha”, dan begitu pun sebaliknya
2 Sumanto, Hubungan Industrial, Memahami dan menagatasi potensi Potensi Konflik- Kepentingan Pengusaha-Pekerja Pada Era Modal Global, (Yogyakarta :Center Of Academic Publishing Service,2014), h.197.
3 Grendi Hendrastomo, Menakar Kesejahteraan Buruh: Memperjuangkan Kesejahteraan Buruh diantara Kepentingan Negara dan Korporasi, (Jurnal Informasi, Volume 16 Nomor 2, 2010).
15
hak pengusaha merupakan kewajiban pekerja/buruh”4. Artinya kedua belah pihak harus saling menjaga dan melindungi hak dan kewajibannya satu sama lain, apabila salah satu pihak tidak menjaga hak dan kewajibannya maka akan berimabas kepada hubungan kerjanya.
B. Tinjauan Umum Upah 1. Upah
Upah merupakan salah satu sarana yang digunakan oleh pekerja untuk meningkatkan kesejahteraan dirinya ataupun keluarganya5. Menurut Abdullah Sulaiman upah adalah hak pekerja/buruh yang diterima dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha yang di disepekati dalam suatu perjanjian kerja, atau peraturan perundang-undangan.6 Kemudian pengertian upah terdapat dalam Pasal 1 angka 30 Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, upah adalah hak buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja kepada buruh yang ditetapkan dan dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan, atau peraturan perundang-undangan, termasuk tunjangan bagi buruh dan keluarganya atas suatu pekerjaan dan/atau jasa yang telah atau akan dilakukan.
Bedasarkan pengetian-pengertian di atas maka peneliti menyimpulkan bahwa upah adalah imbalan atas pekerjaan yang sudah dilakukan yang nilainya sudah disepakati oleh kedua belah pihak, dan pengaturannya dilindungi oleh Undang-undang.
Perbedaan kepentingan antara pekerja dan pengusaha merupakan faktor utama dalam penetapan upah. Pengusaha mempunyai misi utama yaitu meningkatkan kinerja untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya agar perusahaan dapat berkembang. Sementara itu pekerja mempunyai
4 Abdul Khakim, Pengantar Hukum Ketenagakerjaan Indonesia, Berdasarkan Undang- undang No 13 Tahun 2003, (Bandung : PT.Citra Aditya Bakti, 2007), h. 26.
5 Asri Wijayanti, Hukum Ketenagakerjaan Pasca Reformasi, (Jakarta: Sinar Grafika, 2009), h. 107.
6 Prof. Abdullah sulaiman, Hukum Ketenagakerjaan/Perburuhan, (Jakarta: YPPSDM Jakara, 2019), h. 255.
keinginan untuk mendapatkan upah yang setinggi-tingginya demi memenuhi kesejahteraan bagi dirinya ataupun keluarganya. Untuk menyeimbangkan kepentingan kedua belak pihak maka pemerintah turut serta dalam sebuah hubungan kerja untuk menangani masalah pengupahan ini melalui berbagai kebijakan yang dituangkan dalam peraturan perundang-undangan.7
Tujuan dari pemerintah mengatur upah dan pengupahan adalah untuk melindungi pekerja dari kesewenang-wenangan pengusaha dalam pemberian upah. setiap pekerja/buruh berhak memperoleh penghasilan yang memenuhi penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. pekerja menerima upah dari pemberi kerja dan dilindungi undang-undang. Peran pemerintah dalam hal ini adalah menetapkan kebijakan pengupahan yang melindungi pekerja/buruh agar dapat memenuhi kebutuhan hidup pekerja maupun keluarganya.
2. Upah Lembur
Upah Kerja Lembur adalah upah yang diterima pekerja atas pekerjaannya sesuai dengan jumlah waktu kerja lembur yang dilakukannya.
waktu kerja lembur sendiri dijelaskan pada Pasal 1 ayat (1) Keputusan Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi No.102/Men/VI/2004, yaitu :
“Waktu Kerja Lembur adalah waktu kerja yang melebihi 7 jam sehari untuk 6 hari kerja dan 40 jam dalam seminggu atau 8 jam sehari untuk 8 hari kerja dan 40 jam dalam seminggu atau waktu kerja pada hari istirahat mingguan dan atau pada hari libur resmi yang ditetapkan Pemerintah.”
Bedasarkan keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa perhitungan upah kerja lembur di dasari oleh lamanya waktu kerja pada saat bekerja lembur. Pengaturan upah kerja lembur tidak di atur oleh perusahaan melainkan di atur oleh pemerintah hal tersebut bertujuan untuk melindungi kepentingan pekerja dari kepentingan perusahaan. Peran pemerintah dalam hal ini adalah menetapkan aturan dalam pengupahan agar pekerja dapat memenuhi kebutuhan hidup pekerja maupun keluarganya. Bentuk penetapan aturan upah antara lain terdiri dari :
7 Prof. Abdullah sulaiman, Hukum Ketenagakerjaan/Perburuhan, … h.94.
17
a. Penetapan upah minimum.
b. Upah kerja lembur.
c. Upah tidak masuk kerja karena berhalangan.
d. Upah tidak masuk kerja karena melakukan kegiatan lain diluar pekerjaannya.
e. Upah menjalankan hak dan waktu istirahat kerjanya.
f. Bentuk dan cara pembayaran upah.
g. Hal-hal yang dapat diperhitungkan dengan upah.
h. Struktur dan skala pengupahan yang proporsional.
Pada umunya pengaturan upah kerja lembur di atur dalam Bab X dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan No 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. dan diatur lebih spesifik dalam Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Replubik Indonesia Nomor Kep.102/MEN/VI/2004 tentang Ketenagakerjaan. Namun terdapat pengaturan khusus menganai hak kerja lembur bagi beberapa pekerjaan atau perusahaan yang bergerak disektor tertentu. Sektor usaha yang dibuatkan pengaturan khusus oleh pemerintah, diantaranya adalah :
a. Sektor usaha dibidang energi dan sumber daya mineral
Perusahaan yang bergerak di bidang sektor usaha energi dan sumber daya mineral memiliki aturan kerja lembur tersendiri yang di atur dalam KEPMENAKER Nomor Kep-234/Men/2003 tentang Waktu Kerja Dan Istirahat Pada Sektor Usaha Energi Dan Sumber Daya Mineral Pada Daerah Tertentu.
b. Sektor usaha dibidang Pertambangan
Perusahaan yang bergerak di bidang sektor usaha pertambangan umum pada daerah tertentu memiliki aturan kerja lembur tersendiri yang di atur dalam KEPMENAKER Nomor Per-Men 15/Men/VII/2005 tentang Waktu Kerja Dan Istirahat Pada Sektor Usaha Pertambangan Umum Pada Sektor Isaha Pertambangan Umum Pada Daerah Tertentu.
c. Sektor usaha di bidang perikanan
Perusahaan yang bergerak di bidang sektor usaha perikanan umum yang
memiliki aturan kerja lembur tersendiri yang di atur dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Nomor Per-Men 11/Men/VII/2010 tentang Waktu Kerja Dan Istirahat Pada Sektor Usaha Pertambangan Umum Pada Sektor Perikanan Pada Daerah Operasi Tertentu.
Kebijakan pemerintah membedakan aturan kerja lembur pada ketiga sektor tersebut dikarenakan ketiga sektor tersebut membutuhkan waktu produksi berbeda dengan sektor umum lainnya. Pada ketiga sektor tersebut waktu produksi perusahaan dilakukan secara terus menerus tiap harinya, apabila terhenti maka akan menimbulkan kerusakan atau hambatan pada bahan produksi ataupun proses produksi.
C. Pengaturan Kerja Lembur Bedasarkan Hukum Yang Berlaku
Tujuan pokok hukum ketenagakerjaan adalah pelaksanaan keadilan sosial dalam bidang ketenagakerjaan dan pelaksanaan itu diselenggarakan dengan jalan melindungi pekerja terhadap kekuasaan yang tidak terbatas dari pihak majikan.8
Kerja lembur merupakan suatu pelaksanaan hubungan kerja di luar dari waktu kerja normal untuk memenuhi kebutuhan dari pihak perusahaan, kerja lembur terjadi pada hari kerja ataupun hari libur resmi. Terdapat beberapa alasan yang mempengaruhi atau menyebabkan perusahaan meminta atau memerlukan para pekerjanya untuk melakukan kerja lembur, diantaranya sebagai berikut :9
a. Dinamika perekonomian yang semakin maju dan pesat.
b. Mengejar target produksi yang sudah direncanakan oleh perusahaan.
c. Memanfaatkan sebaik-baiknya Sumber daya Manusia dari pekerja ataburuh.
d. Ada kesempatan yang baik dalam pasar yang bisa dimanfaatkan oleh perusahaan.
e. Sudah menjadi kebiasaan atau budaya dala\m internal perusahaan.
8 Iman Soepomo, Pengantar Hukum Perburuhan, (Jakarta :Djambatan, 1992), h.7.
9 Enrico Didie, Perlindungan Hukum Terhadap Pekerja Atas Kerja Lembur, (Surabaya :Skripsi Universitas Airlangga, 2011), h.21.
19
Jadi bedasarkan alasan yang sudah dipaparkan maka disimpulkan pekerjaan lembur itu dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan perusahaan bukan dari keinginan dari pihak pekerja.
Mengenai kerja lembur maka berbicara perpanjangan jam kerja pekerja, hal tersebut menyebabkan waktu untuk istirahat pekerja menjadi berkurang yang berpotensi pekerja akan kehilangan waktu istirahatnya akibat bekerja, untuk menghindari ekspoitasi waktu para pekerja pekerja maka pemerintah mengatur tata cara kerja lembur dalam pasal Pasal 78 Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003, yaitu ;
“(1) Pengusaha yang mempekerjakan pekerja/buruh melebihi waktu kerja harus memenuhi syarat:
a. ada persetujuan pekerja/buruh yang bersangkutan; dan
b. waktu kerja lembur hanya dapat dilakukan paling banyak tiga jam dalam satu hari dan empat belas jam dalam satu minggu.
(2) Pengusaha yang mempekerjakan pekerja/buruh melebihi waktu kerja wajib membayar upah kerja lembur.”
Bedasarkan pasal yang sudah dipaparkan maka peneliti menyimpulkan bahwa, pertama pekerjaan lembur itu harus mendapatkan persetujuan dari pekerja yang ingin dipekerjakan di luar waktu kerja normal, apabila pekerja tersebut tidak bersedia untuk bekerja lembur, maka pihak perusahaan tidak dapat memaksanya. Kesepakatan pekerjaan lembur antara pengusaha dan pekerja harus berbentuk dokumen tertulis yang memuat nama pekerja, lama waktu bekerja lembur, dan tanda tangan pekerja. Kedua waktu kerja lembur itu tidak boleh melebihi tiga jam dalam satu hari dan 14 jam dalam satu minggu.
Ketiga pekerja yang melakukan kerja lembur wajib mendapatkan upah kerja lembur yang sesuai dengan perhitungan dalam Undang-undang apabila ada perhitungan yang tidak sesuai dengan Undang-undang maka pengawas ketenagakerjaan lah yang berwenang menetapkan perhitungan upah kerja lembur yang berlaku.
Dalam hal pelaksaanan kegiatan kerja lembur maka perusahaan memiliki kewajiban terhadap pekerja, hal tersebut di atur dalam Pasal 7 Keputusan
Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi No KEP. 102/MEN/VI/2004 tentang Waktu Kerja Lembur Dan Upah Kerja Lembur, yakni :
“Perusahaan yang mempekerjakan pekerja/buruh selama waktu kerja lembur berkewajiban :
a. membayar upah kerja lembur;
b. memberi kesempatan untuk istirahat secukupnya;
c. memberikan makanan dan minum“
Bedasarkan pasal diatas maka pihak perusahaan yang mempekerjakan pekerja harus memberikan tiga hak pekerja ketika bekerja lembur. Pertama pihak perusahaan harus membayar upah kerja lembur tiap pekerja sesuai dengan waktu lemburnya, dan perhitungan upah kerja lembur harus mengikuti perhitungan dalam Undang-undang. Kedua pihak perusahaan harus memberikan waktu istirahat kepada pekerja sebelum memulai kerja lembur hal tersebut harus dilakukan untuk kesehatan para pekerja. Ketiga perusahaan harus memberikan makan dan minum kepada pekerja apabila waktu kerja lembur mencapai tiga jam atau lebih, dalam hal pemberian makan dan minum pihak perusahaan wajib menyediakan makanan dan minuman setara dengan sekurang-kurangnya 1.400 kalori, kemudian pemberian makan dan minum tidak boleh di ganti dengan uang.
Tujuan pokok hukum ketenagakerjaan adalah pelaksanaan keadilan sosial dalam bidang ketenagakerjaan dan pelaksanaan itu diselenggarakan dengan jalan melindungi pekerja terhadap kekuasaan yang tidak terbatas dari pihak majikan.10 Hal ini selaras dengan tujuan dari pengaturan upah lembur pekerja di Indonesia adalah untuk menyeimbangkan antara keuntungan perusahaan dan kesejahteraan para pekerja akibat dari adanya kerja lembur. Dalam hal ini perusahaan bisa mendapatkan keuntungan dari pekerja dikarenakan perusahaan bisa berproduksi diluar waktu kerja, dan disamping itu pekerja yang kehilangan jam istirahatnya bisa mendapatkan penghasilan sampingan untuk meningkatkan kesejahteraannya diluar gaji pokok.
10 Iman Soepomo, Pengantar Hukum Perburuhan, … h.7.
21
Dimana saat belum adanya aturan khusus mengenai upah kerja lembur, banyak para pengusaha yang mempekerjakan pekerjanya diluar jam kerja normal dengan tujuan keuntungan bagi perusahaan, tapi tidak memperhatikan pekerja. Hal tersebut sangat mencerminkan sistem kerja rodi di zaman penjajahan Hindia Belanda, dimana saat itu para pekerja diwajibkan bekerja tanpa batas dan diberi upah yang tidak setimpa dengan waktu kerja dan pekerjaanya, maka daripada itu dibuatlah pengaturan upah kerja lembur guna memperlakukan pekerja secara adil.
Hal ini juga selaras dengan sila ke-lima dalam Pancasila, yaitu “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”, dengan adanya pengaturan upah kerja lembur menjadikan hubungan kerja antara pengusaha dan pekerja menjadi lebih adil, disatu sisi pengusaha dapat meningkatkan produksi dan mengejar ketertinggal target perusahaannya, di sisi lain pekerja mendapatkan penghasilan tambahan atas pekerjaan tambahan yang dilakukannya.
D. Kerangkan Teori dan Konseptual 1. Kerangka Konseptual
Dalam pembahasan ini, akan diuraikan beberapa konsep-konsep terkait terhadap beberapa istilah yang akan sering digunakan dalam studi ini, yaitu:
a. Pekerja
Pekerja menurut kamus bahasa Indonesia adalah orang yang bekerja untuk orang lain dengan mendapat upah.11 Adapun pengertian lain dari pekerja adalah setiap orang yang bekerja pada suatu tempat, pekerja tersebut harus tunduk kepada perintah dan peraturan kerja yang diadakan oleh pengusaha ,dan memperoleh upah dan atau jaminan hidup lainnya yang layak atas imbalannya.12 Pengertian pekerja dalam Pasal 1 angka 3 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan adalah setiap orang yang bekerja dalam menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain.
11 Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Fustaka, 1995), Cet-7, h. 158.
12 Grace Vina, Perlindungan Pekerja/Buruh Dalam Hal Pemberian Upah Oleh Perusahaan Yang Terkena Putusan Pailit, (Skripsi Universitas Atmajaya: Yogyakarta, 2016), h. 4.
b. Pemberi Kerja
Pemberi kerja mempunyai arti dalam Pasal 1 angka 4 Undang-Undang Ketenagakerjaan Nomor 13 Tahun 2003 adalah perseorangan, pengusaha, badan hukum, atau badan-badan lainnya yang mempekerjakan tenaga kerja dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain.
c. Upah
Upah adalah hak pekerja/buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja kepada pekerja/buruh yang ditetapkan dan dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan, atau peraturan perundangundanga. Bentuk-bentuk pengupahan ialah disamping berupa uang, juga termasuk komponen tunjangan dan jaminan lainnya. Upah bentuk uang terdiri dari upah pokok, ,upah tunjangan keluarga, dan tunjangan jabatan, termasuk jaminan-jaminan lainnya.13
d. Waktu Kerja Lembur
Waktu kerja lembur adalah waktu yang melebihi 7 jam sehari dan 40 jam dalam 1 minggu untuk 6 hari kerja dalam 1 minggu, atau 8 jam dan 40 jam dalam satu minggu untuk 5 hari kerja dalam 1 minggu, atau waktu kerja pada hari istirahat mingguan dan/atau pada hari istirahat resmi yang di tetapkan oleh pemerintah Pasal 1 Kepmenakertrans No.
KEP-102/MEN/VI/2004 tentang Waktu Kerja Lembur dan Upah Kerja Lembur). Sedangkan lembur itu sendiri adalah pekerjaan yang dilakukan oleh karyawan, atas dasar perintah atasan, yang melebihi jam kerja biasa pada hari-hari kerja, atau pekerjaan yang dilakukan pada hari istirahat mingguan karyawan atau hari libur resmi.
e. Pasal 27 butir (2) Undang-Undang Dasar 1945
Dalam pasal ini menjelaskan bahwa tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.
13 Abdullah Sulaiman, Upah Buruh di Indonesia, (Jakarta: Penerbit Universitas Trisakti, 2008), h. 2.
23
f. Pasal 28 D butir (2) Undang-Undang Dasar 1945
Dalam pasal ini menjelaskan bahwa setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja.
g. Pasal 88 Undang-Undang Ketenagakerjaan Nomor 13 Tahun 2003 Dalam pasal ini menjelaskan bahwa pemerintah membuat aturan terkait pengupahan pada beberapa bidang, yaitu pada upah minimum, upah kerja lembur, upah tidak masuk kerja karena berhalangan, upah tidak masuk kerja karena melakukan kegiatan lain di luar pekerjaannya, bentuk dan cara pembayaran upah, denda dan potongan upah, hal-hal yang dapat diperhitungaka dengan upah, struktur dan skala pengupahan yang proporsional, upah untuk pesangon, upah untuk perhitungan pajak penghasilan.
2. Kerangka Teori a. Teori Keadilan
Kata “adil” berasal bahasa Arab “al ‘adl” yang artinya sesuatu yang baik, sikap yang tidak memihak, penjagaan hak-hak seseorang dan cara yang tepat dalam mengambil keputusan. Dalam bahasa Inggris keadilan disebut justice, dan bahasa latin disebut iustitia14. Konsep keadilan sudah mulai dibicarakan oleh filsuf dari zaman Yunani sampai saat sekarang.
Keadilan adalah suatu prediksi atau wacana yang diinginkan oleh hukum.
Pembicaraan keadilan memiliki cakupan yang luas, mulai dari yang bersifat etik, filosofis, hukum, sampai pada keadilan sosial . Teori keadilan selalu berkembang, namun teori klasik yang terkenal selalu menjadi bahan acuan bagi ahli-ahli hukum.
Keadilan menurut John Rawls sebagai ‘fairness’ singkatan dari’
justice as fairness’ artinya keadilan sebagai kesetaraan. Salah satu prinsip keadilan mengenai ketimpangan sosial dan ekonomi mesti diatur sedemikian rupa sehingga dapat diharapkan memberikan keuntungan
14 Sakuntala, Pemikiran Keadilan ( Plato, Aristoteles, dan John Rawls) diakses melalui https://alisafaat.wordpress.com/2008/04/10/pemikiran-keadilan-plato-aristoteles-dan-john- rawls/ tanggal 25 Juni 2016.
semua orang hal tersebut adalah prinsip keadilan dari perbedaan15. Dalam dunia ketenagakerjaan hal terlihat dalam perbedaan sosial dan ekonomi pekerja dengan pengusaha membutuhan pengaturan perlindungan bagi pihak yang lemah sosial ekonomi yaitu pekerja. Pekerja dalam hubungan ketenagakerjaan termasuk pihak yang lemah sosial ekonominya dibandingkan dengan pihak pengusaha yang kuat sosial ekonominya.
Sesuai dengan prinsip keadilan John Rawls tentang perbedaan yang mana perlu pengaturan dalam perundang-undangan bagi pihak yang berbeda sosial ekonomimya.16
Keadilan dalam pengadaan kegiatan kerja lembur sekiranya harus memberikan keuntungan bagi semua pihak. Bagi para pengusaha kegiatan kerja lembur dapat meningkatkan produksi perusahaan yang berimbas pada keuntungan perusahaan, sedangakan bagi para pekerja kegiatan kerja lembur dapat menambah pendapatan pekerja itu sendiri dikarenakan pekerja akan mendapatkan upah kerja lembur setelah melakukan kerja lembur.
Hukum ketenagakerjaan yang mengatur hubungan industial antara pekerja, pengusaha, dan pemerintah itu bertujuan agar mencapai keadilan bagi semua pihak, maka dalam tulisan ini teori keadilan sosial dari John Rawls sangat cocok digunakan dalam sebuah hubungan kerja dan akan menjadi acuan penulis dapat dipakai dalam hal perlindungan hak kerja lembur.
b. Teori Perlindungan Hukum
Menurut Satjipto Rahardjo, Perlindungan hukum adalah memberikan pengayoman atau perlindungan terhadap hak asasi manusia (HAM) yang dirugikan orang atau pihak lain, perlindungan itu diberikan oleh negara kepada masyarakat agar dapat menikmati semua hak-hak yang diberikan oleh hukum.
15 Dominikus, Filsafat Hukum, Mencari, Menemukan, dan Memahami Hukum, (Surabaya :Laks Bang Justisia, 2011), h. 79.
16 Aloysius Uwiyono, Hak Mogok di Indonesia, ( Jakarta, Disertasi Program Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2001), h.19.
25
Hukum Perburuhan dibuat untuk mengatur dan melindungi hak-hak dan kewajiban pekerja pengusaha dalam suatu hubungan kerja.17
Menurut Imam Soepomo Perlindungan hukum terhadap tenaga kerja terbagi menjadi tiga macam, yakni : 18
1. Perlindungan Ekonomis Yaitu perlindungan tenaga kerja dalam bentuk penghasilan yang cukup, termasuk apabila tenaga kerja tersebut tidak mampu bekerja di luar kehendaknya.
2. Perlindungan Sosial Yaitu perlindungan tenaga kerja dalam bentuk jaminan kesehatan kerja, kebebasan berserikat dan perlindungan untuk berorganisasi.
3. Perlindungan Teknis Yaitu perlindungan tenaga kerja dalam bentuk keamanan dan keselamatan kerja.
Perlindungan Ekonomis merupakan perlindungan terhadap pekerja terkait penghasilannya.19 Perlindungan ini meliputi usaha-usaha pekerja yang dilakukan untuk memberikan penghasilan yang cukup bagi kebutuhan hidup bagi pekerja beserta keluarganya. Sehubungan dengan perlindungan terkait penghasilan, maka yang menjadi dasar permasalahannya adalah mengenai imbalan kerja yang didapatkan oleh pekerja yang diistilahkan dengan upah.
Permasalahan upah merupakan persoalan klasik dalam bidang ketenagakerjaan dari masa kemasa. Sebab sulit mempertemukan dua pihak yang masing masing mempunyai kepentingan yang berbeda. Oleh sebab itu dalam kerangka memberikan perlindungan secara ekonomis, maka kebutuhan terhadap aturan tentang pengupahan menjadi mutlak adanya. Dengan demikian yang mungkin terjadi adalah penetapan upah yang didasarkan pada keinginan pemilik perusahaan dengan mengabaikan pemenuhan hak-hak pekerja untuk hidup secara
17 G, Karta Sapoetra dan RG. Widianingsih, Pokok-pokok Hukum Perburuhan, (Bandung:
Penerbit Armico Bandung, 1982), h.2.
18 Abdul Hakim, Pengantar Hukum Ketenagakerjaan Indonesia,(Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2003), h. 61-62.
19 Zaeni Asyhadie, Hukum Kerja, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2007), h. 78.
berkelayakan. Dalam sisi ini pemerintah berkepentingan menyelaraskan bentuk upah yang layak, dalam Pasal 1 butir 30 Undang-Undang Ketenagakerjaan yang menegaskan bahwa upah merupakan hak pekerja.
Dengan demikian pengabaian terhadap hak kerja lembur para pekerja dapat dikategorikan sebagai pelanggaran berat, dikarenakan tidak memberikan hak kerja lembur berarti melakukan pelanggaran Hak Asasi Manusia.
Perlindungan tenaga kerja sebagaimana yang telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan bertujuan untuk menjamin berlangsungnya hubungan kerja yang harmonis antara pekerja dengan pengusaha tanpa disertai adanya tekanan-tekanan dari pihak yang kuat kepada pihak yang lemah. Oleh karena itu pengusaha yang secara sosio-ekonomi memiliki kedudukan yang kuat wajib membantu melaksanakan ketentuan perlindungan kepada pekerja tersebut sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
E. Tinjauan (Review) Kajian Terdahulu
Setelah penulis melakukan peninjauan terhadap kajian terdahulu terdapat beberapa yang berhubungan dengan penelitian ini yaitu ;
1. SKRIPSI
a. PELAKSANAAN PEMBAYARAN UPAH KERJA LEMBUR TENAGA KERJA PT. KENDI ARINDO KOTA BANDAR LAMPUNG.
Skripsi yang ditulis oleh Tristya Jayanti20, berjudul Pelaksanaan Pembayaran Upah Kerja PT. Kendi Arindo Kota Bandar Lampung.
Pada skripsi tersebut membahas tentang tata cara pelaksanaan pembayaran, perhitungan, dan faktor-faktor yang menjadi penghambat mengenai permasalahan upah lembur terhadap para pekerja di PT. Kendi
20 Tristya Jayanti, “ Pelaksanaan Upah Kerja Lembur Tenaga Kerja PT. Kendi Arindo Kota Bandar Lampung”, ( Skripsi S-1 Fakultas Hukum Universitas Negeri Lampung, 2016).
27
Arindo. Adapun persamaan dengan penelitian peneliti yakni, membahas upah lembur pekerja dalam sebuah perseroan terbatas, namun terdapat perbedaan dimana penelitian yang dilakukan peneliti yakni membahas tentang tata cara pelaksanaan waktu dan upah lembur terhadap para pekerja di PT. Cahaya Insani.
b. KONSEP PERJANJIAN KERJA DAN UPAH MENURUT HUKUM ISLAM DAN HUKUM POSITIF.
Skripsi yang ditulis oleh Hasan Aziz21, berjudul Konsep Perjanjian Kerja Dan Upah Menurut Hukum Islam Dan Hukum Positif.
Pada skripsi tersebut membahas tentang kesesuaian perjanjian kerja dan upah kerja pekerja di CV. Cahaya Logam apabila dilihat dari hukum islam dan hukum positif di Indonesia.
Adapun Persamaan dengan penelitian peneliti yakni, membahas upah dan perkanjian kerja dalam sebuah perusahaan, namun terdapat perbedaan dimana penelitian yang dilakukan peneliti yakni objek dari perusahaan yang ingin di bahas.
2. BUKU
a. HUKUM KERJA
Buku yang ditulis oleh Zaeni Asyhadie22, berjudul Hukum Kerja
Pada buku tersebut membahas tentang hukum ketenagakerjaan dalam bidang hubungan kerja antara para pemberi kerja dengan pekerja, kemudian dalam buku ini membahas pula hak-hak dan kewajiban pengusaha dan pekerja dalam hubungan kerja.
Adapun persamaan dengan penelitian peneliti yakni membahas tentang hubungan antar pengusaha atau perusahaan dengan pekerja, namun terdapat perbedaan dimana penelitian yang dilakukan peneliti yakni peneliti hanya terfokus pada pembahasan waktu kerja lembur dan upah kerja lembur di PT. Cahaya Insani.
21 Hasan Aziz, “Konsep Perjanjian Kerja Dan Upah Menurut Hukum Islam Dan Hukum Positif”, (Skripsi S-1 Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2015).
22 Zainal Asyhadie, ”Hukum Kerja”, (Jakarta :PT. Raja Grafindo Persada, 2008).
3. JURNAL
a. WAKTU KERJA LEMBUR DAN UPAH KERJA LEMBUR DI PERUSAHAAN MENURUT HUKUM POSITIF.
Artikel yang ditulis oleh Yulius Kasino23, berjudul Waktu Kerja Lembur Dan Upah Kerja Lembur Di Perusahaan Menurut Hukum Positif.
Pada jurnal tersebut membahas tentang aturan waktu lembur sebuah perusahaan dan upah kerja lembur pekerja pada sebuah perusahaan menurut hukum positif di Indonesia.
Adapun persamaan dengan penelitan peneliti yakni, membahas waktu lembur dan upah kerja lembur pekerja di sebuah perusahaan, namun terdapat perbedaan dimana penelitian yang dilakukan peneliti yakni membahas tentang upah kerja lembur pekerja di PT. Cahaya Insani.
23 Yulius Kasino, Waktu Kerja Lembur dan Upah Kerja Lembur Di Perusahaan Menurut Hukum Positif, (Jurnal Ekonomi dan Kewirausahaan Vol 7, No 01, April 2007).
29 BAB III
PENGATURAN UPAH KERJA LEMBUR DI PT. CAHAYA INSAN
Pembahasan pada bab ini terfokus pada data atau hasil penelelitian yang diambil sebagian besar dari lapangan, dan sisanya dari sumber lain. Pada bab ini terdiri atas delapan subbab, yang mana semua subbab terfokus pada poin-poin permasalahaan penelitian ini.
A. Profil PT. Cahaya Insan 1. Sejarah PT. Cahaya Insan
PT. Cahaya Insan adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa penyediaan dan pengelolaan pekerja, perdagangan Umum, dan jasa konstruksi. didirikan pada tanggal 24 Febuari 2004, dengan Akta Notaris Nomor 9 yang dikeluarkan oleh Notaris Firmansjah, SH pada tahun 2004, dan diperbaharui pada tanggal 7 April 2011 di Kota Depok.
PT Cahaya insan beralamat di Jalan Sentosa Raya no.53, Depok II Tengah, Kota Depok, Jawa Barat, alamat tersebut sudah sesuai dengan Surat Izin Tempat usaha No.503/258/Kpts/SITU-BPPT/IV/2010 dan Surat Keterangan Domisili Usaha No. 503/18-Pemb&Perekonomian yang dimiliki oleh PT. Cahaya Insan.
Pada awalanya kegiatan perusahaan yang dilakukan PT. Cahaya Insan adalah melakukan pekerjaan di bidang jasa sebagai rekanan penyedia tenaga kerja outsourching dari PT. PLN (Persero) APJ Depok yang meliputi pekerjaan di bidang Payment Point (PP) Putus Sambung (Tusbung), Dinas Gangguan (DG), Cleaning Service (CS), Catat Meter (CATER), Sewa Komputer, dan Sewa Kndaraan Dinas Pegawai PT. PLN (Persero) APJ Depok.
Pada tahun 2010 sampai sekarang perusahaan PT.Cahaya Insan telah mengembangkan hubungan kemitraan dengan melakukan hubungan kemitraan tidak hanya ke PT. PLN (Persero) tapi kepada beberapa lembaga pemerintah dan swasta dalam hal pengadaan barang dan jasa. Dalam
memperoleh kesempatan mendapatkan perintah kerja dilakukan melalui proses pengadaan mengikuti kaedah G.C.G (Good Clean Gouvernance) dengan proses e-procurement. Untuk meningkatkan kinerja perusahaan dan memberikan pelayanan yang maksimal terhadap pengguna layanan jasa, PT.
Cahaya Insan telah memperoleh ISO 9001:2015 dalam bidang system Manajemen Mutu pada tahun 2015.
2. Bidang Usaha PT. Cahaya Insan
Bidang usaha PT. Cahaya Insan bergerak pada bidang jasa, penyediaan dan pengelolaan pekerja dan jasa kontruksi. Jenis usaha dan kegiatan terdiri dari dua, yaitu :
Penyediaan dan pengelolaan pekerja terdiri dari : a. Satuan Pengaman
b. Kebersihan (Cleaning Service) c. Supir
d. Biling Manajemen
e. Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik. (P2TL) Bidang usaha pengadaan barang terdiri dari :
a. Alat peralatan kebutuhan pendukung oprasional dan invesasi, b. Fabrikasi panel-panel
c. Mobile trafo d. Metal Works
e. Kendaraan Oprasional.
3. Struktur Organisasi Perusahaan
Struktur Organisasi yang terdapat dalam PT. Cahaya Insan terdiri dari beberapa bagian dari yang tertinggi hingga yang terendah, keputusan tertinggi di perusahaan PT.Cahaya Insan terdapat pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), kemudian susunan pengurus PT Cahaya Insan terdiri bagian yaitu :
a. Komisaris : K.Priyatni b. Direktur : Adjum
31
c. Manajer Pemasaran & Operasional: Hartanto, SE.
d. Manajer SDM & Keuangan : Imam Irmawan, A.Md e. Manajer P2TL : Zakir Hamzah
B. Visi dan Misi PT. Cahaya Insan 1. Visi :
a. Memberikan jasa pelayanan tekhnik dan menyediakan barang peralatan sesuai kebutuhan mitra usaha yang memenuhi harapan konsumen dan pihak-pihak terkait.
b. Meningkatkan proses bisnis yang melalui mekanisme peningkatan berkelanjutan.
c. Mencapai sasaran mutu yang telah ditetapkan di setiap proses bisnis inti dan melakukan evaluasi secara periodik.