• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN PUSTAKA 2.1 Perubahan Sosial

1.1 Latar belakang Masalah

Kepulauan Indonesia terbentuk oleh rangkaian gunung api yang berjumlah lebih 500 buah. Dari jumlah ini, sekitar 129 diantaranya adalah gunung api yang aktif atau 13% dari jumlah gunung api yang aktif tersebut tersebar mulai dari kawasan Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, perairan Maluku sampai kawasan Sulawesi Utara. Hadirnya gunung api dengan beragam pesonanya seperti tanah yang subur, alam yang indah, telah mendatangkan manfaat bagi masyarakat sekitar. Penduduk yang tinggal sekitar gunung api senantiasa memanfaatkan lahan sekitarnya untuk menunjung kehidupan sehari-hari dan berupaya meningkatkan taraf kehidupannya dengan bertani, bercocok tanam, berternak dan lain sebagainya. (dalam Tjetjep, 2002). Selain memiliki mendatangkan manfaat seperti tanah yang subur, keberadaan gunung api yang masih aktif, juga dapat menimbukan bencana di kemudian harinya, dalam hal ini gunung meletus.

Gunung Sinabung yang terletak di Kabupaten Karo merupakan salah satu gunung yang masih aktif di Indonesia. Nama lain dari gunung Sinabung adalah Sinaboeng, yang memiliki 4 buah kawah utama, terletak dibagian puncak yakni kawah 1, sepanjang kawah tua, terdiri dari leleran lava, terletak pada arah selatan timur, sepanjang 150 m, Kawah II dan III, merupakan kawah kembar yang terletak disebelah selatan atau ditengah selatan, dan kawan IV terletak dibagian utara barat atau bagian tengah barat. Gunung Sinabung ini termasuk ke dalam gunung api

bertipe strato volcano, Gunung Sinabung terletak di Kabupaten Karo dengan Ibu Kota Kabupaten adalah Kabanjahe, Provinsi Sumatera Utara dan Ibu Kota Provinsi yaitu Medan.

Pada tanggal 27 Agustus 2010, Gunung Sinabung telah mengalami beberapa kali erupsi dan mengeluarkan asap serta abu vulkanik dan disusul dengan keluarnya lava pada dua hari kemudian. Erupsi pada tahun 2010 berlangsung hingga tanggal 7 September 2010. Setelah jeda selama hampir tiga tahun, Gunung Sinabung kembali erupsi pada tanggal 18 september 2013 dan terus berlangsung hingga sekarang. Keberadaan Gunung Sinabung yang masih aktif dan sering mengalami erupsi telah membahayakan masyarakat sekitar. Pada saat meletus gunung berapi akan mengeluarkan awan panas dan debu vulkanik. Debu vulkanik dalam jumlah banyak sangat membahayakan sistem pernafasan manusia. Pada tingkat gangguan ringan, penduduk dapat terkena penyakit batuk akibat iritasi saluran nafas. Efek jangka panjang yang sangat berbahaya adalah terjadinya penumpukan unsur slika yang berasal dari debu vulkanik yang terhirup pada saat bernafas. Letusan gunung berapi pada kekuatan tinggi dapat menyebabkan gempa yang menyebabkan runtuhnya bangunan. Awan panas yang keluar dari kepundan gunung berapi akan mematikan seluruh mahkluk hidup yang terkena. Lava pijar yang keluar dalam jumlah banyak akan menghancurkan seluruh pemukiman serta ladang pertanian dan peternakan. Tempat-tempat yang terkena lava pijar dan awan panas membutuhkan waktu yang lama untuk ditinggali. (Sadana, 2014). Hal ini yang membahayakan masyarakat yang bermukim dari kaki Gunung Sinabung.

Sejak tahun 2010-2014-2015, ketika Gunung Sinabung Erupsi beberapa desa di Kabupaten Karo yang rumahnya berada tidak jauh dari Gunung Sinabung harus mengungsi ke daerah lain yang tidak terkena dampak Erupsi Gunung Sinabung. Data yang dilansir dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terdapat 1.081 KK pengungsi akibat Gunung Sinabung yang terdiri atas 3.284 jiwa. Mereka ditempatkan di 12 titik pengungsian. Para pengungsi ini berasal dari beberapa desa di antaranya Desa Sukameriah, Desa Berastepu, Desa Gamber, Desa Bekerah dan juga Desa Simacem, yang mana lokasi semua desa tersebut yaitu radius 5 km dari Kawah Gunung Sinabung, khususnya untuk Desa Sukameriah radius 2,4 km dari Kawah Gunung Sinabung.

Para pengungsi Gunung Sinabung antara lain ditempatkan di Universitas Karo yang terletak di Kabupaten Karo, alasan penyintas Sinabung yang masih tinggal di Universitas Karo. Pernyataan yang disampaikan oleh Rosmawati Br. Tarigan (63 tahun) yang menyatakan bahwa:

“adi UKA enda denga kami tading ma lit denga bantuan sitik-sitik reh, tah mon-mon bage ma terakap bas kami, adi newa rumah kami labo bias langa ka uang listrikna uang lau na ma gom kap ndu kami nambahi enca dahin kami pe gemo kujuma kalak, e pe adi lit ingan gemo. Adi UKA enda kami tading gom lit sumur bor untuk kebutuhen lau bersih kami adi uang listrik 40ribu bagi-bagi kami galarisa. Me pangen kap ndu tading i UKA enda walaupun menderita, dari pada newa rumah ma pejago-jagoken kap kita e adi bagenda ibas zaman gundari susah darami serpi”.

“kalau di Universitas Karo ini kami tinggal kan masih ada datang bantuan sikit-sikit ataupun kadang-kadang kan lumayan sama kami, kalau kami sewa rumah belum lagi uang air listriknya, kan sudah menambahi kami sedangkan perkerjaan kami hanya berkerja keladang orang. Kalau di Universitas Karo ini kami tinggal sudah ada tersedia air bersih dan listrik walau pun bayar 40ribu perbulan kami bagi-bagi untuk membayarnya. Kami lebih baik tinggal di Universitas Karo ini walaupun menderita, dari pada menyewa rumah kan lebih banyak pengeluaran apalagi di zaman sulit cari uang sekarang, (Data 5 September 2015 di lapangan).

Sebagian penyintas Sinabung lebih memilih menyewa rumah atau mengontrak rumah alasanya ialah sempit dan tidak nyaman dan ada juga lebih memilih menumpang ditempat saudara agar lebih irit. Sambil menunggu relokasi warga Desa Sukameriah diberikan bantuan oleh Pemerintah yang disalurkan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah, biaya sewa rumah Rp. 300.000/bulan/KK dan untuk sewa lahan Rp. 2000.000/tahun/KK, penyintas mendapatkan bantuan tersebut enam bulan sekali jadi total Rp. 3,800.000/ 6Bulan ( Drs. Jhonson Tarigan sebagai sekretaris BPBD).

Para pengungsi tersebut harus hidup bersama dan berbagi dan para penyintas Gunung Sinabung lainnya. Masyarakat harus hidup di pengungsian dengan beratapkan tenda dan beralaskan tikar. Selain itu, mata pencaharian sebagian masyarakat penyintas Sinabung, yang menggantungkan hidupnya pada pertanian, tidak dapat berjalan seperti biasa, disebabkan ladang mereka yang tertutupi oleh debu Gunung Sinabung. Dan beberapa tanaman pertanian mereka banyak juga yang rusak akibat debu Gunung Sinabung. Akibatnya para penyintas Gunung Sinabung hanya menggantungkan hidupnya dari bantuan para dermawan.

Selain itu, aktivitas yang cenderung sama membuat para pengungsi merasa merasa bosan stress dan jenuh. Aktivitas mereka umumnya hanya tidur, bercerita, memasak dan juga makan. Tidak jarang untuk menghilangkan kejenuhan, para pengungsi juga membuat ketrampilan kecil-kecilan seperti membuat sabun cuci piring, membuat bunga dari kertas dan membuat kue dan itu pun tidak sepenuhnya mengatasi ketidak betahan masyarakat tinggal dipengungsian. Hal ini berbanding terbalik dengan aktivitas masyarakat sebelum Gunung Sinabung meletus. Mereka memiliki lahan pertanian sendiri, memiliki rumah sendiri, mengelolah pertanian

sendiri, punya uang sendiri dan bisa membiayai anak sekolah mereka sendiri. Tidak seperti sekarang hanya bisa tergantung pada bantuan-bantuan yang datang dari dermawan dan juga penghasilan yang tidak menentu dari berkerja diladang orang.

Kondisi yang demikian sangat memprihatikan bagi masyarakat penyintas Gunung Sinabung. Jika hal tersebut dibiarkan, hal itu akan merugikan dari berbagai pihak mulai dari masyarakat yang mengungsi, pemerintah setempat bahkan dari masyarakat sekitar, tempat mereka yang mengungsi. Oleh sebab itu, muncul rencana pemerintah untuk merelokasi tempat tinggal pengungsi yang berada di kaki gunung, untuk meninggali lokasi tempat tinggal yang baru yang berada jauh dari kaki Gunung Sinabung.

Masyarakat penyintas Gunung Sinabung direlokasi secara berangsur-angsur untuk tiga Desa yaitu Desa Bekerah, Desa Simacem, dan Desa Sukameriah Badan Nasional Penangulangan Bencana pusat langsung mengadakan pendamping, mulai direlokasi pada tanggal 10 Desember 2015, Mira Guci Sos 2010 (2016). Tanggal efektif penyintas Sinabung direlokasi pada tanggal 24-25 Desember 2015 untuk tiga Desa tersebut.

Relokasi pemukiman yang direncanakan oleh pemerintah, merupakan salah satu tindakan yang harus dilakukan pasca bencana. Dalam Skripsi Harry (2005) tertuliskan ada tiga tahapan tindakan yang harus dilakukan pasca bencana yaitu tindakan penanganan darurat, penanganan antara, sertakan tindakan restorasi-rehabiitasi-rekonstruksi. Tindakan penanganan darurat merupakan tindakan pertama yang dilakukan seketika terjadi bencana. Dalam hal ini tindakanan yang dilakukan adalah mendatangkan tenaga medis, membuat tenda pengungsian,

evakuasi jenazah, menyediakan air bersih dan juga tempat pembuangan serta bahan makanan yang dibutuhan para penyintas bencana.

Sedangkan tindakan penanganan antara adalah tindakan yang bertujuan memulihkan kondisi masyarakat penyintas Gunung Sinabung agar bisa secepatnya menjalani kehidupan normal. Penanganan antara ini bisa berlangsung selama 6-1,5 tahun. Sementara penangangan jangka panjang pada tahap ketiga yaitu merestorasi, merekontruksi dan merehabilitasi wilayah yang terkena dan membutuhkan pemikirian yang cepat. Relokasi pemukiman yang dibuat pemerintah merupakan salah satu bentuk penanganan bencana jangka panjang dengan membuat tempat tinggal permanen bagi para penyintas Gunung Sinabung.

Upaya relokasi jangka panjang yang dimaksudkan oleh pemerintah adalah dengan memindah hunian masyarkat ke daerah yang berbeda, dengan cara membuka hutan dan membuat tempat pemukiman bagi para penyintas Gunung Sinabung dan hutan lindung yang rencananya akan dibuka sebagai tempat pemukiman baru adalah Hutan Lindung Siosar. Hutan lindung itu berada di Lintas Utara dari Desa Kati Nambun menuju Siosar, Kecamatan Merek. Rencananya pemerintah akan membuka lokasi jalan sepanjang 6,5 km, sebagai akses baru perjalanan menuju pemukiman dihutan Siosar. Hutan lindung yang akan dibuka untuk pembangunan jalan menuju pemukiman baru adalah 11 hektare. Selain itu, ada 30 hektare yang dibuka untuk pengungsian penduduk, di mana jumlah pengungsi yang direlokaasi sebanyak 1.700 Keluarga. Di perkirakan dana yang dikeluarkan untuk membelah hutan sebesar RP 11,5 miliar. Sementara untuk pembangunan rumah, pemerintah akan mengeluarkan dana sebesar Rp.80 miliar, sehingga total dana yang dibutuhkan adalah Rp. 91,5 miliar. Sebagai bentuk

realisasi terhadap rencana relokasi pemukiman penyintas bencana Gunung Sinabung pemerintah telah memberikan dana sebesar 11,5 miliar kepada Pangdam yaitu Mayjen TNI Winston P, Simanjuntak. (Koran Sindo, 2014)

Relokasi pemukiman bagi para penyintas Gunung Sinabung merupakan rencana penanggulangan bencana jangka panjang yang ditawarkan pemerintah. Dimana, Desa Sukameriah merupakan salah satu desa yang akan direlokasi oleh pemerintah. Mengingat desa ini merupakan salah satu desa yang paling parah terkena dampak gunung meletus. Banyak warga Desa Sukameriah yang mengungsi kebeberapa titik pengungsian, salah satunya adalah di Universitas Karo. Total pengungsi warga Desa Sukameriah yang berada di Universitas Karo berjumlah 22 KK (Data tahun 2015). Rencana relokasi pemukiman yang ditawarkan Pemerintah memiliki tanggapan yang berbeda dari para pengungsi yang berasal dari Desa Sukameriah, mengingat mereka telah lama menempati desa tersebut bahkan ada yang lahir di sana.

Selain itu terdapat beberapa penelitian mengenai relokasi pemukiman diantaranya Fanny Harliani (2014) dengan judul persepsi masyarakat terhadap rencana relokasi Kampung Cienteung. Dimana dalam penelitian ini masyarakat Kampung Cienteung menolak untuk melakukan relokasi pemukiman bedanya dengan penelitian ini ialah masyarakat penyintas Sinabung tidak menolak direlokasi oleh Pemerintah (Data tahun 2015). Selain itu, Drajat Suhardjo (2010) mengenai relokasi pemukiman pasca bencana merapi di Bantaran Kali Code. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 30 respon terdapat 7 KK yang berminat untuk melakukan relokasi dan sisanya menolak direlokasi. Perbedaanya ialah masyarakat kampung Cienteung menolak untuk direlokasi dan masyarakat Bantara Kali Code hanya 7

KK yang berminat untuk direlokasi sedangkan masyarakat penyintas Gunung Sinabung tidak menolak direlokasi.

Berdasarkan hal di atas, menjadi menarik bagi peneliti untuk melihat persepsi masyarakat penyintas Gunung Sinabung yang berasal dari Desa Sukameriah yang berada di Universitas Karo Jln. Jamin Ginting Kab.Karo terhadap rencana relokasi pemukiman bagi para penyintas Gunung Sinabung.

Dokumen terkait