• Tidak ada hasil yang ditemukan

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Latar belakang Masalah

Perkembangan dunia perbankan begitu kompleks, dengan berbagai macam jenis produk dan sistem usaha dalam berbagai keunggulan kompetitif. Kekomplekan ini telah menciptakan suatu sistem dan pesaing baru dalam dunia perbankan, bukan hanya persaingan antar bank tetapi juga antara bank dengan lembaga keuangan. Sebuah fenomena nyata yang telah menuntut manajer keuangan bank untuk lebih antisipatif terhadap perubahan yang terjadi dalam dunia perbankan.1

Suatu perkembangan yang boleh dikatakan sangat mengembirakan, khususnya bagi umat Islam yang selama ini menginginkan investasi dan pendanaan tanpa unsur riba. Satu hal yang sangat menarik, yang membedakan antara manajemen Bank Syariah dengan Bank Konvensional adalah terletak pada pembiayaan dan pemberian balas jasa, baik yang diterima oleh bank maupun investor. Jika dilihat pada bank umum, pembiayaan disebut loan, sementara di Bank Syariah disebut financing. Sedangkan balas jasa yang diberikan atau diterima pada Bank Konvensional berupa bunga pinjaman (interest of loan) dalam presentase pasti. Sementara pada Bank Syariah dengan

sistem syariah, hanya memberi dan menerima balas jasa berdasarkan perjanjian (akad) bagi hasil.2

Selanjutnya dalam perbankan syariah dikenal istilah mudharabah, murabahah dan musyarakah untuk program pembiayaan. Bank Syariah akan memperoleh keuntungan berupa bagi hasil, dari proyek yang dibiayai oleh bank tersebut. Apabila proyeknya mandek, maka akan dicarikan solusi penyelesaian, misalnya dengan menjual aset proyek. Uang penjualan aset proyek yang dibiayai Bank Syariah, akan dibagi kepada bank dan nasabah sesuai penyertaan masing-masing pada usaha tersebut. Lalu bagaimanakah dengan mekanisme manajemen kredit yang dapat diberlakukan dalam Bank Syariah, dimana dalam mekanisme ini terjadi tarik-menarik kepentingan antara peminjam, bank dan investor.

Dalam menjalankan operasinya, Bank Syariah tidak berdasarkan bunga, spekulasi, dan ketidakjelasan, serta selalu melakukan penyaluran dana pada usaha yang halal dan menguntungkan. Sedangkan Bank Konvensional adalah bank berdasarkan bunga dan penyaluran dananya pada sektor yang menguntungkan, tetapi aspek halal tidak menjadi pertimbangan utama.

3

Bagi peminjam dana (borrowers), hal ini merupakan kesempatan emas dimana peminjam tidak terlalu terbebani atas bunga pinjaman tersebut. Tetapi bagi kalangan investor (deposan atau penanam modal lainnya), sistem

2

Adi Warman Karim, Menimbang Risiko Kredit di Bank Syariah, Majalah Investor No.88 Tahun V. Jakarta, 2003, hal. 56

3

Heri Sudarsono, Bank dan Lembaga Keuangan Syariah, Ekonisia UII, Yogyakarta, 2003, hal. 38

perbankan ini kurang menjanjikan. Para investor (lenders) menginginkan dana yang diinvestasikannya, memiliki pengembalian minimal sesuai dengan harapan mereka. Sebaliknya, bank sebagai media perantara (intermediasi) bisa mengalami kesulitan untuk menggalang dana masyarakat. Kegiatan operasional bank dalam bentuk penyaluran kredit, dapat terhambat jika mobilisasi dana tidak sesuai dengan jumlah permintaan pendanaan.4

Perlu diketahui bahwa Undang-Undang Perbankan tidak cukup akomodatif untuk mengatur masalah kredit macet. Hal ini terbukti dari: a) UU Perbankan No.7 Tahun 1992 sebagaimana telah diubah dengan UU No.10 Tahun 1998 pasal yang mengatur tentang kredit macet; b) UU Perbankan tidak mengatur jalan keluar dan langkah yang ditempuh perbankan menghadapi kredit macet; c) UU Perbankan tidak menunjuk lembaga mana yang menangani kredit macet, dan sejauh mana keterlibatannya, dan d) UU Perbankan tidak memberikan tempat yang cukup baik kepada komisaris bank sebagai badan pengawas. Untuk itu perlu dibentuk UU khusus tentang penanggulangan kredit macet pada usaha kecil baik dari segi hukum substantif, pengawasan preventif ataupun segi prosedural atau segi represif lainnya.

Kredit macet itu sebenarnya tidak ada karena begitu piutang (kredit) tidak dilunasi oleh debitur, maka dapat ditutup dari hasil penjualan barang jaminan yang notabene nilainya lebih tinggi dari kredit.

5

4

Harry Waluya, Ekonomi Moneter, Uang dan Perbankan, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta, 1993, hal.45

Usaha yang tidak bankable dipandang oleh bank mengandung default risk atau kredit macet. Pada prakteknya untuk menekan resiko kredit macet tersebut bank mewajibkan jaminan tambahan untuk kredit yang diberikan, baik mengasuransikan kredit yang diberikan maupun jaminan kredit yang dimiliki nasabah atau bahkan menolak pemberian kredit meskipun usaha calon debitur memiliki prospek yang sangat memadai. Upaya menekan resiko kredit macet menjadi penghambat bagi upaya perluasan akses kredit bagi usaha yang feasible.

Bagi usaha mikro, kecil, dan menengah kredit dirasa cukup penting mengingat kebutuhan untuk pembiayaan modal kerja dan investasi diperlukan guna menjalankan usaha dan meningkatkan akumulasi pemupukan modal mereka. Permasalahan timbul ketika pengusaha mikro, kecil dan menengah tersebut dihadapkan kepada kelengkapan persyaratan bank guna memperoleh pinjaman. Meskipun usaha mereka feasible namun sebagian besar pengusaha mengalami kesulitan dalam penyediaan asset dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi persyaratan jaminan kredit bank.

Namun demikian, dalam perkembangannya bank syariah dalam tahun 1996 sampai dengan tahun 1999 menunjukkan pertumbuhan yang mengesankan, khususnya dalam aspek penyaluran pembiayaan. Total penyaluran pembiayaan ditahun 1996 sebesar Rp.312,16 miliyar sedangkan ditahun 1997 sebesar Rp.459,21 miliyar. Kemudian ditahun 1998 total

penyaluran pembiayaan sebesar Rp.462,09 miliyar dan ditahun 1999 sebesar Rp.423,06 miliyar.6

Menurut UU No. 7 Tahun 1992 sebagaimana telah diubah menjadi UU No. 10 Tahun 1998 tentang perbankan, disebutkan bahwa “kredit adalah penyediaan uang tagihan atau yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjaman antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan jumlah bunga, imbalan atau pembagian hasil keuntungan. Sedangkan menurut UU No.21 tahun 2008 tentang perbankan syariah, istilah kredit diganti menjadi istilah pembiayaan yang memiliki makna yang berbeda satu sama lain. Pasal 1 butir (25) menyebutkan bahwa pembiayaan menurut sistem Bank Syariah adalah penyediaan dana atau tagihan yang dipersamakan dengan itu berupa : transaksi bagi hasil dalam bentuk mudharabah dan musyarakah; transaksi sewa-menyewa dalam bentuk ijarah atau sewa beli dalam bentuk ijarah muntahiya bittamlik; transaksi jual beli dalam bentuk piutang murabahah, salam, dan istishna’; transaksi pinjam meminjam dalam bentuk piutang qardh; dan transaksi sewa-menyewa jasa dalam bentuk ijarah, untuk transaksi multijasa berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara Bank Syariah dan/atau UUS dan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai dan/atau diberi fasilitas dana untuk

mengembalikan dana tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan ujrah, tanpa imbalan, atau bagi hasil.

Pembiayaan merupakan salah satu kegiatan utama dan menjadi sumber utama pendapatan bagi Bank Syariah. Namun demikian harus diingat bahwa bisnis perbankan merupakan bisnis yang penuh resiko, disamping menjanjikan kentungan yang besar jika dikelola dengan baik dan prudent (hati-hati). Dikatakan sebagai bisnis penuh resiko (full risk business) karena aktivitasnya sebagian besar mengandalkan dana titipan masyarakat, baik dalam bentuk tabungan giro maupun deposito.7

Oleh karena itu, penyaluran pembiayaan Bank Syariah harus

memperhatikan prinsip kehati-hatian bank (prudent banking principle). Prinsip kehati-hatian adalah suatu azas atau prinsip yang menyatakan bahwa bank dalam menjalankan fungsi dan kegiatan usahanya wajib bersikap hati-hati (prudent) dalam rangka melindungi dana masyarakat yang dipercayakan padanya.8

B. Perumusan Masalah

Pelaksanaan prinsip kehati-hatian ini merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk menekan terjadinya kredit macet, disamping

sistem/pola penanganan yang sudah dimiliki/disiapkan sendiri (kebijakan internal) masing-masing bank, baik itu Bank Syariah maupun Bank Konvensional.

Dengan uraian diatas, maka penulis tertarik untuk membuat karya tulis dalam bentuk skripsi dengan judul “Tinjauan Hukum tentang Penanganan kredit/pembiayaan macet pada Bank Muamalat Cabang Medan.”

Permasalahan adalah merupakan kenyataan yang dihadapi dan harus diselesaikan oleh peneliti dalam penelitian. Dengan adanya rumusan masalah maka akan dapat ditelaah secara maksimal ruang lingkup penelitian sehingga tidak mengarah pada hal-hal diluar permasalahan.

Adapun permasalahan yang diajukan dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimana Aspek Penilaian, Permasalahan & Dampak Kredit/Pembiayaan Macet?

7

Mulhadi, Prinsip kehati-hatian (Prudent Banking Principle) dalam kerangka UU Perbankan di Indonesia, Fakultas Hukum, Universitas Sumatera Utara Medan, 2005, hal. 2

8

Usman Rachmadi, Aspek-aspek hukum perbankan di Indonesia, PT. Gramedia Pustaka Utama, 2001, Jakarta, hal 18, sebagaimana dikutip oleh Mulyadi, Prinsip Kehati-hati (Prudent Banking Principle), Ibid hal. 10

2. Bagaimana Pelaksanaan Pemberian Kredit (Pembiayaan menurut sistem bank syariah) pada Usaha Mikro, Kecil & Menengah Bank Muamalat Cabang Medan?

3. Bagaimana Konsep Penanganan Kredit Macet dalam Peraturan perundang-undangan Pasca UU. No.7/1992?

4. Bagaimana Sistem/Pola hukum penanganan kredit macet pada Bank Muamalat Cabang Medan?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan penelitian

Tujuan penelitian skripsi yang akan penulis lakukan adalah:

Untuk mengetahui aspek Penilaian, Permasalahan & Dampak Kredit/Pembiayaan Macet.

Untuk mengetahui pelaksanaan pemberian kredit/pembiayaan pada usaha kecil menurut sistem bank syariah di Bank Muamalat Cab. Medan. Untuk mengetahui konsep penanganan kredit macet usaha kecil di dalam

berbagai pertauran perundang-undangan perbankan pasca No.7/1992. Untuk mengetahui sistem/pola penanganan kredit macet pada usaha kecil

pada Bank Muamalat Cab. Medan. 2. Manfaat penelitian

a. Sebagai bahan masukan teoritis bagi penulis untuk menambah pengetahuan dan pemahaman hukum kredit macet pada usaha kecil Bank Muamalat Cab. Medan.

b. Untuk menerapkan pengetahuan penulis secara praktis agar masyarakat mengetahui bagaimana proses pinjaman kredit pada usaha kecil Bank Muamalat Cab. Medan.