• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2. Retribusi Daerah

1.1. Latar Belakang Masalah

Perencanaan pembangunan ekonomi yang berorientasi pada pertumbuhan (growth) merupakan awal proses pembangunan suatu negara. Pembangunan suatu negara diharapkan mampu memberikan hasil nyata yaitu Pro Growth, Pro Poor, Pro Job dan Pro Environment yang artinya menciptakan pertumbuhan ekonomi, kesempatan kerja, pengentasan kemiskinan dan pelestarian lingkungan untuk kesejahteraan rakyat. Hal ini sejalan dengan strategi kebijakan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014 di bidang kesejateraan rakyat melalui pelaksanaan kebijakan pembangunan manusia, penurunan kemiskinan dan pengangguran dan penanganan mitigasi bencana yang efektif. Kendala utama pembangunan suatu negara yang sedang berkembang adalah kurangnya optimalisasi pendataan dan penggunaan sumber-sumber pendapatan. Kalau masalah kekurangan sumber pendapatan ini bisa diatasi dengan baik, maka proses pembangunan di negara-negara sedang berkembang akan lebih cepat mencapai sasaran.

Sejak bergulirnya era reformasi tahun 1999, pembangunan di Indonesia memasuki era otonomi. Otonomi diatur dalam UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Kedua undang-undang otonomi

daerah ini merupakan revisi terhadap UU Nomor 22 dan Nomor 25 Tahun 1999 sehingga kedua undang-undang tersebut sudah tidak berlaku lagi.

Otonomi daerah adalah hak, wewenang dan kewajiban daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dari pengertian tersebut di atas maka akan tampak bahwa daerah diberi hak otonom oleh pemerintah pusat untuk mengatur dan mengurus kepentingan sendiri.

Sejalan dengan diberlakukannya undang-undang otonomi tersebut pemerintah daerah diberikan kewenangan menyelenggarakan pemerintah daerah yang lebih luas, nyata dan bertanggung jawab. Adanya pembagian kewenangan tugas fungsi dan peran antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah tersebut menyebabkan masing-masing daerah harus memiliki sumber pendapatan yang cukup. Pemerintah daerah harus memiliki sumber pembiayaan yang memadai dalam menyelenggarakan pemerintahan daerah, sehingga diharapkan masing-masing daerah akan dapat lebih maju, mandiri, sejahtera dan kompetitif di dalam pelaksanaan pemerintahan maupun pembangunan daerahnya masing-masing.

Tujuan akhir pembangunan adalah kesejahteraan rakyat. Manusia bukan hanya merupakan obyek pembangunan tetapi diharapkan dapat menjadi subyek, sehingga dapat memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi kemajuan suatu wilayah yang secara makro menjadi kemajuan suatu negara. Keberhasilan pembangunan diukur dengan beberapa parameter, dan yang paling populer saat ini adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Indeks (HDI ). Alat ukur ini diluncurkan oleh pemenang nobel India Amartya Sen dan

Mahbub ul Haq seorang ekonom Pakistan dibantu oleh Gustav Ranis dari Yale University dan Lord Meghnad Desai dari London School of Economics dalam bukunya yang berjudul Reflections on Human Development (1995), dan telah disepakati dunia melalui United Nation Development Program (UNDP).

Ada tiga indikator yang dijadikan tolok ukur untuk menyusun Indeks Pembangunan Manusia. Pertama, usia panjang yang diukur dengan rata-rata lama hidup penduduk atau angka harapan hidup di suatu negara. Kedua, pengetahuan yang diukur dengan rata-rata tertimbang dari jumlah orang dewasa yang bisa membaca (diberi bobot dua pertiga) dan rata-rata tahun sekolah (diberi bobot sepertiga). Ketiga, penghasilan yang diukur dengan pendapatan per kapita riil yang telah disesuaikan daya belinya untuk tiap-tiap negara. Berdasarkan Indeks Pembangunan Manusia yang telah disusun, maka bisa ditetapkan tiga kelompok negara. Pertama, negara dengan tingkat pembangunan manusia yang rendah bila IPM-nya berkisar antara 0 sampai 0,5. Negara yang masuk kategori ini sama sekali atau kurang memperhatikan pembangunan sumber daya manusia. Kedua, negara dengan tingkat pembangunan manusia sedang jika IPM-nya berkisar antara 0,51 sampai 0,79. Negara yang masuk dalam kategori ini mulai memperhatikan pembangunan sumber daya manusianya. Ketiga, negara dengan tingkat pembangunan manusia tinggi jika IPM-nya berkisar antara 0,80 sampai 1. Negara yang masuk dalam kategori ini sangat memperhatikan pembangunan sumber daya manusianya. Untuk wilayah Sumatera Utara, kondisi ekonomi tahun 2012 membaik, namun masih menghadapi berbagai persoalan serius di bidang kesehatan dan kondisi infrastruktur. Karenanya, perlu diambil berbagai tindakan

dengan kerjasama dan sinkronisasi bersama pihak yang terlibat, salah satunya melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang).

Sumatera Utara akan mengalami persoalan serius jika tidak segera dilakukan upaya untuk mengatasinya. Permasalahan yang dihadapi selama ini antara lain angka kematian ibu melahirkan yang masih relatif tinggi yaitu 268/100.000 kelahiran hidup, sedangkan capaian nasional angka kematian ibu 226/100.000 kelahiran hidup. Untuk angka kematian bayi masih lebih baik yaitu 23/1.000 kelahiran dan capaian nasional masih 34/1.000 kelahiran. Untuk kasus gizi buruk di Sumatera Utara juga masih cukup tinggi yaitu 21,4%, jauh dari capaian nasional 12,9. Untuk kondisi infrastruktur seperti jalan dan irigasi di Sumatera Utara juga masih mengkhawatirkan.

Dari total 32.000 kilometer (km), yang mengalami kerusakan berat, sedang dan ringan sekitar 13.500 km, terdiri dari 600 km jalan negara, 900 km jalan provinsi dan 12.000 jalan kabupaten/kota. Sementara 350 ribu hektar (ha) irigasi yang ada di Sumatera Utara sekitar 30% diantaranya mengalami kerusakan. Penentuan prioritas terhadap penanganan permasalahan yang ada, baik itu oleh pemerintah pusat, provinsi maupun kabupaten/kota dengan mengalokasikan dana yang relatif besar dan tepat sasaran menjadi hal yang penting. Sinkronisasi rencana pembangunan provinsi dan kabupaten/kota harus dirancang lebih terintegrasi, (http://www.waspada.co.id/, diakses tanggal 18 Maret 2014). Seluruh daerah Kabupaten dan Kota di Provinsi Sumatera Utara memiliki beberapa sumber keuangan daerah yang dipergunakan untuk menjalankan aktivitas daerah yaitu yang terdiri dari:

1. Pendapatan Asli Daerah. 2. Dana Perimbangan. 3. Pinjaman Daerah.

4. Lain-lain penerimaan yang sah.

Pendapatan Asli Daerah (PAD) terdiri dari: Pajak Daerah, Retribusi Daerah, Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah (BUMD) yang diperoleh dan lain-lain, PAD yang sah yaitu hasil penjualan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan, jasa giro, pendapatan bunga, keuntungan selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, dan komisi, potongan ataupun bentuk lain sebagai akibat dari penjualan atau pengadan barang dan/atau jasa oleh daerah (Bab V Pasal 6 ayat 2, UU No. 33 Tahun 2004). Sejak tahun 1997 telah terjadi krisis ekonomi yang melanda Indonesia dampak dari krisis tersebut terlihat pada sektor swasta seperti pasar modal dan pada sektor publik (pemerintah). Berbagai dampak negatif seperti bertambahnya pengangguran dan peningkatan kemiskinan bermunculan. Pengaruh negatif krisis moneter juga terjadi pada Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) yang pada gilirannya berdampak pula pada Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD).

Sektor pendapatan sangat labil atau faktor ketidakpastian akan penerimaan dari Pemerintah pusat menjadi lebih tinggi. Kondisi tersebut lebih memperhatikan pada daerah yang PAD rendah. Dengan PAD yang rendah berarti ketergantungan kepada pemerintah pusat lebih tinggi. Pajak dan retribusi daerah yang menjadi komponen utama dari PAD juga terpengaruh akibat terjadinya krisis ekonomi. Menurunnya aktivitas ekonomi masyarakat akibat adanya krisis ekonomi

menyebabkan terganggunya penerimaan masyarakat yang kemudian mempengaruhi penerimaan pendapatan daerah yang mengakibatkan pendapatan daerah menjadi lebih rendah dan tidak menentu. Dengan keadaan pemerintah yang mengalami tekanan keuangan mengakibatkan penyusunan APBD menjadi tidak pasti sehingga menyebabkan kemungkinan adanya pergeseran pada komponen-komponen pendapatan dan belanja daerah. Tekanan keuangan (Fiskal Stress) berakibat pada tidak stabilnya kesiapan Pemerintah Kabupaten dan Kota terutama pada segi keuangannya, kinerja keuangan merupakan salah satu tolak ukur dari kesiapan suatu daerah dalam menghadapi otonomi daerah.

Selain ditampilkan sebagai indikator tunggal, IPM biasanya juga ditampilkan bersama-sama dengan ranking pendapatan per kapita, hasilnya bisa bervariasi. Ada negara yang ranking pendapatan per kapitanya masuk ranking atas, tetapi IPM-nya masuk ranking rendah. Ini artinya hasil pembangunan yang tampak dari pendapatan per kapita tinggi tidak dipakai untuk mengembangkan sumber daya manusia. Ada negara yang pendapatan per kapitanya masuk ranking bawah tetapi IPM-nya masuk ranking yang tinggi. Artinya, meskipun masuk ke dalam negara yang miskin, tetapi dengan pendapatan yang kecil itu negara atau pemerintah memakainya untuk mengembangkan sumber daya manusia.

Ada pula negara yang konsisten antara ranking pendapatan per kapita dan urutan IPM nya, dimana urutan IPM-nya ranking atas dan pendapatan per kapitanya ranking atas pula. Salah satu indikator kesejahteraan masyarakat adalah pendapatan perkapita. Peningkatan kesejahteraan masyarakat merupakan bukti keberhasilan pembangunan yang merupakan salah satu tugas pemerintah.

Pendapatan perkapita menunjukkan rata-rata tingkat pendapatan masyarakat pada suatu daerah. Pemerintah pusat dalam rangka desentraliasi kewenangannya memberikan dana transfer kepada pemerintah daerah (Pemda). Data Pendapatan Asli Daerah dan Belanja Modal tahun 2010 dan 2011 serta pengaruhnya terhadap IPM tahun 2010 dan 2011 dapat dilihat pada Tabel 1.1.

Tabel 1.1.

Data Pendapatan Asli Daerah dan Belanja Modal (BM) Tahun 2010 dan 2011 serta Pengaruhnya Terhadap IPM Tahun 2010 dan 2011

Kabupaten/Kota

PAD (dalam

jutaan) BM (dalam jutaan) IPM

2010 2011 2010 2011 2010 2011

Kab. Asahan 25982 31884 98005,4 179238 73,25 73,8 Kab. Dairi 19836 17673 81170,6 74602,2 73,94 73,86

Kab. Deli Serdang - - - - 75,78 76,17

Kab. Tanah Karo 27686 35372 92129,4 128448 75,79 76,22 Kab. Labuhan Batu 38532 50959 125757 115454 74,65 75,29 Kab. Langkat 31357 34541 117393 119040 73,62 73,98 Kab. Mandailing Natal 11826 27526 106123 88218,1 71,04 71,44 Kab. Nias 17630 18944 83037,1 144051 69,09 69,55 Kab. Simalungun 45256 42543 148924 132102 73,94 74,35 Kab. Tapanuli Selatan 30497 57464 169573 137836 74,45 74,78 Kab. Tapanuli Tengah 13372 18210 119114 99683,2 71,63 72,04 Kab. Tapanuli Utara 15433 36063 95765,9 188144 74,86 75,33

Kab. Toba Samosir - - - - 76,93 77,21

Kota Binjai 18833 26470 53073,1 131940 76,88 77,36 Kota Medan 588941 995073 423443 681884 77,81 78,25 Kota Pematang Siantar 25911 44793 69571,1 73017,2 77,93 78,27 Kota Sibolga 14074 21663 44807,9 89963,7 75,5 75,73

Kota Tanjung Balai - - - - 74,72 75,06

Tabel 1.1 (Lanjutan) Kabupaten/Kota PAD (dalam jutaan) BM (dalam jutaan) IPM 2010 2011 2010 2011 2010 2011

Kota Padang Sidempuan 15602 21465 27867,3 75776,4 75,58 76,04 Kab. Pakpak Barat 4533 6306 52908,5 113488 71,2 72

Kab. Nias Selatan - - - - 67,72 68,23

Kab. Humbang Hasundutan 10007 12870 82610,5 78728,8 72,43 72,96

Kab. Samosir - - - - 74,27 74,72

Kab. Batu Bara - - - - 72,08 72,8

Kab. Padang Lawas 13258 8216 123864 120126 72,55 72,96 Kab. Padang Lawas Utara 5333 8728 86312 161465 73,25 73,59 Kab. Labuhanbatu Selatan 8372 17081 98805,2 146177 74,38 74,9

Kab. Labuhanbatu Utara - - - - 74,14 74,14

Kab. Nias Utara - - - - 68,18 68,71

Kab. Nias Barat - - - - 67,1 67,59

Kota Gunung Sitoli - - - - 72,21 72,71

Melihat dari fenomena yang terjadi di atas bahwa masalah kemiskinan masih merupakan masalah utama yang terjadi baik di daerah, nasional maupun negaranegara saat ini, dan IPM erat kaitannya terhadap kesejahteraan masyarakat ataupun tingkat kemiskinan. Di mana IPM juga merupakan salah satu indikator dari keberhasilan pembangunan suatu daerah maupun negara. Menurut peneliti ada pengaruh dari pada kebijakan pemerintah terhadap bagaimana pengelolaan BM yang diterima dari pemerintah pusat terhadap penyediaan infrastruktur, sarana dan prasarana pelayanan publik dalam rangka peningkatan IPM pada setiap daerah. Dan PAD yang tentunya merupakan bagian dari lingkaran perekonomian yang terkait dengan pendapatan perkapita, pengeluaran pemerintah maupun aktivitas perekonomian daerah yang juga berperan dalam meningkatkan IPM. Oleh sebab itu peneliti tertarik untuk meneliti pengaruh dari pada Dana Bagi

Hasil, Pertumbuhan Belanja Modal dan Pendapatan Asli Daerah terhadap IPM dengan Belanja daerah sebagai variabel moderating pada Pemda di Sumatera Utara.

Dokumen terkait