BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Hakikat Perfeksionisme
6. Perfeksionis di Bidang Akademik
Ines (2010) mengungkapkan ciri-ciri orang yang perfeksionis di bidang akademik, yaitu:
a. Selalu bekerja dengan sepenuh hati dan totalitas.
b. Berambisi untuk mewujudkan apa yang mereka inginkan.
c. Cenderung memaksakan diri untuk melakukan segalanya, walaupun sebenarnya sudah di luar batas kemampuannya.
d. Mudah sekali kecewa, jika ada satu atau sedikit kekurangan saja, yang walaupun di mata orang lain biasa saja.
e. Cenderung sulit untuk rela mendelegasikan tugas atau pekerjaannya kepada orang lain.
f. Cenderung tidak mudah percaya atau terkadang meremehkan kemampuan orang lain.
g. Mudah emosi dan sering egois.
Selain ciri-ciri di atas, menurut Ines (2010) sikap yang sering ditunjukkan oleh seorang perfeksionis di bidang akademik adalah sebagai berikut :
a. Sangat berkomitmen, bahkan sering berlebihan dan bisa mencapai terobsesi.
b. Tidak suka mendelegasikan tugas bagi orang lain, atau kurang percaya pada kemampuan orang lain.
c. Memiliki kesulitan untuk menghitung prioritas dengan sehat.
d. Memiliki dorongan yang sangat besar untuk mengendalikan segala sesuatu.
e. Berkompetisi dengan kuat, terdorong untuk menang dalam banyak hal, bahkan untuk hal-hal yang tidak berarti sekalipun.
f. Memiliki standar yang sangat tinggi, bahkan cenderung tidak realistis.
g. Sulit untuk fleksibel, cenderung kaku, dan menuntut orang lain dengan menggunakan standar yang tinggi.
Dalam penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa pengertian dari perfeksionisme adalah keinginan seseorang untuk mencapai suatu
kesempurnaan dalam hal akademik karena adanya standar tinggi yang ditetapkan oleh individu kepada dirinya, orang lain dan pengharapan orang lain untuk standar tinggi tersebut.
7. Dampak Perfeksionisme pada Perkembangan Akademik
Perfeksionisme memiliki dampak positif dan negatif. Dampak positifnya adalah dapat mendorong seseorang untuk dapat menghadapi halangan dan rintangan dalam mengerjakan segala sesuatu. Sedangkan dampak negatifnya adalah apabila sering menunda-nunda pekerjaan karena ingin mencari kesempurnaan dalam mencapai hasil dari pekerjaan itu. Sementara itu Baron dan Wagele (2005: 28) mengungkapkan dampak positif menjadi tipe perfeksionis adalah :
a. Disiplin dan mampu menyelesaikan banyak hal.
b. Bekerja keras untuk menjadikan dunia ini lebih baik.
c. Memiliki standar dan etika tinggi, tidak terkecuali bagi diri sendiri.
d. Logis, bertanggung jawab dan berdedikasi dalam segala hal yang di lakukan.
e. Bisa menyatukan fakta-fakta sehingga mendapatkan pemahaman yang baik dan dapat menemukan solusi yang bijaksana.
f. Menjadi yang terbaik sebisa mungkin dan mengangkat sisi terbaik dari diri orang lain.
Sedangkan dampak negatif menjadi tipe perfeksionis menurut Baron dan Wagele (2005: 29) antara lain:
a. Dikecewakan diri sendiri atau orang lain ketika yang diharapkan tak terlaksana.
b. Merasa dibebani tanggung jawab yang terlalu berat.
c. Merasa hal yang dilakukan tak pernah cukup memuaskan.
d. Tidak mendapat penghargaan atas apa yang telah dilakukan untuk orang lain.
e. Kecewa karena orang lain tidak berusaha sekeras saya.
f. Terobsesi atas apa yang telah dilakukan dan yang seharusnya dilakukan.
g. Merasa tegang, gelisah, dan memandang segala hal terlalu serius.
B. Mahasiswa dan Tugas Akademik
1. Karakteristik Mahasiswa dan Aktivitas Akademik
Mahasiswa dapat didefinisikan sebagai individu yang sedang menuntut ilmu ditingkat perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta atau lembaga lain yang setingkat dengan perguruan tinggi. Mahasiswa dinilai memiliki tingkat intelektualitas yang tinggi, kecerdasan dalam berpikir dan keerencanaan dalam bertindak. Berpikir kritis dan bertindak dengan cepat dan tepat merupakan sifat yang cenderung melekat pada diri setiap mahasiswa, yang merupakan prinsip yang saling melengkapi.
Mahasiswa adalah manusia yang tercipta untuk selalu berpikir yang saling melengkapi (Dwi Siswoyo, 2007: 121).
Mahasiswa adalah orang yang belajar di perguruan tinggi, baik di universitas, institut atau akademi, mereka yang terdaftar sebagai murid di perguruan tinggi. Karakteristik mahasiswa secara umum yaitu stabilitas dalam kepribadian yang mulai meningkat, karena berkurangnya gejolak-gejolak yang ada didalam perasaan. Mereka cenderung memantapkan dan berpikir dengan matang terhadap sesuatu yang akan diraihnya, sehingga mereka memiliki pandangan yang realistik tentang diri sendiri dan lingkungannya. Selain itu, para mahasiswa akan cenderung lebih dekat dengan teman sebaya untuk saling bertukar pikiran dan saling memberikan dukungan, karena dapat kita ketahui bahwa sebagian besar mahasiswa berada jauh dari orang tua maupun keluarga. Karakteristik mahasiswa yang paling menonjol adalah mereka mandiri, dan memiliki prakiraan di masa depan, baik dalam hal karir maupun hubungan percintaan. Mereka akan memperdalam keahlian dibidangnya masing-masing untuk mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja yang membutuhkan mental tinggi.
2. Hakikat Tugas Akademik
Tugas akademik yang diberikan oleh guru/dosen dapat dikerjakan di sekolah, kampus, dan rumah. Tugas-tugas tersebut dapat membangun prestasi dan kemampuan siswa/mahasiswa dalam bidang akademik. Menurut
Woolfolk (1990) menegaskan tugas akademik adalah pekerjaan yang harus dipenuhi oleh siswa/mahasiswa, termasuk lingkup muatan dan operasi mental yang diperlukan untuk mengasah kemampuan siswa/mahasiswa.
Tugas akademik mengandung sejumlah operasi tertentu yang menuntut siswa/mahasiswa untuk menghafal, membuat suatu kesimpulan, menganalisa, menggolongkan, ataupun menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Erika ( 2012) menjelaskan tugas akademik merupakan sesuatu yang bersifat ilmu pengetahuan, wajib dikerjakan dan dilakukan. Oleh karena itu, tugas akademik tersebut perlu untuk dikerjakan dengan baik. Tugas akademik juga sesuatu yang harus dikerjakan atau beban yang diserahkan kepada orang lain untuk diselesaikan, yang berhubungan dengan akademik atau berhubungan dengan dunia pendidikan dan bersifat akademis.
3. Ragam Tugas Akademik pada Mahasiswa
Menurut Slameto (Nugrahani, 2012) mengerjakan tugas dapat berupa pengerjaan tes atau ulangan atau ujian yang diberikan guru/dosen, termasuk membuat atau mengerjakan latihan - latihan yang ada di dalam buku-buku ataupun soal-soal buatan sendiri. Jadi, tugas akademik merupakan tugas bersifat akademis yang diserahkan kepada siswa/mahasiswa untuk dikerjakan dan diselesaikan seperti mengerjakan PR (pekerjaan rumah), membuat laporan praktikum dengan membuat kesimpulan, ringkasan, dan menganalisa, menghafal materi belajar, serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
4. Perfeksionis dalam Mengerjakan Tugas Akademik, Sebab dan Akibatnya
Perfeksionisme adalah perilaku menetapkan dan berjuang memenuhi standar yang tinggi terhadap diri sendiri, orang lain, serta memenuhi ekspetasi dari orang lain untuk mencapai kesempurnaan (Frost et al, 1990; Hewitt & Flett, 1991). Individu dengan standar tinggi personal menetapkan standar berlebihan dirinya. Individu dengan standar tinggi personal juga berupaya keras agar standarnya tercapai. Tidak jarang individu dengan standar tinggi personal memberikan punishment bagi dirinya apabila tidak mampu mencapai standar yang ia tetapkan.
Standar tinggi ditetapkan individu berkaitan dengan kualitas akademik. Individu yang memiliki standar tinggi berusaha secara keras dan memaksa dirinya agar mencapai tujuan. Individu dengan standar personal tinggi juga kurang mampu mengontrol emosi dan tekanan membuat individu mudah terserang stres. Individu tersebut juga merasa tidak puas terhadap statusnya sebagai mahasiswa apabila tidak mampu memenuhi standar.
Individu perfeksionis juga memiliki standar interpersonal. Standar interpersonal adalah standar tinggi yang dibuat oleh individu terhadap pekerjaan orang lain. Individu dengan standar interpersonal juga memiliki harapan agar orang lain mampu bekerja dengan sempurna.
Individu perfeksionis memiliki persepsi bahwa orang lain menetapkan bagi dirinya (Shafran, Egan, Wade, 2010). Persepsi tersebut
seperti orang lain menuntut individu untuk bekerja dengan sempurna dengan menilai pekerjaan individu.
Individu perfeksionis memiliki respon negatif akan kesalahan.
Individu tersebut memandang bahwa kesalahan adalah sebuah kegagalan dan merasa inferior atas kesalahan tersebut. Individu perfeksionis juga percaya bahwa dirinya kehilangan rasa hormat dari orang lain. Respon negatif akan kesalahan berkaitan dengan motivasi dan performasi akademik. Individu yang memiliki respon negatif akan kesalahan juga kurang mampu mengontrol emosi dan mengatasi tekanan yang berasal dari dirinya dan tekanan sosial.
Individu perfeksionis selalu merasa tidak puas atas pekerjaannya.
Individu tersebut merasa ragu-ragu dan merasa pekerjaan yang ia lakukan belum selesai. Keetidakpuasan pada pekerjaan individu terkait dengan hasil dan jangka waktu bekerja. Ketidakpuasan pada pekerjaan ini juga terkait dengan kualitas akademik, kontrol emosi dan pengelolaan tekanan atau tuntutan dalam dirinya.
C. Kerangka Pikir
Mahasiswa mempunyai cara yang berbeda-beda dalam mengerjakan tugas dan mempunyai potensi masing-masing. Sebagian mahasiswa menganggap tugas dari dosen baik itu tugas harian maupun tugas akhir sebagai sebuah beban yang sangat berat, sebagian merasa tidak mempermasalahkan tugas tersebut. Dari hal tersebut, mengindikasikan
bahwa mahasiswa yang menuntut standar nilai yang cukup tinggi agar membuat dirinya termotivasi untuk mencapainya adalah mahasiswa yang mempunyai sifat perfeksionis yang normal. Namun, jika perasaan untuk mencapai standar nilai yang tinggi akan ditekan oleh diri dan orang lain.
Tekanan berupa kritikan dari orang lain merupakan hal yang tidak menyenangkan bagi mahasiswa. Hal tersebut, akan mengarah kepada kepribadian perfeksionis yang neurotik. Tanda-tanda seperti ditentukan pada beberapa mahasiswa menjadikan mengumpulkan tugas lebih cepat dari waktu yang ditentukan karena tugas yang terlalu mudah, atau mengumpulkan tugas lebih lambat karena individu berusaha mengerjakan sesempurna mungkin.
Kepribadian perfeksionis tersebut, dapat menimbulkan stimulus ketika mengerjakan tugas akademik. Stimulus pada mahasiswa yang mempunyai kepribadian perfksionis neurotik dalam mengerjakan tugas seperti selalu mempunyai standar yang tinggi dan berpikir untuk melakukan sesuatu dengan sempurna, tanpa kesalahan apapun. Mereka yakin bahwa kesempurnaan itu akan berbuah kesuksesan. Di satu sisi lain, sifat ini diperlukan agar kita bisa memberikan hasil terbaik.
Untuk mendapatkan hasil yang sempurna membutuhkan waktu lama sehingga mahasiswa harus melewati tenggat waktu atau bahkan membuat orang lain kesulitan karena mahasiswa akan menuntut mereka memiliki standar kerja yang sama. Akibatnya, ketika keinginan untuk sempurna semakin tinggi tidak bisa dikendalikan sehingga berubah menjadi obsesi.
Ketika mahasiswa tidak bisa mencapai apa yang diharapkannya (nilai A) maka mahaiswa tersebut merasa tidak puas dan menyalahkan dirinya sendiri karena sudah terobsesi. Maka mahasiswa tersebut akan memperbaiki caranya namun dengan hal yang sama. Berbeda dengan mahasiswa normal, walaupun mereka mempunyai target yang cukup tinggi tetapi mereka sadar akan potensi yang dimilikinya. Hasilnya mereka cukup puas dan mensyukuri atas hasil kerja kerasnya.
Mahasiswa
Perfeksionisme Neurotik
Perfeksionisme Normal
Stimulus dalam mengerjakan tugas
Harapan pencapaian dan tuntutan penerimaan dari
lingkungan tinggi
Harapan pencapaian dan tuntutan penerimaan dari
lingkungan rendah
Evaluasi dan kritik terhadap hasil negatif
Ketidakpuasan terhadap hasil mengerjakan tugas
akademik
Kepuasan terhadap hasil mengerjakan tugas
akademik Evaluasi dan kritik terhadap hasil positif
31 BAB III
METODE PENELITIAN
Bab ini dipaparkan jenis penelitian, tempat dan waktu penelitian, subjek penelitian, teknik dan instumen data, keabsahan data, dan teknik analisis data.
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan metode studi kasus. Bogdan dan Tailor (Moleong, 2007) menjelaskan bahwa penelitian yang menggunakan metode kualitatif menghasilkan data deskriptif, berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Penelitian kualitatif ini bersifat alamiah. Penelitian tidak berusaha memanipulasi keadaan maupun kondisi lingkungan penelitian melainkan melakukan penelitian terhadap suatu keadaan pada situasi dimana keadaan tersebut memang ada. Penelitian ini secara sengaja melihat dan membiarkan kondisi yang diteliti berada dalam keadaan yang sebenarnya.
Metode penelitian adalah studi kasus. Studi kasus merupakan studi yang mendalam tentang individu dan berjangka waktu relatif lama, terus menerus serta menggunakan objek tunggal, artinya kasus dialami oleh satu orang. Dalam kasus ini peneliti mengumpulkan data mengenai diri subjek dari keadaan masa sebelumnya, masa sekarang dan lingkungan sekitarnya.
Kelebihan dari studi kasus adalah kemungkinan untuk melakukan penyeledikan secara mendalam dimana studi kasus berusaha untuk memahami individu atau orang dewasa secara utuh dalam totalitas lingkungan individu tersebut.
Peneliti melakukan studi kasus dengan landasan teori sebagai acuan ketika peneliti akan menggali suatu hal yang berkaitan dengan subjek.
Diharapkan dengan landasan teori yang telah disebutkan pada bab sebelumnya dapat mendasari setiap langkah yang dilakukan oleh peneliti, baik ketika menyusun pedoman wawancara, ketika melakukan wawancara ketika menggali data dari sumber lain yang terkait.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari 2018 dan bulan Febuari 2018 di kos subjek. Kos subjek dipilih sebagai tempat dari penelitian ini dikarenakan kos tersebut nyaman dan aman untuk wawancara serta menjaga asas kerahasiaan dari subjek. Waktu yang digunakan oleh peneliti selama wawancara pada Melati sekitar satu jam dari pukul 16.00-17.00 WIB sedangkan wawancara peneliti dengan Mawar sekitar satu jam dari pukul 20.00-21.00 WIB.
C. Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah Mawar dan Melati (nama samaran). Alasan pemilihan Mawar dan Melati sebagai subjek karena memperlihatkan tanda-tanda seseorang yang perfeksionis dalam mengerjakan tugas, hal ini berhasil dilihat langsung oleh peneliti dari sifatnya yang memiliki standar yang tinggi, keteraturan dalam mengerjakan sesuatu dengan terstruktur, reaktivitas terhadap kesalahan, detail dan memeriksa setiap apa
yang dikerjakan. Sifatnya tersebut muncul ketika Mawar dan Melati sedang mendapatkan tugas dari dosen baik kelompok maupun individu. Mawar dan Melati memiliki standar yang tinggi untuk hasil yang ingin dicapai yaitu mendapatkan nilai A.
Peneliti sebelumnya sudah meminta ijin kepada Mawar dan Melati untuk dijadikan subjek penelitian dan beruntungnya Mawar dan Melati bersedia untuk diajak kerjasama dalam proses penelitian ini. Mawar dan Melati merupakan teman sekelas peneliti, sehingga diharapkan peneliti bisa dan mau terbuka dalam proses penelitian ini sehingga nantinya mendapatkan hasil yang baik.
1. Identitas Subjek Pertama
a. Nama : Mawar (disamarkan)
b. Tempat, tanggal lahir : Madiun, 11 Agustus 1995 c. Jenis Kelamin : Perempuan
d. Agama : Kristen
e. Alamat : Madiun
f. Anak ke (dari) : 1 (tunggal) g. Pendidikan terakhir : SMK
h. Hobi : Membaca dan Menyanyi
i. Cita-cita : Dosen/ Berkarir dalam dunia pendidikan j. Cacat Tubuh : Tidak ada
k. Bahasa Sehari-hari : Bahasa Indonesia l. Motto Hidup : Blessed for Blessing
2. Identitas Subjek Kedua
a. Nama : Melati (disamarkan)
b. Tempat, tanggal lahir : Boawae, 05 Agustus 1997 c. Jenis Kelamin : Perempuan
d. Agama : Katolik
e. Alamat : Nagenai
f. Anak ke (dari) : 1 dari 2 bersaudara g. Pendidikan terakhir : SMA
h. Hobi : Membaca, menari, memasak, menyanyi i. Cita-cita : Konselor Profesional dan Pengusaha j. Cacat Tubuh : Tidak ada
k. Bahasa Sehari-hari : Bahasa Indonesia
l. Motto Hidup : Selalu jadi berkat untuk sesama dan senantiasa percaya kepada Tuhan
D. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data
Menurut Sugiyono (2010) teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data yang ditetapkan. Bila dilihat dari sumber datanya, maka pengumpulan data dapat menggunakan sumber primer, dan sekunder. Sumber primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data, dan
sumber sekunder merupakan sumber yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data, contohnya lewat orang lain atau lewat dokumen.
Dalam penelitian kualitatif, pengumpulan data dilakukan pada kondisi yang alamiah, sumber data primer, dan teknik pengumpulan data lebih banyak pada observasi berperanserta, wawancara yang mendalam, dan dokumentasi. Terdapat empat macam teknik pengumpulan data yaitu: teknik pengumpulan data dengan observasi, teknik pengumpulan data dengan wawancara, teknik pengumpulan data dengan dokumen, triangulasi. Dalam hal ini, peneliti menggunakan tiga macam teknik yaitu:
1. Observasi
Observasi adalah salah satu cara mengumpulkan dengan mengamati perilaku subjek secara langsung. Melalui observasi, peneliti belajar tentang perilaku dan makna dari perilaku tersebut (Sugiyono, 2013). Peneliti melakukan observasi saat pertama datang ke tempat subjek berkumpul dan selama proses penggalian data yang dilakukan bersama subjek.
Penelitian dengan pendekatan kualitatif menggunakan instrumen penelitian berupa pengamatan (observasi), karena observasi merupakan teknik pengumpulan data yang mempunyai ciri yang spesfik dari sifat perfeksionis harus dicermati, sebab sifat perfeksionis akan tampak dalam wujud perilaku. Dalam pengamatan (observasi) yang dilakukan adalah mengamati sifat perfeksionis pada mahasiswa dalam mengerjakan tugas meliputi:
a. Tujuan :
Untuk memperoleh informasi dan data baik mengenai kondisi fisik maupun non fisik dalam pelaksanaan penelitian kualitatif.
b. Aspek yang diamati:
Tabel 3.1 Pedoman Observasi
1) Perilaku mahasiswa ketika sedang mengerjakan tugas di kampus.
No Mawar Melati
1. Subjek mengerjakan ketika waktunya sudah deadline.
Mengerjakan tugas sambil mendengarkan musik.
2. Subjek fokus mengerjakan tugas dengan adanya
referensi (buku dan internet)
Ketika sedang berdiskusi, subjek mengerjakan tugas yang belum diselesaikan.
3. Subjek mengerjakan sambil ngobrol dengan teman.
Ketika subjek mengerjakan tugas, ia jarang memperdulikan
disekitarnya 4. Subjek mengerjakan dengan
terstruktur
Subjek mengerjakan tugas dengan membanding-bandingkan dengan teman yang lain, jika ada yang kurang ditambahi oleh subjek.
2) Ketakutan berlebihan terhadap kesalahan mengerjakan tugas
No Contoh Perilaku
1. Subjek cemas tidak mendapatkan nilai A.
2. Subjek khawatir dengan tugas yang sudah dikumpulkan.
3. Subjek mengecek kembali tugas yang sudah dikerjakan
3) Standar-standar personal yang tinggi terhadap diri
No Contoh Perilaku
1. Subjek membandingkan hasil nilai dirinya dengan teman yang lebih tinggi
2. Subjek selalu mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh demi meraih IPK yang memuaskan
4) Hasrat untuk terus-menerus berusaha agar tidak pernah salah atau gagal.
No Contoh Perilaku
1. Subjek cenderung mengeluh dan tidak puas dalam mencapai tujuan.
2. Subjek lebih teliti dalam mengerjakan tugas untuk meminimalisir kesalahan.
3. Subjek meminta tugas pengganti kepada dosen ketika ia terlambat mengumpulkan tugas.
5) Keraguan tentang kualitas tindakan yang dilakukan.
No Contoh Perilaku
1. Subjek ragu-ragu dengan jawabannya.
2. Subjek terlambat mengumpulkan tugas demi menyempurnakan tugas.
3. Subjek cenderung detil dan memeriksa sedang mengerjakan tugas.
6) Perilaku yang cenderung pada kerapian dan keteraturan.
No Contoh Perilaku
1. Subjek mengerjakan tugas secara terstruktur.
2. Subjek mengerjakan tugas dalam keadaan rapi.
3. Subjek cenderung mengerjakan tugas secara sistematik dan sesuai dengan aturan.
4. Subjek mengurutkan jawaban tugas secara tertata.
7) Proses belajar mengerjakan tugas baik sendiri maupun dengan teman-teman.
8) Suasana/iklim kehidupan sehari-hari baik secara akademik maupun sosial.
9) Interaksi dengan teman di kampus.
No Contoh Perilaku
1. Subjek sering berbeda pendapat dengan temannya.
2. Subjek sering berdiskusi dalam mengerjakan tugas
3. Subjek sering berkomunikasi dengan semua orang atau orang-orang tertentu saja
10) Sarana belajar (buku referensi, laptop, internet, alat tulis, dsb).
2. Wawancara
Wawancara dalam penelitian ini diadakan bebas terpimpin yang menggunakan petunjuk umum wawancara. Dalam hal ini pewawancara terlebih dahulu membuat kerangka dan garis pokok pertanyaan yang telah dirumuskan tidak harus ditanyakan secara berurutan. Penggunaan petunjuk wawancara sebagai garis besar dimaksudkan agar fokus yang telah ditetapkan, sehingga semua fokus dapat terungkap. Dalam mengumpulkan data, peneliti melakukan wawancara langsung dengan narasumber yang diperlukan untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan.
Pada teknik ini, peneliti datang berhadapan muka secara langsung dengan responden atau subjek yang diteliti, kemudian peneliti menanyakan sesuatu yang telah direncanakan dalam pedoman wawancara kepada responden.
Pedoman wawancara ini diadakan bebas terpimpin yang menggunakan petunjuk umum wawancara. Dalam hal ini pewawancara terlebih dahulu membuat kerangka dan garis pokok pertanyaan yang telah dirumuskan tidak harus ditanyakan secara berurutan. Penggunaan petunjuk wawancara sebagai garis besar dimaksudkan agar fokus yang telah ditetapkan, sehingga semua fokus dapat terungkap. Dalam mengumpulkan data, peneliti melakukan wawancara langsung dengan narasumber yang diperlukan untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan.
Pada wawancara ini, peneliti datang berhadapan muka secara langsung dengan responden atau subjek yang diteliti, kemudian peneliti
menanyakan sifat perfeksionis pada mahasiswa dalam mengerjakan tugas yang telah direncanakan dalam pedoman wawancara kepada responden.
a. Pertanyaan penelitian :
Berdasarkan Skala Perfeksionisme Multidimensi Tabel 3.2 Pedoman Wawancara
No Aspek Indikator Pertanyaan
1. Self-Oriented Menetapkan Standar yang amat tinggi terhadap diri.
1. Apa tujuan anda mengerjakan tugas?
2. Apa yang anda pikirkan dan rasakan ketika anda tidak berhasil mencapai tujuan anda?
3. Apa yang dimaksud dengan kesuksesan menurut anda?
4. Menurut anda seberapa penting, jika anda mendapatkan nilai A?
5. Bagaimana usaha anda untuk menjadi yang terbaik dalam mengerjakan tugaas?
Kritik dan pengawasan diri.
6. Hal-hal apa sajakah yang membuat anda merasa ada yang kurang dari pekerjaan yang anda lakukan?
7. Seberapa penting anda melakukan hal terbaik dalam mengerjakan tugas?
9. Menurut anda, apakah anda merasa tidak mempunyai kekurangan ketika mengerjakan tugas?
10. Apakah anda harus bekerja dengan potensi penuh setiap saat?
11. Apakah anda selalu memotivasi diri anda ketika anda mulai kesusahan dalam mengerjakan tugas?
Kecenderungan pada kerapian dan keteraturan yang sangat detail.
12. Apakah anda mengerjakan tugas dengan terstruktur?
13. Apakah anda mengerjakan tugas secara sistematik dan sesuai dengan aturan?
14. Apakah anda dalam mengerjakan tugas selalu tertata rapi?
2. Other-Oriented Kecenderungan individu menuntut agar orang lain memenuhi standar-standar yang amat tinggi.
15. Apakah anda berharap lebih terhadap teman-teman anda?
16. Jika anda meminta seseorang untuk melakukan sesuatu, apa yang anda harapkan dari seorang tersebut?
17. Seberapa sering anda mengkritik teman anda dalam mengerjakan tugas?
18. Apakah anda tidak tahan melihat orang lain membuat kesalahan?
19. Apakah anda memiliki harapan
19. Apakah anda memiliki harapan