BAB IV HASIL PENELITIAN
B. Pelaksanaan Intervensi dan Hasil Penelitian
Dari observasi dan wawancara yang dilakukan peneliti terhadap kedua subjek diperoleh hasil yang berkaitan dengan pribadi perfeksionisme dalam mengerjakan tugas akademik.
1. Gambaran perfeksionis pada mahasiswa dalam mengerjakan tugas akademik.
a. Mawar
Mawar merupakan anak perempuan tunggal yang mempunyai hobi membaca dan menyanyi. Mawar lulusan dari SMK yang mempunyai cita-cita sebagai dosen atau berkarir di dunia pendidikan. Ekonomi keluarga Mawar tergolong menengah, hal itu membuat Mawar berhenti satu tahun setelah lulus SMK untuk
bekerja demi membantu perekonomian orangtua dan sambil mencari beasiswa untuk melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi. Setelah mendapatkan beasiswa penuh untuk masuk program studi Bimbingan dan Konseling di Universitas Sanata Dharma, Mawar dituntut oleh orangtuannya untuk selalu berhasil mencapai prestasi.
Oleh karena itu, tuntutan orangtua mengharapkan nilai yang maksimal (A) dalam mengerjakan tugas.
Dalam proses perkuliahan, Mawar termasuk mahasiswa yang selalu fokus saat proses pembelajaran berlangsung. Bagi Mawar sembilan puluh persen harus memperhatikan dosen karena Mawar cenderung menggunakan gaya belajar mendengarkan (auditory) dan selalu mencatat penjelasan dari dosen. Hal ini terbukti ketika proses belajar berlangsung handphone miliknya selalu di matikan karena dapat mengganggu dirinya untuk konsentrasi. Usaha-usaha tersebut bertujuan untuk mencapai nilai yang maksimal (A) dan dapat membanggakan kedua orangtua. Namun disisi lain Mawar juga merasa kecewa dan tertekan ketika tidak berhasil mencapai tujuan.
Dalam mengerjakan tugas, Mawar mempunyai target sendiri kapan dia mengerjakan tugas tetapi sering kelewat batas dari target yang ditetapkan. Mawar juga sering mencemaskan isi atau konten yang dikerjakan orang lain (merasa tidak puas).
b. Melati
Melati adalah anak pertama dari dua bersaudara, Melati mempunyai hobi membaca, menari, memasak, dan menyanyi. Cita-cita Melati adalah menjadi seorang konselor profesional dan sekaligus pengusaha. Melati memiliki target yang tinggi karena menurut Melati memiliki kualitas diri untuk mampu mencapai tujuan yang diinginkan. Melati selalu memiliki pola pikir sendiri yang menuntut dirinya sendiri untuk mengerjakan tugas dengan usaha terbaik karena ingin membuktikan bahwa Melati mampu dan membuat bangga orangtua.
Melati sering mendengarkan musik sambil mengerjakan tugas. Dalam proses mengerjakan tugas Melati cenderung menunda-nunda hingga deadline. Terkadang ketika kerja kelompok Melati memprioritaskan mengerjakan tugasnya terlebih dahulu karena dalam waktu dekat akan dikumpulkan.
2. Aspek perfeksionis yang dominan pada 2 mahasiswa yang menjadi subjek penelitian.
Kedua subjek memiliki jenis perfeksionis yang berbeda dalam mengerjakan tugas. Hasil data yang didapatkan oleh peneliti terhadap Mawar bahwa subjek merupakan pribadi perfeksionis socially prescribed yang mengarah ke perfeksionis yang menyimpang. Hal tersebut dikarenakan subjek dituntut oleh orangtuanya untuk bisa mendapatkan nilai yang maksimal. Oleh karena itu, Mawar merasa tertekan dengan
tuntutan orangtua yang mengharapkan nilai yang maksimal (A) dalam mengerjakan tugas. Dalam hal ini Mawar mengungkapkan:
Mawar: “Iya sangat, mama biasanya “hah IPmu segitu? Kok turun”
oh my god, terutama papaku sih, papaku tuh orangnya menuntut banget nilai. Jadi itulah kenapa aku jadi kayak ambisius, yang harus gini-gini, orangtuaku juga nuntut. Apalagi aku anak tunggal, ya cuman aku yang bisa diharapkan, biasanya kayak kemaren “loh kemaren 4, kok sekarang jadi 3,8” ya gitu-gitulah. Sebenernya kalo marah tuh enggak cuman kalimat-kalimatnya itu membuatku untuk ya gak boleh aku dapet nilai segitu, kek pernah papaku ngomong tpi aku lupa kalimatnya yang intinya “loh anak e papa kan pinter Ipnya tuh 4” jadi membuat seolah-olah gak boleh nilai turun. Marahin bentak-bentak itu enggak cuman ya itu tadi mengucapkan kalimat-kalimat harapan dan menuntuk untuk aku bisa yang kayak gini dan gak boleh kayak gitu. Kalo papaku sering banding-bandingin aku sama si A si B padahal papaku gak tau juga nilainya berapa, kalo mamaku lebih mendetail biasanya “kenapa toh nilaimu bisa turun? Kebanyakan rapat yo? Kecapekan? Mana yang lebih jadi prioritasmu gitu-gitu.”
Untuk alasan apa Mawar ingin selalu nilai yang unggul, dalam hal ini subjek mengungkapkan sebagai berikut:
Mawar: “Ya itu tadi sama kayak itu. “Yo kan kamu dulu bisa to ngerjain kayak gini kok sekarang gak bisa?”. Kalo papaku sih ya itu tadi “anak e papa itu pinter toh? Lhaiya kamu pasti bisa”. Intinya kalimatnya diulang-ulang kurang lebih kayak gitu. Aku tau papaku nuntut kayak gitu alesannya kenapa? Misalkan aku kan dapet beasiswa aku tahu kebutuhanku maksudte itu segagai dasar kenapa aku harus unggul. Tapi kalo mamaku ingetin “kamu kan dapet beasiswa kan? Kamu harus tau prioritasmu apa?” diingetin juga masa perjuanganku biar daper beasiswa untuk terus bertahan. Ohiya gini juga “kamu kan dari keluarga yang sederhana ya? Jadi bawa nama baik keluarga. Kamu juga harus bisa kayak yang lain-lain.”
Sedangkan hasil data yang didapatkan oleh peneliti terhadap Melati bahwa subjek merupakan pribadi perfeksionis self-oriented yang mengarah ke perfeksionis menyimpang. hal tersebut dikarenakan Melati mempunyai standar yang tinggi dalam tujuannya sehingga Melati menekan dirinya sendiri harus bisa mencapainya. Jika Melati gagal
mencapai tujuannya maka Melati akan merasa terpukul. Hal ini dapat dilihat kutipan hasil wawancara dengan subjek Melati.
Untuk tujuan apa Melati mengerjakan tugas, dalam hal ini subjek mengungkapkan sebagai berikut:
Melati: “Tujuan saya adalah saya ingin.. yang pertama menyelesaikan tugas yang di berikan dosen, tapi lebih dari itu saya mengerjakan tugas karena saya ingin memberikan yang terbaik, saya ingin orang tau kualitas saya seperti ini dilihat dari tugas saya. Saya ingin tugas saya itu berkualitas baik dan orang yang melihat itu akan paham, mengerti, memuji “oh ternyata dia bisa berpikir seperti ini”
kayak gitu sih.”
Melati memikirkan dan merasakan ketika tidak mencapai tujuan yang diharapkan, dalam hal ini subjek mengungkapkan sebagai berikut:
Melati: “Pertama sedih iya pasti, kayak ngerasa minder apalagi ngeliat temen ada yang berhasil. Itu mungkin kalo dari 100%
perasaanku ada di 10% lebih dari itu saya sadar, saya harus belajar karena saya seperti ini karena salah saya sendiri. Lebih melihat kesitu yaa sebagai pelajaran “lain kali jangan lagi seperti itu”.
Menyalahkan diri sendiri juga ada sih pas pada hari itu tapi esok harinya terus lupa karena kan itu salah saya sendiri.”
3. Dampak perfeksionis yang dialami mahasiswa dalam mengerjakan tugas akademik.
Dampak yang sering dialami oleh Mawar antara lain merasa kecewa dan tertekan ketika tidak berhasil mencapai tujuan, sering menunda-nunda mengerjakan tugas, mencemaskan isi atau konten yang dikerjakan orang lain (tidak puas). Setelah merasa gagal, Mawar merefleksikan diri untuk melihat kembali dimana letak kesalahan yang dilakukannya. Hal tersebut terbukti dengan kutipan hasil wawancara pada Mawar sebagai berikut:
Mawar: “Wah kalo aku sih rasanya sedih, kecewa, terus tertekan juga. Nah pas sedih itu aku pasti merefleksikan diriku, dimana yang kurang apa yang belum? Dari situ aku mesti menuntut diri untuk lebih baik lagi.”
Hal-hal yang membuat Mawar merasa ada yang kurang dari pekerjaan dilakukan, dalam hal ini subjek mengungkapkan sebagai berikut:
Mawar: “Kalo aku tipikal orangnya sebernernya bertarget gitukan aku bakal ngerjainnya hari ini selesainya segini gitu kan? Tapi kadangnya meleset gitulah manusia hahaha, kelewat dari target.
Kadang kayaknya molor gitu, misal masih ada dua hari lagi kok.
Akhirnya gitu deh. Kadang baru mulai sedikit terus ada yang lebih diperioritaskan lagi jadi ditunda. Jadi meleset gak tepat deadlinenya.”
Dampak yang dialami Mawar tidak hanya dari orientasi diri saja (internal) namun juga berorientasi pada orang lain (eksternal). Seperti dalam kerja kelompok, Mawar selalu merasa ada yang kurang dalam pekerjaan salah satu anggota kelompok. Hal tersebut terbukti dari ungkapan wawancara Mawar sebagai berikut:
Mawar: “Iya, biasanya gak sempurna. Bukan gak sempurna lebih tepatnya kek gini. Biasanya sebenernya dia bisa ngerjain lebih, tapi dikerjainnya yaudahlah 1 paragraf aja cukup ngapain sih banyak-banyak kek curhat. Kayak dia tuh sebenernya dong, maksudte masih banyak yang dia bisa gali dan aku ngerti dia bisa lebih ngerjain daripada itu tapi gak maksimal. Lebih ke isi sih konten kurang maksimal gak lengkap.”
Sedangkan dampak yang dialami oleh Melati antara lain sering merasa sedih dan minder melihat orang lain berhasil, masih sering terlambat dalam mengumpulkan tugas karena mengerjakan tugas saat deadline, selalu merasa ada yang kurang terhadap tugas yang dikerjakan teman. Ungkapan tersebut terdapat pada hasil wawancara. Kutipan hasil wawancara pada Melati sebagai berikut:
Melati: “Pertama sedih iya pasti, kayak ngerasa minder apalagi ngeliat temen ada yang berhasil. Itu mungkin kalo dari 100%
perasaanku ada di 10% lebih dari itu saya sadar, saya harus belajar karena saya seperti ini karena salah saya sendiri. Lebih melihat kesitu yaa sebagai pelajaran “lain kali jangan lagi seperti itu”.
Menyalahkan diri sendiri juga ada sih pas pada hari itu tapi esok harinya terus lupa karena kan itu salah saya sendiri.”
Hal-hal yang membuat Melati merasa ada yang kurang dari pekerjaan yang dilakukan, dalam hal ini subjek mengungkapkan sebagai berikut:
Melati: “Yang merasa kurang itu karena deadline, mengerjakan ya saat itu mau dikumpulkan kalo misalnya beberapa jam sebelum dikumpulkan maksudnya saya mengukur dulu tingkat kesulitannya dimana atau sehari sebelum itu. Makanya saya masih merasa kurang yaitu saya kan kerjanya deadline kayak gini, khawatirnya nanti bener atau enggak ya itu karna deadline sih. Karena aku tipe deadline.”
Dampak lain yang dialami Melati dalam memandang pekerjaan orang lain ketika sedang kerja kelompok adalah merasa kurang sempurna dalam mengerjakan tugas. Hal tersebut terbukti dalam ungkapan wawancara Melati sebagai berikut:
Melati: “Iya ketika saya diminta untuk mengecek kembali tugas teman yang belum dikumpulkan nah disitu saya sering minta untuk diperbaiki kalo ada yang salah.”
4. Faktor-faktor yang menyebabkan mahasiswa perfeksionis dalam mengerjakan tugas akademik.
Mawar menunjukkan faktor-faktor yang menyebabkan mahasiswa perfeksionis dalam mengerjakan tugas. Salah satu faktor penyebab pembentukan kepribadian perfeksionis yang paling mendasar adalah pola asuh dari lingkungan keluarga. Sesuai dengan pendapat Stoeber dan Roche (2012) yang mengatakan dalam lingkungan keluarga, individu
berkembang dengan pola asuh orangtua yang membentuk sebuah kebiasaan. Untuk membentuk sebuah kebiasaan individu cenderung meniru mengasuh mereka. Hal ini dapat ditemukan kutipan wawancara berikut:
Mawar: “Iya sangat, mama biasanya “hah IPmu segitu? Kok turun”
oh my god, terutama papaku sih, papaku tuh orangnya menuntut banget nilai. Jadi itulah kenapa aku jadi kayak ambisius, yang harus gini-gini, orangtuaku juga nuntut. Apalagi aku anak tunggal, ya cuman aku yang bisa diharapkan, biasanya kayak kemaren “loh kemaren 4, kok sekarang jadi 3,8” ya gitu-gitulah. Sebenernya kalo marah tuh enggak cuman kalimat-kalimatnya itu membuatku untuk ya gak boleh aku dapet nilai segitu, kek pernah papaku ngomong tpi aku lupa kalimatnya yang intinya “loh anak e papa kan pinter Ipnya tuh 4” jadi membuat seolah-olah gak boleh nilai turun. Marahin bentak-bentak itu enggak cuman ya itu tadi mengucapkan kalimat-kalimat harapan dan menuntuk untuk aku bisa yang kayak gini dan gak boleh kayak gitu. Kalo papaku sering banding-bandingin aku sama si A si B padahal papaku gak tau juga nilainya berapa, kalo mamaku lebih mendetail biasanya “kenapa toh nilaimu bisa turun? Kebanyakan rapat yo? Kecapekan? Mana yang lebih jadi prioritasmu gitu-gitu.”
Orangtua Mawar mengharapkan mawar untuk unggul dalam semua mata kuliah, dalam hal ini subjek mengungkapkan sebagai berikut:
Mawar: “Iya mereka selalu mengharapkan unggul dalam semua mata kuliah, karena hal itu menjadi dasar agar saya tetap mendapatkan beasiswa untuk terus kuliah dan membawa nama baik orangtua.”
Menurut pendapat orangtua Mawar jika Mawar gagal mendapatkakn hasil yang maksimal, dalam hal ini subjek mengungkapkan sebagai berikut:
Mawar: “Itu tadi sih, kurang lebih sama. intinya gak boleh turunlah minimal sama kayak yang kemaren. Kalo turun pasti ditanya yaa ujung-ujungnya kayak gitu lagi. Gitu sih.”
Berbeda dengan Melati, orangtua Melati tidak menuntut Melati untuk mendapatkan nilai yang sempurna atau unggul dalam semua mata kuliah namun Melati sendiri yang menetapkan bahwa dirinya harus
sempurna. Melati mempunyai tolak ukur sendiri bagaimana dirinya bisa mengerjakan tugas dengan baik. Hal ini dapat ditemukan kutipan wawancara berikut:
Melati: “Kalo dari keluarga sih tidak tapi orangtua cuman menginginkan yang terbaik saja dan yang penting saya dapat memahami dan mengerti materi yang dipelajari.”
Orangtua Melati mengharapkan Melati untuk unggul dalam semua mata kuliah, dalam hal ini subjek mengungkapkan sebagai berikut:
Melati: “Tidak, karena orangtua saya bukan tipe yang menuntut anaknya untuk harus ini-itu mereka cukup yang terbaik buat saya. Ya saya tau mana yang terbaik buat saya.”
Menurut pendapat orangtua Melati jika Melati gagal mendapatkakn hasil yang maksimal, dalam hal ini subjek mengungkapkan sebagai berikut:
Melati: “Biasanya Orangtua saya cuman memaklumi dalam arti tidak menjatuhkan saya kalo saya gagal dapat nilai A misalnya. Terus biasanya motivasi saya untuk bisa lebih baik lagi.”