• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

1.1. Latar Belakang Masalah

Persaingan bisnis yang ketat antarperusahaan dalam kondisi perekonomian saat ini mendorong berbagai perusahaanuntuk mencapai tujuan dari perusahaan yang didirikan. Menurut Martono dan Harjito (2005: 1), ada beberapa hal yang mengemukakan tentang tujuan pendirian suatu perusahaan.Tujuan pertama adalah untuk mencapai keuntungan laba maksimal, kedua untuk memakmurkan pemilik perusahaan atau para pemilik saham dan yang ketiga adalah memaksimalkan nilai perusahaan yang tercermin pada harga sahamnya.

Meningkatnya nilai perusahaan dapat menarik minat investor untuk menanamkan modalnya.Nilai perusahaan diyakini tidak hanya mencerminkan kinerja perusahaan saat ini tetapi juga menggambarkan prospek perusahaan di masa yang akan datang.Penilaian investor terhadap perusahaan dapat diamati melalui pergerakan harga saham perusahaan yang ditransaksikan di bursa. Investor akan bersedia membayar saham perusahaan dengan harga tinggi terhadap perusahaan yang dinilai tinggi. Nilai perusahaan dapat diukur dengan Price to Book Value (PBV)yang merupakan perbandingan harga pasar saham per lembar dengan nilai buku saham per lembar (Warsono, 2003: 39) selain itu nilai perusahaan dapat dihitung dengan perhitungan Tobin’s Q

dimana pehitungan ini membandingkan nilai pasar suatu perusahaan yang terdaftar di pasar keuangan dengan nilai penggntian asset perusahaan(Mahitin, 2011).Besarnya hasil perhitungan harga pasar saham terhadap nilai bukunya menunjukkan perbandingan antara kinerja saham perusahaan di pasar saham dengan nilai bukunya.Semakin tinggi PBV yang dihasilkan menunjukkan bahwa kinerja perusahaan di masa mendatang dinilai semakin prospektif oleh investornya.

Dalam proses memaksimalkan nilai perusahaan akan muncul konflik kepentingan antara manajer dan pemegang saham yang sering disebut agency problem. Tidak jarang pihak manajemen yaitu manajer perusahaan mempunyai tujuan dan kepentingan lain yang bertentangan dengan tujuan utama perusahaan dan sering mengabaikan kepentingan pemegang saham. Perbedaan kepentingan antara manajer dan pemegang saham ini mengakibatkan timbulnya konflik yang biasa disebut agency conflict, hal tersebut terjadi karena manajer mengutamakan kepentingan pribadi, sebaliknya pemegang saham tidak menyukai kepentingan pribadi dari manajer karena apa yang dilakukan manajer tersebut akan menambah biaya bagi perusahaan sehingga menyebabkan penurunan keuntungan perusahaan dan berpengaruh terhadap harga saham sehingga menurunkan nilai perusahaan (Jensen dan Meckling, 1976:44). Misalnya dalam kasus skandal pelaporan akuntansi yang secara luas diketahui, antara lain Enron, Merck, World Com dan mayoritas perusahaan lain di Amerika Serikat.

Beberapa kasus yang terjadi di Indonesia, seperti PT. Lippo Tbk dan PT. Kimia Farma Tbk juga melibatkan pelaporan keuangan (financial reporting) yang berawal dari terdeteksi adanya manipulasi. Kasus PT Lippo Tbk yaitu laporan keuangan per 30 September 2002 yang disampaikan ke publik pada 28 November 2002 disebutkan total aktiva perseroan Rp. 24 triliun dan laba bersih Rp. 98 miliar. Sedangkan dalam laporan ke BEJ pada 27 Desember 2002 total aktiva perusahaan berubah menjadi Rp. 22,8 triliun rupiah (turun Rp. 1,2 triliun) dan perusahaan merugi bersih Rp. 1,3 triliun. Manajemen beralasan perbedaan itu terjadi karena ada penurunan aset yang diambil alih atau foreclosed asset dari Rp. 2,393 triliun menjadi Rp. 1,420 triliun. Akibatnya pada keseluruhan neraca terjadi penurunan tingkat kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) dari 24,77 menjadi 4,23%. Namun beberapa pihak menduga perbedaan laporan keuangan terjadi karena ada manipulasi yang dilakukan manajemen.

PT Kimia Farma merupakan salah satu perusahaan Manufaktur di Indonesia.PT Kimia Farma Tbk tahun 2001 diduga melakukan mark up laba bersih dalam laporan keuangan tahun 2001.Dalam laporan tersebut Kimia Farma menghasilkan laba sebesar Rp 132 miliar.Setelah diperiksa kembali Kimia Farma hanya memperoleh laba sebesar Rp 99 miliar.Kesalahan penyajian berkaitan dengan persediaan dan penjualan.Kesalahan penyajian yang berkaitan dengan persediaan timbul karena nilai yang ada dalam daftar harga persediaan digelembungkan.Sedangkan kesalahan penyajian berkaitan

dengan penjualan adalah dengan dilakukannya pencatatan ganda atas penjualan. Pencatatan ganda tersebut dilakukan pada unit-unit yang tidak disampling oleh akuntan, sehingga tidak berhasil dideteksi.. Dalam kasus tersebut terjadipelanggaran terhadap prinsip pengungkapan yang akurat

(accuratedisclosure) dan transparansi (transparency) yang jelas sangat merugikan para investor karena keuntungan yang overstated ini tentu telah dijadikan dasar transaksi oleh para investor, namun ketika kesalahan diumumkan, harga saham akan turun, dan investor dirugikan (Tjager dkk, 2003:55).

Tidak ada pilihan lain bahwa korporasi-korporasi di Indonesia baik perusahaan-perusahaan publik maupun perusahaan-perusahaan terbuka di pasar modal harus melihat corporate governancebukan sebagai aksesoris belaka, tetapi suatu sistem nilai dan best practicesyang sangat fundamental bagi peningkatan nilai perusahaan dan menuntut pendekatan holistik dalam penerapannya. Kasus PT Kimia Farma, Tbk tersebut menjadi salah satu bukti masih kurangnya kesadaran perusahaan untuk menerapkan sistem corporate governanceyang baik di Indonesia, khususnya sektor manufaktur. Manufaktur merupakan sektor terbesar dari seluruh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sehingga penelitian ini menggunakan sampel perusahaan manufaktur. Selain merupakan sektor terbesar, perusahaan manufaktur juga berbeda dengan jenis perusahaan lain khususnya dalam aktivitas operasional perusahaan. Pada perusahaan manufaktur terdapat aktivitas produksi sehingga

dibutuhkan modal yang besar untuk proses produksinya. Oleh karena itu perusahaan ini membutuhkan dana dari investor yang lebih melalui pasar modal. Dana dari investor tersebut harus dikelola dengan baik agar aktivitas operasional perusahaan berjalan lancar dan dapat meningkatkan nilai perusahaan yang tercermin dari harga sahamnya.

Kebijakan dividen bagian yang tidak dipisahkan dengan keputusan pendanaan. Kebijakan ini bermula dari bagaimana perlakuan manajemen terhadap keuntungan yang diperoleh perusahaan yang pada umumnya sebagian dari penghasilan bersih setelah pajak dibagikan kepada para investor dalam bentuk dividen dan sebagian lagi diinvestasikan kembali ke perusahaan dalam bentuk laba ditahan. Laba ditahan merupakan salah satu dari sumber dana yang paling penting untuk membiayai pertumbuhan perusahaan, sedangkan dividen merupakan aliran kas yang dibayarkan kepada para investor. Perusahaan selalu menginginkan adanya pertumbuhan bagi perusahaannya tetapi di lain pihak juga membayarkan dividen kepada para investor yang mana kedua tujuan tersebut selalu bertentangan.

Kebijakan dividen tiap-tiap perusahaan tidak sama. Ada pilihan yang dihadapi manajer keuangan ketika memutuskan untuk mendistribusikan sejumlah kas kepada pemegang saham. Kebijakan dividen dapat dihubungkan dengan nilai perusahaan. Nilai perusahaan dapat dilihat dari kemampuan perusahaan membayar dividen. Besarnya dividen ini dapat mempengaruhi harga saham. Apabila dividen yang dibayar besar, maka harga saham

cenderung tinggi sehingga nilai perusahaan juga tinggi. Sebaliknya jika dividen yang dibayarkan kecil maka harga saham perusahaan tersebut juga rendah, sehingga nilai perusahaan rendah. Kemampuan membayar dividen erat hubungannya dengan kemampuan perusahaan memperoleh laba. Jika perusahaan memperoleh laba yang besar, maka kemampuan membayar dividen juga besar. Oleh karena itu, dengan dividen yang besar akan meningkatkan nilai perusahaan (Martono dan Harjito, 2005:3).

Kemakmuran pemegang saham akan meningkat apabila harga saham yang dimilikinya meningkat. Semakin tinggi harga saham perusahaan maka nilai perusahaan tersebut juga semakin tinggi.Untuk mencapai nilai perusahaan yang tinggi, maka pengelolaan perusahaan biasanya diserahkan kepada manajer profesional. Perusahaan yang go public dikelola dengan memisahkan antara fungsi kepemilikan dengan fungsi pengelolaan atau manajerial. Adanya pemisahaan tersebut, pemilik perusahaan akan memberikan kewenangan pada pengelola (manajer) untuk mengurus jalannya perusahaan seperti mengelola dana yang menyangkut keputusan pembelanjaan dan mengambil keputusan perusahaan lainnya menyangkut keputusan dividen untuk dan atas nama pemilik.

Pertumbuhan perusahaan menurut Smithdan Watts(1992) dapat diproksikan dengan berbagai macam kombinasi nilai set kesempatan investasi. Set kesempatan investasiperusahaan merupakan komponen penting dari nilai pasar. Hal ini disebabkan set kesempatan investasi atau investment

opportunity set(IOS) dari suatu perusahaan mempengaruhi cara pandang manajer, pemilik, investor, dan kreditor terhadap perusahaan.IOS sendiri merupakan keputusan investasi yang melakukan kombinasi antara aktiva yang dimiliki (assets in place) denganpilihan atau opsi investasi dimasa yang akan datang, dimana pada akhirnya hal tersebut akan mempengaruhi nilai perusahaan.

Likuiditas merupakan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengan menggunakan aktiva lancar yang dimilikinya. Rasio likuiditas yang digunakan dalam penelitian ini adalah rasio lancar

(current ratio). Perusahaan yang mempunyai tingkat likuiditas yang tinggi mengindikasikan kesempatan bertumbuh perusahaan cenderung tinggi. Semakin likuid perusahaan, maka semakin tinggi tingkat kepercayaan kreditur dan investor dalam menginvestasikan dananya.

Solvabilitas mengungkapkan mengenai stuktur modal perusahaan termasuk sumber dana jangka panjang dan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban investasi dan utang jangka panjangnya. Untuk mengukurnya digunakan Debt to Equity Ratio (DER). Rasio ini menunjukkan faktor resiko yang dihadapi investor. Semakin tinggi rasio ini, akan mengakibatkan risiko finansial perusahaan semakin tinggi. Hal ini dapat mempengaruhi harga dan volume saham suatu perusahaan.

Suatu perusahaan untuk dapat melangsungkan aktivitas operasinya, haruslah berada dalam keadaan yang menguntungkan (profitable). Laba

diperoleh perusahaan berasal dari penjualan dan keputusan investasi yang dilakukan perusahaan. Keuntungan yang layak dibagikan kepada pemegang saham adalah keuntungan setelah bunga dan pajak. Tanpa adanya keuntungan akan sulit bagi perusahaan untuk menarik modal dari luar. Perusahaan yang memiliki tingkat profitabilitas yang tinggi akan diminati sahamnya oleh investor, dengan demikian profitabilitas dapat mempengaruhi nilai perusahaan.

Hasil penelitian terdahulu telah menemukan beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi nilai perusahaan, Naceur dan Goaied(2002) meneliti tentang hubungan antara kebijakan dividen, struktur keuangan, profitabilitas dan nilai perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan dividen, struktur keuangan, profitabilitas berpengaruh terhadap nilai perusahaan.Sujoko dan Soebiantoro (2007) meneliti tentang pengaruh struktur kepemilikan saham,

leverage, faktor intern, dan faktor ekstern terhadap nilai perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemilikan manajerial tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Kepemilikan institusional, tingkat suku bunga, leverage berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan. Keadaan pasar modal, pertumbuhan pasar, profitabilitas, pembayaran dividen, ukuran perusahaan, pangsa pasar relatif berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.

Mahendra (2011) meneliti pengaruh kinerja keuangan terhadap nilai perusahaan kebijakan dividen sebagai variabel moderating pada perusahaan

manufaktur di BEI. Hasil penelitian menunjukkan variabel likuiditas, profitabilitas berpengaruh positif signifikan terhadap nilai perusahaan,

leverage berpengaruh negatif signifikan terhadap nilai perusahaan, sedangkan kebijakan dividen tidak mampu secara signifikan memoderasi pengeruh likuiditas, leverage, profitabilitas terhadap nilai perusahaan. Rizqia, et al. (2013) melakukan penelitian tentang pengaruh kepemilikan manajerial,

leverage, profitabilitas, ukuran perusahaan, dan investment opportunity set

terhadap kebijakan dividen dan nilai perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan variabel kepemilikan manajerial, leverage, profitabilitas, ukuran perusahaan, investment opportunity set, kebijakan dividen berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Variabel kepemilikan manajerial, investment opportunity set berpengaruh negatif terhadap kebijakan dividen, sedangkan leverage, profitabilitas, ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap kebijakan dividen.

Senda (2013) meneliti tentang kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, kebijakan dividen, profitabilitas, leverage financial, dan

investment opportunity set terhadap nilai perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional,

investment opportunity set tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Kebijakan dividen, profitabilitas, leverage financial berpengaruh terhadap nilai perusahaan.Anzlina (2013) meneliti tentang pengaruh likuiditas, solvabilitas, aktivitas, profitabilitas terhadap nilai perusahaan pada

perusahaan real estate dan property di BEI tahun 2006-2008. Hasil penelitian menunjukkan bahwa likuiditas berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan, sedangkan solvabilitas, aktivitas, profitabilitas tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan.

Astriani (2014) meneliti pengaruh kepemilikan manajerial, leverage, profitabilitas, ukuran perusahaan, dan investment opportunity set terhadap nilai perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemilikan manajerial, leverage, profitabilitas, investment opportunity set berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan, sedangkan ukuran perusahaan berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan. Siboni dan Pourali (2015) meneliti tentang hubungan antara investment opportunity, kebijakan dividen, dan nilai perusahaan pada perusahaan yang terdaftar di TSE: Bukti empiris dari Iran. Hasil penelitian menunjukkan bahwainvestment opportunity dan kebijakan dividen berpengaruh positif dan langsung terhadap nilai perusahaan.

Investment opportunity, kebijakan dividen, dan nilai perusahaanmemiliki hubungan yang signifikan.

Beberapa penelitian yang telah dilakukan sebelumnya terdapat inkonsistensi hasil penelitian. Penelitian yang dilakukan Rizqia, et al. (2013) dan Astriani (2014) menunjukkan bahwa variabel kepemilikan manajerial berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Sedangkan hasil penelitian Sujoko dan Soebiantoro (2007), Senda (2013) menunjukkan bahwa kepemilikan manajerial tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai

perusahaan. Perbedaan hasil penelitian juga terdapat dalam penelitian Senda (2013) yang menyatakan bahwa investment opportunity set tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Hasil penelitian tersebut bertentangan dengan penelitian yang dilakukan Rizqia, et al. (2013), Astriani (2014), dan Siboni dan Pourali (2015) yang menyatakan bahwa variabel investment opportunity set berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Anzlina (2013) dalam penelitiannya menghubungkan variabel profitabilitas terhadap nilai perusahaan dan hasil penelitiannya menyatakan bahwa profitabilitas tidak bepengaruh terhadap nilai perusahaan, sebaliknya penelitian yang dilakukan Naceur dan Goaied (2002), Sujoko dan Soebiantoro (2007), Mehendra (2011), Senda (2013), Rizqia et al. (2013), serta Afriani (2014) menyatakan bahwa variabel profitabilitas bepengaruh positif terhadap nilai perusahaan.

Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian Azlina (2013) yang berjudul “Pengaruh Likuiditas, Solvabilitas, Aktivitas, Profitabilitas Terhadap Nilai Perusahaan Pada Perusahaan Real Estate dan Property di BEI tahun 2006-2008”. Perbedaan penelitian ini dan penelitian sebelumnya yaitu peneliti menambah beberapa variabel independen yaitu Kepemilikan Manjerial, Kebijakan Deviden dan Investment Opportunity Set. Alasan peneliti menambhakan variabel tersebut adalah untuk membuktikan apakah variabel tersebut berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Perbedaan lain yaitu peneliti menggunakan laporan tahunan perusahaan manufaktur periode

2012-2014. Data yang digunakan adalah data sekunder yaitu melalui website

Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul, “Pengaruh Kepemilikan Manajerial, Investment Opportunity Set, Kebijakan Deviden, Likuiditas, Solvabilitas dan Profitabilitas Terhadap nilai Perusahaan Pada Perusahaan Manufaktur Yang terdaftar di BEI.”

Dokumen terkait