LATAR BELAKANG MUNCULNYA TRANSMIGRASI DI KUTA KENDIT KECAMATAN MARDINGDING KABUPATEN KARO TAHUN 1981-2010
3.1 Terbentuknya PKMT(Proyek Pemukiman Masyarakat Terasing) Kuta Kendit
Transmigrasi pada dasarnnya merupakan pembangunan wilayah dalam rangka peningkatan taraf hidup serta pemanfaatan sumber daya alam dan manusia dalam menciptakan kesatuan dan persatuan bangsa melalui program terpadu dan lintas sektoral. Menurut undang- undang nomor 3 tahun 1972 tentang ketentuan-ketentuan pokok transmigrasi, yang dimaksud transmigrasi adalah pemindahan atau kepindahan penduduk dari satu daerah untuk menetap kedaerah lain yang ditetapkan dalam wilayah republik Indonesia guna kepentingan pembangunan
Negara atau atas alasan-alasan yang dipandang perlu oleh pemerintah berdasarkan ketentuan-ketentuan yang diatur oleh undang-undang29
29
Ibid hal 32
. Dalam perkembangannya semenjak masih bernama kolonialisme di zaman pemerintahan Hindia Belanda, zaman kemerdekaan dan tahap-tahap awal repelita kebijakan transmigrasi lebih bersifat demografi sentris. Indonesia adalah Negara yang subur dan memliki banyak kekayaan yang melimpah. potensi keanekaragaman hayati tersebut merupakan salah satu yang terbesar di dunia setelah Zaire dan Brazil. Kekayaan sumber daya alam ini adalah anugerah dari sang pencipta yang harus bisa dimanfaatkan seefesien mungkin untuk besar-besarnnya kemakmuran rakyat. Untuk dapat memanfaatkan kekayaan alam yang melimpah tersebut, pasti diperlukan sumber daya manusia yang bisa melestarikannya. Pola transmigrasi sebenarnnya sudah cukup lama di kenal oleh bangsa Indonesia. Menurut sejarah, program transmigrasi awalnnya di selenggarakan oleh pemerintah kolonial Belanda pada masa penjajahan dengan nama kolonialisasi pertanian. Pada
masa itu secara tidak langsung pemerintahan kolonial Belanda telah menerapkan pola transmigrasi dengan membawa banyak orang pribumi untuk melakukan ekspansi ke pulau-pulau yang memiliki potensi sumber daya alam yang besar seperti sumatera dan Kalimantan. Orang- orang pribumi tersebut pada awalnnya pekerja sebagai petani di daerah asalnnya, atau tukang pembantu untuk menjagakan kebun karet merawat dan membersihkan pada sejarahnnya orang pribumi tersebut awalnnya di perkerjakan sebagai pembantu dan nelayan. Penyelenggaraan transmigrasi menurut undang-undang Nomor 15 tahun 1997 tentang ke transmigrasian bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan transmigran dan masyarakat sekitarnnya, serta meningkatkan dan melakukan pemerataan pembangunan di daerah dan juga memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa. .
Kebijakan mengenai ke transmigrasi diatas, jelas bahwa transmigrasi adalah suatu program yang sangat bijak dalam mengatasi masalah kependudukan apalagi dalam mengatasi masalah perekonomian. Tujuan utama transmigrasi sesuai dengan pengertiannya ada dalam rangka penyebaran penduduk yang merata di seluruh wilayah Indonesia, selain itu, tujuan lain dari transmigrasi sesuai dengan konteks kehidupan bangsa Indonesia saat ini adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat mengurangi pengangguran dengan menciptakan lapangan kerja baru di sector informal, mengembangkan potensi sumber daya alam30
. Misalnnya sumber daya alam yang dapat di perbaharui seperti minyak bumi, pola pergerakan penduduk yang diatur menurut hari pasaran itu telah menciptakan satu pola migrasi yanag unik. Secara tradisional kegiatan ekonomi di pusat kegiatan ekonomi didaerah ini diatur sedemikian rupa sehingga selama lima hari pasaran itu para pedagang bisa bergerak secara leluasa dari pasar yang satu kepasar yang lain sesuai dengan jadwal yang telah di tentukan. Perkembangan ekonomi
pedesaan antara lain di tandai dengan tumbuhnnya pasar karena ingin membangun perekonomian baru di desa yang jarang pembangunannya dan ingin membantu perkembangan ekonomi, dan juga kota marabahan juga sangat dekat dengan kota banjarmasin karena mengakibatkan di bangunnya transmigarasi.
Pada awal tahun 1900 desa Kuta Pengkih adalah salah satu daerah yang memiliki jumlah penduduk yang terkecil dibandingkan daerah lain, pertumbuhan pembangunannya masih kecil dan perekonomian masih tidak meningkat pertumbuhan pembangunanya masih kecil maka oleh karena itu pemerintah pusat atau Departemen Transmigrasi Dan Tenaga Kerja di putuskanlah untuk membangun daerah transmigrasi terutama didesa yang belum terawat dan masih lebat dengan pepohonan31
Latar belakang awal pembentukan unit pemukiman transmigrasi didesa Kuta Pengkih Kuta Kendit Kecamatan Mardingding Kabupaten Karo, sebagai kampung yang berbatasan dengan Kabupaten Aceh Tenggara Nanggore Aceh Darusalam mempunyai jumlah penduduk dan persentase pembangunan infrastruktur dan pengelolaan sumber daya alam yang dibilang sangat
.
Selain karena kurangnnya jumlah penduduk di desa Kuta Pengkih, yang menjadi alasan pemerintah pusat untuk menjadikan desa sebagai tujuan transmigrasi alasan pemerintah pusat untuk menjadikan daerah Kuta Pengkih sebagai tujuan transmigrsi, karena tempatnnya dipedalaman sangat menguntungkan bagi pertanian jenis tanaman yang ditanam bermacam- macam dan juga jarang penduduknnya. Unit pemukiman tranmigrasi desa Kuta Pengkih Kecamatan Mardingding Kabupaten Karo sangat banyak lahan kosong dan tanaman hutan. Daerah yang dijadikan tujuan tranmigarasi di kabupaten Karo adalah Kuta Kendit.
31
kecil. Banyak sumber daya alam dan lahan yang sangat berpotensi tetapi belum dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk kepentingan daerah karena didaerah ini mempunyai keahlian sangat memadai dan karena perkembangan perekonomian yang tidak maju-maju. Dan masih sangat kecil perekonomiannya karena daerahnnya yang masuk paling ujung dan di pedalaman hutan, dan sangat mudah melakukan kemudahan untuk pertanian.
Terbentuknya sebuah pemukiman dapat dijelaskan melalui proses dimana awalnya manusia berkumpul dan tinggal bersama pada tempat-tempat tertentu, Seiring dengan berjalannya waktu tempat-tempat tersebut menjadi perkampungan (suatu area hunian yang kemudian tumbuh menjadi pemukiman dan berkembang menjadi perkampungan).
Penulisan sejarah yang menyangkut daerah tempat tinggal atau pemukiman sudah diawali oleh D.H Burger dalam tulisannya “Rapport over de desa Pekalongan in 1869 en 1928 dan desa Ngablak (Regentschap Pati) 1869 en 1928”.
Proses terbentuknya daerah tempat tinggal manusia terjadi melalui proses yang panjang, Proses ini menjelaskan bahwa sejarah mempunyai peran penting dan sejarah akan selalu terikat pada kronologis peristiwa, artinya selalu ada kesinambungan antara kejadian sebelumnya dengan kejadian selanjutnya. Sejarah melihat penting sebuah proses terbentuknya sebuah area hunian karena dalam pembentukan area hunian pasti melibatkan dimensi ruang, waktu, dan manusia.
Ketiga unsur tersebut merupakan bagian terpenting dalam penulisan sejarah yang analitis32
. Sejarah Pedesaan (rural history) menyangkut semua macam masalah sosial, politik, dan kultural di pedesaan, jenis persoalan ini mencakup persoalan yang sangat luas. Pada umumnya, manusia cenderung mencari tempat tinggal yang aman, nyaman, dan teratur. Jelas sekali sebagai proses untuk bertahan hidup manusia menghindari ancaman-ancaman yang dapat
membahayakan keberlangsungan hidup mereka, ancaman yang dimaksud dapat berupa bahaya banjir, letusan gunung, gempa, dan lain-lain. Selain itu ada juga faktor seperti kesuburan tanah atau kurangnya sumber daya alam yang memaksa manusia untuk meninggalkan suatu tempat tinggal dan membentuk tempat tinggal yang baru.
Dalam proses membentuk ruang sebagai wujud usaha terciptanya pemukiman, manusia melewati banyak permasalahan maupun tantangan. Namun hambatan-hambatan ini yang memaksa manusia untuk terus belajar dari waktu ke waktu bagaimana agar dapat bertahan hidup. Pembentukkan tempat tinggal merupakan wadah fungsional yang didasarkan pada pola aktivitas manusia. Pola tersebut boleh bersifat fisik dan non fisik. Pemukiman merupakan refleksi dari kekuatan-kekuatan sosial budaya seperti kepercayaan,hubungan kekeluargaan, organisasi sosial, dan interaksi sosial antara individu. Pemukiman yang dibentuk oleh suatu kelompok masyarakat secara sadar maupun tidak sadar akan menghasilkan sebuah pola. Sebagai contoh, ada keterkaitan dan hubungan geografis antara desa dengan daerah perbukitan atau lembah. Letak geografis membedakan perubahan sosial, pendapatan, tingkah laku, dan kepercayaan. Pola dalam suatu desa juga dipengaruhi oleh budaya, “budaya adalah seluruh cara kehidupan dari masyarakat dan sebagian tata cara hidup yang dianggap lebih tinggi dan lebih diinginkan”.
Pengertian “Kampung Kuta Kendit” secara etimologis terbagi atas “kampung” dan “Kendit”. Pengertian “kampung” menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah kelompok rumah yang merupakan bagian kota,tentu setiap daerah memiliki ciri-ciri adat, kehidupan, dan tingkah laku yang berbeda. Kendit berarti rata.
Sebagai contoh kampung orang Jawa dengan kampung orang Batak tentu memiliki perbedaan yang didasari oleh kebudayaan mereka masing-masing. Perbedaan ini dapat dilihat dari bentuk fisik bangunan, tata letak dan unsur-unsur lainnya seperti kebiasaan hidup sehari-hari
masyarakat kampung. Inilah yang menjadi keunikkan dan daya tarik dalam sebuah penelitian mengenai perkembangan suatu daerah tempat tinggal. Kegiatan ini termasuk dalam kajian sejarah pedesaan yang dilihat secara prosesual melewati kronologis kejadian di daerah tempat tinggal tersebut.
Fasilitas-fasilitas yang ada di Masyarakat Kuta Kendit sebagai berikut : - Sekolah
- Gereja terdiri dari Gereja Katolik, GBKP, GPDI - Mesjid
- Jalan sudah dilakukan dalam sistem pengerasan, walaupun masih ada dalam keadaan berlobang.
3.2 Asal usul dan Proses Adaptasi Proyek Pemukiman Masyarakat Terasing Dusun Kuta Kendit
Latar belakang awal pembentukan unit pemukiman transmigrasi di Kuta Kendit Kecamatan Mardingding, mempunyai jumlah penduduk dan persentase pembangunan infrastruktur dan pengelolaan sumber daya alam yang dibilang sangat kecil. Banyak sumber daya alam dan lahan yang sangat berpotensi tetapi belum dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk kepentingan daerah karena didaerah ini mempunyai keahlian sangat memadai dan karena perkembangan perekonomian yang tidak maju-maju. Dan masih sangat kecil perekonomiannya karena daerahnnya yang masuk paling ujung dan di pedalaman hutan, dan sangat mudah melakukan kemudahan pembangunan pemukiman.
Pemukiman Kuta Kendit jelasnya merupakan tempat transmigrasi dari daerah lain, pemukiman ini berada di daerah Liang Melas tanah karo. Pemukiman ini didirikan pada tahun 1981. Dalam perkembangan awal Kuta Kendit, penduduknya tidak terlepas dari budaya sebelumnya dari mana mereka datang. Tradisi-tradisi kehidupan bermasyarakat di kampung mulai dibentuk solidaritas hingga kebiasaan dalam menjalankan upacara-upacara adat di pemukiman Proyek Pemukiman Masyarakat Terasing (PKMT) Kuta Kendit.
Dalam pembangunan Kuta Kendit, Dinas Sosial sangat berperan, Dalam pernyataan ini Masri Singarimbun menceritakan isi dokumen Dapertemen Sosial yang dibaca dalam sebuah dokumen di Medan.
“Bahwa di Kabupaten Karo ada proyek Pemukiman Kembali Masyarakat Terasing (PKMT) di Kuta Kendit, Kecamatan Mardingding, saya pun terkejut. Sebagai orang Karo, saya bertanya dalam hati: apakah ada masyarakat terasing dalam masyarakat kami? Lokasinya dekat Desa Kuta Pengkih. Di Medan, saya memperoleh dokumen mengenai hasil penelitian proyek PKMT Kuta Kendit. Ternyata orang setempat, seperti penduduk Desa Kuta Pengkih dan Cerumbu, heran bahwa mereka digolongkan sebagai masyarakat terasing. Memang jalan yang baik belum ada, tapi di Kuta Pengkih sudah ada dua jip Willys milik penduduk untuk mengangkut penumpang. Mereka masih melakukan ladang berpindah, dan mempunyai dangau di ladang. Tapi apakah itu cukup menjadi syarat untuk disebut sebagai masyarakat terasing? Penduduk Kuta Pengkih yang dianggap terasing tersebut sudah mempunyai SD enam kelas, puskesmas, pasar tiap Kamis, dua lapangan olahraga untuk sepak bola dan voli, dua unit meja bilyar, televisi dengan parabola di dua kedai kopi, dan ada generator listrik milik pribadi yang disalurkan kepada penduduk lainnya. Mereka tak merasa tertinggal jika dibandingkan dengan masyarakat Karo lainnya. Untuk pendidikan lanjutan, anak-anak mereka disekolahkan ke tempat lain, dan ada yang sudah lulusan perguruan tinggi. Bagaimanakah nasib PKMT Kuta Kendit? Karena penduduk setempat kurang tertarik untuk pindah ke situ, akhirnya mayoritas penghuninya adalah orang luar. Hanya lima keluarga yang merupakan penduduk setempat. Selebihnya orang luar yang berasal dari luar Kecamatan Mardingding, dan malah dari luar Kabupaten Binjai serta Medan Jadi, kecuali suku Karo, PKMT Kuta Kendit dihuni oleh suku Toba, Pakpak, Simalungun, dan Jawa. Untuk mendapatkan fasilitas, mereka memilih menjadi anggota masyarakat terasing. Maka terciptalah sebuah PKMT yang penuh dengan migran33
.” Petani Kuta Pengkih, Jurusan Antropolgi USU, hal 24
Dalam pembangunan ini tujuan Dinas Sosial membangun pemukiman di Kuta Kendit,masih dipertanyakan, karena dalam bentuk pembangunan Dinas Sosial Kuta Kendit digolongkan sebagai Masyarakat Terasing. Dalam perkataan seperti ini banyak yang memprotes bahwa di Kabupaten Karo tidak ada lagi masyarakat Terasing. Seperti yang dijelaskan Masri Singarimbun di atas. Dalam bentuk pembangunan ini masyarakat yang didatangkan dari beberapa daerah yang sudah padat misalnya dari Pulau Jawa dan Samosir, dan ada juga datang karena dibawa keluarga yang tidak jauh menetap dari Kuta Kendit seperti desa Kuta Pengkih, Cerumbu dan Kuta Mbelin, bahkan ada juga yang melarikan diri dari Riau yang mengetahui mencuri karena takutnya terjerat hukum.
Dari hasil penelitian penulis dijelaskan bahwa pada awalnya masyarakat desa Kuta Pengkih berencana membangun atau mengembangkan penduduk di sekitar yang letaknya sekarang di Kuta Kendit, pembangunan ini dilakukan atas persetujuan masyarakat desa Kuta Pengkih yang pada saat itu Kepala desa bernama Kobal Simarmata. Para pimpinan di desa Kuta Pengkih akhirnya meminta bantuan kepada Dinas Sosial, dalam masa pembangunan pihak Depsos membuat suatu pemukiman yang terasing34
Proyek Pemukiman Masyarakat Terasing ini diresmikan oleh Rakut Sembiring tahun 1981 dia adalah seorang kepala desa Kuta Pengkih. Dalam bentuk pemukiman di Kuta Kendit ini bersifat heterogen, masyarakat heterogen adalah masyarakat yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut pranata-pranata dasar atau primer yang bersumber pada kebudayaan-kebudayaan suku bangsa yang menjadi landasan bagi berbagai corak atau suasana kehidupan dalam masyarakat luas maupun dalam sejumlah suku bangsa telah diseragamkan oleh pemerintahan nasional yang penyeragamannya dilakukan dengan bersumber pada corak dan hakikat
.
kebudayaan nasional tersebut dan Masyarakat hetoregen juga biasanya ditandai oleh adanya tingkat kemajuan yang tinggi dalam kehidupan ekonomi dan teknologinya, yang sebetulnya telah dimungkinkan berkembang melalui perkembangan pranata-pranata alternative tersebut. Karena latar belakang keadaan masyarakat yang beragam, bisa dilihat dari Suku yang mendiami di Kuta Kendit diantaranya ada Suku Jawa, Batak Toba, Simalungun. Dalam proses pembangunan ini orang-orang yang didatangkan dari luar mendapat satu rumah dan tempat perladangan sekitar dua hektar, akan tetapi perladangan yang diserah terimakan kepada penduduk pendatang tidak boleh diperjual belikan kepada pihak yang lain, karena dari pemberian itu masyarakat setempat memenuhi kebutuhan hidupnya melalui menanam tanaman padi untuk kelangsungan hidup mereka.
Pembangunan permukiman Dapertemen Sosial di Kuta Kendit dilakukan dalam bentuk susunan rumah yang berbaris rapi saling berhadapan jalan desa berbentuk rumah panggung dengan kerangka balok kayu yang berukuran 6m x 12m, dengan satu kamar berlantai dan dinding papan, yang ditutup seluruhnya dengan atap seng. Orang Karo di Kuta Kendit sering membangun rumah lagi di belakang-belakang rumah-rumah bangunan Dapertemen Sosial, hal ini dilakukan untuk bisa menampung lagi keluarga mereka yang akan datang, dan yang tidak mendapat bagian rumah Depsos. Walaupun masyarakat Kuta Kendit mempunyai kampung, mereka juga lebih sering tinggal di ladang yang istilahnya Juma Medem yang artinya “Di ladang tidur” hal ini dilakukan karena letak ladang Kuta Kendit jauh dari kampung dan kadang-kadang menginap di situ sampai berhari-hari, seperti yang dijelaskan anak dari Nainggolan yang
merupakan warga yang pertama kali mendiami penduduk Kuta Kendit berkata bahwa kadang lebih nyaman Juma Medem karena lebih efektif untuk mengerjakan ladangnya35
Setelah diresmikannya proyek pemukiman masyarakat terasing (PKMT) tahun 1981. Masuklah PT Alwi ke Kuta Kendit pada tahun 1983, Pelaksana PT Alwi ini bernama Kusno dia bersuku Jawa dan pelaksananya adalah Samudin Sembiring. Dimana pada masa itu yang menjabat sebagai kepala desa adalah Kobal Simarmata yang berasal dari Cerumbu. Kobal Simarmata ini merupakan kepala desa tukur yang menjual tanah Kuta Kendit ke pihak PT Alwi, hal seperti ini dilakukan tanpa sepengetahuan masyarakat desa Kuta Pengkih terutama Simenteki Kuta dan Anak berunya
.
Pada awalnya ada sekitar 100 keluarga dipindahkan ke pemukiman Kuta Kendit ini,adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi para pendatang cukup membawa surat pindah dari kampung asalnya. Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan salah seorang pengetua Adat bernama Mburak Ginting menjelaskan bahwa para-para pendatang ini mendapat bocoran dari Nainggolan yang merupakan salah seorang penghuni awal di Kuta Kendit, dan kebanyakan pendatang dari tanah Samosir yang masih bisa dibilang keluarga dekat dari Nainggolan.
3.3 Masuknya PT Alwi di Dusun Kuta Kendit Tahun 1983
36
Seperti yang dijelaskan masyarakat setempat PT Alwi berhubungan dengan perkebunan, akan tetapi belum jelas perkebunan apa yang ingin dikembangkan di Kuta Kendit. Hanya saja pihak Pt ini berjanji akan membantu perkembangan perekenomian dan membantu pemilihan bibit tembakau dan kopi agar terhindar dari hama dan bercak daun. Hal seperti ini tentunya pemikiran masyarakat akan membantu perekonomian yang ada di masyarakat Kuta Kendit.
.
35
Awalnya janji-janji yang dibuat dari pihak PT Alwi berjalan dengan lancar, akan tetapi di sekitar bulan Juli 1984 pihak PT Alwi mulai menguasai tanah yang ada di Kuta Kendit, tanpa sepengetahuan pihak Simenteki Kuta dan Anak berunya di desa Kuta Pengkih.
Tidak lama semenjak Kobal Simarmata menjual tanah di Kuta Kendit ke pihak PT Alwi dia meninggal karena sakit dan digantikan oleh Rakut Sembiring. Semenjak Rakut Sembring yang memegang kepala desa baru lah terbongkar ulah dari PT Alwi ini, dan sempat terjadi perselisihan antara Simenteki Kuta dengan PT Alwi. Perselisihan ini akhirnya selesai begitu saja karena dari pihak PT Alwi tidak mengurus tanah yang pernah dijualkan oleh Kobal Simarmata.
3.4 Sistem Mata Pencarian Penduduk Masyarakat Dusun Kuta Kendit
Mengandalkan potensi alam lingkungan merupakan ciri khas penduduk masyarakat desa Kuta Kendit. Mata pencarian pokok penduduk Kuta Kendit, dan desa sekelilingnya adalah bercocok tanam diladang. Dalam hal ini dusun Kuta Kendit agak khas sifatnya, karena ditanah Karo pada umumnya sistim perladangan sudah lama ditinggalkan. Orang pada umumnya bercocok tanam menetap dengan irigasi dan penggunaan pupuk yang meluas37
37
Obcit Koentjaraningrat dkk, Masyarakat Desa Di Indonesia, Jajasan Badan, Tanpa Tahun Terbit .
Kedatangan Belanda pada permulaan abad ke-20 ini merubah struktur perekonomian di desa dan di karo umumnya kearah ekonomi keuangan. Sesudah zaman kemerdekaan proses perubahan tersebut semakin cepat karena mendapat dorongan dari cita-cita baru mengenai kemajuan. Padi adalah tumbuhan yang pertama ditanam oleh penduduk sebagai bahan makanan. Bibit tanaman padi didapatkan dari daerah asal mereka sebelum bermukim di Kuta Kendit.
Sesudah Proyek Pemukiman Masyarakat Terasing (PKMT) dihuni oleh pendatang, mereka menebangi hutan merupakan tahap awal dalam memulai bercocok tanam di masyarakat Kuta Kendit. Peralatan yang dipergunakan untuk menebangi hutan adalah terbuat dari kayu-kayu yang ada di sekitar hutan. Hal ini dilakukan karena minimnya peralatan dari logam yang dimiiki penduduk Kuta Kendit. Dalam pengolahan tanah juga petani menggunakan alat seadanya yang ditancapkan hingga membentuk lubang, untuk bisa menanam tumbuhan padi, kopi dan tembakau.
Selama mendiami Proyek Pemukiman Masyarakat Terasing (PKMT) kemajuan ekonomi pun semakin meningkat,karena ada beberapa bantuan dari Depsos. Sejalan dengan hal itu dalam pertanian mereka mulai lebih mementingkan cash crop (didalam hal ini tembakau) daripada padi dan mengadakan perluasan pembukaan tanah yang kadang-kadang lebih tiga kali lipat luasnya dari biasa. Perluasaan ini beserta pertambahan penduduk adalah dua faktor yang menyebabkan tanah pertanian di dusun Kuta Kendit banyak ditebangi di hutan belantara, di tempat mana sistem bercocok tanam berladang masih dilanjutkan. Masyarakat Kuta Kendit bukan hanya menanam padi saja, melihat perkembangan zaman masyarakat mulai menanam tanaman cabe, penamanan ini dimulai sekitar tahun 2000.
Dari beberapa informan yang penulis wawancarai, dijelaskan bahwa pendapatan Kuta Kendit setiap tahunnya meningkat. Dilihat dari hasil tanaman cabe masyarakat Kuta Kendit hampir seluruhnya menanam tanaman cabe, paling sedikit hasil tanaman yang diperoleh satu keluarga sekitar 120 Kg. Pada tahun 2003 pendapatan itu pun semakin meningkat,bahkan banyak para penduduk sudah mengubah bentuk rumah yang awalnya mereka diami. Hal seperti inilah
membuat para warga Kuta Kendit semakin tergiur untuk menebangi hutan secara sembarangan karena berniat memperluas lahan pertanian mereka38
Pekerjaan sampingan orang karo selain itu adalah berburu dan beternak. Binatang buruan mereka adalah babi hutan. Hewan-hewan buruan ini bukan hewan asli tanah karo, melainkan dibawa oleh Belanda sekitar tahun 1930. Orang berburu dalam kelompok-kelompok yang menimal terdiri dari lima orang dan peralatan yang dipakai biasanya tombak,parang dan jerat
.
Mata pencarian tambahan orang karo di Kuta Kendit adalah Kopi,Tembakau,dan Padi. Lokasi perkebunan seperti ini tidak jauh dilakukan dari tanaman cabe. Unit tenaga kerja yang utama adalah keluarga inti, sedang bantuan tenaga datang dari pada kerabat pihak suami atau