• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : PERAN HAKIM DALAM MENJATUHKAN HUKUMAN

A. Latar Belakang Pembentukan Lembaga Hukum Hakim

Adanya model pembinaan bagi narapidana di dalam Lembaga Pemasyarakatan tidak terlepas dari sebuah dinamika, yang bertujuan untuk lebih banyak memberikan bekal bagi narapidana dalam menyongsong kehidupan setelah selesai menjalani masa hukuman (bebas). Berbeda dengan dahulu, peristilahan penjara pun telah mengalami perubahan menjadi pemasyarakatan. Istilah lembaga pemasyarakatan dipilih sesuai dengan visi dan misi lembaga itu untuk menyiapkan narapidana kembali ke masyarakat. Pemasyarakatan dinyatakan sebagai suatu sistem pembinaan terhadap para pelanggar hukum dan sebagai suatu pengejawahtawan keadilaan yang bertujuan untuk mencapai reintegrasi sosial atau pulihnya kesatuan hubungan antara warga binaan pemasyarakatan dengan masyarakat.

Kesadaran akan hak dan kewajiban setiap warga Negara terutama pada Negara yang sedang berkembang dan sedang membangun seperti Negara Indonesia, perlu ditingkatkan secara terus-menerus karena di setiap kegiatan maupun di setiap organisasi tidak dapat disangkal bahwa peranan hak dan kewajiban, amat menentukan dalam pencapaian tujuan.1

1

Leden Marpaung, Proses Penanganan Perkara Pidana, Kata Pengantar, Jakarta, Sinar Grafika, 2010

Upaya penegakan hukum, dilakukan berdasarkan kesadaran akan hak dan kewajiban warga negara, dan juga kesadaran penggunaan kewenangan aparat penegak hukum, karena penyalahgunaan kewenangan tersebut selain sangat memalukan dan dapat merugikan keuangan Negara juga dapat mengakibatkan timbulnya kekhawatiran atau ketakutan warga jika berhadapan dengan aparat hukum.

Disinilah peran aparat hukum untuk meningkatkan kinerjanya agar tidak melakukan penyelewengan terhadap hak dan kewajiban, sehingga masyarakat dapat menjadikan aparat hukum sebagai pedoman untuk melaksanakan segala sesuatunya sesuai dengan aturan yang ada.

Salah satu kunci dalam penegakan hukum di Negara kita adalah hakim. Dimana hakim selaku pemimpin dalam sidang harus dapat menentukan mana yang salah dan mana yang benar di dalam suatu perkara yang dihadapi oleh masyarakat. Kesalahan hakim dalam memberikan keputusan sangat berpengaruh terhadap pihak yang dirugikan.

Fakta yang ada di lapangan, bahwa sangat banyak penyimpangan hak dan kewajiban yang dilakukan oleh hakim. Salah satunya adalah penyimpangan hak dan kewajiban yang dilakukan oleh hakim pengawas dan hakim pengamat khususnya pengawasan dan pengamatan terhadap narapidana narkotika. Dimana narapidana ini harus mendapat perhatian lebih dalam pelaksanaan sanksinya. Karena sangat banyak terjadi penyimpangan-penyimpang yang terjadi di lembaga permasyarakatan. Terlihat jelas bahwa hakim ini hampir tidak terlihat oleh masyarakat peranannya di dalam penegakan hukum.

Berdasarkan hasil penelitian, terlihat bahwa hakim pengawas dan hakim pengamat tidaklah menjalankan hak dan kewajibanya sesuai Pasal 280 KUHAP. Dimana dalam pasal tersebut menyatakan bahwa :

1. Hakim pengawas dan hakim pengamat mengadakan pengawasan guna memperoleh kepastian bahwa putusan pengadilan dilaksanakan sebagaimana mestinya

2. Hakim pengawas dan pengamat mengadakan pengamatan untuk bahan penelitian demi ketetapan yang bermanfaat bagi pemidanaan, yang diperoleh dari perilaku narapidana atau pembinaan lembaga kemasyarakatan serta pengaruh timbal balik terhadap narapidana selama menjalani pidananya.

Sesuai dengan Pasal 280 Kitab Undang-undang Hukum Pidana, bahwa hak dan kewajiban aparat penegak hukum tidak dapat dilaksanakan dengan baik. Karena sangat jarang sekali pelaksanaan dari pada isi pasal di atas dilaksanakan oleh hakim pengawas dan pengamat. Oleh karena itu untuk mencapai penegakan hukum di Negara Indonesia ini, semua warga Negara baik itu aparatur pemerintahan, aparat kepolisian maupun TNI, masyarakat sampai kepada aparat penegak hukum itu sendiri secara bersama-sama melaksanakan hak dan kewajban dengan baik dan tidak melakukan penyimpangan terhadap kekuasaan ataupun jabatannya.

Latar belakang di atas menjadi landasan dalam penulisan skripsi ini, maka penting untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang “Peran hakim pengawas dan pengamat terhadap pembinaan narapidana narkotika”.

B. Perumusan Masalah

Permasalahan yang akan diteliti pada penelitian ini :

1. Apa yang menjadi dasar pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan terhadap terdakwa tindak pidana narkotika?

2. Bagaimana pelaksanaan peran hakim pengawas dan pengamat terhadap pembinaan narapidana narkotika?

3. Apakah hambatan-hambatan yang dihadapi dalam pelaksanaan peran hakim pengawas dan pengamat terhadap pembinaan narapidana serta upaya apa yang dapat dilakukan dalam pelaksanaan peran hakim pengawas dan pengamat terhadap pembinaan narapidana?

C. Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui dasar dan sebab pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan terhadap terdakwa tindak pidana narkotika

2. Untuk mengetahui peran hakim pengawas dan pengamat terhadap pembinaan narapidana narkotika

3. Untuk mengetahui hambatan-hambatan dan upaya yang dapat dilakukan dalam pelaksanaan tugas hakim pengawas dan pengamat terhadap pembinaan narapidana

D. Keaslian Penulisan

Dalam penyusunan karya ilmiah ini, pada prinsipnya penulis membuatnya dengan melihat dasar-dasar yang telah ada, baik melalui literatur yang telah diperoleh dari perpustakaan maupun dari media-media lainnya seperti internet.

Sepanjang pengetahuan penulis, sampai saat ini belum ada tulisan karya ilmiah yang mengangkat judul “Peran Hakim Pengawas dan Pengamat Terhadap Pembinaan Narapidana Narkotika. Judul penulisan ini diangkat karena penulis ingin mengetehui lebih lanjut tentang Tugas, Fungsi, serta Peran Hakim Pengawas dan Pengamat Dalam Pembinaan Narapidana.

E. Tinjauan Kepustakaan

1. Pengertian Hakim Pengawas dan Pengamat

Pengertian hakim pengawas dan pengamat tidak ada diatur dalam undang-undang akan tetapi menurut kamus pintar Bahasa Indonesia Perkataan “pengawas adalah merupakan kata dasar dari awas yang disertai awalan pe- dan akhiran -an yang secara umum diartiakan hati-hati, menjagai, mengamati”.2

Hakim Pengawas dan Pengamat (Wasmat) sebagaimana dijelaskan oleh Mardjono Reksodiputro merupakan suatu adaptasi dari lembaga serupa yang mulai berlaku di Perancis pada tahun 1959 yang dikenal dengan nama judge de l’application des paines, artinya hakim untuk penerapan hukuman.3

Selanjutnya T. Hani Handoko berpendapat bahwa pengawasan yang sekarang banyak digunakan istilah pengendalian adalah penemuan dan penerapan cara dan peralatan untuk menjamin bahwa rencana telah dilaksanakan sesuai dengan yang telah ditetapkan. Pengawasan positif

Secara khusus pengertian hakim Wasmat tidak ditemukan di dalam peraturan perundang-undangan, namun secara tersirat dari Pasal 227 ayat (1) KUHAP dapat diartikan hakim Wasmat itu adalah hakim yang diberi tugas khusus untuk membantu ketua pengadilan dalam melakukan pengawasan dan pengamatan terhadap putusan pengadilan yang menjatuhkan pidana perampasan kemerdekaan.

2

Sulchan Yasin, 1997, Kamus Pintar Bahasa Indonesia, Penerbit Amanah, Surabaya, hal. 20

3

Mardjono Reksodiputro, 1997, Hak Asasi Manusia Dalam Sistem Peradilan Pidana, Jakarta, hal. 70

mencoba untuk mengetahui apakah tujuan organisasi dicapai dengan efisien dan efektif. Pengawasan negatif mencoba untuk menjamin bahwa kegiatan yang tidak diinginkan atau dibutuhkan tidak terjadi atau terjadi kembali. Fungsi pengawasan pada dasarnya mencakup 4 (empat) unsur yaitu : 1. Penetapan standar pelaksanaan

2. Penentuan ukuran-ukuran pelaksanaan

3. Pengukuran pelaksanaan nyata dan membandingkannya dengan standar yang telah ditetapkan, dan

4. Pengambilan tindakan koreksi yang diperlukan bila pelaksanaan menyimpang dari standar.4

Pernyataan di atas menunjukkan bahwa pengawasan dan pengamatan itu adalah suatu tindakan yang sangat penting dilakukan untuk mengawasi suatu kegiatan yang terorganisir dalam mencapai tujuan yang diinginkan bersama. Demikianlah pentingnya hakim wasmat bagi pengawasan dalam pelaksanaan putusan pengadilan sebagaimana diatur dalam Pasal 54 Undang-undang Pokok Kekuasaan Kehakiman Nomor 48 Tahun 2009.

2. Pengertian Narapidana dan Pembinaan Narapidana

Pasal 1 angka 7 Undang-undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan dinyatakan pengertian narapidana adalah “Terpidana yang menjalani pidana hilang kemerdekaan di Lembaga Pemasyarakatan”.

4

T. Hani Handoko, 1997, Manajemen, Badan Press Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, hal. 25

Terpidana itu sendiri sebagaimana dinyatakan di dalam Pasal 1 angka 32 KUHAP dan Pasal 1 angka 6 Undang-undang Pemasyarakatan adalah “seseorang yang dipidana berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap”.

Istilah narapidana tidak identik dengan istilah terpidana. Terpidana meliputi tidak hanya seseorang yang dipidana hilang kemerdekaan (narapidana), tetapi juga meliputi seseorang yang dipidana bukan hilang kemerdekaan, seperti orang yang dipidana denda. Seorang narapidana secara otomatis juga merupakan seorang terpidana, tetapi seorang terpidana belum tentu merupakan seorang narapidana. Bilamana seorang terpidana hilang kemerdekaan statusnya berubah menjadi narapidana, disebutkan dalam Pasal 10 ayat 2 Undang-undang Nomor 12 tahun 1995 tentang Pemasyarakatan adalah pada saat terpidana diterima/didaftarkan di Lembaga Pemasyarakatan.

Narapidana sebagaimana dinyatakan di dalam Pasal 1 angka 7 Undang-undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan adalah narapidana dewasa, disamping itu ada pula narapidana anak (anak didik pemasyarakatan) dan narapidana wanita. Di dalam Pasal 1 angka 8 Undang-undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan dinyatakan :

Anak didik pemasyarakatan adalah :

a. Anak pidana, yaitu anak yang berdasar putusan pengadilan menjalani pidana di LAPAS paling lama sampai berumur 18 tahun (delapan belas) tahun;

b. Anak Negara,yaitu anak yang berdasar putusan pengadilan diserahkan pada negara untuk di didik dan ditempatkan di LAPAS paling lama sampai berumur 18 (delapan belas) tahun ;

c. Anak sipil, yaitu anak yang atas permintaan orangtua atau walinya memperoleh penetapan pengadilan untuk di didik di LAPAS paling lama sampaia berumur 18 (delapan belas) tahun.

Pembinaan adalah kegiatan yang dilakukan secara berdayaguna untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.5

5

Sulchan Yasin, 1997, Kamus Pintar Bahasa Indonesia, Penerbit Amanah, Surabaya Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa orang yang telah melakukan tindak pidana dan dijatuhi vonis oleh pengadilan akan menjalani hari-harinya di dalam Rumah Tahanan atau Lembaga Pemasyarakatan sebagai perwujudan dalam menjalankan hukuman yang diterimanya. Di dalam Lembaga Pemasyarakatan itu, orang tersebut akan menyandang status sebagai narapidana dan menjalani pembinaan yang telah diprogramkan.

Pada awalnya pembinaan narapidana di Indonesia menggunakan sistem kepenjaraan. Model pembinaan seperti ini sebenarnya sudah dijalankan jauh sebelum Indonesia merdeka. Dasar hukum atau Undang-undang yang digunakan dalam sistem kepenjaraan adalah

Reglemen penjara, aturan ini telah digunakan sejak tahun 1917. Bisa dikatakan bahwa perlakuan terhadap narapidana pada waktu itu

adalah seperti perlakuan penjajah Belanda terhadap pejuang yang tertawan. Mereka diperlakukan sebagai obyek semata yang dihukum kemerdekaannya, tetapi tenaga mereka seringkali dipergunakan untuk kegiatan-kegiatan fisik. Ini menjadikan sistem kepenjaraan jauh dari nilai-nilai kemanusiaan dan hak asasi manusia.

Dengan demikian tujuan diadakannya penjara sebagai tempat menampung para pelaku tindak pidana dimaksudkan untuk membuat jera (regred) dan tidak lagi melakukan tindak pidana. Untuk itu peraturan-peraturan dibuat keras, bahkan sering tidak manusiawi.

Gagasan yang pertama kali muncul tentang perubahan tujuan pembinaan narapidana dari sistem kepenjaraan ke sistem pemasyarakatan adalah dikemukakan oleh Sahardjo. Menurut Sahardjo tujuan pemasyarakatan mempunyai arti :

“bahwa tidak saja masyarakat yang diayomi terhadap diulangi perbuatan jahat oleh terpidana, melainkan juga yang telah tersesat diayomi dengan memberikan kepadanya bekal hidup sebagai warga yang berguna

dalam masyarakat. Dari pengayoman itu nyata bahwa menjatuhkan pidana bukanlah tindakan balas dendam dari negara ... Tobat tidak dapat dicapai dengan penyiksaan, melainkan dengan bimbingan. Terpidana juga tidak dijatuhi pidana penyiksaan, melainkan pidana hilang kemerdekaan ... Negara mengambil kemerdekaan seseorang dan pada waktunya akan mengembalikan orang itu ke masyarakat lagi, mempunyai kewajiban terhadap orang terpidana itu dalam masyarakat.”6

Sistem pemasyarakatan akan mampu merubah citra negatif sistem kepenjaraan dengan memperlakukan narapidana sebagai subyek sekaligus sebagai obyek yang didasarkan pada kemampuan manusia untuk tetap memperlakukan manusia sebagai manusia yang mempunyai eksistensi sejajar dengan manusia lain.

Sistem pemasyarakatan menurut Pasal 1 ayat 2 Undang-undang No. 12 Tahun 1995 adalah :

“Suatu tatanan mengenai arahan dan batasan serta cara pembinaan warga binaan pemasyarakatan berdasarkan Pancasila yang dilaksanakan secara terpadu antara pembina, yang dibina, dan masyarakat untuk meningkatkan kualitas warga binaan pemasyarakatan agar menyadari kesalahan, memperbaiki diri dan tidak mengulangi tindak pidana sehingga dapat diterima kembali oleh lingkungan masyarakat, dan aktif berperan dalam pembangunan dan dapat hidup secara wajar sebagai warga negara yang baik dan bertanggung jawab”.

6

Sistem ini menjanjikan sebuah model pembinaan yang humanis, tetap menghargai seorang narapidana secara manusiawi, bukan semata-mata tindakan balas dendam dari negara. Hukuman hilang kemerdekaan kiranya sudah cukup sebagai sebuah penderitaan tersendiri sehingga tidak perlu ditambah dengan penyiksaan serta hukuman fisik lainnya yang bertentangan dengan hak asasi manusia.

Peranan sistim kepenjaraan terhadap pembinaan narapidana untuk membina dirinya sendiri sama sekali tidak diperhatikan. Narapidana juga tidak dibina tetapi dibiarkan, tugas penjara pada waktu itu tidak lebih dari mengawasi narapidana agar tidak membuat keributan dan tidak melarikan diri dari penjara. Pendidikan dan pekerjaan yang diberikan hanyalah sebagai pengisi waktu luang, namun dimanfaatkan secara ekonomis. Membiarkan seseorang dipidana, menjalani pidana, tanpa memberikan pembinaan tidak akan merubah narapidana. Bagaimanapun narapidana adalah manusia yang memiliki potensi yang dapat dikembangkan ke arah perkembangan yang positif, yang mampu merubah seseorang menjadi produktif.

UU No. 12 Tahun 1995 tentang pemasyarakatan pada pasal 14, sangat jelas mengatur hak-hak seorang narapidana selama menghuni Lembaga Pemasyarakatan yaitu :

a. Melakukan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaan

b. Mendapatkan perawatan, baik perawatan rohani maupun jasmani. c. Mendapatkan pendidikan dan pengajaran.

e. Menyampaikan keluhan.

f. Mendapatkan bahan bacaan dan mengikuti siaran media massa lainnya yang tidak dilarang.

g. Menerima kunjungan keluarga, penasehat hukum, atau orang tertentu lainnya

h. Mendapatkan upah atau premi atas pekerjaan yang telah dilakukan. i. Mendapatkan pengurangan masa pidana (remisi).

j. Mendapatkan kesempatan berasimilasi termasuk cuti mengunjungi keluarga.

k. Mendapatkan pembebasan bersyarat. l. Mendapatkan cuti menjelang bebas.

m. Mendapatkan hak-hak lainnya sesuai perundangan yang berlaku. Pembina narapidana tidak dapat disamakan dengan kebanyakan orang dan harus menggunakan prinsip-prinsip pembinaan narapidana. Ada empat komponen penting dalam membina narapidana yaitu :

a. Diri sendiri, yaitu narapidana itu sendiri

b. Keluarga, adalah anggota keluarga inti, atau keluarga dekat

c. Masyarakat, adalah orang-orang yang berada di sekeliling narapidana pada saat masih di luar Lembaga Pemasyarakatan/Rutan, dapat masyarakat biasa, pemuka masyarakat, atau pejabat setempat.

d. Petugas, dapat berupa petugas kepolisian, pengacara, petugas keagamaan, petugas sosial, petugas Lembaga Pemasyarakatan, Rutan, BAPAS, hakim dan lain sebagainya.7

7

Ibid

Sistem pemasyarakatan, bertujuan untuk melakukan pembinaan dan bimbingan, dengan tahap-tahap admisi/orientasi, pembinaan dan asimilasi. Pada tahap pembinaan, narapidana dibina, dibimbing agar dikemudian hari tidak melakukan tindak pidana lagi, sedang pada tahap asimilasi, narapidana diasimilasikan ke tengah-tengah masyarakat di luar lembaga pemasyarakatan. Hal ini sebagai upaya memberikan bekal kepada narapidana agar ia tidak lagi canggung bila keluar dari lembaga pemasyarakatan.

3. Narkotika dan Perkembangan Hukumnya

Dari literatur lama, dapat kita ketahui bahwa pada saat itu tidak dibedakan secara jelas antara narkotika dan psikotropika. Setidak-tidaknya pada saat itu kedua masalah tersebut dikelompokkan menjadi satu.8

Menurut Smith kline dan french Clinical Staff membuat defenisi “Narkotika adalah zat-zat (obat) yang dapat mengakibatkan ketidaksadaran atau pembiusan dikarenakan zat-zat tersebut bekerja mempengaruhi saraf sentral. Dalam defenisi narkotika inisudah termasuk jenis candu dan turun-turunan candu (morphine, codein, heroine) dan candu sintesis (meperidine dan methadone).”9

Sedangkan defenisi lainnya dari Biro Bea dan Cukai Amerika Serikat dalam buku “Narcotic Identifiction Manual” antara lain menerangkan tentang :

8

Hari Sasangka, Narkotika dan Psikotropika dalam Hukum Pidana, Bandung, 2003, hal. 33

9

“bahwa yang dimaksud dengan narkotika adalah candu, ganja, cocaien. Zat-zat bahn mentahnya diambil dari benda-benda tersebut yakni

morphine, heroine. Codeine, dan hashish, cocaine, dan termasuk juga

narkotika sintesis yang menghilangkan zat-zat. Obat-obat yang tergolong dalam hallucinogen, depressant dan stimulant”.10

a. Bahwa narkotika ada dua macam, yaitu narkotika alam dan narkotika sintesis. Yang termasuk narkotika alam ialah berbagai jenis candu,

morphine, heroin, ganja, hashish, codein, cocaine. Narkotika alam ini

termasuk dalam narkotika sempit. Sedangkan narkotika sintesis adalah termasuk di dalamnya zat-zat (obat) yang tergolong dalam tiga jenis obat, yaitu : hallucinogen, depressant dan stimulant.

Dari kedua defenisi tersebut, M. Ridha Ma’roef menyimpulkan :

b. Bahwa narkotika itu bekerja mempengaruhi susunan saraf sentral yang akibatnya dapat menimbulkan ketidaksadaran atau pembiusan. Berbahaya apabila disalahgunakan.

c. Bahwa narkotika dalam pengertian di sini adalah mencakup obat-obat bius atau obat-obat berbahaya atau narcotic and dangerous drugs.11

Di Indonesia pada waktu itu narkotika golongan alam digolongkan dalam obat-obatan daftar O, dan narkotika sintesis digolongkan dalam obat-obatan daftar G. Karena kebanyakan orang tidak tahu suatu obat dikategorikan dalam daftar O atau daftar G. Maka mereka menggunakan istilah baru : Obat yang disalahgunakan (drugs abuse).

10

Ibid, hal. 34

11

Obat yang dilahgunakan secara klinik dapat dibagi dalam 4 kelompok : 1. Obat narkotik : candu, morphine, heroine dan sebagainya 2. Obat halusinogen : ganja, LSD, Mescaline dan sebagainya 3. Obat depresan : obat tidur, obat pereda dan obat penenang 4. Obat stimulan : amfetamin, phenmetrazine dan sebagainya.12

Menurut Sudarto pengertian narkotika berasal dari kata Yunani

“narke” yang berarti terbius sehingga tidak merasakan apa-apa, namun menurut B. Simanjuntak mengatakan bahwa narkotika berasal

dari kata Narcissus, sejenis tumbuhan yang mempunyai bunga yang dapat membuat orang menjadi tidak sadar.13

Secara umum, yang dimaksud dengan narkotika adalah sejenis zat yang dapat menimbulkan pengaruh-pengaruh tertentu bagi orang-orang yang menggunakannya, yaiut dengan cara memasukkan ke dalam tubuh.

14

a. Mempengaruhi kesadaran

Istilah narkotika disini bukanlah “narcotics” pada Farmacologie (farmasi), melainkan sama artinya dengan “drugs”, yaitu sejenis zat yang apabila dipergunakan akan membawa efek dan pengaruh-pengaruh tertentu pada tubuh si pemakai, yaitu :

b. Memberikan dorongan yang dapat berpengaruh terhadap perilaku manusia 12 Ibid, hal. 35 13 Ibid, hal. 35 14

c. Pengaruh-pengaruh tersebut dapat berupa : 1. Penenang

2. Perangsang (bukan ransangan sex)

3. Menimbulkan halusinasi (pemakainya tidak mampu membedakan antara khayalan dan kenyataan, kehilangan kesadaran akan waktu dan tempat).15

Dalam bagian pembahasan pada tulisan ini, penulis mencoba membandingkan Undang-undang Narkotika yang pernah berlaku di Indonesia dimulai dari Undang-undang Nomor 9 tahun 1976 tentang Narkotika sampai dengan Undang-undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika. Dalam perbandingan kali ini, yang digunakan acuan atau parameter pembanding adalah mengenai permasalahan penyidikan dan ketentuan pidana.

Pada dasarnya kebijakan hukum pidana dalam penanggulangan narkoba di Indonesia sudah sejak lama dilakukan. Diawali dengan berlakunya Ordonansi Obat Bius (Verdoovende Middelen Ordonnantie, Stbl. 1927 No. 278 jo. No. 536). Ordonansi ini kemudian diganti dengan UU No. 9 Tahun 1976 tentang narkotika. Selanjutnya undang-undang ini diganti menjadi UU No. 22 Tahun 1997 tentang narkotika sampai dengan munculnya UU No. 35 tahun 2009 sebagai pembaharuan terbaru dari undang-undang tentang Narkotika.

15

Pada UU Nomor 9 tahun 1976, masalah penyidikan diatur pada Bab V tentang Penyidikan, Penuntutan, dan Pemeriksaan di depan Pengadilan, sebagaimana disebutkan pada pasal 25 ayat (2) bahwa Penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan di depan Pengadilan terhadap tindak pidana yang menyangkut narkotika dilakukan menurut ketentuan-ketentuan yang berlaku, sekedar tidak ditentukan lain dalam Undang-undang ini. Satu hal yang perlu kita cermati bahwa Undang-undang Nomor 9 tahun 1976 ini berlaku sebelum UU Nomor 8 tahun 1981 tentang KUHAP disahkan, artinya ketentuan mengenai beracara dalam pidana belum berlaku sebagaimana KUHAP yang ada saat ini. Selanjutnya, ketentuan mengenai penyidik yang berwenang melakukan penyidikan kaitannya dengan tindak kejahatan Narkotika mengacu pada undang-undang nomor 13 Tahun 1961 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kepolisian (Lembaran Negara Tahun 1961 Nomor 245, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2289). Di lain pihak pada UU No. 22 tahun 1997 peranan Badan Narkotika Nasional tidak diatur dalam perundang-undangan tentang narkotika. Pada UU No. 35 tahun 2009, secara jelas peranan dan kewenangan dari BNN sebagai Badan Nasional diatur sedemikian rupa terutama mengenai kewenangan penyidikan. Pada UU No. 22 tahun 1997, penyidikan hanya dilakukan Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia dan PPNS sesuai pasal 65, sedangkan pada undang-undang terbaru dikatakan pada pasal 81 bahwa Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia dan penyidik BNN berwenang melakukan penyidikan terhadap penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika berdasarkan

undang-undang ini, ditambah dengan PPNS tertentu. Untuk mencegah dan memberantas penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan

Prekursor Narkotika yang modus operandinya semakin canggih. Dalam undang-undang ini juga diatur mengenai perluasan teknik penyidikan

penyadapan (wiretapping), teknik pembelian terselubung (under cover buy), dan teknik penyerahan yang diawasi (controlled delevery), serta teknik penyidikan lainnya guna melacak dan mengungkap penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika. Selanjutnya, teknik penyidikan ini juga membuka peluang terhadap perluasan alat bukti elektronik sebagaimana yang tercantum dalam pasal 86 ayat (2) yang menyatakan bahwa : Alat bukti sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa :

a. informasi yang diucapkan, dikirimkan, diterima, atau disimpan secara elektronik dengan alat optik atau yang serupa dengan itu; dan

b. data rekaman atau informasi yang dapat dilihat, dibaca, dan/atau didengar, yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa bantuan suatu sarana baik yang tertuang di atas kertas, benda fisik apa pun selain kertas maupun yang terekam secara elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada :

1. tulisan, suara, dan/atau gambar;

2. peta, rancangan, foto atau sejenisnya; atau

Dokumen terkait