• Tidak ada hasil yang ditemukan

Latar Belakang Pendidikan

Dalam dokumen BAB II TINJAUAN PUSTAKA (Halaman 52-64)

Gambar 2.57. Yap Tjwan Bing

(http://thatswhyilovemycountry.blogspot.com/2017/05/drs-yap-tjwan-bing.html, 2017)

2.7.1. Susunan Anggota Keluarga

Yap Tjwan Bing (1988) mengatakan bahwa dirinya lahir pada tanggal 31 Oktober 1910 di Slompretan, Solo, Jawa Tengah. Ia merupakan anak dari seorang pedagang bernama Yap Yoe Dhiam dan istrinya, Tan Tien Nio. Ia juga memiliki 4 saudara, yaitu Yap Giok Nio, Yap Swan Nio, Yap Tjoen Sing, dan Yap Tjoen Hoei. Sebelum pergi ke Belanda untuk kuliah, pada tahun 1932 Yap menikah dengan Tjien Giok Yap yang kemudian dikaruniai 2 orang anak, yaitu Yap Gwat Lee alias Dewi (perempuan) dan Yap Siong Hoei (laki-laki) (hlm. 1-2).

2.7.2. Latar Belakang Pendidikan

Pada usia 7 tahun, Yap bersekolah di Hollandsch-Chineesche School (HCS) Kristen Gemblekan di Solo. Saat itu, beliau tinggal bersama dengan keluarga

57 berkebangsaan Belanda bernama Kilian untuk belajar bahasa Belanda. Namun pada usia 8 tahun, ia bersama keluarganya harus pindah ke Madiun sehingga ia masuk ke sekolah swasta di sana, yaitu Sekolah Swasta KOOT. Menurutnya, kualitas sekolah tersebut kurang baik dibandingkan dengan sekolah swasta lainnya.

Pada usia 10 tahun, ia tidak sengaja bertemu dengan seorang kepala sekolah Tweede Europeesche School (sekolah MULO) bernama Van Gulich. Saat itu, Van Gulich hendak pergi ke Surabaya dengan kereta api untuk berlibur dan ia membawa banyak barang. Karena tak ada seorang pun yang membantunya, Yap yang melihat hal tersebut membantu mengangkat barang-barangnya ke dalam kereta api. Atas kebaikan Yap, Van Gulich berterima kasih dan memintanya untuk mengunjungi sekolahnya seminggu kemudian untuk melakukan tes. Yap lulus tes tersebut dan diterima masuk ke sekolah tersebut. Ia menjadi satu-satunya murid beretnis Tionghoa dan bergaul dengan anak-anak berkebangsaan Belanda di sana. Ia juga mulai suka berolahraga, seperti sepak bola, tenis, angkat besi, dan kung fu.

Setelah tamat dari sekolah MULO, pada tahun 1928 ia ingin melanjutkan pendidikannya ke Hoogere Burgerschool (HBS), namun ia tidak bisa karena ia bukan berasal dari keluarga ambtenaar yang berpangkat mayor atau kapten dari golongan Cina. Dari sini, ia dapat merasakan bahwa adanya diskriminasi sosial terhadap masyarakat Indonesia dan golongan Cina. Oleh karena itu, ia masuk ke

Algemene Middlebare School (AMS) di Malang, Jawa Timur. Pada saat itu,

58 sekolah Yap di sana. Namun, Yap mendapat beasiswa dari pemerintah kolonial Belanda sehingga ia masih bisa melanjutkan pendidikannya di sana.

Selama bersekolah di sana, Yap bergabung dengan tim sepak bola Hak Sing Hwee sebagai gelandang kanan dan timnya selalu menang pada setiap pertandingan di Malang. Pada saat yang sama, sifat kritis Yap terlihat ketika ia berdebat dengan seorang guru Ilmu Ketatanegaraan (Staatskunde) bernama Mr. Mollen pada saat pelajaran mengenai sistem pemilihan anggota DPR. Perdebatan tersebut membuat hubungan keduanya menjadi erat.

Di tengah masa pendidikan SMA-nya, ia bersama keluarganya harus pindah dari Madiun dan masuk ke sekolah AMS Kristen bagian Paspal di Jakarta. Ia tinggal bersama sahabatnya yang ada di Jakarta untuk menghemat biaya karena ayahnya belum mampu membayar lunas biaya sekolahnya. Untuk membantu ayahnya, ia juga mulai menjual parfum setiap hari Minggu. Setelah situasi ekonomi keluarganya mulai membaik, ia pindah ke asrama Kristen yang berlokasi di Jalan Kramat Raya. Di asrama tersebut, ia bertemu dengan Mr. Amir Sjarifuddin (yang kemudian menjadi perdana menteri Indonesia di Yogyakarta) yang saat itu sedang kuliah di Sekolah Tinggi Hukum Jakarta.

Yap lulus dari AMS pada tahun 1932 dan melanjutkan pendidikan kuliahnya di Belanda. Ia masuk Fakultas Farmasi Universiteet van Amsterdam di Belanda untuk menjadi seorang apoteker nantinya. Selama kuliah di sana, Yap menjadi anggota Perhimpunan Mahasiswa Farmasi (Luctor Et Emergo) di Amsterdam. Ia bertemu dengan Mohammad Hatta dan Iwa Kusumasumantri di

59 sana yang kuliah di Sekolah Tinggi Ekonomi Rotterdam. Saat itu, mereka berdua sudah aktif memperjuangkan kemerdekaan Indonesia di Belanda dengan membentuk Perhimpunan Indonesia (Indische Vereeniging). Meskipun Yap tidak bergabung dengan mereka, ia tetap bergaul dengan Bung Hatta dan Iwa Kusumasumantri serta anggota lainnya yang merupakan mahasiswa asal Indonesia, seperti Kusumo Utojo, Tjoa Sek Ien, Kwee Tian Lan, Abdul Madjid, dan Ie King Hing. Seperti yang lain, Yap juga mengambil kesempatan untuk memperluas ilmu politiknya dengan membaca banyak buku tentang politik di sana karena pemerintah kolonial Belanda melarang peredaran buku politik di Indonesia. Ia juga ikut serta dalam sidang-sidang partai politik yang berjuang memerdekakan Indonesia.

Yap lulus dari Universiteet van Amsterdam pada tahun 1939 hanya dalam waktu 6,5 tahun saja. Ia tidak langsung pulang ke Indonesia karena pada saat itu kapal terakhir yang berlayar ke Indonesia harus segera berangkat sebelum Perang Dunia II terjadi. Setelah akhirnya pulang ke Indonesia, ia bersama istrinya tinggal di Jalan Pahud De Montage, Bandung. Ia bekerja di Apotek Suniaraja yang berlokasi di Jalan Pasar Baru dan kemudian menjadi direktur di sana setelah 2 tahun. Apotek tersebut kemudian bergabung dengan Apotek Cikakak membentuk sebuah Perseroan Terbatas dengan Yap sebagai direkturnya. Selain dalam bidang usaha apotek, Yap juga tertarik pada bidang politik. Ia bertemu dengan Soekarno dan Mohammad Hatta melalui Mr. Sartono (salah satu tokoh penting dalam PNI) dan mulai ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia bersama mereka (hlm. 5-10).

60 2.7.3. Peran dalam Memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia

Perasaan Yap yang tidak senang terhadap kesombongan orang Belanda tumbuh sejak usianya 14 tahun. Hal tersebut muncul ketika para pedagang Belanda dari

Jacobson Borsumij Semarang datang ke rumah Yap untuk melakukan

perundingan dagang dengan ayahnya. Ketika memasuki rumah, para pedagang tersebut sama sekali tidak melepas topi mereka dan bahkan mereka mengangkat kaki di atas meja ketika duduk. Ayah Yap tidak menghiraukan sikap mereka tersebut karena sudah mengetahui sikap mereka yang ingin menunjukkan bahwa mereka adalah penguasa di negeri ini. Namun, Yap yang melihat sikap tersebut merasa tersinggung dan dengan berani ia melepas topi mereka serta menurunkan kaki mereka dari atas meja. Para pedagang tersebut terkejut melihat tindakan Yap dan sejak saat itu mereka tidak pernah melakukan hal tersebut lagi ketika mengunjungi ayah Yap.

Yap sudah menaruh simpati terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia yang dipimpin oleh Soekarno dan Mohammad Hatta sejak ia berumur 18 tahun. Hal tersebut membuatnya tertarik dengan dunia politik sehingga ia membaca banyak buku tentang politik ketika ia kuliah di Belanda. Lalu, ia juga ikut persidangan yang dilakukan oleh mahasiswa Indonesia di sana yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Pengalaman yang ia alami tersebut membuat Yap terjun ke dunia politik sambil dibimbing oleh Mr. Sartono (hlm. 14-15).

61 2.7.3.1. Menjadi Anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP)

Pada tanggal 7 Agustus 1945, PPKI dibentuk dengan Soekarno sebagai ketuanya dan Mohammad Hatta sebagai wakil ketuanya. Yap terpilih menjadi anggota PPKI mewakili etnis Tionghoa dan dengan usianya yang masih 33 tahun saat itu membuatnya menjadi anggota termuda di sana.

Pada tanggal 17 Agustus 1945 setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dibacakan oleh Soekarno, mereka merayakan Hari Kemerdekaan di rumah Yap yang saat itu berlokasi di Jalan Naripan 31, Bandung. Mereka minum 1 botol champagne bersama untuk menunjukkan kegembiraan mereka terhadap perjuangan mereka yang tidak sia-sia dalam memerdekakan Indonesia.

Keesokan harinya, Yap menghadiri sidang PPKI yang dilaksanakan di Gedung Pejambon, Jakarta. Topik dalam sidang tersebut adalah membahas dan mengesahkan UUD 1945, memilih presiden dan wakil presiden, dan menetapkan KNIP sebagai pembantu presiden untuk sementara waktu. Sidang tersebut dihadiri oleh 27 anggota (termasuk 6 anggota tambahan) dengan Soekarno dan Mohammad Hatta sebagai ketua sidang serta Prof. Dr. Mr. Soepomo sebagai sekretaris. Dalam sidang tersebut, Yap bersama anggota lainnya mengubah beberapa bagian dari pembukaan dan isi UUD 1945 yang dirumuskan oleh BPUPKI sebelumnya. Setelah itu, mereka mengesahkan UUD 1945 sebagai dasar hukum negara Indonesia.

62 Gambar 2.58. Yap (berhadapan dengan Soekarno) saat Pengesahan UUD 1945

(https://www.tribunnewswiki.com/2019/05/31/tribunnewswiki-badan-penyelidik-usaha-usaha-persiapan-kemerdekaan-indonesia-bpupki, 2019)

Setelah itu, saat mereka membahas tentang siapa yang akan menjadi presiden dan wakil presiden, Yap merupakan salah satu anggota yang mengusulkan Soekarno dan Mohammad Hatta untuk menjadi presiden dan wakil presiden. Namun pada saat acara pengangkatan Soekarno dan Mohammad Hatta mejadi presiden dan wakil presiden, ia tidak dapat menghadirinya karena harus pulang ke Bandung untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi di Bandung oleh massa akibat proklamasi kemerdekaan.

Selama menjadi anggota PPKI, Yap berkenalan dengan anggota lainnya, seperti K. R. T. Dr. Radjiman Widyodiningrat asal Solo, Dr. Sam Ratulangi asal Minahasa, dan Mr. Latuharhary asal Maluku. Setiap sidang PPKI, Yap selalu duduk di sebelah Mr. Latuharhary dan berhadapan dengan Soekarno, Mohammad Hatta, dan Prof. Dr. Mr. Soepomo.

63 Pada tanggal 19 Agustus 1945, PPKI mengadakan sidang kembali dan Yap hadir dalam sidang tersebut. Pada sidang tersebut, Yap bersama anggota lainnya berhasil menetapkan pemerintah daerah dan kementrian negara. Mereka memutuskan bahwa daerah Indonesia dibagi menjadi 8 provinsi yang masing-masing dipimpin oleh gubernur dan setiap provinsi dibagi atas keresidenan yang dipimpin oleh residen. Selain itu, gubernur dan residen akan dibantu oleh Komite Nasional Daerah. Sedangkan untuk kementrian negara, mereka memutuskan bahwa pemerintahan Indonesia dibagi menjadi 12 departemen kementrian. PPKI mengadakan sidang lagi pada tanggal 22 Agustus 1945, di mana mereka berhasil menetapkan Komite Nasional, Partai Nasional Indonesia (PNI), dan Badan Keamanan Rakyat (BKR).

Gambar 2.59. Yap (Ke-4 dari Kanan) dalam Sidang PPKI Tanggal 22 Agustus 1945

(https://www.kompasiana.com/dekisugi/581206d7929373da27bd7cd2/hasil-rapat-ppki-tanggal-22-agustus-1945, 2016)

64 PPKI secara resmi dibubarkan pada tanggal 29 Agustus 1945. Pada saat yang sama, KNIP mulai dibentuk untuk membantu presiden dalam menjalankan tugasnya seperti yang sudah dijelaskan pada sidang pertama PPKI. Yap ditunjuk kembali menjadi anggota KNIP untuk mewakili etnis Tionghoa (hlm. 16-31).

2.7.3.2. Menjadi Anggota Partai Nasional Indonesia (PNI)

Sebelum bergabung dengan PNI, Yap sudah mengenal beberapa anggota dari partai tersebut di Yogyakarta, seperti Mangun Sarkoso dan Mr. Wilopo serta ketua partai saat itu, yaitu Sidik Djojosukarto. Yap bahkan sudah mengikuti beberapa rapat PNI sebelumnya melalui Mr. Sartono. Yap juga tertarik dengan asas PNI yang bersifat marhaenisme (mengutamakan kepentingan rakyat) dan nasionalisme (rasa kebangsaan). Karena ketertarikan Yap yang sungguh-sungguh terhadap cita-cita PNI serta pengalamannya mengikuti rapat partai, maka akhirnya ia terpilih menjadi anggota PNI.

Setelah kantor pusat PNI pindah ke Jakarta, Yap diangkat menjadi anggota Dewan Partai yang terdiri dari 11 anggota dan dipimpin oleh Sidik Djojosukarto. Lalu, ia diminta Sidik atas nama Dewan Pimpinan PNI untuk memimpin seksi ekonomi. Awalnya ia menolak permintaan tersebut karena fakta bahwa ia beretnis Tionghoa dan mengetahui sebagain besar masyarakat Tionghoa adalah pedagang membuatnya takut akan menimbulkan conflict of interest. Namun, penolakan tersebut tidak diterima oleh Dewan Pimpinan dan mereka tetap mendesak Yap. Akhirnya

65 Yap menerima permintaan tersebut. Melihat Dewan Pimpinan PNI dapat memberikan kepercayaan penuh kepada warga Tionghoa seperti Yap membuat Yap percaya bahwa mereka memang tidak memandang SARA dalam menunjuk seseorang. Sebenarnya Yap juga pernah ditawari Sidik untuk memegang jabatan menteri, namun ia menolaknya karena ia sibuk dengan pekerjaannya sendiri (apoteker), partai, DPR, organisasi sosial, kegiatan gereja, dan perguruan tinggi.

Gambar 2.60. Yap (Tanda “X”) dalam Rapat PNI di Surabaya Tahun 1952

(http://docplayer.info/62004000-Bab-iii-aktivitas-sosial-politik-yap-tjwan-bing-tahun.html, 2017)

Pada suatu hari, Dewan Partai PNI membahas soal sistem

nivellering (persamaan) pada sektor perdagangan antara golongan pribumi

dengan non-pribumi. Yap mengusulkan sistem nivellering tersebut dilaksanakan dengan mempercepat perdagangan golongan pribumi dan memperlambat perdagangan golongan non-pribumi agar tingkat perdagangan dari kedua golongan tersebut dapat saling bertemu di satu titik. Usul tersebut benar-benar dipertimbangkan oleh Dewan Partai dan

66 Dewan Pimpinan PNI. Setelah itu, usul Yap tersebut diterima oleh menteri perdagangan pada saat itu, Iskak Tjokrohadisuryo. Hal ini, menurut Yap, menunjukkan bahwa mereka merupakan orang-orang yang tidak mengenal diskriminasi dan sungguh-sungguh memikirkan jalan terbaik untuk kepentingan bangsa dan negara Indonesia (hlm. 32-37).

2.7.3.3. Menjadi Anggota DPR-RIS dan DPR-RI Kesatuan

Yap bersama Siauw Giok Tjhan (anggota KNIP yang beretnis Tionghoa juga) diangkat oleh KNIP di Yogyakarta menjadi anggota DPR-RIS di Jakarta mewakili masyarakat etnis Tionghoa. Lalu, DPR-RIS berubah menjadi DPR-RI Kesatuan pada tanggal 17 Agustus 1950 dengan Yap tetap menjadi salah satu anggotanya.

Awalnya, Yap yang mewakili fraksi PNI ditempatkan di seksi kehakiman. Tapi, ia merasa tidak cocok dalam seksi tersebut dan akhirnya dipindahkan ke seksi keuangan yang saat itu dipimpin oleh Mr. Jusuf Wibisono dari partai Masyumi. Tugas utama dari seksi ini adalah membahas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebelum dibahas pada sidang DPR. Selain itu, sebagai anggota DPR seksi keuangan Yap juga mendapat tugas dari Dewan Pimpinan PNI untuk memberikan catatan pada setiap undang-undang yang akan didiskusikan pada sidang DPR untuk dipelajari oleh anggota PNI lainya.

Setiap hari Yap menghadiri sidang DPR untuk membahas rancangan undang-undang dari pemerintah serta memecahkan

67 permasalahan di bidang politik, ekonomi, sosial, dan lain sebagainya. Kesibukannya menjadi anggota DPR dan Dewan Pimpinan PNI membuat Yap harus menyerahkan usaha apotek dan pabrik pastilles di Bandung kepada istrinya.

Yap sering diutus Dewan Pimpinan PNI untuk mengunjungi daerah lain. Pada suatu hari, ia bersama Sarino Mangunpranoto pergi ke Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali untuk menjelaskan strategi PNI kepada PNI daerah serta mengetahui keinginan mereka. Yap pernah menjadi ketua sidang paripurna dalam kongres PNI yang dilaksanakan di Surabaya.

Pada tahun 1951, Yap diutus oleh Sidik (Ketua Umum PNI) pergi ke Jepang untuk observasi kemajuan industri di sana. Yap dan istrinya pun berangkat ke Jepang untuk menjalankan tugasnya serta melihat kehidupan politik dan sistem perburuhan di sana. Di sana, Yap bertemu dengan Mr. Soedjono yang merupakan Duta Besar Republik Indonesia di Jepang dan juga anggota PNI. Melihat keadaan di Jepang, Yap menilai bahwa kemajuan industri di sana sangat pesat mengingat kerugian dan kerusakan besar yang dialami Jepang saat Perang Dunia II. Menurutnya faktor utama dari kemajuan yang pesat tersebut adalah sifat rakyat Jepang yang pekerja keras, rajin, dan cerdas. Hal ini ia sampaikan kepada anggota DPR lainnya ketika ia pulang ke Indonesia. Ia berharap agar masyarakat Indonesia dapat meniru sifat pekerja keras dari masyarakat Jepang.

68 Pada tahun 1953, Yap bersama istrinya pergi ke Eropa dan Amerika Serikat untuk observasi keadaan sosial dan ekonomi di sana. Saat mereka berkunjung ke Jerman, Yap bertemu A. Maramis yang merupakan Duta Besar Republik Indonesia di Jerman sekaligus salah satu anggota PNI. Maramis menjelaskan kepada Yap bahwa pertumbuhan ekonomi di Jerman sangat pesat. Sama seperti Jepang, Jerman juga kalah dalam Perang Dunia II dan mengalami kerusakan yang besar. Setelah itu, Yap dan istrinya pergi ke Amerika Serikat untuk menghadiri Sidang Umum PBB yang diselenggarakan di New York (hlm. 42-53).

Dalam dokumen BAB II TINJAUAN PUSTAKA (Halaman 52-64)

Dokumen terkait