B. K.H. AHMAD DAHLAN
2. Latar belakang pendidikan K.H. Ahmad Dahlan
Muhammad Darwis dalam mengecap pendidikan tidak secara formal, bahkan Muhammad Darwis tidak menuntut ilmu dalam system pendidikan colonial namun tidak berarti Darwis tidak menuntut pengetahuan. Sebagai alternative, oleh ayahnya ia dididik sendiri melalui cara pengajian, yaitu pendidikan dasar keagamaan yang diberikan secara individual dengan menirukan kalimat-kalimat atau bacaan yang diajarkan oleh ayahnya.
Pada abad ke-19 memang berkembang suatu tradisi mengirim anak kepada guru untuk menuntut ilmu. Pada masa itu menurut Steenbrink ada lima kategori
9
MT. Arifin, Gagasan Pembaharuan Muhammadiyah, (Jakarta:Dunia Pustaka, 1987), h. 77.
guru: guru ngaji Al-Qur‟an, guru kitab, guru tarekat, guru ilmu gaib dan guru yang tidak menetap disuatu tempat.10 Dari kelima kategori tersebut Darwis belajar Al-Qur‟an kepada ayahnya sendiri, sedang ia mengaji kitab kepada guru yang lain seperti ia belajar fiqih (hukum Islam) kepada K.H. Muhammad Shaleh, dan Nahwu (sintaksis bahasa Arab) kepada K.H. Muhsin. Keduanya adalah kakak Ipar Muhammad Darwis sendiri. Ia juga berguru kepada K.H. Muhammad Nur, dan K.H. Abdul Hamid dalam berbagai ilmu.
Dengan mempelajari ilmu-ilmu tersebut maka Darwis telah memasuki suatu system pendidikan Islam tradisional yang berlangsung pada zaman itu, dan dengan demikian maka dasar-dasr pemikiran keilmuan yang sesuai dengan system pengetahuan tersebut telah dikuasai.
Pada tahun 1889 M, ia dikawinkan dengan siti Walidah, putri dari K.H. Muhammad Fadil, kepala penghulu kesultanan Yogyakarta. Jadi siti Walidah itu masih sepupu Muhammad Darwis.11 Dari pernikahannya ini Muhammad Darwis memperoleh empat orang putra dan dua orang putri. Walaupun Muhammad Darwis pernah menikah dengan empat wanita lainnya yaitu Nyai Abdullah, Nyai Rum, Nyai Aisiyah, dan Nyai Solihah, namun pernikahannya dengan siti Walidah inilah yang paling lama, bahkan siti Walidah menjadi pendamping Muhammad Darwis hingga wafat
Beberapa bulan setelah pernikahannya, atas anjuran ayah bundanya, Muhammad Darwis menunaikan ibadah haji. Ia tiba di Makkah pada bulan Rajab 1308 H / 1890 M. setelah menunaikan umrah ia bersilaturahmi dengan para ulama Indonesia maupun Arab yang telah dipesankan ayahnya. Ia juga rajin belajar menambah ilmu, antara lain kepada K.H. Mahfudz Termas, K.H. Nahrowi Banyumas, K.H. Muhammad Nawawi Banten, dan juga kepada para ulama Arab di Masjidil Haram. Ia juga mendatangi ulama mazhab Syafi‟I Bakri Syata‟, dan mendapat ijazah dengan nama Ahmad Dahlan. Setelah musim haji selesai ia pulang, dan tiba di Yogyakarta pada minggu pertama bulan Sapar 1309 H / 1891 M. selain berganti nama ia juga mendapat tambahan ilmu. Muhammad Darwis
10
MT. Arifin, Gagasan Pembaharuan Muhammadiyah, h. 78. 11
Yunus Salam, Riwayat Hidup K.H. Ahmad Dahlan, Amal dan Perjuangannya, (Jakarta, Depot Pengajaran Muhammadiyah, 1968), h. 5.
lalu membantu ayahnya mengajar santri-santri remaja. Akhirnya juga dipercaya mengajar para santri dewasa maupun tua, dan kemudian mendapat sebutan sebagai K.H. Ahmad Dahlan.12
Ahmad Dahlan pada masa itu disebut sebagai kyai sekaligus sebagai ulama. Yaitu orang yang saleh dan menekuni serta memiliki wawasan keilmuan tentang agama Islam. Istilah tersebut searti dengan istilah intelektual. Karena ilmu yang berkaitan dengan agama Islam sangat luas, maka biasanya para kyai mempunyai kesenangan atau mempunyai minat untuk mendalami salah satu dari beberapa cabang ilmu. Tatkala bermukim di Makkah, Dahlan tertarik untuk mendalami ilmu falaq. Itulah sebabnya masyarakat mengenal Dahlan sebagai ulama falaq.
Pada tahun 1896 M, K.H. Abu Bakar wafat. Jabatan khotib Masjid besar oleh kesultanan Yogyakarta lalu dilimpahkan kepada K.H. Ahmad Dahlan dengan gelar Khatib Amin, yang diberi tugas:
a. Khutbah Jum‟at saling berganti dengan kawannya delapan orang khatib. b. Piket diserambi masjid dengan kawannya enam orang sekali dalam
seminggu.
c. Menjadi dewan Agama Islam Kraton.
Semua tugas yang dilimpahkan kepadanya dijalankan dengan baik. Pada kesempatan tersebut ia menggunakan waktunya untuk menyalurkan ilmunya dalam setiap tugas piketnya. Para petugas piket yang lain tidak menggunakan waktu untuk mendakwahkan agama Islam. Padahal sepanjang hari banyak orang yang datang dan beristirahat diserambi masjid besar. Mereka itu kebanyakan bukan umat yang dapat mengaji di surau-surau karena desakan ekonomi. Khatib Amin tekun dan sabar memberikan pelajaran Islam kepada mereka, dengan berbagai ajaran Islam yang menyentuh kehidupan sehari-hari.
Pekerjaan K.H. Ahmad Dahlan sebagai Khatib Masjid besar tidak banyak menyita waktu. Giliran khutbahnya rata-rata dua bulan sekali, dan piketnya di serambi Masjid besar itu hanya sekali dalam seminggu. Ia mendapat gaji tujuh gulden sebulannya. Ia juga berdagang batik ke kota-kota di Jawa. Ia pernah diberi
12
modal untuk berdagang oleh orang tuanya, namun sebagian uangnya dibelanjakan untuk membeli kitab-kitab Islam. Dalam perjalanan dagangnya tersebut ia lalu singgah bersilaturahmi dengan para alim setempat, membicarakan perihal agama Islam dan masyarakatnya. Ada yang sepikiran, ada pula yang berlainan. Perjalanan demikian di maksudkan untuk mempelajari sebabnya kemunduran kaum muslimin dan bagaimana upaya mengatasinya.
3. Karya-karya K.H. Ahmad Dahlan
Karya-karya K.H. Ahmad Dahlan mencakup ketujuh belas ayat al-Qur‟an dalam bangunan pemikiran K.H. Ahmad Dahlan ini menyemangati dan menginisasikan perjuangan Muhammadiayah; menjadi pedoman pendiri dan para pengikut Muhammadiyah, lalu diwariskan kepada generasi-generasi berikutnya. Ajaran-ajaran K.H. Ahmad Dahlan dipandang sebagai benih dan menjadi lentera pengembangan pendidikan dalam lembaga pendidikan Muhammadiyah. Semangat ini selalu dihidupkan oleh warga Muhammadiyah diwariskan dari generasi ke generasi, agar tidak berhenti memperjuangkan dunia pendidikan yang bersendikan kepada al-Qur‟an, sunnah Rasulullah, kebangsaan, keilmuan, dan keindonesiaan.
Kelompok Ayat 1.
Membersihkan hati “takutlah menjadi hawa nafsunya sebagi sesembahannya?” QS al-Jatsiyah: ayat 23, cinta kepada selain Allah itu sama dengan mencintai Allah ketimbang yang lain” QS at-Taubah ayat 24 dan al-Baqarah ayat 165. Hawa nafsu ibarat berhala musyrik karena menyesatkan, membuatnya tidak suka berfikir kebenaran, akibatnya membahayakan baginya. Maka tafakkur,muhasabah, muraqabah, dan hanya tunduk kepada al-Qur‟an dan sunnah Rasul, bertakwa kepada Allah, membuang semua kebiasan buruk berupa amalan, keinginan, perasaan, kepercayaan, pendapat, dan semua yang ada di hati merupakan jalan membersuhkan jiwa dan melawan hawa nafsu.13
Kelompok Ayat 2
13
Ridjaluddin, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Pusat Kajian Islam FAI Uhamka, 2009). Cet 1. h. 441-442
Menggempur hawa nafsu mencintai harta benda QS al-Fajr ayat 17-23, agar siapapun memikirkan akibat yang akan diterima di hadapan Allah bila manusia lupa menjalankan perintah surat al-Ma‟un.
Kelompok Ayat 3
Orang yang mendustakan agama. Sebelumnya dijelaskan cara mempelajari al-Qur‟an. Menurut K.H. Ahmad Dahlan, dimulai membaca satu, dua, tiga ayat dengan benar, memahami artinya satu demi satu, lalu memahami tafsir dan keterangan-keterangan didalamnya, mendalami makna yang tersurat-tersirat. Bila isinya berupa larangan, sesegera mungkin ditinggalkan. Bila di dapati perintah wajib, sesegera mungkin dilaksanakan sungguh-sungguh.
Orang yang mendustakan agama adalah orang yang menghambakan hawa nafsu, mencintai harta benda berlebihan, tidak memperhatikan nasib anak yatim dan enggan membantu orang miskin. Orang itu akan dimasukkan ke neraka, walaupun telah mengaku melaksanakan shalat dengan baik, QA al-Ma‟un ayat 1-7.14
Kelompok ayat 4
Beragama lurus kepada Allah sebagai kecenderungan ruhani untuk berpaling meninggalkan nafsu, menjadi suci, bersatu dari tawanan benda-benda, naik ketingkat kesempurnaan ruhani. Jiwanya menghadap Allah dan berpaling dari yang lainnya, bersih tanpa terpengaruh apapun hanya tertuju kepada Allah.15
Kelompok ayat 5
Pembebasan kemiskinan penderitaan, diskriminasi. Ayat ini menggoncangkan hati K.H. Ahmad Dahlan untuk melakukan perubahan besar dalam dirinya, sekaligus mengorbankan hartanya untuk perubahan besar dalam dirinya, sekaligus mengorbankan hartanya untuk perubahan dan pembaharuan. Harta bisa menjadi fitnah atau batu ujian dalam kehidupan dunia akhirat, bisa
14
Ridjaluddin, Filsafat Pendidikan Islam, Cet 1. h. 441-442 15
menjadi perusak agama, akhlak pribadi, runah tangga, masyarakat dan Negara. Harta juga bisa menimbulkan kebaikan dan alat untuk mencapai kebahagiaan.16
Kelompok ayat 6
Surat al-Ashr dianggap sangat penting diajarkan sampai 7 bulan kepada kaum laki-laki tiap jam. 07.00 pagi kepada „Aisyiyah jam 08.00 pagi, setelah dzuhur kepada para pemudi. Mereka disuruh menulis dan menghapalkannya. Isinya secara umum adalah pandai mengatur waktu dengan benar, dimulai dengan memperhatikan waktu sebagai awal dan akhir pekerjaan agar manusia dapat mencari kenikmatan dunia akhirat.17
Kelompok ayat 7
Iman, Islam dengan benar, bebas dari syirik, bid‟ah, dan khurafat. Iman akan diuji, iman dihanti mempengaruhi perasaan pikiran, kemauan serta sifat-sifat utama: melimpahkan budi luhur, mendorong berani berkurban jiwa raga harta membela agama Allah. Orang mukmin harus sabar, teguh, kuat menerima ujian dan cobaan.18
Kelompok ayat 8
Beramal shaleh, senantiasa memperhatikan hidup dalam iman, Islam dan ihsan.19
Kelompok ayat 9
Saling menasihati dalam kebenaran, QS al-Ashr ayat 1-3, bagian-bagian pentung dalam dirinya, bersama lingkungannya, dan sesamanya. Saling menasehati dalam kebenaran ini diartikan sebagai upaya untuk melakukan kritik yang konstruktif, bukan untuk mencari kesalahan orang lain, dalam usaha
16
Ridjaluddin, Filsafat Pendidikan Islam, Cet 1. h. 447 17
Ridjaluddin, Filsafat Pendidikan Islam, Cet 1. h. 448 18
Ridjaluddin, Filsafat Pendidikan Islam, Cet 1. h. 449 19
memperbaiki kehidupan, agar manusia tidak tersesat, dan membahayakan bagi kehidupan manusia, individual maupun kolektif.20
Kelompok ayat 10
Wasiat kepada kesabaran disamping iman dan amal shaleh selama tujuh buah surat al-Ashr ini dibacakan oleh K.H. Ahmad Dahlan dalam setiap pertemuan dengan siapapun.21
Kelompok ayat 11
Berjihad dengan harta benda dan jiwa demi kemerdekaan Indonesia dari penjajahan, penindasan, kebodohan dan kemerosotan moral. Jihad adalah perjuangan meraih sukses hidup di dunia-akhirat dengan selalu menguji kesabaran dan pahit getirnya perjuangan. Perjuangan yang sungguh-sungguh belum tentu berhasil, dilakukan tanpa henti, simultan apalagi bila tanpa adanya upaya secukupnya. Oleh karena itu, jihad dalam hal ini bila tidak seluruhnya dibenarkan, sekali waktu juga harus dengan menggunakan jiwa raga dan persenjataan bila perlu.22
Kelompok ayat 12
Masuk dan berada dalam Islam secara penuh. Penyerahan total manusia kepada Allah itu menjadi syarat mutlak bagi kehidupan umat beragama secara mutlak seperti yang telah dilakukan nabi Ibrahim, Muhammad dan para sahabat besar terdahulu.23
Kelompok ayat 13
Berbuat kebajikan kepada seluruh isi alam. Berbuat kebajikan, al-birr, berarti iman kepada Allah, hari akhir, malaikat, kitab, dan beberapa nabi. Al-Birr, juga berarti memberikan harta yang dicintainya kepada sanak kerabat, anak yatim,
20
Ridjaluddin, Filsafat Pendidikan Islam, Cet 1. h. 452 21
Ridjaluddin, Filsafat Pendidikan Islam, Cet 1. h. 454 22
Ridjaluddin, Filsafat Pendidikan Islam, Cet 1. h. 455 23
fakir miskin, ibn sabil para peminta-minta, pembebasa budak. Mendirikan shalat, membayar zakat, menepati janji, sabar dan lapang dada dari kesempitan.24
Kelompok ayat 14
Perbuatan manusia diikuti oleh balasan kebajikan maupun keburukan diakherat, al-Qari‟ah, ketika dimaknai “hari kiamat” memberikan konteks bahwa di ujung kehidupan dunia ini ada lagi kehidupan dunia ini ada lagi kehidupan yang abadi sebagai tempat menerima sebagai tempat menerima upah kebajikan maupun keburukan ketika hidup di dunia.25
Kelompok ayat 15
Beramal merupakan kelanjutan dari perbuatan lisan dan pemahaman. Pemahaman tentang kebenaran, termasuk iman, dimulai dari kesadaran diri sehubungan dengan perintah-perintah Allah yang harus dikerjakan dan larangan-larangan Allah yang harus ditinggalkan.26
Kelompok ayat 16
Menjaga diri dari api neraka, tidak boleh lupa melaksanakan kewajiban dan meninggalkan laranganya baru menyuruh orang lain. Jika hanya pandai menyuruh tanpa bisa melaksanakannya sendiri, sebenarnya ia lupa diri mengikuti kesenangan duniawi dan hawa nafsu.27
Kelompok ayat 17
Surat al-Hadid ayat 16. Sudah waktunya mengingat Allah dengan khusyu‟ dalam dzikir, fakir, dan tindakan K.H. Ahmad Dahlan terbebani dengan pertanyaan-pertanyan yang diajukan oleh al-Qur‟an tersebut dan dicoba dengan menjatuhi zaman yang terjadi saat beliau hidup.28
24
Ridjaluddin, Filsafat Pendidikan Islam, Cet 1. h. 458 25
Ridjaluddin, Filsafat Pendidikan Islam, Cet 1. h. 458-459 26
Ridjaluddin, Filsafat Pendidikan Islam, Cet 1. h. 459 27
Ridjaluddin, Filsafat Pendidikan Islam, Cet 1. h. 460 28
4. Kontribusi pendidikan K.H. Ahmad Dahlan terhadap masyarakat Banyak aktivitas yang dilakukan K.H. Ahmad Dahlan dalam hubungannya dengan pendidikan Islam. Aktivitas K.H. Ahmad Dahlan tersebut antara lain:
1. Mengubah dan membetulkan arah kiblat yang tidak tepat menurut mestinya.
Umumnya masjid-masjid dan langgar-langgar di Yogyakarta menghadap Timur dan orang-orang shalat menghadap kearah Barat lurus. Padahal kiblat yang sebenarnya menuju ka‟bah dari tanah Jawa haruslah miring ke Utara kurang-lebih 24 derajat dari sebelah Barat. Berdasarkan ilmu pengetahuan tentang ilmu falak itu. Orang tidak boleh menghadap kiblat menuju barat lurus, melainkan harus miring ke Utara kurang-lebih 24 derajat. Oleh sebab itu, K.H. Ahmad Dahlan mengubah bangunan pesantrennya sendiri, supaya menuju kearah kiblat yang betul. Perubahan yang diadakan oleh K.H. Ahmad Dahlan itu mendapat tanmtangan keras dari pembesar-pembesar masjid dan kekuasaan kerajaan.
2. Mengajarkan dan menyiarkan agama Islam dengan populer bukan saja di pesantren.
Melainkan ia pergi ketempat-tempat lain dan mendatangi berbagai golongan. Bahkan dapat dikatakan bahwa K.H. Ahmad Dahlan adalah bapak Mubalig Islam di Jawa Tengah. Sebagaimana Syekh M. Jamil Jambek sebagai bapak Mubaligh di Sumatera Tengah.29
3. Membebaskan masyarakat Islam dari khurafat, bid‟ah, dan tahayul K.H. Ahmad Dahlan hidup pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Zaman itu merupakan zaman peralihan artinya, kebiasan hidup pada abad ke-19 yang sudah berlalu, ternyata masih berlaku. Pandangan dan kebiasaan pada abad
29
Hamdani Ihsan dan H.A. Fuad Ihsan, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: CV Pustaka Setia 2007). H. 276
ke-20 yang merupakan zaman baru, sudah mulai tampak dan berkembang dalam masyarakat.30
Pada tahun 1902, ketika K.H. Ahmad Dahlan berusia 34 tahun, ia berangkat untuk kedua kalinya ke Makkah. Ketika itu beliau hanya bermukim dua tahun. Tetapi, waktu pendek itu beliau pergunakan dengan secermat-cermatnya. Kepergiannya ke Tanah Suci itu untuk memperkuat pendiriannya dalam pembaharuan pengalaman agama Islam.\Diyakini, bahwa selama tinggalnya di kota suci Makkah itulah Ahmad Dahlan bertemu dengan ide-ide pembaruan Islam yang dipelopori Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha.31
Pada tahun 1904 K.H. Ahmad Dahlan pulang ketanah air. Hati dan pikirannya penuh semangat untuk segera membebaskan masyarakat Islam Indonesia dari berbagai hambatan, seperti kebekuan, kemandekan, dan kemunduran yang merugikan. 32
4. Mengajar
K.H. Ahmad Dahlan mendirikan persyerikatan Muhammadiyah secara bertahap dan berencana. Mula-mula K.H. Ahmad Dahlan mempraktikan dahulu apa yang selalu dikemukakannya. K.H. Ahmad Dahlan selalu menganjurkan agar pengajaran agama meninggalkan cara lama dan memulai cara baru dan para Kiai giat mendatangi murid dan tidak hanya menunggu datangnya santri di pesantren atau suraunya. K.H. Ahmad Dahlan memberi contoh langsung mengajar dasar agama Islam diberbagai sekolah negeri, seperti Sekolah Guru (Kweekschool) di Jetis, Yogyakarta, dan sekolah Pamong Praja atau Osvia (Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren).
30
Mardanas Safwan dan Sutrisno Kutoyo, K.H. Ahmad Dahlan Riwayat Hidup dan Perjuangan,(Jakarta: Mutiara Sumber Widya 1999), h. 14
31
Abuddin Nata,Tokoh-tokoh Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia,(Jakarta: Raja Grapindo Persada) h. 99
32
Mardanas Safwan dan Sutrisno Kutoyo , K.H. Ahmad Dahlan Riwayat Hidup dan Perjuangan, h. 37
K.H. Ahmad Dahlan sengaja mengajar para pemuda dan terutama para pelajar karena mereka di masa depan akan menjadi pemimpin bangsa.33
5. Mendirikan Organisasi
Dalam membahas gerakan pembaruan pendidikan Islam di Jawa dan Indonesia pada umumnya, gagasan utama K.H. Ahmad Dahlan tidak dapat dipisahkan dari motivasi didirikannya Muhammadiyah, terutama dengan gagasan pembaruan organisasi tersebut. Dalam usaha yang dilakukan Dahlan untuk memasukan pendidikan keagamaan kedalam sekolah sekuler Barat bersamaan dengan usaahanya memasukan materi pengajaran umum ke pesantren serta usahanya untuk merintis lembaga pendidikan madrasah. Melalui usaha-usahanya itu Dahlan mencita-citakan terbentuknya integrasi aqidah dan intelektual dalam diri anak didik.
Gagasan pembaruan Pendidikan Dahlan itu erat kaitanya dengan gagasan Muhammadiyah yang lahir dari persoalan adanya kenyataan tentang problematika pendidikan di kalangan orang pribumi yaitu terjadinya keterbelakangan pendidikan yang akut karena adanya dualisme model pendidikan yang masing-masing memiliki akar dan kepribadian yang bertolak belakang. Di satu pihak, pendidikan Islam yang berpusat di pesantren mengalami kemunduran karena terisolasi dari perkembangan pengetahuan dan perkembangan masyarakat modern, di pihak lain sekolah model Barat bersifat sekuler dan a-nasional, mengancam kehidupan batin para pemuda pribumi karena di jauhkan dari agama dan budaya negerinya.
Melihat kenyataan itu Dahlan berusaha untuk melakukan reformulasi gagasan tentang pendidikan dan melakukan reformulasi teknik dalam bidang pendidikan. Keinginan Dahlan dalam bidang pendidikan berkembang selama mengajar di pondoknya setelah pulang dari Makkah pada tahun 1905, kemudian di dorong dengan berdirinya organisasi Muhammadiyah. Gagasan Dahlan tentang pembaruan bidang pendidikan sangat didorong oleh ajaran agama. Sebagaimana
33
Mardanas Safwan dan Sutrisno Kutoyo, K.H. Ahmad Dahlan Riwayat Hidup dan Perjuangan, h. 41
telah kita ketahui, ayat Al-Qur‟an yang pertama kali diwahyukan Allah kepada Muhammad dimulai dengan kata “Iqra”, yang artinya “bacalah”.34
Upaya mewujudkan visi, misi dan tujuan pendidikan sebagaimana tersebut diatas dilaksanakanlah lebih lanjut melalui organisasi Muhammadiyah yang didirikannya. Salah satu program unggulan organisasi ini adalah bidang pendidikan.35
Dari sudut pandang keagamaan sesungguhnya pendirian Muhammadiyah yang dipetik dari gagasan asli Dahlan adalah:
1. Pendidikan Moral/ akhlaq, yaitu sebagai usaha menanamkan karakter manusia yang baik berdasarkan Al-Qur‟an dan Sunnah
2. Pendidikan individual, yaitu sebagai usaha untuk menumbuhkan kesadaran individual yang utuh, yang berkesimbangan antara perkembangan mental dan jasmani, antara keyakinan dan intelektual, antara perasaan dengan akal fikiran, serta antara dunia dengan akhirat. 3. Pendidikan kemasyarakatan, yaitu sebagai usaha untuk menumbuhkan
kesediaan dan keinginan hidup bermasyarakat.36
Ada beberapa hal yang melatarbelakangi K.H. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah ini:
1. Umat Islam tidak memegang tuntunan Al-Qur‟an dan hadits sehingga menyebabkan perbuatan syirik, bid‟ah, khurafat semakin merajalela serta mencemarkan kemurnian ajarannya.
2. Keadaan umat Islam sangat menyedihkan akibat penjajahan
3. Kegagalan institusi pendidikan Islam untuk memenuhi tuntutan kemajuan zaman merupakan akibat dari mengisolasi diri
4. Persatuan dan kesatuan umat Islam sebagai akibat lemahnya organisasi Islam yang ada
5. Munculnya tantangan dari kegiatan misi Zending yang dianggap mengancam masa depan umat Islam.37
34Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta, Departemen Agama RI, I982), h. 359. 35
Abuddin Nata,Tokoh-tokoh Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: Raja Grapindo Persada) h. 103
36
MT Arifin, Gagasan Pembaruan Muhammadiyah, op. cit. h. 205-206. 37
Hasbullah, dasar-dasar Ilmu Pendidikan, (Jakarta:Raja Grafindo Persada). Edisi revisi h. 270-271
44 BAB IV
PERBANDINGAN KONSEP PENDIDIKAN ISLAM MENURUT K.H. HASYIM ASY’ARI DAN K.H. AHMAD DAHLAN
A. Pendidikan Islam Menurut K.H. Hasyim Asy’ari dan K.H. Ahmad
Dahlan
1. Pendidikan Islam Menurut K.H. Hasyim Asy’ari
Pemikiran kependidikan seseorang atau suatu aliran dipengaruhi secara kuat oleh pandangannya tentang manusia. Meskipun semua pemikir atau semua aliran mengakui peranan sentral manusia dalam proses pendidikan, tetapi satu sama lain cenderung memperlihatkan perbedaan dalam memandang siapakah manusia itu. Atas dasar pandangan masing-masing mengenai aspek yang satu ini, setiap pemikiran kemudian memberikan tekanan dan corak yang berbeda pula dalam memandang dan merumuskan aspek-aspek lain dalam pendidikan, termasuk aspek peserta didik.1 Untuk berusaha menjawab asumsi diatas ternyata
yang ditemukan dalam konsep K.H. Hasyim Asy’ari adalah sama-sama menyajikan tentang Ulama. Mereka sama-sama berpendapat bahwa ulama sebagai simbol manusia secara umum dijadikan tipologi makhluk terbaik (khair al-bariyyah), sehingga derajatnya setingkat lebih rendah di bawah nabi. Alasan yang
1
Suwendi, Konsep Kependidikan KH. M Hasyim Asy’ari., (Jakarta: Lekdis, 2005), h. 60-61
paling mendasar adalah karena ulama sangat dekat (taqwa) dan yang paling takut
(khasyyah) kepada Allah SWT. Selain itu, K.H. Hasyim Asy’ari memaparkan
tingginya penuntut ilmu dan ulama dengan mengetengahkan dalil bahwa Allah mengangkat derajat orang yang berilmu dan beriman.2
Pemikiran pendidikan K.H. Hasyim Asy’ari dapat dimasukan kedalam garis mazhab Syafi’iyyah. Bukti kuat untuk menunjukan hal itu adalah K.H. Hasyim Asy’ari sering kali mengutip tokoh-tokoh Syafi’iyyah, ternasuk imam Syafi’i sendiri, ketimbang tokoh-tokoh mazhab lain. Menurut Abd al- Muidz Khan, dengan mengungkapkan ide-ide tokoh mazhab yang dianutnya, hampir dapat dipastikan itu memberi pengaruh terhadap pemikiran kependidikannya.3
Bagi K.H. Hasyim Asy’ari, keterpengaruhan dirinya terhadap tokoh-tokoh
mazhab Syafi’iyyah agaknya dimungkinkan oleh faktor pengalaman pendidikan, terutama sebelum keberangkatannya ke Makkah. Sebagaimana tergambarkan didalam biografi K.H. Hasyim Asy’ari, ia pada mulanya memperoleh pendidikan
keagamaan dari ayahnya, Abd al-Wahid, dan beberapa kyai pesantren di Jawa. Beberapa kyai itu merupakan penganut mazhab Syafi’i. Dengan demikian, K.H.
Hasyim Asy’ari menganut mazhab Syafiiyah itu sangat dimungkinkan.
Kecenderungan lain dalam pemikiran K.H. Hasyim Asyari adalah mengetengahkan nilai-nilai estetika yang bernafaskan sufistik. Kecendrungan kedua tokoh ini dapat terbaca dalam gagasannya, misalnya dalam tujuan menuntut