Awal mula perkembangan bank syariah di Indonesia dimulai pada awal tahun 1990-an. Bank syariah pertama yang ada di Indonesia yaitu Bank Muamalat Indonesia (BMI) yang diprakarsai oleh Majelis Ulama Indonesia.
Dengan mampu bertahannya BMI menghadapi krisis ekonomi pada tahun 1998, perkembangan perbankan syariah di Indonesia semakin pesat. Setelah berlakunya Undang-ndang No. 10 tahun 1998 mulai banyak berdiri Bank Umum Syariah (BUS) dan Unit Usaha syariah (UUS). Salah satu indikator untuk menilai semakin berkembangnya perbankan syariah di Indonesia adalah dengan mencermati bertambahnya jumlah jaringan kantor perbankan syariah.
Dalam tabel 1.1 diperlihatkan jumlah jaringan perbankan syariah dari tahun 2011-2015. Pada kurun waktu tahun 2011 sampai 2013 jumlah BUS masih menetap di angka 11 sampai pada akhirnya bertambah pada bulan juli 2014 menjadi 12 BUS.
Tabel 1.1
Jaringan Kantor Perbankan Syariah di Indonesia Jenis
2
Dengan berkembangnya perbankan syariah di Indonesia, konsep corporate social responsibility (CSR) juga berkembang pada perbankan
syariah. Beberapa tahun terakhir, berbagai bank syariah sudah mulai menunjukkan komitmennya untuk menerapkan praktik tanggung jawab sosial kepada para pemangku kepentingan mereka. Selain itu, perkembangan praktik dan pengungkapan CSR juga mendapat dukungan dari pemerintah, yaitu dengan dikeluarkannya Undang-Undang No 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas yang mulai diberlakukan tanggal 16 Agustus 2007, dimana dalam peraturan tersebut dinyatakan secara eksplisit bahwa CSR merupakan suatu kewajiban bagi perseroan (UU No 40 Tahun 2007).
Undang-undang tersebut tentu bukan hanya sekedar memberikan kewajiban bagi bank syariah untuk melaksanakan tanggung jawab sosial saja, akan tetapi juga mewajibkan bank syariah tersebut melaporkan pelaksanaan tanggung jawab sosialnya, dimana laporan tersebut dilaporkan pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Benar adanya jika CSR dan GCG merupakan dua hal yang sama pentingnya dan tidak terpisahkan, di Indonesia GCG diatur dalam Undang-Undang No. 27 tahun 2007 tentang perseroan Terbatas. Khusus pada perbankan syariah, diatur dalam pasal 34 Undang-Undang No. 21 tahun 2007 tentang perbankan syariah. Kemudian Bank Indonesia secara spesifik membuat aturan dalam Peraturan Bank Indonesia No. 11/33.PBI/2009 tentang Pelaksanaan GCG bagi Bank umum syariah dan dilengkapi oleh Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) dengan pedoman GCG Perbankan
3
Indonesia tahun 2004 dan Pedoman Good Governance Bisnis Syariah (GGBS) tahun 2011. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa implementasi Good Corporate Governance (GCG) di lembaga perbankan syariah
merupakan hal yang harus dilakukan oleh lembaga tersebut (Syukron, 2015).
CSR dalam perspektif Islam merupakan konsekuensi dari ajaran Islam itu sendiri, tujuan dari syariat Islam adalah maslahah sehingga bisnis adalah upaya untuk menciptakan maslahah, bukan sekedar mencari keuntungan.
Bisnis dalam Islam memiliki posisi yang sangat mulia karena bukan sekedar diperbolehkan, justru diperintahkan oleh Allah dalam AlQuran. Dalam pandangan Islam, kewajiban melaksanakan CSR bukan hanya menyangkut pemenuhan kewajiban secara hukum dan moral, tetapi juga strategi agar perusahaan dan masyarakat tetap berhubungan dengan baik untuk jangka panjang.
Nilai-nilai Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW dapat digunakan sebagai landasan tanggung jawab sosial perbankan sama seperti halnya pada perbankan konvensional. Konsep ini dalam Islam lebih menekankan bentuk ketaqwaan umat manusia kepada Allah SWT dalam bidang keuangan. Jadi dapat dikatakan bahwa nilai-nilai Islam memiliki hubungan yang relevan dan memiliki kontribusi terhadap konsep CSR yang telah berkembang hingga saat ini.
Dengan demikian, tantangan utama bank syariah saat ini diantaranya adalah bagaimana mewujudkan kepercayaan dari para stakeholder, dimana dengan hal tersebut diharapkan bank syariah mampu memobilisasi simpanan,
4
menarik investasi, menyalurkan pembiayaan, menanamkan investasi, sekaligus memperluas kesempatan kerja, membantu pemerintah membiayai defisit anggaran untuk pembangunan, dan mengakselerasi pembangunan ekonomi dengan baik (Setiawan, 2009). Dengan memiliki kepercayaan dari para stakeholder maka para stakeholder akan berkontribusi dengan baik.
Namun, ternyata masih ada bank syariah yang lebih mengutamakan untuk memaksimalkan keuntungan sebagaimana yang dilakukan bank-bank konvensional. Implementasi CSR cenderung bersifat mengasihani, responsif, berorientasi jangka pendek, dan kurang melibatkan masyarakat, jadi CSR dinilai hanya digunakan dalam keadaan darurat. Untuk itu CSR seharusnya dapat lebih diarahkan kepada pemerataan pemilikan (wealth) dan ke arah partispasi dan emansipasi yang berjangka panjang, jadi stakeholder bank syariah tidak hanya merasa memiliki tetapi benar benar memiliki.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan variabel islamic governance, stuktur kepemilikan saham, profitabilitas dan ukuran perusahaan.
Variabel islamic governance atau tata kelola Islam akan memberikan gambaran bagaimana tingkat keislaman pada Bank Umum Syariah (BUS) dengan melihat jumlah Dewan Pengawas Syariah (DPS), tingkat pendidikan, dan reputasi DPS. Menurut Charles Chariri (2012) dalam penelitiannya mengenai pengaruh Corporate Governance terhadap pengungkapan CSR studi kasus pada bank syariah di Asia yang hasil dari salah satu variabelnya yaitu Islamic Governance berpengaruh positif terhadap tingkat pengungkapan corporate social responsibility. Selain itu penelitian yang dilakukan oleh Dwi
5
Sudaryanti dan Yunita Eskadewi (2012) meneliti tentang pengaruh Corporate Governance terhadap tingkat pengungkapan CSR di Bank Syariah Malaysia,
yang hasilnya variabel Islamic Governance berpengaruh positif signifikan terhadap tingkat pengungkapan CSR. Oleh karena itu peneliti ingin meneliti bagaimana pengaruh Islamic governance terhadap pengungkapan CSR pada BUS di Indonesia.
Variabel selanjutnya dalam penelitian ini penulis memilih variabel kepemilikan manajerial, kepemilikan manajerial adalah kondisi yang menunjukkan bahwa manajer memiliki saham dalam perusahaan atau manajer tersebut sekaligus sebagai pemegang saham perusahaan. Varibel ini dipilih guna untuk membandingkan bagaimana struktur kepemilikan saham manajerial pada bank syariah yang terdaftar pada BUS. Struktur kepemilikan merupakan suatu mekanisme untuk mengurangi konflik antara manajemen dan pemegang saham. Anggraini (2006) menyatakan bahwa semakin besar kepemilikan manajer di dalam perusahaan, maka perusahaan akan semakin banyak mengungkapkan informasi sosialnya. Namun dalam penelitian yang dilakukan oleh Ratnawati (2013) menunjukkan hasil yang berbeda yaitu kepemilikan manajerial tidak memiliki pengaruh terhadap pengungkapan CSR yang objek penelitiannya perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI (Bursa Efek Indonesia), oleh karena itu peneliti ingin mengkaji bagaimana pengaruh kepemilikan manajerial terhadap pengungkapan CSR dengan objek yang berbeda yaitu Bank Umum Syariah.
6
Variabel profitabilitas sebagai variabel ke tiga dalam penelitian dipilih karena peneliti menganggap profitabilitas merupakan variabel pokok dalam sebuah laporan keuangan. Perusahaan akan mengungkapkan laporan keuangan yang berhubungan dengan salah satunya profitabilitas disamping hal-hal lain pada setiap periodenya. Profitabilitas merupakan faktor yang membuat manajemen menjadi bebas dan fleksibel untuk mengungkapkan pertanggungjawaban sosial kepada pemegang saham. Profitabilitas dan pengungkapan CSR memiliki keterkaitan satu sama lain. Profitabilitas yang tinggi memicu para stakeholder untuk meningkatkan kepentingan dan harapan mereka akan transparansi yang seharusnya dilakukan oleh perusahaan. Pengungkapan CSR adalah bentuk implementasi perusahaan untuk memenuhi harapan dari para stakeholder yang ingin mendapatkan informasi lebih terkait kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan.
Oleh karena itu, dapat dinyatakan bahwa semakin tinggi tingkat profitabilitas yang dihasilkan perusahaan maka pengungkapan CSR akan cenderung semakin besar (Putri, 2013: 4). Dalam penelitian Putri (2013) menemukan hasil bahwa profitabilitas yang diukur menggunakan variabel ROA, dan NPM berpengaruh positif terhadap pengungkapan CSR, sedangkan ROE berpengaruh negatif tehadap pengungkapan CSR dengan objek penelitian perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI.
Variabel ukuran perusahaan merupakan variabel yang paling banyak diunakan untuk menjelaskan pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. Secara umum perusahaan besar memiliki kelepngkapan
7
informasi yang lebih luas dibandingka perusahaan kecil. Semakin besar ukuran perusahaan maka akan semakin besar kemungkinan perusahaan tersebut untuk melaksanakan aktivitas CSR. Penelitian mengenai ukuran perusahaan terhadap CSR juga pernah dilakukan oleh Barnas dkk (2016) tentang pengaruh profitabilitas dan ukuran perusahaan terhadap pengungkapan CSR dimana hasilnya menunjukkan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh signifikan dengan arah positif terhadap pengungkapan CSR.
Berdasarkan uraian di atas, menarik untuk dicermati lebih lanjut mengenai Islamic Governance, struktur kepemilikan saham, dan profitabilitas terhadap pengungkapan CSR. Sehingga dipandang perlu untuk mengadakan sebuah penelitian yang berhubungan dengan masalah tersebut. Oleh karena itu penulis merumuskan sebuah penelitian dengan judul ”Pengaruh Islamic Governance, Struktur Kepemilikan Saham, Profitabilitas dan Ukuran
Perusahaan terhadap Pengungkapan Corporate Social Responsibility pada Laporan Tahunan Bank Umum Syariah (BUS) Periode 2011-2015”.
Penelitian ini menggunakan empat variabel yaitu: Islamic Governance, struktur kepemilikan saham, profitabilitas dan ukuran perusahaan untuk mengetahui seberapa pengaruhnya terhadap penungkapan CSR pada Bank umum syariah.
Penulis dalam penelitian ini memilih sampel perusahaan perbankan syariah yang ada di Indonesia dikarenakan telah banyak penelitian terdahulu yang menggunakan sampel pada perusahaan manufaktur dan Bank luar negeri. oleh karena itu peneliti lebih memilih menggunakan perusahaan
8
perbankan syariah yang ada di Indonesia sebagai objek penelitian. Selain itu perkembangan perbankan syariah di Indonesia juga mengalami peningkatan.
Pada bulan Juni 2016 sektor perbankan syariah tercatat memiliki total aset sebesar Rp 306,23 triliun dan terdiri dari 12 Bank Umum Syariah, 22 Unit Usaha Syariah, dan 165 Bank Pembiayaan Rakyat Syariah. Aset perbankan syariah tersebut tumbuh sebesar 11,97% dibandingkan periode yang sama ditahun sebelumnya.1