• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

4. Pengaruh Profitabilitas Terhadap CSRD

1.1. Latar Belakang

Setiap perusahaan memiliki satu orientasi yang sama, yaitu mencari keuntungan yang sebesar-besarnya, dan memastikan keuntungan yang diperoleh perusahaan meningkat dari waktu ke waktu. Target yang ingin dicapai tersebut tidak lepas dari eksploitasi yang dilakukan perusahaan terhadap alam, hingga memberikan dampak yang buruk bagi masyarakat sekitarnya, khususnya perusahaan pertambangan yang benar-benar memanfaatkan sumber daya alam sebagai penghasilan utamanya. Untuk itu perusahaan berusaha untuk membangun citra yang baik di masyarakat dengan memberikan perhatiannya kepada lingkungan atau tanggung jawab sosial, yang lebih dikenal dengan Corporate Social Responsibility (CSR).

Dalam bahasa Indonesia, Corporate Social Responsibility merupakan suatu komitmen berkelanjutan oleh dunia usaha untuk bertindak etis, dan memberikan kontribusi kepada pengembangan ekonomi dari komunitas setempat ataupun masyarakat luas, bersamaan dengan peningkatan taraf hidup pekerjanya beserta seluruh keluarganya (Wibisono, 2007:7).

Regulasi mengenai Corporate Social Responsibility telah di atur oleh pemerintah sejak tahun 1994 dengan dikeluarkannya keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No.316/KMK 016/1994 tentang program pembinaan usaha kecil dan koperasi oleh badan usaha milik negara, yang

kemudian dikukuhkan lagi dengan keputusan menteri negara badan usaha milik negara No Kep.236/MBU/2003 menetapkan bahwa “setiap perusahaan diwajibkan menyisihkan laba setelah pajak sebesar 1% (satu persen) sampai dengan 3% (tiga persen) untuk menjalankan Corporate Social Responsibility”. Pasal 15b Undang-Undang No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal menyatakan, bahwa “setiap investor berkewajiban melaksanakan pengungkapan Corporate Social Responsibility perusahaan”.

Kewajiban untuk melaksanakan Corporate Social Responsibility tertuang juga dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas pasal 74 ayat (1). Pasal 74 ayat 1 tersebut menyatakan bahwa “perusahaan yang melakukan kegiatan usaha di bidang/berkaitan dengan sumber daya alam wajib melakukan tanggung jawab sosial dan lingkungan”. Selain itu, UU No. 40 Tahun 2007 pasal 1 ayat 3, menyatakan bahwa “tanggung jawab sosial, dan lingkungan adalah komitmen perseroan, untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, guna meningkatkan kualitas kehidupan, dan lingkungan yang bermanfaat, baik bagi perseroan sendiri, komunitas setempat, maupun masyarakat pada umumnya”.

Jika dilihat dari undang-undang yang di tetapkan tersebut, terlihat ketegasan pemerintah dalam menangani masalah sosial dalam masayarakat. Pemerintah ingin mengubah pengimplementasian Corporate Social Responsibility ini dari yang semula bersifat suka rela (voluntary) menjadi sebuah kewajiban (mandatory).

Deegan (2002) menyatakan beberapa alasan perusahaan harus melakukan pengungkapan sosial dan lingkungan, antara lain:

1. Keinginan untuk memenuhi persyaratan yang ada dalam undang – undang. 2. Pertimbangan rasionalitas ekonomi (economic rationality). Atas dasar alasan

ini, praktik pengungkapan pertanggungjawaban sosial memberikan keuntungan bisnis karena perusahaan melakukan hal yang benar, dan alasan ini mungkin dipandang sebagai motivasi utama.

3. Keyakinan dalam proses akuntabilitas atau pertanggungjawaban untuk melaporkan. Artinya, manajer berkeyakinan bahwa orang memiliki hak yang tidak dapat dihindari untuk memperoleh informasi yang memuaskan, dan manajer tidak peduli dengan cost yang diperlukan untuk menyajikan informasi tersebut.

4. Keinginan untuk mematuhi persyaratan peminjaman. Lembaga pemberi pinjaman, sebagai bagian dari kebijakan manajemen risiko mereka, cenderung menghendaki peminjam untuk secara periodik memberikan berbagai item informasi tentang kinerja dan kebijakan sosial, dan lingkungannya.

5. Untuk memenuhi atau menyesuaikan dengan ekspektasi masyarakat. 6. Sebagai konsekuensi dari ancaman terhadap legitimasi perusahaan. 7. Untuk memanage kelompok stakeholder tertentu yang powerful. 8. Untuk menarik dana investasi.

9. Untuk mematuhi persyaratan industri (code of conduct) tertentu. Sehingga terdapat tekanan tertentu untuk mematuhi aturan tersebut yang selanjutnya dapat mempengaruhi persyaratan pelaporan.

Dampak sosial yang ditimbulkan oleh masing-masing perusahaan tentunya pasti berbeda, karena setiap perusahaan memiliki karakteristik tersendiri dibandinkan dengan perusahaan lainnya. Karakteristik operasi perusahaan yang menghasilkan dampak sosial yang tinggi akan menuntut pemenuhan tanggung jawab sosial yang lebih tinggi begitu juga sebaliknya.

Berdasarkan latar belakang yang telah dijabarkan diatas, maka dari itu penelitian ini menentukan bahwa, karakteristik perusahaan yang digunakan kali ini adalah ukuran perusahaan, ukuran dewan komisaris, media exposure, dan profitabilitas.

Banyak peneliti yang telah melakukan berbagai penelitian mengenai masalah pengugkapan Corporate Social Responsibility ini terkait dengan karakteristik yang mempengaruhinya. Penelitian terkait yang telah dilakukan menunjukkan hasil yang amat beragam, penelitian yang berhasil membuktikan hubungan positif antara variabel ukuran perusahaan, dan pengungkapan Corporate Social Responsibility antara lain dilakukan oleh Sembiring (2005) serta Rahma dan Indah (2010). Tetapi tidak semua penelitian mendukung hubungan antara ukuran perusahaan dengan pengungkapan Corporate Social Responsibility perusahaan. Ada penelitian yang tidak berhasil menunjukan hubungan positif antar kedua variabel tersebut, yaitu penelitian yang dilakukan oleh Achmad (2007).

Ukuran dewan komisaris (Size of Commisoners Board) adalah banyaknya jumlah dewan komisaris yang terdapat di dalam perusahaan, Dewan komisaris dapat memberikan tekanan kepada pihak manajemen untuk memberikan informasi

seluas-luasnya kepada stakeholders. Sembiring (2005) yang menunjukan hasil bahwa proporsi dewan komisaris independen mempengaruhi tingkat pengungkapan informasi sosial perusahaan secara sukarela. Namun hubungan antara dewan komisaris dan pengungkapan Corporate Social Responsibility juga menunjukkan hasil yang tidak konsisten.

Hakim (2010) menyatakan bahwa dewan komisaris berpengaruh negatif terhadap pengungkapan Corporate Social Responsibility. Akan tetapi berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Theodora dan Agus (2010), dan Sembiring (2005) yang menyatakan bahwa dewan komisaris berpengaruh positif terhadap pengungkapan Corporate Social Responsibility.

Media Exposure merupakan pengungkapan nilai baik terhadap masyrakat yang dilakukan oleh perusahaan melalui media yang ada pada perusahaan. Pengungkapan yang dilakukan oleh perusahaan ke media akan menambah reputasi perusahaan tersebut di mata masyarakat. Pengungkapan media merupakan variabel yang masih jarang digunakan untuk menjelaskan pengaruhnya terhadap pengungkapan Corporate Social Responsibility.

Hasil penelitian yang dilakukan Reverte (2008) menunjukkan bahwa pengungkapan media tidak berpengaruh terhadap pengungkapan Corporate Social Responsibility, akan tetapi hasil penelitian (Bansal and Clelland, 2004) dalam Reverte (2008) menunjukkan bahwa pengungkapan media berpengaruh positif terhadap pengungkapan Corporate Social Responsibility.

Profitabilitas merupakan tingkat kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dari aktivitas perusahaan itu sendiri. Keuntungan yang

dihasilkan perusahaan memunculkan spekulasi bahwa variabel ini cukup berpengaruh terhadap pengungkapan Corporate Social Responsibility. Beberapa penelitian yang telah dilakukan, menunjukkan adanya hubungan yang positif antara pengungkapan Corporate Social Responsibility perusahaan dengan profitabilitas (Theodora dan Agus, 2010; Achmad, 2007). Akan tetapi beberapa penelitian lainnya menunjukkan adanya hubungan yang tidak signifikan antara profitabilitas dengan pengungkapan Corporate Social Responsibility (Yulita, 2011).

Perbedaan dan keberagaman penelitan yang telah dihasilkan oleh peneliti terdahulu itulah yang menjadi dasar penelitian ini dilakukan. Penelitian ini menjadi menarik, karena penulis ingin memverifikasi ulang pengaruh variabel-variabel tersebut terhadap pengungkapan Corporate Social Responsibility dalam perusahaan. Penelitian ini akan menggunakan indeks GRI yang berjumlah 79 item penilaian untuk mengukur pengungkapan CSR yang dilakukan oleh perusahaan.

Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Pengaruh Ukuran Perusahaan, Ukuran Dewan Komisaris, Media Exposure, dan Profitabilitas Terhadap Corporate Social Responsibility Disclosure pada Perusahaan Pertambangan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2013-2015”.

Dokumen terkait