• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : KAJIAN PUSTAKA

2.2. Latar Belakang Perkembangan Homoseksual …

Orientasi seksual orang lebih banyak ditentukan oleh kombinasi antara faktor genetik, hormonal, kognitif, dan lingkungan (McWhirter, Reinisch & Sanders, 1989; Money, 1987; Savin ¡V Williams & Rodriguez, 1993; Whitman, Diamond & Martin, 1993, dalam Santrock, 2002). Sebagian besar ahli dalam hal homoseksualitas percaya bahwa tidak ada faktor tunggal yang menyebabkan homoseksualitas dan bobot masing-masing faktor berbeda-beda dari satu orang ke orang yang lain. Akibatnya, tidak ada satu orangpun yang mengetahui secara pasti penyebab seseorang menjadi seorang homoseksual (Santrock, 2002).

Teori tentang homoseksual yang berkembang saat ini pada dasarnya dapat dibagi menjadi dua golongan: esensialis dan konstruksionis. Esensialisme berpendapat bahwa homoseksual berbeda dengan heteroseksual sejak lahir, hasil dari proses biologi dan perkembangan. Teori ini menyiratkan bahwa homoseksualitas merupakan abnormalitas perkembangan, yang membawa perdebatan bahwa homoseksualitas merupakan sebuah penyakit. Sebaliknya, konstruksionis berpendapat bahwa homoseksualitas adalah sebuah peran sosial

yang telah berkembang secara berbeda dalam budaya dan waktu yang berbeda, dan oleh karenanya tidak ada perbedaan antara homoseksual dan heteroseksual secara lahiriah (Carroll, 2005).

Berikut ini jabaran berbagai pendekatan yang memaparkan latar belakang terbentuknya perilaku homoseksual.

2.2.1 Pendekatan Biologis

Teori biologis tentang homoseksual bersifat esensialis yang mengatakan bahwa perbedaan orientasi seksual disebabkan oleh adanya perbedaan secara fisiologis. Perbedaan ini bisa disebabkan oleh genetik, hormon, atau sifat (trait) fisik sederhana.

1.Genetik

Franz Kallman (1952, dalam Carroll, 2005) merupakan pelopor penelitian yang berusaha menunjukkan komponen genetik pada homoseksual dengan melakukan penelitian terhadap kembar identik dan membandingkannya dengan kembar fraternal. Ia menemukan komponen genetik yang kuat pada homoseksual.

Hammer dkk (1993, dalam Carroll, 2005) menemukan bahwa homoseksual pria cenderung memiliki saudara homoseksual dari bagian ibunya, dan dengan menelusuri jejak keberadaan gen homoseksual melalui garis keturuan ibu, menemukannya pada 33 orang dari 40 saudara laki-laki. Pattatucci (1998, dalam Carroll, 2005) berpendapat bahwa pria gay memiliki saudara laki-laki gay daripada saudara laki-laki lesbian, sementara para lesbian memiliki lebih banyak saudara perempuan lesbian daripada saudara laki-laki gay. Penelitian ini juga menemukan bukti bahwa gen “gay” ada pada kromosom X tetapi tidak menemukan gen “lesbian”.

2.Hormon

Beberapa penelitian menemukan bukti bahwa pria homoseksual memiliki tingkat hormon androgen yang lebih rendah daripada pria heteroseksual (Dorner, 1988), namun yang lainnya tidak menemukan adanya perbedaan tersebut (Hendricks et al, 1989). Ellis dkk (1988) berpendapat bahwa stress selama kehamilan (yang biasa mempengaruhi tingkat hormon) lebih dapat memicu pembentukan janin homoseksual.

Bukti-bukti yang ada menunjukkan bahwa anak laki-laki yang menunjukkan perilaku kewanitaan mengalami kesulitan selama masa prenatal daripada anak laki-laki lainnya (Zuger, 1989). Telah ditemukan bahwa tingkat hormon awal mempengaruhi orientasi seksual dan perilaku masa anak-anak yang berhubungan dengan jenis kelamin (Berenbaum & Snyder, 1995).

Banyak penelitian yang membandingkan tingkat androgen dalam darah pada homoseksual dewasa dengan pria heteroseksual, dan umumnya tidak menemukan perbedaan yang signifikan (Green, 1988).

Dari lima studi yang membandingkan tingkat hormon pada lesbian dan wanita heteroseksual, tiga di antaranya tidak menemukan perbedaan tingkat testoteron, estrogen, atau hormon lain, sementara dua lainnya menemukan tingkat testoteron yang lebih tinggi pada lesbian (dan satu menemukan tingkat estrogen yang lebih rendah) (Dancey, 1990).

3.Fisiologi

Dua artikel pada awal tahun 1990-an melaporkan penemuan perbedaan otak pada pria homoseksual dan heteroseksual (LeVay, 1991; Swaab & Hofman, 1990). Kedua studi ini memfokuskan pada hipotalamus, yang diketahui berperan

penting pada dorongan seksual, dan menemukan bahwa daerah-daerah tertentu pada hipotalamus pria homoseksual berbeda (lebih besar maupun lebih kecil) dengan pria heteroseksual. Gallo (2000) juga menemukan perbedaan struktural pada hipotalamus dalam hubungannya dengan orientasi seksual. Melalui studi tentang panjang jari, Brown (2002) dan Williams (2000) menemukan bahwa lesbian memiliki panjang jari yang lebih mirip jari pria secara umum – jari telunjuk lebih pendek daripada jari manis – mendukung ide bahwa lesbian mungkin memiliki tingkat testoteron yang lebih tinggi daripada wanita heteroseksual pada awal kehidupannya.

2.2.2 Pendekatan Sosiologis

Pendekatan Sosiologis yang menggambarkan terjadinya homoseksual berfokus pada pelatihan dan sejarah seseorang dalam menemukan asal homoseksual. Pendekatan Sosiologis melihat perkembangan perilaku homoseksual lebih sebagai produk dari dorongan sosial daripada bawaan lahir pada orang tertentu (Carroll, 2005).

1. Freud dan Psikoanalitis

Freud (1951, dalam Carroll, 2005) berpendapat bahwa bayi melihat segala sesuatu sebagai potensi seksual, dan karena pria dan wanita berpotensi tertarik pada bayi, kita semua pada dasarnya biseksual.

Freud tidak melihat homoseksual sebagai suatu penyakit dan menuliskan bahwa homoseksual ”bukanlah hal yang memalukan, bukan degradasi, dan tidak dapat diklasifikasikan sebagai sebuah penyakit.” Dia bahkan menemukan homoseksual ”dibedakan oleh perkembangan intelektual yang tinggi dan budaya etis.”

Freud memandang heteroseksualitas pria sebagai hasil pendewasaan yang normal dan homoseksualitas pria sebagai akibat oedipus complex yang tidak terselesaikan. Kelekatan pada ibu yang intens ditambah dengan ayah yang jauh dapat membawa anak laki-laki pada ketakutan akan balas dendam ayah melalui kastrasi. Setelah masa pubertas, anak berpindah dari ketertarikan pada ibu menjadi identifikasi ibu, dan mulai mencari objek cinta yang akan dicari oleh ibunya – pria. Fiksasi pada penis dapat mengurangi ketakutan kastrasi pada pria, dan dengan menolak wanita, pria dapat menghindari perseteruan dengan ayahnya.

Freud juga melihat homoseksual sebagai autoerotis (pemunculan perasaan seksual tanpa adanya stimulus eksternal) dan narcisistik; dengan mencintai tubuh yang dimilikinya, seseorang seperti bercinta pada bayangan dirinya. Namun, pandangan ini ditolak oleh psikoanalis lainnya yang muncul kemudian, terutama Sandor Rado (1949, dalam Caroll, 2005) yang mengatakan bahwa manusia tidak biseksual secara lahiriah dan homoseksualitas adalah keadaan psikopatologis – penyakit mental. Pandangan inilah (bukan pandangan Freud) yang kemudian menjadi standar bagi profesi psikiater hingga tahun 1970-an.

Beiber dkk (1962, dalam Carroll, 2005) mengemukakan bahwa semua anak laki-laki memiliki ketertarikan erotik yang normal terhadap wanita. Akan tetapi, beberapa anak laki-laki memiliki ibu posesif yang terlalu dekat dan juga terlalu intim serta menggoda secara seksual. Sebaliknya, ayah mereka tidak bersahabat atau absen, dan triangulasi ini mendorong anak untuk berada di pihak ibu, yang menghambat perkembangan maskulin normalnya. Oleh karena itu, Beiber mengatakan bahwa ibu yang menggoda menimbulkan ketakutan akan heteroseksualitas pada diri anak.

Wolff (1971, dalam Carroll, 2005) meneliti keluarga dari lebih dari 100 lesbian dan melaporkan bahwa sebagian besar memiliki ibu yang menolak atau dingin secara emosional dan ayah yang berjarak. Untuk lesbian, para teoritikus percaya bahwa kurangnya kasih sayang dari ibu menyebabkan anak perempuan mencari kasih sayang dari wanita lainnya (Carroll, 2005).

2. Ketidaknyamanan Peran Gender

Secara umum ditemukan bahwa pria gay lebih bersifat feminism daripada pria heteroseksual, sementara lesbian lebih bersifat maskulin (Bailey et al, 1995; Pillard, 1991). Meskipun temuan ini berhubungan, yang berarti bahwa sifat cross gender dan kemunculan homoseksualitas di kemudian hari berhubungan, tetapi tidak memiliki hubungan sebab akibat.

Green (1987) menemukan bahwa anak laki-laki yang feminim atau ”sissy boy” memakai pakaian lawan jenis, tertarik pada busana wanita, bermain boneka,

menghindari permainan kasar, berkeinginan menjadi perempuan, dan tidak ingin menjadi seperti ayahnya sejak kecil. Tiga per empat dari mereka tumbuh menjadi homoseksual atau biseksual, sedangkan hanya satu dari anak laki-laki maskulin yang tumbuh menjadi biseksual. ”Sissy boy” tersebut juga cenderung dianianya, ditolak, dan diabaikan oleh teman sebayanya, lebih lemah daripada anak laki-laki lainnya, dan memiliki lebih banyak kasus psikopatologi (Zucker, 1990).

Teori konstuksionis akan mengatakan bahwa anak perempuan diperbolehkan menunjukkan perilaku maskulin tanpa diejek, dan anak perempuan yang tidak nyaman dengan gendernya, menjadi ”tomboy,” tidak berkorelasi dengan kecenderungan menjadi lesbian di kemudian hari. Teori ini tidak bisa dijadikan pegangan tunggal dalam menjelaskan homoseksual, karena banyak pria

gay yang tidak bersifat keperempuan-perempuanan pada waktu kecil, dan tidak semua anak laki-laki yang keperempuan-perempuanan tumbuh menjadi gay.

3. Interaksi Kelompok Teman Sebaya

Berdasarkan catatan bahwa dorongan seksual seseorang mulai berkembang pada masa remaja, Storm (1981) berpendapat bahwa orang-orang yang tumbuh lebih cepat mulai tertarik secara seksual sebelum mereka mengalami kontak yang signifikan dengan lawan jenis. Karena pacaran biasanya dimulai pada usia sekitar 15 tahun, anak laki-laki yang dewasa pada usia 12 tahun masih bermain dan berinteraksi secara umum dengan kelompok dari jenis kelamin yang sama, sehingga kemungkinan perasaan erotis yang muncul berfokus pada anak laki-laki juga. Teori ini didukung oleh fakta bahwa homoseksual cenderung melaporkan kontak seksual yang lebih cepat dibandingkan heteroseksual. Selain itu, dorongan seksual pria biasa muncul lebih cepat daripada wanita.

4. Teori Behavioris

Teori behavioral tentang homoseksual menganggap bahwa perilaku homoseksual adalah perilaku yang dipelajari, diakibatkan perilaku homoseksual yang mendatangkan hadiah atau penguat yang menyenangkan atau pemberian hukuman atau penguat negatif terhadap perilaku heteroseksual. Sebagai contoh, seseorang bisa saja memiliki hubungan dengan sesama jenis menyenangkan, dan berpasangan dengan lawan jenis adalah hal yang menakutkan, dalam fantasinya, orang tersebut bisa saja berfokus pada hubungan sesama jenis, menguatkan kesenangannya dengan masturbasi. Bahkan pada masa dewasa, beberapa pria dan wanita bergerak menuju perilaku dan hubungan sesama jenis jika mereka

mengalami hubungan heteroseksual yang buruk dan hubungan homoseksual yang menyenangkan (Masters & Johnson, 1979, dalam Carroll, 2005).

5. Bahasa dalam Sub Kultur Kaum Homoseksual

Orang-orang yang memiliki latar belakang sosial budaya yang berbeda lazimnya berbicara dengan cara yang berbeda. Perbedaan ini boleh jadi menyangkut dialek, intonasi maupun kosakata yang digunakan untuk berbicara. Bahasa adalah istitusi sosial yang dirancang, dimodifikasikan dan dikombinasi untuk memenuhi kebutuhan kultur atau subkultur yang terus berubah. Karena bahasa dari budaya satu berbeda dari budaya lain dan sama pentingnya bahasa dari suatu subkultur berbeda dari bahasa dari subkultur yang lain (Montgomery, 1986) dalam Devito (1958; 157).

Terdapat dua pengelompokan bahasa. Yaitu bahasa verbal dan non verbal. Bahasa verbal bisa berupa penggunaan kata yang dsampaikan secara langsung. Sedangkan bahasa non verbal itu berupa isyarat-isyarat kata yang dikeluarkan dari reaksi wajah, gerakan tubuh serta simbolsimbol yang dihasilkan dari panca indera kita sendiri. Tidak ada struktur yang pasti, tetap, dan dapat diramalkan mengenai hubungan antara komunikasi verbal dan komunikasi non verbal. Keduanya dapat berlangsung spontan bahkan serentak.

Dalam pembahasan ini yang dimaksud subkultur adalah kelompok-kelompok dalam sebuah kultur yang besar. Ini didasarkan atas wilayah geografis, pekerjaan, orientasi afeksi, guru, seniman, heteroseksual, homoseksual. Semuanya dapat dipandang sebagai subkultur tergantung pada konteksnya.

Karena minat yang sama merupakan subkultur (munculnya kelompok-kelompok), sub bahasa muncul. Istilah bahasa digunakan oleh kelompok

subkultur tertentu yang didalam kulturnya lebih dominan. Ada beberapa jenis subbahasa yang banyak dikenal adalah argot, cost, jargon dan slang (Sihabudin, 2011:77). Begitu juga dalam komunikasi antar budaya terdapat beberapa subkultur. Salah satunya antara lain bahasa “Argot”. Permasalahannya bahasa yang digunakan sehari-hari oleh kaum homoseksual dalam berinteraksi sesama komunitasnya termasuk dalam bagian bahasa “Argot”.

Argot adalah kosakata khusus yang berkembang di kalangan dunia hitam. Misalnya pencopet, pembunuh, germo dan pelacur. Sebuah subkultur yang dapat dikatakan menyimpang. Dalam bentuknya yang murni argot tidak dimengerti oleh orang luar, tetapi karena sering diucapkan di film atau televisi, bahasa tersembunyi itu bisa dikenal. Contohnya mami (germo wanita), pentongan istilah waria untuk menyatakan alat kelamin laki-laki dan masih banyak argot lain yang berkembang di kalangan masyarakat seperti observasi penelitian (Sihabudin, 2011:81).

Bahasa gaul kaum homoseksual berdasarkan penelitian yang peneliti lakukan menemukan sejumlah kata yang mereka gunakan, misalnya duta (duit/uang), maharani (mahal) sapose (siapa), kemandro chint (kamu mau kemana), lekong (laki-laki), nek/mak/chint/cun (panggilan akrab untuk homoseksual), kelinci (kecil), gedong (besar), inang (iya), rexona (rokok), tinta mawar (tidak mau), cucox (cakep/keren) sekong (gay),lesbong (lesbi).

Sebagian besar penggunaan bahasa gaul kaum homoseksual hampir sama dengan penggunaan bahasa gaul kaum waria. Sehingga bahasa gaul yang digunakan kaum homoseksual dalam komunitasnya serta kaum waria sama -sama memakai kosakata yang sama. Selain itu bahasa non verbal yang digunakan dalam

menarik perhatian komunitas mereka di kota Serang lebih mengutamakan permainan mata. Walaupun di berbagai daerah memiliki tanda/symbol tersendiri bagi kaum homoseksual untuk berkenalan dengan orang lain. Namun bagi homoseksual yang ada dikota Serang lebih menekankan permainan bahasa tubuh mereka.

Homoseksualitas juga dapat didefenisikan sebagai orientasi atau pilihan seks yang diarahkan pada orang atau ketertarikan dari jenis kelamin yang sama (Oetomo, 2001:6). Dalam pedoman penggolongan dan diagnosis gangguan jiwa di Indonesia homoseksualitas dimasukan dalam kategori gangguan psikoseksual, dan disebut sebagai orientasi seksual egodistonik, yaitu “identitas jenis kelamin atau preferensi seksual tidak diragukan, tetapi individu berharap yang lain disebabkan oleh gangguan psikologis dan perilaku serta mencari cara untuk mengubahnya”, artinya homoseksualitas dianggap suatu kelainan hanya bila individu merasa tidak tenang dengan orientasi seksual dan bermaksud mengubahnya (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1998:115).

Teori yang digunakan dalam penelitian yaitu berhubungan dengan Komunikasi Interaksi Simbolik yang berawal dari kedekatan rasional dan seterusnya kedekatan yang terjadi melalui proses bertahap pengungkapan diri dengan menggunakan simbol-simbol yang telah di akui kebersamaan anata anggota komunitas dalam pengungkapan diri. Akhirnya mencapai proses tahap dangkal sampai tahap intim. Teori interaksi simbolik menekankan pada hubungan antara symbol dan interaksi, serta inti dari pandangan pendekatan ini adalah individu (Soeprapto, 2007).

Menurut Ralph Larossa dan Donald C. Reitzes (1993) dalam West-Turner (2008: 96), interaksi simbolik pada intinya menjelaskan tentang kerangka referensi untuk memahami bagaimana manusia, bersama dengan orang lain, menciptakan dunia simbolik dan bagaimana cara dunia membentuk perilaku manusia. Interaksi simbolik ada karena ide-ide dasar dalam membentuk makna yang berasal dari pikiran manusia (Mind) mengenai diri (Self), dan hubungannya di tengah interaksi sosial, dan tujuan bertujuan akhir untuk memediasi, serta menginterpretasi makna di tengah masyarakat (Society) dimana individu tersebut menetap. Seperti yang dicatat oleh Douglas (1970) dalam Ardianto (2007: 136), Makna itu berasal dari interaksi, dan tidak ada cara lain untuk membentuk makna, selain dengan membangun hubungan dengan individu lain melalui interaksi.

Definisi singkat dari ke tiga ide dasar dari interaksi simbolik (Ardianto, Elvinaro dan Bambang Q-Anees, 2007), antara lain:

1. Pikiran (Mind) adalah kemampuan untuk menggunakan simbol yang mempunyai makna sosial yang sama, dimana tiap individu harus mengembangkan pikiran mereka melalui interaksi dengan individu lain. 2. Diri (Self) adalah kemampuan untuk merefleksikan diri tiap individu

dari penilaian sudut pandang atau pendapat orang lain, dan teori interaksionisme simbolis adalah salah satu cabang dalam teori sosiologi yang mengemukakan tentang diri sendiri (the-self) dan dunia luarnya. 3. Masyarakat (Society) adalah jejaring hubungan sosial yang diciptakan,

dibangun, dan dikonstruksikan oleh tiap individu ditengah masyarakat, dan tiap individu tersebut terlibat dalam perilaku yang mereka pilih

secara aktif dan sukarela, yang pada akhirnya mengantarkan manusia dalam proses pengambilan peran di tengah masyarakatnya.

Tiga tema konsep pemikiran George Herbert Mead yang mendasari interaksi simbolik antara lain:

1. Pentingnya makna bagi perilaku manusia

Tema pertama pada interaksi simbok berfokus pada pentingnya membentuk makna bagi perilaku manusia, dimana dalam teori interaksi simbolik tidak bisa dilepaskan dari proses komunikasi, karena awalnya makna itu tidak ada artinya, sampai pada akhirnya di konstruksi secara interpretif oleh individu melalui proses interaksi, untuk menciptakan makna yang dapat disepakati secara bersama.

2. Pentingnya konsep mengenai diri

Tema kedua pada interaksi simbolik berfokus pada pentingnya ”Konsep diri” atau ”Self-Concept”. Dimana, pada tema interaksi simbolik ini menekankan pada pengembangan konsep diri melalui individu tersebut secara aktif, didasarkan pada interaksi sosial dengan orang lainnya.

3. Hubungan antara individu dengan masyarakat.

Tema terakhir pada interaksi simbolik berkaitan dengan hubungan antara kebebasan individu dan masyarakat, dimana asumsi ini mengakui bahwa norma-norma sosial membatasi perilaku tiap individunya, tapi pada akhirnya tiap individu-lah yang menentukan pilihan yang ada dalam social kemasyarakatannya. Penelitian ini mengacu pada teori pendukung pertukaran social (social exchange) yaitu model yang digunakan untuk menganalisis hubungan antarpersonal (interpersonal communication) Teori Pertukaran Sosial dari

Thibault dan Kelley ini menganggap bahwa bentuk dasar dari hubungan sosial adalah sebagai suatu transaksi dagang, dimana orang berhubungan dengan orang lain karena mengharapkan sesuatu untuk memenuhi kebutuhannya. Teori ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu transaksi dagang. Orang berhubungan dengan orang lain karena mengharapkan sesuatu yang memenuhi kebutuhannya. Thibaut dan Kelley, pemuka utama dari teori ini menyimpulkan teori ini sebagai berikut: “Asumsi dasar yang mendasari seluruh analisis kami adalah bahwa setiap individu secara sukarela memasuki dan tinggal dalam hubungan sosial hanya selama hubungan tersebut cukup memuaskan ditinjau dari segi ganjaran dan biaya”.

2.2.3. Pendekatan Sosiologi

Pendekatan sosiologis mencoba menjelaskan bagaimana dorongan sosial menghasilkan homoseksualitas di dalam masyarakat. Konsep-konsep seperti homoseksualitas, biseksualitas, heteroseksualitas adalah produk dari imajinasi masyarakat dan tergantung pada bagaimana kita sebagai masyarakat mendefenisikan sesuatu hal. Dengan kata lain, kita mempelajari cara berpikir budaya kita dan mengaplikasikannya pada diri kita (Carroll, 2005).

Penggunaan istilah ”homoseksual” yang mengacu pada perilaku sesama jenis berkembang setelah Revolusi Industri yang membebaskan orang – orang secara ekonomi sehingga memberikan kesempatan untuk memilih gaya hidup yang baru di perkotaan (Adam, 1987). Oleh karena itu, pendapat bahwa apakah seseorang ”homoseksual” atau ”heteroseksual” bukanlah fakta biologis tetapi hanya cara berpikir yang berubah seiring dengan keadaan sosial.

2.2.4. Pendekatan Interaksional : Biologi dan Sosiologi

Bem (1996) berpendapat bahwa variabel biologis seperti genetik, hormon, dan neuroanatomi otak, tidak menyebabkan orientasi seksual tertentu, tetapi lebih berkontribusi pada tempramen masa anak-anak yang mempengaruhi preferensi anak pada aktivitas dan kelompok sebaya yang sesuai dengan jenis kelaminnya atau tidak.

Teori exotic-becomes-erotic yang dikemukakan oleh Bem (1996) mengatakan bahwa perasaan seksual berubah dari pengalaman gender sejenis sebagai lebih eksotis, atau berbeda dari orang itu, daripada yang berlawanan jenis. Ia menyatakan bahwa anak-anak gay dan lesbian memiliki teman bermain lawan jenis ketika tumbuh, dan membuat mereka melihat sesama jenis lebih ”eksotis” dan menarik.

Dokumen terkait