• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tanah memiliki nilai yang tinggi dilihat dari kacamata apapun, termasuk kacamata sosiologi, psikologi, politik, ekonomi. Tanah merupakan tempat berdiam, mencari nafkah, berketurunan, adat istiadat dan ritual keagamaan1. Di mata masyarakat tradisional, tanah merupakan kediaman para dewa dan roh, sehingga harus senantiasa dipelihara dengan baik.

Begitu eratnya kaitan manusia dengan tanah, maka diperlukan upaya pemeliharaan hubungan yang harmonis antara keduanya didasari persamaan pandangan hubungan yang abadi antara manusia dan tanah, juga sekaligus sebagai tanda syukur atas Karunia Tuhan Yang Maha Esa, supaya tumbuh menjadi akar kemakmuran yang dicita-citakan baik secara individual maupun komunal.

Begitu bernilainya tanah, sehingga manusia yang merupakan mahluk sosial akan mempertahankan tanahnya dengan cara apapun. Hal itu sudah dilakukan jauh sebelum kebudayaan terbentuk. Artinya, sudah demikian adanya sejak zaman manusia purba. Manusia purba mempunyai naluri untuk mempertahankan wilayah kekuasaannya. Mereka sadar bahwa keberadaan wilayah merupakan penentu kelangsungan hidup diri.2

Dalam masyarakat hukum adat, antara masyarakat dengan tanah yang didudukinya, terdapat hubungan yang erat sekali. Hubungan yang bersumber pada

1

Elsa Syarif,Menuntaskan sengketa tanah melalui pengadilan khusus pertanahan, PT. Gramedia Jakarta,2012,hlm 1

2

pandangan yang bersifat religious magis. Masyarakat hukum adat memperoleh hak untuk menguasai tanah tersebut supaya dapat dimanfaatkannya bagi kehidupannya dengan cara memungut hasil dari tumbuh-tumbuhan yang timbul diatas tanah tersebut, dan juga berburu terhadap binatang-binatang yang hidup di tanah tersebut.

Hak masyarakat hukum atas tanah disebut hak pertuanan atau hak ulayat. Istilah Soepomo: ‘hak pertuan’, Soekanto: ‘hak ulayat’, M. Tauchid: ‘hak wilayah', Mr. Mahadi suka memakai istilah ‘hak pertuan’.3 Sebelum berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria Nomor 5 tahun 1960, maka hukum yang berlaku pada masyarakat hukum adat masih memakai sistem yang sederhana yaitu suatu sistem yang konkrit/ nyata /tunai, sesuai dengan tingkat kemajuan/kemampuan berfikir masyarakat yang membuatnya, dimana hukum itu berlaku dan ditaati.4

Menurut Ter Haar, Hukum adat lahir dari dan dipelihara oleh keputusan-keputusan, keputusan para warga masyarakat hukum, terutama keputusan berwibawa dari kepala-kepala rakyat yang membantu pelaksanaan perbuatan hukum5.

Sifat tanah ulayat yang ada di Indonesia itu bersifat komunal yang artinya dimiliki oleh seluruh anggota masyarakat adat. Karena dimiliki secara bersama, maka tanah ulayat tidak boleh dipindahtangankan kepada pihak lain, tidak boleh dijual dan tidak boleh digadaikan, tanah itu pun tidak bisa diberikan secara

cuma-3

A. Fauzie Ridwan, Hukum Tanah Adat, Multi Disiplin Pembudayaan Pancasila, Dewaruci Press, Jakarta 1982,hlm 23

4

S. Adiwinata,Hukum Perdata/Adat Sejak tahun 1960, Alumni Bandung, 1970, hlm 3

5

Surojo Wignjodipuro,Pengantar dan Azas-azas Hukum Adat, Alumni Bandung,1973, hlm 3

cuma. Hak (ulayat) masyarakat (hukum) adat sama halnya dengan hak perorangan warga masyarakat hukum adat atas tanah, juga memiliki keterbatasan. Tetapi yang membedakan hak milik komunitas marga atau suku dari hak milik perorangan adalah status dan fungsi sosialnya. Status kepemilikan tanah komunal tidak dapat dibuktikan berupa alat seperti surat sertifikasi tanah oleh negara, tetapi berdasarkan cerita silsilah sejarah keberadaan komunitas marga atau suku yang memiliki suatu wilayah. Kepemilikan tanah adat (tanah ulayat) pada umumnya dimiliki secara kolektif, berbasis pada suatu masyarakat adat entah berdasarkan etnis atau klan tertentu. Keberadaan tanah adat diakui, dihormati, dan dilindungi dalam sistem hukum nasional. Hal ini antara lain terdapat dalam UUD 1945 Perubahan Kedua Pasal 18B ayat 2 yaitu: Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum Adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam undang-undang.6

Di Negara yang rakyatnya berhasrat melaksanakan demokrasi yang berkeadilan sosial, pemanfaatan tanah untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat merupakan suatu condition sine qua non. Untuk mencapai tujuan itu, diperlukan campur tangan penguasa yang kompeten dengan urusan tanah, khususnya mengenai lahirnya, berpindahnya dan berakhirnya hak milik atas tanah7.

Dalam Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala BPN Nomor 5 tahun 1999 tentang Pedoman Penyelesaian Masalah Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat dalam pasal 1 menyebutkan bahwa Pelaksanaan hak ulayat sepanjang pada

6

Lihat Undang-Undang Dasar 1945 7

kenyataannya masih ada dilakukan oleh masyarakat hukum adat yang bersangkutan menurut ketentuan hukum adat setempat.

Tentang hak ulayat ini, menurut Van Vollenhoven adalah hak milik masyarakat hukum (rechtgemeenschaap) yang tidak dapat dilepaskan kecuali untuk sementara waktu, guna kepentingan anggota-anggotanya atau mungkin orang asing. Dalam hal terjadi pelepasan hak ulayat kepada orang asing, si orang asing yang bersangkutan harus memberi kompensasi berupa pembayaran cukai atas penghasilan yang hilang karena pelepasan tersebut, kepada masyarakat setempat tempat tanah ulayat tersebut terletak8

Hak ulayat masyarakat hukum adat dianggap masih ada apabila:9

a. terdapat sekelompok orang yang masih merasa terikat oleh tatanan hukum adatnya sebagai warga bersama suatu persekutuan hukum tertentu, yang mengakui dan menerapkan ketentuan-ketentuan persekutuan tersebut dalam kehidupannya sehari-hari.

b. terdapat tanah ulayat tertentu yang menjadi lingkungan hidup para warga persekutuan hukum tersebut dan tempatnya mengambil keperluan hidupnya sehari-hari, dan

c. terdapat tatanan hukum adat mengenai pengurusan, penguasaan dan

penggunaan tanah ulayat yang berlaku dan ditaati oleh para warga persekutuan hukum tersebut.

Dalam Pasal 3 UUPA nomor 5 tahun 1960 menyebutkan:

8

Otje Salman Soemadiningrat,Rekonseptualisasi Hukum Adat Kontemporer, PT. Alumni Bandung, 2002, hlm 28

9

Pasal 2 Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala BPN No.5/1999 tentang Pedoman Penyelesaian Masalah Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat

“Dengan mengingat ketentuan-ketentuan dalam pasal 1 dan 2 pelaksanaan hak ulayat dan hak-hak yang serupa itu dari masyarakat hukum adat, sepanjang menurut kenyataannya masih ada, harus sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kepentingan nasional dan Negara, yang berdasarkan atas persatuan bangsa serta tidak boleh bertentangan dengan Undang-undang dan peraturan-peraturan lain yang lebih tinggi”10.

Hak ulayat atau hak pertuanan berlaku keluar dan ke dalam. Berlaku keluar karena yang bukan warga masyarakat hukum adat pada prinsipnya tidak diperbolehkan menggarap tanah yang merupakan wilayah kekuasaan persekutuan yang bersangkutan. Hanya dengan seijin persekutuan serta membayar uang pancang, uang pemasukan (Aceh) dan kemudian memberi ganti rugi, orang luar bukan warga persekutuan masyarakat hukum adat dapat memperoleh kesempatan untuk turut serta menggunakan tanah wilayah persekutan / masyarakat hukum. Berlaku kedalam artinya karena persekutuan sebagai suatu persekutuan yang berarti semua warga persekutuan bersama-sama sebagai satu keseluruhan melakukan hak ulayat dimaksud dengan memetik hasil dari tanah beserta tumbuh-tumbuhan dan binatang yang hidup diatasnya.11

Satu lirik lagu dari tanah Batak mencerminkan arti penting hubungan antara manusia dengan tanah“argado bona ni pinasa diangka na burju marroha,

ai ido tona ni ompunta sai mulak dung matua” (tanah kelahiran orang Batak

sangat berharga bagi yang mencintainya, karena itu pesan nenek moyang, kita harus kembali ke tanah kelahiran dari perantauan kalau kelak kita sudah tua).

Bagi masyarakat Batak, tanah tidak hanya bermakna ekonomis, tetapi juga sebagai tanda pengenal marga. Oleh karena itu sering di lahan pekarangan, atau

10

Lihat undang-undang pokok agraria nomor 5 tahun 1960 11

Bushar Muhammad,Pokok-Pokok Hukum Adat, PT. Pradnya Paramita, Jakarta 2002,hlm 104

ladang dibangun makam keluarga. Demikian eratnya hubungan manusia dengan tanah sehingga orang yang meninggal pun masih berhak atas tanah asalnya. Karena itu pula masyarakat Batak akan mempertahankan mati-matian ketika ada pihak lain yang hendak mengganggu tanahnya.

Tanah merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia adalah merupakan kenyataan, bahwa permintaan akan kebutuhan terhadap tanah terus bertambah sesuai dengan pertambahan penduduk dan kegiatan pembangunan12. Secara umum luas tanah yang ada di bumi ini tidak akan bertambah, sedangkan jumlah populasi manusia yang membutuhkan tanah bertambah.13

Gejala pertambahan kebutuhan akan tanah yang terus meningkat yang berdampingan dengan kwantitas luas tanah yang tidak bertambah akan menimbulkan problema-problema sosial di masyarakat, seperti yang menyangkut penguasaan dan pemilikan tanah, pemanfaatan/penggunaan tanah, pemeliharaan/pelestarian tanah dan hubungan-hubungan hukum terhadap tanah akan menjadi fenomena yang penting untuk ditelusuri, karena hal tersebut mau tidak mau akan berbaur dengan dinamika kehidupan masyarakat.

Dewasa ini, dalam masyarakat kita masalah pertanahan cukup mendapat perhatian, dan boleh dikatakan menjadi issu nasional yang dapat menjadi bahan pembicaraan dari berbagai kalangan masyarakat, baik kalangan masyarakat awam maupun masyarakat intelektual.

12

Hasim Purba dkk, Sengketa Pertanahan dan Alternatif Pemecahan (Study kasus di Sumatera Utara) CV. Cahaya Ilmu, Medan 2006, hlm 1

13

Sebagai Negara Agraris, maka tanah menjadi sentral kegiatan mayoritas rakyat Indonesia. Oleh karena itu pengaturan dan penataan bidang pertanahan baik yang menyangkut peraturan-peraturan pokok maupun peraturan teknis adalah sesuatu yang mutlak harus kita wujudkan dan laksanakan. Pengaturan bidang pertanahan sejak zaman nenek moyang kita sudah ada dan hidup dalam masyarakat, misalnya melalui ketentuan hukum adat pertanahan dari masing-masing daerah atau suku-suku yang ada. Keadaan ini membuktikan kepada kita bahwa walaupun dalam kondisi tingkat kehidupan yang masih relatif sederhana pada masa lalu, namun pranata-pranata hukum yang ada juga telah mencoba menjangkau pengaturan pertanahan di Indonesia.

Demikian pentingnya tanah bagi kehidupan rakyat dan bangsa Indonesia sehingga diatur dalam pasal 33 (3) yang berbunyi Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Dalam hal ini Negara mempunyai hak penguasaan atas tanah Indonesia. Berdasarkan aturan tersebut Negara berwenang untuk mengatur hak-hak atas tanah dan melayani rakyat di bidang pertanahan.

Pentingnya kedudukan tanah bagi Negara Republik Indonesia dapat dilihat dari ketentuan pasal 1 Undang-undang Pokok Agraria yang menyebutkan14:

(1) Seluruh wilayah Indonesia adalah kesatuan tanah-air dari seluruh rakyat Indonesia yang bersatu sebagai bangsa Indonesia.

14

(2) Seluruh bumi, air dan ruang angkasa, termasuk kekayaan alam yang terkandung didalamnya dalam wilayah Republik Indonesia, sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa adalah bumi, air dan ruang angkasa bangsa Indonesia dan merupakan kekayaan nasional.

(3) Hubungan antara bangsa Indonesia dan bumi, air serta ruang angkasa termaksud dalam ayat (2) pasal ini adalah hubungan yang bersifat abadi. (4) Dalam pengertian bumi, selain permukaan bumi, termasuk pula tubuh

bumi dibawahnya serta yang berada dibawah air.

(5) Dalam pengertian air termasuk baik perairan pedalaman maupun laut wilayah Indonesia.

(6) Yang dimaksud dengan ruang angkasa ialah ruang diatas bumi dan air tersebut pada ayat (4) dan (5) pasal ini.

Berdasarkan ketentuan tersebut diatas dapat dipahami bahwa bagi bangsa Indonesia, tanah memiliki hubungan yang sangat erat dan bersifat abadi, sehingga kedudukan tanah bagi Bangsa Indonesia merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisah satu sama lainnya. Lebih lanjut dalam ketentuan pasal 2(1) Undang-undang Pokok Agraria ditegaskan bahwa atas dasar ketentuan dalam pasal 33 ayat 3 UUD 1945 dan hal-hal sebagaimana dimaksud dalam pasal 1, bumi, air dan ruang angkasa termasuk kekayaan alam yang terkandung didalamnya itu pada tingkatan tertinggi dikuasai oleh Negara sebagai organisasi kekuasaan seluruh rakyat. Pada penjelasan UUPA tahun 1960, dinyatakan bahwa Negara (pemerintah) hanya menguasai tanah. Pengertian tanah ‘dikuasai’ bukan berarti ‘dimiliki’, tetapi kewenangan tertentu yang diberikan kepada Negara sebagai

organisasi kekuasaan. Hal ini dirumuskan secara tegas di dalam pasal 2 ayat 2 UUPA bahwa kewenangan Negara adalah:

a. mengatur dan menyelenggarakan peruntukan, penggunaan, persediaan dan pemeliharaan bumi, air dan ruang angkasa tersebut;

b. menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dengan bumi, air dan ruang angkasa;

c. menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dan perbuatan-perbuatan hukum yang mengenai bumi, air dan

ruang angkasa.

Masalah pertanahan muncul ketika kewenangan (hak menguasai Negara) diperhadapkan dengan Hak asasi warga negara, khususnya hak milik individu dan hak komunal (tanah ulayat). Mencermati konflik pertanahan di Indonesia yang terus meningkat, akar masalahnya terletak pada benturan antara hak menguasai Negara (HMN) dengan hak asasi warga Negara (HAM) yang memiliki kewenangan tunggal yang sangat besar untuk mengelola pembagian, penguasaan, pemanfaatan, dan peruntukan tanah harus berhadapan dengan hak-hak asasi yang melekat pada rakyatnya sendiri15. Pada dasarnya harus ada keseimbangan antara hak menguasai Negara dengan hak asasi manusia karena keduanya diamanatkan dalam konstitusi UUD 1945. Sesuai perintah konstitusi pasal 33 ayat 3, Hak Menguasai Negara atas tanah harus bermuara pada sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Konstitusi yang sama juga mengakui hak asasi warga Negara, termasuk didalamnya hak milik dan hak ulayat.

Pemilikan dan penguasaan atas sebidang tanah, sekalipun telah berproduksi dan memenuhi kebutuhan keluarga pemiliknya sering tidak memberi kenyamanan. Ketidaknyamanan dimaksud terjadi disebabkan berbagai hal yang

15

wujudnya tidak terlihat pada kepastian dan perlindungan hukum di dalam kenyataan.16 Bahkan ada anggota masyarakat yang nekat menduduki dan menguasai tanah tanpa ada alas hak yang sah bahkan dengan cara-cara yang terencana dan sengaja melakukan kekerasan untuk memenuhi kebutuhannya.

Hak seseorang atas tanah semestinya harus dihormati, di dalam pengertian tidak boleh orang lain melakukan tindakan melawan hukum untuk memiliki/menguasai lahan tersebut.

Tindakan melawan hukum untuk memiliki/menguasai lahan bisa menimbulkan sengketa. Sengketa tanah itu sendiri sesungguhnya sudah ada sejak ada perbedaan kepentingan diantara manusia yang satu dengan manusia lainnya. Sengketa tanah dapat dijumpai dimana saja, termasuk di Indonesia. Sengketa yang berhubungan dengan tanah ini, senantiasa terus bertambah, seiring dengan meningkatnya kebutuhan manusia akan tanah17. Sengketa terjadi karena tanah mempunyai kedudukan yang penting, yang dapat membuktikan kemerdekaan dan kedaulatan pemiliknya.

Secara umum, sengketa tanah timbul antara lain karena faktor-faktor sebagai berikut18:

1. Peraturan yang belum lengkap 2. Ketidaksesuaian peraturan

3. Pejabat pertanahan yang kurang tanggap terhadap kebutuhan dan jumlah tanah yang tersedia.

16

Tampil Ansari Siregar, Mempertahankan Hak Atas Tanah, Multi grafik, Medan, 2007, hlm.1

17

Elsa Syarif,Op Cit.,hal 8

18

4. Data yang kurang akurat dan kurang lengkap. 5. Data tanah yang keliru

6. Keterbatasan sumber daya manusia yang bertugas menyelesaikan sengketa tanah.

7. Transaksi tanah yang keliru 8. Ulah Pemohon hak

9. Adanya penyelesaian dari instansi lain sehingga terjadi tumpang tindih kewenangan.

Di daerah-daerah yang belum berkembang, penyelesaian sengketa pada umumnya dilakukan oleh tokoh-tokoh komunitas yang disegani warga setempat. Tokoh tersebut antara lain kepala adat, kepala suku, kepala kampung, atau kepala marga. Peranan para tokoh tersebut sangat menentukan dalam menyelesaikan sengketa tanah. Selain itu, peran tokoh komunitas juga membantu menentukan peruntukan serta pengawasan terhadap penggunaan tanah oleh warga setempat.

Ini karena kepala / ketua adat setempat umumnya memiliki data tanah yang ada di wilayahnya masing-masing, baik yang menyangkut jumlah, batas maupun penggunaan tanah oleh warga setempat. Walaupun data tanah tersebut jarang yang tertulis, kepala/ketua adat yang bersangkutan mengetahui riwayat kepemilikan tanah tersebut. Hal ini karena pihak yang diangkat sebagai kepala/ketua adat berasal dari penduduk setempat yang ‘dituakan’.

Secara yuridis Undang- Undang Pokok Agraria telah menetapkan asas-asas pokok dalam pengadaan tanah. Ketentuan hukum tanah nasional mengenai

pemberian perlindungan kepada rakyat didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut19:

1. Penguasaan dan penggunaan tanah oleh siapapun dan untuk keperluan apapun harus dilandasi hak atas tanah yang disediakan oleh hukum tanah nasional yaitu Hak Milik, Hak Guna Usaha, Hak Guna bangunan atau Hak Pakai

2. Penguasaan dan penggunaan tanah tanpa ada alasan hukum (illegal) tidak dibenarkan, bahkan diancam dengan sanksi pidana (Undang-undang nomor 51 Prp 1960)

3. Penguasaan dan penggunaan tanah yang dilandasi dengan hak yang disediakan oleh hukum tanah nasional, dilindungi oleh hukum terhadap gangguan dari pihak manapun, baik oleh sesama warga masyarakat, maupun oleh penguasa sekalipun.

Untuk mewujudkan jaminan kepastian hukum di bidang pertanahan ada dua hal yang harus diperhatikan yaitu perlu adanya hukum tanah yang tertulis dan penyelenggaraan pendaftaran tanah20. Dengan kata lain apabila membicarakan pendaftaran tanah, berarti berbicara tentang salah satu usaha dalam rangka mewujudkan jaminan kepastian hukum di bidang pertanahan.21

Daerah Kabupaten Dairi mempunyai Luas 191.625 Hektar yaitu sekitar 2,68 % dari luas Propinsi Sumatera Utara (7.160.000 Hektar) dimana Kabupaten Dairi terletak sebelah Barat Laut Propinsi Sumatera Utara. Tanah Dairi biasa juga

19

Ibid.,hal 21

20

Aartje Tehupeiory, Pentingnya pendaftaran tanah di Indonesia, Raih Asa Sukses, Jakarta, 2012, hlm 1

21

disebut "Tanah Pakpak" sebab penduduk aslinya memang orang Pakpak. Sejak tahun 2003 Dairi sebagai kabupaten telah dipecah. Hasilnya adalah Kabupaten Pakpak Bharat di belahan selatan. Dengan begitu wilayah Kabupaten Dairi yang semula sekitar 314.000 hektar kini kurang lebih tinggal setengahnya. Dairi berada di lintangan Bukit Barisan. Konsekuensinya adalah kedudukannya di dataran tinggi dengan posisi lebih dekat ke pantai barat. Beratmosfir pegunungan, itulah Dairi. Kondisinya bertakik-takik; di sejumlah kawasan bahkan ekstrim sehingga dinding-dinding bukit terjal dan jurang menjadi pemandangan yang dominan.

Rata-rata ketinggian wilayah kawasan ini 700-1.250 meter di atas permukaan laut (dpl). Sebagian kecil kawasan sampai berketinggian 1.600 meter dpl. Sidikalang sendiri, ibukota Dairi, berada di ketinggian 1.066 meter dpl. Iklim Dairi mudah ditebak. Bukan berhawa panas dan lembab alias tropis, melainkan di bawahnya. Bisa disebut subtropis. Daerah yang berjarak 110 km disebelah barat daya kota Medan ini sebagian besar penduduknya bercocok tanam. Pada daerah subur dan tinggi banyak yang menanam kopi dan sayur mayur. Adapun mata pencaharian penduduk lain adalah wiraswasta, karyawan pemerintah daerah dan swasta.22

Sebahagian dari bidang tanah yang ada masih terdapat tanah masyarakat adat, atau hak atas tanah adat. Dan sebahagian lagi kepemilikan tanah sudah dengan sertipikat hak milik.

Status kepemilikan Tanah di Kabupaten Dairi pada tahun 2011 adalah sebagai berikut:

22

http://www.dairikab.go.id/content.php?menu=1&menuitem=2, Sejarah-Portal Kabupaten Dairi, diakses tanggal 12-12-2012, pukul 13.00Wib

Tabel 1

Status Kepemilikan Tanah Di Kabupaten Dairi

No. Status Pemilikan Tanah Jumlah (Persil)

1 Hak Milik 2.321

2. Hak Guna Bangunan 186

3. Hak Pakai 6

4. Hak Guna Usaha 0

5. Hak Pengelolaan 0

Sumber: Badan Pertanahan Kabupaten Dairi (2011)

Sesuai dengan ketentuan dalam pasal 1 dan 2 undang-undang pokok agraria yang menyatakan pelaksanaan hak ulayat dan hak-hak yang serupa dengan itu dari masyarakat hukum adat, sepanjang kenyataannya masih ada harus sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kepentingan Nasional dan Negara yang berdasarkan atas persatuan bangsa serta tidak bertentangan dengan peraturan-peraturan lain yang lebih tinggi.23

Seyogianya jika ada hak seseorang atas tanah harus didukung oleh bukti hak, dapat berupa sertipikat, bukti hak tertulis non sertipikat dan atau pengakuan atau keterangan yang dapat dipercaya kebenarannya24. Seseorang dapat dikatakan mempunyai hak atas tanah atau mendapatkan penetapan hak atas tanah maka harus dapat dibuktikan terlebih dahulu adanya dasar penguasaan seseorang dalam menguasai, menggunakan dan memanfaatkan tanah, yang tidak ditentang oleh

23

H.Affan Mukti,Pembahasan Undang-Undang Pokok Agraria Nomor 5 tahun 1960, USU Press, Medan,2010, hlm 35

24

pihak manapun dan dapat diterima menjadi bukti awal untuk pengajuan hak kepemilikannya.25

Dalam hal adanya persyaratan bahwa pemberian/penetapan hak atas tanah harus dibuktikan terlebih dahulu dengan adanya dasar penguasaan yang menunjukkan adanya hubungan hukum dengan tanah tersebut. Setelah ada dasar penguasaan dimaksud maka selanjutnya diformalkan hak tersebut dengan peraturan pemerintah26.

Apabila hubungan hukum tersebut ditunjukkan dengan bukti-bukti tertulis yang pernah dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang pada daerah yang sudah bersentuhan dengan administrasi dan yurisdiksi hukum pertanahan daerah Swapraja/Kotapraja maupun bukti-bukti tidak tertulis pada daerah-daerah yang realitas sosial budayanya tunduk pada Hukum Adat setempat dan status tanahnya masih ditemukan hak ulayat dan hak milik adat dalam hal ini dilakukan pendaftaran tanahnya dengan proses konversi dan pengakuan/penegasan hak27.

Penguasaan dapat juga sebagai permulaan adanya hak, bahkan ada yang menyebut penguasaan tanah sudah merupakan suatu “hak”. Kata “penguasaan menunjukkan adanya suatu hubungan hukum antara tanah dengan yang mempunyainya28. Artinya ada sesuatu hal yang mengikat antara orang dengan tanah tersebut, ikatan tersebut ditunjukkan dengan suatu tanda/bukti bahwa tanah

25

Mhd Yamin Lubis & Abdul Rahim Lubis, Hukum Pendaftaran Tanah, Edisi Revisi,

CV. Mandar Maju, Medan 2010, halaman 233 26 Ibid. 27 Ibid. 28 Ibid.,halaman 235

itu sudah dikuasainya. Tanda /bukti tersebut bisa berbentuk penguasaan fisik

Dokumen terkait